Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2026. Vol. No. 1, 15 - 21 E-ISSN: 3032-7202 PENGUATAN REGULASI EMOSI SEBAGAI STRATEGI PENURUNAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK PANTI ASUHAN X Dastin Imanuel1. Angesty Putri Ageng2 Program Studi Psikologi Profesi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: dastinimanuel. untar@gmail. Program Studi Psikologi Profesi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: angesty. putri@gmail. Masuk: 04-11-2025, revisi: 11-12-2025, diterima untuk diterbitkan: 20-01-2026 ABSTRAK Perilaku agresif pada anak usia 3Ae11 tahun di panti asuhan merupakan fenomena yang dapat menghambat perkembangan sosial-emosional dan menciptakan lingkungan pengasuhan yang kurang kondusif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil perilaku agresif anak dan mengevaluasi efektivitas intervensi regulasi emosi dalam menurunkan perilaku agresif. Variabel penelitian mencakup perilaku agresif, diukur menggunakan Modified Overt Aggression Scale (IBR-MOAS), dan kemampuan regulasi emosi, diukur menggunakan Emotion Regulation Checklist (ERC). Partisipan penelitian terdiri dari 10 anak yang tinggal di Panti Asuhan X, berusia 3Ae11 tahun, yang teridentifikasi menunjukkan perilaku agresif. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental one-group pretestAe posttest dengan intervensi berupa sesi psikoedukasi dan latihan keterampilan regulasi emosi meliputi pengenalan emosi, kesadaran tubuh, teknik pengendalian diri, ekspresi emosi adaptif, dan problem-solving konflik. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor kemampuan regulasi emosi dari M = 20. 70 menjadi M = 22. 80 dan penurunan skor ketidakstabilan emosi dari M = 41. 60 menjadi M = 35. Seluruh dimensi agresi mengalami penurunan, terutama agresi fisik terhadap objek . = -3. dan agresi verbal terhadap orang lain . = -2. Temuan ini menegaskan bahwa intervensi regulasi emosi efektif meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola emosi dan menurunkan perilaku agresif, sekaligus memberikan dasar praktis bagi pengasuh untuk menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih aman dan mendukung perkembangan sosial-emosional anak. Kata Kunci: Agresi. Anak Usia Dini. Regulasi Emosi. Intervensi Psikoedukasi ABSTRACT Aggressive behavior among children aged 3Ae11 years in orphanages is a phenomenon that can hinder socialemotional development and create a less supportive caregiving environment. This study aimed to describe the profile of childrenAos aggressive behavior and evaluate the effectiveness of Emotion Regulation intervention in reducing aggressive behavior. The study variables included aggressive behavior, measured using the Modified Overt Aggression Scale (IBR-MOAS), and Emotion Regulation skills, measured using the Emotion Regulation Checklist (ERC). Participants consisted of 10 children aged 3Ae11 years residing in Orphanage X who were identified as displaying aggressive behavior. The study employed a one-group pretestAeposttest quasi-experimental design, with interventions consisting of psychoeducational sessions and Emotion Regulation skills training, including emotion recognition, body awareness, self-control techniques, adaptive emotional expression, and conflict problem-solving. Results showed an increase in Emotion Regulation scores from M = 20. 70 to M = 22. 80 and a decrease in emotional lability scores from M = 41. 60 to M = 35. All dimensions of aggression decreased, especially physical aggression toward objects . = -3. and verbal aggression toward others . = -2. These findings indicate that Emotion Regulation intervention effectively enhances childrenAos ability to manage emotions and reduces aggressive behavior, providing practical guidance for caregivers to create a safer and more supportive environment that fosters childrenAos social-emotional development. Keywords: Aggression. Early childhood. Emotion Regulation. Psychoeducational Intervention Penguatan Regulasi Emosi sebagai Strategi Penurunan Perilaku Agresif pada Anak Panti Asuhan X Imanuel & Ageng Perilaku agresif pada anak usia dini hingga sekolah dasar awal masih menjadi fenomena yang signifikan dalam konteks pengasuhan institusional. Berdasarkan hasil observasi dan komunikasi dengan pengasuh di Panti Asuhan X, anak usia 3Ae8 tahun sering menunjukkan perilaku seperti memukul, mendorong, berebut barang, membentak, menangis berlebihan, serta membanting benda ketika mengalami frustrasi. Variasi perilaku tersebut mencerminkan adanya agresi verbal maupun fisik yang muncul dalam interaksi seharihari dan berdampak pada dinamika sosial di lingkungan panti. Secara konseptual, agresi didefinisikan sebagai perilaku yang bertujuan menyakiti atau merugikan orang lain, baik secara fisik maupun psikologis (Baron & Richardson, 1. Agresi pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, meliputi agresi verbal terhadap orang lain, agresi fisik terhadap orang lain, agresi terhadap objek, serta agresi terhadap diri sendiri (Cohen et al. , 2. Dalam perspektif perkembangan, agresi sering dipahami sebagai manifestasi dari keterbatasan regulasi emosi, yaitu kemampuan individu untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengelola respons emosional secara adaptif sesuai tuntutan situasi (Gross, 1998. Shields & Cicchetti, 1. Urgensi penelitian ini terletak pada dampak agresi yang luas. Pada level individu, agresi berpotensi menghambat perkembangan sosial-emosional, meningkatkan konflik interpersonal, serta menurunkan penerimaan teman sebaya. Pada level kelompok, agresi menciptakan lingkungan pengasuhan yang kurang kondusif dan meningkatkan beban pengasuh dalam pengelolaan perilaku. Dalam konteks panti asuhan, keterbatasan sumber daya serta rasio pengasuhAeanak yang tinggi memperbesar kebutuhan akan strategi intervensi yang sistematis dan aplikatif. Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa intervensi berbasis regulasi emosi efektif menurunkan perilaku agresif pada anak usia dini di setting sekolah. Program yang menekankan pengenalan emosi, kontrol impuls, dan strategi coping adaptif terbukti menurunkan agresi verbal maupun fisik secara Namun demikian, kajian mengenai efektivitas intervensi regulasi emosi dalam konteks pengasuhan institusional masih terbatas. Selain itu, belum banyak penelitian yang memetakan perubahan agresi secara multidimensional . erbal, fisik, objek, dan dir. menggunakan instrumen terstandar sebelum dan sesudah intervensi. Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya penelitian yang secara spesifik: . menggambarkan profil perilaku agresif anak dalam konteks panti asuhan, dan . mengevaluasi efektivitas intervensi regulasi emosi melalui desain preAepost. Pertama, anak dalam pengasuhan institusional memiliki karakteristik emosional yang berbeda dibandingkan anak dalam keluarga inti, sehingga efektivitas intervensi perlu diuji dalam konteks ini. Kedua, pendekatan regulasi emosi yang aplikatif dan kontekstual berpotensi menjadi strategi preventif yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh pengasuh. Ketiga, evaluasi berbasis pengukuran kuantitatif memungkinkan penilaian perubahan perilaku secara objektif dan terukur. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil perilaku agresif anak usia 3Ae11 tahun di Panti Asuhan X serta mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis penguatan regulasi emosi dalam menurunkan perilaku agresif. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental one-group pretestAeposttest dengan pengukuran agresi menggunakan IBR-MOAS. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya literatur mengenai efektivitas intervensi regulasi emosi dalam konteks pengasuhan institusional. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan program pengelolaan perilaku agresif yang sistematis bagi pengasuh. phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2026. Vol. No. 1, 15 - 21 E-ISSN: 3032-7202 METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental one-group pretestAeposttest design untuk mengevaluasi efektivitas intervensi regulasi emosi dalam menurunkan perilaku agresif anak di Panti Asuhan X. Pengukuran dilakukan dua kali, yaitu sebelum intervensi . re-tes. dan setelah intervensi . ost-tes. , menggunakan instrumen yang sama untuk melihat perubahan skor regulasi emosi dan perilaku agresif. Desain ini dipilih karena penelitian dilakukan dalam konteks pengasuhan institusional sehingga tidak memungkinkan randomisasi atau pembentukan kelompok kontrol. Partisipan Partisipan penelitian adalah 10 anak usia 3Ae11 tahun yang tinggal di Panti Asuhan X. Terdapat kriteria inklusi: . Berusia 3Ae11 tahun . arly childhood hingga middle childhood awa. , . Teridentifikasi menunjukkan perilaku agresif berdasarkan observasi pengasuh, dan . Mendapat persetujuan dari pihak pengelola panti. Pengisian instrumen dilakukan oleh pengasuh utama yang sehari-hari berinteraksi dengan Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah: . Perilaku Agresif (Outcome Variabl. : dioperasionalisasikan sebagai skor agresi berdasarkan IBR-MOAS. Regulasi Emosi (Target Intervens. Dioperasionalisasikan sebagai skor regulasi emosi berdasarkan Emotion Regulation Checklist (ERC). Intervensi Regulasi Emosi (Perlakua. : Program psikoedukasi dan latihan keterampilan regulasi emosi yang diberikan kepada anak. Instrumen Penelitian Variabel perilaku agresif diukur menggunakan Modified Overt Aggression Scale (IBR-MOAS). Instrumen ini mengukur lima dimensi agresi: . Agresi verbal terhadap orang lain, . Agresi verbal terhadap diri sendiri, . Agresi fisik terhadap orang lain, . Agresi terhadap objek, dan . Agresi fisik terhadap diri Skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat agresi yang lebih tinggi. Instrumen diisi oleh pengasuh berdasarkan observasi perilaku anak dalam keseharian. Regulasi emosi diukur menggunakan Emotion Regulation Checklist (Shields & Cicchetti, 1. ERC terdiri dari dua dimensi utama yaitu . Lability/Negativity: menggambarkan ketidakstabilan emosi, reaktivitas, dan intensitas emosi negatif dan . Emotion Regulation Ae menggambarkan kemampuan anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara adaptif. Skor tinggi pada dimensi regulasi emosi menunjukkan kemampuan pengelolaan emosi yang lebih baik, sedangkan skor tinggi pada Lability/Negativity menunjukkan ketidakstabilan emosi yang lebih tinggi. Instrumen diisi oleh pengasuh yang mengamati perilaku emosional anak dalam interaksi sehari-hari. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang sistematis. Tahap pertama adalah tahap persiapan, yang meliputi koordinasi dengan pihak pengelola Panti Asuhan X, identifikasi partisipan yang akan terlibat dalam penelitian, serta pemberian penjelasan mengenai prosedur penelitian kepada para Selanjutnya, pada tahap pre-test, para pengasuh diminta untuk mengisi dua instrumen penelitian, yaitu IBR-MOAS (Instrument for the Brief Rating of Modified Overt Aggression Scal. yang digunakan untuk mengukur tingkat perilaku agresif anak, serta ERC (Emotion Regulation Checklis. yang digunakan untuk mengukur kemampuan regulasi emosi. Penguatan Regulasi Emosi sebagai Strategi Penurunan Perilaku Agresif pada Anak Panti Asuhan X Imanuel & Ageng Setelah proses pre-test selesai, penelitian dilanjutkan dengan pelaksanaan intervensi. Intervensi regulasi emosi diberikan dalam bentuk sesi yang terstruktur, yang mencakup pengenalan emosi dasar, latihan labeling atau mengenali dan memberi nama pada emosi, teknik pengendalian diri seperti deep breathing, berhitung, dan time-out adaptif, serta simulasi penyelesaian konflik sederhana. Intervensi dilaksanakan dalam beberapa sesi, yaitu sekitar tiga hingga lima sesi, dengan durasi kurang lebih 45Ae60 menit pada setiap Tahap terakhir adalah post-test, yang dilakukan setelah seluruh rangkaian intervensi selesai. Pada tahap ini, para pengasuh kembali mengisi instrumen IBR-MOAS dan ERC untuk mengevaluasi perubahan yang terjadi pada perilaku agresif dan kemampuan regulasi emosi anak setelah mengikuti intervensi. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif komparatif, yaitu dengan membandingkan nilai mean . ata-rat. skor sebelum pelaksanaan intervensi . re-tes. dan sesudah pelaksanaan intervensi . ost-tes. Analisis ini bertujuan untuk melihat kecenderungan perubahan yang terjadi setelah pemberian intervensi regulasi emosi. Langkah pertama dalam analisis data adalah menghitung nilai mean skor perilaku agresif berdasarkan instrumen IBR-MOAS pada tahap pre-test dan post-test. Selanjutnya, dihitung pula nilai mean skor regulasi emosi berdasarkan Emotion Regulation Checklist (ERC) pada kedua tahap tersebut. Setelah itu, dilakukan perbandingan terhadap selisih nilai mean antara pre-test dan post-test untuk mengetahui arah perubahan skor setelah intervensi diberikan. Interpretasi hasil analisis dilakukan berdasarkan perubahan nilai mean yang diperoleh. Penurunan nilai mean pada skor IBR-MOAS diinterpretasikan sebagai adanya penurunan tingkat perilaku agresif. Sementara itu, peningkatan nilai mean pada dimensi Emotion Regulation dalam Emotion Regulation Checklist (ERC) menunjukkan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi. Sebaliknya, penurunan nilai mean pada dimensi Lability/Negativity menunjukkan berkurangnya tingkat ketidakstabilan emosi. Dengan demikian, efektivitas intervensi dinilai berdasarkan kecenderungan perubahan nilai mean antara hasil pre-test dan post-test, tanpa dilakukan pengujian signifikansi statistik. HASIL Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi regulasi emosi dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan menurunkan perilaku agresif anak di Panti Asuhan X. Analisis dilakukan menggunakan perbandingan mean pre-test dan post-test . escriptive mean compariso. Pelaporan disajikan dalam bentuk mean (M) dan standard deviation (SD). Tabel 1 Statistik Deskriptif Skor ERC Sebelum dan Sesudah Intervensi Dimensi Mean Pre SD Pre Emotion Regulation (ER) Lability/Negativity (LN) Mean Post SD Post i Mean Catatan. ER = kemampuan mengelola dan mengekspresikan emosi secara adaptif. LN = kecenderungan emosi negatif dan ketidakstabilan emosi. Mean = rata-rata. SD = standar deviasi. i Mean = selisih (Post Ae Pr. Kategori ER: 10Ae20 rendah. 20,01Ae30 sedang. 30,01Ae40 tinggi. Kategori LN: 14Ae28 rendah. 28,01Ae42 sedang. 42,01Ae56 tinggi. Berdasarkan Tabel 1, skor Emotion Regulation meningkat dari M = 20. 70 (SD = 1. menjadi M = 22. (SD = 2. Peningkatan sebesar 2. 10 poin menunjukkan adanya perkembangan kemampuan regulasi emosi setelah intervensi. Sebaliknya, skor Lability/Negativity menurun dari M = 41. 60 (SD = 3. menjadi phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2026. Vol. No. 1, 15 - 21 E-ISSN: 3032-7202 M = 35. 70 (SD = 7. Penurunan sebesar 5. 90 poin menunjukkan berkurangnya ketidakstabilan emosi dan ekspresi emosi negatif. Tabel 2 Statistik Deskriptif Skor IBR-MOAS Sebelum dan Sesudah Intervensi Dimensi Mean Pre SD Pre Mean Post VAOTH VASLF PAOTH PAOBJ PASLF SD Post i Mean Catatan. VAOTH = Verbal Aggression Toward Others. VASLF = Verbal Aggression Toward Self. PAOTH = Physical Aggression Toward Others. PAOBJ = Physical Aggression Toward Objects. PASLF = Physical Aggression Toward Self. Mean = rata-rata. SD = standar deviasi. i Mean = selisih (Post Ae Pr. Kategori agresi: 0Ae2 rendah. 2,01Ae5,50 5,51Ae12 tinggi. Berdasarkan Tabel 2, seluruh dimensi agresi menunjukkan penurunan skor setelah intervensi. Penurunan terbesar terjadi pada agresi fisik terhadap objek . = -3. , diikuti agresi verbal terhadap orang lain . = . dan agresi fisik terhadap orang lain . = -2. Agresi fisik terhadap diri sendiri tidak lagi muncul pada post-test (M = 0. Tabel 3 Rancangan dan Pelaksanaan Intervensi Regulasi Emosi pada Anak di Panti Asuhan X Sesi Fokus Tujuan Spesifik Aktivitas Metode Output Perilaku Intervensi Utama yang Diharapkan Pengenalan Anak mampu Identifikasi Psikoedukasi & Anak Emosi Dasar mengenali dan kartu emosi, diskusi menyebutkan emosi diskusi situasi interaktif minimal 3 emosi sehari-hari Kesadaran Anak memahami Body mapping. Experiential Anak Tubuh dan hubungan emosi role play learning Emosi dengan sensasi tubuh sederhana tanda fisik saat marah/sedih Teknik Anak mampu Latihan napas Behavioral Anak Regulasi dalam, teknik rehearsal teknik saat simulasi Emosi berhitung, timesituasi konflik pengendalian emosi out adaptif Ekspresi Anak Latihan AuI- Social skill Penurunan ekspresi Emosi messageAy, agresi verbal Adaptif emosi secara verbal permainan Manajemen Anak mampu Simulasi ProblemAnak Konflik solving training solusi non-agresif konflik tanpa agresi problemsolving steps Penguatan Regulasi Emosi sebagai Strategi Penurunan Perilaku Agresif pada Anak Panti Asuhan X Generalisasi & Penguatan Anak dalam konteks nyata Refleksi Imanuel & Ageng Reinforcement & monitoring Penurunan perilaku observasi harian Catatan. Intervensi dilaksanakan secara kelompok dengan durasi A60 menit per sesi selama 6 pertemuan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test melalui pengisian Emotion Regulation Checklist dan Modified Overt Aggression Scale oleh pengasuh. Intervensi regulasi emosi dirancang berbasis pendekatan psikoedukatif dan behavioral, dengan prinsip experiential learning serta latihan keterampilan . kill-based interventio. Fokus utama adalah meningkatkan kemampuan anak dalam: . Emotion awareness . esadaran emos. Emotion understanding . emahaman pemicu dan respons emos. Emotion Regulation strategy use . enggunaan strategi dan . Behavioral control . ontrol impuls dan agres. Tahap 1: Pengenalan dan Identifikasi Emosi. Pada tahap awal, anak diperkenalkan pada emosi dasar . enang, sedih, marah, taku. Aktivitas menggunakan kartu ekspresi wajah dan diskusi pengalaman seharihari bertujuan membangun emotional labeling ability. Secara teoretis, kemampuan memberi label emosi menurunkan kecenderungan ekspresi agresif karena anak dapat memproses afek secara kognitif sebelum Tahap 2: Kesadaran Somatik. Anak diajak mengenali tanda fisik ketika marah . isalnya tangan mengepal, wajah panas, jantung berdeba. Aktivitas body mapping meningkatkan interoceptive awareness, yang menjadi dasar pengendalian impuls. Tahap 3: Strategi Regulasi Emosi. Anak dilatih teknik konkret seperti: . Pernapasan diafragma, . Menghitung 1Ae10 sebelum merespons, dan . Mengambil jeda . ime-out adapti. Latihan dilakukan melalui simulasi konflik untuk memastikan anak tidak hanya memahami secara kognitif, tetapi mampu mempraktikkan secara perilaku. Tahap 4: Ekspresi Emosi Adaptif. Anak diajarkan penggunaan kalimat asertif (AuSaya merasa marah ketika. sebagai alternatif agresi verbal. Tahap ini secara langsung menargetkan dimensi VAOTH dalam IBR-MOAS. Tahap 5: Problem-Solving Konflik. Anak diperkenalkan langkah penyelesaian masalah: . Identifikasi masalah, . Pilih solusi, . Pertimbangkan konsekuensi, dan . Terapkan solusi. Tahap ini bertujuan menurunkan agresi fisik terhadap orang lain dan objek. Tahap 6: Generalisasi dan Penguatan. Penguatan diberikan ketika anak berhasil menggunakan strategi regulasi secara nyata. Monitoring dilakukan oleh pengasuh untuk memastikan transfer keterampilan ke situasi sehari-hari. Secara keseluruhan, hasil deskriptif menunjukkan bahwa intervensi regulasi emosi efektif dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi serta menurunkan berbagai bentuk perilaku agresif pada anak di Panti Asuhan X. DISKUSI Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi regulasi emosi membantu anak-anak di Panti Asuhan X untuk lebih baik dalam mengelola emosi dan mengurangi perilaku agresif. Setelah intervensi, kemampuan anak untuk mengendalikan emosi meningkat, sementara ketidakstabilan dan kemarahan yang sering muncul Hal ini terlihat dari skor Emotion Regulation yang naik dan skor Lability/Negativity yang turun. Perilaku agresif anak juga menurun di semua aspek, terutama agresi fisik terhadap benda dan agresi verbal terhadap orang lain. Anak-anak mulai mampu mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang lebih tepat, misalnya menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan emosi daripada memukul atau membanting benda. Intervensi yang dilakukan melalui kegiatan mengenal emosi, latihan mengendalikan phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2026. Vol. No. 1, 15 - 21 E-ISSN: 3032-7202 diri, bermain peran, dan menyelesaikan masalah terbukti efektif membantu anak-anak mempraktikkan strategi regulasi emosi di kehidupan sehari-hari. Penelitian ini memberikan bukti bahwa program regulasi emosi bisa diterapkan di panti asuhan, meski sebelumnya banyak studi lebih fokus pada anak-anak di sekolah. Kelebihannya adalah intervensi ini menargetkan beberapa jenis agresi sekaligus dan menekankan latihan keterampilan yang nyata. Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan, seperti tidak adanya kelompok kontrol, jumlah anak yang terbatas, dan analisis yang hanya deskriptif. Hal ini membuat hasilnya belum bisa digeneralisasi ke semua anak panti secara luas. Penelitian di masa depan sebaiknya menggunakan kelompok kontrol, sampel lebih besar, dan uji statistik agar hasilnya lebih kuat dan bisa dilihat efek jangka panjang intervensinya. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa anak usia 3Ae11 tahun di Panti Asuhan X memiliki perilaku agresif yang bervariasi, termasuk agresi verbal terhadap orang lain, agresi fisik terhadap orang lain, agresi terhadap objek, dan agresi terhadap diri sendiri. Setelah diberikan intervensi regulasi emosi melalui sesi psikoedukatif dan latihan keterampilan adaptif, kemampuan anak dalam mengelola emosi meningkat, ketidakstabilan emosi berkurang, dan semua bentuk agresi menurun, terutama agresi fisik terhadap objek dan agresi verbal terhadap orang lain. Hasil ini menegaskan bahwa intervensi regulasi emosi efektif dalam membantu anak-anak mengekspresikan perasaan secara lebih tepat dan mengurangi perilaku agresif. Secara praktis, temuan ini dapat digunakan oleh pengasuh di panti asuhan untuk merancang program pengelolaan perilaku yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Intervensi regulasi emosi tidak hanya membantu menurunkan agresi anak, tetapi juga mendukung perkembangan sosial-emosional mereka, menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak. REFERENSI