Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 6 NOMOR 1. MARET 2025 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 IMPLEMENTASI PEMBINAAN AKHLAK PESERTA DIDIK MELALUI PEMBIASAAN SHALAT DHUHA DAN SHALAT DZUHUR BERJAMAAoAH Iwan Sopwandin Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Az Zahra Tasikmalaya Email: Iwansopwandin8@gmail. Abstract The habit of praying Dhuha and Dzuhur in congregation also has a positive impact on the development of students' Prayer as one of the main worships in Islam, can provide inner peace and coolness of soul for anyone who performs it with full devotion. By performing worship regularly, students will feel closer to Allah SWT, and gain peace in living their daily lives, both in school and outside of school. This study aims to analyze the implementation of moral development of students through the habit of praying Dhuha and Dzuhur in congregation at Al-Hidayah Islamic High School Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya. The method used in this study is qualitative with a descriptive analysis approach. The data collection techniques are through observation, interviews, and documentation studies. While the data analysis technique uses the interactive Miles and Huberman model consisting of data condensation, data presentation and drawing conclusions, as well as for data validity testing through observation diligence, triangulation, reference adequacy, and member checks. The results of this study indicate that the habituation activities of praying dhuha and dzuhur in congregation at SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya are carried out in a programmed and planned manner. With steps starting from habituation carried out since students enter grade X, habituation is carried out continuously, and habituation is monitored strictly, consistently, and firmly. This habituation has implications for students including spiritual, social, educational, school environment, psychological, and academic achievement aspects. Keywords: Moral development, habituation. Dhuha prayer. Dzuhur prayer in congregation Abstrak Pembiasaan shalat Dhuha dan Dzuhur berjama'ah juga memiliki dampak positif terhadap perkembangan spiritualitas peserta didik. Shalat sebagai salah satu ibadah utama dalam Islam, dapat memberikan kedamaian batin dan kesejukan jiwa bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan. Dengan melakukan ibadah secara rutin, peserta didik akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT, serta mendapatkan ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pembinaan akhlak peserta didik melalui pembiasaan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah di SMA Islam AlHidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Adapun teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi Sedangkan teknik analisis data menggunakan model interaktif miles dan huberman yang terdiri dari kondensasi data, penyajian datan dan penarikan kesimpulan, serta untuk uji absah data melalui ketekunan pengamatan, triangulasi, kecukupan referensi, dan member check. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan pembiasaan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya dilaksanakan secara terprogram dan terencana. Dengan langkah-langkah dimulai dari pembiasaan dilakukan sejak peserta didik masuk kelas X, pembiasaan dilakukan secara terus menerus, dan pembiasaan diawasi secara ketat, konsisten, dan tegas. Pembiasaan tersebut berimplikasi pada peserta didik meliputi aspek spiritual, sosial, pendidikan, lingkungan sekolah, psikologis, dan prestasi akademik. Kata kunci: Pembinaan akhlak, pembiasaan, shalat dhuha, shalat dzuhur berjamaAoah PENDAHULUAN Di tengah kondisi zaman yang begitu memprihatinkan, peserta didik sering kali terbawa arus perkembangan teknologi dan budaya yang semakin pesat. Pengaruh negatif dari media sosial, pergaulan bebas, dan gaya hidup yang kurang sesuai dengan nilai-nilai moral dapat dengan mudah memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. Oleh karena itu, menjadi tantangan besar bagi pendidik dan orang tua untuk menjaga agar peserta didik tidak terjerumus dalam perilaku yang merusak diri dan masa depan mereka. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pembinaan akhlak atau karakter peserta didik sangatlah penting. Salah satu cara yang efektif adalah melalui pembiasaan yang baik di lingkungan sekolah, di mana mereka Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 dapat memperoleh pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada aspek moral dan Pembiasaan ibadah, seperti Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur berjama'ah, menjadi salah satu metode yang dapat diandalkan dalam proses pembinaan akhlak peserta didik (Saidiman et al. , 2. Pembiasaan ini tidak hanya memberikan dampak positif dalam aspek keagamaan, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter yang baik, disiplin, dan bertanggung jawab. Dengan membiasakan peserta didik melaksanakan ibadah Shalat Dhuha di pagi hari dan Shalat Dzuhur berjama'ah, sekolah memberikan mereka sarana untuk menenangkan pikiran, memperkuat spiritualitas, serta membentuk kebiasaan yang positif. Shalat yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran tidak hanya mendekatkan peserta didik kepada Tuhan, tetapi juga mengajarkan mereka pentingnya kedisiplinan waktu, kesabaran, dan penghargaan terhadap sesama. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk membangun rasa kebersamaan di antara peserta didik, karena shalat berjama'ah mengajarkan mereka untuk saling menghargai dan mempererat hubungan sosial (Sopwandin & Junaidi, 2. Pembiasaan ibadah di sekolah ini juga memiliki dampak jangka panjang dalam menjaga peserta didik agar tetap berada di jalur yang benar meskipun menghadapi berbagai godaan dan tantangan zaman. Dengan pembiasaan yang konsisten dan dukungan penuh dari pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat, peserta didik akan terbentuk menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam segi moral dan akhlak (Hakim, 2. Hal ini akan membantu mereka untuk lebih bijaksana dalam menghadapi pergaulan dan menghindari perilaku-perilaku yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. Selain itu, pembiasaan ibadah di sekolah memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengenal dan mengamalkan ajaran agama secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai generasi muda, mereka membutuhkan pedoman yang jelas untuk membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Dengan memiliki pemahaman agama yang kuat, mereka akan lebih mampu mengatasi berbagai tekanan sosial dan budaya yang ada di sekitar mereka. Pembiasaan ibadah ini, dengan sendirinya, akan memperkuat pondasi akhlak/ karakter peserta didik dan menjauhkan mereka dari pengaruh negatif yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Pembiasaan ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang dengan memiliki keseimbangan antara ilmu pengetahuan, moralitas, dan spiritualitas. Sebagai bagian dari sistem pendidikan yang holistik, pembiasaan ibadah di sekolah menjadi penopang utama dalam pembentukan akhlak atau akhlak/ karakter peserta didik yang tangguh dan berakhlak mulia, siap menghadapi tantangan zaman yang semakin Pendidikan akhlak merupakan salah satu bagian penting dalam pendidikan akhlak/ karakter yang harus diberikan kepada peserta didik di sekolah (Isnaini & Fanreza, 2. Hal ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang luhur, memiliki budi pekerti yang baik, serta mampu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama, sosial, dan budaya yang berlaku di masyarakat. Pendidikan akhlak di sekolah menjadi sangat relevan dengan tantangan zaman yang semakin berkembang, terutama dalam menghadapi kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang membawa dampak positif maupun negatif. Di dalam konteks ini, strategi pembinaan akhlak melalui pembiasaan ibadah menjadi salah satu cara yang efektif untuk membentuk akhlak/ karakter peserta didik (Atqia & Sopwandin, 2. Sehingga salah satu cara yang dapat dilakukan dalam pembinaan akhlak dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan ibadah secara rutin, seperti Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur berjama'ah sangat tepat. Shalat merupakan ibadah yang mengandung banyak nilai moral dan spiritual yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan akhlak seseorang. Oleh karena itu, pembiasaan shalat di lingkungan sekolah diharapkan dapat membantu peserta didik untuk membentuk perilaku yang lebih baik, disiplin, dan bertanggung jawab. SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam, berkomitmen untuk memberikan pembinaan akhlak kepada peserta didiknya dengan berbagai cara, salah satunya melalui pembiasaan ibadah shalat. Pembiasaan shalat Dhuha dan shalat Dzuhur berjama'ah di lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi salah satu strategi yang efektif untuk mencapai tujuan pembinaan akhlak peserta didik (Sopwandin et al. , 2. Pembiasaan shalat ini tidak hanya berfungsi sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga sebagai media untuk membentuk pribadi yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada waktu pagi hari, setelah matahari terbit hingga menjelang waktu Dzuhur. Shalat ini memiliki banyak keutamaan, baik dalam aspek spiritual maupun sosial. Dalam konteks pembinaan akhlak. Shalat Dhuha dapat menumbuhkan rasa disiplin, ketenangan batin, serta rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, melalui Shalat Dhuha, peserta didik juga diajarkan untuk memanfaatkan waktu dengan baik, menghindari kelalaian, serta menjaga kebersihan hati dan pikiran. Sementara itu. Shalat Dzuhur berjama'ah memiliki keutamaan tersendiri. Shalat berjama'ah di masjid atau musola merupakan sarana untuk membangun kebersamaan dan solidaritas antar sesama. Dalam hal ini. Shalat Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Dzuhur berjama'ah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung dapat membentuk rasa kepedulian, saling menghargai, dan mempererat tali persaudaraan antar peserta didik. Selain itu, shalat berjama'ah juga memberikan dampak positif dalam membentuk rasa disiplin dan tanggung jawab, karena peserta didik diharuskan hadir tepat waktu dan mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan penuh perhatian. Strategi pembinaan akhlak melalui pembiasaan shalat Dhuha dan Dzuhur berjama'ah di SMA Islam AlHidayah Cukangkawung juga tidak lepas dari peran penting guru dan pihak sekolah dalam memberikan teladan dan motivasi kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik di sekolah harus menjadi contoh yang baik dalam melaksanakan ibadah dan menjaga akhlak yang mulia. Dengan memberikan contoh yang baik, peserta didik akan lebih mudah mengikuti dan meniru perilaku positif yang ditunjukkan oleh guru dan lingkungan sekolah. Selain itu, pembiasaan ibadah di sekolah juga membutuhkan dukungan dari orang tua dan masyarakat Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat akan memperkuat pembinaan akhlak peserta didik dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan akhlak/ karakter mereka. Oleh karena itu, penting bagi pihak sekolah untuk melibatkan orang tua dalam berbagai kegiatan pembinaan akhlak, seperti mengadakan pertemuan rutin untuk membahas perkembangan peserta didik dalam hal ibadah dan akhlak. Secara lebih luas, pembiasaan shalat ini juga berfungsi sebagai sarana untuk menghindarkan peserta didik dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan moral. Ibadah yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dapat menjadi penangkal terhadap perilaku negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, kekerasan, dan perilaku buruk lainnya yang banyak ditemui di kalangan remaja (Saifullah et al. , 2. Dengan pembiasaan yang baik, peserta didik akan memiliki ketahanan diri untuk menjauhi perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Pentingnya pembiasaan shalat Dhuha dan Dzuhur berjama'ah juga sejalan dengan visi dan misi SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung yang berorientasi pada pengembangan akhlak/ karakter dan kepribadian peserta didik yang unggul dalam berbagai aspek, termasuk akhlak dan spiritualitas. Pembiasaan shalat di sekolah ini merupakan salah satu langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut, yaitu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga baik dalam akhlaknya. Selain itu, pembiasaan ibadah ini juga dapat memberikan bekal kepada peserta didik untuk menghadapi tantangan hidup di luar sekolah. Sebagai generasi penerus bangsa, peserta didik perlu memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, serta mampu menjaga hubungan baik dengan sesama dan dengan Allah SWT. Oleh karena itu, strategi pembinaan akhlak melalui pembiasaan ibadah di sekolah sangatlah penting untuk membentuk pribadi yang seimbang antara aspek duniawi dan ukhrawi. Keberhasilan pembinaan akhlak melalui pembiasaan shalat Dhuha dan Dzuhur berjama'ah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung dapat dilihat dari perubahan positif yang terjadi pada peserta didik. Hal ini dapat terukur melalui peningkatan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta peningkatan kualitas ibadah peserta didik. Pembiasaan shalat Dhuha dan Dzuhur berjama'ah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya merupakan strategi yang sangat efektif untuk membina akhlak peserta didik. Melalui pembiasaan ini, peserta didik diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak Dengan dukungan dari berbagai pihak, program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi perkembangan karakter peserta didik di masa depan. Pembiasaan shalat Dhuha dan Dzuhur BerjamaAoah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya sudah berjalan cukup lama, adapun alasan mengapa program ini terus berjalan tentu karena bukan saja memperhatikan anjuran agama, namun juga sebagai sarana untuk membina akhlak peserta didik sehingga memiliki akhlak karimah yang tentunya ini menandakan memiliki kecerdasan secara spiritual yang akan melengkapi kecerdasan intelektual dan emosional peserta didik. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatan deskriptif anylisis. Untuk teknik pengumpulan data yaitu melalui: . Kegiatan terjun kelapangan melihat kondisi SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung terutama kegiatan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah yang dalam istilah penelitian disebut observasi. Wawancara, kegiatan ini dilakukan secara luring dan daring kepada staf tata usaha yang membawahi bidang kepeserta didikan. Studi Dokumentasi melalui dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tema penelitian, baik yang berbentuk cetak maupun noncetak. Adapun untuk analisis data, peneliti menggunakan model interaktif miles huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data dan penarikan Sedangkan untuk keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, kecukupan referensi, dan member check (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembiasaan di Sekolah Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Pembiasaan di sekolah adalah salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter dan pola perilaku peserta didik. Pembiasaan ini merujuk pada proses penerapan kebiasaan tertentu yang dilakukan secara berulang-ulang untuk membentuk sifat, nilai, dan keterampilan yang diinginkan (Kadi & Hariyanti, 2. Pembiasaan yang efektif akan memberikan dampak positif pada perkembangan pribadi peserta didik, baik dalam konteks akademik, sosial, maupun moral. Salah satu tujuan dari pembiasaan di sekolah adalah untuk menanamkan nilai-nilai positif, seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kejujuran. Dalam praktiknya, pembiasaan ini dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan, baik yang bersifat formal seperti aturan sekolah maupun yang bersifat informal melalui interaksi sehari-hari antara guru dan peserta didik. Sebagai contoh, seorang guru bisa memulai kelas dengan memberi salam, menciptakan kebiasaan untuk datang tepat waktu, atau mengajak peserta didik untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Selain itu, pembiasaan juga dapat berupa bentuk ritual ibadah/ keagamaan. Pentingnya pembiasaan ini juga terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi perilaku jangka panjang peserta didik. Pembiasaan yang dimulai sejak dini akan menjadi kebiasaan yang melekat pada diri peserta didik (Rusiadi, 2. Jika peserta didik terbiasa dengan pola perilaku positif, maka mereka akan cenderung mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar lingkungan Oleh karena itu, pembiasaan di sekolah tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang lebih menyeluruh. Selain itu, pembiasaan di sekolah juga berfungsi untuk mengembangkan keterampilan sosial peserta didik. Melalui kegiatan kelompok atau kerja sama dalam proyek, peserta didik belajar bagaimana berkomunikasi, mendengarkan pendapat orang lain, serta menghargai perbedaan. Ini adalah keterampilan penting yang akan berguna dalam kehidupan mereka di luar sekolah, baik di lingkungan kerja maupun dalam hubungan sosial. Pembiasaan semacam ini membantu peserta didik untuk menjadi individu yang lebih empatik dan toleran. Penerapan pembiasaan yang konsisten juga dapat membentuk rasa tanggung jawab pada peserta didik. Misalnya, dengan memberi tugas rumah secara rutin atau menetapkan aturan yang jelas mengenai kedisiplinan, peserta didik akan belajar untuk menghargai waktu dan menyelesaikan tugas dengan baik. Pembiasaan ini tidak hanya berlaku di kelas, tetapi juga dalam kegiatan ekstrakurikuler atau rutinitas harian seperti menjaga kebersihan sekolah dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial (Rahmasari et al. , 2. Tidak hanya dalam konteks nilai sosial, pembiasaan juga penting dalam pengembangan aspek akademik peserta didik. Kebiasaan belajar yang baik, seperti membaca setiap hari, membuat catatan dengan rapi, atau menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu, akan membantu peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar Pembiasaan akademik ini harus didukung oleh lingkungan sekolah yang mendukung, seperti adanya jadwal belajar yang teratur dan fasilitas yang memadai untuk menunjang proses belajar mengajar. Dalam implementasinya, pembiasaan di sekolah tidak boleh hanya menjadi kegiatan yang bersifat satu arah dari guru ke peserta didik. Peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk ikut serta dalam proses pembuatan kebiasaan yang ada di sekolah. Dengan demikian, mereka merasa memiliki tanggung jawab atas kebiasaan yang diterapkan, sehingga mereka akan lebih termotivasi untuk melaksanakannya dengan baik. Partisipasi aktif peserta didik dalam proses ini juga bisa menjadi sarana bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan. Pembiasaan yang dilakukan di sekolah juga dapat menciptakan iklim yang mendukung perkembangan emosional peserta didik. Misalnya, dengan memberikan pujian atau penghargaan atas perilaku baik, peserta didik merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk terus melakukan hal-hal positif. Sebaliknya, jika ada pelanggaran, guru perlu memberikan konsekuensi yang sesuai sebagai bagian dari pembelajaran agar peserta didik memahami pentingnya bertanggung jawab atas tindakannya (Febrian & Darmawan, 2. Namun, pembiasaan yang diterapkan harus disesuaikan dengan usia dan karakteristik peserta didik. Pembiasaan yang terlalu berat atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dapat menyebabkan kebosanan atau penurunan motivasi. Oleh karena itu, guru dan pihak sekolah perlu kreatif dalam merancang pembiasaan yang menarik, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pembiasaan yang berhasil adalah yang mampu menggabungkan unsur pembelajaran yang menyenangkan dengan tujuan pembentukan karakter yang solid. Secara keseluruhan, pembiasaan di sekolah berperan sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga dalam aspek sosial, emosional, dan moral. Pembiasaan ini memerlukan kerjasama yang baik antara guru, peserta didik, serta orang tua dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembentukan kebiasaan positif. Dengan demikian, peserta didik akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi pekerti luhur dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Pada akhirnya, pembiasaan di sekolah adalah investasi jangka panjang untuk masa depan peserta didik, baik dalam bidang pendidikan maupun kehidupan sosial mereka. Sebuah kebiasaan yang baik dapat menjadi Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 landasan bagi kesuksesan mereka di masa depan, baik di dunia profesional maupun dalam interaksi sosial sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi setiap sekolah untuk memprioritaskan pembiasaan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh. Pendidikan Akhlak Peserta Didik Sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, pendidikan akhlak bertujuan untuk membimbing peserta didik dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai moral yang baik dalam kehidupan mereka. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan teori atau pengetahuan tentang akhlak, tetapi juga melibatkan pembiasaan perilaku yang baik melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan akhlak merupakan usaha yang perlu ditempuh oleh seluruh manusia pada semua jenjang, tidak terbatas oleh usia. Karena akhlak menjadi panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan, bila melihat pada sejarah umat islam, sesungguhnya nabi Muhammad diutus yakni untuk menyempurnakan akhlak seluruh manusia. Sehingga atas dasar tersebut khususnya umat islam, akhlak karimah menjadi hal paling utama yang harus dimiliki sebagai pedoman hidupnya (Hawa et al. , 2. Dalam konteks persekolahan, peran guru dalam pendidikan akhlak sangat vital. Guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar dalam aspek akademik, tetapi juga sebagai teladan dalam hal perilaku dan akhlak. Peserta didik cenderung meniru apa yang mereka lihat, sehingga sikap dan tindakan guru menjadi contoh yang akan Oleh karena itu, guru harus menampilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai moral yang baik, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab (Adib, 2. Selain itu, pendidikan akhlak juga melibatkan orang tua sebagai mitra penting dalam pembentukan karakter anak. Kerja sama antara sekolah dan orang tua akan menciptakan keselarasan dalam mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak. Orang tua perlu memberikan contoh yang baik di rumah dan mendukung upaya guru dalam mengembangkan akhlak anak. Dengan adanya kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga, nilai-nilai akhlak akan lebih mudah diterima dan diterapkan oleh peserta didik. Sejatinya, pendidikan akhlak seharusnya dimulai sejak dini, baik di rumah maupun di sekolah. Hal ini karena masa kanak-kanak merupakan periode yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Dalam proses pendidikan, peserta didik tidak hanya diajarkan untuk memahami apa yang benar dan salah, tetapi juga dilatih untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Pembiasaan yang dilakukan sejak dini akan membentuk pola pikir dan perilaku yang baik pada anak. Pendidikan akhlak di sekolah dapat diterapkan melalui berbagai cara, baik yang formal maupun informal. Secara formal, sekolah dapat menyusun kurikulum yang mencakup pembelajaran akhlak, seperti pelajaran agama atau mata pelajaran lain yang menekankan pentingnya moralitas atau kegiatan ibadah secara rutin. Secara informal, pembiasaan akhlak dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-hari, seperti mengajak peserta didik untuk disiplin dalam waktu, menjaga kebersihan, dan menghormati teman serta guru. Selain itu, sekolah juga dapat memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembentukan Kegiatan seperti bakti sosial, kerja sama tim, dan kegiatan keagamaan dapat menjadi wadah yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik. Dalam kegiatan ini, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan sesama, menghargai perbedaan, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ini semua adalah bagian dari pembelajaran akhlak yang bermanfaat dalam kehidupan sosial mereka. Pendidikan akhlak juga mengajarkan peserta didik untuk memiliki empati dan kepedulian terhadap orang Salah satu cara untuk mengembangkan empati adalah dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan yang mengedepankan rasa sosial, seperti membantu teman yang kesulitan, menghormati orang yang lebih tua, atau peduli terhadap lingkungan sekitar. Pembiasaan seperti ini akan membuat peserta didik tidak hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Selain empati, pendidikan akhlak juga menekankan pentingnya kejujuran dan integritas. Dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik harus diajarkan untuk berbicara jujur, tidak menipu, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Dengan pembiasaan yang konsisten, peserta didik akan mengerti bahwa kejujuran adalah nilai yang tidak dapat ditawar dalam kehidupan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun Kedisiplinan adalah nilai lain yang sangat ditekankan dalam pendidikan akhlak. Disiplin tidak hanya berhubungan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga mencakup pengendalian diri, seperti mengatur waktu belajar, menjaga kebersihan, dan menghormati jadwal. Pembiasaan disiplin di sekolah dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, seperti memberikan penghargaan bagi peserta didik yang menunjukkan kedisiplinan dalam kegiatan akademik maupun sosial (Soliyah et al. , 2. Dalam proses pendidikan akhlak, tidak jarang terdapat tantangan atau kesulitan. Tidak semua peserta didik akan langsung menerima atau mempraktikkan nilai-nilai moral yang diajarkan. Oleh karena itu, pendekatan yang bijaksana dan penuh kasih sayang dari guru dan orang tua sangat diperlukan. Pembelajaran Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 akhlak harus dilakukan secara terus-menerus, dengan kesabaran dan pengertian terhadap kebutuhan dan perbedaan setiap individu. Jika dilakukan dengan konsisten dan penuh perhatian, pendidikan akhlak akan membuahkan hasil yang positif dalam perkembangan karakter peserta didik. Implementasi pembinaan akhlak peserta didik melalui pembiasaan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah Kegiataan pembiasaan di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya terdiri dari beberapa bentuk, yakni pembiasaan rutin, spontan, teladan, dan terprogram (Zuhri, 2. Contoh pembiasaan rutin di sekolah adalah kebiasaan datang tepat waktu, mengikuti upacara bendera setiap Senin, berdoAoa sebelum Kebiasaan ini secara bertahap mengajarkan disiplin waktu kepada peserta didik dan menghargai pentingnya ketepatan dalam berbagai situasi. Selain itu, kegiatan seperti membersihkan ruang kelas sebelum atau setelah pelajaran juga menjadi rutinitas yang mendidik peserta didik untuk menjaga kebersihan. Gambar 1. Pembiasaan Upacara Bendera Hari Senin di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sumber: (SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung, 2022. Selain kegiatan-kegiatan diatas, di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya juga memiliki pembiasaan rutin yang dilaksanakan sebelum pembelajaran dimulai, yakni pembacaan 10 ayat suci al-QurAoan sebagai implementasi iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT (SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung, 2022. Gambar 2. Pembacaan ayat suci Al-QurAoan di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sumber: (SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung, 2022. Pembiasaan spontan biasanya terjadi secara tidak terencana dan bisa muncul dalam situasi sehari-hari. Sebagai contoh, ketika seorang peserta didik menemukan teman yang tertinggal atau kesulitan membawa barang, tanpa disuruh, peserta didik lain dengan spontan membantu teman tersebut. Hal ini mengajarkan peserta didik tentang rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Pembiasaan ini juga dapat terjadi saat peserta didik secara spontan menunjukkan sikap sopan santun, seperti mengucapkan "terima kasih" atau "maaf" dalam percakapan sehari-hari, yang menumbuhkan kesadaran sosial yang positif. Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Gambar 3. Contoh mengucapkan maaf dan terima kasih dalam percakapan di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sumber: (SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung, 2022. Pembiasaan teladan dilakukan dengan menunjukkan contoh atau perilaku yang baik oleh guru atau orang dewasa di sekitar peserta didik. Misalnya, jika seorang guru selalu berbicara dengan bahasa yang sopan dan menghormati peserta didik, maka peserta didik akan meniru cara berbicara yang sama dalam interaksi mereka. Begitu juga dengan sikap disiplin dan rasa tanggung jawab guru dalam menyelesaikan tugas tepat waktu, yang akan ditiru oleh peserta didik. Pembiasaan terprogram dilakukan secara terstruktur dan sistematis dalam kegiatan pendidikan (Bukhori et al. , 2. Sebagai contoh, sekolah dapat membuat jadwal rutin untuk kegiatan membaca setiap pagi atau program kebersihan lingkungan sekolah yang dilakukan setiap bulan. Dalam program ini, peserta didik dilibatkan secara aktif dan terorganisir dalam kegiatan yang mendukung pengembangan nilai-nilai positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan rasa kebersamaan. Pembiasaan ini membantu peserta didik untuk memahami pentingnya berpartisipasi dalam kegiatan yang terencana dan bermanfaat bagi lingkungan mereka. Sebagai sekolah yang bercirikan islam. SMA Islam Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya ini memiliki pembiasaan terprogram pokok yang sudah berjalan cukup lama, yakni shalat dhuha dipagi hari tepatnya pada jam ke 3 pembelajaran yaitu 09. 30 WIB dan shalat dzuhur berjamaAoah di siang hari (R. Yusman, personal communication, 2. Gambar 4. Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur BerjamaAoah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sumber: (SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung, 2022. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam implementasi pembiasaan terprogram yang meliputi shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah ini ialah sebagai berikut: Pembiasaan dimulai sejak awal Kegiatan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung diterapkan kepada peserta didik sejak ia masuk kelas X, sehingga harapannya bila kegiatan ini rutin dilaksanakan, maka bukan tidak mungkin ketika sekolah liburpun mereka akan terbiasa melaksanakannya di rumah masing-masing. Kegiatan positif yang dilaksanakan sejak dini biasanya melekat kepada peserta didik, sehingga hal tersebut dapat menjadi habit. Pembiasaan dilakukan secara terus menerus Kegiatan shalat dhuha di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung dilaksanakan setiap hari selasa, rabu, kamis, dan sabtu. Hari senin tidak dilaksanakan shalat dhuha karena waktu pagi harinya dilakukan upacara bendera, sehingga waktu masukpun bergeser. Sedangkan untuk hari jumAoat juga alasan tidak dilaksanakan ialah karena menyesuaikan dengan waktu shalat jumAoat. Sedangkan untuk shalat dzuhur berjamaAoah Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 dilaksanakan setiap hari senin, selasa, rabu, kamis, dan sabtu. Kedua kegiatan ini dilaksanakan secara terus menerus sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, terkecuali bila ada peristiwa yang sifatnya indisental, maka kegiatan tersebut tidak dilaksanakan. Pembiasaan diawasi secara ketat, konsisten, dan tegas Untuk mencapai hasil yang diinginkan, pelaksanaan pembiasaan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah dilakukan absensi sebagai kontrol kegiatan sehingga sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan (Sopwandin, 2. Selain itu, pada prosesnya diterapkan juga konsekuensi bagi peserta didik yang tidak mengikuti kedua kegiatan tersebut. Sanksi tersebut ada yang sifatnya secara langsung atau Diantara konsekuensi atau hukuman yang diterapkan ialah seperti peserta didik harus menghapal surat-surat pilihan dalam Al-QurAoan, bersih-bersih dan/atau berdiri di lapangan ketika upacara bendera (R. Yusman, personal communication, 2. Tujuan dari pengawasan ini adalah untuk memastikan bahwa kebiasaan atau perilaku yang ingin dibentuk berjalan dengan baik dan tetap terjaga dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, pembiasaan diterapkan untuk membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab dengan pengawasan yang rutin dan pemberian konsekuensi yang jelas jika terjadi penyimpangan. Konsep ini berfokus pada konsistensi dalam penerapan dan pemberian pengawasan yang ketat agar hasil yang diinginkan dapat tercapai. Tentunya pendekatan ini membutuhkan komitmen yang kuat dan konsistensi dari pihak yang mengawasinya. Pembiasaan shalat Dhuha dan shalat Dzuhur berjam'ah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya tentunya sangat efektif digunakan sebagai upaya pembinaan akhlak bagi peserta Selain bagi peserta didik, pembiasaan ini berimplikasi pada seluruh warga sekolah dalam aspek-aspek sebagai berikut: Aspek spiritual Shalat Dhuha dan Dzuhur berjam'ah di sekolah memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memperdalam praktik ibadah mereka, yang dapat memperkuat hubungan mereka dengan Allah SWT. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang mengajarkan pentingnya kebiasaan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembiasaan ini juga dapat mendatangkan keberkahan. Salah satu keutamaan dari shalat Dhuha adalah mendatangkan keberkahan dalam rezeki dan kehidupan (Dalimunthe, 2. Dengan melaksanakan shalat ini secara rutin, diharapkan akan membawa manfaat keberkahan bagi para peserta didik dan lingkungan sekolah. Aspek sosial Melaksanakan shalat berjam'ah, baik Dhuha maupun Dzuhur, mendorong peserta didik untuk lebih sering berkumpul dalam suasana positif. Hal ini membangun rasa kebersamaan dan solidaritas antara peserta didik, guru, dan seluruh anggota sekolah. Shalat berjam'ah di waktu-waktu yang sudah ditentukan dapat mengajarkan peserta didik pentingnya disiplin waktu (Romadani & Rustiani, 2. Mereka dilatih untuk mengatur kegiatan mereka sehingga bisa mengikuti ibadah tepat waktu. Aspek pendidikan Dengan adanya kewajiban melaksanakan shalat berjam'ah, peserta didik belajar untuk bertanggung jawab tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar. Mereka dilatih untuk memprioritaskan ibadah meskipun di tengah padatnya kegiatan sekolah. Shalat merupakan bagian dari pendidikan akhlak yang mendidik peserta didik untuk memiliki sikap rendah hati, sabar, dan bertanggung jawab (Wahyudi & Am, 2. Hal ini bisa tercermin dalam perilaku mereka di luar jam ibadah, baik di kelas maupun di lingkungan sosial. Aspek lingkungan Sekolah Kehadiran shalat Dhuha dan Dzuhur berjam'ah dapat menciptakan suasana yang religius di dalam sekolah (Sopwandin & Irawati, 2. Ini memberikan contoh positif bagi peserta didik dan mengingatkan mereka tentang nilai-nilai agama yang harus diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ditambah guru yang ikut serta dalam shalat berjam'ah bisa menjadi teladan bagi peserta didik (Faiqoh et al. , 2. Hal ini memperlihatkan bahwa guru tidak hanya mengajarkan ilmu akademik, tetapi juga menjadi contoh dalam mengamalkan ajaran agama. Aspek psikologis Bagi peserta didik, shalat bisa menjadi sarana untuk menenangkan diri, menghilangkan stres, dan memperoleh kedamaian batin. Ini membantu mereka untuk lebih fokus dalam kegiatan belajar dan menghadapi tantangan sehari-hari (Athiyyah & Ridwan, 2. Selain itu, melakukan ibadah secara rutin di sekolah dapat membuat peserta didik merasa lebih percaya diri dalam menjalani aktivitas di sekolah karena mereka merasa dekat dengan Allah SWT. Aspek terhadap prestasi akademik Iwan Sopwandin Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Rutin beribadah dapat membantu peserta didik untuk memiliki fokus yang lebih baik dalam belajar (Sopwandin, 2. Dengan adanya waktu untuk refleksi diri dan berdoa, mereka mungkin dapat merasa lebih tenang dan lebih siap untuk menghadapi ujian atau tugas (Fadhlurrahman et al. , 2. PENUTUP Pembiasaan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya digunakan sebagai salah satu media untuk melakukan pembinaan akhlak peserta Kegiatan ini selain sebagai upaya menjalankan anjuran agama, tetapi juga dalam rangka menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab peserta didik, yang tentunya hal tersebut merupakan bagian dari indikator akhlak karimah. Kegiatan pembiasaan shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaAoah di SMA Islam Al-Hidayah Cukangkawung Sodonghilir Tasikmalaya dilaksanakan secara terprogram dan terencana. Dengan langkahlangkah dimulai dari pembiasaan dilakukan sejak peserta didik masuk kelas X, pembiasaan dilakukan secara terus menerus, dan pembiasaan diawasi secara ketat, konsisten, dan tegas. Pembiasaan tersebut berimplikasi pada peserta didik meliputi aspek spiritual, sosial, pendidikan, lingkungan sekolah, psikologis, dan prestasi DAFTAR PUSTAKA