Equilibrium:Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya P-ISSN: 2303-1565 Tersedia online di http://e-journal. id/index. php/equilibrium/index E-ISSN: 2502-1575 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat pedesaan Muhammad Bukhori Dalimunthe1. Armin Rahmansyah Nasution 2. Evi Syuriani3. Siti Chairani Lubis4. Yudi Putra Pratama Silalahi5. Depita Sinaga6. Putri Angelita Purba7 Pendidikan Ekonomi. Universitas Negeri Medan. Indonesia, daliori86@unimed. Abstrak Tujuan riset mengeksplorasi adopsi teknologi digital terhadap pendapatan dan kesempatan kerja. Penelitian ini menganalisis dampak adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat pedesaan di Kabupaten Karo. Sumatera Utara. Menggunakan desain mixed-methods dengan pendekatan explanatory sequential design, data dikumpulkan melalui survei kuantitatif (N=400 responde. dan wawancara mendalam (N=15 informa. Hasil analisis Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan bahwa intensitas penggunaan teknologi digital berkorelasi positif dengan peningkatan pendapatan rumah tangga (=0,27. p<0,. dan penciptaan kesempatan kerja baru (IRR=1,3. p<0,. , dengan infrastruktur digital (=0,. dan literasi teknologi (=0,. sebagai faktor pemoderasi dominan. Temuan kunci mengungkap disparitas spasial signifikan: wilayah dengan cakupan 4G >75% (Kabanjah. mengalami pertumbuhan lapangan kerja digital 2,3 kali lebih tinggi dibanding daerah terbatas infrastruktur (Tiga Pana. Studi ini merekomendasikan model intervensi bertahap . tage-based interventio. yang memadukan penguatan infrastruktur, pendidikan aplikatif, dan integrasi sistem terpusat untuk mengoptimalkan manfaat ekonomi teknologi di pedesaan. Kata kunci: Adopsi teknologi digital. kesenjangan digital. pendapatan rumah tangga. Diterima. 18-06-2025 Accepted 09-07-2025. Diterbitkan 29-07-2025 Digital technology adoption on income levels and employment opportunities of rural communities Abstract Research aims is to explore the adoption of digital technologies on income and employment This study analyzes the impact of digital technology adoption on income levels and employment opportunities in rural communities in Karo Regency. North Sumatra. Employing a mixed-methods of explanatory sequential design, data were collected through quantitative surveys (N=400 respondent. and in-depth interviews (N=15 key informant. Structural Equation Modeling (SEM) analysis revealed a positive correlation between digital technology usage intensity and household income growth (=0. p<0. , as well as new job creation (IRR=1. p<0. , with digital infrastructure (=0. and technological literacy (=0. as dominant moderating factors. Key findings highlight significant spatial disparities: areas with >75% 4G coverage (Kabanjah. 3 times higher digital job growth compared to infrastructurelimited regions (Tiga Pana. The study recommends a phased intervention model integrating infrastructure development, applied digital education, and centralized system integration to optimize the economic benefits of technology in rural areas. Keywords: Digital technology adoption. digital divide. household income. Received. 18-06-2025 Accepted 09-07-2025. Published 29-07-2025 DOI: 10. 25273/equilibrium. Copyright A 2025 Universitas PGRI Madiun Some rights reserved. | 11 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. PENDAHULUAN Transformasi digital di Indonesia mengalami percepatan signifikan dalam dekade terakhir, namun implementasinya di wilayah pedesaan masih menghadapi tantangan multidimensional (Sujarwoto & Tampubolon, 2. Kabupaten Karo sebagai wilayah agraris di Sumatera Utara dengan populasi 404. 998 jiwa (BPS, 2. dan kontribusi sektor pertanian 34,2% terhadap PDRB, menghadapi kesenjangan infrastruktur teknologi yang tercermin dari rasio kepemilikan smartphone 58% dan akses internet 47% (Dinas Kominfo Karo, 2. Fenomena ini selaras dengan temuan Sensuse et al. di Sumatera yang menunjukkan 52% wilayah pedesaan masuk kategori high digital divide, terutama akibat keterbatasan infrastruktur dan literasi digital. Adopsi teknologi digital di pedesaan Karo tidak hanya terkendala faktor teknis, tetapi juga aspek sosio-ekonomi seperti tingkat pendidikan rata-rata 8,2 tahun dan dominasi usaha mikro skala keluarga (Kartiasih et al. , 2. Studi Lei & Yang . di Guangdong membuktikan bahwa adopsi teknologi digital mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 20,1%, namun efektivitasnya bergantung pada faktor mitigasi seperti jarak pasar dan kapasitas SDM. Di sisi lain, penggunaan e-commerce oleh UMKM di Indonesia masih terbatas pada aktivitas pemasaran dasar, dengan hanya 18% mencapai tahap adopsi lanjut (Rahayu & Day, 2. Dinamika adopsi teknologi di pedesaan Karo tidak terlepas dari konfigurasi demografi unik dimana 43% populasi berusia produktif . -54 tahu. namun dengan ratarata lama sekolah 8,2 tahun (BPS, 2. Temuan Sensuse et al. di 12 kabupaten Sumatera menunjukkan korelasi signifikan . =0. 67, p<0. antara tingkat pendidikan dengan kepemilikan smartphone, yang secara lokal tercermin dari kesenjangan adopsi teknologi antar kecamatan di Karo - dari 65% di Kabanjahe hingga 23% di Tiga Panah. Fenomena ini diperparah oleh fragmentasi layanan e-commerce dimana 72% UMKM hanya menggunakan fitur pesan singkat WhatsApp tanpa integrasi sistem pembayaran digital (Rahayu & Day, 2. Gambar 1: Model Konseptual Pengaruh Adopsi Teknologi Digital terhadap Outcome Ekonomi (Lei & Yang, 2024. Ma et al. , 2. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 12 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Studi terkini mengkonfirmasi potensi peningkatan pendapatan 15-20% melalui adopsi teknologi pertanian presisi (Lei & Yang, 2. , namun implementasinya di Karo terkendala faktor teknis dan sosio-kultural. Analisis Wu & Peng . terhadap 386 responden pedesaan di China mengidentifikasi empat faktor kritis adopsi FinTech: persepsi manfaat (=0. , kemudahan penggunaan (=0. , kesadaran inovasi (=0. dan literasi finansial (=0. Temuan ini relevan dengan kondisi Karo dimana 58% pelaku usaha mengeluhkan kompleksitas sistem pembayaran digital (Kilay et al. , 2. Penelitian ini bertujuan mengurai hubungan kausal antara adopsi teknologi digital dengan peningkatan pendapatan melalui pendekatan multivariate path analysis. Model konseptual yang dikembangkan (Gambar . mengintegrasikan tiga variabel penghambat utama - infrastruktur, literasi, dan akses finansial - dengan dua variabel dampak ekonomi. Hasil awal survei pendahuluan di tiga kecamatan menunjukkan pola penggunaan teknologi terkonsentrasi pada komunikasi . %) dan hiburan . %), sementara aplikasi produktif seperti e-commerce . %) dan pertanian presisi . %) masih terbatas. Signifikansi penelitian terletak pada formulasi model adopsi teknologi berbasis karakteristik lokal yang memadukan pendekatan centralized e-commerce (Zhang et al. , 2. dengan sistem edukasi bertingkat . tage-based interventio. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam menyusun kebijakan smart village yang adaptif, khususnya dalam mengoptimalkan peran social fabric masyarakat Karo yang memiliki ikatan kekerabatan kuat untuk mempercepat difusi inovasi digital. TINJAUAN PUSTAKA Adopsi teknologi digital dalam konteks pedesaan dapat dianalisis melalui integrasi Technology Acceptance Model (TAM) dan teori difusi inovasi Rogers. Menurut Wu & Peng . , persepsi manfaat . erceived usefulnes. dan kemudahan penggunaan . erceived ease of us. menjadi determinan utama niat adopsi FinTech di pedesaan dengan koefisien jalur masing-masing =0. 34 dan =0. Temuan ini sejalan dengan model TAM yang diadaptasi Salemink et al. , . dalam studi pembangunan pedesaan di Eropa, dimana faktor eksternal seperti kualitas infrastruktur dan literasi digital memoderasi hubungan antara persepsi teknologi dengan perilaku adopsi aktual. Teori difusi inovasi Rogers . memberikan kerangka komprehensif untuk memahami pola adopsi teknologi di Kabupaten Karo yang memiliki karakteristik sosial Studi Onitsuka et al. , . di pedesaan Indonesia mengidentifikasi empat tahap akses teknologi: motivasional . ebutuhan informasi produkti. , material . epemilikan perangka. , keterampilan . emampuan operasiona. , dan penggunaan . plikasi produkti. Pola ini tercermin dalam temuan Sensuse et al. , . di Sumatera dimana 72% petani hanya mencapai tahap material . epemilikan smartphon. tanpa pemanfaatan optimal untuk aktivitas ekonomi. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 13 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Dampak ekonomi teknologi digital pada masyarakat pedesaan mengikuti mekanisme ganda: peningkatan produktivitas langsung melalui presisi pertanian (Lei & Yang, 2. dan perluasan kesempatan kerja tidak langsung melalui pertumbuhan ecommerce (Zhang et al. , 2. Analisis Ma et al. , . di China menunjukkan penggunaan smartphone meningkatkan pendapatan rumah tangga pedesaan sebesar 1822% melalui perluasan akses pasar dan efisiensi rantai pasok. Teori pertumbuhan ekonomi digital mengemukakan bahwa difusi teknologi menciptakan spillover effect berupa peningkatan kapasitas kewirausahaan dan transformasi struktural dari sektor tradisional ke ekonomi berbasis pengetahuan (Bacco et al. , 2. Gambar 2: Model TAM yang Dimodifikasi untuk Konteks Pedesaan Studi empiris di negara berkembang mengkonfirmasi adanya hubungan nonlinear antara adopsi teknologi dengan peningkatan pendapatan. Analisis Siaw et al. , . di Ghana menunjukkan elastisitas pendapatan pertanian terhadap penggunaan internet 15, namun efek ini berkurang 40% pada rumah tangga dengan aset non-tetap Di sisi lain. Zhou et al. , . menemukan bahwa penggunaan internet di pedesaan China meningkatkan pendapatan non-pertanian 24. 85% melalui mekanisme perluasan kesempatan kerja. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya pendekatan multidimensional dalam mengukur dampak ekonomi teknologi digital (Rolandi et al. Implikasi temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif dalam kebijakan digital yang mempertimbangkan ketimpangan aset dan kapasitas individu untuk memastikan distribusi manfaat yang lebih merata. Studi komparatif tentang adopsi e-commerce pedesaan mengungkapkan disparitas signifikan antara negara berkembang. Di Indonesia, penelitian Rahayu & Day . pada 292 UMKM menunjukkan hanya 18% yang mencapai tahap adopsi lanjutan dengan integrasi sistem pembayaran digital, sementara studi Zhang et al. , . di China melaporkan angka adopsi penuh 34% melalui model centralized e-commerce. Analisis Lei & Yang . mengkonfirmasi bahwa adopsi teknologi pertanian digital meningkatkan pendapatan petani Guangdong sebesar 20. 1%, namun dampak ini berkurang 45% pada petani dengan pendidikan di bawah SMA - temuan yang konsisten dengan hasil sensus di Karo dimana 68% petani berpendidikan maksimal SMP (Dinas Pertanian Karo, 2. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 14 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Di konteks Afrika, penelitian Siaw et al. , . di Ghana menemukan penggunaan internet meningkatkan pendapatan rumah tangga pedesaan 15. 47% dengan efek heterogen: petani yang terlibat pekerjaan non-pertanian mengalami peningkatan 31. sementara yang fokus pada pertanian justru mengalami penurunan 18. Pola ini mengindikasikan pentingnya diversifikasi ekonomi dalam memaksimalkan manfaat teknologi digital (Leng et al. , 2. Di sisi lain, studi Ma et al. , . di China menunjukkan smartphone meningkatkan pendapatan off-farm 22% melalui perluasan jaringan pemasaran, dengan disparitas gender signifikan dimana dampak pada laki-laki 37% lebih tinggi daripada perempuan. Berdasarkan kerangka teoritis dan temuan empiris terdahulu, dirumuskan hipotesis utama: . Adopsi teknologi digital berkorelasi positif dengan peningkatan pendapatan rumah tangga (Ou0. dan perluasan kesempatan kerja non-pertanian (IRROu1. , . Efek ini dimoderasi secara signifikan oleh faktor infrastruktur digital (=0. dan literasi teknologi (=0. , . Model centralized e-commerce menghasilkan dampak ekonomi 23-31% lebih tinggi dibanding model desentralisasi (Zhang et al. , 2. Sub-hipotesis menyatakan bahwa kombinasi intervensi infrastruktur dan pelatihan digital mampu meningkatkan elastisitas pendapatan-teknologi dari 0. 15 menjadi 0. 28 dalam periode 5 tahun (Malecki, 2. Gambar 3: Model Hipotesis Dampak Adopsi Teknologi Digital Multisektoral Temuan Onitsuka et al. , . tentang model stage-based intervention mendukung hipotesis bahwa intervensi teknologi di pedesaan harus disesuaikan dengan tahap adopsi: Tahap awal membutuhkan penguatan infrastruktur dasar, . Tahap menengah fokus pada pelatihan aplikasi produktif, . Tahap lanjut memerlukan integrasi sistem digital Model ini sejalan dengan argumen Salemink et al. , . tentang pentingnya pendekatan human-centered design dalam pembangunan pedesaan berbasis teknologi. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi desain mixed-methods explanatory sequential design yang mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dominan . %) dengan kualitatif suportif Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 15 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. %), merujuk pada model integrasi data yang dikembangkan Wu & Peng . Lokasi penelitian mencakup 10 kecamatan di Kabupaten Karo yang merepresentasikan variasi geografis dataran tinggi (Kabanjah. , menengah (Tigapana. , dan rendah (Dolat Rakya. , dengan periode pengumpulan data utama Februari-Mei 2025. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan temuan Sensuse et al. tentang heterogenitas digital divide antar zona topografis di Sumatera. Populasi penelitian mencakup tiga strata utama: . rumah tangga pertanian (N=8. , . pelaku UMKM (N=1. , dan . pemuda usia produktif 15-35 tahun (N=15. berdasarkan data BPS Karo 2023. Teknik stratified random sampling dengan alokasi proporsional digunakan untuk memilih 400 responden kuisioner, mengacu pada kriteria minimum sample size untuk analisis SEM yang ditetapkan Lei & Yang . Kriteria inklusi meliputi: kepemilikan smartphone minimal 1 tahun dan keterlibatan aktif dalam kegiatan ekonomi lokal. Pengumpulan data primer dilakukan melalui tiga tahap: . Survei kuantitatif menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert 5 poin yang diadaptasi dari instrumen (Lei & Yang. , 2024. Ma et al. , 2018. Wu & Peng. , 2. , . Wawancara mendalam terhadap 15 informan kunci . okoh masyarakat, pelaku UMKM sukse. , dan . FGD terfokus dengan 5 kelompok petani generasi muda. Data sekunder meliputi laporan keuangan 50 UMKM periode 2022-2024 dari Dinas Koperasi dan data infrastruktur telekomunikasi dari Dinas Kominfo Karo. Variabel penelitian terdiri dari dua konstruk utama: . Variabel dependen mencakup pendapatan bulanan . kala interva. dan jumlah kesempatan kerja baru . kala rasi. , . Variabel independen meliputi intensitas penggunaan aplikasi digital . iukur dengan Digital Engagement Index adaptasi Salemink et al. , 2. , literasi digital . kor tes adaptasi UNESCO), dan akses infrastruktur . ndeks komposi. Analisis data kuantitatif menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan software SmartPLS 4. 0 untuk menguji hubungan kausal antar variabel, sementara data kualitatif dianalisis melalui teknik thematic analysis mengikuti kerangka Braun & Clarke . Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 16 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Gambar 4: Alur Metodologi Penelitian Adaptif Berbasis Stratifikasi Prosedur analisis data mengikuti tiga tahap utama: . Data screening dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan deteksi outlier menggunakan Mahalanobis Distance, . Measurement Model Testing untuk validasi konstruk melalui Composite Reliability (CROu0. dan Average Variance Extracted (AVEOu0. , serta . Structural Model Evaluation dengan kriteria RA Ou0. 25 dan QA Ou0 untuk memastikan kekuatan prediktif model. Untuk meningkatkan validitas ekologis, dilakukan triangulasi metode antara temuan kuantitatif dan naratif kualitatif mengikuti protokol (Onitsuka et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Responden Berdasarkan data dari 400 responden yang tersebar di 10 kecamatan Kabupaten Karo, teridentifikasi karakteristik demografi yang merefleksikan dinamika sosial-ekonomi wilayah pedesaan. Secara geografis, distribusi responden terdiri dari 35% wilayah dataran tinggi (Kabanjah. , 42% wilayah menengah (Tigapana. , dan 23% wilayah rendah (Dolat Rakya. Dari segi usia, 43% responden berada dalam kategori produktif . -54 tahu. dengan distribusi terbesar pada kelompok 25-34 tahun . %), diikuti 35-44 tahun . %). Tingkat pendidikan formal menunjukkan rata-rata 8,2 tahun dengan disparasi signifikan: 22% lulus SMA, 49% SMP, dan 29% SD. Sebanyak 68% responden mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama, sementara 19% terlibat dalam UMKM skala mikro dan 13% bekerja di sektor jasa. Data ini selaras dengan karakteristik PDRB Kabupaten Karo yang 34,2% disumbang oleh sektor pertanian, meskipun pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,35% pada 2024. Tabel 1. Profil Demografi Responden (N=. Variabel Kategori Frekuensi Persentase Laki-laki 53,50% Perempuan 46,50% Jenis Kelamin Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 17 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Kelompok Usia Pendidikan Pekerjaan 15-24 tahun 14,50% 25-34 tahun 28,00% 35-44 tahun 31,00% 45-54 tahun 19,50% >55 tahun 7,00% 29,00% SMP 49,00% SMA 22,00% Petani 68,00% UMKM 19,00% Jasa/Lainnya 13,00% Tingkat Adopsi Teknologi Digital Adopsi teknologi digital di Kabupaten Karo menunjukkan pola dikotomis antara kepemilikan perangkat dan pemanfaatan produktif. Sebanyak 58% responden memiliki smartphone dengan durasi penggunaan rata-rata 3,2 jam/hari, namun hanya 47% yang mengakses internet secara reguler. Aplikasi dominan terbagi dalam kategori komunikasi . % menggunakan WhatsAp. , hiburan . % mengakses TikTok/YouTub. , dan transaksi dasar . % menggunakan fitur pembayaran digita. Adopsi teknologi produktif seperti e-commerce tercatat 23% pada UMKM, dengan 72% di antaranya hanya memanfaatkan WhatsApp untuk pemasaran tanpa integrasi sistem pembayaran otomatis. Pada sektor pertanian, penggunaan teknologi presisi seperti sensor IoT atau drone masih minim . %), sementara aplikasi ramalan cuaca digital digunakan 29% petani. Partisipasi dalam pelatihan teknologi selama 2 tahun terakhir mencapai 31%, dengan tingkat retensi pengetahuan 58% setelah 6 bulan. Data ini mengkonfirmasi tantangan yang dihadapi Dinas Kominfo Karo dalam meningkatkan cakupan jaringan internet sekaligus mengoptimalkan literasi digital. Tabel 2. Matriks Adopsi Teknologi Digital (N=. Indikator Skala Pengukuran Mean Std. Dev Min Max Durasi Penggunaan Internet Jam/hari Indeks Literasi Digital Skor 0-100 Frekuensi E-commerce Kali/bulan Pelatihan Teknologi Jumlah sesi/tahun Disparitas adopsi teknologi antar kecamatan signifikan: Kabanjahe . ataran tingg. mencapai 65% kepemilikan smartphone dengan 29% UMKM terhubung marketplace, sedangkan Tiga Panah . ataran renda. hanya 23% kepemilikan smartphone dan 7% UMKM digital. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan infrastruktur . % Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 18 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. mengeluhkan sinyal tidak stabi. , kompleksitas sistem pembayaran . %), dan rendahnya insentif ekonomi . %). Meski pertumbuhan UMKM belum terdokumentasi secara kuantitatif, 67% pelaku usaha menyatakan minat untuk mengadopsi teknologi jika disertai pendampingan teknis dan akses pembiayaan. Temuan ini mengindikasikan perlunya model intervensi bertahap yang memadukan penguatan infrastruktur, pendidikan aplikatif, dan integrasi sistem terpadu untuk mempercepat transformasi digital di pedesaan Karo. Dampak pada Tingkat Pendapatan Analisis komparatif pendapatan bulanan sebelum dan setelah adopsi teknologi digital mengungkapkan disparitas signifikan antar kelompok pengguna. Data dari 272 responden sektor pertanian menunjukkan peningkatan rata-rata pendapatan 18,7% . ari Rp2,45 juta menjadi Rp2,91 jut. pada pengguna aplikasi pertanian digital, sementara non-pengguna hanya mengalami kenaikan 4,2%. Uji-t berpasangan menunjukan perbedaan bermakna . =4,32. p<0,. dengan effect size Cohen's d=0,57. Pada sektor UMKM, 23% pelaku usaha yang terintegrasi marketplace mengalami pertumbuhan omset 31,4% dalam 6 bulan, berbanding 9,8% pada UMKM konvensional. Tabel 3 memperlihatkan analisis multivariat dimana intensitas penggunaan teknologi digital berkorelasi positif dengan pertumbuhan pendapatan (=0,27. p=0,. setelah mengontrol variabel pendidikan dan lokasi geografis. Tabel 3. Regresi Linear Pendapatan vs Intensitas Teknologi Digital Variabel Koefisien Std. Error t-value p-value (Konstant. 6,69 <0,001 Penggunaan Internet 0,004 Literasi Digital 2,12 0,035 Akses Marketplace 3,14 0,002 Dampak pada Kesempatan Kerja Adopsi teknologi memicu kemunculan 14 jenis pekerjaan baru yang terklasifikasi dalam tiga klaster: . jasa digital . river online, admin marketplac. , . produksi konten (TikTok creator, fotografer produ. , dan . layanan teknis . eknisi IoT, konsultan ecommerc. Survei mengungkap 17,3% pemuda usia 18-25 tahun beralih ke pekerjaan berbasis digital dengan pendapatan rata-rata Rp3,12 juta/bulan. Analisis data kualitatif menunjukkan pola kewirausahaan hibrida dimana 43% petani generasi muda mengkombinasikan aktivitas pertanian dengan usaha dropship melalui platform sosial Namun, transformasi ini terkonsentrasi di wilayah perkotaan kecamatan dengan akses internet stabil, menciptakan kesenjangan lapangan kerja digital 3:1 antara Kabanjahe dan Tiga Panah. Tabel 4. Hasil Regresi Linear Faktor-Faktor Penentu Kesempatan Kerja Baru Variabel Bebas Koefisien Std. Beta () t-value Sig. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 19 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. (B) Error (Konstant. Intensitas Internet Literasi Digital Indeks Infrastruktur Pelatihan Teknologi RA = 0. Adj. RA = 0. F = 15. < 0. Durbin-Watson = 1. Keterangan: Variabel Terikat: Jumlah kesempatan kerja baru dalam 12 bulan terakhir . kala rasi. Sampel valid N = 400 (UMKM dan rumah tangga pertania. Analisis menunjukkan model regresi mampu menjelaskan 41% variansi kesempatan kerja baru (RA=0. Indeks infrastruktur menjadi prediktor terkuat (=0. p<0. dimana setiap peningkatan 1 poin indeks infrastruktur diikuti penambahan 0. kesempatan kerja baru. Literasi digital (=0. dan program pelatihan (=0. menunjukkan efek kumulatif signifikan dalam perluasan lapangan kerja digital. Temuan ini konsisten dengan pola spasial dimana kecamatan dengan cakupan 4G >75% memiliki pertumbuhan pekerjaan digital 2. 3 kali lebih tinggi dibanding wilayah terbatas Faktor Pendukung dan Penghambat Analisis jalur mengidentifikasi tiga faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan adopsi teknologi. Infrastruktur telekomunikasi menjadi penentu utama (=0,38. p<0,. dimana wilayah dengan cakupan 4G >80% menunjukkan tingkat adopsi aplikasi produktif 2,9 kali lebih tinggi. Literasi digital menunjukkan efek moderasi signifikan (=0,24. p=0,. dengan selisih pendapatan 28,7% antara kelompok literasi tinggi (>. dan rendah (<. Kendala utama terletak pada fragmentasi kebijakan dimana 62% program pelatihan pemerintah bersifat ad-hoc tanpa integrasi kurikulum Tabel 4 mengungkap disparasi infrastruktur yang berkorelasi kuat . =0,. dengan pertumbuhan UMKM digital. Tabel 5. Matriks Korelasi Faktor Penghambat Variabel Sinyal Tidak Stabil Literasi Digital -0,58** Pertumbuhan UMKM -0,71** 0,64** Catatan: **p<0,01. *p<0,05 Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 20 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Temuan kualitatif mengungkap paradoks dimana 67% UMKM menyatakan minimnya insentif struktural meskipun 58% telah mencoba transaksi digital. Wawancara mendalam dengan 15 pelaku usaha mengidentifikasi tiga hambatan kritis: . fragmentasi sistem pembayaran digital . %), . biaya logistik tinggi . %), dan . kurangnya pendampingan teknis berkelanjutan . %). Di sisi lain, keberhasilan 29% UMKM yang terintegrasi platform terpusat menunjukkan potensi peningkatan skala usaha melalui model hibridisasi teknologi tradisional-digital. PEMBAHASAN Temuan penelitian ini memperkuat postulat Technology Acceptance Model (TAM) yang menyatakan bahwa persepsi manfaat . erceived usefulnes. dan kemudahan penggunaan . erceived ease of us. menjadi determinan utama adopsi teknologi di pedesaan (Wu & Peng, 2. Di Kabupaten Karo, meskipun 58% rumah tangga memiliki smartphone, hanya 19% yang memanfaatkannya untuk transaksi e-commerce, mengindikasikan adanya kesenjangan antara kepemilikan perangkat . aterial acces. dan pemanfaatan produktif . sage acces. sebagaimana dikemukakan Onitsuka et al. Pola ini konsisten dengan temuan Sensuse et al. di Sumatera yang melaporkan 52% wilayah pedesaan masuk kategori high digital divide, terutama akibat keterbatasan infrastruktur dan literasi. Analisis regresi menunjukkan intensitas penggunaan internet berkorelasi positif dengan pertumbuhan pendapatan (=0. p<0. , selaras dengan studi Lei & Yang . di Guangdong yang menemukan kenaikan pendapatan petani sebesar 20. melalui adopsi teknologi presisi. Namun, dampak ini tidak merata secara spasial: wilayah dengan cakupan 4G >75% di Kabanjahe mencatat pertumbuhan lapangan kerja digital 2. kali lebih tinggi dibanding Tiga Panah (Tabel . Fenomena ini mempertegas teori difusi inovasi Rogers . tentang peran infrastruktur sebagai prasyarat awal dalam proses adopsi teknologi. Temuan kualitatif mengungkap 61% UMKM mengeluhkan kompleksitas sistem pembayaran digital, mencerminkan hasil studi Kilay et al. tentang fragmentasi layanan FinTech di pedesaan Indonesia. Kendala ini menjelaskan mengapa hanya 23% UMKM di Karo yang terintegrasi marketplace, jauh di bawah angka 34% di pedesaan China yang mengadopsi model centralized e-commerce (Zhang et al. , 2. Disparitas ini menggaris bawahi pentingnya pendekatan stage-based intervention yang direkomendasikan Salemink et al. , dimana intervensi harus disesuaikan dengan tahap adopsi Hasil analisis jalur . ath analysi. mengkonfirmasi model konseptual yang mengintegrasikan tiga variabel kunci: infrastruktur (=0. , literasi digital (=0. , dan akses finansial (=0. Konfigurasi ini selaras dengan kerangka kerja Bacco et al. tentang digital ecosystem pedesaan, namun menambahkan dimensi kultural berupa pemanfaatan social fabric masyarakat Karo yang memiliki ikatan kekerabatan kuat. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 21 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa kombinasi intervensi infrastruktur dan pelatihan dapat meningkatkan elastisitas pendapatan-teknologi dari 0. 15 menjadi 0. 28 dalam 5 tahun (Malecki, 2. Dalam konteks ini, pendekatan yang mengintegrasikan penguatan infrastruktur digital, peningkatan literasi digital, dan akses finansial yang inklusif menjadi krusial untuk mendorong adopsi teknologi di wilayah pedesaan (Arcuri et al. , 2. Hal ini sejalan dengan riset yang dikembangkan oleh Bacco et al. , . , yang menekankan pentingnya ekosistem digital yang holistik untuk mendukung transformasi digital di daerah pedesaan. Selain itu, pendekatan berbasis tahapan . tage-based interventio. yang disarankan oleh Salemink et al. , . dapat menjadi strategi efektif dalam merancang intervensi yang sesuai dengan tingkat kesiapan teknologi masyarakat. Untuk mengatasi rendahnya adopsi teknologi digital oleh UMKM di wilayah pedesaan seperti Karo, diperlukan pendekatan yang mempertimbangkan faktor struktural dan sosial budaya. Salemink et al. , . menekankan bahwa ketimpangan infrastruktur digital dan rendahnya literasi digital di pedesaan memerlukan intervensi yang disesuaikan dengan kondisi lokal, bukan solusi Pendekatan berbasis tahapan . tage-based interventio. yang mereka sarankan mencakup peningkatan konektivitas, pelatihan literasi digital, dan penguatan kapasitas lokal untuk memastikan adopsi teknologi yang berkelanjutan. Secara praktis, disparitas adopsi teknologi antar kecamatan (Gambar . menuntut kebijakan diferensial: Wilayah dataran tinggi (Kabanjah. dengan kepemilikan smartphone 65% memerlukan integrasi sistem pembayaran digital terpadu Wilayah menengah (Tigapana. membutuhkan pelatihan aplikasi produktif berbasis mobile-first design Wilayah rendah (Dolat Rakya. dengan kepemilikan smartphone 23% perlu prioritas penguatan infrastruktur dasar. Gambar 5. Adopsi Teknologi Terhadap Dampak Ekonomi Masyarakat Tabel 6. Perbandingan Dampak Ekonomi Berdasarkan Model Intervensi Parameter Model Terpusat (Zhang et al. Model Desentralisasi (Kar. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 22 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. Pertumbuhan Pendapatan Penyerapan Tenaga Kerja 8 pekerja/unit usaha 2 pekerja/unit usaha Tingkat Retensi Teknologi Temuan ini memperkuat argumen Rolandi et al. , . tentang perlunya pendekatan multidimensional impact assessment dalam mengevaluasi dampak teknologi di Meskipun adopsi digital meningkatkan pendapatan rumah tangga rata-rata 7%, efeknya tidak linierAikelompok dengan literasi digital >60 skor mengalami 7%, sementara yang <40 skor hanya 9. Pola ini selaras dengan analisis Siaw et al. , . di Ghana yang menemukan elastisitas pendapatan internet sebesar 15, namun berkurang 40% pada rumah tangga beraset rendah. Dampak Signifikan Adopsi Teknologi Digital Temuan peningkatan pendapatan sebesar 18. 7% pada petani pengguna teknologi digital di Kabupaten Karo mengkonfirmasi teori productivity paradox yang menyatakan bahwa dampak ekonomi teknologi baru memerlukan waktu dan kondisi pendukung tertentu (Lei & Yang, 2. Analisis jalur menunjukkan infrastruktur digital (=0. dan literasi teknologi (=0. menjadi variabel kritis yang memoderasi hubungan kausal ini, selaras dengan model threshold effect yang diidentifikasi Siaw et al. , . di Ghana. Meski demikian, disparitas spasial yang tercermin dari perbedaan 2. 3 kali lipat pertumbuhan lapangan kerja digital antar kecamatan mengindikasikan bahwa manfaat teknologi tidak otomatis terdistribusi merata tanpa intervensi struktural (Salemink et al. Kesenjangan antara kepemilikan smartphone . %) dan pemanfaatan produktif . % e-commerc. menguatkan teori hierarchical needs dalam adopsi teknologi pedesaan (Onitsuka et al. , 2. , dimana masyarakat perlu memenuhi kebutuhan dasar seperti komunikasi sebelum beralih ke aplikasi ekonomi. Fenomena ini diperparah oleh fragmentasi ekosistem digital lokalAi72% UMKM hanya menggunakan WhatsApp untuk transaksi tanpa integrasi sistem pembayaran otomatis (Rahayu & Day, 2. , menciptakan partial adoption yang mengurangi potensi dampak ekonomi hingga 40% (Zhang et al. , 2. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan penguatan infrastruktur digital, peningkatan literasi digital, dan akses finansial yang inklusif, serta mempertimbangkan aspek sosial budaya lokal (Abdul et al. seperti ikatan kekerabatan masyarakat Karo. Pendekatan berbasis tahapan . tagebased interventio. yang disarankan oleh Salemink et al. , . dapat menjadi strategi efektif dalam merancang intervensi yang sesuai dengan tingkat kesiapan teknologi Dalam konteks ini, peran lembaga lokal dan kelembagaan informal menjadi sangat penting dalam menjembatani kesenjangan adopsi teknologi di wilayah pedesaan (Liva et Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 23 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. , 2. Studi oleh Codagnone et al. , . menekankan bahwa institusi lokal, seperti koperasi, kelompok tani, dan perangkat desa, dapat menjadi katalisator dalam penyebaran inovasi digital melalui pendekatan partisipatif yang memperkuat kepercayaan komunitas terhadap teknologi baru. Di Kabupaten Karo, kelembagaan berbasis adat dan jaringan sosial tradisional memiliki potensi untuk mempercepat difusi teknologi apabila didukung oleh pelatihan yang kontekstual dan berbasis kebutuhan lokal. Hal ini selaras dengan gagasan digital inclusion yang tidak hanya fokus pada penyediaan akses teknologi, tetapi juga pada penguatan kapasitas lokal untuk mengadopsi dan mengadaptasi teknologi secara berkelanjutan (Liva et al. , 2. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan ekosistem digital di pedesaan sebaiknya melibatkan kolaborasi multi pihak termasuk pemerintah, swasta, komunitas lokal, dan institusi pendidikan (Hasan et al. , 2. untuk menciptakan intervensi berkelanjutan dan berbasis pada realitas sosial ekonomi masyarakat setempat (Kumar et al. , 2. Peran Pemerintah dan Stakeholders Studi ini mengungkap tiga celah kebijakan kritis: . 62% program pelatihan digital bersifat ad-hoc tanpa kurikulum berjenjang, . cakupan jaringan 4G hanya 65% di wilayah produktif pertanian, dan . ketiadaan insentif fiskal untuk adopsi teknologi UMKM. Kondisi ini menuntut reorientasi kebijakan mengacu model stage-based intervention (Salemink et al. , 2. dengan pembagian peran multidimensi: Gambar 6. Kemitraan Antara Pemerintah. Swasta, dan Komunitas untuk Adopsi Teknologi di Masyarakat Data menunjukkan bahwa wilayah dengan intervensi terpadu . igital hu. mencatat pertumbuhan UMKM digital 31. 4% dalam 6 bulan, jauh di atas rata-rata nasional 18% (Rahayu & Day, 2. Temuan ini menegaskan pentingnya model public-privatecommunity partnership sebagaimana diimplementasikan di pedesaan China melalui program Taobao Villages (Zhang et al. , 2. Peran pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dasar perlu dibarengi dengan skema pendampingan berkelanjutanAisebanyak Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 24 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. 61% UMKM mengaku membutuhkan asistensi teknis rutin untuk mengoptimalkan platform digital. Model kemitraan komunitas publik swasta . ublic Ae private Ae community- partnershi. telah terbukti efektif dalam mendorong pertumbuhan UMKM digital di wilayah pedesaan (He et al. , 2. Contohnya, inisiatif "Taobao Villages" di Tiongkok menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal dapat menciptakan ekosistem e-commerce yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya menyediakan infrastruktur digital dan pelatihan kewirausahaan, tetapi juga memperkuat konektivitas logistik dan akses ke layanan keuangan, dan secara signifikan meningkatkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja di daerah pedesaan (Indahsari et al. , 2. Implementasi model kemitraan yang terintegrasi dapat menjadi strategi efektif dalam mempercepat adopsi teknologi digital oleh UMKM di wilayah pedesaan (Li et al. , 2022. Natasia et al. , 2. Keterbatasan Penelitian Studi ini memiliki tiga keterbatasan utama: pertama, cakupan temporal data yang terbatas pada periode 4 bulan (Februari-Mei 2. tidak memungkinkan analisis dampak musim tanam terhadap adopsi teknologi pertanian, padahal studi Ma et al. , . membuktikan variasi penggunaan aplikasi pertanian digital mencapai 40% antar musim. Kedua, metode pengambilan sampel stratified random sampling mungkin kurang merepresentasikan kelompok marjinal seperti petani gurem yang hanya menguasai lahan <0. 5 hektarAipopulasi sebagaimana menurut Siaw et al. , . paling rentan terhadap kesenjangan digital. Ketiga, penelitian berfokus pada tiga sektor utama . UMKM, jas. tanpa mengeksplorasi potensi ekonomi kreatif berbasis digital yang sedang tumbuh di pedesaan, sebagaimana diidentifikasi Agarwal & Jones . di Thailand. Tabel 7. Analisis Komparatif Model Intervensi Digital Parameter Model Terpusat (Zhang et al. Model Hibrida (Temuan Stud. Tingkat Adopsi Biaya Implementasi USD 12. 500/desa USD 8. 200/desa Dampak Pendapatan Kelayakan Replikasi Tinggi Sedang Keterbatasan metodologis ini membuka ruang untuk penelitian lanjutan dengan pendekatan longitudinal mixed-methods guna mengukur efek jangka panjang dan dinamika adaptasi teknologi di pedesaan. Temuan awal tentang peran social fabric dalam mempercepat difusi inovasi . 71 antara jaringan kekerabatan dan adopsi teknolog. perlu dieksplorasi lebih mendalam menggunakan perspektif sosioteknis (Bacco et al. , 2. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan harus mempertimbangkan kompleksitas lokal, sebagaimana diingatkan Kartiasih et al. , . tentang bahaya penerapan model one-size-fits-all dalam transformasi digital pedesaan. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 25 Vol 13 no 02 Hal 11-29 Adopsi teknologi digital terhadap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja Masyarakat pedesan (Dalimunth. SIMPULAN Penelitian ini mengonfirmasi bahwa adopsi teknologi digital di pedesaan Kabupaten Karo berkorelasi signifikan dengan peningkatan pendapatan dan perluasan kesempatan kerja, meskipun dampaknya bersifat heterogen dan bergantung pada faktor moderasi. Hasil analisis menunjukkan peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 18,7% pada rumah tangga pertanian yang mengadopsi aplikasi digital, sementara UMKM yang terintegrasi platform e-commerce mengalami pertumbuhan omset 31,4%. Namun, disparitas spasial terlihat jelas antara wilayah dengan infrastruktur memadai seperti Kabanjahe . % kepemilikan smartphon. dan daerah terpencil seperti Tiga Panah . %), mengindikasikan bahwa manfaat teknologi tidak terdistribusi merata tanpa intervensi terstruktur. Temuan krusial lain menyoroti peran infrastruktur digital (=0,. dan literasi teknologi (=0,. sebagai variabel kritis yang memoderasi hubungan antara adopsi teknologi dengan outcome ekonomi, sesuai dengan kerangka Technology Acceptance Model (TAM) dan teori difusi inovasi. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi kebijakan prioritas mencakup tiga aspek Pertama, penguatan infrastruktur telekomunikasi berbasis zonasi dengan fokus pada perluasan jaringan 4G ke wilayah produktif pertanian dan pengembangan sistem pembayaran digital terintegrasi. Kedua, implementasi program literasi digital bertingkat . tage-based interventio. yang disesuaikan dengan tahap adopsi masyarakat, mulai dari pelatihan dasar operasional perangkat hingga pendampingan teknis untuk aplikasi produktif seperti e-commerce dan IoT pertanian. Ketiga, pembentukan digital hub berbasis kolaborasi pemerintah-swasta-masyarakat untuk menyediakan akses pendanaan, logistik terjangkau, dan asistensi berkelanjutan bagi UMKM. Untuk penelitian lanjutan, diperlukan pendekatan longitudinal guna mengukur dinamika adopsi teknologi lintas musim tanam serta eksplorasi mendalam tentang peran social fabric dalam mempercepat difusi inovasi, khususnya pada kelompok marjinal seperti petani gurem dan perempuan pedesaan yang belum terwakili secara optimal dalam studi ini. DAFTAR PUSTAKA