Vol 6 No 1 . P-ISSN 2807-9205 | E-ISSN 2808-0041 DOI: 10. 54180/joeces. Analisis Dampak Penggunaan Smart TV terhadap Perilaku Imitasi pada Anak Usia Dini Aprilia Doni Setiani1. Arfina Hikmawati2. Arifah Nabila Nur Mutiah3 . Salma Kusuma Ningrum4. AnnafiAo Nurul AoIlmi Azizah5 prldni123@gmail. com1, vv1591419@gmail. com2, ifaarifa32@gmail. com3, salmaningrum03@gmail. azizah9@gmail. Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta1234. Institut Islam MambaAoul AoUlum Surakarta5 ABSTRAK Kemajuan teknologi digital memberikan pengaruh besar terhadap proses pembelajaran anak usia dini, salah satunya melalui penggunaan Smart TV sebagai media pembelajaran audiovisual interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan Smart TV dalam pembelajaran, mengidentifikasi bentuk perilaku imitasi yang muncul, serta mengetahui dampak penggunaan Smart TV terhadap perilaku imitasi anak usia dini di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield researc. Subjek penelitian berjumlah 29 anak usia dini, sedangkan informan penelitian terdiri atas 1 kepala sekolah dan 2 guru yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Smart TV telah digunakan sebagai media pembelajaran selama kurang lebih empat tahun untuk mendukung pembelajaran berbasis digital. Penggunaan Smart TV membantu guru menyampaikan materi secara lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami melalui video, gambar, animasi, dan suara. Anak terlihat lebih aktif, fokus, antusias, serta lebih cepat memahami materi pembelajaran. Selain itu, ditemukan perilaku imitasi positif pada anak, seperti menirukan ucapan, gerakan, lagu, dan informasi dari tayangan pembelajaran. Perilaku tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan bahasa, daya ingat, dan pemahaman konsep pembelajaran anak usia dini. Penggunaan Smart TV juga dilakukan dalam pengawasan guru melalui pemilihan konten edukatif dan pembatasan durasi penggunaan sehingga belum ditemukan dampak negatif yang signifikan terhadap perilaku anak. Kata Kunci: Smart TV. Perilaku Imitasi. Anak Usia Dini. Media Pembelajaran. Teknologi Digital. ABSTRACT The advancement of digital technology has significantly influenced early childhood learning processes, including the use of Smart TV as an interactive audiovisual learning medium. This study aimed to analyze the use of Smart TV in learning activities, identify forms of imitation behavior that emerged, and examine the impact of Smart TV use on imitation behavior in early childhood children at Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang. This study employed a qualitative approach with a field research design. The research subjects consisted of 29 early childhood children, while the informants included one principal and two teachers selected through purposive sampling. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings revealed that Smart TV had been used as a learning medium for approximately four years to support digital-based learning. The use of Smart TV helped teachers deliver learning materials in a more engaging, interactive, and understandable manner through videos, images, animations, and audio. Children appeared more active, focused, enthusiastic, and quicker in understanding learning materials. In addition, positive imitation behaviors were identified, such as imitating words, movements, songs, and information from learning videos. These behaviors positively affected childrenAos language development, memory, and understanding of learning concepts. Smart TV use was also supervised by teachers through educational content selection and limited usage duration, so no significant negative impacts on childrenAos behavior were found. Keywords: Smart TV. Imitative Behavior. Early Childhood. Learning Media. Digital Technology 1 Ae JOECES PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital pada era modern telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan anak usia dini. Teknologi tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mampu mendukung proses belajar anak secara lebih menarik dan interaktif. Penggunaan media digital dalam pembelajaran anak usia dini dinilai mampu meningkatkan perhatian, motivasi, dan keterlibatan anak selama proses belajar berlangsung (Najibah et al. , 2. Selain itu, perkembangan teknologi digital juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak usia dini apabila digunakan secara tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak (Rahayu, 2. Salah satu bentuk teknologi digital yang saat ini mulai banyak digunakan dalam pembelajaran anak usia dini adalah Smart TV. Smart TV merupakan media audiovisual interaktif yang mampu menampilkan gambar, suara, video, dan animasi secara menarik sehingga dapat membantu anak memahami materi pembelajaran dengan lebih mudah. Penggunaan media audiovisual pada anak usia dini terbukti dapat membantu meningkatkan pemahaman konsep pembelajaran karena anak usia dini cenderung lebih mudah belajar melalui media konkret dan visual (Darihastining et al. , 2. Hal tersebut sejalan dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget yang menjelaskan bahwa anak usia dini berada pada tahap praoperasional, yaitu tahap ketika anak lebih mudah memahami sesuatu melalui objek nyata, gambar, dan media visual dibandingkan penjelasan abstrak (Fatimah, n. Penggunaan Smart TV dalam pembelajaran juga dinilai mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan interaktif. Media berbasis video diketahui dapat meningkatkan motivasi belajar anak karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menarik melalui kombinasi gambar bergerak dan suara (Hudain et al. , 2. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran Smart TV berpengaruh terhadap meningkatnya minat belajar siswa karena pembelajaran menjadi lebih variatif dan tidak monoton (Ilmiyah & Muslih. Selain itu, pemanfaatan TV sekolah sebagai media edukasi juga dapat membantu guru menyampaikan materi pembelajaran secara lebih efektif kepada anak usia dini (Rosmawati & Watini, 2. Di sisi lain, penggunaan media digital pada anak usia dini tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku anak, terutama perilaku imitasi. Anak usia dini memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang mereka lihat, dengar, dan amati dari lingkungan Perilaku imitasi merupakan bagian dari proses belajar sosial anak yang terjadi melalui pengamatan terhadap lingkungan maupun media yang digunakan sehari-hari. Menurut teori belajar sosial Albert Bandura, anak belajar melalui proses observasi dan peniruan terhadap model yang dianggap menarik bagi dirinya. Tayangan televisi dan media digital menjadi salah satu sumber yang dapat memengaruhi perilaku imitasi anak (Hanifah et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tayangan televisi dan media digital memiliki pengaruh terhadap perkembangan perilaku sosial dan bahasa anak usia dini. Tayangan televisi dapat memengaruhi perilaku sosial anak karena anak cenderung meniru perilaku yang ditampilkan dalam tayangan yang mereka lihat (Dwivani, 2. Penelitian menurut (Wahyono et al. , 2. juga menjelaskan bahwa tayangan televisi dapat memengaruhi pemerolehan bahasa pada anak usia dini karena anak meniru ucapan dan bahasa yang didengar dari media televisi. Selain itu, tontonan anak di televisi memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan nilai dan perilaku anak karena media televisi menjadi salah satu sumber belajar yang mudah diakses oleh anak (Hamzah et al. 2 Ae JOECES Pengaruh media digital terhadap perilaku imitasi anak juga dapat ditemukan pada penggunaan media sosial dan platform video digital. Penelitian menurut (Recha et al. , 2. menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media digital dapat memengaruhi perilaku imitasi pada peserta didik. Sementara itu, penelitian (Lasaip et al. , 2. menjelaskan bahwa tayangan video digital dapat memengaruhi perkembangan nilai moral anak tergantung pada isi konten yang Oleh karena itu, pemilihan konten edukatif dan pengawasan dari orang dewasa menjadi faktor penting dalam penggunaan media digital pada anak usia dini. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pengawasan guru memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan media digital tetap memberikan dampak positif bagi perkembangan anak. Literasi digital guru diperlukan agar penggunaan teknologi dapat diarahkan secara edukatif dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini (Mauluddia & Yulindrasari, 2. Guru juga berperan dalam membatasi durasi penggunaan media digital serta memilih tayangan yang sesuai dengan usia anak agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap perilaku maupun kesehatan anak. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah membahas penggunaan media digital, televisi, maupun gadget terhadap perkembangan anak usia dini, sebagian besar penelitian masih berfokus pada dampak penggunaan media digital secara umum dan lebih banyak menyoroti dampak negatifnya terhadap perkembangan anak. Penelitian terkait penggunaan Smart TV sebagai media pembelajaran yang dikaitkan secara khusus dengan perilaku imitasi anak usia dini masih relatif terbatas. Selain itu, penelitian sebelumnya belum banyak mengkaji bagaimana penggunaan Smart TV dalam pembelajaran dapat memunculkan perilaku imitasi positif yang mendukung perkembangan bahasa, pemahaman konsep, dan keterlibatan belajar anak usia dini. Dengan demikian, terdapat research gap berupa keterbatasan kajian yang secara spesifik membahas hubungan penggunaan Smart TV sebagai media pembelajaran dengan perilaku imitasi positif anak usia dini di lingkungan PAUD. Berdasarkan hasil observasi awal di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang, penggunaan Smart TV telah diterapkan sebagai media pembelajaran untuk membantu proses belajar anak usia dini. Penggunaan Smart TV dinilai mampu membuat anak lebih fokus, aktif, dan antusias selama pembelajaran berlangsung. Anak juga terlihat meniru ucapan, gerakan, dan informasi yang ditampilkan dalam tayangan pembelajaran. Kondisi tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan Smart TV dengan munculnya perilaku imitasi pada anak usia dini. Berdasarkan gap penelitian tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana penggunaan Smart TV dalam pembelajaran dapat memengaruhi perilaku imitasi anak usia dini secara lebih Kebaruan . penelitian ini terletak pada fokus kajian yang tidak hanya membahas penggunaan Smart TV sebagai media pembelajaran digital, tetapi juga menganalisis bentuk perilaku imitasi positif yang muncul pada anak usia dini melalui penggunaan Smart TV dalam kegiatan pembelajaran di lingkungan PAUD. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pengawasan guru, pemilihan konten edukatif, serta pendampingan selama penggunaan Smart TV agar media digital dapat dimanfaatkan secara optimal dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan Smart TV pada anak usia dini, mengidentifikasi bentuk perilaku imitasi yang muncul, serta menganalisis dampak penggunaan Smart TV terhadap perilaku imitasi anak usia dini di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi digital yang edukatif dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini. 3 Ae JOECES METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield Penelitian dilaksanakan di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang untuk menganalisis dampak penggunaan Smart TV terhadap perilaku imitasi anak usia dini dalam proses Pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam fenomena penggunaan Smart TV serta perilaku imitasi yang muncul pada anak selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Informan dalam penelitian ini terdiri atas 1 kepala sekolah, 2 guru kelas, dan 29 anak usia dini yang terlibat dalam penggunaan Smart TV pada kegiatan pembelajaran. Pemilihan kepala sekolah dan guru didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka mengetahui secara langsung proses pembelajaran dan perkembangan perilaku anak di sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur kepada kepala sekolah dan guru untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan Smart TV dalam pembelajaran, bentuk perilaku imitasi anak, serta dampak yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas anak saat menggunakan Smart TV untuk mengamati perilaku imitasi, seperti meniru ucapan, gerakan, maupun informasi yang ditampilkan dalam tayangan Sementara itu, dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa foto kegiatan pembelajaran, wawancara, observasi, serta kondisi lingkungan sekolah. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi pedoman wawancara, lembar observasi, alat tulis, dan smartphone sebagai alat dokumentasi. Smartphone digunakan untuk mengambil foto kegiatan penelitian dan merekam hasil wawancara dengan informan. Adapun bahan penelitian berupa data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi terkait penggunaan Smart TV pada anak usia dini. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dianalisis secara sistematis untuk mengetahui penggunaan Smart TV serta dampaknya terhadap perilaku imitasi anak usia dini di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang. HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Smart TV sebagai Media Pembelajaran Anak Usia Dini Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang, diketahui bahwa penggunaan Smart TV telah diterapkan selama kurang lebih empat tahun sebagai media pembelajaran di kelas. Penggunaan Smart TV merupakan bagian dari upaya sekolah dalam mengikuti perkembangan teknologi pendidikan serta mendukung program pembelajaran berbasis Sebelum menggunakan Smart TV, proses pembelajaran masih memanfaatkan proyektor dan laptop sebagai media pendukung pembelajaran. Penggunaan Smart TV dalam pembelajaran dinilai mampu membantu guru menyampaikan materi secara lebih menarik dan interaktif. Media visual bergerak dan audio yang ditampilkan membuat anak lebih fokus, tertarik, serta mudah memahami materi pembelajaran. Misalnya pada pembelajaran mengenai buah jeruk, anak tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga melihat bentuk, warna, dan tekstur buah melalui tayangan visual di Smart TV. AuAnak-anak lebih senang kalau belajar menggunakan Smart TV 4 Ae JOECES karena mereka bisa melihat gambar dan video secara langsung. Anak jadi lebih fokus dan cepat memahami materi yang dijelaskan guru. Ay(Wawancara Gur. Selain itu, kepala sekolah juga menjelaskan bahwa penggunaan Smart TV bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan sekolah. Smart TV digunakan sebagai media pendukung agar pembelajaran menjadi lebih variatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. AuPenggunaan Smart TV di sekolah membantu guru menyampaikan pembelajaran lebih menarik dan membuat anak lebih antusias mengikuti kegiatan belajar. Ay (Wawancara Kepala Sekola. Dalam proses pembelajaran menggunakan Smart TV, anak terlihat lebih mudah menirukan kata, ucapan, dan informasi yang didengar dari tayangan audiovisual sehingga membantu perkembangan kemampuan bahasa anak usia dini. Nurul et al. , . juga menjelaskan bahwa penggunaan teknologi digital yang tepat dapat membantu meningkatkan karakter positif anak serta mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa media digital tidak selalu berdampak negatif apabila digunakan secara edukatif dan dalam pengawasan guru. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori pembelajaran multimedia dari Richard Mayer yang menjelaskan bahwa anak lebih mudah memahami informasi ketika materi disajikan melalui kombinasi gambar, suara, dan animasi dibandingkan hanya melalui penjelasan verbal. Pada usia dini, anak berada pada tahap praoperasional menurut teori Jean Piaget sehingga lebih mudah memahami sesuatu melalui media konkret dan visual. Oleh karena itu, penggunaan Smart TV yang menampilkan gambar bergerak dan suara membantu anak memahami konsep pembelajaran secara lebih nyata (Fatimah, 2. Tabel 1. Temuan Penggunaan Smart TV dalam Pembelajaran Aspek Pengamatan Temuan Penelitian Lama penggunaan Smart TV Digunakan selama kurang lebih 4 tahun Fungsi Smart TV Media pembelajaran berbasis digital Bentuk media Video, gambar, animasi, dan audio Respons anak Anak lebih fokus, aktif, dan antusias Dampak pembelajaran Anak lebih cepat memahami materi Membimbing dan menjelaskan materi selama tayangan Peran guru Penggunaan Smart TV juga mampu meningkatkan motivasi belajar anak. Anak terlihat lebih aktif menjawab pertanyaan guru, memperhatikan tayangan, dan mengikuti instruksi selama pembelajaran berlangsung. Media audiovisual mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak tidak mudah bosan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan Smart TV dapat membantu menciptakan pembelajaran yang interaktif dan sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini. Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa media audiovisual dapat meningkatkan perhatian, motivasi belajar, serta daya ingat anak usia dini. Penggunaan Smart TV membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga anak tidak mudah bosan selama kegiatan belajar berlangsung (Mayer & Fiorella, 5 Ae JOECES Perilaku Imitasi Anak dalam Penggunaan Smart TV Penggunaan Smart TV dalam pembelajaran juga menunjukkan munculnya perilaku imitasi pada anak usia dini. Anak terlihat meniru ucapan, gerakan, lagu, maupun instruksi yang ditampilkan melalui tayangan pembelajaran. Perilaku imitasi tersebut muncul secara spontan ketika anak melihat tayangan audiovisual yang menarik perhatian mereka. AuAnak-anak sering menirukan lagu, gerakan, dan kata-kata dari video pembelajaran. Kadang setelah video selesai mereka masih mengulang ucapan yang ada di tayangan. Ay(Wawancara Gur. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Smart TV tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga menjadi sarana belajar sosial bagi anak usia dini. Anak memperoleh pengalaman belajar melalui proses melihat, mendengar, dan meniru tayangan yang ditampilkan. Penelitian ini didukung oleh penelitian (Astarini et al. , n. ) yang menyatakan bahwa tayangan televisi memiliki pengaruh terhadap perkembangan perilaku sosial anak. Anak usia dini cenderung meniru perilaku, ucapan, maupun gerakan yang dilihat dari tayangan audiovisual. Dalam teori belajar sosial Albert Bandura dijelaskan bahwa anak belajar melalui proses observasi dan peniruan terhadap model yang dianggap menarik bagi dirinya. Model tersebut dapat berasal dari orang tua, guru, teman sebaya, maupun media digital seperti televisi dan Smart TV. Berdasarkan hasil penelitian di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang, penggunaan Smart TV dalam pembelajaran menunjukkan adanya perilaku imitasi positif pada anak. sejalan dengan penelitian (Syahralivia et al. , 2. yang menjelaskan bahwa penggunaan media digital dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan berbahasa Indonesia pada anak. Anak terlihat meniru gerakan, ucapan, dan informasi yang ditampilkan dalam tayangan pembelajaran. Anak juga menunjukkan antusiasme ketika meminta guru memutar video pembelajaran tertentu. Tabel 2. Bentuk Perilaku Imitasi Anak Bentuk Perilaku Imitasi Contoh yang Ditemukan Meniru ucapan Anak mengulang kata dan kalimat dari video Meniru gerakan Anak mengikuti gerakan lagu dan instruksi Meniru informasi Anak menyebut nama, warna, dan bentuk objek Meniru lagu Anak menyanyikan kembali lagu pembelajaran Meniru ekspresi Anak mengikuti ekspresi dan respons dalam video Penelitian menurut (Wahyono et al. , 2. juga menjelaskan bahwa tayangan televisi dapat memengaruhi pemerolehan bahasa pada anak usia dini karena anak meniru ucapan dan bahasa yang didengar dari media televisi. Selain itu, tontonan anak di televisi memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan nilai dan perilaku anak karena media televisi menjadi salah satu sumber belajar yang mudah diakses oleh anak (Hamzah et al. , 2. Azizah et al. , . menjelaskan bahwa lingkungan belajar yang positif dan pembiasaan yang dilakukan guru mampu membentuk perkembangan moral dan perilaku anak usia dini. Anak cenderung meniru perilaku yang dilihat secara berulang dalam lingkungan belajar. Hal tersebut memperkuat hasil penelitian ini bahwa tayangan edukatif melalui Smart TV dapat menjadi media stimulasi perilaku imitasi positif apabila digunakan secara terarah dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Penggunaan Smart TV di sekolah juga dikombinasikan dengan penggunaan benda nyata agar anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret. Misalnya pada pembelajaran tentang buah jeruk, guru menghadirkan buah asli sehingga anak dapat melihat, memegang, dan merasakan secara langsung. Kegiatan tersebut membantu anak memahami materi melalui pengalaman nyata 6 Ae JOECES sehingga perilaku imitasi yang muncul lebih mengarah pada pengalaman belajar positif. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian (Yunita, 2. yang menyatakan bahwa menonton televisi dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, baik dari aspek perilaku, bahasa, maupun interaksi sosial anak. Pengawasan Guru dalam Penggunaan Smart TV Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan guru menjadi faktor penting dalam penggunaan Smart TV pada anak usia dini. Sekolah menerapkan beberapa bentuk pengawasan, seperti menempatkan Smart TV pada posisi yang tinggi agar tidak mudah dijangkau anak, menyimpan remote di tempat aman, serta mendampingi anak selama penggunaan media AuSmart TV hanya digunakan saat pembelajaran dan selalu dalam pengawasan guru. Anak-anak tidak diperbolehkan mengoperasikan sendiri agar penggunaan tetap aman dan Ay(Wawancara Kepala Sekola. Guru juga memilih tayangan yang bersifat edukatif dan sesuai dengan usia anak. Selain itu, penggunaan Smart TV dilakukan secara terbatas agar tidak mengganggu kesehatan maupun aktivitas bermain anak. Tabel 3. Bentuk Pengawasan Guru terhadap Penggunaan Smart TV Bentuk Pengawasan Tujuan Smart TV ditempatkan di posisi tinggi Menghindari anak mengoperasikan sendiri Remote disimpan guru Penggunaan tetap terkontrol Pemilihan konten edukatif Menghindari tayangan negatif Pembatasan durasi penggunaan Menjaga kesehatan dan fokus anak Pendampingan selama pembelajaran Membantu anak memahami materi Temuan penelitian ini didukung oleh penelitian (Firdaus et al. , 2. yang menjelaskan bahwa penggunaan gadget dan konsumsi siaran televisi dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental dan perilaku anak di era digital. Namun, dalam penelitian ini penggunaan Smart TV dilakukan secara terbatas, terarah, dan dalam pengawasan guru sehingga belum ditemukan dampak negatif yang signifikan terhadap perilaku anak. Dalam teori kontrol sosial pendidikan dijelaskan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh lingkungan dan pengawasan dari orang dewasa. Anak usia dini belum mampu memilah informasi secara mandiri sehingga membutuhkan pendampingan dalam penggunaan media digital. Guru berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan anak agar penggunaan Smart TV tetap memberikan dampak positif bagi perkembangan anak. Hal ini sejalan dengan penelitian (Mauluddia & Yulindrasari, 2. yang menjelaskan bahwa literasi digital guru sangat diperlukan dalam penggunaan teknologi pada pendidikan anak usia dini. Selain melakukan pengawasan terhadap isi tayangan, guru juga tetap melakukan interaksi langsung selama pembelajaran menggunakan Smart TV. Guru memberikan penjelasan, mengajukan pertanyaan, dan mengajak anak berdiskusi mengenai tayangan yang ditampilkan. Hal tersebut penting untuk mendukung perkembangan bahasa dan kemampuan sosial anak usia dini karena anak tetap membutuhkan komunikasi langsung dengan lingkungan sekitar. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Smart TV di Bustanul Athfal Aisyiyah Mayang dapat menjadi media pembelajaran yang efektif dalam mendukung proses belajar anak 7 Ae JOECES usia dini. Penggunaan Smart TV mampu membantu guru menyampaikan materi secara lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami melalui tayangan audiovisual berupa gambar, video, animasi, dan suara. Anak terlihat lebih fokus, aktif, antusias, serta lebih cepat memahami materi pembelajaran yang diberikan. Selain itu, penggunaan Smart TV juga mampu meningkatkan motivasi belajar anak karena pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak monoton. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan bahasa, daya ingat, dan kemampuan memahami konsep pembelajaran anak usia dini. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan Smart TV memunculkan perilaku imitasi positif pada anak usia dini, seperti meniru ucapan, gerakan, lagu, dan informasi yang ditampilkan dalam tayangan pembelajaran. Perilaku imitasi tersebut muncul melalui proses observasi dan peniruan terhadap media audiovisual yang digunakan selama pembelajaran Namun, dampak positif tersebut sangat dipengaruhi oleh pengawasan guru dalam memilih konten edukatif, membatasi durasi penggunaan, serta mendampingi anak selama proses Dengan demikian. Smart TV dapat menjadi media pembelajaran yang mendukung perkembangan perilaku positif anak usia dini apabila digunakan secara terarah, terbatas, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. DAFTAR PUSTAKA