Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 ARTIKEL RISET Gambaran Faktor Risiko Stunting pada Balita di UPTD Puskesmas Kintamani VI 2025 Ni Wayan Selpiani. Ni Komang Erny Astiti. Ni Luh Putu Sri Erawati. 1,2,3 Jurusan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Denpasar. Indonesia Corespondensi: Viselvi69@gmail. ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada periode 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Gangguan ini dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang pada kesehatan, menurunkan daya tahan tubuh, serta meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian stunting pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kintamani VI tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 54 ibu yang memiliki balita stunting, yang dipilih berdasarkan data kohort balita dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jenis data yang digunakan meliputi data primer melalui wawancara terstruktur mengenai pemberian MP-ASI menggunakan instrumen yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, serta data sekunder dari catatan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki berat badan lahir normal . ,6%), riwayat pemberian ASI eksklusif . ,2%), serta pemberian MP-ASI yang tepat . ,8%). Selain itu, sebagian besar ibu tidak mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) saat hamil . ,2%). Berdasarkan hasil ini, diharapkan pihak puskesmas dan tenaga kesehatan khususnya bidan dapat lebih cermat dalam melakukan skrining faktor risiko stunting dan meningkatkan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi optimal selama masa kehamilan dan awal kehidupan anak. Kata kunci: faktor risiko, stunting, balita Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ABSTRACT ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 Stunting is a growth and development disorder in children caused by chronic malnutrition that occurs over a long period, especially during the first 1,000 days of life. This condition can lead to long-term health complications, lower immune function, and increased morbidity and mortality rates. The purpose of this study was to determine the description of risk factors for stunting in toddlers in the working area of UPTD Puskesmas Kintamani VI in This research used a quantitative descriptive method with a cross-sectional approach. The sample consisted of 54 mothers who had toddlers diagnosed with stunting, selected based on data from child cohort records and the Maternal and Child Health (MCH) book. Primary data were obtained through interviews using a structured instrument that had been tested for validity and reliability, particularly focusing on complementary feeding Secondary data were collected from existing health records. The results showed that most toddlers had normal birth weight . individuals or 79. 6%). The majority of mothers gave exclusive breastfeeding . individuals or 72. 2%), and appropriate complementary feeding practices were found in 35 individuals . 8%). addition, most mothers did not experience Chronic Energy Deficiency (CED) during pregnancy . individuals or 2%). Health centers and midwives are expected to be more thorough in screening stunting risk factors and strengthening education about the importance of the first 1,000 days of life. Keywords: risk factors, stunting, toddler Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. x No. x (Mx. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 PENDAHULUAN Stunting apabila tidak ditangani secara sungguh-sungguh, maka bukan tidak mungkin sewaktu-waktu kegagalan tumbuh kembang pada anak dibawah usia lima tahun yang disebabkan oleh kekurangan meningkat kembali (Dinas Kesehatan Kabupaten gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya Bangli, 2. Wilayah Kerja UPTD Puskesmas stimulasi psikososial yang memadai. Stunting Kintamani VI memiliki wilayah kerja yaitu Desa juga didefinisikan sebagai panjang atau tinggi Abuan. Desa Banua. Desa Bayung Gede. Desa badan anak yang berada di bawah -2 standar Belancan. Desa Bonyoh. Desa Katung. Desa deviasi dari median Standar Pertumbuhan Anak Mangguh. Desa Sekaan. Desa Sekardadi. menurut World Health Organization (WHO) Provinsi Bali Berdasarkan studi pendahuluan pada data untuk usia dan jenis kelamin yang sama. Kondisi ini merupakan akibat dari interaksi kompleks Kintamani VI pada bulan Agustus 2024, terdapat antara berbagai faktor biologis, lingkungan, sosial 54 . ,5 %) dari 824 balita terdaftar memiliki status ekonomi, dan perilaku (Astuti, dkk. stunting dengan penjabaran balita stunting yaitu Angka prevalensi UPTD 1,6% balita berumur 48 bulan, 1,8% balita Organization berumur 36 bulan, 1,3% berumur 24 bulan, dan global menurut World Health 0,4% balita berumur 12 bulan. Hal tersebut Kesehatan menjadi perhatian bahwa Kabupaten Kintamani Republik Indonesia, angka stunting di Indonesia masih memiliki faktor risiko terjadinya kejadian tahun 2023 sebesar 21,5%. Provinsi Bali memiliki Berdasarkan wawancara mitra yaitu angka prevalensi stunting berdasarkan data SSGI petugas kesehatan yang mengikuti posyandu tahun 2023 yaitu sekitar 7,2% dari sebelumnya balita UPTD Kintamani 8,0 % hal tersebut turun 0,8% dari tahun 2022 stunting di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas (Kemenkes RI, 2. Kabupaten Bangli memiliki Kintamani VI disebabkan oleh banyak faktor, prevalensi stunting pada tahun 2023 yaitu 4,8% seperti pemahaman masyarakat yaitu ibu balita 068 balita 0-59 bulan yang diukur tinggi yang masih awam dengan dengan kesehatan anak, badannya, dimana terjadi peningkatan dari tahun terutama balita, sehingga konsumsi makanan 2022 yaitu 4,5% (Dinas Kesehatan Kabupaten balita tidak sesuai dengan kecukupan gizi, selain Bangli, 2. itu kesadaran ibu balita untuk membawa anaknya (WHO) pada Berdasarkan Kementerian VI, permasalahan Kabupaten Bangli tersebar di 13 desa, ke posyandu masih kurang. Faktor penyebab salah satunya adalah di Wilayah Kerja UPTD kejadian stunting adalah multifaktor dan saling Puskesmas Kintamani VI. Keberhasilan Provinsi berhubungan satu sama lain. Ditinjau dari faktor Bali dalam penurunan prevalensi stunting terus penyebab langsung kejadian stunting dapat dipicu terjadi, namun masih terdapat potensi laten yang oleh faktor keluarga dan rumah tangga seperti Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. x No. x (Mx. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 nutrisi yang buruk selama masa prakonsepsi, ataupun tidak terdeteksi (Rahayu, dkk. , 2. kehamilan, dan laktasi, faktor anak seperti riwayat Pencegahan stunting yang dilakukan di posyandu BBLR dan jenis kelamin anak (Rahayu, dkk. Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kintamani VI, masih sebatas pengukuran tumbuh kembang dan Faktor yang secara langsung berpengaruh pemberian makanan tambahan konvensional yaitu riwayat kekurangan energi kronis (KEK) berupa kacang hijau. Upaya tersebut dinilai tidak pada ibu saat hamil. KEK disebabkan pola makan optimal karena belum 100% dapat mencegah yang kurang beragam serta porsi makan yang stunting di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Ibu yang berstatus KEK yaitu LiLA < 23. Kintamani VI. 5 cm berisiko mengalami kelahiran berat badan Berdasarkan uraian tersebut, mengingat Kelahiran berat badan yang kurang masih tingginya angka stunting di Wilayah Kerja (BBLR). Kelahiran berat badan yang kurang UPTD Puskesmas Kintamani VI dengan berbagai rentan terserang penyakit infeksi yang akan faktor yang kemungkinan menjadi penyebab kejadian stunting, maka penulis tertarik untuk berisiko terjadinya stunting pada balita (Adhani meneliti gambaran faktor risiko stunting pada , 2. Stunting juga disebabkan oleh balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas permasalahan gizi yang tidak berimbang. Hal ini Kintamani VI. disebabkan karena nutrisi yang diperoleh sejak METODE bayi lahir tentunya sangat berpengaruh terhadap deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross- Tidak terlaksananya inisiasi menyusu Penelitian dilakukan pada bulan AprilAe dini (IMD), gagalnya pemberian air susu ibu Mei 2025 dengan lokasi pelaksanaan di kegiatan (ASI) eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat posyandu pada sembilan desa dalam wilayah kerja menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. puskesmas tersebut. Populasi dalam penelitian ini Sedangkan adalah seluruh ibu yang memiliki balita stunting, pendamping ASI (MP-ASI) hal yang perlu dengan jumlah sampel sebanyak 54 orang yang diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan dipilih melalui teknik total sampling berdasarkan keamanan pangan yang diberikan (Wahyuni dkk. dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Penelitian Data Faktor lainnya, disebutkan pula kader Data yang diperoleh selanjutnya diolah posyandu masih awam atau kurang mendapatkan melalui tahapan editing, coding, entry, cleaning, pelatihan untuk mendeteksi dan melakukan dan tabulating menggunakan program SPSS. tumbuh kembang balita, sehingga Analisis data yang dilakukan bersifat deskriptif seringkali stunting pada balita menjadi terlambat univariat dengan penyajian dalam bentuk distribusi Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. x No. x (Mx. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 frekuensi dan persentase. Hasil analisis digunakan . ,2%) dan memiliki pendapatan di bawah untuk menggambarkan karakteristik responden dan Rp2. 672,00 . ,7%). masing-masing Tabel 2. Faktor Risiko BBL pada Kejadian pemberian ASI eksklusif. MPASI, status gizi ibu Stunting Balita di Wilayah Kerja UPTD saat hamil, dan berat badan lahir anak. Puskesmas Kintamani VI Karakteristik Frekuensi Persentase (%) HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Balita Karakteristik Usia Kategori 20Ae35 Frekuen Persenta si . se (%) > 35 tahun Pendidikan Pendidikan BBLR Berdasarkan Tabel 2, sebagian besar balita stunting memiliki riwayat berat badan lahir normal . ,6%), sedangkan balita dengan BBLR sebesar selalu terjadi pada anak dengan berat lahir rendah. pada Kejadian Stunting Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kintamani VI Pekerjaan Tabel 3. Faktor Risiko Riwayat ASI Eksklusif Pendidikan 20,4%. Hal ini menunjukkan bahwa stunting tidak Pendidikan Normal Bekerja Tidak Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Tidak Berdasarkan faktor risiko pemberian ASI Pendapatan Rp2. Tabel 4. Faktor Risiko Riwayat MPASI pada Rp2. 2,00 Berdasarkan Tabel 1, mayoritas responden berusia 20Ae35 tahun . ,7%) dan berpendidikan menengah . ,0%). Sebagian besar ibu bekerja responden memberikan ASI Eksklusif sebanyak 39 orang . ,2%). 2,00 Eksklusif pada tabel 3 bahwa sebagian besar Kejadian Stunting Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kintamani VI Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Tepat Tidak Tepat Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. x No. x (Mx. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 Berdasarkan mengejar pertumbuhan anak melalui pemberian pemberian MPASI didapatkan sebagian besar makanan sehat sangat berperan dalam status gizi termasuk kategori tepat dalam memberikan MPASI sebanyak 35 . ,8%). Kesadaran ibu dalam memenuhi kebutuhan Tabel 5. Faktor Risiko Status LiLA Ibu Saat Hamil pada Kejadian Stunting Balita di Wilayah gizinya selama hamil sangat berperan dalam penentuan status gizi anak kedepannya, selain itu usaha orang tua dalam mengejar ketertinggalan Kerja UPTD Puskesmas Kintamani VI pertumbuhan atau catch up growth anak dengan Karakteristik Frekuensi Persentase (%) juga sangat berperan dalam memperbaiki status gizi KEK Tidak KEK anak seperti pola asuh dan praktik pemberian Kondisi geografis wilayah kerja UPTD Puskesmas Kintamani VI yang memiliki potensi Berdasarkan data hasil penelitian yang disajikan dalam tabel 5 dapat diketahui bahwa dari 54 responden ditinjau faktor risiko status LiLA saat ibu hamil didapatkan sebagian besar tidak KEK hasil pertanian dan perkebunan yang cukup tinggi mendapatkan akses sumber pangan untuk makanan sehari-hari. Pemberian ASI Eksklusif sebanyak 46 orang . ,2%). Pemberian ASI eksklusif selama enam PEMBAHASAN bulan pertama kehidupan anak sangat penting untuk Berat Badan Lahir Balita pertumbuhan optimal dan kekebalan tubuh. Pada Berat badan lahir rendah (BBLR) sering penelitian ini, mayoritas balita stunting justru mendapat ASI eksklusif . ,2%). Meskipun menunjukkan gangguan pertumbuhan sejak masa demikian, masih ditemukan 27,8% yang tidak Namun, pada penelitian ini ditemukan diberikan ASI eksklusif, yang kemungkinan bahwa sebagian besar balita stunting memiliki berat menjadi faktor risiko penting terjadinya stunting. badan lahir normal . ,6%). Temuan ini sejalan Beberapa alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif termasuk ketidaktahuan, puting luka, atau menunjukkan bahwa anak stunting di beberapa keyakinan bayi belum kenyang. Temuan ini sejalan daerah tetap lahir dengan berat badan dan panjang dengan studi Putri . yang menyebutkan badan yang normal. Hal ini menegaskan bahwa bahwa balita yang tidak mendapat ASI eksklusif stunting tidak hanya bergantung pada status saat berisiko lebih tinggi mengalami stunting. Wahyuni . lahir, tetapi juga pada faktor lain seperti pola asuh Hasil wawancara yang dilakukan dengan dan pemberian makan anak. Kesadaran ibu responden terkait masih ada responden yang tidak terhadap gizi selama kehamilan dan upaya pemberian ASI eksklusif dikarenakan masih ada Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. x No. x (Mx. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 anggapan masyarakat yang mencoba memberikan sangat dibutuhkan. Hal ini diperkuat dengan hasil makan/minuman penelitian Sania . yang menyatakan bahwa menangis/rewel meskipun masih berusia 0-6 bulan ibu dengan pemahaman rendah tentang MPASI dengan berharap bayi akan merasa kenyang dan memiliki kemungkinan 6,6 kali lebih besar akan tenang setelahnya. Alasan lain sebagian memiliki anak stunting. ASI responden tidak memberikan ASI ekslusif pada Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anaknya adalah karena ASI belum keluar, puting sebagian besar balita stunting yaitu sebesar 72,2% payudara terluka dan merasa bayinya belum . mendapatkan ASI eksklusif dan yang kenyang apabila hanya diberikan ASI. Anak yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif sebesar 27,8% belum mencapai usia enam bulan sudah diberikan . Hasil penelitian ini menunjukkan masih makanan melalui cara lain selain ASI, hal ini dapat terdapat balita yang tidak mendapatkan ASI menyebabkan stunting dan akibatnya, tubuh Eksklusif. Kesadaran masyarakat khususnya ibu mereka kurang mampu memproses makanan dalam hal ini sangat berperan dalam kesusksesan dengan baik. pemberian ASI Eksklusif untuk anak. Tanpa Kurangnya pengetahuan ibu sehingga lebih adanya kesadaran akan pentingnya manfaat ASI memilih menggunakan susu formula atau makanan eksklusif untuk anak oleh ibu maka hal tersebut juga akan berpengaruh pada status gizi anak menyusui saat masa kehamilan dan nifas serta kurangnya pemahaman masyarakat akan manfaat ASI Promosi Dengan adanya informasi yang banyak oleh seorang ibu lebih memungkinkan bagi ibu pentingnya ASI eksklusif di wilayah kerja UPTD untuk mempunyai perilaku yang baik tentang Puskesmas Kintamani MPASI Hal dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. perilaku/sikap Pemberian MPASI pemberian MPASI juga dipengaruhi oleh informasi Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang yang diterima ibu yang aktif berkunjung ke tidak tepat dapat menyebabkan kekurangan zat gizi Solusi dari kondisi tersebut maka mikro dan makro yang penting untuk pertumbuhan. sebaiknya perlu dukungan dari petugas kesehatan Dalam penelitian ini, 64,8% ibu memberikan atau kader posyandu serta keluarga juga sangat MPASI dengan tepat, sedangkan 35,2% masih penting dalam menyikapi pemberian MPASI. tidak tepat. Rendahnya praktik pemberian MPASI Status Gizi Ibu Saat Hamil (LiLA) yang sesuai standar dapat disebabkan oleh LiLA Lingkar Lengan Atas kurangnya pengetahuan, kendala ekonomi, atau mencerminkan status gizi ibu saat hamil. Hasil budaya lokal. Edukasi tentang frekuensi, porsi, penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu variasi, dan kebersihan dalam pemberian MPASI . ,2%) tidak mengalami KEK, namun tetap Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. x No. x (Mx. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 melahirkan anak yang mengalami stunting. Ini Pemberian ASI eksklusif yang tepat terbukti menunjukkan bahwa KEK bukan satu-satunya menjadi faktor pelindung terhadap stunting. Dalam faktor penyebab, tetapi tetap menjadi indikator penelitian ini, mayoritas responden memberikan penting untuk dipantau. Intervensi puskesmas ASI eksklusif kepada bayinya, yang berarti berupa pengukuran LiLA, konseling gizi, dan kesadaran akan pentingnya ASI telah cukup baik di pemberian PMT merupakan langkah pencegahan yang sudah baik, namun perlu dioptimalkan. Disarankan UPTD Puskesmas Menurut Riskesdas . , status gizi ibu yang Kintamani VI meningkatkan edukasi kepada ibu tidak adekuat dapat menyebabkan BBLR yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting pada eksklusif. MPASI yang tepat, serta pemantauan status gizi ibu selama kehamilan. Peran aktif kader Upaya ASI posyandu juga perlu diperkuat melalui pelatihan mencegah terjadinya bayi berat lahir rendah rutin agar mampu melakukan deteksi dini stunting (BBLR) dimulai dari melakukan pemeriksaan dan memberikan pendampingan gizi yang lebih kehamilan yang rutin dan langsung berkonsultasi jika ada kelainan. Hal tersebut dilakukan dengan, strategi intervensi yang diterapkannya melalui DAFTAR PUSTAKA