Jurnal Elektrika Vol. 18 No. 1 April 2026 P-ISSN 2085-0565 | E-ISSN 2580-8486 MODIFIKASI COAL FEEDER DAN COAL THROWER UNIT #1 DI PLTU HOLTEKAMP 2 X 10 MW Ahmad Solichin. , dan Gunawan. Program Studi Teknik Elektro. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Islam Sultan Agung Jl. Kaligawe Raya No 4. Terboyo Kulon. Kec. Genuk. Kota Semarang. Jawa Tengah 50112 e-mail: ahmadsolichin18@gmail. , gunawan@unissula. 1, . ABSTRACT The combustion system in a coal-fired boiler is greatly influenced by the performance of the coal supply and distribution equipment, especially the coal feeder and coal thrower. Problems that often occur include uneven . coal distribution, increased fuel consumption and low combustion efficiency. This study aims to modify the coal feeder and coal thrower system to equalize fuel distribution, fuel efficiency and improve the stability of coal supply in the boiler combustion chamber at the Holtekamp 2 x 10 MW PLTU. The method here uses qualitative and quantitative methods to obtain appropriate data before and after the modification of the coal feeder - coal thrower overhaul unit #1. Modifications are made by adding coal feeders to each coal thrower so that each line can be controlled to optimize the distribution and evenness of coal and can be calculated to obtain SFC and auxiliary power values. The implementation results show an increase in coal flow stability, more even combustion, reduced coal combustion residue and increased boiler thermal efficiency. The lowest SFC value occurred in September at 1,440 kg/kWh, with an average load of 7. 45 MW. Meanwhile, the auxiliary power value reached 8,807 kW (Coal Feede. and 7,741 kW (Coal Throwe. in November, reaching 7,574 MW during the performance test. Keywords: Coal Feeder. Coal Thrower. Distribution. Efficiency. Modification ABSTRAK Sistem pembakaran pada boiler berbahan bakar batu bara sangat dipengaruhi oleh kinerja peralatan penyuplai dan penyebar batu bara, khususnya coal feeder dan coal thrower. Permasalahan yang sering terjadi meliputi distribusi batu bara yang tidak merata . idak stabi. , peningkatan konsumsi bahan bakar dan efisiensi pembakaran yang rendah. Hal ini bertujuan untuk melakukan modifikasi pada sistem coal feeder dan coal thrower untuk pemerataan distribusi bahan bakar, efisiensi pemakaian bahan bakar dan meningkatkan kestabilan suplai batu bara di dalam ruang bakar boiler di PLTU Holtekamp 2 x 10 MW. Metode disini menggunakan cara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan data yang sesuai before Ae after modifikasi coal feeder - coal thrower overhaul unit #1. Modifikasi dilakukan dengan cara menambahkan coal feeder pada masing - masing coal thrower agar nantinya dapat dikontrol setiap line nya untuk mengoptimalkan penyebaran dan pemerataan batu bara serta dapat dilakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai SFC dan auxiliary power. Hasil implementasi menunjukkan adanya peningkatan kestabilan aliran batubara, pembakaran yang lebih merata, penurunan sisa pembakaran batu bara dan peningkatan efisiensi termal boiler. Untuk nilai SFC terendah terjadi pada bulan september sebesar 1,440 Kg/kWh dan rata Ae rata beban sebesar 7,45 MW. Disisi lain, nilai Auxiliary Power terjadi pada bulan november sebesar 8,807 kW (Coal Feede. dan 7,741 kW (Coal Throwe. dan saat performance test sebesar 7,574 MW. Kata Kunci: Coal Feeder. Coal Thrower. Distribusi. Efisiensi. Modifikasi PENDAHULUAN EANDALAN . suatu PLTU menjadi faktor krusial dalam menjamin kontinuitas pasokan listrik ke jaringan sistem tenaga Semakin tinggi tingkat keandalan pembangkit, semakin kecil kemungkinan terjadinya gangguan . orced outag. yang dapat berdampak pada kestabilan sistem dan biaya operasional. Analisis tingkat keandalan menjadi penting untuk menilai seberapa besar kemampuan unit pembangkit beroperasi secara berkelanjutan dalam periode tertentu. Hasil analisis ini digunakan sebagai dasar dalam perencanaan pemeliharaan, pengambilan keputusan operasi, dan peningkatan efisiensi sistem. Tingkat keandalan PLTU menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa unit pembangkit dapat beroperasi secara optimal, efisien dan andal dalam mendukung target ketenagalistrikan nasional serta menjaga stabilitas sistem kelistrikan di wilayah kerjanya. Pada PLTU Holtekamp 2 y 10 MW yang menjadi pembangkit base load di wilayah Papua, tantangan utama keandalan terletak pada sistem penanganan batubara dan peralatan bantu seperti coal feeder serta coal Ketidaksempurnaan sistem suplai batubara sering menyebabkan ketidakstabilan laju aliran bahan bakar ke boiler, yang berakibat pada fluktuasi tekanan uap dan efisiensi pembakaran. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi konsumsi bahan bakar spesifik . pecific fuel consumption. SFC) serta daya keluaran bersih unit. Jurnal Elektrika Vol. 18 No. 1 2026 P-ISSN 2085-0565 | E-ISSN 2580-8486 Received 31 Mar 2026. Revised 9 Apr 2026. Accepted 18 Apr 2026 DOI 10. 26623/elektrika. Salah satu cara untuk meningkatkan keandalan sistem adalah dengan melakukan overhaul unit. Proses overhaul pada unit PLTU merupakan kegiatan strategis untuk memulihkan performa dan meningkatkan keandalan sistem pembangkit setelah periode operasi tertentu. Pada PLTU Holtekamp Unit #1 berkapasitas 10 MW, kegiatan overhaul dilakukan secara berkala guna memastikan seluruh peralatan utama & bantu berfungsi sesuai spesifikasi desain. Penelitian ini bertujuan untuk menjaga keandalan unit pembangkit dengan cara modifikasi coal feeder - coal thrower unit #1 II. KAJIAN PUSTAKA Pada seluruh PLTU terdapat generator yang merupakan alat penghasil energi listrik. Generator diputar oleh turbin yang dikopel seporos. Yang mana turbin dapat bergerak karena adanya uap panas yang dihasilkan dari proses pembakaran di dalam boiler, bahan baku utama pemanas/pembakaran boiler menggunakan batubara. Salah satu komponen yang berperan besar dalam proses pembangkit ialah Coal Feeder. Coal Feeder merupakan peralatan utama pada PLTU yang berfungsi untuk mengatur laju batubara. Semakin banyak batubara yang masuk ke coal feeder maka akan semakin besar aliran batubara, sama halnya dengan tingginya kecepatan motor akan memperbesar aliran batubara yang masuk ke furnace. Selain coal feeder, ada juga coal thrower yang melontarkan batu bara dan mempengaruhi panas dan beban terhadap kerusakan traveling grate, diketahui bahwa material dinyatakan aman untuk dibebani batubara, abu, serta menahan gaya dari thermal stress. Salah satu parameter yang digunakan pada suatu sistem pembangkit tenaga berbahan bakar bakar batubara adalah SFC atau konsumsi batubara spesifik. SFC adalah jumlah batu bara yang konsumsi oleh suatu unit PLTU untuk menghasilkan daya satu kilowatt selama satu jam . g/kW. Nilai SFC dipengaruhi dengan kualitas bahan bakar batubara dan kondisi beban yang harus dilayani PLTU. Semakin rendah nilai SFC maka semakin efisien pemakaian bahan bakarnya. Selain itu dengan diketahui nilai SFC, nilai biaya produksi listriknya dapat ditentukan. Setelah pelaksanaan overhaul, tercatat adanya peningkatan performa operasi berupa kenaikan Equivalent Availability Factor (EAF) dan penurunan Equivalent Forced Outage Rate (EFOR). Data ini menunjukkan bahwa kegiatan berperan signifikan dalam keandalan sistem secara keseluruhan. Selain peningkatan pada parameter keandalan, kegiatan modifikasi pada coal feeder dan coal thrower setelah overhaul juga memberikan dampak positif terhadap efisiensi bahan bakar. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaturan laju suplai batu bara yang lebih stabil mampu mengurangi fluktuasi pembakaran di boiler, sekaligus menekan konsumsi energi auxiliary power. Dengan memperhatikan data dan fakta, analisis tingkat keandalan PLTU terutama melalui evaluasi perubahan parameter operasi before dan after overhaul menjadi penting untuk mengidentifikasi komponen kritis yang paling berpengaruh terhadap efisiensi dan kontinuitas operasi unit pembangkit. METODE PENGUMPULAN DATA Metode yang akan digunakan nantinya untuk melakukan pengambilan data pada sistem kelistrikan pembangkit pada PLTU Holtekamp 2 x 10 MW. Diawali dengan melakukan pengumpulan data Ae data terlebih dahulu. Terdapat dua data yaitu data primer dan data skunder. Data primer yang diperoleh langsung dari lokasi pengambilan data meliputi, pada sisi penggunaan SFC diambil data konsumsi bahan bakar . atu bar. , biomassa dan produksi energi. Dari sisi motor coal feeder dan coal thrower diambil data pada nameplate yaitu frekuensi, daya, tegangan, arus, power factor dan kecepatan putar. Kemudian diikuti data skunder atau pengumpulan data yang diperlukan dari buku dan jurnal yang pernah dilakukan oleh orang lain yang berhubungan dengan modifikasi coal feeder - coal thrower. SFC dan auxiliary power. Pengambilan data dan analisanya Sebelum melakukan pengambilan data, harus mengetahui lokasi detailnya dari single line diagram PLTU Holtekamp 2 x 10 MW. Disisi lain juga harus mengetahui before Ae after overhaul unit #1 yang akan Yang dimana before modifikasi coal feedeer Ae coal thrower sering terjadi penumpukan dan overheat pada peralatam utama chaingrate, pemakaian Specific Fuel Consumption (SFC) belum efisien dan pemakaian Auxiliary Power masih cenderung tinggi. Ketika dilakukan overhaul sesuai perencanaan awal maka dapat dilihat after modifikasi coal feedeer Ae coal thrower dapat dikontrol untuk penyebaran batu bara dan tidak lagi terjadi overheat, pemakaian SFC dapat dikendalikan lebih efisien dan pemakaian Auxiliary Power cenderung menurun sesuai keinginan. TABEL I DATA BATU BARA. BIOMASSA DAN PRODUKSI ENERGI BEFORE Ae AFTER OVERHAUL UNIT #1 Klasifikasi Batu Bara Biomassa Produksi Energi Bulan Mei Agustus September Oktober November Mei Agustus September Oktober November Mei Agustus September Pemakaian 2945200 Kg 5845400 Kg 6180700 Kg 5490900 Kg 4694400 Kg 836800 Kg 647200 Kg 575100 Kg 366400 Kg 446400 Kg 2209458,330 kWh 4114554,660 kWh 4691738,810 kWh Jurnal Elektrika Vol. 18 No. 1 April 2026 Klasifikasi Bulan Oktober November P-ISSN 2085-0565 | E-ISSN 2580-8486 Pemakaian 3779265,230 kWh 3373224,100 kWh Tabel 1 menunjukkan data batu bara, biomassa dan produksi energi before Ae after overhaul unit #1 diambil data before pada bulan mei dan after pada bulan agustus, september, oktober, november. Pada bulan yang tertera diambil data akumulasi selama sebulan penuh untuk nantinya dilakukan perhitungan Specific Fuel Consumption (SFC) unit pembangkit untuk keperluan efisiensi unit pembangkit, agar bisa dilihat before Ae after overhaul unit #1 mengarah ke arah yang lebih baik atau tidaknya. Selain itu, dapat diambil juga data beban pada bulan tersebut. Berikut datanya: TABEL II DATA BEBAN BEFORE Ae AFTER OVERHAUL UNIT #1 No. Bulan Mei Agustus September Oktober November Beban Rata - Rata 4,65 MW 6,62 MW 7,45 MW 5,74 MW 6,71 MW Dari tabel 2 menunjukkan data beban yang dihasilkan unit before Ae after overhaul Unit #1 untuk mengetahui performance unit pembangkit. Setelah mendapatkan data batu bara, biomassa, produksi energi dan beban before Ae after overhaul unit #1 nantinya akan dihubungkan antara hasil perhitungan SFC (Specific Fuel Consumptio. dan data beban unit pembangkit yang telah dilakukan overhaul. Untuk kelanjutannya akan dibahas pada hasil dan analisa untuk lebih rinci secara menyeluruh. TABEL i DATA SPESIFIKASI MOTOR YANG DIGUNAKAN PADA COAL FEEDER - COAL THROWER UNIT #1 No. No. Coal Feeder Klasifikasi Nilai Frekuensi Daya Tegangan Arus Power Factor 0,78 Kecepatan Putar Coal Thrower Klasifikasi Nilai Frekuensi Daya Tegangan Arus Power Factor 0,72 Kecepatan Putar Satuan Konstanta Rpm Satuan Konstanta Rpm Dari tabel 3 menunjukkan spesifikasi motor Coal Feeder - Coal Thrower Unit #1 yang dimana nantinya digunakan untuk perhitungan nilai auxiliary power yang digunakan unit pembangkit, untuk melihat efisiensi dari penggunaan sendiri pada saat dilakukan performance test unit #1 Before Ae After Overhaul. Pengolahan Data Hasil analisa data awal menunjukkan perbedaan antara before Ae after overhaul unit #1 dilihat dari data beban rata Ae rata tiap bulan yang mengalami kenaikan setelah dilakukan kegiatan overhaul unit #1. Hal ini yang mengakibatkan perlunya analisa pengukuran dilokasi penelitian PLTU Holtekamp 2 x 10 MW. Analisa dilakukan dengan mengambil data, data yang diambil adalah before Ae after yang nantinya akan digunakan untuk menentukan nilai SFC (Specific Fuel Consumptio. dan auxiliary power. Pada bagian awal, mengarah ke peralatan utama chain grate yang berhubungan dengan modifikasi Coal Feeder - Coal Thrower. Chain grate adalah sistem pembakaran yang menggunakan rantai sebagai media untuk menggerakkan bahan bakar padat seperti batubara dan woodchips. Cara Kerja Chain Grate, bahan bakar padat seperti batu bara, kayu, atau biomassa dimasukkan keatas rantai bergerak. Rantai yang bergerak akan mengangkut bahan bakar secara perlahan melalui tungku. Saat bergerak, bahan bakar mengalami beberapa tahap-tahapan proses pembakaran, penyalaan, dan pembakaran habis. Setelah bahan bakar terbakar habis, abu akan jatuh dari rantai dan dibuang secara otomatis, menjaga aliran bahan bakar tetap konsisten. Selanjutnya, mengenai SFC (Specific Fuel Consumptio. Pada bagian ini. SFC adalah rasio yang mengukur efisiensi mesin, yaitu jumlah bahan bakar yang dikonsumsi . iasanya dalam satuan mass. untuk menghasilkan satu satuan daya atau energi dalam satu satuan waktu, seperti kilogram per kilowatt per jam . g/kW. Berikut untuk model perhitungannya dilihat dibawah ini: SFC = Batu Bara Biomassa / SFC= kwhb a. Produksi Energi Keterangan: SFC = Specific Fuel Consumption (Kg/kW. mbb = Konsumsi Bahan bakar (K. kwhb = Produksi Energi . Untuk mencari nilai produksi energi . sebagai Produksi Energi (Gros. = Counter Kwh meter akhir Ae Counter Kwh meter awal Terakhir, mengenai Auxiliary Power. Disini difokuskan pada pemakaian sendiri (PS), pemakaian sendiri adalah sebagian kecil daya listrik yang dihasilkan PLTU itu sendiri digunakan untuk mengoperasikan semua peralatan yang berada didalamnya, seperti pompa, kipas, sistem kontrol, penerangan, dan pengolahan bahan bakar, dimana konsumsinya bisa mencapai 10% atau lebih dari total daya yang dihasilkan dan efisiensi Jurnal Elektrika Vol. 18 No. 1 2026 P-ISSN 2085-0565 | E-ISSN 2580-8486 Received 31 Mar 2026. Revised 9 Apr 2026. Accepted 18 Apr 2026 DOI 10. 26623/elektrika. PLTU dinilai baik jika pemakaian sendiri (PS) di bawah 10% dari total listrik yang dihasilkan. Sistem ini vital karena peralatan pendukung PLTU sangat banyak, terutama pada PLTU berbahan bakar batu bara, yang membutuhkan listrik untuk fungsi penting, agar unit pembangkit bisa beroperasi secara mandiri dan menyuplai listrik ke sistem jaringan yang telah terkoneksi secara Disini nantinya akan berfokus pada auxiliary power pengguna motor coal feeder dan coal thrower. Hal ini dilakukan agar lebih fokus ke peralatan yang telah dilakukan modifikasi pada waktu overhaul unit #1. Setelah mendapatkan data yang cukup mengenai spesifikasi motor Coal Feeder - Coal Thrower, pengolahan data dilakukan dengan model penerapan rumus yang sesuai. Berikut untuk model perhitungannya dilihat dibawah ini. V x I x cos x Oo3 a. Keterangan: = Daya aktif motor CT dan CF . W) = Tegangan (Vol. Cos = Faktor daya Oo3 = Faktor karena sisttem 3 fasa IV. HASIL DAN ANALISA Pada bagian awal, akan menjelaskan mengenai modifikasi coal feeder - coal thrower terhadap peralatan utama chaingrate. Sebelum dilakukan modifikasi coal feeder - coal thrower, peralatan tersebut tidak dapat diatur kecepatan motornya dan ketika dioperasikan. Dari sistem ini untuk penyebaran batu bara kurang Karena, ketika terjadi permasalahan pada salah satu motor coal thrower, untuk melakukan perbaikan pada motor coal thrower harus mematikan motor coal feeder pada line yang bermasalah dan mengganggu operasional motor coal thrower yang berada disebelahnya/yang tercouple pada line tersebut. Hal ini mengakibatkan terganggunya sistem penyebaran batu bara. Oleh karena itu, pada saat overhaul unit #1 dilakukan modifikasi coal feeder - coal thrower agar kedepannya terdapat permasalahan pada motor coal thrower tidak perlu mematikan motor yang bukan permasalahannya. Gambar 1. Drawing Boiler PLTU Tipe Stoker Dari gambar 1 drawing boiler PLTU tipe stoker, setelah dilakukan overhaul dilihat bahwa penyebaran batu bara lebih merata dan dapat diatur kecepatan motor coal feeder - coal thrower. Hal ini sangat berpengaruh untuk keandalan operasional unit pembangkit. Mengenai SFC (Specific Fuel Consumptio. yang berhubungan dengan modifikasi coal feeder - coal Dengan data yang telah diperoleh barulah dilakukan perhitungan SFC untuk mengetahui nilainya setelah dilakukan dengan modifikasi coal feeder - coal Dengan rumus yang telah tersedia, untuk melakukan perhitungan dan mendapatkan nilai SFC before Ae after modifikasi coal feeder - coal thrower unit #1. Disini juga mendapatkan data before overhaul pada bulan Mei dan mendapatkan data after overhaul pada bulan Agustus. September. Oktober dan November. Sebelum dilakukan modifikasi coal feeder - coal thrower disini nilai SFC pada bulan Mei dengan beban rata Ae rata 4,65 MW, mendapatkan nilai SFC sebesar 1,712 Kg/ kWh. Setelah itu, dilakukan modifikasi coal feeder - coal thrower, nilai SFC pada bulan Agustus dengan beban rata Ae rata 6,62 MW, mendapatkan nilai SFC sebesar 1,578 Kg/ kWh. Pada bulan selanjutnya. September dengan beban rata Ae rata 7,45 MW, mendapatkan nilai SFC sebesar 1,440 Kg/ kWh. Pada bulan selanjutnya. Oktober dengan beban rata Ae rata 5,74 MW, mendapatkan nilai SFC sebesar 1,550 Kg/ kWh. Pada bulan selanjutnya. November dengan beban rata Ae rata 6,71 MW, mendapatkan nilai SFC sebesar 1,524 Kg/ kWh. Jurnal Elektrika Vol. 18 No. 1 April 2026 P-ISSN 2085-0565 | E-ISSN 2580-8486 Coal Feeder/ Coal Thrower No. Beban Rerata (MW) 5,74 1,712 1,578 1,44 1,55 1,611 kW 1,611 kW September Coal Feeder 1A 2,978 kW Coal Feeder 1B 2,260 kW Coal Feeder 1C Coal Feeder 1D Coal Feeder 1E Coal Thrower 1. 1,226 kW 1,170 kW 1,175 kW 1,521 kW Coal Thrower 1. 1,521 kW Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. 1,525 kW Coal Thrower 1. Coal Feeder 1A Coal Feeder 1B Coal Feeder 1C Coal Feeder 1D Coal Feeder 1E Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. 1,573 kW Oktober 2,976 kW 2,260 kW 1,226 kW 1,170 kW 1,175 kW 1,521 kW 1,521 kW 1,525 kW 1,601 kW 1,573 kW Coal Feeder 1A Coal Feeder 1B Coal Feeder 1C Coal Feeder 1D Coal Feeder 1E Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. November 2,976 kW 2,260 kW 1,226 kW 1,170 kW 1,175 kW 1,521 kW 1,521 kW 1,525 kW 1,601 kW 1,573 kW 1,524 Beban Rerata (MW) SFC (Kg/Kw. Gambar 2. Grafik Nilai SFC Dengan Beban Rata Ae Rata TABEL IV PERHITUNGAN AUXILIARY POWER DENGAN PERFORMANCE TEST Coal Feeder/ Coal Thrower Auxiliary Power Coal Feeder 1A Mei 3,412 kW 2,741 kW 0,947 kW 0,853 kW 0,853 kW 0,900 kW 0,947 kW Agustus 3,144 kW Coal Feeder 1B 2,373 kW Coal Feeder 1C Coal Feeder 1D Coal Feeder 1E 1,278 kW 1,180 kW 1,180 kW Coal Thrower 1. 1,563 kW Coal Thrower 1. 1,563 kW Coal Feeder 1A Coal Feeder 1B Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. Performance Test 4,233 MW 7,460 MW 1,601 kW 4,660 MW 7,574 MW 10,000 9,000 8,180 8,000 Performance Test (MW) Dari gambar grafik 2, hasil perhitungan dan data rata Ae rata beban Specific Fuel Consumption (SFC), disini nilai SFC rendah terjadi pada bulan september sebesar 1,440 Kg/kWh dan rata Ae rata beban sebesar 7,45 MW. Dengan hasil diatas dapat diambil kesimpulan semakin rendah nilai SFC maka semakin efisien pemakaian bahan bakarnya. Terakhir, mengenai Auxiliary Power yang berhubungan dengan modifikasi coal feeder - coal thrower. Dengan data yang telah diperoleh barulah dilakukan perhitungan nilai Auxiliary Power yang digunakan setelah dilakukan dengan modifikasi coal feeder - coal Dengan rumus yang telah tersedia, untuk melakukan perhitungan dan mendapatkan nilai Auxiliary Power before Ae after modifikasi coal feeder coal thrower unit #1. No. 1,606 kW Coal Thrower 1. Coal Thrower 1. 4,65 Coal Thrower 1. 6,71 6,62 Performance Test 0,0510 7,574 7,460 7,000 0,0410 6,000 5,000 4,660 4,233 4,000 0,0171 3,000 2,000 0,0310 0,0165 0,0104 0,0165 0,0165 0,0210 Auxiliary Power (MW) 7,45 SFC (Kg/kW. Auxiliary Power 0,0110 1,000 0,0010 8,180 MW Performance Test (MW) Auxiliary Power (MW) Gambar 3. Grafik Perhitungan Auxiliary Power Dengan Performance Test Jurnal Elektrika Vol. 18 No. 1 2026 P-ISSN 2085-0565 | E-ISSN 2580-8486 Received 31 Mar 2026. Revised 9 Apr 2026. Accepted 18 Apr 2026 DOI 10. 26623/elektrika. Dari gambar 3, hasil perhitungan auxiliary power dengan performance test, terjadi pada bulan november sebesar 8,807 kW (Coal Feede. dan 7,741 kW (Coal Throwe. dan saat performance test sebesar 7,574 MW, dapat diambil kesimpulan semakin rendah auxiliary power maka semakin efisien pemakaian daya listrik untuk penggunaan sendirinya. Hasil ini juga sangat berpengaruh besar terhadap efisiensi unit pembangkit. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap peralatan utama chaingrate, perhitungan data nilai SFC (Specific Fuel Consumptio. dan Auxiliary Power pada judul Modifikasi Coal Feeder Ae Coal Thrower Unit #1 Di PLTU Holtekamp 2 x 10 MW, maka kesimpulannya adalah modifikasi sistem coal feeder Ae coal thrower memungkinkan proses pembakaran batu bara menjadi lebih merata di atas peralatan utama chain grate, sehingga meningkatkan kestabilan operasional pembangkit. Sistem ini juga lebih fleksibel karena masing-masing unit dapat dioperasikan secara terpisah tanpa harus mematikan sisi lain saat terjadi gangguan, sehingga proses distribusi bahan bakar tetap optimal dan beban pembangkit tidak mengalami penurunan signifikan saat dilakukan maintenance secara Selain itu, modifikasi ini terbukti mampu menekan nilai Specific Fuel Consumption (SFC), sehingga penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien, biaya operasional menurun, kinerja termal meningkat, serta emisi gas buang dapat ditekan. Di sisi lain, pengaruh terhadap auxiliary power juga signifikan karena pengoperasian motor dapat disesuaikan dengan kebutuhan, yang berdampak pada penghematan pemakaian sendiri dan peningkatan efisiensi keseluruhan. Dengan demikian, modifikasi ini mendukung peningkatan keandalan dan performa unit pembangkit agar mampu memenuhi target kinerja operasional secara DAFTAR PUSTAKA