Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan Vol 7. No 1. April 2022, pp. https://doi. org/10. 17977/um039v7i12022p051 pISSN: 2548-9879 . eISSN: 2599-2139 . http://journal2. id/index. php/edcomtech Pemanfaatan Teknologi Asistif dalam Pendidikan Inklusif Bayu Widyaswara Suwahyo1. Punaji Setyosari1. Henry Praherdiono1 Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Jalan Semarang 5 Malang. Jawa Timur. Indonesia 65145 Email corresponding author*: bayu. 1901218@students. Article Info Abstrak Article history: Received 21-07-2021 Revised 18-08-2021 Accepted 17-09-2021 Published 01-04-2022 Berbagai jenis teknologi menawarkan dukungan yang diperlukan bagi siswa penyandang disabilitas untuk dapat belajar bersama dengan anak normal dalam kelas inklusif. Penggunaan teknologi asistif (TA) dapat dimanfaatkan siswa dengan disabilitas menciptakan kemandirian dan kepercayaan diri ketika belajar bersama dengan anak Penelitian ini menggunakan Analisis artikel dengan metode descriptive content analysis untuk menjelaskan peran TA dalam kelas Kata kunci yang digunakan untuk mencari artikel Autechnology assistiveAy. AuinclusiveAy, dan Aueducation. Berdasarkan hasil pencarian artikel yang diperoleh dari berbagai situs jurnal antara lain. Google Scholar. Directory Of Open Access Jurnals. Scopus. Emerald. Dan Taylor Francis terpilihlah empat puluh tiga artikel penelitian terkait penggunaan TA dalam kelas Inklusif yang akan dianalisis. Penelitian ini menemukan TA terdiri dari serangkaian perangkat dan layanan yang berfungsi untuk mendukung siswa untuk meningkatkan kemampuan yang ada, mengimbangi atau mengurangi hambatan yang mungkin Beberapa TA dikembangkan untuk penggunaan fungsional, sementara fungsi lainnya dapat menciptakan interaksi sosial, hingga akses kurikulum. Penggunaan TA dalam kelas inklusif secara universal meningkatkan inklusivitas dalam kelas. How to cite: Suwahyo. Setyosari. , & Praherdiono. Pemanfaatan Teknologi Asistif dalam Pendidikan Inklusif. Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 7. , 51Ae63. https://doi. org/10. 17977/um03 A The Author. Kata Kunci: teknologi asistif, pendidikan inklusif, disabilitas This work is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License Abstract Various types of technology offer the necessary support for students with disabilities to study together with normal children in inclusive Students can utilize assistive technology (AT) with disabilities to create independence and confidence when studying with normal This study uses article analysis with descriptive content analysis method to explain the role of AT in inclusive classes. The keywords used to search for the articles are Autechnology assistive,Ay Auinclusion,Ay and Aueducation. The search results of articles obtained from various journal sites, among others. Google Scholar. Directory Of Open Access Journals. Scopus. Emerald, and Taylor Francis selected fortythree research articles related to the use of AT in Inclusive classrooms to be analyzed. This study found that AT consists of tools and services that support students to improve existing abilities and offset or reduce 52 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 51-63 barriers that may occur. Some TAs are developed for practical use, while other functions can create social interaction to curriculum access. The use of TA in inclusive classrooms universally increases inclusivity in the Keywords: assistive technology, inclusive education, disability PENDAHULUAN Teknologi Asistif (TA) diperlukan dalam pembelajaran ABK sebagai bagian dari adaptasi bahan instruksional (Fidan. Cihan, & ynzbey, 2. Penggunaan TA bertujuan memajukan, memelihara, atau memberi bantuan siswa berkebutuhan khusus agar dapat mengatasi hambatan baik karena keterbatasan fisik maupun sosial-budaya (Obiakor. Bakken, & Rotatori. TA memiliki potensi besar dalam menyediakan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk dapat berpartisipasi dalam pendidikan (WHO, 2. Akses pendidikan yang meningkat ditandai berkurangnya hambatan ABK untuk belajar lebih mudah dan efisien (Shaw, 2. TA selain digunakan untuk mengatasi hambatan disabilitas siswa dengan kebutuhan khusus berpeluang menciptakan integrasi sosial melalui sikap saling toleransi dan menghargai perbedaan jika digunakan secara universal (Plos. Buisine. Aoussat. Mantelet, & Dumas, 2. Dalam UUD 1945 bahwa setiap warga negara diberikan hak untuk memperoleh pendidikan yang sama. Tidak terkecuali ABK. Sehingga menjadi kewajiban bersama untuk memberikan dukungan agar setiap warga negara memperoleh layanan pendidikan yang tidak Salah satu bentuk layanan pendidikan yang tidak diskriminatif adalah pendidikan berbasis inklusif (Young & Courtad, 2. Di Indonesia pelaksaan pendidikan inklusif sudah memiliki dasar hukum melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 70 tahun 2009 yang mendorong kabupaten/Kota perlu mendirikan sekolah inklusif di berbagai jenjang pendidikan (Kemendikbud Ajak Daerah Tingkatkan Pendidikan Inklusif, 2. Paradigma pendidikan berbasis inklusif tergolong baru di Indonesia menyebabkan banyak guru maupun pihak yang terlibat dalam pendidikan inklusif kurang siap menyiapkan sarana penunjang pembelajaran ABK bersama anak normal. Penggunaan teknologi atau alat bantu belum banyak dimanfaatkan guru dalam kelas inklusif (Sari Rudiyati, 2. Di negara berkembang TA untuk pendidikan inklusif belum banyak dimanfaatkan, karena minimnya pengetahuan berbagai pihak baik yang berhadapan dengan ABK di sekolah hingga pengambil kebijakan (Visagie et al. , 2. Selama 10 tahun . 6 hingga 2. dalam penelitian literatur penggunaan TA untuk siswa dengan learning disability dalam sekolah luar biasa (SLB) dapat meningkatkan produktivitas, navigasi, manajemen waktu, dan penyelesaian tugas (Morash-Macneil. Johnson, & Ryan, 2. Penelitian studi literatur yang melibatkan 256 artikel dari tahun 1965 hingga 2009 tentang teknologi bantu yang digunakan oleh siswa disabilitas menyimpulkan TA berdampak positif pada kinerja siswa dengan disabilitas tunanetra dalam SLB (Kelly & Smith. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih mengkaji penggunaan TA untuk siswa dengan disabilitas tertentu yang bersekolah di SLB, studi literatur ini akan menyoroti peran TA dalam meningkatkan inklusivitas dalam pendidikan. Untuk meningkatkan inklusivitas siswa berkebutuhan khusus perlu memperoleh pendidikan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing siswa, mengacu pada konsep kerangka kerja universal desain for learning (UDL) (Courey. Tappe. Siker, & LePage. UDL mencakup fokus pada penggunaan teknologi yang dapat mendukung semua siswa Suwahyo. Setyosari. Praherdiono - Pemanfaatan Teknologi Asistif A| 53 agar dapat mengakses pendidikan (King-Sears & Evmenova, 2. Teknologi merupakan bagian integrasi dari banyak strategi pendidikan inklusi untuk meningkatkan kemampuan Secara khusus. TA dapat digunakan untuk mendukung siswa dengan berbagai kebutuhan berdasarkan atribut disabilitas yang dimiliki, seperti disabilitas fisik, disabilitas intelektual, disabilitas neurologis . dan disabilitas sensorik (Chambers, 2. Penelitian studi literatur ini menghasilkan definisi TA serta menjelaskan keterkaitan antara pendidikan inklusif dengan pemanfaatan TA. Sehingga akan ditemukan peran TA dalam memastikan siswa penyandang disabilitas menerima pendidikan yang terbaik yang dapat memberi kesempatan untuk aktif dan terlibat dalam kehidupan di sekolah dan masyarakat. Beberapa hal yang menjadi tujuan dalam penelitian ini, yakni: . Memperbarui penelitian studi literatur tentang pemanfaatan TA untuk siswa dengan disabilitas. Menjelaskan peran TA untuk meningkatkan inklusivitas kelas, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada penggunaan TA untuk menangani siswa dengan disabilitas tertentu dalam pendidikan luar biasa. Dapat dijadikan referensi bagi orang yang terlibat untuk pemilihan TA. Untuk membantu tujuan penelitian ini pertanyaan penelitian yang digunakan, yakni: . Apa yang dimaksud dengan TA? . Bagaimana memilih TA? Dan . Bagaimana menggunakan TA? METODE Penelitian menggunakan metode descriptive content analysis untuk menganalisis konten serta mendeskripsikan informasi atau teks (Munirah, 2. Analisis artikel dengan metode descriptive content analysis study akan menjawab keterikatan pendidikan berbasis inklusif dengan TA. Penelitian ini juga mengkaji teknologi yang tersedia dan teknologi baru yang dapat digunakan sebagai teknologi asistif dalam pembelajaran. Analisis dilakukan untuk artikel yang terbit antara tahun 2011 hingga 2021 dengan ketentuan artikel yang berhubungan dengan penggunaan teknologi asistif untuk pendidikan Kata kunci untuk mencari artikel dengan Autecnology assistiveAy. AuinclustionAy, danAu educationAy. Artikel diperoleh dari berbagai situs jurnal seperti Directory Of Open Access Jurnals. Google Scholar. Scopus. Emerald, dan Taylor Francis. Artikel yang terpilih disusun dan diseleksi sesuai kriteria yang membahas penggunaan TA dalam pendidikan inklusi. Kriteria inklusi untuk memilih jurnal yang sesuai untuk menjawab pertanyaan Artikel berfokus pada penggunaan TA dalam pendidikan inklusif sebagai pendekatan Artikel diambil berdasarkan kata kunci pencarian, yakni. Autecnology assistiveAy. AuinclustionAy, dan AueducationAy, yang terdapat dalam judul serta abstrak artikel. Artikel yang terbit antara tahun 2011 hingga 2. Artikel yang kredibel secara ilmiah Kriteria eksklusif untuk studi literatur ini, yaitu: Artikel yang terbit lebih dari 10 tahun, di bawah tahun 2011 Artikel yang terdaftar di data base lain diluar Google Scholar. Directory Of Open Access Jurnals. Scopus. Emerald. Dan Taylor Francis. Untuk menentukan kredibilitas dan validitasnya. Berikut adalah checklist yang Apakah tujuan penelitian dinyatakan dengan jelas? Apakah penelitian ini dikutip oleh penulis lain? Apakah informasi dalam artikel dapat dipercaya dan didukung dengan bukti 54 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 51-63 Setiap data base dan referensi disimpan dalam file bibliografi. Kemudian baca semua judul dan abstrak dan periksa kriteria inklusi dan kriteria eksklusif untuk menilai kualitas setiap Selanjutnya akan dilakukan klasifikasi artikel sesuai dengan jenis penelitian yang Kemudian data artikel yang tersimpan dalam daftar pustaka dinilai kembali untuk memastikan kriteria inklusi, eksklusif, dan kualitas artikel sebelum dilaporkan. Berdasarkan kriteria terpilihlah 50 artikel yang berkaitan dengan peran TA dalam pendidikan inklusif, namun 7 artikel tidak digunakan karena terbit lebih dari sepuluh tahun terakhir . atau terdaftar di data base lain. Sehingga terpilihlah 43 artikel yang akan dikaji untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Langkah selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akuntabel dan valid dilakukan analisis terhadap artikel yang dipilih melalui review artikel dilakukan dengan teknik analisis PICO. Analisis artikel dengan metode PICO mengacu pada singkatan: P . opulation, proble. mewakili subjek, populasi, dan masalah. I . adalah intervensi yang dilakukan peneliti. C . adalah perbandingan, dan O . adalah hasil studi (Cooke. Smith, & Booth, 2. Sebagai titik awal. PICO mendefinisikan masalah studi dan memilih tiga lingkup terpisah. Ketiga ruang lingkup tersebut, yaitu: definisis teknologi asistif, hubungan antara pendidikan inklusif dan teknologi bantu, dan hambatan dalam merancang dan mengimplementasikan teknologi bantu. Untuk membantu menganalisis peran teknologi asistif dalam pendidikan inklusi, penelitian ini akan menggunakan pertanyaan penelitian berdasarkan konsep pemanfaatan Teknologi untuk penyandang disabilitas (Bryant & Bryant, 2. mendefinisikan TA menjadi tiga konsep utama, yakni. apa, bagaimana memilih, dan bagaimana menggunakan. Secara lebih rinci akan dijelaskan dalam Tabel 1. Tabel 1. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan Apa yang dimaksud dengan TA? Bagaimana memilih TA? Bagaimana menggunakan TA? Indikator Definisi TA Pembagian jenis TA Pemilihan perangkat TA Implementasi dan evaluasi TA Perencanaan penggunaan TA Implantasi PEMBAHASAN Definisi Teknologi Asistifs Kemajuan teknologi memainkan peran penting dalam pengembangan TA, karena teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyediakan fungsi yang efektif berdasarkan kebutuhan Dalam pendidikan khusus, alat ini dikenal sebagai TA. TA dapat di definisikan sebagai barang, sarana, maupun sistem produksi yang di dapat baik dengan cara komersial, konversi, atau diadaptasi untuk memajukan, memelihara, atau meningkatkan kemampuan seseorang yang memiliki disabilitas (Obiakor et al. , 2. Untuk dapat melakukan klasifikasi jenis TA, sarjana dan pakar di bidang teknologi pendidikan khusus telah melakukan upaya besar untuk mengatur semua TA yang tersedia dengan mengategorikan dalam kontinum yang berkisar dari teknologi rendah hingga teknologi tinggi (Dell. Newton, & Petroff, 2. Mengetahui Fungsi perangkat TA sebagai pertimbangan utama dalam pemilihan dan TA harus memiliki tujuan dan peran yang terlebih dahulu ditetapkan dalam pendidikan bagi siswa dan juga harus meningkatkan fungsi sehari-hari mereka . isalnya, perangkat komunikasi, kursi roda, dan lain-lai. Petugas yang bertanggung jawab untuk pemilihan perangkat TA yang akan digunakan harus mempertimbangkan kontinum yang Suwahyo. Setyosari. Praherdiono - Pemanfaatan Teknologi Asistif A| 55 dimulai dari teknologi rendah daripada sekadar memilih perangkat yang tidak efisien, karena TA perlu mempertimbangkan kemudahan untuk mendapatkan dan lebih sederhana untuk digunakan guru (Shaw, 2. Penggunaan TA secara bertahap telah digunakan dalam pembelajaran dalam ruang kelas reguler untuk mendukung kebutuhan belajar ABK dalam sekolah inklusi (Chambers. Selain digunakan untuk belajar. TA juga dapat dimanfaatkan sebagai alat komunikasi, interaksi sosial, dan akses fisik ke berbagai sumber daya (Koch, 2. Berbagai macam jenis TA telah tersedia dan dapat dimanfaatkan baik oleh guru maupun siswa. Sehingga pemilihan TA yang tepat sangat diperlukan, seiring jenis layanan dan dukungan TA yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Sangat penting untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya belajar dan dapat berkomunikasi dengan teman sebaya maupun guru, tetapi juga merasa dianggap setara dengan teman sebaya sebagai bagian dari kelas tanpa melihat perbedaan yang dimiliki (Kochung, 2. Perasaan setara atau sama dengan yang lain bagi siswa dengan disabilitas akan menciptakan rasa percaya diri dan termotivasi untuk belajar tanpa diskriminasi. Saat ini sebagai sekolah dan guru sudah menggunakan TA untuk mendukung siswa penyandang disabilitas, namun bagi yang lain belum tahu cara melihat bagaimana teknologi meningkatkan pendidikan inklusif untuk para siswa dengan disabilitas (Schaaf, 2. Teknologi Asistif Berteknologi Rendah TA berteknologi rendah terdiri dari perangkat yang mendukung siswa disabilitas tanpa memerlukan pelatihan khusus dan untuk mendapatkannya tidak membutuhkan biaya tinggi (Heijkers. Schoonbrood, & de Witte, 2. TA berteknologi rendah dicirikan dengan kemudahan akses dan kemudahan untuk digantikan dengan perangkat lain dengan fungsi yang sama (Alkahtani, 2. Penggunaan perangkat TA berteknologi rendah sangat cocok jika digunakan apabila untuk memperoleh teknologi yang berfungsi sama memerlukan biaya yang Kondisi ini sering terjadi di wilayah di mana akses perangkat teknologi tinggi sulit dan terlalu mahal untuk diperoleh, misalnya beberapa negara di Asia dan Afrika (Ismaili, 2017. Scherer, 2. Perangkat berteknologi rendah antara lain termasuk trigonal pensil atau pegangan pensil bagi siswa yang kesulitan belajar menulis, graphic organizer merupakan grafik visual yang membantu bagi siswa yang kesulitan menghubungkan ide, konsep, maupun fakta, kertas bergaris untuk membantu siswa belajar menulis maupun Highlighter Pens atau pena penyorot untuk memfokuskan informasi penting kepada siswa. TA berteknologi rendah dapat juga merupakan perangkat yang dibuat khusus untuk kebutuhan individu. Perangkat ini mungkin termasuk penyangga smartphone atau tablet, gelas plastik dengan bagian bundar dilepas untuk siswa yang tidak bisa memiringkan kepala, penanda halaman dari plastik dan jadwal visual individual (Van Niekerk. Dada, & Tynsing, 2. Perangkat TA teknologi rendah memiliki banyak manfaat salah satunya aksesibilitas untuk semua dan kemudahan dalam mengganti komponen jika perangkat itu rusak (Jadhav. Chambers, & Tatpuje, 2. pada umumnya TA teknologi rendah tidak memerlukan perawatan atau pelatihan khusus untuk menggunakan. Saat pengambil keputusan mempertimbangkan penggunaan baik perangkat berteknologi rendah atau tinggi perlu mengetahui terlebih dahulu kebutuhan siswa, dari pada memilih perangkat mahal yang sebenarnya dapat ditangani perangkat yang lebih murah dengan fungsi yang sama. Teknologi Asistif Berteknologi Menengah TA berteknologi menengah merupakan perangkat yang umumnya tidak memerlukan pelatihan khusus untuk digunakan dan harganya terjangkau, biasanya memerlukan daya listrik rendah . enggunakan batera. tetapi tidak terlalu rumit (Alnahdi, 2. Perangkat teknologi 56 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 51-63 menengah dalam TA juga dapat bersifat digital tetapi penggunaannya tidak rumit dan membutuhkan lebih sedikit pelatihan daripada perangkat berteknologi tinggi (Patterson & Cavanaugh, 2. Contoh perangkat teknologi menengah termasuk Kalkulator, buku audio, kamus elektronik, dan perekam digital adalah contoh perangkat teknologi menengah. Beberapa teknologi, seperti perangkat tablet, mungkin juga termasuk dalam kategori teknologi menengah, karena dapat digunakan tanpa pelatihan khusus. Perangkat berteknologi menengah harus dipertimbangkan setelah menentukan bahwa tidak ada perangkat berteknologi rendah yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan fungsional individu. Teknologi Asistif Berteknologi Tinggi Perangkat TA berteknologi tinggi umumnya digunakan orang dengan kondisi disabilitas yang berat atau tidak memiliki alternatif teknologi pendukung lainnya (Eliyin & Kaya, 2. TA berteknologi tinggi umumnya membutuhkan pelatihan khusus dan sering kali lebih mahal daripada perangkat berteknologi rendah atau menengah. Penggunaan TA teknologi tinggi di latar belakangi kebutuhan individu yang lebih kompleks, perangkat TA teknologi tinggi dirancang untuk memastikan bahwa sekalipun orang yang memiliki gerakan minimal atau kontrol yang lemah atas tubuh mereka dapat berkomunikasi atau menggunakan alat tersebut untuk beradaptasi (Thapliyal & Ahuja, 2. Perangkat berteknologi tinggi termasuk seperti jenis mouse komputer dengan sensor gerakan mata, sehingga orang dengan anggota tubuh tidak sempurna dapat mengontrol komputer melalui gerakan mata, jenis kursi roda bertenaga listrik dengan perangkat lunak navigasi dan kontrol, perangkat lunak text to speech dan sistem komunikasi rumit yang dapat diakses menggunakan kontrol alternatif. TA berteknologi tinggi mungkin sulit untuk diakses dikarenakan biaya yang tinggi untuk memperolehnya. Biaya tinggi sering kali merupakan akibat dari ketersediaan yang relatif sedikit di pasar maupun dipengaruhi besarnya biaya penelitian dan pengembangan yang perlu dikeluarkan dalam desain dan pembuatan perangkat ini. Teknologi baru muncul setiap saat seperti peningkatan teknologi tablet yang dikombinasikan dengan perangkat lunak dengan biaya yang terjangkau untuk komunikasi, dapat membantu mengatasi beberapa masalah biaya di masa depan. Penting untuk diketahui bahwa meskipun perangkat berteknologi tinggi dipilih untuk digunakan oleh individu, alternatif TA berteknologi rendah harus selalu tersedia jika ketersediaan teknologi tinggi menjadi masalah baru dalam penyediaan TA (Mavrou, 2. Contoh seperti kursi roda manual untuk sementara menggantikan kursi bertenaga listrik yang tidak berfungsi atau kehabisan daya dan tidak dapat diisi dengan segera. Pemilihan Perangkat Teknologi Asistif Orang yang terlibat dalam pemilihan perangkat TA perlu memiliki pengetahuan yang sesuai tentang perangkat dan pengetahuan terperinci tentang kebutuhan individu pengguna (Wong, 2. Pemilihan TA sebaiknya memperhitungkan beberapa hal, antara lain (Sherry. Ravneberg, & Syderstrym, 2. Ketersediaan anggaran maupun biaya untuk memperoleh teknologi. Lingkup pelatihan yang mungkin diperlukan oleh pengguna dan fasilitator. Lingkungan di mana TA akan digunakan. Kapasitas untuk memodifikasi atau personalisasi TA. Preferensi dan sikap semua pemangku kepentingan terhadap penggunaan TA. Terdapat beberapa model dan kerangka kerja yang tersedia dalam proses seleksi TA. Seleksi TA tergantung pada kebutuhan dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki wewenang untuk memilih TA yang tepat untuk digunakan. Model pemilihan TA yang sering digunakan oleh guru dan sekolah untuk menentukan perangkat yang sesuai adalah kerangka kerja Student. Environment. Task. Tool (SETT). Model SETT dalam pemilihan Suwahyo. Setyosari. Praherdiono - Pemanfaatan Teknologi Asistif A| 57 perangkat TA bertujuan untuk menjelaskan faktor pribadi dan lingkungan sebagai pertimbangan saat memilih perangkat TA (Zabala, 2. Faktor pribadi meliputi sumber daya yang berasal dari keluarga maupun keuangan yang tersedia bagi pengguna TA. Melalui model SETT akan menghubungkan harapan siswa atau pengguna ketika menggunakan TA dalam menyelesaikan tugas maupun preferensi yang harus diselesaikan. Faktor lingkungan meliputi antara lain. harapan budaya, undang-undang dan kebijakan maupun sikap pemangku kepentingan terhadap TA. Penilaian terhadap fungsi dari perangkat TA juga perlu diperhitungkan dalam pemilihan TA. Penilaian terhadap fungsi perangkat akan mempengaruhi predisposisi pengguna terhadap teknologi. Segala informasi yang diperoleh memungkinkan potensi yang dimiliki TA akan menghasilkan hasil terbaik bagi individu yang menggunakan AT. Selain model SETT model pemilihan TA yang sering digunakan bernama The Matching Person and Technology (MPT). Model MPT merupakan ukuran yang berpusat pada pengguna. MPT bertujuan menguji perspektif dari sudut pandang konsumen TA terhadap kekuatan, tujuan, preferensi, dan deskripsi psikosial, dan manfaat teknologi (Scherer, 2. Kesesuaian orang dan teknologi yang baik memerlukan perhatian pada lingkungan pengguna, kebutuhan dan preferensi, serta fungsi dan komponen teknologi. Jika kecocokan tersebut tidak berkualitas dari sudut pandang konsumen, maka teknologi tersebut tidak dapat digunakan atau tidak akan digunakan secara optimal. Penggunaan Teknologi Asistif Selain pemilihan perangkat TA, dukungan terhadap cara penggunaan dan pemeliharaan perangkat sangat penting untuk menghindari penyalahgunaan dan penggunaan yang kurang tepat perangkat TA (Federici & Borsci, 2. TA memiliki kemiripan dengan media pembelajaran yang membutuhkan dukungan pedagogi yang tepat melalui pelatihan guru (Magana, 2. Pelatihan guru diperlukan untuk memastikan TA dapat digunakan dan berjalan baik. Di Indonesia Layanan untuk mendukung TA dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2020 terkait akomodasi bagi siswa dengan disabilitas (Ndaumanu, 2. Akomodasi meliputi layanan menentukan kebutuhan individu, pembelian, pinjaman atau akuisisi teknologi oleh layanan pendidikan disabilitas. Akomodasi bagi penyandang disabilitas sangat penting untuk memastikan bahwa mereka diberikan teknologi yang tepat dan penggunaannya memperoleh dukungan dari pemangku kepentingan. Kurangnya layanan terhadap penyandang disabilitas merupakan tanda kesulitan penggunaan dan perolehan TA (Jakovljevic & Buckley, 2. Kerangka kerja pendidikan berbasis universal design for learning (UDL) dalam pendidikan berbasis inklusif merupakan perencanaan pendidikan yang mencakup penggunaan teknologi untuk memenuhi kebutuhan semua siswa tanpa terkecuali (Capp, 2. Tiga pedoman utama yang dirinci dalam kerangka UDL meliputi: . berbagai cara menciptakan . berbagai cara representas. i dan . berbagai cara tindakan dan ekspresi (AuUDL: The UDL Guidelines,Ay n. Guru di lingkungan pendidikan inklusif umumnya memiliki siswa dengan kondisi heterogen yang terdiri dari siswa penyandang cacat, dan siswa dari berbagai latar belakang budaya maupun kelompok ras. Perencanaan pembelajaran menggunakan kerangka kerja UDL berfungsi untuk memastikan semua siswa dilibatkan dalam proses pembelajaran (Katz, 2. Pedoman UDL membantu guru untuk mempertimbangkan banyak elemen ketika merancang kurikulum inklusif. Guru perlu mempertimbangkan kebutuhan akademik, sosial. serta kemungkinan teknologi yang dapat membantu dalam mencapai tujuan (Hall. Cohen. Vue, & Ganley, 2. Perencanaan pembelajaran berbasis kebutuhan siswa mengharuskan 58 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 51-63 siswa termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran dan mengakses pengetahuan dengan cara yang tepat (Berlach & Chambers, 2. Misalnya dengan menyediakan akses ke perangkat lunak pembaca layar yang dirancang untuk siswa disleksia, siswa dengan kemampuan membaca yang lemah akan terbantu dengan aplikasi pembaca layar. Implementasi dan Evaluasi pembelajaran melalui TA Proses Pengajaran dan pembelajaran melibatkan tiga area: . standar kompetensi yang digunakan untuk mengetahui area di mana siswa berada. memilih metode belajar yang tepat. memantau serta mengevaluasi kemajuan yang telah dicapai siswa (Masters, 2. Untuk siswa yang memiliki disabilitas. TA dapat digunakan di ketiga area dalam proses pengajaran dan pembelajaran dalam proses pengambilan keputusan seputar pendekatan pengajaran dan pembelajaran. Misalnya, menggunakan perangkat layar sentuh berbasis tablet PC untuk pembelajaran matematika (Beal & Rosenblum, 2. Penggunaan perangkat tablet PC dalam pembelajaran matematika dapat membantu guru menentukan level yang tepat untuk mengajarkan konsep matematika kepada siswa. selain itu dengan dilengkapinya soal pada aplikasi akan membantu guru mengevaluasi siswa. Metode yang sama dapat digunakan ketika memilih strategi pengajaran yang tepat bagi siswa. Strategi pengajaran yang tepat dapat mencakup penggunaan TA untuk melengkapi kemampuan yang ada atau melewati tantangan yang dialami siswa disabilitas (Young & Courtad, 2. Untuk membantu siswa yang kesulitan menulis, misalnya TA seperti perangkat lunak pemeriksa ejaan dapat mendukung siswa mengevaluasi tata bahasa (Smith & Hattingh. Aplikasi speech-to-text dapat membantu siswa dengan anggota tubuh seperti tangan yang tidak sempurna untuk dapat menulis (Sharma & Wasson, 2. Graphic organizer (GO) dapat digunakan untuk membantu siswa mengatasi kesulitan dalam menuangkan ide atau gagasan (Knight. Spooner. Browder. Smith, & Wood, 2. TA sangat diperlukan dalam kelas inklusif penggunaannya dapat dimodifikasi atau ditambahkan teknologi lain yang tersedia. Teknologi Asistif Dapat meningkatkan inklusivitas Siswa dengan disabilitas dapat belajar dengan baik jika memiliki rasa percaya diri (Surya & Putri, 2. Rasa percaya diri dapat dikembangkan melalui elemen-elemen seperti iklim sekolah yang sehat, guru yang dapat menghargai perbedaan, hubungan sosial yang baik dengan guru dan teman sebaya, serta kesempatan untuk berkontribusi di kelas untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan kelas. TA dapat membantu menangani banyak hambatan siswa dengan disabilitas untuk mengembangkan rasa percaya diri dan inklusi dalam kelas. Ciri-ciri pendidikan inklusif ditunjukkan dengan memastikan setiap siswa diterima di kelas inklusif, dengan cara memodifikasi kurikulum dan instruksi yang memberikan dukungan sosial (Forlin & Chambers, 2. Penggunaan TA Secara umum perlu ditingkatkan dalam iklim sekolah inklusi, sehingga mampu mendukung situasi pembelajaran yang memberi kecukupan bagi siswa penyandang disabilitas. Untuk menciptakan iklim inklusif yang kuat teknologi sebaiknya tersedia untuk semua siswa baik yang memiliki disabilitas maupun normal, serta semua guru dan staf pendukung. Ketika semua siswa bersama-sama menggunakan teknologi yang sama di kelas, akan menciptakan konteks normalisasi (Cascales-Martynez. Martynez-Segura. PyrezLypez, & Contero, 2. Siswa dengan disabilitas tidak akan dianggap berbeda ketika menggunakan sebuah perangkat teknologi tertentu, sehingga siswa dengan disabilitas tidak merasa berbeda dengan yang lain. Menghargai dan memiliki sikap toleransi sesama manusia sangat penting untuk mengembangkan iklim pendidikan inklusif. Dalam proses mengembangkan pendidikan inklusif perlu melibatkan peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung iklim pendidikan inklusif yang saling menghargai dan toleransi sesama manusia (Mu. Hu, & Wang, 2. Keluarga Suwahyo. Setyosari. Praherdiono - Pemanfaatan Teknologi Asistif A| 59 dapat memberikan kontribusi dengan memberikan informasi tentang kehidupan sehari-hari Informasi tersebut dapat berupa contoh untuk mengatasi hambatan yang mungkin dihadapi sehingga dapat mengidentifikasi kekuatan siswa sendiri maupun gaya belajar yang disukai, melalui informasi tersebut guru dapat membangun rasa percaya diri dan nilai bagi individu (Chambers, 2. Kebutuhan untuk merasa dihargai sebagai kekuatan dan kebutuhan semua individu di kelas, termasuk mereka yang memiliki disabilitas. Guru perlu menghargai perbedaan serta persamaan di antara siswa untuk dapat diterapkan dalam pembelajaran kelas inklusif. Sebagai contoh siswa disabilitas yang mengalami kesulitan berkomunikasi secara normal karena kekurangan fisik yang dimiliki. Dalam proses pembelajaran, guru dapat memberikan alternatif dengan menggunakan TA sebagai media untuk membantu siswa berkomunikasi dengan teman atau pun sebagai alat untuk menyelesaikan tugas (Rentenbach. Prislovsky, & Gabriel, 2. Memastikan setiap siswa dapat berkomunikasi dengan teman, guru maupun saat presentasi diharapkan mendorong terbentuknya hubungan sosial yang harmonis dan saling menghargai. TA dapat mengurangi hambatan belajar. Semisal penggunaan pena baca untuk siswa yang sulit membaca. TA pena baca merupakan perangkat seperti pena yang secara otomatis akan membaca tulisan dalam buku yang telah dirancang secara khusus. Pena baca akan membantu siswa membaca secara mandiri dan memahami isi yang sedang dibaca (Schmitt. McCallum. Hennessey. Lovelace, & Hawkins, 2. Pena baca merupakan perangkat teknologi menengah yang sederhana, namun sangat berguna bagi siswa dengan kesulitan membaca agar lebih mudah belajar membaca, daripada menggunakan instruksi terbimbing untuk menangani siswa yang kesulitan membaca. Contoh perangkat lain yakni manipulatif virtual, perangkat ini dapat membantu siswa yang tidak mampu memvisualisasikan benda konkret untuk dimasukkan dalam kegiatan matematika menurut (Bouck. Park, & Stenzel. Manipulatif virtual adalah alat pembelajaran interaktif online yang dapat diakses melalui mouse atau keyboard. SIMPULAN Penggunaan TA dalam pendidikan inklusif memiliki peran sebagai jembatan untuk memberi dukungan teknologi bagi siswa penyandang disabilitas agar dapat belajar bersama dengan siswa normal. TA terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan kompleksitas teknologi, yakni teknologi asistif berteknologi rendah, menengah, dan tinggi. Sebagian besar TA difungsikan secara fungsional untuk mengatasi hambatan yang disebabkan atribut disabilitas yang dimiliki masing-masing siswa. Perangkat maupun aplikasi yang digunakan sebagai TA dalam kelas inklusif diharapkan dapat digunakan semua siswa tanpa terkecuali untuk menciptakan perasaan yang tidak berbeda bagi siswa disabilitas. Peran dan fungsi TA dalam pendidikan inklusif tidak hanya perlu diketahui siswa maupun guru yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. Peran dan fungsi TA perlu diketahui semua warga sekolah, orang tua siswa hingga pemangku kepentingan untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi siswa disabilitas. Setiap warga sekolah perlu mengetahui peran dan fungsi TA untuk memberikan bantuan kepada siswa disabilitas jika memiliki permasalah dengan perangkat TA yang digunakan sehingga segera dapat teratasi. Utamanya bagi orang tua siswa dengan diasbilitas perlu mengetahui peran dan fungsi TA untuk dapat memberikan informasi kepada guru dalam menentukan perangkat TA yang dibutuhkan berdasarkan kebiasaan maupun kesulitan yang dialami siswa. Bagi pemangku kepentingan mengetahui peran dan fungsi TA akan membatu memberikan pedoman dalam membuat kebijakan terkait pelayanan dan penyediaan TA bagi 60 | Edcomtech: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan. Volume 7. No 1. April 2022, 51-63 siswa disabilitas dalam pendidikan. Kedepannya pemahaman peran dan fungsi TA jika sudah dipahami secara umum akan menciptakan sikap toleransi dan saling menghargai sesama REFERENSI