PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DI SEKALH DASAR Norhayati SDN 4 Pangkalan Buton Bintan Kepulauan Riau Email: norhayatisdn4pangkalanbuton@gmail.com Abstrak Hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika khususnya pada materi operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif tahun pelajaran 2018/2019 sangat rendah. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan guru sekitar 70% mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum yang ditetapkan sekolah untuk pembelajaran Matematika kelas IV yaitu 60. Salah satu faktor yang menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah ketidaktepatan penggunaan model atau strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan di kelas. Hal ini disebabkan karena guru kurang memahami konsepsi siswa dan tidak membangkitkan perubahan konseptual siswa.Untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakannya penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode kooperatif tipe Team assisted Individualization (TAI) mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif pada pembelajaran Matematika Kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Hasil yang didapat setelah pelaksanaan penelitikan tindakan kelas dengan menerapkan metode kooperatif tipe Team assisted Individualization (TAI) selama 2 siklus penelitian adalah Pada Siklus II jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM pada perbaikan pembelajaran siklus II meningkat dari jumlah yang sebelumnya 10 orang menjadi 14 orang mendapatkan nilai diatas KKM. Pada siklus II ini terjadi pula penurunan jumlah siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM setelah dievaluasi yaitu hanya tinggal 6 orang atau sekitar 30% dari 20 orang siswa. Kata Kunci : Operasi Hitung Bilangan Bulat, Pemahaman Siswa, Team Assisted Individulization PENDAHULUAN Pada dasarnya pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama yakni siswa, kompetensi guru dan fasilitas pembelajaran. Pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang didalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar tejadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Dalam menciptakan iklim suasana dan pelayanan hal yang esensial bagi guru adalah memahami cara-cara siswa memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Siswa harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Pembelajaran matematika yang berlangsung dapat berjalan efektif dan menyenangkan jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi siswa. Hal ini merupakan suatu tantangan bagi guru matematika untuk senantiasa berpikir dan bertindak kreatif. Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 Fakta yang terjadi di kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV pada Senin, 23 Februari 2019 di SDN 4 Pangkalan Buton hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika khususnya pada materi operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif tahun pelajaran 2018/2019 sangat rendah. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan guru sekitar 70% mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum yang ditetapkan sekolah untuk pembelajaran Matematika kelas IV yaitu 60. Salah satu faktor yang menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah ketidaktepatan penggunaan model atau strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan di kelas. Hal ini disebabkan karena guru kurang memahami konsepsi siswa dan tidak membangkitkan perubahan konseptual siswa. Diantara konsep matematika yang sulit dipahami siswa adalah materi materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif dan negatif. Hal ini disebabkan rendahnya penguasaan siswa tentang fakta-fakta dan konsep operasi hitung bilangan bulat. Berdasarkan hasil wawancara tersebutlah disepakati bahwa penulis akan melaksanakan suatu upaya perbaikan pembelajaran di kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton . Dan peerbaikan pembelajaran tersebut akan disusun dalam suatu laporan perbaikan pembelajaran mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ini. Dalam penelitian ini, keberhasilan penelitian apa bila hasil tes siswa sudah berada dalam tingkat yang ditetapkan. Dalam penelitian ini ketercapaian dapat dilihat dari interval dalam katagori baik ( interval nilai 60 – 79). Belajar adalah suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, dan perubahan itu terjadi karena adanya usaha berupa latihan (Suryabrata, 1989:05). Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan, belajar bukan hanya mengingat,akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan (Hamalik,1995:36). Dengan demikian secara umum belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau 154 serangkaian aktivitas yang membawa suatu perubahan berkat pengalaman dan latihan-latihan baik melalui mendengar, merasakan, untuk dapat melakukan sesuatu yang tidaka dapat dilakukan sebelumnya. Menurut Soedjadi (2000:1) mengungkapkan beberapa defenisi atau pengertian tentang matematika, diantaranya : (1) Matematika adalah sebagai ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik. (2) Matematika adalah pengetahuan tentang pemikiran logic dan berhubungan dengan bilangan. (3) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. (4) Matematika adalah pengetahuan tentang aturanaturan yang ketat. Sugiatno (2001:18) menyatakan matematika adalah pengetahuan tentang kuantitas dan ruang, salah satu cabang dari sekian banyak cabang ilmu, yang sistematis, teratur, dan eksak. Matematika adalah angka-angka dan perhitungan yang merupakan bagian dari kehidupan manusia, matematika dapat membantu manusia menafsirkan secara eksak berbagai ide dan kesimpulankesimpulan. Menurut Soedjaji (2000:13) matematika memiliki Karakteristik sebagai berikut : (1) Memiliki objek kajian yang abstrak. (2) Bertumpu pada kesepakatan. (3) Berpola pkir deduktif. (4) Memiliki symbol yang kosong dari arti. (5) Konsisten dalam sistem. Selain itu, matematika sekolah berfungsi mengembangkan kemampuan berhitung, menurunkan dan menggunakan rumus diantaranya melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel ( dalam Ningsih, 2008 :22) Matematika sebagai alat bernalar sangat berperan dalam penerapannya kebidang studi lainnya. Adapun tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut : (1) Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidik, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsisten. (1) Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengemabngkan pemikiran Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba. (2) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. (3) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan, antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta dan diagram. (Lambas dkk, 2004:18). Jadi pembelajaran matematika adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa dengan sebaik-baiknya, agar mereka dapat belajar ilmu bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar. Pembelajaran kooperatif 155 didasarkan pada gagasan atau pemikiran bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar, dan bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar kelompok mereka seperti terhadap diri mereka sendiri. Menurut Muslimin Ibrahim (2001:6) Ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : (1) Siswa bekerja dalam suatu kelompok untuk menuntaskan materi. (2) Setiap kelompok terdiri dari berbagai individu yang memiliki kemampuan berbeda (3) Jika siswa terdiri dari individu yang berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda-beda, maka anggota kelompok haruslah heterogen. (4) Penghargaan lebih terorientasi kepada kelompok dari para individu. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel sebagai berikut (Muslimin Ibrahim, 2001 :10) : Tabel 1. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Fase Tingkah Laku Guru 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran siswa yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut. 2. Menyajikan informasi Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan 3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok- Guru membentuk kelompok belajar siswa dan kelompok belajar memantau setiap kelompok agar pelaksanaan tugas teratur 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan 5. Evaluasi Guru mengevaluasikan hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari dan masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka 6. Memberikan penghargaan Menurut Muslimin Ibrahim (2001:7) model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan penting, yaitu : (1) Hasil Belajar Akademik. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama dalam meyelesaikan tugastugas akademik (2) Penerimaan Terhadap Keragaman. Efek penting dari pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang luas terhadap orang lain yang berbeda ras, budaya, kelas ekonomi, kemampuan maupun ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk saling bergantung satu sama lain atas tugastugas bersama, dan belajar untuk menghargai satu sama lain. (3) Pengembangan Keterampilan Sosial. Tujuan ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki dalam masyarakat dimana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam. Menurut Slavin (2009:22) Pembelajaran kooperatif ini akan memberi manfaat bagi peserta didik dengan adanya peningkatan hasil belajar dan kemampuan kognitif peserta didik. Jika dilakukan dengan sempurna setiap peserta didik akan mempunyai tanggung jawab untuk tugasnya masing-masing serta berpeluang mempunyai pengetahuan yang lain melalui kelompok yang berbeda. Menurut Johnson (dalam Retna Kusumaningrum, 2007 : 17) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut : (1) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian social. (2) engembangkan kegembiraan belajar yang sejati. (3) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan. (4) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris. (5) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesame manusia. (6) Meneningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik. (7) Meningkatkan motivasi belajar instrinsik. (8) Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar. Pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe Team Assisted Individualization ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaranyang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa kekelompokkelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok dan semua anggota 156 kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Model pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization) merupakan salah satu dari pembelajaran kooperatif dengan dibentuk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang heterogen, terdiri dari 4-5 peserta didk dalam setiap kelompoknya dan diikuti dengan pemberian bantuan individu bagi peserta didik yang memerlukannya. Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama, tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah) dan sebagainya. Menurut Slavin (2009:190) membuat model ini dengan beberapa alasan, sebagai berikut : (1) Model ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program pengajaran individual. (2) Model ini memberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif. (3) Team Assisted Individualization (TAI) disusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnya dalam hal kesulitan belajar siswa secara individual. Menurut Suyitno 2004 (dalam Ana Kurniati 2007:20) Model Pembelajaran tipe TAI (Team Assisted Individualization) ini memilki 8 komponen, kedelapan komponen tersebut sebagai berikut : (1) Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa. (2) Placement test yaitu pemberian pretest kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu. (3) Student Creative yaitu melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan dimana keberhasilan individu ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya. (4) Team Study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkan. (5) Team Score and Team Recognition yaitu pemberian score terhadap hasil kerja kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas. (6) Teaching Group yaitu pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok. (7) Fact Test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa. (8) Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru kembali diakhiri waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah. Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 METODE PENELITIAN Subjek penelitian pada perbaikan pembelajaran kali ini adalah siswa-siswi beserta guru kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton yang siswanya berjumlah 20 orang anak dengan 11 orang siswa berjenis kelamin laki-laki dan 9 orang siswa berjenis kelami perempuan. 157 Tempat penelitian adalah SDN 4 Pangkalan Buton yang terletak di desa Pangkalan Buton Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara provinsi Kalimantan Barat.Perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus dan jadwal pelaksanaan perbaikan tersaji dalam Tabel 2 dibawah ini : Tabel 2.Jadwal Peneltian Tindakan Kelas SDN 4 Pangkalan Buton Kecamatan Sukadana Tanggal Waktu Jenis Kegiatan 23 Februari 2019 07.00 – 08.20 Wawancara dan Observasi Pra Siklus 16 Maret 2019 07.00 – 08.20 Siklus I 20 April 2019 07.00 – 08.20 Siklus II 10 s.d 23 Mei 2019 Setiap Hari Menyusun Laporan dan seminar Pelaksanan perbaikan pembelajaran ini Tahapan ini dilaksanakan untuk mengetahui segala dilaksanakan sebanyak dua siklus dan setiap sesuatu yang terjadi pada saat pelaksaan perbaikan siklusnya dilaksanakan dengan langkah-langkah pembelajaran. Baik itu berupa perkembangan seabagai berikut : (1) Tahap Perencanaan. Pada postif maupun negative saat pelaksanaan tahap ini penulis dan guru kelas melakukan perbaikan. Tahapan ini dilaksanakan dengan brainstorming atau berdiskusi untuk menyusun mengamati pelaksanaan perbaikan untuk rencana perbaikan pembelajaran dengan metode mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan dari kooperatif tipe TAI (Team Assisted perbaikan pembelajaran. Adapun instrument untuk Individualization). (2) Tahap Pelaksanaan. melakukan pengamatan di tahapan observasi ini Adapun tahap-tahap dalam model pembelajaran adalah dengan menggunakan lembar observasi. (4) Team Assisted Individualization adalah sebagai Tahap Refleksi. Setelah mendapatkan hasil berikut : (a) Guru menyiapkan materi bahan ajar pengamatan pada tahapan refleksi ini adalah saat yang akan diselesaikan oleh kelompok siswa. (b) dimana penulis dan guru kelas mengoreksi atau Guru memberikan pre-test kepada siswa atau bercermin dari pelaksanaan perbaikan melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru pembelajaran yang dilakukan, sudah sesuikah mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu. pelaksanaan perbaikan dengan apa yang menjadi (c) Guru memberikan materi secara singkat. (d) tujuan dari perbaikan pembelajaran. Apabila Guru membentuk kelompok-kelompok kecil yang belum tercapai tujuan perbaikan pembelajaran heterogen tetapi harmonis berdasarkan nilai maka hendaknya perlu dilakukan lagi perbaikanulangan harian, setiap kelompok 4-5 siswa. (e) perbaikan demi tercapainya tujuan di pelaksanaan Setiap kelompok mengerjakan tugasdari guru perbaikan pembelajaran di siklus berikutnya.\ berupa LKS yang telah dirancang sendiri Berdasarkan hasil refleksi siklus I apabila sebelumnya, dan guru memberikan bantuan secara masih belum tercapai tujuan perbaikan maka individual bagi yang memerlukannya. (f) Ketua dilaksanakanlah siklus II dengan perbaikankelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya perbaikan yang direncanakan sesui dengan dengan mempresentasikan hasil kerjanya dan siap prosedur pelaksanan siklus I namun dilakukan untuk diberi ulangan oleh guru. (g) Guru dengan lebih baik. memberikan Post-test untuk dikerjakan secara Dalam setiap penelitian diperlukan individu. (h) Guru menetapkan kelompok terbaik kemampuan memilih dan menyusun teknik dan sampai kelompok yang kurang berhasil (jika ada) alat pengumpul data yang relevan. Kecermatan berdasarkan hasil koreksi. (i) Guru memberikan dalam memilih dan menyusun teknik dan alat penghargaan bagi kelompok yang terbaik sampai pengumpul data sangat berpengaruh pada yang kurang berhasil (jika ada). (j) Guru objektivitas hasil penelitian. Teknik dan alat memberikan tes formatif sesuai dengan pengumpulan data yang tepat dalam suatu kompetensi yang ditentukan. (3) Tahap Observasi. Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 penelitian akan memungkinkan dicapainya pemecahan masalah secara valid dan reliabel. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : (1) Teknik Observasi Langsung. Observasi atau pengamatan adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja panca indera mata serta dibantu dengan panca indra lainnya. Sedangkan observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung pada objek yang observasikan. Teknik observasi langsung dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keaktifan siswa dalam penerapan model Pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization. Teknik komunikasi tidak langsung adalah cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengadakan hubungan tidak langsung atau dengan perantara alat, baik berupa alat yang sudah tersedia maupun alat khusus yang dibuat untuk keperluan itu (Nawawi, 1995:95). Teknik komunikasi tidak langsung dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dengan bantuan Lembar Kerja Siswa pada materi operasi bentuk aljabar khususnya operasi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. (3) Teknik Pengukuran Pengukuran berarti usaha untuk mengetahui suatu keadaan berupa kecerdasan, kecakapan nyata (achievement) dalam bidang tertentu, panjang, berat, dan lain-lain dibandingkan dengan norma tertentu (Nawawi, 1995:125). Teknik pengukuran adalah cara mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif. Teknik pengukuran dilakukan untuk mengetahui data hasil belajar siswa pada materi operasi bentuk aljabar. Kegiatan pengukuran yang dimaksud adalah pemberian tes akhir (post-test) berbentuk essay. Dalam menghitung hasil tes menggunakan pengskoran dengan memberikan siswa skor setiap butir soal yang dijawab dengan benar sesuai dengan tabel pengskoran dan kunci jawaban. Setelah diperoleh skor hasil tes, siswa diberikan nilai. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut: (1) Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa. Lembar pengamatan aktivitas siswa yang digunakan adalah untuk melihat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam menilai aktivitas siswa, demi 158 mengurangi subjektivitas maka peneliti berkolaborasi dengan dua orang guru sebagai pengamat. Guru tersebut mengamati aktivitas siswa sejak awal kegiatan pembelajaran sampai guru menutup pelajaran. Adapun kategori pengamatan aktivitas siswa yaitu: (a) Bersikap yang tidak relevan dalam KBM (Tidur, bergurau, sering keluar masuk kelas yang tidak ada urusan, tidak memperhatikan penjelasan guru, membaca buku yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran). (b) Mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh. (c) Membaca dan memahami materi pelajaran pada buku siswa dan LKS. (d) Berpartisipasi aktif terhadap pembelajaran. (e) Mengerjakan tugas dan mengumpulkannya tepat waktu. Alat yang digunakan untuk memperoleh data hasil belajar pada materi operasi bentuk aljabar khususnya operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif dan negatif adalah memberikan tes akhir (post-test) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Jenis tes yang digunakan tes tertulis dengan bentuk essay. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) di kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton pada materi oprasi hitung bilangan bulat postif dan negative pembelajaran Matematika semester genap tahun pelajaran 2018/2019 sebanyak dua siklus maka didapatlah beberapa hasil yang diperoleh berdasarkan hasil observasi. Adapun data yang diperoleh terdiri dari 2 jenis data yaitu : (1) Data tingkat keaktifan siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). (2) Data Hasil Tes atau Evaluasi siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) Data yang pertama adalah data tingkat keaktifan siswa siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 159 : Tabel 3. Data Tingkat Tingkat Keaktifan Siswa Prasiklus, Siklus I dan Siklus II Tingkat keatifan siswa No Nama Pra Siklus Siklus I Siklus II 1 ANF Aktif Aktif Aktif 2 AD Pasif Aktif Aktif 3 A Pasif Pasif Pasif 4 B Aktif Aktif Aktif 5 BI Pasif Pasif Aktif 6 BH Pasif Aktif Aktif 7 CA Pasif Pasif Pasif 8 CW Aktif Aktif Aktif 9 DH Aktif Aktif Aktif 10 DD Aktif Aktif Aktif 11 EF Pasif Pasif Pasif 12 E Pasif Aktif Aktif 13 ES Pasif Aktif Aktif 14 FY Pasif Pasif Pasif 15 LL Pasif Pasif Aktif 16 MN Aktif Aktif Aktif 17 MA Pasif Pasif Pasif 18 RA Pasif Pasif Aktif 19 T Pasif Pasif Aktif 20 Y Pasif Pasif Aktif Sumber : Hasil Pengamatan prasiklus s.d siklus II Februari s.d April 2019 Data kedua adalah data Hasil Tes atau Evaluasi siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Data ini menentukan tingkat keberhasilan pelaksanaan perbaikan pembelajaran kali ini. Adapun data tersebut tersaji dalam bentuk tabel berikut ini : Tabel 4. Data Hasil Tes atau Evaluasi Siswa Kelas IV SDN 03 Munting Prasiklus, Siklus I Dan Siklus II Hasil Evaluasi Siswa No Nama Pra Siklus Siklus I Siklus II 1 ANF 65 65 75 2 AD 55 60 70 3 A 50 55 55 4 B 70 75 80 5 BI 55 55 60 6 BH 55 60 65 7 CA 50 50 55 8 CW 60 65 75 9 DH 65 70 70 10 DD 75 75 80 11 EF 55 55 55 12 E 50 60 60 13 ES 50 60 65 160 Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 14 FY 55 15 LL 55 16 MN 60 17 MA 55 18 RA 55 19 T 50 20 Y 50 Sumber : Hasil Test prasiklus s.d siklus II Februari s.d April 2019 Pembahasan Penelitian Berdasarkan data pelaksanaan pembelajaran Matematika pra siklus pada tabel 3 mengenai tingkat keaktifan belajar siswa pra siklus atau sebelum diterpkannya pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada pembelajaran Matematika kelas IV adalah sekitar 6 orang siswa atau sekitar 30% dari 20 orang siswa yang aktifitasnya tergolong aktif saat pembelajaran belajar Dan sekitar 14 orang atau sekitar 70% dari 20 orang siswa yang saat pembelajararn berlangsung tergolong pasif. Hal ini dikarenakan metode yang diapakai oleh guru sebelum perbaikan pembelajaran sangat membosankan sehingga siswa tidak memiliki gairah belajar yang tinggi sehingga hal ini berhubungan dengan tingkat keaktifan belajar siswa sangat rendah. Setelah dilaksanakannya perbaikan pembelajaran pada siklus I tingkat kekatifan siswa saat pelaksanaan pembelajaran mulai mengalami peningkatan dari yang sebelumnya hana 30% dari 20 orang siswa yang aktif di kelas meningkat 20% menjadi 50% siswa yang aktif saat pembelajaran. Dan dari yang sebelumnya ada 70% dari 20 orang siswa yang pasif saat pembelajaran berkurang sebanyak 20% sehingga hanya tinggal 50% siswa yang pasif saat pembelajaran/ Hasil ini tentunya belum memuaskan dan belum sesuai dengan tujuan perbaikan walupun tingkat keaktifan siswa mulai meningkat walaupun jumlahnya masih sangat kecil. Untuk itu dilaksanakanlah siklus II, pada tabel 3 terdapat data tingkat keaktifan siswa pada pelaksanaan pembelajaran siklus II. Pada siklus I persentase jumlah siswa yang aktif sekitar 50% pada siklus II meningkat menjadi 70% dari 20 orang siswa yang aktif saat pelaksanaan pembelajaran. Pada siklus I terdapat 50% siswa yang pasif saat pembelaajran pada siklus II berkurang 20% menjadi hanya tinggal 30% siswa yang pasif saat pembelajaran 50 55 70 55 55 55 55 55 60 70 55 60 60 60 setelah diterapkannya perbaikan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada siklus II. Tingkat aktifitas belajar ini berpengaruh terhadap tingkat pemahaman siswa, siswa yang antusias saat pembelajaran maka akan memiliki tingkat pemahaman yang tinggi pula terhadap materi yang disampaikan hal ini dikarenakan rasa keingin tahuan yang tinggi mendorong mereka untuk menerima ilmu dengan baik. Berdasarkan tabel 4 menunjukan data Hasil Tes atau Evaluasi siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) data ini yang menentukan mampu atau tidaknya metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) meningkatkan pemahaman siswa kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton . Pada tabel tersebut sebelum diterapkannya pembelajaran dengan metode kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) atau pra siklus jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM hanya 6 orang hal ini sama dengan 30% dari 20 orang siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM. Dan siswanya 14 orang atau sama dengan 70% dari 20 orang siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM setelah dievaluasi meningkat menjadi 10 orang atau sama dengan 50% dari 20 orang siswa. Dan terjadi penurunan pada jumlah siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM yang sebelumnya berjumlah 14 orang berkurang menjadi 10 orang yang mendapatkan nilai dibawah KKM hal ini sama dengan 50% dari 20 orang siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Pada Siklus II berdasarkan tabel 4 jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM pada perbaikan pembelajaran siklus II meningkat dari jumlah yang sebelumnya 10 orang menjadi 14 Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan Vol. 4 No.2, Oktober 2020 – Maret 2021 orang mendapatkan nilai diatas KKM. Pada siklus II ini terjadi pula penurunan jumlah siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM setelah dievaluasi yaitu hanya tinggal 6 orang atau sekitar 30% dari 20 orang siswa. Dari pembahasan data diatas penulis mendapatkan bukti nyata bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada materi operasi hitung bilangan bulat positif dan negative pembelajaran Matematika mampu meningkatkan pemahaman siswa kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Hal ini dikarenakan metode ini mampu membuat siswa aktif saat pembelajaran dikelas karena dilakukan secara berkelompok. Dan siswa terbiasa mengkontruksi sendiri konsep materi operasi hitung bilangan bulat postif dan negative. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas IV SDN 4 Pangkalan Buton penulis mencoba menarik beberapa kesimpulan. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik penulis adalah sebagai berikut : (1) Dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) keaktifan belajar siswa meningkat. (2) Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pemahaman siswa terhadap konsep operasi hitung bilangan bulat postif dan negatif meningkat. (3) Metode kooperatif sangat efektif diterapkan untuk penyamapaian materi pembelajaran Matematika yang merupakan pembelajaran yang menuntut penguasaan konsep, bukan hapalan. 161 Saran Adapun saran dan tindak lanjut yang dapat diberikan penulis pada perbaikan pembelajaran kali ini adalah : (1) Metode pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) sangat tepat untuk diterpakan pada pembelajaran Matematika. (2) Guru sebagai penyampai ilmu harus mampu menggunakan metode yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Karena metode yang dipergunakan harus sesuai dengan tingkat kesukaran dan jenis materi pembelajaran. (3) Guru harus lebih banyak lagi belajar menggunakan metode yang variatif untuk mencegah kebosanan. DAFTAR PUSTAKA Abror, Rahman. (1993). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana. Antono, dkk (2006). Buku Matematika IV SD/MI, Jakarta: Erlangga Arikunto. S. ( 1990 ). Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Azhar, M.L. (1993). Proses Belajar Mengajar Pola CBSA. Surabaya: Usaha Offset Printing. Baharuddin, dkk. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Purnomo, J. (2010). Mahir Matematika Kelas IV SD, Surabaya : Sinar Pustaka Rosadila. (2007). Penerapan Pendekatan Team Assisted Individualization (TAI) Pada Kelas XI SMA Negeri 8 Pontianak : STKIP PGRI. Rusyani, tabrani dkk. (1989). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: FKIP Uninus