Intensitas Pacaduan dalam Pola Hidup Masyarakat Kampung Sarkanjut Hadianto1. Retno Dwimarwati2. Dinda Satya Upaja Budi3 Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB). Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung AJl. Soekarno Hatta No. Kb. Lega. Kec. Bojongloa Kidul. Kota Bandung, 40235 Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 antohadi@gmail. com, 2rdwimarwati@gmail. com, 3dindasatya@gmail. ABSTRACT The pattern of community life is the result of ancestral ideas for the future life of the community. This lifestyle is agreed upon by certain communities as a way of life and is passed on to the next The pattern of life in the Sundanese people is passed down from karuhun or ancestors to their descendants through oral tradition. This is intended to facilitate the process of inheritance. One of the oral traditions found in the lifestyle of the people of Sarkanjut village is pacaduan. Pacaduan or prohibition in the life of Sarkanjut people consists of cadu beunghar and cadu nyinghareup kaler. Those two pacaduan or prohibition have a deep message to convey. The method used in this study was qualitative by using the intensity approach of representation theory. This approach is aimed to reveal the reasons why cadu beunghar and cadu nyinghareup kaler exist in Sarkanjut community. This research tries to understand the conventions or rules mentioned in the races so that they can be understood and be implemented by the people of Sarkanjut todays. Keywords: Pattern of life, oral tradition, competition, intensity, representation ABSTRAK Pola hidup masyarakat merupakan hasil pemikiran leluhur untuk kehidupan masyarakat yang akan datang. Pola hidup ini disepakati oleh masyarakat tertentu sebagai pegangan hidup dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Pola hidup pada masyarakat Sunda diwariskan dari karuhun atau leluhur kepada keturunannya melalui tradisi lisan. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mempermudah proses pewarisannya. Tradisi lisan yang ditemukan dalam pola hidup masyarakat kampung Sarkanjut salah satunya adalah Pacaduan atau larangan dalam kehidupan masyarakat Sarkanjut terdiri dari cadu beunghar dan cadu nyinghareup kaler, dari kedua pacaduan tersebut tentunya memiliki pesan mendalam yang ingin disampaikan. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan intesitas dari teori representasi, pendekatan ini dimaksudkan agar dapat diketahui dapat ditemukan alasan-alasan mengapa hadirnya cadu beunghar dan cadu nyinghareup kaler pada masyarakat Sarkanjut. Penelitian ini diharapkan dapat memahami konvensi atau aturan yang disebutkan dalam pacaduan hingga dapat dipahami secara logis dan dapat dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat Sarkanjut saat ini. Kata Kunci: Pola hidup, tradisi lisan, pacaduan, intensitas, representasi Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 PENDAHULUAN tatanan kehidupan masyarakat yang tertata Latar Belakang dan teratur, pola hidup ini disepakati oleh masyarakat tertentu sebagai pegangan Sarkanjut adalah sebuah kampung yang hidup dan diwariskan kepada generasi terletak di Desa Dungusiku. Kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut. Hal ini disampaikan Sumardjo dalam pendapatnya yaitu AuBudaya adalah memiliki luas /- 2,786. 24 mA dengan jumlah cara berpikir kolektif yang merupakan segi penduduk kampung Sarkanjut /- 1800 operasional suatu proses cara kerja dan Dalam kesehariannya masyarakat Kampung Sarkanjut bertindak yang dinilai baik, benar, bagus, pantas dan seharusnya menurut pandangan atau tatanan kehidupan yang mengikat, masyarakat budaya hadir dalam benda- aturan-aturan tersebut kemudian menjadi benda budayanya yang dihasilkan dengan pedoman hidup hingga pada akhirnya dasar cara berpikir tertentuAy (Sumardjo, menjadi pola hidup sampai saat ini. 2015: . Pola hidup Masyarakat suatu daerah terlahir dari hasil pemikiran leluhur untuk Gambar 1 Peta Sarkanjut (Dokumentasi: Hadianto, 2. Hadianto. Dwimarwati. Satya U. B: Intensitas Pacanduan dalam Pola Hidup Masyarakat Kampung Sarkanjut Pola hidup menjadi identitas yang nilai-nilai khusus yang ingin disampaikan, menjadi pembeda antara suatu masyarakat pesan tentang nilai-nilai kesundaan yang dengan masyarakat yang lainnya, sehingga berkaitan dengan hidup manusia Sunda bisa menjadi jati diri suatu masyarakat di dunia ini. Dalam tradisi Sunda, tradisi seperti pendapat Hoed yang menyebutkan lisan sangat berperan penting terhadap bahwa Aujati diri atas identitas suatu bangsa perkembangan peradaban Sunda itu sen- dapat dikaitkan dengan kebudayaan bangsa diri, hal ini dikarenakan dalam kebudayaan tersebutAy (Hoed, 2011: . Pola hidup ini Sunda ditemukan banyak artefak budaya diwariskan dengan berbagai macam cara yang tidak berbentuk. Hal ini selaras agar dapat mudah dipahami dan dilakukan dengan pendapat Sumardjo menyatakan oleh generasi penerusnya, salah satunya bahwa Aukebudayaan Sunda pada dasarnya adalah dengan menggunakan tradisi lisan intangible, sebab terdapat di dalam benak sebagai media penyampaiannya. masyarakatnya, namun tetap bisa dikenali dari hasil-hasil tangible berbentuk artefak Tradisi lisan dalam kebudayaan Sunda banyak ditemukan, baik dari cerita mitos, pantun, paribasa, dan lain-lain. Dalam (Sumardjo, 2015: . tradisi lisan tersebut memiliki arti dan Gambar 3 Kampung Sarkanjut (Dokumentasi: Hadianto, 2. SundaAy Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 Berdasarkan tradisi lisan yang hadir Sumedang-Bandung, pada kehidupan masyarakat Sarkanjut jalan yang dibuat pada lahan bukit cadas yang kita kenal sekarang dengan sebutan macam, salah satunya adalah Pancaduan. Cadas Pangeran. Hingga karuhun membuat Pacaduan adalah salah satu tradisi lisan larangan agar rumah tidak menghadap yang menarik untuk diteliti lebih dalam, ke utara karena posisi Sumedang berada karena pacaduan hanya berlaku disuatu disebelah utara kampung Sarkanjut, bah- tempat dan masyarakat karena sifatnya kan ada larangan untuk menikah dengan yang mengikat pada masyarakat tempat keturunan masyarakat Sumedang. Hal ini Pacaduan atau dalam Bahasa pun tidak dapat dipahami secara logika Indonesia berarti larangan, dalam tradisi bahkan masih dapat diperdebatkan apakah saat itu sengaja dipekerja-paksakan atau dipercayai dan dijadikan konvensi dalam mungkin bisa juga sama-sama dijebak kehidupan sehari-hari, karena bersifat untuk mengerjakan proyek tersebut secara esoteris konvensi yang berlaku ditempat Sunda tertentu dapat mengakibatkan hukuman Metode yang terkadang tidak logis. Data pada penelitian kajian intensitas Menariknya tradisi lisan mengenai ini menggunakan metode penelitian kuali- pacaduan dalam kebudayaan masyarakat tatif, di mana dalam metode ini dilakukan kampung Sarkanjut tidak lazim dalam survei pengumpulan data dan analisis kehidupan manusia pada umumnya, se- Teknik pengumpulan data dilakukan perti cadu beunghar dan cadu nyingharep observasi secara langsung dengan me- Cadu beunghar atau larangan kaya wawancara tokoh-tokoh masyarakat un- tersebut tidak dapat dipahami secara logika tuk mengetahui asal-usul atau sasakala modern, karena pada dasarnya masyarakat langsung mengamati kebiasaan pola hidup modern akan berpikir secara logis untuk kebiasaan dan studi kepustakaan tentang berusaha mengumpulkan kekayaan agar pola hidup masyarakat di Jawa Barat. dapat bertahan hidup dan juga agar Konsep pendekatan Intensitas me- hidup lebih mapan. Oleh karena itu perlu rupakan salah satu bagian dari pendekatan digali Kembali apa pesan yang ingin di- dalam teori representasi Stuart Hall. Hall sampaikan oleh karuhun Sarkanjut kepada dalam Teori Representasi (Hall, 1997: . keturunannya, hal yang tidak mungkin yang mengemukakan 3 . cara pen- apabila karuhun menginginkan kehidu- dekatan yaitu: pan turunannya dalam serba kekura- Pendekatan Refleksi (Reflective app- Begitupun dengan cadu nyinghareup roac. , yang menjelaskan bahwa ciri- kaler, pacaduan ini hanya dapat dipahami ciri baik secara fisik ataupun non fisik berdasarkan cerita traumatis masyarakat warga kampung Sarkanjut berfungsi Sarkanjut pada masa lalu. Cerita bagaimana seperti cermin yang merefleksikan karuhun dipekerjakan secara paksa tanpa kebudayaan kampung Sarkanjut. dibayar atau lebih dikenal dengan kerja rodi, untuk membuat jalan yang akan Hadianto. Dwimarwati. Satya U. B: Intensitas Pacanduan dalam Pola Hidup Masyarakat Kampung Sarkanjut kan dengan budaya, seperti pendapatnya yang menerangkan bahwa: AuKonsep menghubungkan makna, bahasa dan budaya. Representasi berarti menggunakan bahasa untuk mengatakan sesuatu yang bermakna tentang, atau untuk mewakili, dunia secara bermakna, ke-pada orang lainAy (Hall, 1997: . Menurut Stuart Hall, representasi adalah AuSalah satu praktek penting yang mempresentasi kebudayaan. Gambar 4 Teori Circuit of Culture (Sumber: Hall, 1997:. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut Aopengalaman berbagiAo. Seseorang di- Pendekatan (Intentional katakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada di mengekspresikan arti personal dari dalamnya membagi pengalaman yang Peng- sama, membagi kode-kode kebudayaan gunaan bahasa Sunda dengan aksen yang sama, berbicara dalam AobahasaAo yang dan penekanan nada dapat meng- sama, dan saling berbagi konsep-konsep ekspresikan karakter dan sifat warga yang samaAy (Hall, 1997: . Intensitas Sarkanjut. Konsep di atas memberikan arahan Pendekatan Konstruksi (Constructionist bahwa bahasa merupakan hal paling approac. yaitu pendekatan ini membu- penting dalam konstruksi kebudayaan, ka kembali ciri-ciri masyarakat kam- bahasa dijadikan sebagai sarana untuk pung yang terlupakan dan hilang saat menyampaikan pesan yang ingin di- Mengumpulkan kembali memori sampaikan melalui budaya suatu tempat. tentang tradisi lisan yang mencerita- Bahasa kemudian dijadikan alat paling kan kehidupan masyarakat terdahulu efektif untuk menyampaikan informasi tentang ajaran kebaikan diharapkan tentang makna dari suatu hal dan mewakili dapat menghidupkan kembali karakter hal tersebut sehingga dapat dimengerti kebudayaan masyarakat kampung Sar- oleh orang lain, walaupun tetap memiliki kendala ketika jenis bahasa yang diper- Representasi dapat membantu mem- gunakan untuk menyampaikan pesan permudah penelitian tentang budaya de- berbeda dengan bahasa yang digunakan ngan cara menghubungkan antara makna oleh si penerima pesan. Akan tetapi dengan bahasa yang akhirnya dihubung174 Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 perbedaan bahasa ini dapat dengan mudah 2019: . Secara etimologi Cadu Beunghar bisa diartikan menjadi pantang untuk sehingga proses representasi budaya pun kaya, hal yang bertolak belakang dengan dapat mudah diterima dan dimengerti oleh maksud dari pernyataannya, cadu beunghar orang lain. tidak berarti tidak ingin kaya tetapi cadu Pendekatan intensitas dalam penelitian beunghar memiliki arti membuang sikap- ini berfungsi untuk mengenal kembali sikap orang kaya yang tidak peduli dengan aturan-aturan tidak tertulis atau konvensi yang hadir dalam kehidupan masyarakat menganggap harta kekayaan tidak dapat Kampung Sarkanjut dan diteliti agar dapat berguna bila cara bersikap manusianya dipahami secara logis oleh masyarakat masih menganggap harta adalah segalanya. Sarkanjut saat ini, supaya aturan-aturan alasannya adalah masyarakat Sarkanjut tersebut bukan hanya sebuah pamali bersifat esoteris. Hingga konvensi-konvensi titipan dari Tuhan yang juga didalamnya yang hadir dalam kehidupan masyarakat terdapat hak orang-orang miskin yang Sarkanjut agar dapat dipahami secara berada disekitarnya. utuh, terkait dengan pesan yang ingin Masyarakat Sarkanjut Cadu Nyinghareup Ka Kaler disampaikan oleh karuhun dalam pacaduan Menurut wawancara dengan Bu Kanah . ), menceritakan bahwa karuhun kam- HASIL DAN PEMBAHASAN pung dulu diajak bekerja di suatu tempat di Sumedang, dengan imbalan upah Pancaduan yang hadir dalam kehidupan yang lumayan besar. Pekerjaannya adalah masyarakat Sarkanjut, di antaranya adalah: membuat jalan yang akan menghubung- Cadu Beunghar kan Bandung dengan Sumedang, untuk Menurut hasil wawancara dengan Bu Tati . , menceritakan bahwa dahulu Harapan warga yang bekerja di ada seorang yang kaya raya dan rajin proyek pembuatan jalan ternyata berbeda Hingga suatu saat dia tersadar dengan kenyataan, ternyata mereka beker- bahwa berapa pun uang yang dia keluarkan ja tanpa mendapatkan gaji atau kita kenal untuk menolong sesama, maka semakin degan istilah kerja rodi. bertambah banyak harta yang dimilikinya. Berita tersebut tersiar setelah ada Pada akhirnya dia merasa harta yang beberapa orang yang berhasil melarikan dimilikinya terlalu tidak berimbang de- diri dan kembali ke kampung, dan ngan kondisi perekonominan tetangganya, mengakibatkan rasa trauma yang cukup hingga dia berucap AuCadu BeungharAy. Cadu dalam bahasa Sunda berarti pantra- bekerja disana. Pada akhirnya untuk ngan (Danadibrata, 2015: . atau dalam mengurangi rasa trauma tersebut karuhun Bahasa Indonesia berarti pantang (Satjadi- masyarakat memilih menutup hubungan brata, 2019: . sementara beunghar dalam Bahasa Sunda berarti loba rajakayana Sumedang, itu terucaplah Aucadu nyinghareup ka kalerAy (Danadibrata, 2015: . atau dalam Baha- sa Indonesia berarti kaya (Satjadibrata. Hadianto. Dwimarwati. Satya U. B: Intensitas Pacanduan dalam Pola Hidup Masyarakat Kampung Sarkanjut menikah dengan daerah kaler (Sumedan. paksa dalam pembangunan jalan cadas Dari kedua pacaduan diatas kemudian Karuhun kampung ada yang diuraikan agar dapat dipahami, yaitu Cadu menjadi korban akan tetapi ada beberapa Beunghar ini apabila kita hanya mengarti- yang berhasil melarikan diri dan kembali ke kan secara etimologi dan menggunakan kampung hingga terucap cadu nyinghareup sudut pandang masyarakat modern, seakan ka kaler . e arah Sumedan. Kedua pacaduan masyarakat kampung Sarkanjut memiliki ini tidak dapat dijelaskan secara rasional prinsip hidup yang tidak lazim. Karena pada tentang pesan yang akan disampaikannya, dasarnya bagi kebanyakan manusia, akan bahkan terkesan mengedepankan sifat mempertahankan hidup dengan mencari individu dan traumatik terhadap masalah harta sebanyak-banyaknya untuk bekal dia dan masyarakat di suatu daerah. Hal ini hidup di dunia. Pada akhirnya pancaduan terasa janggal dan tidak sesuai dengan ini seakan-akan yang bertolak belakang kebiasaan masyarakat Sunda Akan tetapi tentunya hal ini dapat manusia yang lebih mementingkan ke- dibuktikan secara rasional berdasarkan pengetahuan, bukan hanya berdasarkan harta, mempunyai jabatan, titel, kekuasaan. mitos yang belum tentu kebenarannya. Bagi mayoritas manusia modern harta. Menurut titel, jabatan dan kekuasaan menjadi simbol buku Simbol-Simbol Mitos Pantun Sunda keberhasilan dalam menjalani kehidupan, (Sumardjo, 2013: 437-. yang salah sehingga manusia modern saat ini seperti satu babnya membahas tentang Pantun kehilangan jati diri sebagai mahluk sosial Munding Kawati. Sumardjo menjelaskan yang saling membutuhkan. Cadu beunghar bahwa dalam bab Pantun Munding Kawati dengan sub bab yang berjudul Rajah arti tersendiri, berdasarkan mitos yang bahwa AuApenyebutan Istigfar sebanyak diceritakan oleh narasumber menyebut- empat puluh kali merupakan bagian dari kan bahwa diceritakan seorang kaya raya akulturasi budaya Sunda dengan ajaran yang merupakan keturunan asli Sarkanjut IslamAAy. Begitu pun dengan paham empat yang selalu berupaya menyedekahkan pancar pembentuk manusia yang masih hartanya untuk lingkungan sekitarnya digunakan dan tercantum dalam pantun tetapi sedekahnya itu tidak mampu mem- tersebut, empat pancar ini ditelaah oleh Sumardjo ke dalam nilai-nilai mata angin Sarkanjut Sumardjo dalam paririmbon. Bahkan hartanya tidak pernah berkurang Manusia merupakan penggabungan lingkungannya masih hidup serba ke- dari keempat arah angin tersebut, yaitu Ketimpangan ekonomi ini yang arah utara digambarkan dalam ilustrasi dihindari oleh si kaya raya ini, hingga sebagai perwujudan tanah, warna hitam, terucap cadu beunghar. pangucap dan sawiyah, selatan digambarkan Kemudian cadu nyinghareup ka kaler, sebagai perwujudan api, warna merah, dalam kisahnya pacaduan ini dikaitkan panguping dan tamarah, barat diilustrasikan dengan karuhun kampung Sarkanjut yang sebagai perwujudan angin warna kuning, merasa tertipu karena dipekerjakan secara Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 memusatkan mereka ke dalam perihal yang bertolak belakang dengan prinsip kehidupan sebagai masyarakat Sunda dan dogma Islam. Warga Sarkanjut memilih membebaskan diri dari nafsu keduniawian dalam bentuk prinsip hidup yaitu Aucadu beungharAu. Masyarakat kehi-dupan. Sarkanjut ingin terjebak dengan nafsu keduniawian yang pada akhirnya memunculkan sifat serakah dan sifat-sifat negatif lainnya seperti minum minuman keras, korupsi, judi dan prostitusi. SIMPULAN Apabila ngan cerita masyarakat kampung Sarkanjut yang membahas tentang cadu beunghar dan cadu nyinghareup ngaler, muncul ke- Gambar 3 samaan persepsi tentang me- Arah mata angin berdasarkan paririmbon ngapa tidak diperbolehkannya (Dokumentasi: Hadianto, 2. rumah untuk menghadap utara. Alasan timur diilustrasikan sebagai perwujudan traumatis tentunya dapat dibantah dan air, warna putih, paningal dan loamah. dapat menjadi rasional, ketika masyarakat Utara atau dalam hali ini sawiyah dalam Sarkanjut sejatinya tidak ingin mengikuti penjelasan di atas merupakan penjabaran kata hati atau nafsu ke-duniaan yang dari manusia yang mempunyai alat indra dapat mengarahkan mereka ke dalam berupa pengecap melalui lidah, yang dapat hal yang buruk baik menurut prinsip digunakan juga sebagai pengucap. Utara juga merupakan perwujudan sawiyah yang Sunda agama Islam. Masyarakat Sarkanjut ingin berarti nafsu hewani dalam diri manusia, melepaskan nafsu kekuasaan akan harta yaitu nafsu-nafsu yang mendorong untuk yang dipertegas dengan Aucadu beungharAu meminum minuman keras, berhubungan yang membuat masyarakat Sarkajut tetap badan, maling, korupsi dan judi. rendah hati dengan segala kekayaannya. Oleh karena itu warga Sarkanjut sejati- nya tidak mau menjajaki kata hati ataupun Hadianto. Dwimarwati. Satya U. B: Intensitas Pacanduan dalam Pola Hidup Masyarakat Kampung Sarkanjut tenang dan dapat berbagi dengan sesama. Dalam kehidupan sosialnya masyarakat kampung Sarkanjut menganggap bahwa harta merupakan alat untuk mempererat hubungan dengan tetangga, dan tetangga adalah harta yang sesungguhnya. Harta atau rezeki tidak akan pernah habis dengan cara sedekah, justru harta akan semakin banyak datang kembali. Rezeki tidak harus berupa materi atau kekayaan berupa fisik, tetapi rezeki dapat datang berupa ketentraman hati. Kesehatan dan kegembiraan bersama. Masyarakat Sarkanjut juga mengisyaratkan menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk manusia yang dapat merusak dirinya sendiri baik secara fisik maupun secara psikologis, yang dipertegas dengan melarang untuk menghadap kearah utara. Karena utara dianggap sebagai perwujudan sifat-sifat buruk manusia, seperti mabuk-mabukan, maling, korupsi dan perjudian. Hanya saja manusia terkadang seakan lupa terhadap kodratinya sebagai mahluk sosial, bahkan merasa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya berasal dari diri sendiri. Lalu muncullah sifat sombong, tamak dan ingin menang sendiri yang kemudian membentuk pribadi yang bersikap tidak menghargai orang Manusia lupa bagaimana Tuhan telah memberikan jalan kehidupan yang dirangkaikan dengan perjalanan hidup orang lain, untuk saling membantu dalam rangka mewujudkan takdirnya sebagai Hingga manusia lupa akan apa yang telah dilakukan manusia lain untuk perjalanan hidupnya, manusia merasa apa yang telah diraihnya adalah hasil kerja kerasnya selama ini padalah ada manusia lain yang memberikan bantuan untuk dirinya sesuai dengan apa yang diarahkan Tuhan dalam takdirnya. Dalam masyarakat Sunda manusia atau dalam Bahasa Sunda disebut manusa merupakan singkatan yang memiliki arti mendalam, yaitu manu-sa. Ma berasal dari atau merupakan kependekan dari kata mana yang berarti mana, nu berasal dari kata anu yang berarti yang dan sa berasal dari kata sia yang berarti kamu atau anda. Apabila masingmasing kata Aumana anu siaAy digabungkan maka akan menjadi kalimat tanya yaitu mana nu sia? yang memberikan pengertian menanyakan mana yang merupakan milik kita, pertanyaan yang menegaskan bahwa semua yang kita anggap miliki dalam kehidupan di dunia ini bukanlah milik kita. Baik harta yang berupa materi ataupun harta berupa keluarga termasuk anak kandung sendiri bahkan jabatan hanyalah titipan dari Tuhan yang suatu saat akan nanti bisa diambil dari kita dan dipertanggungjawabkan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ucapan Terimakasih Penelitian ini tidak akan berjalan tanpa ada bantuan dari berbagai pihak, ucapan terima kasih ditujukan kepada Program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, kemudian untuk semua sesepuh: Ibu Tati dan Ibu Kanah . sebagai narasumber dan semua pihak yang mendukung terselesaikannya penelitian Daftar Pustaka