JOURNAL OF EDUCATIONAL REVIEW AND RESEARCH Vol. 8 No. December 2025. Page: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Literasi dan Keaktifan Peserta Didik Zannuba Arifah Chafsah1. Gunawan*2. Nova Abadul Fahmi3 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Indonesia1,2,3 zchafsah@gmail. com1, gun. oge@gmail. com*2, badulpesek88@gmail. Keywords : Problem Based Learning. literasi sains. ABSTRACT Literasi sains merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki peserta didik pada abad ke-21 seiring dengan pesatnya perkembangan sains dan teknologi. Namun, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata dunia. Kondisi ini juga ditemukan pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Linggasari, yang ditandai dengan rendahnya keterlibatan belajar, dominasi pembelajaran berpusat pada guru, serta rendahnya hasil literasi berdasarkan pretest. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan literasi sains peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 28 siswa kelas IV SD Negeri 3 Linggasari. Data dikumpulkan melalui tes . retest, evaluasi tiap siklus, dan posttes. serta observasi keaktifan peserta Instrumen literasi disusun berdasarkan indikator kemampuan menemukan dan mengembangkan informasi, menginterpretasi dan menyimpulkan, serta mengevaluasi dan merefleksikan isi teks. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL mampu meningkatkan keaktifan peserta didik dari kategori kurang pada siklus I . %) menjadi kategori baik pada siklus i . %). Selain itu, kemampuan literasi peserta didik juga mengalami peningkatan hingga mencapai 76% dengan kategori baik pada akhir siklus. Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan kemampuan literasi sebesar 76% dalam kategori berhasil. Temuan ini menunjukkan bahwa model PBL efektif dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan kontekstual, serta relevan untuk meningkatkan literasi sains dan keterlibatan peserta didik sekolah dasar sesuai tuntutan pembelajaran abad ke-21. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 PENDAHULUAN Kita tidak dapat lepas dari sains, dan sains dapat hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yaumi et al. , ditemukan bahwa kemajuan pesat dalam sains dan teknologi bertepatan dengan munculnya masalah etika dan global baru. Kegagalan untuk menangani perkembangan ini secara memadai dapat membahayakan kelangsungan hidup Di dunia saat ini, ketersediaan media informasi, transportasi, dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan keinginan manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Nurdin . bahwa akan rugi jika manusia tidak berpartisipasi dalam kemajuan teknologi. Literasi sains merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki untuk mengikuti laju perubahan ilmiah yang cepat di era Hal ini terkait dengan fakta bahwa banyak akademisi percaya bahwa pengembangan literasi sains harus menjadi fokus utama pendidikan sains (Aragao, et al. , 2. Meskipun pengajaran literasi berkembang seiring dengan kemajuan ilmiah, penerapan pembelajaran sains berbasis literasi tetap menjadi tantangan yang berat. Syofyand dan Amir . menyatakan bahwa ketidakmampuan siswa dalam menghubungkan antara apa yang mereka pelajari di kelas dengan kejadian di dunia nyata merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam pendidikan Hal ini terutama terjadi pada indikator dasar dan sekunder. Sejalan dengan keadaan tersebut, tingkat literasi sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata menurut hasil PISA (Program for International Student Assessmen. Fokus pada kemampuan sains sebagai tujuan akhir pencapaian siswa, khususnya literasi sains di abad ke-21, dikaitkan dengan rendahnya tingkat literasi sains dan kurangnya kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan penalaran dan pemecahan masalah (Tomovic, dkk. Menurut hasil penilaian PISA 2022, peringkat siswa Indonesia mengalami peningkatan. Namun, dibandingkan dengan skor rata-rata dunia sebesar 469 untuk membaca atau literasi dan 384 untuk sains, skor rata-rata 359 untuk siswa Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2018. Siswa di Indonesia masih menunjukkan keterampilan literasi sains di bawah rata-rata, menurut skor PISA. Hal ini terjadi karena siswa di Indonesia belum diajarkan bagaimana menghadapi tantangan yang muncul dalam konteks dunia nyata (Fanani, 2. Menurut Zulfah dkk. , literasi sains memegang peranan penting dalam pendidikan sains dengan menghasilkan siswa yang kompeten, dapat dipercaya, dan berdaya saing global. Agar siswa memperoleh dan mengasah kemampuan literasi sains, lingkungan kelas yang mendorong partisipasi aktif siswa sangatlah penting. Menurut Zulfah dkk. , pembelajaran harus membantu siswa memperoleh pengalaman belajar yang aktif dan bermakna, yang diharapkan dapat berjalan lancar dan membuat pembelajaran menjadi Kemampuan untuk bergerak dan berpikir secara bersamaan adalah yang kita maksud ketika berbicara tentang menjadi aktif. ini adalah proses mental dan fisik yang tidak dapat dipisahkan (Wahyu 2. Hasil belajar siswa cenderung meningkat ketika mereka mengambil peran aktif dalam pendidikan mereka sendiri. Kapasitas kognitif, emosional, dan psikomotorik siswa semuanya merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai "capaian pembelajaran" setelah terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kebanyakan kasus, ujian hasil belajar yang memberikan skor numerik digunakan untuk mengukur keterampilan yang diperoleh siswa selama bersekolah. Karena metode yang terlalu berfokus pada siswa dapat membuat pembelajaran tampak pasif, proses pembelajaran yang efektif tidak hanya bergantung pada keterlibatan siswa. Pendekatan terbaik bagi siswa dan guru untuk belajar adalah dengan melibatkan mereka dalam dialog yang saling menguntungkan. Sementara siswa mengambil peran aktif dalam pendidikan mereka sendiri, instruktur mengambil peran sebagai pemandu dan motivator dalam dinamika ini. Lingkungan belajar yang menyenangkan dan pencapaian tujuan pembelajaran terbaik dapat dicapai melalui interaksi positif antara instruktur dan siswa. Beberapa masalah diidentifikasi di kelas sebagai hasil wawancara dan observasi yang dilakukan di SD N 3 Linggasari pada hari Selasa, 9-16 April 2025. Pendekatan komunitas ilmiah yang stagnan terhadap penggunaan media untuk instruksi. Buku teks adalah media pilihan. Sulit bagi siswa untuk memahami Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 konsep yang diberikan karena tidak adanya media pembelajaran. Pelajaran dalam sains diajarkan dengan menggunakan pendekatan yang lebih seragam. Metode seperti ceramah, sesi tanya jawab, dan diskusi kelas digunakan. Kelas sains terutama pada hafalan, yang membuat siswa bosan dan menyulitkan mereka untuk menyerap konten. Keterlibatan pelajar masih rendah. Siswa menunjukkan kepasifan ketika guru memberikan pengetahuan dan mengajukan pertanyaan. Tampaknya pembelajaran tidak bersifat dua arah. Di antara 28 siswa, hanya 7 . tau 24%) yang memberikan Sementara 21 siswa lainnya . tau 76% dari tota. terlalu malu atau khawatir menjawab Selain itu, 18 siswa . ,3%) tidak mencapai nilai KKM, dan hanya 10 siswa . ,7%) yang mampu menunjukkan kemampuan literasi dalam pembelajaran IPS, menurut hasil pretest yang dilaksanakan pada tanggal 16 April 2025. Dengan adanya permasalahan tersebut, jelaslah bahwa siswa kelas IV SD Negeri 3 Linggasari memerlukan perubahan dalam cara pembelajaran IPS, khususnya dalam hal literasi dan tingkat Salah satu metode Pembelajaran Berbasis Masalah dapat melakukan perbaikan tersebut. Hal ini didukung oleh pendapat Handayaningtyas . 3: . bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan keterlibatan siswa dengan memberdayakan mereka untuk mengambil bagian aktif dalam pendidikan mereka sendiri. METODE Sebanyak dua puluh delapan siswa kelas IV SD Negeri 3 Linggasari di Banyumas. Jawa Tengah, berpartisipasi dalam penelitian tindakan kelas ini. Mengikuti langkah-langkah yang diuraikan oleh Kemmis dan Mc Taggart (Yunitasari. Indha dan Agustina 2. , penelitian ini menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk mendorong keterlibatan siswa dan literasi sains melalui instruksi kolaboratif dalam tiga siklus penelitian: perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi. Data tentang literasi sains dan aktivitas siswa dikumpulkan oleh peneliti menggunakan metode tes dan metode observasi. Dengan menggunakan penilaian formatif . ertanyaan evaluas. sebagai tes awal dan tes akhir, pendekatan pengujian digunakan untuk mengukur hasil pembelajaran untuk setiap siklus. Tingkat literasi dalam ilmu sosial yang berkaitan dengan keragaman budaya dan kearifan lokal, seperti yang diajarkan melalui paradigma Problem Based Learning, diukur dengan serangkaian pertanyaan pilihan ganda. Untuk memantau seberapa terlibat siswa saat menggunakan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah, metode observasi digunakan. Analisis data untuk memastikan kriteria evaluasi yang ditetapkan sebelumnya mengikuti pengumpulan data. Saat menganalisis data observasi tentang penerapan sintaksis, literasi, dan tingkat keterlibatan siswa, rumus berikut dapat digunakan (Ngalim. NP= Skor maksimum yang diinginkan adalah SM, skor mentah yang diperoleh siswa adalah R, dan nilai yang dicari adalah NP. Untuk mengubah rasio atau perbandingan menjadi persentase, angka 100 digunakan sebagai konstanta dalam perhitungan ini. Indikator keterlibatan siswa yang tidak mencakup tes . endekatan yang diamat. tercantum di bawah ini. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tabel 1. Indikator Lembar Observasi Keaktifan Peserta Didik Aspek yang diamati Indikator Visual Activities Memperhatikan guru saat pembelajaran. Membaca buku atau bahan ajar dengan Mengamati gambar, diagram, atau video yang ditampilkan dalam pembelajaran Writing Activities Mencatat materi yang diberikan guru Menulis hasil diskusi Menulis pertanyaan Oral Activities Melakukan diskusi kelompok Mengajukan pertanyaan dalam diskusi Mengemukakan pendapat dalam diskusi Mental Activities Menjawab pertanyaan dari teman atau guru Menanggapi hasil presentasi kelompok lain Menyimpulkan pembelajaran Emotional Activities Bersikap tenang ketika mengikuti Berani mengemukakan pendapat Bersemangat ketika mengikuti pembelajaran Di bawah ini adalah indikator untuk setiap aspek penilaian tes, yang mencakup pretest, asesmen formatif . elalui soal evaluas. , dan posttest. Tabel 2. Indikator Penilaian Literasi (Kogniti. Peserta Didik Indikator Penilaian Indikator Soal Kemampuan menemukan dan Disajikan sebuah pernyataan, peserta didik mengembangkan informasi mampu mengidentifikasi informasi yang terdapat dalam teks dengan tepat. Disajikan sebuah pernyataan, peserta didik mampu menganalisis informasi yang terdapat dalam teks dengan tepat. Kemampuan mengembangkan Disajikan pernyataan, peserta didik mampu membuat menganalisis keberagaman budaya dan kearifan lokal dengan tepat Peserta didik mampu menganalisis manfaat keberagaman budaya dan kearifan lokal dengan tepat Kemampuan dan Disajikan tabel pernyataan berisi sikap refleksi isi teks terhadap keberagaman budaya, peserta didik dapat menganalisis sikapku terhadap keberagaman budaya dengan tepat Disajikan ilustrasi, peserta didik mampu keberagaman budaya dengan tepat. Kriteria presentase analisis lembar observasi kekatifan dan luterasi siswa dapat dilihat pada table Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tabel 3. Kriteria Presentase Skor Observasi Peserta Didik Presentase 85-100% 65-84% 55-64% 0-54% Kualifikasi Sangat Baik (SB) Baik (B) Kurang (K) Sangat Kurang (SK) Tingkat Keberhasilan Berhasil Berhasil Belum Berhasil Belum Berhasil HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca dan keterlibatan siswa kelas empat di SD Negeri 3 Linggasari melalui penerapan pendekatan pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penelitian tidak dimulai sampai instruktur kelas dan asisten mengadakan pertemuan untuk membahas sumber belajar yang direncanakan. Penilaian, rencana kegiatan pembelajaran (LKPD), buku kerja siswa, alat penilaian literasi, dan pengamatan kegiatan semuanya merupakan bagian dari kotak peralatan. Peningkatan Keaktifan Peserta Didik Pengamat mencatat tingkat keaktifan peserta didik serta aktivitas guru dalam pengajaran. Pengamatan tersebut dilakukan secara khusus oleh Observer. Peningkatan keaktifan siswa dari siklus I hingga i kemudian diperlihatkan dalam bentuk diagram batang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini. Gambar 1. Peningkatan Keaktifan Peserta Didik Berdasarkan data pada gambar, siklus I menghasilkan 59%, yang masuk dalam kategori "Kurang" dan berada dalam interval 55-64%. Termasuk dalam kategori "Kurang" adalah hasil Siklus II sebesar 62%, karena berada dalam interval 55-64%. Hasil dengan angka ini masuk dalam kelompok baik karena berada dalam interval 65-84%. Kemudian, hasil siklus i adalah 82%. Karena melibatkan siswa lebih banyak, model PBL telah berhasil di kelas IPS. Konsisten dengan penelitian sebelumnya, temuan ini menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan siswa dapat ditingkatkan dari tidak aktif menjadi aktif ketika pembelajaran berbasis masalah dimasukkan ke Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 dalam pembelajaran mereka (Yunitasari, 2. Lebih jauh, anak-anak mulai mengajukan pertanyaan kepada guru dan menanggapi pertanyaan teman sekelas mereka selama diskusi kelas, menyelesaikan tugas yang diberikan guru, dan menunjukkan kemahiran dalam menanggapi pertanyaan instruksional. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Winarti . tentang apa yang dibutuhkan untuk menjadi siswa yang aktif, yang meliputi hal-hal seperti senang diberi tugas belajar, mampu menjawab pertanyaan, bersedia mengerjakan tugas yang diberikan guru, dan sering bertanya. Penelitian yang mendukung penelitian ini menunjukkan bahwa Problem Based Learning merupakan cara yang inovatif dan efektif untuk membuat siswa lebih terlibat di kelas (Mungzilina. Kristin, dan Anugraheni 2. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendorong lebih banyak pembelajaran berbasis masalah daring di antara siswa kelas empat di SDN Anggaswangi. Peningkatan Literasi Peserta Didik pada Kegiatan Evaluasi Penelitian yang telah dilaksanakan dengan melakukan siklus I, siklus II, dan siklus i guru mendapatkan data hasil penelitian melalui evaluasi yang dilakukan peserta didik. Tujuan dilakukannya evaluasi yaitu untuk mengukur kemampuan literasi. Peningkatan kemampuan literasi peserta didik ditunjukkan dengan diagram batang sebagai berikut. Gambar 2. Peningkatan Kemampuan Literasi Peserta Didik Dari siklus I hingga siklus i, persentase di atas meningkat, seperti yang ditunjukkan pada diagram batang di atas. Pada akhir siklus i, 76% masuk dalam kategori "Baik", khususnya antara 65-84% (Berhasi. Di antara tanda-tanda literasi adalah sebagai berikut: . kapasitas untuk mencari dan mengkonstruksi informasi. kapasitas untuk menganalisis dan menarik kesimpulan dari teks. kapasitas untuk menilai dan merenungkan materi tekstual. Siswa dapat menggunakan indikator tersebut sebagai kerangka kerja untuk analisis data dan pemecahan masalah, yang khususnya berguna dalam mata kuliah ilmiah yang menggabungkan keragaman budaya dan keahlian lokal. Menemukan solusi untuk kesulitan di lingkungan seseorang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah yang kuat. Pandangan Nurul dan Elok . bahwa literasi ini dapat menjawab kebutuhan akan kemampuan berpikir ilmiah dan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 menerapkannya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan diri sendiri dan lingkungan sejalan dengan hal ini. Peningkatan Literasi Peserta Didik pada Pretest dan Posttest Sebelum dan sesudah siswa mempelajari tentang keragaman budaya dan kearifan lokal, guru memberikan mereka tes untuk melihat seberapa besar peningkatan kemampuan literasi mereka. Pertanyaan penilaian disusun dengan enam pertanyaan, dua untuk setiap indikator literasi. Skor Pretest dan posttest siswa ditampilkan di sini. Gambar 3. Peningkatan Kemampuan Literasi Peserta Didik Pretest dan Posttest Dengan menggunakan teknik pembelajaran berbasis masalah ini, peningkatan rata-rata antara prates dan pasca-tes adalah 76%, yang dianggap sebagai hasil "Berhasil". Indikator literasi pada pretest dan posttest yang diberikan dengan pertanyaan penilaian ini mencakup dua pertanyaan yang telah dikalibrasi ke level KKO dalam Taksonomi Struktur Organisasi Bloom (HOTS) dengan menggunakan kemampuan kognitif Level C4, khususnya analisis. Ketika siswa menunjukkan tidak hanya pemahaman tetapi juga kemampuan untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari pada konteks baru dan beragam, kami mendengar bahwa mereka telah berhasil. Penulis penelitian mengklaim bahwa siswa akan lebih mampu mengingat informasi dan menggunakannya dalam konteks baru jika mereka terlibat dalam pembelajaran yang bermakna (Suryanti et al. , 2. Pembahasan Penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam penelitian ini terbukti mampu meningkatkan keaktifan peserta didik secara bertahap dari siklus I hingga siklus i. Peningkatan tersebut tercermin dari perubahan perilaku belajar peserta didik yang awalnya cenderung pasif menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Peserta didik mulai terlibat dalam diskusi kelompok, berani mengajukan dan menjawab pertanyaan, serta menunjukkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah mampu menciptakan suasana belajar yang partisipatif dan menempatkan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran. Dengan menghadirkan permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. PBL mendorong peserta didik Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 untuk terlibat secara langsung dalam proses menemukan dan membangun pengetahuan melalui interaksi dan kolaborasi. Selain meningkatkan keaktifan, penerapan PBL juga berdampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi peserta didik. Proses pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah kontekstual menuntut peserta didik untuk mencari, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi secara kritis sebelum menarik kesimpulan. Aktivitas tersebut secara tidak langsung melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya pada aspek analisis dan refleksi. Peserta didik tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan konteks nyata dan menerapkannya dalam situasi yang beragam. Dengan demikian, pembelajaran berbasis masalah melalui model PBL mampu menciptakan keterlibatan belajar yang lebih bermakna serta mendukung pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21. Keaktifan peserta didik mengalami peningkatan signifikan dari siklus I sebesar 59% . ategori kuran. , meningkat menjadi 62% pada siklus II, dan mencapai 82% pada siklus i . ategori bai. Perubahan ini menunjukkan bahwa peserta didik semakin terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran seiring dengan terbiasanya mereka menghadapi permasalahan nyata yang disajikan melalui model PBL. Model ini menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif mencari informasi, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yunitasari . yang menyatakan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan keterlibatan siswa dari kondisi pasif menjadi aktif melalui aktivitas diskusi dan pemecahan masalah. Peningkatan keaktifan juga tercermin dari perilaku peserta didik yang mulai berani mengajukan pertanyaan, menanggapi pendapat teman, serta menyelesaikan tugas secara mandiri dan kolaboratif. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik siswa aktif sebagaimana dikemukakan oleh Winarti . , yaitu siswa yang senang diberi tugas, mampu menjawab pertanyaan, bersedia mengerjakan tugas, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Selain itu, hasil penelitian ini memperkuat temuan Mungzilina. Kristin, dan Anugraheni . yang menyimpulkan bahwa PBL merupakan pendekatan inovatif dan efektif dalam meningkatkan keaktifan siswa karena memberikan ruang interaksi, kolaborasi, dan eksplorasi ide secara bebas. Dengan demikian, penerapan PBL terbukti mampu menciptakan iklim pembelajaran yang partisipatif dan berpusat pada peserta didik. Hasil evaluasi pada setiap siklus menunjukkan adanya peningkatan kemampuan literasi peserta didik hingga mencapai 76% pada akhir siklus i dengan kategori baik. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah tidak hanya berdampak pada keaktifan, tetapi juga pada kemampuan literasi peserta didik dalam memahami, menganalisis, dan merefleksikan informasi. Indikator literasi yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi kemampuan mencari dan mengkonstruksi informasi, menganalisis dan menarik kesimpulan dari teks, serta menilai dan merefleksikan materi bacaan. Melalui PBL, peserta didik dilatih untuk menggunakan indikator tersebut secara terintegrasi ketika menganalisis permasalahan yang berkaitan dengan keragaman budaya dan kearifan lokal. Proses ini membantu peserta didik mengaitkan teks dengan konteks nyata di lingkungan sekitar, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Temuan ini sejalan dengan pendapat Nurul dan Elok . yang menyatakan bahwa literasi berperan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian. PBL dapat menjadi sarana efektif untuk mengembangkan literasi peserta didik secara kontekstual dan berorientasi pada pemecahan masalah. Hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan rata-rata kemampuan literasi peserta didik sebesar 76%, yang termasuk dalam kategori berhasil. Soal evaluasi disusun berdasarkan indikator literasi dan disesuaikan dengan tuntutan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill. , khususnya pada level analisis (C. dalam Taksonomi Bloom revisi. Peningkatan hasil posttest menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 pengetahuan tersebut pada konteks baru dan beragam. Hal ini mengindikasikan bahwa PBL mendorong terjadinya pembelajaran bermakna . eaningful learnin. , di mana peserta didik membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung dalam memecahkan masalah. Hasil ini mendukung pernyataan Suryanti et al. yang menyebutkan bahwa pembelajaran bermakna memungkinkan peserta didik untuk lebih mudah mengingat informasi dan menggunakannya dalam situasi yang berbeda. Dengan demikian, penerapan PBL terbukti efektif dalam meningkatkan literasi peserta didik, baik dilihat dari hasil evaluasi siklus maupun dari perbandingan pretest dan posttest. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) berkontribusi positif terhadap peningkatan keaktifan dan literasi peserta didik. Pembelajaran yang berpusat pada permasalahan nyata, disertai dengan kegiatan diskusi dan refleksi, mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari. Melalui PBL, peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai subjek pembelajaran yang secara mandiri dan kolaboratif membangun pengetahuan melalui proses pemecahan masalah. Kondisi ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pentingnya penguasaan literasi, kemampuan berpikir tingkat tinggi, kolaborasi, dan komunikasi. Dengan demikian. PBL dapat menjadi pendekatan pembelajaran yang relevan dan efektif dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, serta mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas di kelas IV SD Negeri 3 Linggasari, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan keaktifan dan kemampuan literasi peserta didik. Keaktifan siswa meningkat secara bertahap dari siklus I hingga siklus i, ditandai dengan meningkatnya partisipasi dalam diskusi, keberanian bertanya dan menjawab, serta kesungguhan dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, kemampuan literasi peserta didik juga mengalami peningkatan hingga mencapai kategori baik pada akhir siklus i. Peserta didik mampu mencari dan mengkonstruksi informasi, menganalisis teks, menarik kesimpulan, serta merefleksikan materi pembelajaran secara lebih mendalam. Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan kemampuan literasi sebesar 76% dengan kategori berhasil, yang mengindikasikan berkembangnya kemampuan berpikir tingkat tinggi pada aspek analisis (C. Dengan demikian, model PBL dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang efektif dan relevan untuk meningkatkan keaktifan dan literasi peserta didik sekolah dasar sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21. Saran Penerapan model Problem Based Learning (PBL) hendaknya dijadikan alternatif bagi guru untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dapat lebih mudah untuk memahami materi serta memberikan pengalaman belajar secara langsung dan bagi sekolah hendaknya dapat melengkapi sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran, sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, aktif, kreatif, dan bermakna bagi peserta didik. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 174 Ae 184 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 DAFTAR PUSTAKA