Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN KARIES GIGI PADA ANAK PAUD WIDYA TAMA GRESIK THE RELATIONSHIP BETWEEN THE ROLE OF PARENTS AND DENTAL CARIES IN EARLY CHILDHOOD EDUCATION WIDYA TAMA GRESIK Cindy Oktaviany1. Imam Sarwo Edi2. Siti Fitria Ulfah3. Sunomo Hadi4 1,2,3,4 Poltekkes Kemenkes Surabaya. Jawa Timur . Indonesia . mail penulis korespondensi: cindyyokta21@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Anak prasekolah merupakan masa kritis guna menunjang proses tumbuh kembang anak kedepannya. Keterlibatan orang tua kian dibutuhkan dalam mengajarkan supaya si kecil dapat memelihara kebersihan rongga mulutnya. Lubang gigi pada anak prasekolah perlu mendapat perhatian khusus karena sering dianggap orang tua tidak perlu dirawat, sebab akan digantikan gigi dewasa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, prevalensi lubang gigi di kalangan anak mencapai 60% - 90% yang menunjukkan prevalensi karies anak masa prasekolah tergolong cukup Faktor kemungkinan yang memicu terjadinya masalah, seperti keterlibatan orang tua yang belum tepat saat merawat kesehatan gigi anak. Studi ini dilakukan guna mengungkap hubungan kontribusi orang tua dengan kerusakan gigi pada anak PAUD. Metode: Studi ini termasuk dalam ketegori kuantitatif dengan tipe analitik Cross Sectional dengan metode survei yang melibatkan 42 orang tua anak PAUD sebagai responden. Data diperoleh melalui lembar kuesioner yang mengukur peran orang tua mengenai merawat kesehatan rongga mulut anaknya. Analisis data dilakukan melalui uji korelasi Spearman Rank untuk menganalisis hubungan peran orang tua dengan karies gigi pad anak PAUD. Hasil: Hasil studi menunjukkan karies gigi anak masuk dalam kategori yang tinggi. Hasil analisis uji spearman nilai p 0. 013 yang artinya p<0. Bisa dikatakan terdapat korelasi kontribusi orang tua dengan karies gigi pada anak PAUD Widya Tama Gresik. Kesimpulan: Nilai koefisien korelasi (-0,. yang artinya memiliki kekuatan hubungan yang lemah. Kata kunci : Karies, peran orang tua, anak prasekolah ABSTRACT Background: Preschool children are a critical period to support the growth and development process of children in the future. Parental involvement is increasingly needed in teaching monitoring so that the little one can maintain the cleanliness of his oral cavity. Tooth decay in preschool children requires special attention, as parents often believe it doesn't need treatment since the teeth will be replaced by permanent ones. The World Health Organization (WHO) revealed that the prevalence of cavities among children reaches 60% - 90%, which shows that the prevalence of caries in preschool children is quite Possible factors that trigger problems, such as inappropriate parental involvement when caring for children's dental health. This study was conducted to reveal the relationship between parental contributions and tooth decay in PAUD children. Methods: This study is included in the quantitative category with the Cross Sectional analytical type with a survey method involving 42 parents of PAUD children as respondents. Data was obtained through a questionnaire sheet that measured the role of parents in caring for the health of their child's oral cavity. Data analysis was carried out through the Spearman Rank correlation test to analyze the relationship between the role of parents and dental caries in PAUD children. Results: The results of the study show that children's dental caries is in the high category. The results of the spearman test analysis showed a p value of 0. 013 which means p<0. It can be said that there is a correlation between parental contribution and dental caries in PAUD Widya Tama Gresik children. Conclusion: The value of the correlation coefficient (-0. means that it has a weak relationship Keywords : Caries, role of parents, preschoolers Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Anak prasekolah merupakan masa kritis guna dasar proses tumbuh kembang anak Di sisi lain. NAEYC (National Association for the Education of Young Childre. menguraikan makna anak prasekolah saat masa perubahan yang berlangsung di delapan tahun awal perjalanan hidup seorang Di Indonesia, anak-anak pada kelompok usia ini sudah menginjak Taman Kanak-Kanak (TK) atau Sekolah Dasar (SD) serta masih memerlukan pengawasan ekstra dari guru serta melalui beragam proses adaptasi misalnya lingkungan serta metode pembelajaran1. Kerusakan gigi muncul akibat proses demineralisasi email, dentin serta sementum akibat mengonsumsi asupan kariogenik khususnya karbohidrat. Laktosa . ula sus. merupakan salah satu jenis karbohidrat. Munculnya lubang gigi dampak dari mengonumsi gula, akan diuraikan secara khusus kemudian membentuk polisakarida yang membantu bakteri menempel pada gigi, di samping itu akan menyimpan energi untuk proses metabolisme lubang gigi berikutnya dan juga untuk pertumbuhan bakteri kariogenik2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan, presentase kasus lubang gigi pada anak mencapai 60% - 90%. Di Indonesia, laju insiden lubang gigi sesuai kategori usianya, yakni pada kelompok umur 3 tahun sebesar 60%, usia 4 tahun sebanyak 85%, serta usia 5 tahun senilai 86,4%. Berdasarkan data tersebut mengindikasikan bahwa angka lubang gigi anak prasekolah tergolong cukup tinggi (Putri. Halimah and Susatyo, 2. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 angka karies gigi di Indonesia pada kelompok usia 34 tahun sebesar 78,3% dan pada kelompok usia 5-9 tahun sebesar 84,8% (SKI, 2. Kerusakan gigi pada anak prasekolah memerlukan perhatian khusus karena seringkali orang tua menganggap lubang gigi anak tidak memerlukan perawatan, mengingat digantikan oleh gigi dewasa. Orang tua kerap menerapkan pola asupan yang kurang sesuai seperti pemberian susu atau minuman dengan kandungan gula ketika anak sedang di tempat tidur, maka saat anak tidur susu cenderung menumpuk di bagian gigi rahang atas yang menyebabkan mikroorganisme kariogenik berkembang biak didalam rongga mulut 3. Peran pengetahuan, serta memberikan sarana bagi Anak usia <5 tahun belum mampu merawat kebersihan rongga mulutnya secara tepat serta optimal sehingga orang tua perlu menyikat gigi anak minimal hingga anak usia 6 mengawasinya secara terus-menerus 4. Peranan orang tua memiliki peran krusial dalam membimbing, menyampaikan pemahaman, mengarahkan serta menyediakan sarana pada anak supaya mampu menjaga kebersihan rongga mulutnya. Orang tua juga berperan penumpukan plak serta munculnya lubang gigi pada anak5. Kontribusi orang tua diperlukan pada upaya mempertahankan kesehatan gigi karena kontribusi orang tua memberikan konsekuensi yang nyata kuat terhadap tingkah laku anak prasekolah. Orang tua bisa membimbing metode mencegah munculnya lubang gigi dengan menerapkan kumur menggunakan air mineral usai minum susu ataupun asupan manis3. PAUD Widya Tama Gresik termasuk bagian institusi pendidikan yang berperan dalam memberikan pembelajaran dasar kepada anak-anak prasekolah. Di sini, kontribusi orang tua sangat krusial guna mendukung program kesehatan yang diterapkan oleh sekolah. Pemahaman orang tua yang lebih baik diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan gigi anak mereka, mengurangi terjadinya karies gigi dan memastikan anak-anak mereka tumbuh dengan gigi yang sehat dan kuat. Berdasarkan hasil pemeriksaan data awal yang dilakukan peneliti pada anak PAUD Widya Tama Gresik dengan jumlah yang diperiksa 10 anak, didapatkan hasil 8 dari 10 siswa mengalami karies gigi dengan indeks def-t 5,3 yang berkategorikan tinggi. Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan riset terkait kontribusi orang tua dengan karies gigi pada anak PAUD Widya Tama Gresik. Mengacu pada uraian masalah tersebut bisa dibuat gambaran aspek kemungkinan yang menjadi penyebab masalah, seperti peran orang tua yang kurang tepat saat memelihara kesehatan gigi anak. Adapun faktor anak seperti pola makan yang kurang baik dengan seringnya mengonsumsi asupan manis serta lengket yang bisa memicu kerusakan gigi yang parah. METODE Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Kerangka studi yang diterapkan ialah rancangan Cross Sectional menggunakan metode analitik. Studi ini berlangsung di PAUD Widya Tama Gresik. Durasi yang dibutuhkan selama proses penelitian yaitu sejak bulan Desember 2024 sampai dengan Februari 2025. Variabel bebas penelitian ini yaitu peran orang tua dan variabel terikatnya yaitu karies gigi. Metode pengumpulan sampel dalam studi ini menerapkan total sampling. Populasi anak PAUD Widya Tama Gresik sebanyak 42 anak. Menganalisis korelasi kontribusi orang tua dengan karies gigi pada anak PAUD menerapkan aplikasi SPSS, serta menganalisis data yang akan digunakan adalah uji korelasi Spearman Rank. Uji korelasi Spearman Rank digunakan untuk menentukan hubungan atau untuk menguji signifikansi hipotesis korelasi. Korelasi Spearman Rank biasanya digunakan untuk sampel yang tidak begitu banyak6. HASIL Data diperiksa dengan memanfaatkan perhitungan def-t dan hasil kuesioner untuk pengumpulan data. Selanjutnya, data diolah dengan uji spearman rank dengan tujuan guna memahami korelasi kontribusi orang tua dengan kerusakan gigi pada anak PAUD Widya Tama Gresik. Berdasarkan analisis data kontribusi orang tua saat mengasuh, tanggung jawab orang tua saat mendidik, kontribusi orang tua saat mendorong, serta kontribusi orang tua ketika mengawasi, di peroleh data dibawah ini : Tabel 1. Analisis Hubungan Peran Orang Tua sebagai Pengasuh. Pendidik. Pendorong, dan Pengawas dengan Karies Gigi Pada Anak PAUD Widya Tama Gresik. Uji Korelasi Variabel A value Koefisien korelasi SpearmanAos rho Peran Orang Tua Pengasuh Karies Gigi . Peran Orang Tua Pendidik Karies Gigi . Peran Orang Tua Pendorong Karies Gigi . Peran Orang Tua Pengawas Karies Gigi . Mengacu pada tabel 1, menyatakan adanya peran orang tua sebagai pengasuh didapatkan nilai A value 0,005. Fakta ini memperlihatkan adanya korelasi antara kontribusi orang tua sebagai pengasuh dengan angka karies gigi. Nilai koefisien korelasi . menunjukkan kekuatan korelasi sedang. Dari informasi tabel 1 juga memperlihatkan adanya kontribusi orang tua sebagai pendidik didapatkan nilai A value 0. Temuan ini membuktikan adanya korelasi terkait kontribusi orang tua sebagai pendidik dengan lubang gigi anak PAUD Widya Tama Gresik. Nilai koefisien korelasi (-0,. menunjukkan 0,005 -0,424 0,028 -0,339 0,006 -0,414 0,043 -0,314 0,05 kekuatan korelasi lemah. Tabel 1 juga menunjukkan peran orang tua sebagai pendorong memiliki nilai A value 0. Fakta tersebut menandakan keterkaitan signifikan peran orang tua sebagai pendorong dengan lubang gigi. Nilai koefisien korelasi (-0,. menunjukkan kekuatan korelasi sedang. Serta, memperlihatkan peran orang tua sebagai pengawas terdapat nilai A value 0. Temuan ini membuktikan ditemukan korelasi terkait orang tua sebagai pengawas dengan angka kerusakan gigi pada anak PAUD Widya Tama Gresik. Nilai koefisien korelasi (-0,. menunjukkan kekuatan korelasi lemah. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Tabel 2. Analisis Hubungan Peran Orang Tua dengan Karies Gigi Pada Anak PAUD Widya Tama Gresik. Peran Orang Tua Uji Korelasi Variabel A value Koefisien korelasi SpearmanAos rho Peran Orang Tua Karies Gigi . 0,05 0,013 -0,380 Berdasarkan hasil olah data dengan uji spearman-rank. Tabel 2 memaparkan nilai A 013 < dari ambang batas signifikansi 0. atau A<0. Maka bisa diartikan dengan H1 diterima sedangkan H0 ditolak, lalu didapatkan kesimpulan ada korelasi antara kontribusi orang tua dengan karies gigi anak di PAUD Widya Tama Gresik. Nilai koefisien korelasi (-0,. menunjukkan kekuatan korelasi lemah. PEMBAHASAN Menurut hasil studi yang didapat kontribusi orang tua paling dominan yakni kontribusi orang tua dalam mendidik dengan mayoritas responden masuk dalam kategori sangat baik. Di sisi lain, fungsi orang saat mengawasi juga cukup baik dengan responden berkategorikan baik. Namun, peran orang tua sebagai pengasuh terdapat responden masuk ke dalam kategori kurang. Penelitian7 memaparkan fungsi orang tua terpengaruh dalam kesehatan rongga mulut munculnya lubang gigi pada anak pra sekolah. Dari data yang diperoleh, anak-anak dengan orang tua yang memiliki peran aktif saat merawat kesehatan rongga mulut cenderung mengalami karies gigi dalam tingkat sangat rendah hingga sedang, dan tidak ditemukan pada kategori tinggi maupun sangat tinggi. Sebaliknya, anak-anak dengan peran orang tua yang kurang, menunjukkan tingkat lubang gigi sedang hingga tinggi. Ini memperkuat asumsi orang tua merupakan aspek krusial dalam membentuk kebiasaan anak terkait kebersihan Peran ibu sebagai pendamping perlu hadir guna memberi bimbingan, memberikan apresiasi, serta menyediakan sikat gigi yang tepat bagi anak. ibu berperan signifikan dalam timbulnya lubang gigi pada anak. Orang tua Pengetahuan saja tidak menjamin perilaku yang baik dalam praktik pengasuhan. Seorang ibu yang mempunyai wawasan luas terkait menerapkannya secara konsisten pada aktivitas harian, demikian juga sebaliknya ibu dengan wawasan yang terbatas pun bisa saja menunjukkan perilaku pengasuhan yang sangat baik karena didasari kepedulian dan kedekatan emosional dengan anak. Menurut peneliti dalam konteks kesehatan gigi anak, peran ibu sangat krusial. Tidak cukup hanya mengetahui pentingnya menyikat gigi, ibu juga perlu mengawalinya dengan tindakan nyata, seperti mendampingi anak saat menyikat gigi, memberikan contoh, serta menciptakan suasana yang positif melalui pujian dan penguatan. Ketersediaan alat seperti sikat dan pasta gigi yang sesuai juga menjadi bentuk dukungan konkret dari orang tua. Anak yang mengalami karies gigi mayoritas di dapatkan pada jenjang pendidikan orang tua rendah daripada di jenjang pendidikan orang tua sedang serta jenjang pendidikan orang tua tinggi. Pendidikan terikat secara signifikan dengan wawasan. Kian meningkat jenjang pendidikan seorang sehingga mendapatkan banyak pengetahuan. Pendidikan memengaruhi kebiasaan perilaku, cara berpikir, serta perasaan kepada seorang anak termasuk dalam bagaimana cara menjaga kesehatan gigi dan mulut 9. Menurut peneliti pendidikan memang memberi pengaruh besar terhadap pola pikir, kebiasaan, dan sikap hidup. Orang tua yang pentingnya membangun rutinitas sehat misalnya menggosok gigi 2 kali sehari, mengurangi asupan gula, dan rutin membawa anak ke dokter gigi. Oleh karena itu, peningkatan edukasi kesehatan untuk semua kalangan, termasuk yang berpendidikan rendah, menjadi kunci dalam mencegah karies dan membentuk kebiasaan sehat sejak usia dini. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Studi ini konsisten dengan4 tanggung jawab orang tua saat mengawasi terkadang memenuhi keinginan anak saat mengganti sikat mengurangi asupan bergula pada anak serta meminta anak berkumur setelah menyantap asupan bergula di sekolah. Peranan orang tua sebagai pengawas bagi anak sangat krusial sebab kebiasaan dan kondisi kesehatan gigi anak banyak di pengaruhi oleh pola asuh, edukasi, serta pengawasan orang tua sejak dini. Orang tua adalah pengawas utama dalam menjaga kesehatan gigi anak, mulai dari kebiasaan sehari-hari anak. Menurut peneliti peran orang tua sebagai pengawasan ini benar-benar efektif, tindakan tersebut sebaiknya dilakukan secara konsisten dan di imbangi dengan edukasi kepada anak. Anak perlu tahu mengapa makanan manis harus dibatasi atau mengapa harus berkumur setelah makan. Dengan begitu, anak tidak hanya patuh karena disuruh, tetapi juga tumbuh kesadaran dan kebiasaan yang Orang tua memiliki kontribusi signifikan mengawasi perkembangan dan Kesehatan gigi anak salah satu contohnya adalah memperhatikan tanda-tanda gigi berlubang, bau mulut, dan gusi berdarah. Studi ini sesuai berdasarkan temuan yang diungkapkan dengan10 yang memaparkan adanya kesamaan kondisi dalam konteks permasalahan yang diteliti. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak (TK) AlAeHidyah II yang terletak di Kecamatan Panji. Kabupaten Situbondo, ditemukan prevalensi kendala kesehatan gigi pada anak-anak tergolong tinggi. Tingginya angka ini mengindikasikan bahwa upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan sampai sekarang belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Apabila kondisi ini dibiarkan terus berlangsung tanpa adanya intervensi yang memadai, sangat besar kemungkinan jumlah kasus akan terus bertambah seiring berjalannya Keadaan ini tentu dapat menyebabkan efek yang lebih serius, terutama dalam mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan gigi tetap pada anak. Sehingga, diperlukan bagi pihak sekolah, orang tua, serta tenaga kesehatan untuk bekerja sama dalam memberikan edukasi dan perawatan yang tepat guna menurunkan angka kejadian tersebut dan mencegah dampak jangka panjang yang dapat Masalah kesehatan gigi pada anak usia dini memang sering kali terabaikan, padahal dampaknya bisa sangat serius terhadap pertumbuhan gigi permanen mereka. Gigi sulung bukan hanya berfungsi sementara, tapi juga memengaruhi posisi dan kesehatan gigi tetap di masa depan. Jika dibiarkan, kerusakan gigi pada usia dini bisa menyebabkan anak mengalami rasa sakit, kesulitan makan, bahkan gangguan dalam berbicara dan percaya diri. Atas dasar itu, kontribusi aktif orang tua saat menjaga kebersihan mulut anak sejak dini sangat penting. Selain itu, edukasi dari pihak sekolah dan tenaga kesehatan juga perlu ditingkatkan agar orang tua lebih sadar dan terlibat dalam merawat kesehatan gigi anakanak mereka. Hal ini akibat rendahnya wawasan anak terkait urgensi mempertahankan kesehatan rongga mulut, termasuk cara mencegah karies, menjaga kebersihan gigi, serta teknik serta saat yang ideal untuk menyikat gigi. Di samping itu, mereka belum mampu membedakan antara nutrisi yang bermanfaat serta merugikan untuk kesehatan gigi. Kurangnya pengetahuan ini membuat anak-anak tidak mampu merawat gigi dan mulutnya dengan optimal, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan gigi, terutama karies. Jika kesehatan rongga mulut tidak ditangani dengan benar, faktor ini mampu menyebabkan nyeri gigi yang berdampak pada ketidakhadiran di sekolah, penurunan nafsu makan, dan pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan serta perkembangan anak11. Lubang gigi bisa muncul disebabkan terpengaruh rutinitas menggosok gigi. Kondisi ini timbul akibat sejumlah faktor, antara lain seberapa sering menyikat gigi, waktu pelaksanaan serta teknik menyikat gigi yang Karies kerap kali tidak menjadi hal utama bagi orangtua saat mempertahankan kesehatan gigi anak. Para ibu menilai lubang gigi tidak terlalu serius dalam kesehatan gigi anak, ibu tidak rutin membawa anaknya untuk kontrol gigi ke klinik gigi, selain itu anak tidak diberi pembelajaran menyikat gigi 2 kali Gigi memiliki struktur yang kuat dan padat yang berperan penting dalam proses pencernaan awal, yaitu dengan mengunyah, memotong, dan menghaluskan makanan sebelum diteruskan ke bagian lain dalam sistem Menurut temuan yang diperoleh peneliti mayoritas anak di PAUD Widya Tama Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Gresik termasuk dalam kategori karies yang Peningkatan pengetahuan seseorang mengenai kesehatan gigi akan secara langsung memengaruhi sikap dan perilakunya dalam menjaga kebersihan mulut, termasuk dalam hal menyikat gigi secara rutin dan benar. Khususnya pada anak-anak, yang memiliki kebiasaan konsumsi asupan bergula lebih tinggi, peran edukasi dan pembentukan kebiasaan menyikat gigi sejak dini menjadi sangat penting. Pelatihan menyikat gigi yang benar, anak-anak tidak hanya belajar secara teknis, tetapi juga membentuk sadar akan urgensi menjaga kesehatan gigi. Dengan demikian, saya percaya bahwa intervensi berbasis edukasi dan pembiasaan sejak usia dini dapat menjadi kunci dalam menurunkan angka kejadian karies pada anak-anak. Seperti dalam buku15 promosi kesehatan gigi merupakan suatu langkah untuk menumbuhkan kesadaran, menambah pengetahuan, serta mendorong perilaku positif mengenai kesehatan gigi dan mulut di tingkat masyarakat. Tujuan utamanya adalah mencegah munculnya gangguan kesehatan rongga mulut juga mendukung Data yang dianalisis melalui pengujian Spearman-Rank mengindikasikan adanya korelasi yang relevan antara kontribusi orang tua dengan tingkat kerusakan gigi anak di PAUD Widya Tama Gresik. Temuan ini keterlibatan orang tua dalam memelihara kesehatan gigi anak . isalnya lewat pengawasan menyikat gigi, pembatasan konsumsi makanan manis, serta edukasi terkait kesehatan gig. , sehingga angka kasus karies gigi pada anak akan semakin rendah. Temuan ini memperkuat pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam perilaku preventif terhadap penyakit gigi pada anak prasekolah. Anak-anak pada usia PAUD masih sangat bergantung pada arahan serta kebiasaan yang dibentuk oleh orang tua, sehingga pengaruh pola asuh dan peran orang tua menjadi faktor kunci saat membentuk perilaku hidup sehat, termasuk gunna mempertahankan kebersihan serta kesehatan rongga mulut. Studi ini konsisten dengan16 pada prasekolah merupakan segala sesuatunya masih tergantung orang tua terutama ibu, sehingga dibutuhkan peran orang tua dan health education dalam pengajaran gosok gigi anak prasekolah. Pengajaran gosok gigi jika dilakukan dengan baik, maka anak akan terbiasa dan rajin untuk menggosok gigi, sehingga kerusakan- kerusakan gigi pada anak dapat diminimalkan. Akan tetapi jika peran orang tua kurang dalam mengajarkan gosok gigi, anak akan malas dan belum terbiasa untuk menggosok gigi sehingga sisa-sisa makanan yang telah dikonsumsi anak akan menumpuk dan menempel menjadi plak yang akan mengakibatkan kerusakan gigi pada anak. Dalam proses pengasuhan, orang tua sering kali memberikan perintah atau aturan yang bersifat tegas dan tidak boleh dilanggar oleh anak dengan tujuan agar perilaku anak lebih terkontrol dan sesuai dengan harapan. Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa disiplin yang ketat dapat membentuk karakter anak yang patuh, teratur, dan mudah Namun, tidak sedikit orang tua yang kemudian menjalankan gaya asuh ketat, yakni dengan memberikan tekanan, ancaman, bahkan perlakuan yang keras dan kasar demi memastikan anak mengikuti semua instruksi tanpa banyak bertanya atau membantah. Mereka beranggapan bahwa pendekatan bentuk ini termasuk metode yang paling efektif untuk menciptakan anak yang penurut dan disiplin. Penting mempertimbangkan pendekatan pengasuhan yang lebih seimbang, yaitu dengan mengombinasikan ketegasan dan kasih sayang, serta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Anak akan merasa dihargai, lebih memahami alasan di balik aturan yang diberikan, dan cenderung lebih kooperatif karena hubungan emosional yang sehat dengan orang tuanya. Insiden kerusakan gigi parah pada anak-anak tetap tinggi walaupun orang tua menguasai pemahaman yang memadai. Demikian ditunjukkan bahwasanya meskipun pengetahuan tidak selalu diterapkan dalam praktik, namun memiliki pemahaman yang bagus tidak selalu menandakan adanya kesehatan gigi yang bagus. Menurut penelitian ini, salah satu pemicu utama tingginya prevalensi kerusakan gigi anak dimungkinkan mengingat pola asuh orang tua kurang17. Fakta ini mengindikasikan bahwa beberapa orang tua masi kurang responsif pada kesehatan mulut anak-anak mereka. Pengetahuan juga perilaku memiliki keterkaitan yang erat, dan perilaku orang tua yang kurang mendukung dapat berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian karies. Ini mengindikasikan bahwa Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 kesadaran orang tua dalam merawat kesehatan gigi anak masih tergolong rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Didasarkan pada evaluasi data yang selesai dilaksanakan peneliti, dengan demikian diambil kesimpulan bahwa peran orang tua secara keseluruhan pada anak PAUD Widya Tama termasuk dalam kategori yang baik, karies gigi pada anak PAUD Widya Tama termasuk dalam kategori yang tinggi dan ada hubungan antara peran orang tua dengan karies gigi pada anak PAUD Widya Tama Gresik dan memiliki kekuatan hubungan yang lemah. Dari kesimpulan yang ada rekomendasi yang bisa disampaikan yaitu Diharapkan ibu dari anak PAUD dapat meningkatkan lagi peran sebagai pengawas dan peran sebagai pengasuh agar dapat mencapai kategori sangat baik, serta mempertahankan peran sebagai pendidik dan peran sebagai pendorong agar tetap di dalam kategori sangat baik. Diharapkan untuk guru PAUD mampu menyampaikan informasi terkait cara menjaga kesehatan gigi agar karies pada anak PAUD tidak meningkat. Diupayakan agar peneliti berikutnya bisa mengembangkan studi yang akan dilakukan dengan metode yang baru serta lebih memperbanyak studi sumber referensi terkait dengan isu yang akan Memperluas variabel penelitian yang mungkin berpengaruh pada kejadian karies gigi, seperti pola makan anak dam memperbanyak jumlah populasi penelitian agar lebih beragam. DAFTAR PUSTAKA