92 STRATEGI KONSERVASI MONUMEN KETENANGAN JIWA: MELESTARIKAN MEMORI KOLEKTIF PERTEMPURAN LIMA HARI DI SEMARANG (Conservation Strategy for the Monument Ketenangan Jiwa: Preserving the Collective Memory of the Five-Day Battle in Semaran. Tyas Susanti1. Cindy Fiolita2. Yulita Titik Sunatimahingsih3 1,2,3 Fakultas Arsitektur dan Desain. Universitas Katolik Soegiapranata. Jalan Pawiyatan Luhur IV/1. Semarang cindy@unika. Abstract Monument Ketenangan Jiwa in Semarang is one of the historical sites closely related to the events of the Five-Day Battle in Semarang. Built to commemorate 150 Japanese civilians who perished, this monument holds emotional, cultural, and social value for the community. This study aims to analyze the significance, relevance, and preservation strategies of the monument to ensure its continued relevance in the present day. Using qualitative methods through field observations and literature reviews, the study found that the monument remains relevant as a symbol of collective memory and historical education, despite facing preservation challenges such as inadequate accessibility and poor environmental conditions. Based on the analysis, a comprehensive conservation approach is recommended, including the development of supporting facilities, improved accessibility, landscape lighting, and educational elements. These measures aim to enhance the material and immaterial benefits of the monument as a site for spiritual reflection and educational tourism, particularly for younger generations. Thus. Monument Ketenangan Jiwa can continue to play its role in strengthening the cultural and historical identity of the community and providing a positive contribution that aligns with current conditions. Keywords: conservation, collective memory, monument ketenangan jiwa, relevance, preservation strategies Abstrak Monumen Ketenangan Jiwa di Semarang merupakan salah satu situs bersejarah yang berkaitan erat dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Dibangun untuk mengenang 150 warga sipil Jepang yang tewas, monumen ini memiliki nilai emosional, budaya, dan manfaat bagi Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis signifikansi, relevansi, dan strategi pelestarian monumen agar tetap relevan di masa kini. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan dan kajian literatur, penelitian ini menemukan bahwa monumen tersebut tetap relevan sebagai simbol memori kolektif dan edukasi sejarah, meskipun menghadapi tantangan pelestarian seperti aksesibilitas yang kurang memadai dan kondisi lingkungan yang buruk. Berdasarkan analisis, pendekatan konservasi yang komprehensif direkomendasikan, mencakup pengembangan fasilitas pendukung, aksesibilitas, pencahayaan lanskap, dan elemen edukasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan manfaat monumen, baik secara materiil maupun imateriil sebagai area wisata refleksi spiritual dan edukatif bagi pengunjung terutama generasi muda. Dengan demikian. Monumen Ketenangan Jiwa dapat terus memainkan perannya dalam memperkuat identitas budaya dan sejarah masyarakat, serta memberikan kontribusi positif yang relevan dengan kondisi saat ini. Kata kunci: konservasi, memori kolektif. Monument ketenangan jiwa, relevansi, strategi TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Pendahuluan Pertempuran Lima hari di Semarang, selain Tugu Muda yang terletak di pusat kota Semarang. Monumen ini berupa bongkahan batu dengan aksara Jepang yang dipahat, dan dibangun untuk mengenang 150 warga sipil Jepang yang tewas pada saat pertempuran 5 hari di Semarang. 150 warga sipil tersebut sebenarnya adalah warga sipil yang ingin kembali ke negara asal, namun dengan kondisi peperangan yang ada saat itu menyebabkan mereka tidak selamat (Babel, 2. Warga sipil Jepang yang tewas merupakan pegawai yang tinggal di Weleri. Kabupaten Kendal. Saat pertempuran pecah, mereka berusaha menyelamatkan diri berjalan kaki menuju Jatingaleh Semarang tempat pusat tentara Jepang. Namun mereka tidak pernah sampai ke Jatingaleh dengan selamat. Monumen ini dibangun oleh seorang warga Jepang yang bernama Aoki Masafumi pada 14 Oktober 1998 dan diresmikan oleh Walikotamadya Semarang. Soetrisno Soeharto. Bagi Aoki sang penggagas, ia berharap jiwa para korban bisa tenang dan pengorbanan ke dua belah pihak, baik Indonesia dan Jepang menjadi landasan perdamaian dunia (Purbaya, 2. Monumen ini mempunyai arah hadap ke Utara sehingga ketika ada yang berdoa di depan minumen maka akan menghadap ke Tokyo. Jepang. Monumen ini terletak di di tepi Banjir Kanal Barat yang dekat dengan Pantai Baruna. Kota Semarang. Jawa Tengah. Pemerintah Kota Semarang sendiri pernah memberikan perhatian pada monument tersebut. Walikota Semarang Hendrar Prihadi melalui Perda Kota Semarang nomor 5 tahun 2015 tentang kepariwisataan kota Semarang tahun 20152025 sudah merencanakan pengembangan Monumen Ketenangan Jiwa, dimana pengembangannya tetap akan menjaga makna dari monumen itu sendiri sebagai tempat ziarah, terutama bagi warga Jepang. Gambar 1: Monumen Ketenangan Jiwa (Sumber: detik. com, 2. Dilihat dari keterkaitan yang cukup erat dengan sejarah pertempuran 5 hari di Semarang, tempat ini dapat dikatakan sebagai tempat yang memiliki peran penting dalam membentuk memori kolektif bagi masyarakat Semarang maupun masyarakat Jepang. Namun, seiring berjalannya waktu, monumen ini menghadapi tantangan dalam hal pelestarian dan pengembangan. Banyak tantangan yang dihadapi saat ini baik karena kondisi lingkungan akibat bahaya rob yang selalu mengancam, aksesnya yang kurang memadai, serta lingkungan yang tidak terawat membuat monumen ini semakin AutenggelamAy keberadaannya. Oleh karena komprehensif dalam upaya melestarikan sekaligus mengembangkan monumen ini agar tetap relevan bagi generasi masa kini dan mendatang. Gambar 2: Monumen Ketenangan Jiwa (Sumber: detik. com, 2. Metode Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan utama, yaitu: C Apa yang menjadi signifikansi tempat ini sehingga layak dijadikan sebagai situs cagar budaya? C Apakah monumen yang ada saat ini tetap relevan dengan kondisi TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Bagaimana strategi pelestarian dan pengembangan dari monumen dan situs ini agar mampu menghidupi AudirinyaAy? Untuk menggunakan metodekualitatif dengan pen dekatan studi kasus. Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi yang mendalam mengenai konteks sejarah, kondisi fisik, dan Monumen Ketenangan Jiwa. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui dua teknik utama, yaitu observasi lapangan dan kajian literatur. Observasi lapangan dilakukan untuk menilai kondisi fisik Monumen Ketenangan Jiwa, termasuk material, struktur, serta lingkungan sekitarnya. Observasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pelestarian dan area yang memerlukan perhatian khusus. Kajian literatur dilakukan menggali berbagai referensi mengenai sejarah Monumen Ketenangan Jiwa, peristiwa sejarah yang melatarbelakangi. Kajian ini bertujuan untuk menyediakan landasan teoritis yang kuat dan memberikan perspektif perbandingan dari studi kasus lain. Kajian Teori Peran Penting Monumen Monumen memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan memori kolektif suatu masyarakat. Sebagai lieux de mymoire atau "tempat memori," monumen berfungsi sebagai ruang fisik yang mengabadikan kenangan dan peristiwa sejarah penting bagi kelompok sosial tertentu (Nora, 1. Melalui monumen, masyarakat tidak hanya mengenang masa lalu tetapi juga menciptakan simbol yang mewakili nilai-nilai budaya dan sejarah yang dijunjung tinggi. Monumen berperan dalam membangun dan memperkuat identitas kolektif, yang sering kali terkait dengan kebanggaan nasional, kebersamaan, dan ingatan kolektif tentang perjuangan atau peristiwa besar. Secara historis, monumen sering didirikan untuk memperingati peristiwa penting seperti perang, revolusi, atau kontribusi individu yang berjasa. Riegl . berpendapat bahwa monumen bukan hanya artefak masa lalu, tetapi instrumen penting yang membantu masyarakat menghubungkan generasi masa kini dengan warisan budaya dan tradisi. Monumen menciptakan ruang yang memungkinkan masyarakat untuk meresapi dan mengingat nilai-nilai yang mereka warisi, serta merasakan keterikatan dengan sejarah Lebih dari sekadar bangunan fisik, monumen juga menjadi media untuk menciptakan narasi sejarah yang diterima secara luas. Gillis . menyatakan bahwa upacara dan ritus yang sering dikaitkan dengan monumen memperkuat proses pembentukan memori kolektif, sehingga menciptakan identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi Monumen memperkuat narasi sejarah, baik di tingkat lokal maupun nasional, serta memberikan makna bagi identitas kolektif yang terus Pendekatan Pelestarian Pentingnya monument untuk menandai suatu peristiwa sejarah menjadi dasar bagi pelestarian monument tersebut. Pelestarian mempertahankan eksistensi dari suatu bangunan atau monument yang mempunyai signifikansi nilai yang tinggi. Suatu monument atau bangunan bersejarah tidak eksistensinya secara fisik, namun juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di Namun, berdasarkan UU no 11 tahun 2010, pelestarian tidak hanya berhenti dalam memberikan perlindungan saja pengembangannya (UU no 11 tahun 2010 pasal . Pendekatan konservasi pada dasarnya harus dikerjakan dalam urutan yang logis. Peter Marquis dan Meredith Walker . mengelompokkan dalam 3 langkah yang harus dilakukan yaitu: Asses Cultural signifinace (Menilai signikansi buday. Develop Conservation Policy and Strategy (Mengembangkan kebijakan dan strategi TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Carry out the conservation strategy (Melaksanakan strategy konservas. Lebih lanjut John Earl . pekerjaan konservasi harus dilakukan dengan memahami bangunan itu terlebih dahulu, baru kemudian membuat langkahlangkah tindakan pelestariannya. Ada 3 hal mendasar yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan konservasi yaitu: . mengapa kita ingin mengkonservasi/melestarikan . bangunan apa yang akan kita . bagaimana kegiiatan konservasi ini dilakukan?Ay. Ke 3 pertanyaan ini saling berkaitan, dan dengan mejawab pertanyaan ini maka akan diketahui tindakan apa yang akan diterapkan pada suatu bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Suatu perlakuan terhadap bangunan /monument atau kawasan bersejarah saat ini tidak hanya sekedar melestarikan atau mengawetkan namun lebih jauh lagi bahwa bangunan tersebut harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Dalam UU no 11 2010 pasal 4 yang jelas disebutkan bahwa AuLingkup Pelestarian Cagar Budaya meliputi Pelrindungan. Pengembangan Pemanfaatan Cagar Budaya di darat dan di airAy. Oleh karena itu pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini tidak hanya sekedar mengawetkan monument namun juga bagaimana monument tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Hal mengembangkan area atau kawasan tersebut menjadi kawasan yang nyaman sehingga bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata sekaligus edukasi bagi Dalam pendekatan pelestarian saat ini, suatu bangunan atau monument yang memiliki nilai historis harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakatnya. Oleh karena itu pengembangan suatu kawasan yang memiliki bangunan atau monument yang mempunyai nilai sejarah dapat dikembangkan sehingga memiliki nilai ekonomis untuk mendukung pembiayaan perawatan dan pelestarian dari monument Menurut Bernard Fielden . , tiga nilai utama dari warisan budaya adalah: Nilai Emosional (Emotional Valu. , yaitu bagaimana sebuah benda budaya memberikan perasaan khusus bagi masyarakatnya, seperti terkait dengan peristiwa khusus atau spesial yang menyertaianya benda tersebut. Nilai Budaya (Culture Valu. , yaitu yang berkait dengan produk budaya yang lahir dari filosofi, hasil pemikiran, kearifan local dan pengetahuan lokal dari masyarakatnya. Nilai Manfaat (Use Valu. , yaitu bagaimana warisan budaya mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya baik manfaat materiil maupun dan atau Terkait dengan pengembangan, dalam Peraturan Menteri Nomor 01 / PRl/ M/ 2015 Tentang Bangunan Gedung Cogar Budaya Yang Dilestarikan, disebutkan dalam pelestarian bangunan atau situs cagar budaya selain aspek perlindungan juga Sedangkan startegi desain pada bangunan atau situs cagar budaya dapat dilakukan melalui: intervensi fisik dan penyisipan (Brooker dan Stone, 2. , penambahan dan transformasi (Jager, 2. serta modernisasi dan adaptasi (Cramer dan Brereiling, 2. Salah satu dari upaya yang dapat dilakukan dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan adalah dengan mengembangkan situs ini sebagai sarana rekreatif dan edukatif tanpa menghilangan signifikansinya. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siginifkansi dari Monumen Ketenangan Jiwa Signifikansi sejarah Lokasi Monumen Ketenangan Jiwa ini terletak di dekat pantai Baruna. Kelurahan Bandarharjo. Semarang. Lokasi ini dahulu sering didatangai wisatawan atau ahli waris dari keluarga tentara Jepang untuk mendoakan arwah para korban. Akses untuk menuju ke lokasi ini cukup sulit karena akses jalan yang sering tergenang oleh air ROB sehingga jalan menjadi rusak dan licin. Memori kolektif Monumen Ketenangan Jiwa merupakan monument yang mengembalikan ingatan masyarakat terhadap kejadian pertempuran 5 hari di Semarang. Monumen ini dibangun terhadap pahlawan Pertempuran Lima Hari TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 di Semarang, yang memiliki nilai besar bagi identitas kolektif warga Semarang. Namun keterbatasan akan pengetahuan terkait peristiwa sejarah ini, karena kurangnya narasi yang relevan dan menarik dalam monument tersebut tetap dalam bentuk dan material aslinya Dalam pengembangannya, beberapa hal dapat dilakukan untuk memperkuat eksistensi dari Monumen Ketenangan Jiwa. Tabel 1 menunjukkan beberapa aspek yang dapat dikembangkan ketika melakukan konservasi pada monument. Relevansi Keberadaan Monumen Keberadaan Monumen Ketenangan Jiwa saat ini, berdasarkan hasil observasi dan analisis dari 3 nilai utama warisan budaya oleh Bernard Fielden . , maka dinilai relevan dengan kondisi saat ini. Monumen ini memiliki nilai emosional dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang, sebuah momen penting dalam Indonesia. Hal tersebut relevan, dimana Monumen ini menjadi simbol patriotisme dan rasa kebangsaan, terutama pada generasi Kehadirannya memicu rasa hormat pada perjuangan para pahlawan, dan menjadi tempat refleksi untuk menghargai nilai-nilai kemerdekaan dan persatuan. Nilai budaya yang dimiliki oleh monumen ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Semarang. Monumen yang menjadi simbol kebanggaan lokal untuk dapat diwariskan ke generasi Nilai manfaat pada Monument ini secara materiil, dapat menjadi area wisata refleksi spiritual dan edukatif. Secara imateriil, monumen ini memberikan manfaat berupa pendidikan sejarah, refleksi moral, dan inspirasi spiritual. Tabel 1: Strategi pengembangan konservasi Aspek dalam Strategi Konservasi Dalam melakukan konservasi, aspek mempertahankan nilai authenticity dari monument itu. Terkait dengan aspek Kawasan Monumen Ketenangan Jiwa, monument ini harus dijaga keasliannya, sehingga pemeliharaan monumen itu sendiri menjadi focus utama dalam kegiatan pelestarian. Perlakuan yang dapat diterapkan adalah dengan menjaga monument tersebut dari setiap perubahan. Setiap perubahan harus dihindari sehingga Aspek Penjelasan Ruang Ruang Refleksi Konsep taman kecil atau kolam reflektif yang mendukung pengunjung untuk berdoa Ruang Hijau Pengembangan pada ruang hijau yang nyaman & teduh untuk dilengkapi fasilitas duduk dan vegetasi peneduh Area Makan Letak terpisah dari area doa namun tetap terjangkau agar menjaga suasana khidmat. Toilet Mini Galeri Ruang monument ketenangan jiwa, foto-foto sejarah pertempuran Lima Hari di Semarang. Area Parkir Memudahkan Aksesbilitas Tata Cahaya Elemen Pendukung Seluruh fasilitas ini tidak boleh menutupi arah utara koordinat Jepang Menambahkan ramp, jalur pemandu, paving block dan area duduk yang ramah bagi pengunjung berbagai usia dan kebutuhan khusus Pencahayaan lembut yang monumen di malam hari, suasana khidmat Panel Informasi Narasi dan penjelasan dari monument untuk sarana edukasi setelah berdoa (Sumber: Penulis, 2. TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Pengembangan bertujuan untuk memudahkan pengunjung saat berkunjung untuk berdoa. Aspek yang perlu dikembangkan antara lain ruang refleksi yang tenang dan memiliki kolam reflektif yang nyaman untuk pengunjung berdoa (Angelia & Santoso, 2. Penambahan elemen air merupakan Fasilitas berupa area makan dapat dikembangkan dengan menggunakan material lokal berupa kayu, batu alam yang desainnya menyatu dengan estetika Mini galeri sebagai area edukatif kesadaran akan menjaga keberadaan Area ini dapat berisi pameran berupa foto-foto sejarah 150 warga sipil Jepang saat Pertempuran Lima Hari di Semarang. Aksesbilitas yang perlu diperbaiki dengan menggunakan paving block dan ramp agar mudah di akses. Area duduk di beberapa sisi saat pengunjung mengakses monument yang ramah akan berbagai usia dan bekerbutuhan khusus. Pencahayaan lanskap yang lembut untuk mendukung suasana berdoa dan menciptakan suasana khusyuk pada monument saat malam hari. Selain mini galeri, panel informasi diperlukan sebagai area edukasi yang menyediakan narasi atau penjelasan sejarah monument tersebut, terutama pada generasi muda yang belum terlalu mengetahui peristiwa ini. Penutup Kesimpulan Monumen Ketenangan Jiwa Semarang memiliki signifikansi sejarah, budaya, dan manfaat yang relevan hingga saat ini. Sebagai simbol memori kolektif dari peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang, monumen ini memainkan peran penting dalam membangun identitas masyarakat lokal dan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang. Berdasarkan tiga nilai utama warisan budaya menurut Bernard Fielden . , monumen ini memiliki nilai emosional sebagai pengingat perjuangan kemerdekaan, nilai budaya sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat Semarang, dan nilai manfaat sebagai area wisata refleksi spiritual dan Namun, tantangan seperti kondisi fisik monumen, akses yang tidak memadai, serta kurangnya narasi edukatif untuk generasi muda menjadi hambatan dalam pelestarian dan pengembangan monumen ini. Dengan pendekatan pelestarian yang mencakup aspek perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, serta strategi konservasi yang mempertahankan keaslian, monumen ini dapat terus relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pengembangan fasilitas pendukung, aksesibilitas, dan elemen edukasi diharapkan mampu menjadikan Monumen Ketenangan Jiwa sebagai kawasan yang nyaman dan menarik untuk dikunjungi oleh berbagai generasi. Daftar Pustaka