Hikmat et al. Pendekatan Berbasis Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris: Program Pengabdian di Thailand / 69-75 e-ISSN: 2747-0040 | p-ISSN: 2715-5080 Vol. 07 | No. 01 (May, 2. Pendekatan Berbasis Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris: Program Pengabdian di Thailand Ade Hikmat1. Nani Solihati2. Ihsana El Khuluqo3. Siti Zulaiha4*. Jihan Fakhira5 1,2,3,4,5Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA ABSTRACT ARTICLEINFO Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan komunikasi bahasa Inggris siswa di sekolah di Thailand. Article History: melalui pendekatan pembelajaran berbasis budaya. Program ini Revised : 21 Ae 04 Ae 2025 dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan observasi pembelajaran, dan refleksi kolaboratif antara dosen dan mahasiswa dari Indonesia Accepted : 22 Ae 05 Ae 2025 dengan siswa dan guru lokal di Thailand. Hasil program menunjukkan bahwa integrasi budaya mampu meningkatkan keaktifan dan respon Kegiatan ini juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan pemahaman lintas budaya dan memperkuat hubungan bilateral IndonesiaAeThailand dalam bidang pendidikan. Received : 05 Ae 04 - 2025 Published : 28 Ae 05 Ae 2025 Keywords: Pengabdian Masyarakat Komunikasi Lintas Budaya Pembelajaran Berbasis Budaya Thailand Bahasa Inggris JEL: I21. Z13. Z38 *Corresponding Author E-mail: zulaiha@uhamka. Copyright A 2025 Authors. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License (CC-BY-SA 4. which permits use, distribution and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited & ShareAlike terms followed. - 69 - Journal of Sustainable Community Development Vol. 07 No. 01 (May, 2. PENDAHULUAN Pembelajaran bahasa asing telah menjadi perhatian global dalam era globalisasi dan konektivitas internasional. Bahasa Inggris, sebagai lingua franca, memainkan peran penting dalam komunikasi lintas budaya, pendidikan, dan dunia kerja (Virgana & Lapasau, 2. Menurut laporan EF English Proficiency Index (English First, 2. , kemampuan berbahasa Inggris di berbagai negara mengalami perkembangan yang beragam, bergantung pada kebijakan pendidikan dan eksposur terhadap bahasa tersebut. Dalam hal ini. Thailand juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan kompetensi bahasa Inggris siswanya (Apridayani & Teo, 2. Thailand. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah penguatan keterampilan berbahasa Inggris siswa di sebuah sekolah swasta di Thailand melalui pendekatan berbasis budaya, khususnya budaya Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada siswa Thailand sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan pendidikan dan budaya antara kedua negara. Selain itu, mahasiswa juga belajar sistem pendidikan dan proses belajar mengajar di sekolah Thailand. Diharapkan, program ini tidak hanya memberikan manfaat dalam aspek akademik, tetapi juga dalam membangun pemahaman lintas budaya yang lebih baik di kalangan peserta didik dua negara. Laboratory School di Thailand, memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris bagi siswanya. Meskipun demikian, tantangan masih dihadapi, terutama dalam hal meningkatkan keterampilan komunikasi lisan dan Studi Unnahasuttiyanon . menunjukkan bahwa keterbatasan interaksi dengan penutur asli dan kurangnya pendekatan berbasis budaya dalam pembelajaran bahasa Inggris menjadi faktor keterampilan berbahasa siswa. Oleh karena itu, diperlukan program yang tidak hanya berfokus pada aspek linguistik tetapi juga memperkenalkan budaya secara kontekstual guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap penggunaan bahasa Inggris dalam situasi nyata. Fokus program ini juga sejalan dengan upaya memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya siswa (Sonalitha et al. Permasalahan Mitra Laboratory School, sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan keterampilan bahasa Inggris Namun, tantangan utama yang dihadapi komunikasi lisan siswa dalam bahasa Inggris. Meskipun bahasa Inggris telah menjadi bagian dari kurikulum nasional (Phaisannan et al. , 2. siswa masih mengalami tantangan dalam mengaplikasikan bahasa tersebut dalam situasi komunikasi yang nyata (Tahe, 2. Selain itu, hasil studi terdahulu menunjukkan bahwa siswa di Thailand cenderung kurang percaya diri dan motivasi dalam menggunakan bahasa Inggris karena metode pengajaran konvensional yang berpusat pada tata bahasa dan minimnya interaksi dengan penutur asing dan kurangnya pemahaman budaya yang menyertai penggunaan bahasa tersebut (Apichat & Fatimah. Hakim, 2025. Khamprated, 2. Dalam konteks Laboratory School, permasalahan ini semakin kuat dengan keterbatasan kesempatan siswa untuk mengalami praktik bahasa yang Padahal, interaksi langsung dengan penutur asing dan pendekatan berbasis budaya telah terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi komunikasi siswa dalam bahasa Inggris (Pranata et al. , 2. Berbeda dari program-program sebelumnya yang hanya berfokus pada pengajaran bahasa Inggris secara konvensional, kegiatan ini menawarkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan pengenalan budaya, dalam hal ini budaya Indonesia, dalam satu program. Program ini menghadirkan interaksi langsung bersama akademisi dari Indonesia. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam pembelajaran bahasa Inggris serta memperkaya wawasan siswa tentang budaya negara lain, khususnya Indonesia, yang memiliki hubungan diplomatik dan historis dengan - 70 - Hikmat et al. Pendekatan Berbasis Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris: Program Pengabdian di Thailand / 69-75 Kebutuhan utama dari mitra dalam kegiatan ini adalah menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan interaktif dengan mengintegrasikan unsur budaya dalam pengajaran bahasa Inggris. Dalam konteks hubungan bilateral antara Thailand dan Indonesia, pengenalan budaya Indonesia menjadi alternatif yang relevan dalam penggunaan bahasa dalam konteks nyata. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan mitra dalam memperkuat keterampilan komunikasi bahasa Inggris siswa serta memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna melalui pendekatan berbasis budaya. Selain memberikan manfaat bagi siswa dan guru di sekolah mitra, kegiatan ini juga memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa Indonesia yang terlibat, khususnya dalam hal pengembangan keterampilan pedagogis, komunikasi lintas budaya, dan pemahaman terhadap praktik pembelajaran di konteks internasional. Interaksi langsung dengan siswa dan guru di luar negeri menjadi pengalaman reflektif yang memperkaya kompetensi profesional dan global mereka sebagai calon pendidik. mengenai praktik pembelajaran berlangsung di sekolah mitra. Refleksi Kolaboratif Setelah proses observasi, dilakukan sesi refleksi kolaboratif yang melibatkan guru, dosen, dan mahasiswa. Dalam sesi ini, temuan dari observasi dibahas bersama untuk mengidentifikasi kekuatan, tantangan, dan potensi pengembangan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Refleksi ini dilakukan dalam suasana dialogis yang mendorong pertukaran gagasan dan pengalaman antarbudaya, sekaligus memperkuat jejaring akademik antara institusi pendidikan di Indonesia dan Thailand. Metode ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di sekolah mitra, tetapi juga signifikan bagi mahasiswa. Keterlibatan aktif mereka dalam observasi dan diskusi reflektif memperkaya kompetensi pedagogis, keterampilan komunikasi lintas budaya, serta wawasan global dalam praktik pembelajaran bahasa asing. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan mengintegrasikan observasi pembelajaran dan refleksi kolaboratif antara dosen dan mahasiswa dengan siswa dan guru lokal di salah satu sekolah swasta di Thailand. Metode ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan komunikasi bahasa Inggris siswa serta memperkenalkan budaya Indonesia dalam konteks pembelajaran lintas HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Budaya Kegiatan pengabdian ini menghasilkan beberapa temuan penting terkait pembelajaran bahasa Inggris di Laboratory School, khususnya dalam konteks pendekatan berbasis budaya. Salah satu temuan utama adalah bahwa integrasi unsur budaya dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat meningkatkan motivasi siswa dalam menggunakan bahasa target. Hal ini sejalan dengan temuan Hossain . , yang menekankan bahwa bahasa dan budaya merupakan elemen yang saling terkait, di mana pemahaman budaya dapat memperkaya kompetensi komunikatif siswa. Observasi Pembelajaran Tim pengabdian, yang terdiri dari dosen dan secara langsung mengamati proses pembelajaran bahasa Inggris di kelaskelas yang dilaksanakan oleh guru lokal. Observasi difokuskan pada aspek interaksi guru dan siswa, strategi komunikasi yang digunakan dalam mengajar, serta sejauh diterapkan dalam proses pembelajaran. Pengamatan dilakukan secara sistematis untuk mendapatkan gambaran menyeluruh Selain itu, observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa pendekatan task-based learning (TBL) yang diterapkan dalam demonstrasi pengajaran memungkinkan siswa lebih aktif dalam berbicara dan berinteraksi dalam bahasa Inggris. Metode ini memberikan siswa pengalaman berbahasa yang lebih kontekstual, berbeda dari pendekatan tradisional yang cenderung berpusat pada guru. - 71 - Journal of Sustainable Community Development Vol. 07 No. 01 (May, 2. Temuan ini konsisten dengan penelitian Afifah & Devan . dan Panduwangi . , yang menunjukkan bahwa TBL dapat meningkatkan menempatkan mereka dalam situasi komunikasi yang bermakna. wawasan mereka tentang komunikasi lintas Model Pembelajaran Berbasis Budaya sebagai Solusi Dalam upaya mengatasi tantangan yang ditemukan, model pembelajaran yang diterapkan dalam program ini menggabungkan pendekatan berbasis budaya dan strategi peningkatan kepercayaan diri. Strategi meliputi permainan peran untuk meningkatkan keberanian serta pendekatan scaffolding dalam pembelajaran: Guru memberikan dukungan bertahap hingga siswa merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Prinsip scaffolding ini telah terbukti efektif dalam pembelajaran bahasa (Elsayed Abdelsalam Elghotmy, 2023. Wang. Namun, tantangan yang dihadapi dalam implementasi metode ini adalah kurangnya kepercayaan diri siswa dalam berbicara bahasa Inggris di hadapan penutur asing. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode berbasis tugas dan budaya efektif dalam meningkatkan motivasi, diperlukan strategi tambahan untuk membangun keberanian dan rasa percaya diri siswa dalam menggunakan bahasa Inggris secara aktif (Derakhshan et al. , 2. Selain itu, mahasiswa yang turut serta dalam kegiatan ini juga mengamati bahwa Laboratory School pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudentcentered learnin. serta integrasi teknologi dalam proses pembelajaran. Salah satu mahasiswa. Joko. Keunggulan utama dari model pembelajaran ini adalah kemampuannya dalam meningkatkan keterlibatan siswa melalui integrasi budaya, yang secara tidak langsung juga memperkuat pemahaman mereka tentang bahasa Inggris dalam konteks sosial yang lebih luas. Namun, kelemahannya terletak pada tantangan dalam penerapan yang memerlukan kesiapan guru serta ketersediaan materi yang relevan dan menarik bagi siswa. "Laboratory School telah menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudentcentered learnin. dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dalam assessment yang dilakukan oleh guru bahasa Inggris di kelas, yakni meminta siswa untuk melakukan self-assessment pada hasil proyeknya sendiri dan menyediakan checklist untuk membantu siswa melakukan self-assessment yang ditayangkan di depan kelas. Ay Evaluasi Tingkat Kesulitan Implementasi Dari segi implementasi, observasi dan refleksi di Laboratory School menunjukkan bahwa: Respon pembelajaran berbasis budaya cukup interaktif seperti diskusi budaya dan permainan peran. Observasi pembelajaran menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki potensi untuk diterapkan secara lebih luas, tetapi membutuhkan adaptasi lebih lanjut sesuai dengan konteks lokal dan karakteristik siswa. Siswa Laboratory School juga merasakan dampak positif dari pembelajaran berbasis budaya. Salah satu siswa mengungkapkan pengalamannya setelah mengikuti sesi pembelajaran: "Belajar bahasa Inggris dengan teman dari budaya yang berbeda itu seru dan menyenangkan! Kami jadi lebih percaya diri berbicara, memahami cara berkomunikasi dengan orang dari negara lain, dan belajar menghargai perbedaan budaya. Ay Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis budaya tidak hanya meningkatkan kompetensi bahasa siswa tetapi juga memperluas - 72 - Hikmat et al. Pendekatan Berbasis Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris: Program Pengabdian di Thailand / 69-75 Gambar 1. Mahasiswa memberikan pengalaman berkomunikasi antar lintas budaya kepada siswa di Thailand dalam sesi interaktif mengenalkan budaya Indonesia melalui permainan peran dan KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Secara keseluruhan, kegiatan ini membuktikan bahwa program pengabdian masyarakat lintas negara dapat menjadi model kolaborasi pendidikan yang efektif, khususnya dalam penguatan keterampilan komunikasi bahasa Inggris dan pemahaman lintas budaya di kalangan Melalui pendekatan berbasis budaya, siswa menunjukkan peningkatan motivasi, kepercayaan diri, dan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Integrasi materi budaya Indonesia tidak hanya memperkaya konteks pembelajaran, tetapi juga memperkuat kedekatan emosional antara peserta didik dan pengajar tamu, sehingga menciptakan suasana belajar yang bermakna. Pengembangan Materi Ajar Kontekstual Diperlukan pengembangan lebih lanjut terhadap materi ajar berbasis budaya Indonesia yang dapat digunakan secara fleksibel dalam pembelajaran bahasa Inggris. Kolaborasi mahasiswa, dan guru lokal dapat menjadi strategi yang efektif dalam merancang materi tersebut. Penguatan Kompetensi Guru dalam Interkultural Pedagogy Perlu adanya pelatihan lanjutan bagi guru di sekolah mitra mengenai strategi pembelajaran berbasis budaya dan mendukung keberlanjutan implementasi metode ini secara mandiri. Integrasi Program dalam Kurikulum Internasionalisasi Institusi pendidikan tinggi di Indonesia pengabdian lintas negara seperti ini dalam skema internasionalisasi kampus dan penguatan kompetensi global mahasiswa, terutama dalam bidang pendidikan dan Melalui pendekatan yang kolaboratif, reflektif, dan berbasis budaya, program ini tidak hanya menjawab kebutuhan mitra di Thailand, tetapi juga memperkaya praktik pengabdian masyarakat dan pembelajaran lintas negara yang bermakna. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat hubungan pendidikan dan budaya antara Indonesia dan Thailand serta memperluas wawasan global para peserta program. Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam program ini memberikan pengalaman belajar yang signifikan dalam konteks internasional. Mereka tidak hanya mengembangkan keterampilan observasi dan analisis pedagogis, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai praktik pengajaran lintas budaya. Pengalaman ini memperkuat kompetensi global mahasiswa sebagai calon pendidik yang adaptif dan terbuka terhadap keragaman budaya. TANTANGAN Beberapa tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program meliputi kendala bahasa yang masih menjadi penghalang dalam komunikasi spontan antara mahasiswa Indonesia dan siswa Thailand. Selain itu, keterbatasan waktu dan penyesuaian terhadap budaya lokal menjadi pembelajaran yang sesuai dan menarik bagi siswa. Berdasarkan hasil kegiatan, maka disampaikan beberapa rekomendasi sebagai berikut: Replikasi Program di Sekolah Lain Program serupa sebaiknya direplikasi di sekolah-sekolah lain di kawasan ASEAN, dengan penyesuaian konteks budaya dan Pendekatan ini efektif dalam memperkuat - 73 - Journal of Sustainable Community Development Vol. 07 No. 01 (May, 2. Kendala teknis seperti perbedaan format pembelajaran juga sempat mempengaruhi kelancaran integrasi materi budaya dalam sesi Namun demikian, semua tantangan ini berhasil diatasi melalui diskusi reflektif bersama guru dan koordinasi tim yang solid. Implikasi dari program ini antara lain: Pendekatan berbasis budaya terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris. Kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara pengembangan kompetensi global mahasiswa. Gambar 2. Diagram langkah-langkah pelaksanaan program: . Koordinasi awal dengan mitra, . Observasi pembelajaran, . Refleksi kolaboratif, . Implementasi kegiatan budaya di kelas, . Evaluasi dan dokumentasi. Kolaborasi lintas institusi dan negara dapat menjadi model pembelajaran inovatif untuk memperkuat diplomasi budaya. Afifah. , & Devana. Speaking skill through task based learning in English foreign language Jo-ELT (Journal of English Language Teachin. Fakultas Pendidikan Bahasa & Seni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris IKIP, 7. , 135. https://doi. org/10. 33394/jo-elt. Apichat. , & Fatimah. StudentsAo difficulties in learning English speaking: A case study in a Muslim high school in the South of Thailand. Teaching English as a Foreign Language Journal, 1. , 13Ae22. https://doi. org/10. 12928/tefl. Apridayani. , & Teo. The interplay among SRL strategies. English self-efficacy, and English proficiency of Thai university students. Studies in English Language and Education, 8. , 1123Ae1143. https://doi. org/10. 24815/siele. Derakhshan. Tahery. , & Mirarab. Helping adult and young learners to communicate in speaking Mediterranean Journal Social Sciences. https://doi. org/10. 5901/mjss. Elsayed Abdelsalam Elghotmy. Integrating instructional Scaffolding interaction cycle into dialogic teaching to enhance EFL listening and speaking skills among faculty of education sophomores. AIE EOA 44Ae. , 1. 3 A I EIIOAOA- A EOA. https://doi. org/10. 21608/muja. English First. The worldAos largest ranking of countries and regions by English skills. https://w. com/wwen/epi/ Hakim. A study on the problems faced by Thai students in learning English speaking at Boarding House. University of Muhammadiyah Malang. Hossain. Reviewing the role of culture in English language learning: Challenges and opportunities Social Sciences Humanities Open, https://doi. org/10. 1016/j. Khamprated. The problems with the English listening and speaking of students studying at a private vocational school. Srinakharinwirot University. Panduwangi. The effectiveness of task-based language teaching to improve studentsAo speaking Journal of Applied Studies in Language, 5. , 205Ae214. https://doi. org/10. 31940/jasl. Phaisannan. Charttrakul. , & Damnet. The CEFR-TBL in fostering Thai pre-service teachersAo English speaking ability using the peer interview task. Advances in Language and Literary Studies, 10. , https://doi. org/10. 7575/aiac. Pranata. Al Farisi. Iddiyaturrohmah. Wardana. , & Jaelani. Speaking with native speakers to improve speaking skills. Faidatuna, 4. , 88Ae97. https://doi. org/10. 53958/ft. Sonalitha. Setyawati. , & Haryanto. University transformation towards a learning experience - 74 - Hikmat et al. Pendekatan Berbasis Budaya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris: Program Pengabdian di Thailand / 69-75 Jurnal Penelitian, 18. , 40Ae54. https://doi. org/10. 26905/jp. Tahe. The problems of Thai students in mastering English speaking skills in the Islamic University of Lamongan. E-LINK JOURNAL, 7. , 1. https://doi. org/10. 30736/ej. Unnahasuttiyanon. English oral communication problems and strategies used by Thai reservation and ticketing agents. The International Journal of Humanities & Social Studies, 8. https://doi. org/10. 24940/theijhss/2020/v8/i3/HS2003-065 Virgana. , & Lapasau. The influence of vocabulary mastery and reading comprehension towards performance of students in mathematics. Journal of Physics: Conference Series, 1360. https://doi. org/10. 1088/1742-6596/1360/1/012001 Wang. An exploration of the impact of cognitive, meta-cognitive and motivational scaffolding on EFL students oral production in Asia context. Proceedings of the 2nd International Conference on Social Psychology and Humanity Studies. https://doi. org/10. 54254/2753-7048/43/20240856 - 75 -