Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. VISUAL PERCEPTION AND THE CONSTRUCTION OF SPIRITUAL MEANING IN THE TELAGA BATU INSCRIPTION: AN ARNHEIMIAN ANALYSIS OF THE SYMBOLS OF WATER, STONE. AND SERPENT PERSEPSI VISUAL DAN KONSTRUKSI MAKNA SPIRITUALITAS PADA PRASASTI TELAGA BATU: ANALISIS ARNHEIMIAN TERHADAP SIMBOL AIR. BATU. DAN ULAR Yosef Yulius1*. Erwan Suryanegara2. Mukhsin Patriansah3. Shalyna Nadya Amalia4. Muhammad Ubaidillah5 1 , 2 , 3 , 4 , 5 Magister Universitas Indo Global Mandiri yosef_dkv@uigm. [Article Histor. Submitted: November 3, 2025. Revised: November 21, 2025. Accepted: December 31, 2025 ABSTRACT This study aims to understand how the visual elements of the Telaga Batu Inscription shape visual perception and spiritual meaning within the cultural context of the Sriwijaya Kingdom. The research applies Rudolf ArnheimAos visual perception theory, which defines seeing as an active mental process that organizes balance, direction, and structure to generate meaning. The method used is descriptive qualitative with visual analysis of three main elements of the inscription, namely stone, water, and serpent. Data were collected through literature review and visual documentation, then analyzed to identify principles of balance, rhythm, and unity that construct spiritual experience within the ritual of oathtaking. The results show that the Telaga Batu Inscription was designed with strong visual awareness to evoke a sense of sanctity and royal authority. The stone symbolizes stability and eternity, water functions as a medium of purification, and the seven-headed serpent represents cosmic protection. These elements together form a spiritual visual communication system that reinforces the values of loyalty and power in Sriwijaya. The findings demonstrate that visual perception theory can be applied to interpret ancient artifacts as visual communication designs carrying profound spiritual and cultural values. Keywords: Arnheim. Prasasti Telaga Batu. Spirituality. Sriwijaya. Visual perception ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana elemen visual pada Prasasti Telaga Batu membentuk persepsi visual dan makna spiritualitas dalam konteks budaya Sriwijaya. Kajian ini menggunakan teori persepsi visual Rudolf Arnheim yang menjelaskan proses melihat sebagai aktivitas mental aktif dalam menata keseimbangan, arah, dan struktur Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. bentuk untuk menghasilkan makna. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis visual terhadap tiga elemen utama prasasti yaitu batu, air, dan Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumentasi visual, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi prinsip keseimbangan, ritme, dan kesatuan bentuk yang membangun pengalaman spiritual dalam konteks ritual sumpah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prasasti Telaga Batu dirancang dengan kesadaran visual yang tinggi untuk menghadirkan rasa kesucian dan kekuasaan. Batu melambangkan keteguhan dan kekekalan, air berfungsi sebagai medium penyucian, sedangkan ular berkepala tujuh merepresentasikan pelindung kosmis. Ketiga elemen tersebut membentuk sistem komunikasi visual spiritual yang menegaskan nilai kesetiaan dan kekuasaan raja Sriwijaya. Temuan ini memperlihatkan bahwa teori persepsi visual dapat digunakan untuk memahami artefak kuno sebagai desain komunikasi visual yang memiliki nilai spiritual dan budaya tinggi. Kata kunci: Arnheim. Persepsi visual. Prasasti Telaga Batu. Spiritualitas. Sriwijaya PENDAHULUAN Kedatuan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang menggabungkan kekuasaan politik, spiritualitas, dan seni visual dalam satu sistem simbolik yang utuh. Berbagai peninggalan arkeologis seperti prasasti, arca, dan ornamen menunjukkan bahwa kekuasaan pada masa itu tidak hanya diwujudkan melalui struktur pemerintahan, tetapi juga melalui bentuk-bentuk visual yang mengandung nilai spiritual dan ideologis. Suryanegara . menjelaskan bahwa kebesaran Sriwijaya tidak hanya ditopang oleh kejayaan ekonomi dan militernya, tetapi juga oleh sistem nilai budaya yang menjadikan simbol-simbol visual sebagai sarana komunikasi kekuasaan dan spiritualitas. Relevansi penelitian ini juga sejalan dengan pandangan Macit (Macit, 2. bahwa pelestarian warisan budaya harus mencakup dimensi visual dan interpretatif, agar artefak tidak hanya dipertahankan sebagai objek material, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang terus dimaknai ulang melalui praktik desain dan komunikasi budaya. Pandangan ini memperlihatkan bahwa kesadaran estetik dan religius telah menjadi bagian dari strategi representasi kekuasaan sejak masa awal kerajaan. Prasasti Telaga Batu merupakan salah satu artefak yang menegaskan hal tersebut, karena memadukan teks, bentuk, dan fungsi ritual dalam satu kesatuan visual yang menggambarkan legitimasi dan kesucian. Dengan demikian, penelitian terhadap prasasti ini penting untuk mengungkap peran visual sebagai medium komunikasi spiritual yang menyatukan makna religius, politik, dan estetika dalam konteks sejarah Nusantara. Kekuatan visual Prasasti Telaga Batu terletak pada perpaduan antara bentuk, simbol, dan fungsi ritualnya. Di bagian atas, terdapat tujuh kepala ular kobra yang terukir dengan posisi melengkung dan simetris, sementara di bagian Vol. No. Desember 2025 Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. bawah terdapat cerat air yang menunjukkan adanya interaksi fisik antara prasasti dan ritus penyiraman. Figur ular pada prasasti ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, melainkan sebagai simbol pengawasan ilahi yang menjaga kesucian sumpah para pejabat Kedatuan Sriwijaya (Alnoza, 2. Bentuk kepala ular yang berjumlah tujuh melambangkan kesempurnaan kosmis, sedangkan posisi vertikal prasasti dari kepala ular hingga cerat air menggambarkan hubungan antara alam atas dan bawah sebagai simbol kesatuan spiritual. Dalam tradisi budaya maritim Nusantara, visualitas seperti ini mencerminkan pemikiran simbolik yang menempatkan makna religius dan politik dalam satu ruang visual yang utuh. Prasasti Telaga Batu dengan demikian memperlihatkan kemampuan para pemahat dan perancang visual masa itu dalam merancang medium komunikasi yang tidak hanya estetis, tetapi juga berfungsi sebagai perantara spiritual antara datu, rakyat, dan kekuatan adikodrati. Makna spiritual dalam Prasasti Telaga Batu tidak dapat dilepaskan dari dua unsur utama yang melekat padanya, yaitu air dan batu, yang keduanya memiliki posisi simbolik penting dalam kebudayaan Nusantara. Air dalam konteks ritual tradisional selalu dipahami sebagai medium penyucian dan penghubung antara manusia dengan kekuatan ilahi. Djamaluddin. Kartimi, dan Rahtikawati . menyatakan bahwa dalam berbagai tradisi lokal di Indonesia, air dipandang sebagai simbol kehidupan, pemurnian, dan transformasi spiritual yang menghubungkan dimensi duniawi dengan kesakralan. Pandangan ini sejalan dengan Sari . yang menjelaskan bahwa dalam konsep agama tirtha, air menjadi sarana pembebasan dari kegelapan batin dan sekaligus pemersatu manusia dengan alam suci. Di sisi lain, batu memiliki makna kekekalan dan kekuatan spiritual yang menjadi wadah bagi pesan dan nilai yang bersifat abadi. Kajian Batu Na Pir Sitinjak . memperlihatkan bahwa dalam tradisi Batak Toba, batu diposisikan sebagai simbol keteguhan dan saksi spiritual dalam berbagai upacara adat, sehingga fungsinya tidak hanya material, tetapi juga Dengan demikian, perpaduan unsur air dan batu dalam Prasasti Telaga Batu tidak hanya merepresentasikan aspek teknis dari artefak, melainkan juga menghadirkan simbolisme visual yang memperkuat pesan spiritualitas dan kekuasaan dalam sistem kepercayaan Kedatuan Sriwijaya. Keberadaan figur ular berkepala tujuh pada bagian atas Prasasti Telaga Batu menjadi pusat perhatian dalam kajian ikonografi spiritual Kedatuan Sriwijaya. Motif ini memperlihatkan pemikiran visual yang tidak sekadar estetis, tetapi juga sarat dengan nilai simbolik dan religius. DeCaroli . dalam studinya mengenai ikonografi naga dan air di Asia Selatan menjelaskan bahwa ular atau nAga merupakan simbol penjaga kesucian dan pelindung sumber air, sekaligus representasi kekuatan spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan alam adikodrati. Dalam konteks itu, penempatan tujuh kepala ular pada puncak prasasti dapat dipahami sebagai perlambang kesempurnaan dan keseimbangan Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. kosmis yang menjaga tatanan kekuasaan datu Sriwijaya. Hal ini selaras dengan temuan Akiz . yang mengungkap bahwa angka tujuh dalam berbagai peradaban Asia kuno melambangkan kesempurnaan spiritual dan harmoni antara unsur langit dan bumi. Dengan demikian, figur ular berkepala tujuh dalam Prasasti Telaga Batu dapat ditafsirkan sebagai sistem simbolik visual yang menggabungkan gagasan spiritualitas, legitimasi kekuasaan, dan keselarasan alam semesta. Keberadaannya menunjukkan bagaimana seniman dan perancang visual masa Sriwijaya telah menggunakan prinsip simbolisme universal untuk menguatkan pesan spiritual yang ingin disampaikan melalui artefak batu tersebut. Hubungan antara simbolisme visual dan konstruksi kekuasaan dalam Prasasti Telaga Batu memperlihatkan pemahaman mendalam terhadap fungsi komunikasi visual spiritual pada masa Kedatuan Sriwijaya. Setiap elemen visual yang terukir di atas batu tidak hanya memiliki makna simbolik, tetapi juga berfungsi sebagai pernyataan legitimasi terhadap kekuasaan datu. Iannone . menjelaskan bahwa dalam banyak tradisi Asia Tenggara, kombinasi antara motif air dan serpent sering digunakan dalam artefak keagamaan untuk menegaskan kesucian dan kekuatan ilahi yang menopang otoritas politik. Hal ini menunjukkan bahwa desain prasasti tidak dapat dilepaskan dari strategi visual yang menanamkan rasa tunduk dan hormat terhadap kekuasaan spiritual. Melalui bentuk fisik batu yang kokoh dan elemen air yang bergerak, makna visual yang dihasilkan bersifat performatif: prasasti tidak hanya dibaca, tetapi juga dialami melalui ritual sumpah yang melibatkan penglihatan, sentuhan, dan partisipasi Dengan demikian. Prasasti Telaga Batu berfungsi sebagai sistem komunikasi visual yang kompleks, di mana pesan kekuasaan diinternalisasi melalui pengalaman estetis dan spiritual, menjadikannya contoh awal praktik desain komunikasi visual dalam konteks budaya maritim Nusantara. Berbagai penelitian terdahulu mengenai Prasasti Telaga Batu umumnya berfokus pada dua pendekatan utama, yaitu pendekatan arkeologis dan semiotik. Pendekatan arkeologis yang dilakukan oleh arkeolog menitikberatkan pada isi teks dan fungsi politik prasasti sebagai dokumen kutukan kerajaan, dengan perhatian yang lebih besar pada aspek filologis daripada visual (Boechari, 1. Sementara itu, penelitian Alnoza . menggunakan kerangka semiotika Peirce untuk menafsirkan figur ular sebagai ikon kekuasaan dan simbol moralitas sosial yang memperkuat wibawa datu Sriwijaya. Kedua pendekatan tersebut memang memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman makna simbolik prasasti, tetapi keduanya belum menyinggung secara mendalam bagaimana struktur visual dan pengalaman perseptual bekerja dalam membangun kesan spiritualitas artefak Kajian visual terhadap simbol-simbol budaya Nusantara juga pernah dilakukan oleh Adisukma. Yustana. Kusmadi, dan Supriyanto . dalam analisisnya terhadap Surya Majapahit. Mereka menemukan bahwa struktur visual tradisional dapat mengandung sistem makna kosmologis yang merepresentasikan Vol. No. Desember 2025 Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. relasi antara manusia, alam, dan kekuasaan spiritual. Temuan tersebut memperkuat posisi penelitian ini dalam membaca Prasasti Telaga Batu sebagai artefak visual yang mengandung sistem makna spiritual dan politik yang serupa. Belum ada kajian yang memeriksa bagaimana komposisi bentuk, arah, keseimbangan, dan materialitas batu dapat menghasilkan pengalaman visual yang memengaruhi kesadaran spiritual khalayak. Dari celah inilah penelitian ini menempatkan diri, dengan menawarkan pendekatan persepsi visual untuk membaca kembali Prasasti Telaga Batu sebagai sistem komunikasi spiritual yang berbasis pada pengalaman penglihatan dan struktur bentuk. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berpijak pada teori persepsi visual yang dikemukakan oleh Rudolf Arnheim, yang melihat proses penglihatan sebagai aktivitas mental yang aktif dan terstruktur. Arnheim . menegaskan bahwa bentuk visual tidak hanya menjadi objek yang dilihat, tetapi juga sarana bagi pikiran untuk memahami keteraturan, keseimbangan, dan arah yang membangun makna. Persepsi visual secara mendasar berbeda dari pendekatan semiotika yang berfokus pada relasi antara tanda dan penanda dalam sistem Melalui teori persepsi visual, artefak seperti Prasasti Telaga Batu dapat dibaca bukan semata sebagai teks simbolik, melainkan sebagai konstruksi visual yang mengaktifkan pengalaman psikologis dan spiritual melalui keteraturan Dalam konteks teori komunikasi visual modern. Aiello & Parry . menekankan bahwa gambar dan artefak visual berperan sebagai sistem budaya yang membentuk persepsi sosial, sehingga pengalaman melihat tidak pernah netral, melainkan dipengaruhi oleh struktur budaya dan makna kolektif. Dalam ranah desain komunikasi visual, teori ini dipandang penting karena menekankan bahwa keindahan dan makna lahir dari struktur perseptual yang tertata secara harmonis, bukan hanya dari konvensi budaya. Yulius . menambahkan bahwa proses desain komunikasi visual berbasis budaya sebaiknya dipahami sebagai praktik reflektif yang tidak hanya menciptakan bentuk, tetapi juga merekonstruksi nilai dan identitas melalui pengalaman perseptual. Pandangan ini memperluas arah kajian DKV Indonesia yang sebelumnya banyak menekankan semiotika simbolik. Dharsono . memperkuat pendekatan ini dengan menyatakan bahwa persepsi visual menjadi dasar bagi pembentukan rasa estetis dan pemaknaan terhadap karya seni maupun objek budaya. Sebagai pembanding. Adisukma et al. menafsirkan Surya Majapahit melalui semiotika dan hermeneutika simbol, sementara penelitian ini berfokus pada bagaimana struktur bentuk secara perseptual membangkitkan pengalaman spiritual melalui keseimbangan dan arah visual. Pendekatan persepsi visual tidak berdiri sendiri, melainkan dapat diperkaya dengan pemahaman komunikasi ritual dan simbolisme budaya. Komunikasi bukan hanya proses transmisi pesan, tetapi juga tindakan ritual yang meneguhkan nilai, keyakinan, dan struktur sosial melalui simbol-simbol yang dihayati bersama Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. (Carey, 2. Pandangan ini memperluas gagasan Arnheim tentang pengalaman visual menjadi pengalaman kultural yang melibatkan kesadaran kolektif. Pandangan ini juga sejalan dengan kajian Widagdo . yang menunjukkan bahwa ruang estetika dalam desain kontemporer Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi visual, tetapi juga sebagai wahana spiritual yang merefleksikan kesadaran budaya lokal terhadap tanda dan makna. Pendekatan ini mempertegas posisi penelitian ini yang menempatkan visualitas Prasasti Telaga Batu sebagai wujud komunikasi antara nilai estetis dan spiritualitas budaya Sriwijaya. Dalam konteks Prasasti Telaga Batu, proses penglihatan terhadap bentuk ular, batu, dan air tidak sekadar menghasilkan persepsi estetis, tetapi juga membangkitkan kesadaran spiritual yang memperkuat legitimasi kekuasaan datu Sriwijaya. Sementara itu. Turner . menekankan bahwa simbol-simbol dalam ritual bekerja sebagai Auoperator sosialAy yang menghubungkan manusia dengan tatanan kosmik dan moral. Dengan menggabungkan teori persepsi visual Arnheim dengan konsep komunikasi ritual Carey dan simbolisme Turner, penelitian ini menempatkan Prasasti Telaga Batu sebagai media desain spiritual yang tidak hanya menampilkan bentuk, tetapi juga menyalurkan makna sosial dan religius melalui pengalaman perseptual yang kolektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis visual Arnheimian, yang menekankan pemahaman mendalam terhadap struktur bentuk dan pengalaman perseptual. Penelitian kualitatif bertujuan menggali makna fenomena melalui interpretasi terhadap data non-numerik, terutama yang berkaitan dengan konteks sosial dan budaya (John W. Prinsip-prinsip pengamatan visual dalam penelitian ini juga mengacu pada pemikiran Mukhopadhyay . yang menekankan pentingnya ergonomi visual sebagai pendekatan analitis dalam memahami kenyamanan persepsi dan keseimbangan komposisi dalam karya desain komunikasi. Pendekatan ini sesuai dengan karakter Prasasti Telaga Batu yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, tetapi harus dipahami melalui pengamatan visual dan interpretasi simbolik terhadap bentuk, arah, keseimbangan, serta fungsi ritualnya. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka dan dokumentasi visual dari berbagai sumber arkeologis dan akademik yang relevan. Tahapan analisis dilakukan dengan mengidentifikasi prinsip-prinsip persepsi visual seperti keseimbangan, ritme, arah, dan struktur yang membangun pengalaman spiritual. Pendekatan kualitatif deskriptif ini memperkuat posisi penelitian sebagai studi interpretatif yang menempatkan artefak budaya sebagai media komunikasi visual spiritual, sejalan dengan pandangan Djamaluddin. Kartimi, dan Rahtikawati . yang menegaskan pentingnya konteks nilai dan makna dalam memahami simbolisme Vol. No. Desember 2025 Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Tujuan utama penelitian ini adalah mengungkap bagaimana elemen-elemen visual pada Prasasti Telaga Batu membentuk persepsi spiritualitas melalui struktur bentuk, keseimbangan, dan materialitasnya. Dengan menggunakan teori persepsi visual Rudolf Arnheim, penelitian ini berupaya menjelaskan bahwa pengalaman spiritual dapat lahir dari interaksi kognitif antara penglihatan dan struktur visual yang terencana. Pendekatan ini menghasilkan pemahaman baru bahwa artefak kuno seperti Prasasti Telaga Batu tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga merupakan rancangan komunikasi visual yang kompleks dan sadar bentuk. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian desain komunikasi visual berbasis budaya lokal, dengan menegaskan bahwa makna dan spiritualitas dalam karya visual dapat dianalisis melalui perspektif persepsi, bukan hanya semiotika atau linguistik. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan teori Arnheimian dalam konteks artefak Nusantara, yang sebelumnya belum pernah digunakan untuk membaca konstruksi makna visual pada peninggalan masa Kedatuan Sriwijaya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah kajian DKV berbasis budaya, tetapi juga memperluas pemahaman tentang bagaimana desain berperan dalam membentuk kesadaran spiritual dan identitas visual bangsa. PEMBAHASAN Metode dalam Penelitian Hasil observasi visual terhadap Prasasti Telaga Batu menunjukkan bahwa artefak ini merupakan monumen batu andesit berukuran besar dengan bentuk menyerupai perisai vertikal, berukuran sekitar 118 sentimeter tinggi dan 148 sentimeter lebar. Bagian atasnya menampilkan tujuh kepala ular kobra yang dipahat dengan tingkat detail tinggi, membentuk komposisi melengkung yang seimbang secara simetris. Permukaan tengah prasasti diisi dengan baris teks beraksara Pallawa berbahasa Melayu Kuno yang dipahat secara rapi dalam arah horizontal, sedangkan bagian bawahnya dilengkapi dengan cerat air yang berfungsi sebagai saluran ritual. Berdasarkan analisis foto dan dokumentasi lapangan yang dikompilasi dari sumber arkeologis, tampak bahwa keseluruhan struktur prasasti didesain dengan pola vertikal hierarkis yang menuntun arah pandang dari kepala ular di bagian atas menuju cerat air di bagian Boechari . mencatat bahwa keberadaan cerat tersebut berkaitan dengan prosesi penyiraman air suci dalam upacara sumpah kesetiaan kepada datu Sriwijaya, yang memperlihatkan fungsi ritual yang terintegrasi dengan desain fisik prasasti. Secara visual, hubungan antara elemen atas, tengah, dan bawah membentuk keseimbangan komposisi yang menunjukkan perencanaan estetis dan spiritual yang matang, memperkuat asumsi bahwa Prasasti Telaga Batu tidak hanya berfungsi sebagai dokumen politik, tetapi juga sebagai rancangan visual sakral yang mengandung pesan kekuasaan dan spiritualitas. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Gambar 1. Dokumentasi Visual Prasasti Telaga Batu (Sumber: Yuius, 2. Analisis terhadap komposisi visual Prasasti Telaga Batu memperlihatkan keteraturan bentuk yang menunjukkan adanya kesadaran estetis dalam Secara struktural, keseimbangan visual . tampak dari penyusunan vertikal tiga lapisan utama: bagian atas dengan tujuh kepala ular, bagian tengah berisi teks kutukan, dan bagian bawah dengan cerat air. Pola vertikal ini membentuk arah pandang . yang mengalir dari atas ke bawah, menuntun mata pengamat dari simbol pelindung kosmis menuju titik ritus Arah pandang dalam suatu komposisi berperan penting dalam membentuk makna psikologis dan kesan keseimbangan dinamis (Arnheim, 2. Dalam konteks ini, struktur vertikal prasasti tidak hanya mengatur komposisi visual, tetapi juga menciptakan pengalaman perseptual yang menggabungkan rasa kekuasaan dan kesucian. Hal tersebut diperkuat oleh temuan Andhifani dan Tedjowasono . yang menjelaskan bahwa fungsi utama prasasti ini berkaitan dengan legitimasi birokrasi Kedatuan Sriwijaya melalui sumpah pejabat, di mana bentuk vertikalnya dapat dimaknai sebagai representasi hierarki antara datu, pejabat, dan kekuatan spiritual. Dengan demikian, keseimbangan bentuk dan arah pandang yang hadir dalam struktur visual prasasti bukan hanya hasil artistik, tetapi juga bagian dari sistem komunikasi spiritual yang dirancang secara sadar untuk meneguhkan tatanan kekuasaan. Tabel 1. Analisis Keseimbangan Visual Prasasti Telaga Batu Elemen Visual Letak Komposisi Arah Pandang Tujuh kepala ular Teks Bagian atas Bagian Downward Stabil Prinsip Persepsi (Arnhei. Balance & Direction Structural Rhythm Cerat air Bagian bawah Gerak turun Direction & Force Vol. No. Desember 2025 Makna Simbolik Pelindung kosmis dan otoritas spiritual Legitimasi kekuasaan melalui Penyucian dan peneguhan sumpah Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Hasil pengamatan terhadap relief tujuh kepala ular pada bagian atas Prasasti Telaga Batu memperlihatkan penerapan prinsip rhythm dan repetition yang kuat dalam struktur visualnya. Pola tujuh kepala ular yang teratur dan berjarak simetris menciptakan irama visual yang menuntun pandangan secara berulang dari sisi kiri ke kanan, menghasilkan kesan keteraturan dan stabilitas spiritual. Arnheim . menjelaskan bahwa ritme visual terbentuk melalui pengulangan elemen serupa yang menimbulkan pengalaman perseptual berkesinambungan dan menegaskan keseimbangan dalam komposisi. Dalam konteks ini, bentuk kepala ular yang berulang tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, melainkan menciptakan dinamika visual yang menghadirkan rasa keteraturan kosmis. DeCaroli . mengaitkan pola berulang naga atau ular dalam ikonografi Asia Selatan dengan ide tentang siklus kehidupan, kesuburan, dan kekuasaan ilahi yang terus-menerus memperbarui diri. Prinsip serupa tampak diterapkan dalam desain prasasti ini: pengulangan bentuk ular membangun narasi visual tentang kesinambungan kekuasaan dan perlindungan spiritual Kedatuan Sriwijaya. Dengan demikian, ritme visual yang dihasilkan oleh struktur berulang tersebut bekerja sebagai mekanisme persepsi yang memperkuat kesan sakral sekaligus mempertegas fungsi ritual dari prasasti sebagai medium legitimasi spiritual dan politik. Tabel 2. Pola Ritme dan Keteraturan Komposisi Prasasti Telaga Batu Elemen Visual Kepala . Ukiran Pola Pengulangan Simetris berirama kiriAe Baris Garis Repetisi linier batas dan vertikal Prinsip Arnheim Rhythm & Repetition Efek Perseptual Keteraturan dan stabilitas visual Continuity Aliran pandangan Order & Balance Menegaskan kesatuan bidang Makna Simbolik Kesempurnaan kosmis dan perlindungan ilahi Ketertiban hukum dan kesetiaan Batas antara dunia sakral dan profan Hubungan antara batu dan air pada Prasasti Telaga Batu memperlihatkan kontras visual yang kaya makna. Secara material, batu yang keras dan statis menjadi dasar yang menampung teks dan simbol, sedangkan air yang mengalir melalui cerat di bagian bawah menghadirkan unsur gerak dan kehidupan. Dalam pandangan Arnheim, hubungan antara elemen statis dan dinamis membentuk keseimbangan perseptual . alance of force. , di mana kekokohan batu memberi titik stabil bagi gerakan air yang bersifat sementara. Djamaluddin. Kartimi, dan Rahtikawati . menjelaskan bahwa dalam tradisi budaya Indonesia, air kerap digunakan dalam ritus penyucian dan pemulihan spiritual, karena dipahami Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. sebagai medium yang menghubungkan manusia dengan alam ilahi. Sementara itu. Sari . menambahkan bahwa air dalam konsep tirtha memiliki fungsi simbolis untuk memurnikan kesadaran dan meneguhkan ikatan spiritual antara manusia dan kekuatan adikodrati. Dalam konteks itu, perpaduan antara batu dan air dalam Prasasti Telaga Batu tidak hanya menampilkan harmoni visual, tetapi juga merepresentasikan dualitas spiritual antara kekekalan dan transformasi. Batu menjadi lambang keabadian kekuasaan datu, sedangkan air menjadi simbol keberlanjutan kehidupan dan penyucian moral. Keduanya menciptakan pengalaman visual yang menyatukan prinsip kestabilan dan gerak dalam satu komposisi spiritual yang utuh. Gambar 2. Skema Interaksi Batu dan Air pada Prasasti Telaga Batu (Sumber: Yuius, 2. Ular berkepala tujuh yang terukir pada bagian atas Prasasti Telaga Batu merupakan elemen visual paling dominan sekaligus paling sarat makna spiritual. Secara visual, tujuh kepala ular yang melengkung membentuk komposisi ritmis dengan titik pusat pada kepala tengah yang lebih menonjol, menciptakan prinsip visual emphasis sebagaimana dijelaskan oleh Arnheim, di mana fokus penglihatan diarahkan pada elemen utama yang memancarkan kesan kekuatan dan Alnoza . menafsirkan bahwa figur ular dalam prasasti ini melambangkan kekuatan ilahi yang mengawasi pelaksanaan sumpah pejabat, menjadi simbol moralitas dan ketundukan terhadap datu Sriwijaya. Dalam konteks simbolisme lintas budaya. DeCaroli . menunjukkan bahwa figur naga atau nAga dalam seni Buddhis Asia Selatan sering dikaitkan dengan penjaga sumber air dan pelindung kesucian, sementara Akiz . menjelaskan bahwa angka tujuh secara universal melambangkan kesempurnaan spiritual dan keseimbangan antara dunia fana dan dunia adikodrati. Dengan demikian, kehadiran tujuh kepala ular dalam prasasti ini dapat dibaca sebagai representasi visual dari konsep kosmos yang harmonis: datu sebagai pusat spiritual dihubungkan dengan alam Vol. No. Desember 2025 Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. ilahi melalui simbol pelindung yang sempurna. Ular dalam posisi melingkar dan simetris menciptakan kesan keseimbangan dinamis antara ancaman dan perlindungan, menegaskan bahwa kekuasaan Sriwijaya tidak hanya bersifat politik, tetapi juga berlandaskan kekuatan spiritual yang diwujudkan melalui bahasa visual. Tabel 3. Asosiasi Simbolik Ular Berkepala Tujuh pada Prasasti Telaga Batu Aspek Visual Posisi dan Bentuk Tujuh kepala Terletak di puncak membentuk pola Paling menonjol, membentuk titik fokus pandang Kepala tengah Kelengkungan tubuh ular Mengalir ke dua sisi luar bidang Prinsip Arnheim Visual Emphasis. Balance Makna Simbolik Perlindungan. Focus & Dominance Titik kekuasaan ilahi Direction & Flow Kesinambungan dan Konteks Spiritual Pelindung sumpah dan legitimasi datu Hubungan vertikal datu dengan alam Simbol spiritual dunia atasAebawah Struktur keseluruhan Prasasti Telaga Batu menunjukkan kesatuan visual yang tidak hanya estetis, tetapi juga spiritual. Elemen-elemen seperti ular, teks, dan air disusun dalam satu kesatuan komposisi vertikal yang mengarahkan pengalaman perseptual pengamat untuk mengikuti alur sakral dari atas ke bawah. Arnheim menjelaskan bahwa prinsip unity tercapai ketika setiap bagian dalam karya visual saling bergantung untuk membentuk totalitas makna, sedangkan visual force bekerja melalui arah pandang dan tekanan bentuk yang menimbulkan respons emosional dan kognitif. Dalam prasasti ini, gaya visual yang simetris dan vertikal menciptakan tekanan pandangan yang kuat dari bagian atas menuju cerat air di bawahnya, sehingga menghasilkan pengalaman visual yang menyerupai gerak ritual penurunan energi suci. Carey . menegaskan bahwa komunikasi ritual tidak hanya mentransmisikan pesan, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif melalui simbol dan tindakan yang berulang. Sementara itu. Turner . memandang simbol ritual sebagai Auoperator sosialAy yang menghubungkan individu dengan tatanan moral dan spiritual masyarakatnya. Dengan demikian, kesatuan bentuk dan arah dalam Prasasti Telaga Batu bekerja sebagai mekanisme komunikasi spiritual: batu menjadi media yang memfokuskan pandangan, sementara visualitas ular dan air memandu kesadaran menuju pengalaman kesucian dan peneguhan kekuasaan. Komposisi ini memperlihatkan bahwa perancang artefak tidak hanya berpikir secara artistik, tetapi juga memahami bagaimana struktur visual dapat menyalurkan energi spiritual melalui persepsi. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Hasil analisis visual terhadap Prasasti Telaga Batu memperlihatkan bahwa struktur bentuk dan simbolismenya berakar kuat pada pandangan kosmologis masyarakat Kedatuan Sriwijaya. Kesatuan antara ular, batu, dan air tidak hanya menciptakan komposisi estetis, tetapi juga merepresentasikan tatanan nilai yang hidup dalam budaya maritim Nusantara: kekuasaan, kesucian, dan keseimbangan Carey menjelaskan bahwa praktik komunikasi ritual berfungsi memperkuat kesadaran kolektif melalui pengalaman simbolik yang diulang secara sosial, sementara Turner menegaskan bahwa simbol-simbol budaya bekerja sebagai struktur moral yang menjaga kesinambungan makna di tengah perubahan sosial. Dalam konteks itu. Prasasti Telaga Batu dapat dipahami sebagai visual liturgy yakni bentuk komunikasi visual yang bukan hanya dibaca, tetapi dihayati melalui pengalaman ritual. Djamaluddin. Kartimi, dan Rahtikawati . menambahkan bahwa dalam tradisi keagamaan di Nusantara, air sering diposisikan sebagai elemen pemersatu antara dunia manusia dan kekuatan ilahi, sedangkan batu menjadi lambang kestabilan moral dan legitimasi kekuasaan. Dengan menggabungkan prinsip-prinsip visual tersebut. Kedatuan Sriwijaya menampilkan bentuk komunikasi kekuasaan yang halus namun kuat: bukan melalui kata, melainkan melalui persepsi visual yang mengikat spiritualitas dan politik dalam satu sistem tanda yang utuh. Makna ini memperlihatkan bahwa desain artefak pada masa Sriwijaya telah berfungsi bukan sekadar sebagai seni rupa, tetapi sebagai media ritual yang menata kembali hubungan antara manusia, kekuasaan, dan alam suci. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa Prasasti Telaga Batu merupakan bentuk desain komunikasi spiritual yang terencana dan memiliki struktur persepsi visual yang kompleks. Melalui penerapan teori Arnheim, dapat dipahami bahwa keseimbangan bentuk, arah pandang, ritme, dan kesatuan visual bekerja bersama untuk membangun pengalaman perseptual yang menghadirkan rasa kesucian dan Analisis empiris memperlihatkan bahwa setiap unsur visualdari kepala ular hingga cerat air tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dalam membentuk sistem komunikasi yang bersifat performatif dan kolektif. Dengan mengaitkan hasil visual ini pada kerangka simbolisme budaya sebagaimana dijelaskan Carey dan Turner, penelitian ini memperlihatkan bahwa desain pada masa Kedatuan Sriwijaya telah berfungsi sebagai sarana pengikat nilai spiritual dan politik melalui pengalaman visual yang terstruktur. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi dalam memperluas ranah teori DKV dengan mengintegrasikan pendekatan persepsi visual ke dalam kajian artefak budaya, memperkuat posisi DKV sebagai disiplin yang mampu membaca simbolisme dan spiritualitas melalui bentuk visual. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan desain identitas visual yang berakar pada nilai-nilai budaya Nusantara, terutama dalam merancang sistem visual yang mengandung makna simbolik dan spiritual. Dengan demikian. Prasasti Telaga Batu bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan paradigma awal tentang bagaimana Vol. No. Desember 2025 Yosef Yulius. Erwan Suryanegara. Mukhsin Patriansah. Shalyna Nadya Amalia. Muhammad Ubaidillah Persepsi Visual dan Konstruksi Makna Spiritualitas pada Prasasti Telaga Batu. Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. visualitas berperan dalam membangun kesadaran, kekuasaan, dan spiritualitas dalam sejarah desain Indonesia. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Prasasti Telaga Batu berfungsi sebagai desain komunikasi spiritual yang dirancang sadar bentuk untuk melegitimasi kekuasaan dalam konteks Kedatuan Sriwijaya. Struktur komposisi vertikal dari tujuh kepala ular di bagian atas, teks kutukan di bagian tengah, dan cerat air di bagian bawah menghasilkan arah pandang yang konsisten dari atas ke bawah. Keteraturan ini membangun pengalaman perseptual yang meneguhkan rasa kesucian, kekuasaan, dan perlindungan kosmis. Analisis berbasis teori persepsi visual menegaskan bahwa keseimbangan, ritme pengulangan, penekanan fokus, serta kesatuan bentuk bekerja bersama sebagai sistem visual yang menghadirkan makna spiritual tanpa bergantung pada konvensi linguistik semata. Materialitas batu yang statis dan aliran air yang dinamis membentuk keseimbangan perseptual antara kekekalan dan transformasi. Batu memosisikan prasasti sebagai saksi abadi ikatan sumpah, sedangkan air berperan sebagai medium penyucian dan pengikat komunal dalam ritus. Figur ular berkepala tujuh menghadirkan simbol perlindungan dan kesempurnaan kosmis yang memperkuat legitimasi datu. Dengan demikian, artefak ini tidak hanya dapat dipahami sebagai dokumen epigrafis, tetapi sebagai rancangan visual sakral yang menghubungkan tatanan kosmos, kekuasaan politik, dan kesadaran spiritual melalui pengalaman Secara teoretis, penelitian ini memperluas kajian DKV berbasis budaya dengan menunjukkan bahwa penerapan kerangka persepsi visual mampu mengungkap mekanisme pembentukan makna spiritual pada artefak kuno. Secara metodologis, pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis visual Arnheimian terbukti efektif untuk membaca hubungan bentuk, material, dan ritus dalam artefak yang dihasilkan di luar konteks media modern. Secara praktis, temuan ini memberikan rujukan bagi perancangan identitas visual berbasis warisan budaya yang menekankan struktur perseptual sebagai penggerak makna, bukan sekadar adopsi simbol. Sebagai saran, penelitian lanjutan dapat memperluas objek kajian pada prasasti atau artefak sejenis di Sumatra dan Asia Tenggara maritim untuk membangun komparasi lintas situs. Studi eksperimental yang menguji respon perseptual publik terhadap rekonstruksi visual Prasasti Telaga Batu juga direkomendasikan agar diperoleh bukti empiris mengenai bagaimana keseimbangan, ritme, dan penekanan bentuk memengaruhi pengalaman sakral. Kolaborasi interdisipliner antara DKV, arkeologi, filologi, dan antropologi visual Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. akan memperkaya pemetaan relasi antara struktur bentuk, performativitas ritus, serta konstruksi makna dalam warisan visual Nusantara. DAFTAR PUSTAKA