E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 DOI: https://doi. org/10. 31933/eej. Received: 04/12/2022. Revised: 06/12/2022. Publish: 01/02/2022 PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING (PETA PIKIRAN) DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS IX MTSN KURANJI PADANG. Herlina MTsN 5 Kota Padang Email: lailani20018@Gmail. Abstrak Permasalahan yang dihadapi oleh guru Biologi diMTsN Kuranji Padang adalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar. Cara yang diperkirakan dapat membantu untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran adalah dengan melalui model pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikira. Dengan adanya Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikira. kepada siswa diharapkan akan membuat semua siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan aktivitas dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing terdiri dari dua kali pertemuan. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan melalui penggunaan Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikira. , hal ini dapat dilihat dari rata-rata aktivitas siswa yang ikut membawa / menyiapkan alat dan bahan pembuatan Mind map siklus I 79,99 % , siklus II 93,33 %, aktif mengajukan pertanyaan siklus I 63,33 %, pada siklus II 86,66 %, siswa yang aktif menjawab pertanyaan siklus I 41,66 %, siklus II 73,99 %, siswa yang mampu membuat Mind Map siklus I 63,33 %, siklus II 69,99 %, dan siswa yang memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain siklus I 36,66 %, siklus II 63,33 %, serta siswa yang memberikan pendapat untuk memecahkan masalah siklus I 33,33 %, siklus II 81,66 %. Berdasarkan data yang diperoleh selama pembelajaran dapat disimpulkan bahwa penggunaan Model Pembelajaran Mind Mapping ( Peta Pikiran ) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil berlajar siswa. Kata Kunci: Aktifitas. Model Pembelajar. Mind Mapping. Biologi PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi guna menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Pembaharuan kurikulum dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, serta didukung oleh penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Pendidikan dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung seumur hidup serta menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat, dan Page 50 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Sumber daya manusia merupakan salah satu dalam keberhasilan pembangunan disegala bidang. Hingga kini pendidikan diyakini merupakan sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia yang diinginkan. Melihat begitu pentingnya arti pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan sangat berhubungan erat dengan peningkatan proses pembelajaran. Pembelajaran pada dasarnyam merupakan salah satu upaya untuk mengarahkan anak didik kedalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan Menurut Komalasari . 0: . Aupembelajaran adalah suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik yang direncanakan atau didesain, dilaksanakn, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran sacera efektif dan efesienAy. Pembelajaran IPA Biologi memiliki fungsi yang fundamental dalam menimbulkan serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka IPA Biologi perlu diajarkan dengan cara tepat dan dapat melibatkan siswa secara aktif. Untuk itu guru perlu merumuskan model pembelajaran yang tepat dan dapat memotivasi siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Lili Hidayati . 8: . dalam makalahnya mengatakan pengguaan model yang tepat dan bervariasi dapat dijadikan alat motivasi dalam kegiatan belajar mengajar disekolah. Jadi dalam melaksanakan kegiatan belajr Biologi bukan hanya pelajar yang harus mempelajari kegiatan belajar, tetapi guru juga ikut berperan dalam hal ini. Guru juga harus punya model pembelajaran untuk menunjang keberhasilan dalam proses pembelajarannya, sehingga kompetensi siswa akan menjadi jauh lebih baik. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, dalam hal ini guru bukan hanya sekedar memberikan iformasi, melainkan juga sebagai fasilisator. Pembelajaran dibangun oleh guru untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan pengusan yang baik terhadap materi pelajaran (Samsudin, 2007: . Peningkata kualitas pembelajaran ditandai dengan semakin meningkatnya hasil pembelajaran yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran. Namun pada praktik pembelajaran peserta didik mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian atau mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil pembelajaran. Sebab untuk mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengarnya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahas dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu mengerjakannya yakni menggambarkan sesuatu dengan dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan dan mengerjakan tugas yang menurut pengetahuan yang telah mereka dapat (Suberman, 2007: . Berdasarkan hasil pengamatan penulis terhadap siswa kelas IX MTsN Kuranji Padang masih banyak siswa yang terlihat kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, sebagian siswa sulit menghafalkan konsep-konsep biologi sehingga siswa sulit memahami materi biologi tertentu. Hal ini disebabkan kurangnya daya serap siswa dan aktifitas membaca yang rendah. Ini juga diperburuk dengan adanya beberapa siswa yang tidak mencatat materi pelajaran atau setelah mencatat tidak membuka atau jarang membaca catatannya kembali. Hal ini juga didasari dengan masih adanya kebiasaan siswa mencatat dengan memindahkan atau mengcopy catatan yang ada kedalam buku mereka dan juga sistem berpikir siswa yang belum teratur. Gejala inilah yang dikatakan Page 51 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 siswa pasif. Karena belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, disamping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa buku. Sehingga pada pertemuan berikutnya, disaat guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, ada yang terlihat kebingungan, dan ada juga yang belum mampu menjawab, bahkan ada yang memberi jawaban yang kurang relevan dengan pertanyaan yang diajukan guru. Berdasarkan permasalahan yang dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bawa persoalan pokok yang menjadi penyebab rendahnya aktifitas siswa dalam belajar adalah model pembelajaran yang digunakan guru kurang mampu memotifasi siswa. Salah satu model pembelajaran IPA biologi yang dapat menciptakan kondisi tercapainya hasil konsep keilmuan IPA Biologi dan komponen proses keilmuan IPA Biologi adalah dengan menggunakan model pembelajaran Min Map (Peta Pikira. Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan suatu aktivitas (Sagala, 2010: . Menurut Joyce dalam Trianto . 7: . mengatakan Au model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaranAy. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran menggambarkan langkah-langkah yang sistematik dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar, merupakan pedoman perencanaan mengajar bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dengan menguasai beberapa model pembelajaran guru akan mudah menyampaikan informasi pembelajaran di kelas. Informasi yang diperoleh siswa dalam bentuk materi pelajaran akan diolah dan disimpan menjadi sebuah ingatan. Ingatan jangka pendek yang diubah menjadi sebuah ingatan jangka panjang memerlukan keterlibatan kerja otak dalam pembelajaran. Siswa menginginkan materi pelajaran yang diterima dalam proses pembelajaran dapat diingat dalam jangka panjang. Salah satu caranya adalah dengan mencatat materi pelajaran yang telah dipelajari. Tujuan siswa mencatat adalah untuk mengingat informasi yang tersimpan dalam memori, tampa mencatat siswa hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan. Teknik mencatat dapat dilakukan dengan menggunakan Mind Mapping . eta pikira. Mind Mapping . eta pikira. merupakan cara mencatat yang menyenangkan, cara mudah untuk menyerap dan mengeluarkan informasi dan ide baru dalam otak, (Buzan, 2007: . Mind Mapping menggunakan warna, simbol, kata, garis lengkung dan gambar yang sesuai dengan cara kerja otak. Sugiarto . 4: . menyatakan bahwa AuMind Mapping . eta pikira. adalah teknik meringkas bahan yang perlu dipelajari, dan memproyeksikan masalah yang dihadapi dalam bentuk peta atau grafik sehingga lebih mudah memahaminyaAy. Jadi Mind Mapping merupakan teknik menyusun catatan yang dapat mengoptimalkan seluruh kemampuan otak, dengan cara menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Dengan Mind Mapping daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi diagram warnawarni yang teratur dan mudah diingat oleh otak. Tetapi dalam kenyataannya guru sangat jarang menggunakan model Mind Mapping terutama di kelas IX MTsN Kuranji Padang. Umumnya siswa membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran. Ini terkesan sangat monoton, kurang fariatif dan membosankan, sehingga menghilangkan topik utama yang penting dari materi pelajaran dan dapat menurunkan minat belajar siswa dan hasil belajar siswa menjadi rendah. Berdasarkan hal diatas maka diperlukan inovasi pembelajaran yang berbeda yaitu dengan peta pikiran atau Mind Map. Dengan Mind Mapping siswa tidak perlu fokus untuk mencatat tulisan yang ada dalam papan tulis secara keseluruhan, siswa hanya perlu mengetahui inti masalah, kemudian membuat peta pikirannya masing-masing dengan kreatifitasnya sendiri. Model Mind Mapping merupakan model yang cocok dalam proses pembelajaran IPA Biologi. Karena Mind Mapping adalah suatu teknik mencatat yang Page 52 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 mengembangkan gaya belajar visual yang menggunakan kata-kata, warna, garis dan gambar dengan memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak sehingga memudahkan untuk mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun verbal. Menurut Yovan dalam Astutiamin . 8: . aplikasi peta pikiran dapat meningkatkan kreativitas individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan karena peta pikiran memungkinkan penggunaan unsur-unsur kreativitas seperti, gambar, bentuk, warna dan lainnya dalam membentuk representasi mental. Mind Mapping merupakan suatu model pembelajaran yang mampu menggali ide-ide kreatif dan aktif peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sehingga pembelajaran akan lebih hidup, variatif, dan siswa mampu memecahkan permasalahan dengan memaksimalkan daya pikir dan kreatifitas. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan dapat dicapai. Oleh karena itu penpenulis tertarik untuk meneliti AuPeningkatan Aktifitas Belajar Siswa Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikira. Dalam Pembelajaran Biologi di Kelas IX MTsN Kuranji Padang. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan di atas maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : AuApakah pemberian tes kecil di awal proses pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas Vi MTsN 5 Padang ?Ay METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman Mereka mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka dan melihat pengaruh dari upaya itu ( Wiratmaja, 2007: 13 ) Sesuai dengan permaslahan dan tujuan penelitian maka jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ). Penelitian Tindakan Kelas merupakan bentuk penelitian yang dilaksanakan langsung oleh guru dalam praktek pembelajaran, dimana guru atau peneliti mengadakan tindakan tertentu berdasarkan masalah-maslah penting di lapangan yang harus segera diatasi. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di MTsN Kuranji Padang. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester I dan II tahun pelajaran 2012 / 2013 yang dimulai dari bulan Oktober 2012 sanpai dengan bulan april 2013. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri atas : . Perencanan . , . pelaksanaan, . , . Page 53 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Siklus penelitian dilakukan berdasarkan daur ulang penelitian tindakan menurut Arikunto . 6 : . berikut ini : Refleksi Siklus I Pengamatan Perencanaan Refleksi Siklus II Pelaksanaan Pengamatan Teknik Analisa Data Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan teknik presentase menggunakan rumus : P = --------N Keterangan : P = Presentase aktifitas siwa F = Frekwensi siwa yang aktif N = Jumlah siswa keseluruhan yang diteliti. ( sumber Sudjana,1991:131 ) Selain menggunakan teknik presestase, data yang diperoleh juga dapat di olah secara kualitatif dengan menggunakankata-kata apakah aktifitas siswa baik sekali, baik, cukup, kurang, atau kurang sekali. Arikunto . mengemukakan kriterianya : 81 Ae 100% 61 Ae 80% 41 - 60% 21 - 40% 0 - 20% = baik sekali = baik = cukup = kurang = sangat kurang sekali Page 54 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Dalam penelitian ini aktifitas siswa dinyatakan tuntas jika minimal rata-rata aktifitas positif siswa masuk dalam criteria keaktifan yang baik . Ae 80%). HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Penelitian dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Materi pelajaran yang disajikan selama penelitian terdiridari dua kompetensi dasar ( KD ) yaitu mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indra pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan dan menidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleksi alam, dan Selengkapnya dapat dilihat pada tabel I. Tabel. Materi Pelajaran Selama Penelitian di Kelas IX. 7 MTsN Kuranji Padang Pertemuan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu ( menit ) 2 x 40 Sistem koordinasi pada Otak. Sum-sum belakang, dan Sel saraf Alat indra pada manusia Mata. Hidung. Kulit. Telinga, 2 x 40 dan Lidah. i Adaptasi dan seleksi alam Adaptasi morfologi, fisiologi, 2 x 40 dan adaptasi tingkah laku Reproduksi hewan dan Reproduksi secara generatif dan 2 x 40 Tumbuhan Setelah selesai proses pembelajaran dengan pembuatan Mind Map masing-masing kelompok mendiskusikan kesimpulan dari hasil Mind map yang telah dibuat bersama anggota kelompoknya dan kemudian beberapa kelompok tampil kedepan mempresentasikan hasil Mind map yang telah dibuat. Kelompok yang lain memberi tanggapan, dan guru memberi arahan. Untuk melihat penguasaan materi oleh siswa maka, setelah selesai satu Kompetensi Dasar (KD) dilakukan ulangan harian dan soal ulangan dibuat objektif sebanyak 20 butir. Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan dua siklus : Siklus I Data yang diperoleh dari lapangan tentang aktifitas belajar siswa dapat dilihat pada tebel di bawah ini : Tabel 2 Data hasil pengamatan aktifitas belajar siswa siklus I pertemuam 1 dan 2 Jumlah hasil pengamatan siklus Aspek kegiatan siswa yang diamati Pertemuam I Pertemuan II Ikut membawa / menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map Mengajukan pertanyaan Menjawab pertanyaan Kemampuan membuat Mind Map Memberi tanggapan terhadap pendapat Page 55 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 orang lain Memberikan pendapat untuk memecahkan masalah Tabel 3 Distribusi aktifitas siswa dan pengolahannya pada siklus I Jumlah siswa tiap Aspek kegiatan siswa yang diamati Ikut membawa / menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map Mengajukan pertanyaan Menjawab pertanyaan Kemampuan membuat Mind Map Memberi tanggapan terhadap pendapat orang lain Memberikan pendapat untuk memecahkan masalah Ratarata (%) 76,66 83,33 79,99 60,00 33,33 60,00 26,66 66,66 50,00 66,66 46,66 63,33 41,66 63,33 36,66 16,66 50,00 33,33 Refleksi Siklus I Analisis data hasil pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam proses pembelajaran memberi refleksi sebagai berikut : Keikutsertaan siswa dalam membawa/dan menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map 79,99% . Kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan 63,33% . Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan ( 41,66 % ) . Kemampuan siswa dalam membuat Mind Map 63,33% . Kemampuan memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain 36,66% . Kemampuan memberikan pendapat untuk memecahkan masalah 33,33% . Siklus II Data yang diperoleh dari lapangan tentang aktifitas hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini : Tabel 4 Data hasil pengamatan aktifitas belajar siswa siklus II pertemuam 3 dan 4 Jumlah hasil pengamatan siklus Aspek kegiatan siswa yang diamati Pertemuam I Pertemuan II Ikut membawa / menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map Mengajukan pertanyaan Menjawab pertanyaan Kemampuan membuat Mind Map Memberi tanggapan terhadap pendapat orang lain Memberikan pendapat untuk memecahkan masalah Page 56 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Tabel 5 Distribusi aktifitas siswa dan pengolahannya pada siklus II Jumlah siswa tiap Aspek kegiatan siswa yang diamati Ikut membawa / menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map Mengajukan pertanyaan Menjawab pertanyaan Kemampuan membuat Mind Map Memberi tanggapan terhadap pendapat orang lain Memberikan pendapat untuk memecahkan masalah Ratarata (%) 90,00 96,66 93,33 83,33 66,66 63,33 56,66 90,00 83,33 76,66 70,00 86,66 74,99 69,99 63,33 77,33 90,00 81,66 Refleksi Siklus II Analisis data hasi pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam proses pembelajaran memberi refleksi sebagai berikut : Keikutsertaan siswa dalam membawa/dan menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map 93,33% ( baik sekali ) Kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan 86,66% . aik sekal. Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan . ,99%) . Kemampuan siswa dalam membuat Mind Map 69,99% . Kemampuan memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain 63,33% . Kemampuan memberikan pendapat untuk memecahkan masalah 81,66% . aik sekal. Pembahasan Dari hasil penelitian siklus I dan II, dapat diketahui bahwa aktifitas belajar siswa dalam proses pembelajaran : Aktifitas siswa dalam membawa / menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map pada siklus I dan II masing-masing total skor 79,99% dan 93,33%, hal ini berarti bahwa dengan ikutnya siswa membawa dan menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam belajar dengan baik sekali. Kemampuan siswa mengajukan pertanyaan pada siklus I dan II mengalami Ini terlihat dari total skor rata-rata yang diperoleh 63,33% dan 86,66%. Tenyata dengan ikut terlibatnya siswa dalam proses pembelajaran dengan membuat catatan yang lebih mudah dipahami dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa dengan sangat baik sekali pada aspek kemampuan siswa mengajukan Aktifitas siswa menjawab pertanyaan meningkat dengan baik dari siklus I ke siklus II dengan persentase masing-masing yaitu 41,66% dan 74,99%. Hal ini dikarenakan karena siswa ikut terlibat dalam proses pembelajaran sehingga siswa paham dengan materi yang di dipelajarinya, keaktifan ini juga dipicu oleh adanya penilaian psikomotor dalam pembuatan Mind Map. Page 57 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 Keikutsertaan siswa dalam membuat Mind Map mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan presentase masing-masing 63,33% menjadi 69,94% . aspek ini meskipun aktifitas siswa mengalami peningkatan, namun peningkatannya belum cukup signifikan, walaupun nilai yang dicapai dalam bentuk baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya siswa yang masih kurang mengerti meletakkan topik ditengah dan membuat cabangsehingga perlu motivasi guru lebih lanjud dalam pembuatan Mind Map secara skematis. Disamping itu untuk meningkatkan hasil Mind Map guru perlu menjelaskan kriteria penilaian pembuatan Mind map. Aktifitas siswa dalam memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain mengalami peningkatan yang baik dari siklus satu ke siklus II dengan presentase 36,66% menjadi 63,33%. Walaupun peningkatan yang terjadi tidak begitu tinggi tetapi sudah terjadi peningkatan dari segi kemampuan memberi tanggapan pada siswa, namun tetap harus ada lagi usaha dari guru untuk merangsang siswa aktif untuk menanggapi pendapat teman dalam proses pembelajaran. Aktifitas siswa dalam memberikan pendapat untuk memecahkan masalah mengalami peningkatan deri siklus I ke siklus II dengan persentase 33,33% menjadi 81,66%. Peningkatannya sangat tinggi, hal ini dipicu karena siswa mengalami proses pembelajaran dimana semua alat indra aktif. Siswa tidak hanya mendengarkan keterangan atau ceramah dari guru tetapi siwa melihat, mendengarkan dan ikut mengerjakannya sendiri sehinnga siswa lebih memahami materi pelajaran dan mampu menanggapi pertanyaan dari temannya dan guru. Dari data diatas dapat diketahu pembelajatan Biologi dengan penggunaan model Mind Map dapat meningkatkan sebagin besar aspek yang diteliti yaitu dalam membawa dan menyiapkan alat dan bahan dalam pembuatan Mind Map, kemampuan mengajukan pertanyaan, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuanmenanggapi pertanyaan orang lain dan kemampuan dalam memecahkan masalah dalam proses pembelajaran. Sedangkan aspek pembuatan Mind Map perlu bimbingan yang lebih terinci dan terarah dari guru sehingga siswa lebih terampil dalam pembuatan Mind Map. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran bahwa pengguanan model pembelajaran Mind Map telah berhasil meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran biologi kelas IX. 7 MTsN Kuranji Padang. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari hasil analisis terhadap enam aktifitas inti siswa selama proses pembelajaran yang dilaksanakan melalui observasi langsung oleh observer. Mudah-mudahan cara-cara yang diterapkan dalam penelitian ini dapat pula diterapkan pada pembelajan Biologi dengan materi selain dengan berbagai sistem koordinasi dan alat indra pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan dan kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleksi alam, dan perkembangbiakan dengan berbagai variasinya baik melalui penelitian maupun dalam praktek pembelajaran di kelas. Namun guru yang menggunakan model pembelajaran Mind Map dalam pembelajaran disarankan berhati-hati dan dapat mengendalikan kelas, agar tidak dapat menimbulkan dampak negative akibat adanya siswa yang bermain dan kurang serius sehinga menggangu siswa lainnya. Page 58 E-ISSN: 2774-5112. P-ISSN: 2774-5120 Volume 2. Issue 1. Januari 2022 DAFTAR PUSTAKA