Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. Hubungan Lama Hemodialisa Dengan Care Dependency Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Terapi Hemodialisis Di Rsud Dr. Abdoer Rahem Ida Wahyuni1. Tri Nili Sulayfiyah1. Mery Eka Yaya Fujianti1. Atiqur Rohman1. Bergita Dumar 2 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Nazhatut Thullab Al-Muafa Sampang Fakultas Olahraga dan Kesehatan. Universitas Negeri Gorongtalo * Corresponding Author: wahyuniida28@gmail. ARTICLE INFORMATION Article history Received 30 September 2024 Revised 4 December 2024 Accepted 4 December 2024 Keywords Duration of Hemodialysis. Care Dependency. CKD ABSTRACT Background: Chronic kidney failure can cause psychological, physical and social activity disorders. Therapy that can preserve the kidneys is hemodialysis. Purpose: This study aims to determine the relationship between duration of hemodialysis and care dependency in CKD patients undergoing hemodialysis Care dependency was measured using the Care Dependency Scale (CDS). Method: The design of this research is descriptive quantitative with a cross sectional approach. The variables in this study are duration of hemodilsis and care dependency. The research sample was 109 respondents taken using a consecutive sampling technique. Data were analyzed using the Chi Square test. Results: The research results show that there is no relationship between the length of hemodialysis and care dependency with a p value 0. 16, which means there is no relationship between care dependency and the length of Conclusions: Patients who have been undergoing hemodialysis for a long time will tend to have mild or moderate levels of stress, because of the length of time undergoing hemodialysis, patients are able to adapt themselves to the dialysis equipment and hemodialysis patients will find it easier to manage physical limitations in their daily lives. Latar Belakang: Gagal ginjal kronik dapat menimbulkan gangguan psikologis, fisik, dan aktivitas sosial. Terapi yang dapat mempertahankan ginjal adalah Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama hemodialisis dengan care dependency pada pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisa. Ketergantungan perawatan diukur dengan menggunakan Care Dependency Scale (CDS). Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Variabel penelitian ini adalah lama hemodilsis dan care dependency. Sampel penelitian sebanyak 109 responden yang diambil dengan teknik sampling Data dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan anatara lama hemodialisis dengan care dependency dengan nilai p value 0,16 yang artinya tidak ada hubungan antara care dependency dengan lama hemodialisis. Kesimpulan: Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama menjalani hemodialisis dengan care dependcy pada pasien hemodialisis. Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: Pendahuluan Penyakit tidak menular yang dapat mengancam jiwa dan bersifat long term care adalah gagal ginjal yang dapat menyebabkan terganggunya psikologis dan aktivitas fisik. Oleh sebab itu, pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik dapat di lakukan dengan menjalani Gagal ginjal kronis dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal serta penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) di bawah 60 mL/menit/1,73 mA selama minimal tiga bulan. (Kemenkes RI, 2. Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu sindrom klinis yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor serta menyebabkan terjadinya penurunan fungsi ginjal yang bersifat kronik. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis diantaranya adalah usia, riwayat keluarga dengan GGK, diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, tekanan darah yang tinggi, obesitas, penggunaan obatobatan, dyslipidemia, gangguan saluran kencing serta metabolik sindrom (Almutary et al. Purqoti et al. , 2. Pada tahun 2014 jumlah orang yang menjalani perawatan untuk penyakit ginjal pada tahap akhir sekitar 118. 000 di Amerika Serikat dan 662. 00 masih Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. bertahan hidup dengan dialisis kronis atau transplantasi ginjal (Mohit, 2019. Farrimond et , 2. Pada tahun 2010, 2,62 juta orang di seluruh dunia menerima terapi hemodialisis, dan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030 (WHO, 2. Pasien yang menjalani hemodialisis di Indonesia pada tahun 2007-2016 semakin meningkat pada tahun 2016. Pasien yang masih aktif menjalankan hemodialisis sebanyak 52,835 sedangkan pasien baru yang menjalani hemodialisis 25,446. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi PGK di Indonesia sebesar 0,38 % atau 3,8 orang per 1000 penduduk, dan sekitar 60% penderita gagal ginjal tersebut harus menjalani dialisis (Kemenkes, 2. Terapi GGK bisa dilakukan dengan terapi hemodialisis, peritonial dialisis, dan transplantasi ginjal (Callaghan, 2. Lamanya waktu dalam proses hemodialisis disesuaikan dengan kebutuhan individu, tiap hemodialisis dilakukan 4-5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Idealnya pada hemodialisis dilakukan 10-15 jam/minggu dengan QB 200-300ml/menit ((Nuari & Widayati, 2017. Crisanto et al. , 2. Efek samping pada hemodialisis yaitu mengalami anemia, hipotensi, mual muntah, serta pruitus, selain itu hemodialisis dapat menimbulkan efek samping nyeri, kram otot, pusing dan fatigue. Beberapa dampak hemodialisis adalah penurunan kualitas hidup, fungsi fisik dan sosial. Hal ini berkaitan dengan kelemahan dan penurunan energi yang berdampak pada fungsi fisik dan mental. Selain itu pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis mengalami kesulitan tidur karena merasa sakit, keluhan fisik pasien tergantung dari tingkat keparahan penyakit serta komplikasi yang dialami. Terdapat dampak gagal ginjal kronik pada status fisik yaitu ketidakseimbangan energi, adanya kelemahan dan tingkat penurunan pada kemampuan dalam bekerja, serta adanya penurunan aktivitas, sehingga terdapat kesulitan dalam melakukan aktifitas sehari-hari yang disebabkan oleh keterbatasan (Cita et al. , 2016. Khan et al. , 2023. de Sequera et al. , 2. Pasien hemodialisa memiliki kemampuan bertahan hidup paling rendah jika dibandingkan dengan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) atau transplantasi Kemampuan pasien hemodialisa untuk bertahan hidup dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain dukungan keluarga, kepatuhan pembatasan cairan dan diet, kepatuhan menjalankan hemodialisa, komorbid. (Devi & Rahman, 2. Pasien yang menjalankan terapi hemodialisi akan mengalami gangguan aktivitas sehari-hari diantaranya Ketidakmampuan, ketergantungan pada orang lain, masalah ini akan memengaruhi aspek spiritual, psikologis, sosial dan keluarga dan seterusnya akan memengaruhi fisik, kognitif dan emosi pasien. Pada pasien juga terjadi penurunan otonomi, kehilangan identitas peran keluarga, terpisah dari keluarga, perasaan terisolasi, membutuhkan pertolongan, keterbatasan aktifitas fisik, diikuti oleh stressor lain berupa penurunan kontak sosial, dan ketidakpastian tentang masa depan (Arghide et al. , 2. Oleh karena itu perlu evaluasi untuk mengetahui tingak Care Dependency pada pasien hemodialisis. Care dependency yang dimaksud ketergantungan keperawatan pada pasien hemodialisis. Care dependency atau disebut dengan ketergantungan perawatan merupakan suatu proses profesional untuk meningkatkan kemandirian pasien (Dijkstra et al. , 2. Metode Desain penelitian yang digunakaan adalah studi cross sectional yang bersifat Tujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara diawali dengan pendekatan dengan one group pretest-postest. Cross sectional merupakan penelitian yang memiliki batas waktu atau observasi data variabel antara independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Penelitian ini akan memperoleh prevalensi atau pengaruh suatu fenomena yang dihubungkan dengan penyebab. Tidak terdapat intervensi yang diberikan kepada pasien dikarenakan penelitian ini merupakan non-eksperimental (Nursalam, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama hemodialisis dengan care dependensy pasien hemodialisis di RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo. Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RSUD dr Abdoer Rahem dengan menggunakan Teknik total sampling. Penetapan pada sampel dihitung dengan menggunakan power analise. Berdasarkan hasil dari perhitungan Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. sampel dengan menggunakan aplikasi G* Power 3. 1 dengan c= 0,05, power (I-) = 0,80, effect size = 0,3 . , dan Df = 2 maka didapatkan sampel 108 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian yaitu non probability sampling dengan consecutive sampling. Consecutive sampling merupakan menentukan sampel secara consecutive . Pemilihan sampel dengan menetapkan subjek yang dapat memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah pasien yang diperlukan terpenuhi (Nursalam, 2. Adapun kriterian inklusi dan ekslusi pada penelitian ini diantara lain: . kriteria inklusi seperti pasien yang bersedia menandatangai informed consent, berusia Ou 18 tahun, dan pasien GGK yang menjalani hemodialisa rutin 2-3 kali dalam satu minggu. kriteria eksklusi seperti pasien yang mengalami keterbatasan fisik yaitu tuna rungu, dan tuna wicara, pasien yang mengalami penurunan kesadaran, dan pasien yang mengundurkan diri dari penelitian. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan di ruang Hemodialisa Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo, yang beralamatkan di JI. Anggrek No. 68 Situbondo Jawa timur merupakan salah satu ruang khusus unit terapi hemodialisis. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan mulai pada tanggal 12 April sampai dengan 10 Juli 2024. Pada bab ini akan dipaparkan hasil dan pembahasan penelitian. Hasil analisis univariat berupa karakteristik responden yang meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, status pernikahan, dan lama Sedangkan pada hasil analisis bivariat yaitu keterkaitan antara lama hemodialisa dengan Care Dependency Scale (CDS) pada pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani terapi hemodialisis. Hasil dan pembahasan penelitian ini dituangkan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil Penelitian Karakteristik Responden Hasil analisis univariat yang pertama yaitu tentang karakteristik pasien hemodialisis di Ruang Hemodialisa RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo berupa data katagorik yaitu usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, status pernikahan, lama hemodialisis, tingkat Tabel 3. 1 karakteristik responden berdasarkan pasien hemodialisis di ruang hemodialisa RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo bulan Mei-Juni 2024 berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, dan Lama Hemodialisa . Karakteristik demografi Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 18-21 tahun 22-40 tahun 41-65 tahun >65 tahun Jenis pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Status Belum menikah Menikah Bercerai Jumlah . Presentase (%) Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 Karakteristik demografi Pendidikan terakhir Tidak sekolah SD SMP SMA Perguruan tinggi Lama hemodialisis 6- 12 bulan 13-24 bulan >24 bulan http://ojsjournal. Jumlah . Presentase (%) Sumber: Data primer Mei-Juni 2024 Berdasarkan tabel 5. 1 menjelaskan bahwa jumlah pasien yang menjalani terapi hemodialisis di Ruang Hemodialisa di RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo bulan MeiJuni 2024 yang mengalami GGK dengan usia didominasi 41-65 sebanyak 79 orang . ,5 %), jenis kelamin antara laki-laki dengan perempuan lebih banyak laki-laki yaitu 65 orang . ,6 %). Pasien mayoritas memiliki pekerjaan yaitu 61 orang . ,0%), untuk status pernikahan tertinggi yaitu menikah sebanyak 103 orang . ,5 %), pendidikan didominasi SMA dengan jumlah 44 orang . ,4 %). Hubungan antara Lama Hemodialisa dengan Care Dependency Pada Pasien GGK yang Menjalani Terapi Hemodialisis di RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo. Tabel 3. 2 Hubungan lama hemodialisis dengan care dependency pada pasien GGK dengan terapi hemodialisis Mei Ae Juni 2024 . N(%) Variabel OR ( CI 95% ) P value Tidak Ketergantung Lama 6- 12 bulan 6 . ,3%) 19 . ,4%) 13-24 bulan 16 . ,1 %) 17 . ,4 %) 0,34 . ,09-1,. 0,16 > 24 bulan 20 . ,7 %) 31 . ,3%) 0,52 . ,16-28,. Tabel 3. 2 menunjukkan hubungan antara lama hemodialisis dengan care dependency pada pasien hemodialisis. Berdasarkan uji Chi Square yang digunakan untuk melihat hubungan tersebut didapatkan bahwa tidak ada hubungan anatara lama hemodialisis dengan care dependency dengan nilai p value > 0,05 yang artinya tidak ada hubungan antara care dependency dengan lama hemodialisis. Tabel 3. 3 Data hasil Care Dependency Scale (CDS) tipa item pada pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis di ruang Hemodialisa RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo . Item Makan Kontinensia Postur tubuh Mobilitas Pola siang atau malam Memakai dan melepas pakaian Suhu tubuh Hygiene Menghindari bahaya Komunikasi Kontak dengan orang lain Mean 4,43 4,59 4,68 4,30 3,87 4,61 4,61 4,31 4,34 4,60 4,44 Standar Deviasi 0,93 0,81 0,65 0,91 0,95 0,83 0,71 0,85 0,96 0,68 0,85 Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 Item Mean Aturan dan nilai norma 3,81 Aktivitas sehari-hari 4,02 Aktivitas rekreasi 3,15 Kemampuan belajar 3,71 Sumber: Data Primer Bulan Mei -Juni 2024 http://ojsjournal. Standar Deviasi 0,85 1,04 1,09 1,09 Berdasarkan tabel 3. 3 menunjukkan hasil dari Care Dependency Scale (CDS) terdapat 15 item dengan skala interval O 68 mengalami ketergantungan dan > 68 tidak Item yang terendah yaitu aktivitas rekreasi rata- rata 3,15 dengan standar deviasi 1,09. Pembahasan Berdasarkan dari penelitian Karlina . , salah satu efek yang ditimbulkan dari hemodialisis yaitu kelelahan. Pasien kelelahan karena belum bisa beradaptasi dengan baik selama menjalani hemodialisis sehingga pasien merasa ketergantungan dengan perawatan yang ada. Hal ini dapat terjadi karena rendahnya mekanisme koping, dan pasien belum bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Selain itu, pasien hemodialisis memiliki perubahan peran, kehilangan pekerjaan, yang merupakan stresor sehingga menimbulkan depresi, ansietas, dan penurunan aktivitas (Isroin, 2016. Sari, 2. Dampak kelelahan pada pasien yang menjalani terapi hemodialisis dapat mengalami terganggunya fungsi fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan hubungan dengan orang lain, isolasi sosial, perubahan spiritual dan kualitas hidupnya. Pasien hemodialisis yang kadar hemoglobinnya rendah akan menyebabkan jumlah sel darah merah menjadi sedikit, akibatnya transport oksigen menurun, metabolisme menurun, produksi ATP menurun, dan energi menurun, jika kondisi tersebut berlangsung lama akan menyebabkan kondisi fisik yang buruk ( Z u l k a r n a i n , 2 0 2 2 ) . Pasien yang menjalani hemodiaisis dihadapkan dengan banyak faktor stres dalam setiap aspek kehidupan seperti, masalah keluarga, perubahan fungsi seksual, ketergantungan pada orang lain untuk membantu aktifitasnya, perubahan citra tubuh dan tekanan mental. Masalah ini mempegaruhi beberapa kebutuhan atau kemampuan perawatan diri pasien dan itulah sebabnya pasien hemodialisis tidak dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri mereka sendiri (Atashpeikar dkk. , 2. Karakteristik responden pertama yaitu Jenis kelamin yang ditemukan paling banyak terdapat pada laki-laki 65 . ,6 %), sejalan dengan penelitian Alikan . yang menunjukkan pasien yang menjalani terapi hemodialisis sebanyak 321 responden terbanyak laki-laki dengan jumlah 206 . ,0%) (Alikari dkk. , 2. Penelitian ini sama dengan penelitian (Dewi dkk. , 2. yang menyebutkan bahwa 134 pasien yang mengalami GGK dengan terapi hemodialisis didominasi oleh laki-laki sebanyak 78 pasien . ,2%). Laki-laki lebih rentang gangguan fungsi ginjal daripada perempuan seperti penyakit batu ginjal. Pada penelitian (Ibrahim et al. , 2. dengan jumlah responden 83 lebih banyak yang mengalami GGK yaitu laki-laki 48 . ,8 %) responden. Hal ini disebabkan karena berkurangnya volume pada urin atau kelebihan senyawa. Pola gaya hidup laki-laki lebih beresiko terkena GGK dikarenakan kebiasaan merokok dan minum-minuman berenergi yang dapat menyebabkan ketegangan pada organ ginjal sehingga ginjal bekerja keras (Hartini, 2016. Wahyuni et al. , 2. Peneliti berpendapat bahwa Resiko terjadinya GGK lebih banyak laki-laki dikarenakan pada lakilaki memiliki gaya hidup lebih beresiko seperti merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol serta kesibukan yang lebih tinggi daripada perempuan. Kedua yaitu usia, pada penelitian ini menghasilkan bahwa paling banyak usia berada pada rentang 40-65 tahun. Hal ini serupa dengan penelitian lain dengan responden sebanyak 30 pasien, paling banyak usia yang mengalami GGK dengan terapi hemodialisis 41-45 tahun sebanyak 20 orang . ,6%) (Geroginni et al. , 2. Pada penelitian (Badriah et al. , 2. responden dengan usia paling banyak 41-50 tahun sebanyak 15 orang . %). Proses penuaan adalah proses biologis yang normal yaitu terjadinya penurunan fungsi organ. Setiap orang akan berbeda tingkat penurunan fungsi Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. Proses penuaan dapat terjadi secara normal dan dapat terjadi akibat suatu penyakit kronis seperti hipertens, diabetes militus, dan GGK (Candrawati et al. , 2. Bertambahnya usia dapat menunjukkan penurunan progresif Glomerular Filtrasion Rate (GFR) penurunan terjadi sekitar 8 ml/menit 1,73m2 setiap dekakadenya sejak usia 40 tahun (Aisara et al. , 2. Menurut kemenkes usia yang mengalami GGK dengan terapi hemodialisis mengalami peningkatan 25-34 tahun . 45-64 . dan > 75 tahun . dengan faktor resiko penyakit diabetes dan hipertensi. Peneliti berasumsi bahwa pada setiap usia memiliki faktor resiko kerusakan fungsi ginjal, namun yang menjadi pembeda dari usia produktif dengan usia lanjut adalah penyebab atau faktor resiko yang dialami setiap individu. Ketiga status pekerjaan berdasarkan hasil penelitian jenis pekerjaan pada pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis dengan responden 109 terbanyak pasien yang bekerja yaitu sebanyak 61 pasien 56,0 %. Hasil observasi peneliti menjumpai bahwa sebagian besar responden yang masih aktif bekerja merupakan pegawai negeri sipil, wirausahawan ataupun aparat keamanan dan petani, sedangkan pasien yang tidak bekerja sebagian besar menjadi ibu rumah tangga atau sudah kehilangan pekerjaan, yang didukung dengan penelitian alfians dengan responden 60 menunjukkan sebagian besar memiliki pekerjaan dengan responden sebanyak 37 pasien . ,7%) (Shahmoradi et , 2. Pada penelitian lain menjelaskan bahwa pasien hemodialisis dengan 63 responen yang bekerja sebanyak 39 orang (Dewi dkk. , 2. Berbagai jenis pekerjaan akan bepengaruh pada frekuensi dan distribusi penyakit. Tanpa disadari bahwa pekerjaan dapat menyebabkan gagal ginjal seperti pekerja kantoran yang duduk terus-menerus, sehingga menyebabkan terhimpitnya saluran ureter pada ginjal. Orang yang bekerja terkena paparan sinar matahari dan bekerja berat sehingga banyak mengeluarkan keringat lebih mudah terserang dehidrasi. Akibat dehidrasi, urin menjadi lebih pekat sehingga bisa menyebabkan terjadinya penyakit ginjal (Laswandi & Mularsih, 2. Pada penelitian ini pasien hemodialisis yang bekerja sering meminum suplemen energi dan jamu supaya lebih berstamina, terdapat kandungan zat seperti taurin, amfetamin, kafein, dan ekstrak gingseng. Zat-zat tersebut jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dapat mempersempit pembuluh darah arteri ke ginjal sehingga darah yang menuju ke ginjal berkurang (Ariyanto dkk. , 2. Peneliti berasumsi bahwa pada pasien yang terkena GGK disebabkan oleh pekerjaan yang membuat kurang istirahat dan selalu duduk terus- menerus sehingga menjadi faktor resiko GGK, selain itu minuman yang menambah stamina merupakan faktor penyebab terjadinya GGK dikarenakan terdapat kandungan zat yang berbahaya. Ke empat Status pernikahan berdasarkan hasil penelitian proporsi status pernikahan tertinggi pada katagori sudah menikah 103 responden 94,5% sejalan dengan penelitian yang menunjukan 76,7% penderita GGK dengan hemodialisis menikah (Rahimi dkk. Pada penelitian lain menunjukkan sebagian besar responden telah menikah berjumlah 79 responden . %). Status pernikahan akan erat kaitannya dengan tanggung jawab keluarga yang kemudian bisa berpengaruh pada gaya yang tidak sehat seperti tidak selektif memilih makan dan jam bekerja sehingga hal tersebut dapat mempercepat terjadinya berbagai macam penyakit, salah satunya adalah GGK yang berbagai besar disebabkan oleh penyakit DM dan hipertensi (Miftakhulaziz, 2. Peneliti berasumsi bahwa status pernikahan terdapat pengaruh pada sebuat penyakit khususnya pada pasien GGK. Pasien yang sudah menikah lebih menjaga dan saling mengingatkan untuk suatu pencegahan penyakit. Kelima status pendidikan berdasarkan hasil penelitian tingkat pendidikan pasien hemodialisis dengan responden 109 terbanyak yaitu tingkat menengah ke atas atau SMA sekitar 44 pasien 40,4 % yang didukung dengan penelitian Dewi dkk, . menjelaskan bahwa berdasarkan tingkat pendidikan terakhir dengan jumlah responden 60 terbanyak adalah berpendidikan SMA 22 orang . ,7%), pasien yang memiliki pendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas sehingga memungkinkan pasien dapat mengontrol diri dalam mengatasi masalahnya, mempunyai percaya diri tinggi, berpengalaman dan mempunyai perkiraan yang tepat, mudah Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. mengerti tentang apa yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan serta dapat mengurangi kecemasan sehingga membantu seseorang dalam mengambil keputusan. Peneliti mengasumsikan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam mencari perawatan serta pengobatan penyakit yang dideritanya. Pasien yang memiliki pendidikan yang tinggi bisa mengontrol penyakitnya, semakin rendah pendidikan akan membuat penegtahuan terhadap penyakit beresiko semakin kurang dan berbanding apabila semakin tinggi pendidikan akan membuat kepedulian terhadap kesehatan semakin meningkat. Lama hemodialisis berdasarkan hasil penelitian pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis dengan waktu terbanyak > 24 bulan yaitu 51 pasien 46,8%, yang didukung dengan penelitian Griva dkk. di Singapura dengan jumlah sampel 235 pasien hemodialisis dan yang mengalami GGK dengan terapi hemodialisis paling banyak > 24 bulan 181 pasien 77,0%. Hasil dari penelitian lain terbanyak pasien yang menjalani terapi hemodialisis > 1 tahun sebanyak 63,8% dengan 53 responden. Pasien GGK akan mengalami ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga akan menyebabkan terjadinya abnormalitas pada hasil yang akan dieksresikan ke dalam urin sehingga akan menjadi uremia. Keadaan uremia ini membutuhkan tindakan seperti terapi ginjal, yang salah satunya dengan hemodialisis. Semakin banyak cairan yang diproduksi semakin lama pasien menjalani hemodialisis untuk menarik cairan dari dalam tubuh. Lama menjalani terapi hemdialisis yang dijalani pasien GGK dapat diharapkan akan meningkatkan kualitas hidup dari pasien (Widyastuti dkk. , 2. Pada hasil analisis bivariat pada penelitian ini menunjukkan bahwa care dependency tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan lama hemodialisi p value 0,16. Proporsi ketergantungan pada lama hemodialisis >24 bulan bulan sebanyak 20 . ,7%) dan yang tidak mengalami ketergantungan sebanyak 31 . ,3%) responden, yang artinya lama hemodialisis > 24 bulan lebih banyak yang tidak ketergantungan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sulaiman yang menyatakan bahwa pasien hemodialisis tidak ada hubungan dengan fatigue p= 0,93. Hal ini bisa disebabkan karena kelelahan responden merupakan suatau perasaan subjektif yang dimiliki oleh masing-masing individu, dan terdapat faktor lain yang mempengaruhi sebelum terjadinya kelelahan pada responden (Aziz et al. , 2. Pasien yang sudah lama menjalani hemodialisis akan cenderung tingkat stres ringan atau sedang, karena lamanya menjalani hemodialisis pasien mampu beradaptasi akan dirinya terhadap alat dialisis dan pasien hemodialisis akan lebih mudah dalam mengatur keterbatasan fisik didalam kesehariannya (Rahayu et , 2. Penelitian yang dilakukan Sulistini dan Yetti, . berbanding terbalik yaitu terdapat hubungan antara lama hemodialisis dengan kelelahan. Pasien yang sudah lama melakukan terapi hemodialisis akan mengalami kadar ureum dan kreatin yang tinggi, sehingga akan mengganggu produksi hormon eritroprotein. Sel darah merah akan menurun sehingga akan mengalami fatigue. Kelelahan yang terjadi pada pasien hemodialisis terjadi akibat kurangnya produksi entripoetin, peningkatan kehilangan darah kapiler yang mudah pecah (Sari, 2. Peneliti berasumsi bahwa pasien GGK yang menjalani hemodialisis > 24 bulan dapat beradaptasi dengan penyakitnya dan stress menurun sehingga dalam melakukan aktivitas pasien bisa melakukan secara mandiri. Hasil Care Dependency Scale (CDS) tiap item pada pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis di ruang Hemodialisa RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo sesuai 3 paling rendah yaitu pada item aktivitas rekreasi. Pasien tidak bisa melakukan aktivitas rekreasi dikarenakan apabila pasien melakukan banyak aktivitas fisik yang membuat dirinya merasala lelah dan haus maka pasien membutuhkan air yang cukup banyak, tetapi pada pasien hemodialisis apabila mendapatkan cairan yang berlebihan akan membuat dirinya edema pada ekstermitas bawah. Cairan yang diminum pasien GGK harus diawasi dengan seksama karena rasa haus bukan lagi petunjuk yang dapat dipakai untuk mengetahui dehidrasi tubuh. Asupan yang terlalu bebas dapat mengakibatkan beban sirkulasi menjadi berlebihan, edama, dan intoksikasi air ( I s r o i n , 2 0 1 6 ) . Pasien hemodialisis menyatakan tidak bisa melakukan aktivitas rekreasi dikarenakan rutin melakukan hemodialisis selama satu minggu dua kali. Sebagai Indonesian Health Science Journal Vol. No. Oktober 2024 http://ojsjournal. tenaga kesehatan khususnya perawat di ruang hemodialisis, perawat dapat berperan menjadi edukator, motivator, dan care giver, dan kolaborator bagi pasien. Perawat memberikan edukasi tentang bagaimana untuk rekreasi atau menghibur diri tanpa melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Kesimpulan Efek yang ditimbulkan dari hemodialisis yaitu kelelahan. Pasien kelelahan karena belum bisa beradaptasi dengan baik selama menjalani hemodialisis sehingga pasien merasa ketergantungan dengan perawatan yang ada. Hal ini dapat terjadi karena rendahnya mekanisme koping, dan pasien belum bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Selain itu, pasien hemodialisis memiliki perubahan peran, kehilangan pekerjaan, yang merupakan stresor sehingga menimbulkan depresi, ansietas, dan penurunan Dampak kelelahan pada pasien yang menjalani terapi hemodialisis dapat mengalami terganggunya fungsi fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan hubungan dengan orang lain, isolasi sosial, perubahan spiritual dan kualitas hidupnya. Pasien hemodialisis yang kadar hemoglobinnya rendah akan menyebabkan jumlah sel darah merah menjadi sedikit, akibatnya transport oksigen menurun, metabolisme menurun, produksi ATP menurun, dan energi menurun, jika kondisi tersebut berlangsung lama akan menyebabkan kondisi fisik yang buruk. Kelelahan yang terjadi pada pasien hemodialisis terjadi akibat kurangnya produksi entripoetin, peningkatan kehilangan darah kapiler yang mudah pecah. Pasien GGK yang menjalani hemodialisis > 24 bulan dapat beradaptasi dengan penyakitnya dan stress menurun sehingga dalam melakukan aktivitas pasien bisa melakukan secara mandiri. Daftar Pustaka