KESKOM. : 07-12 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal. EfektiAtas Pelatihan Kecerdasan Emosional Terhadap Peningkatan Kecerdasan Emosional Perawat di Rumah Sakit Royal Prima Medan EAectiveness Of Emotional Intelligence Training Toward Improving The Emotional Intelligence Of Nurses In Royal Prima Medan Hospital Dessy Angraeni Siregar1. Ermi Girsang2. Sri Lestari Ramadhani Nasution3. Crismis Novalinda Ginting4 1,2,3,4 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Prima Indonesia Sumatera Utara ABSTRACT ABSTRAK Emo onal intelligence is an ability such as the ability to selfmo va ng, frustra on surviving, adjust the mood so the stress burden does not paralyze the intelligent, and empathize. The purpose of this study was to analyze the eAec veness of emo onal intelligence training toward improving the emo onal intelligence of nurses at the Royal Prima Hospital Medan. This research was a quasi-experimental study with a pretest-post-test The popula on in this study were nurses and the sample was 38 respondents with 19 determinate for the experimental group and 19 for the control group. The data analysis method used descrip ve sta s cs and inferen al sta s cs. The results showed the mean value in the pretest = 9. 84 and the post-test = 58 which means an increase in learning evalua on a er being given training compared to before being given training. For behavior evalua on, it shows the mean value in pretest = 8947 and a er post-test = 198. 7368, signiAcantly, there was an increase a er being given emo onal intelligence training compared to before being given training. The t-test results showed that the emo onal intelligence of nurses a er being given emo onal intelligence training showed an increase or a diAerence . = 0. Based on the results of the study, it is expected that you can conduct emo onal intelligence training for all hospital employees. Kecerdasan emosional merupakan suatu kemampuan seper kemampuan memo vasi diri, bertahan terhadap frustrasi, mengatur suasana ha agar beban stres dak melumpuhkan kemampuan berpikir, dan berempa . Tujuan peneli an ini menganalisis efek Atas pela han kecerdasan emosional terhadap peningkatan kecerdasan emosional perawat di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Peneli an ini merupakan peneli an eksperimen quasi dengan desain pretest-pos est. Populasi dalam peneli an adalah perawat dan sampel sebanyak 38 responden dengan ketentuan 19 untuk kelompok eksperimen dan 19 untuk kelompok kontrol. Metode analisa data yang digunakan di dalam peneli an ini adalah sta s k deskrip f dan sta s k inferensial. Hasil peneli an menunjukkan nilai mean pada pre test = 9,84 dan post test = 13,58 yang menunjukkan adanya peningkatan evaluasi belajar setelah diberikan pela han dibandingkan sebelum diberikan pela han. Untuk evaluasi perilaku menunjukkan nilai mean pada pre test = 175,8947 dan setelah post test = 198,7368 ar nya adanya peningkatan etelah diberikan pela han kecerdasan emosional dibandingkan sebelum diberikan pela han. Hasil uji t menunjukkan kecerdasan emosional perawat setelah diberikan pela han kecerdasan emosional menunjukkan adanya peningkatan atau adanya perbedaan . =0,. Berdasarkan hasil peneli an diharapkan dapat melakukan pela han kecerdasan emosional kepada semua karyawan rumah sakit. Keywords : Training. Emo onal intelligence. Kata Kunci :Pela han. Kecerdasan Emosional. Correspondence : Dessy Angraeni Siregar Email : dessybecky@gmail. com, 08116333119 A Received 04 Juni 2020 A Accepted 03 April 2021 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: h ps://doi. org/10. 25311/keskom. Vol7. Iss1. Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 Interna onal License . p://crea vecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium Keskom. Vol. No. 08 April 2021 PENDAHULUAN Belakangan ini kecerdasan emosional sering diperbincangkan khususnya para peneli , karena kecerdasan emosional merupakan elemen terpen ng pada diri seseorang khususnya dalam hal kinerja. Kinerja pada umumnya diar kan sebagai kesuksesan seseorang di dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Kinerja karyawan melipu kualitas dan kuan tas output serta keandalan dalam bekerja. Karyawan dapat bekerja dengan baik bila memiliki kinerja yang nggi sehingga dapat menghasilkan kerja yang baik pula. Dengan adanya kinerja yang nggi yang dimiliki karyawan, diharapkan tujuan organisasi dapat tercapai (Mangkunegara, 2. Pelayanan keperawatan berkontribusi cukup besar dalam menentukan mutu pelayanan rumah sakit (Depkes RI, 2. Interaksi antara perawat dengan pasien berlangsung selama 24 jam penuh (Asmadi, 2. Jumlahnya mencapai 40-60% dari seluruh tenaga kesehatan rumah sakit (Swansburg, 2. Oleh karena itu keberhasilan pelayanan kesehatan bergantung pada par sipasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas bagi pasien (Po er. Perry, 2. Kualitas layanan di Indonesia masih menjadi masalah yang perlu diselesaikan. The Ministry of Health . 7, 2. juga melaporkan bahwa 80% dari penyebab pelayanan kesehatan menurun karena buruknya kinerja petugas kesehatan di rumah Salah satu bentuk penurunan layanan yang paling berpengaruh adalah penurunan kinerja perawat dalam memberikan layanan kesehatan. kepada pasien. Demikian pula peneli an Sukanto pada tahun 2010 di Rumah Sakit Kota Palembang melaporkan 68% dari penyebab penurunan layanan rumah sakit adalah karena kurangnya kinerja op mal dari perawat pelaksana. Sementara itu studi Radi a pada tahun 2012 di Rumah Sakit Semarang melaporkan bahwa 75% dari pengurangan layanan rumah sakit juga disebabkan oleh kinerja perawat yang dak merawat pasien (Setyowa . Revi Neini Ikbal. Yulastri Arif, 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja adalah kecerdasan (Mangkunegara, 2. Kecerdasan emosional turut menentukan keberhasilan seseorang. Kecerdasan emosional merupakan suatu kemampuan seper kemampuan memo vasi diri, bertahan terhadap frustrasi, mengatur suasana ha agar beban stres dak melumpuhkan kemampuan berpikir dan berempa (Goleman, 2. Pelayanan keperawatan memerlukan sosok perawat yang memiliki kecerdasan emosional nggi untuk memenuhi kebutuhan pasien yang mencakup kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual (Rudyanto, 2. Sebagian besar Sumber Daya Manusia (SDM) di negara h p://jurnal. berkembang termasuk Indonesia masih memiliki kecerdasan emosional yang kurang baik. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab lemahnya kualitas SDM di Indonesia (Mangkunegara. Beberapa peneli an menyatakan bahwa kecerdasan emosional memainkan sebuah peranan pen ng dalam kinerja pekerjaan (Robbins, 2. Untuk itu diperlukan suatu pela han yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional. Pela han kecerdasan emosi sendiri merupakan program pela han yang mencakup keterampilan menghadapi tekanan, mengenali dan mengekspresikan emosi, memo vasi diri, empa serta keterampilan berhubungan dengan orang lain (Goleman, 2. Carrel mengemukakan bahwa tujuan utama program pela han diantaranya memperbaiki kinerja dan memecahkan permasalahan (Salinding, 2. Pela han merupakan proses secara sistema s mengubah ngkah laku pegawai untuk mencapai tujuan organisasi. Pela han berkaitan dengan keahlian dan kemampuan pegawai untuk melaksanakan pekerjaan saat ini (Rivai, 2. Berdasarkan uraian di atas, maka peneli mencoba mengungkapkan hal tersebut ke dalam suatu peneli an yang berjudul AuEfek Atas Pela han Kecerdasan Emosional Terhadap Peningkatan Kecerdasan Emosional Perawat Di Rumah Sakit Royal Prima MedanAy. Tujuan peneli an ini menganalisis efek Atas pela han kecerdasan emosional terhadap peningkatan kecerdasan emosional perawat di Rumah Sakit Royal Prima Medan. METODE Peneli an ini merupakan peneli an eksperimen quasi (Quasi experimen. dengan desain one group pretest-pos est. Pada peneli an ini dilakukan dua kali pengukuran yaitu satu kali sebelum intervensi . dan sekali setelah intervensi . os es. Peneli an dilakukan RSU Royal Prima Medan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus-11 September 2019. Variabel peneli an ini yaitu efek Atas kecerdasan emosional sebagai variabel independen dan peningkatan kecerdasan emosional sebagai variabel dependen. Jumlah sampel yang diambil menggunakan purposive sampling sehingga sampel peneli an sebanyak 38 responden dengan ketentuan 19 untuk kelompok eksperimen dan 19 orang untuk kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data dalam peneli an ini yaitu menggunakan kuesioner dengan tujuan mengumpulkan informasi sebagai bahan dasar dalam rangka penyusunan peneli an. Analisa data menggunakan 2 . metode sta s k, yaitu sta s k deskrip f dan sta s k inferensial untuk menguji hipotesis dengan uji sta s c Paired sample t test atau uji Wilcoxon dengan ketentuan menggunakan uji paired sample t test bila data berdistribusi normal . > 0,. dan uji Wilcoxon bila data berdistribusi dak normal . < 0,. dengan alat bantu Nomor surat kaji e k (Ethical Clearenc. peneli an ini yaitu 025/KEPK/UNPRI/Vi/2019. Clara Dewinda, et al The EAec veness of Emo onal Intelligence Training on Nurse's Emo onal Intelligence Improvement Efek Atas Pela han Kecerdasan Emosional Terhadap Peningkatan Kecerdasan Emosional Perawat HASIL Adapun mekanisme kegiatan tahapan peneli an yang direncanakan adalah menentukan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, persiapan alat dan bahan yang digunakan untuk kegiatan pela han, memberikan lembar kuesioner terkait pemahaman awal tentang kecerdasan emosional perawat, pemaparan materi dan pendampingan prak k oleh nara sumber, mengukur kembali kecerdasan emosional perawat setelah pela han. Hasil peneli an pada Tabel 1 menunjukkan bahwa instrumen evaluasi belajar dan evaluasi perilaku pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan nilai p > = 0,05 sehingga dapat dinyatakan data berdistribusi normal. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional perawat sebelum diberikan pela han untuk kriteria baik sebanyak 13 responden . ,4%), cukup sebanyak 5 responden . ,3%), kurang ditemukan 1 responden . ,3%). Setelah diberikan pela han kecerdasan emosional, diperoleh hasil untuk kriteria baik sebanyak 18 responden . ,7%) dan 1 responden . ,3%) dengan kriteria baik sekali. Hasil Sta Tabel 3. Nilai Mean Kelompok Kontrol Berdasarkan tabel 4 hasil uji t untuk evaluasi belajar diperoleh nilai thitung = 1,045 < abel = 2,1098 dan nilai p = 0,310 yang menunjukkan dak ada perbedaan kecerdasan emosional dalam bentuk evaluasi belajar pada perawat tanpa pela han kecerdasan emosional. Berdasarkan hasil uji t diperoleh nilai thitung = 0,727 < abel = 2,1098 dan nilai p = 0,476 yang menunjukkan dak ada perbedaan kecerdasan emosional dalam bentuk evaluasi perilaku pada perawat tanpa pela han kecerdasan emosional. Berdasarkan uji t diperoleh nilai thitung = 10,008 < abel = 2,1098 dan nilai p = 0,000 yang menunjukkan ada perbedaan kecerdasan emosional dalam bentuk evaluasi belajar pada perawat setelah diberikan pela han kecerdasan Tabel 4. Hasil Uji t Kelompok Kontrol Tabel 2. k Deskrip f Kecerdasan Emosional Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa nilai mean pada pre test = 7,21 dan setelah post test = 7,47 yang menunjukkan dak adanya peningkatan evaluasi belajar secara signiAkan tanpa diberikan pela han kecerdasan emosional. Berdasarkan nilai mean pada pre test = 174,00 dan setelah post test = 174,42 yang menunjukkan dak adanya peningkatan evaluasi perilaku tanpa diberikan pela han kecerdasan emosional. Berdasarkan nilai mean pada pre test = 9,84 dan setelah post test = 13,58 yang menunjukkan adanya peningkatan evaluasi belajar setelah diberikan pela han kecerdasan emosional dibandingkan sebelum diberikan pela han. Bedasarkan nilai mean pada pre test = 175,8947 dan setelah post test = 198,7368 yang menunjukkan adanya peningkatan evaluasi perilaku setelah diberikan pela han kecerdasan emosional dibandingkan sebelum diberikan pela han. Bedasarkan nilai mean pada pre test = 175,8947 dan setelah post test = 198,7368 yang menunjukkan adanya peningkatan evaluasi perilaku setelah diberikan pela han kecerdasan emosional dibandingkan sebelum diberikan pela han. Tabel 5. Nilai Mean Kelompok Eksperimen j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 10 April Berdasarkan tabel 5 hasil uji t diperoleh nilai thitung = 4,921 > abel = 2,1098 dan nilai p = 0,000 yang menunjukkan ada perbedaan kecerdasan emosional dalam bentuk evaluasi perilaku pada perawat setelah diberikan pela han kecerdasan Tabel 6. Hasil Uji t Evaluasi Perilaku Kelompok Eksperimen PEMBAHASAN Kecerdasan Emosional Berdasarkan hasil uji sta s k diketahui bahwa dak adanya peningkatan atau dak adanya perbedaan tanpa pela han kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional di dalam peneli an ini terdiri dari aspek mengenali emosi diri, mengelola emosi, memo vasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan. Berdasarkan data yang diperoleh pada aspek mengenali emosi diri perawat sebelum diberikan pela han kecerdasan emosional diketahui bahwa yang paling menonjol adalah ada beberapa perawat yang setuju karena perasaan perawat yang kurang menyenangkan mempengaruhi semangat kerja serta perawat sulit mengontrol kemarahan. Hal ini menunjukkan bahwa ke ka perawat menjalankan tugasnya dalam keadaan atau suasana ha yang kurang baik atau kurang bahagia bahkan ada kemungkinan menunjukkan keadaan emosi yang dak terkontrol atau dengan kata lain bahwa perawat dalam kondisi kinerja yang rendah sehingga dapat berdampak nega f pada pasien yang dirawat. Goleman . menyatakan bahwa kesadaran diri mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Ke dakmampuan mencerma perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Mengenali emosi yang terjadi membantu perawat untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Kebahagiaan hidup akan tercapai jika seseorang mengetahui perasaanperasaan posi f yang dialami. Untuk dapat membedakan perasaan-perasaan posi f dan nega f yang dialami seseorang harus memiliki kecermatan dalam mengenal emosinya (Goleman, 2. Perawat yang memiliki kemampuan mengenali emosi dengan cermat akan dapat memberi nama pada masing-masing emosi yang dirasakan dan dapat memprediksi emosi yang akan muncul atau dengan cara menyebutkan nama emosi tersebut. Perawat yang dak dapat mengenali emosi yang sedang dialami dapat dikatakan orang yang buta emosi dan hal ini akan mempengaruhi kebahagiaan hidupnya. Jika seseorang dak dapat mengakui h p://jurnal. perasaan yang dialami terutama perasaan-perasaan nega f, maka orang tersebut akan merasa dak nyaman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kemampuan untuk mengakui perasaan yang sedang dialami akan membantu merubah perasaan dak nyaman menjadi nyaman, karena dapat diketahui penyebab perasaan dak nyaman tersebut. Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh pada aspek mengelola emosi yang paling menonjol adalah ada beberapa perawat yang setuju karena kesal melihat pasien yang rewel dan dak mematuhi peraturan. Hal ini menunjukkan bahwa perawat dak memiliki kesabaran dalam menghadapi berbagai permasalahan yang mbul pada pasien yang dirawat. Dari pendapat Goleman . diketahui bahwa mengelola emosi merupakan kemampuan perawat untuk dapat menghibur diri di saat emosi muncul, tanpa berusaha untuk menekan emosi yang dirasakan dan juga dak terlarut dalam emosi tersebut tetapi berusaha untuk mencari keseimbangan dari emosi yang dialami (Goleman, 2. Hal ini berar ke ka perawat mendapat masalah dari pasien yang ia rawat sehingga berdampak pada emosi dirinya, maka perawat dapat mengelola emosi yang keluar tersebut tanpa harus memendam emosi itu di dalam dirinya sehingga dapat menemukan solusi yang tepat untuk menangani pasien yang bermasalah tersebut. Ini juga menunjukkan suatu kinerja perawat di dalam asuhan keperawatannya. Dengan kata lain bahwa perawat harus dapat mengelola emosinya ke ka menjalankan tugas sebagai perawat. Hal ini sangat pen ng karena perawat yang dak dapat mengelola emosinya juga akan berdampak pada pasien itu sendiri. Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh pada aspek memo vasi diri sendiri yang paling menonjol pada perawat diketahui ada beberapa perawat yang kurang setuju jika menghadapi masalah, hal pertama kali yang lakukan adalah berdiam diri dan berpikir. Menurut Goleman . , menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat pen ng dalam kaitan memberikan perha an untuk memo vasi diri sendiri dan mengusai diri sendiri dan untuk Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan ha merupakan landasan keberhasilan dalam berbagai bidang dan mampu menyesuaikan diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang nggi dalam segala bidang, orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produk f dan efek f dalam hal apapun yang mereka kerjakan. Memo vasi diri diwujudkan dalam sikap antusias, penuh gairah, op mis dan yakin akan diri sendiri, bersosialisasi dengan mantap, dak mudah gelisah dan takut, simpa k dan hangat dalam berhubungan serta nyaman dengan diri sendiri dan orang lain. Op misme merupakan bentuk lain dari memo vasi diri dimana hal tersebut dilakukan untuk mencapai harapan-harapan yang Clara Dewinda, et al The EAec veness of Emo onal Intelligence Training on Nurse's Emo onal Intelligence Improvement Efek Atas Pela han Kecerdasan Emosional Terhadap Peningkatan Kecerdasan Emosional Perawat sudah digantungkan. Op misme perawat diwujudkan dalam etos kerja ak f yang sangat menghargai proses, dimana proses menentukan hasil dalam kategori maksimal atau standar. Membiasakan diri op mis terhadap segala hal yang ada berar memiliki kepercayaan diri, dak ragu dalam membuat keputusan serta jauh dari rasa cemas (Goleman, 2. Hal ini menunjukkan bahwa peran perawat dalam memo vasi diri dalam kehidupan khususnya di dalam melaksanakan tugas sebagai perawat terlihat ke ka perawat menghadapi suatu permasalah yang membuat perawat berada dalam posisi memilih. Perawat yang memiliki mo vasi nggi akan tetap tekun dan gigih dalam menghadapi tantangan, daya dorongan ha yang dak sejalan dengan harapan akan diperkecil kemunculannya, sebaliknya jika perawat dak memiliki mo vasi akan mengiku pola arus yang telah ada, kurang berkosentrasi dan mudah menyerah. Hal ini juga akan mempengaruhi kinerjanya sebagai seorang perawat dalam melaksanakan tugas keperawatan kepada pasien secara khusus dan pada umumnya kepada rumah sakit. Kemudian berdasarkan data yang diperoleh pada aspek membina hubungan yang paling menonjol pada perawat diketahui ada beberapa perawat yang setuju karena dak mampu memperlihatkan rasa kasih sayang yang dimiliki. Ini menunjukkan bahwa adanya perawat yang sulit membina hubungan dengan orang lain termasuk di dalamnya para pasien. Menurut Goleman . , seni membina hubungan sebagian besar merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan dan ke dakterampilan sosial dan keterampilanketerampilan tertentu yang berkaitan. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengendalikan pergaulan yang mulus dengan orang lain (Goleman, 2. Pela han Kecerdasan Emosional Berdasarkan hasil uji sta s k diketahui bahwa setelah diberikan pela han kecerdasan emosional menunjukkan adanya peningkatan atau adanya perbedaan. Hasil peneli an ini sejalan dengan pendapat Widodo . yang mengemukakan bahwa pela han merupakan serangkaian ak vitas individu dalam meningkatkan keahlian dan pengetahuan secara sistema s sehingga mampu memiliki kinerja yang profesional dibidangnya. Pela han merupakan proses pembelajaran yang memungkinkan pegawai melaksanakan pekerjaan yang sekarang sesuai dengan Tujuan dari pela han tersebut adalah untuk meningkatkan produk vitas, meningkatkan kualitas, mendukung perencanaan SDM, meningkatkan moral anggota, memberikan kompensasi yang dak langsung, meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja, mencegah kedaluarsa kemampuan dan pengetahuan personel, meningkatkan perkembangan kemampuan dan keahlian personel (Widodo, 2. Demikian pula Carrel dalam Salinding . juga mengemukakan bahwa tujuan dari pela han diantaranya adalah memperbaiki kinerja dan meningkatkan keterampilan karyawan (Salinding, 2. Pela han yang dilakukan di dalam peneli an ini adalah kecerdasan emosional perawat. Menurut Goleman . , kecerdasan emosional merupakan kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memo vasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut, seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana Kecerdasan emosional tersebut terdiri dari aspek mengenali emosi diri, mengelola emosi, memo vasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan (Goleman, 2. Dari kedua pendapat di atas dapat diketahui bahwa pela han kecerdasan emosional merupakan serangkaian ak vitas perawat dalam meningkatkan kecerdasan emosional berupa kemampuan memo vasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan serta mengatur keadaan jiwa secara sistema s sehingga mampu memiliki kinerja yang profesional dibidang keperawatan. Beberapa peneli an yang berkaitan dengan kecerdasan emosional diantaranya dilakukan Paomey, dkk . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan kinerja perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan di Irina A RSUP Prof. Dr. D Kandou Manado. Dari peneli an tersebut menggambarkan bahwa kecerdasan emosional sangat dibutuhkan para perawat agar dihasilkan kinerja yang nggi di dalam melaksanakan tugas Se ap rumah sakit pas mengingingkan para perawatnya memiliki kinerja yang nggi agar menghasilkan kualitas pelayanan yang baik dan salah satu cara meningkatkan kinerja yang nggi adalah melalui pela han kecerdasan emosional (Paomey. Mulyadi and Rivelino, 2. Kecerdasan emosional perlu dikembangkan oleh se ap Perawat merupakan suatu profesi yang menuntut ngkat interaksi sosial nggi. Prinsip melakukan ak vitas atau pemberian asuhan keperawatan adalah harus dapat bekerja sama dengan pasien, keluarga pasien, teman sejawat dan tenaga kesehatan lainnya. Ak vitas tersebut akan membutuhkan kompetensi emosional yang baik, mengingat kompetensi kecerdasan emosional turut menentukan kinerja yang prima. Kecerdasan emosional perawat memiliki efek langsung pada kualitas pelayanan yang ditawarkan. Ini berar bahwa perawat yang cerdas secara emosional memberikan layanan yang lebih berkualitas dan melakukan di luar harapan pasien dari kualitas layanan yang pada akhirnya mengarah pada loyalitas pasien pada rumah sakit yang memiliki perawat yang memiliki kecerdasan emosional yang nggi. j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. April 2021 Peneli an tentang pela han kecerdsan emosional pernah dilakukan Emilyan . yang menunjukkan hasil bahwa adanya pengaruh yang signiAkan antara pretest dan pos est kemampuan kogni f manajemen konCik kepala ruangan pada saat diberikan pela han kecerdasan emosional dengan kata lain bahwa pela han kecerdasan emosional dapat meningkatkan kemampuan kogni f kepala ruangan dalam manajemen konCik. Untuk membentuk kemampuan kecerdasan emosional yang baik diperlukan penambahan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam mengelola emosinyadengan cara pela han. Kecerdasan emosional akan berdampak posi f terhadap kemampuan pengelolaan ruangan, mampu berkomunikasi dan menjalin interaksi dengan orang lain dan berdampak pada kepuasan kerja (Emilyan , 2. Demikian pula pela han kecerdasan emosional yang dilakukan di dalam peneli an Sariri . menunjukkan bahwa pela han s mulasi kecerdasan emosi memiliki pengaruh pada ketrampilan guru TK dalam memberikan s mulasi kecerdasan emosi anak usia dini (Sariri, 2. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pela han bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, mengembangkan mo vasi diri serta dapat membantu peserta untuk dapat menerapkan ilmunya. Pela han kecerdasan emosional pada perawat berar pela han yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional perawat yang melipu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memo vasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan. Jika perawat pelaksana memiliki kecerdasan emosional yang nggi, maka perawat pelaksanan tersebut memiliki kinerja yang nggi. Melalui kecerdasan emosional yang nggi, perawat pelaksana dapat menuntun kinerjanya ke arah yang lebih baik (Robbins and Judge, 2. KESIMPULAN Kesimpulan peneli an ini yaitu nilai mean pada pre test = 9,84 dan post test = 13,58 yang menunjukkan adanya peningkatan evaluasi belajar setelah diberikan pela han dibandingkan sebelum diberikan pela han. Untuk evaluasi perilaku menunjukkan nilai mean pada pre test = 175,8947 dan setelah post test = 198,7368 ar nya adanya peningkatan etelah diberikan pela han kecerdasan emosional dibandingkan sebelum diberikan pela han. Hasil uji t menunjukkan kecerdasan emosional perawat setelah diberikan pela han kecerdasan emosional menunjukkan adanya peningkatan atau adanya perbedaan . =0,. Ucapan Terima Kasih Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Ermi Girsang. SKM. Kes. AIFO dan Ibu dr. Sri Lestari Ramadhani Nasu on. MKM yang telah banyak membimbing penulis agar dapat menyelesaikan peneli an ini dengan baik. Selanjutnya ucapan terima kasih kepada Pihak Rumah Sakit Umum Royal Prima dan juga para responden yang telah membantu peneli dalam menyelesaikan peneli an ini hingga selesai. DAFTAR PUSTAKA