Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x RASIONALITAS PEMILIHAN KERJA SEBAGAI GURU Brilliansyah Ulfi dan . Pambudi Handoyo Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 18072@mhs. ABSTRACT This study aims to understand and analyze the rationality of individual actions in choosing a profession as a teacher at MTs Muhammadiyah 1 Taman. The focus of the study is directed at revealing subjective motivation, social driving factors, and classification of actions based on Max Weber's social action theory framework. This study uses a qualitative approach with an interpretative understanding perspective and data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation. The research subjects were selected using purposive sampling techniques, with criteria of work experience, social status, and educational background. The results of the study indicate that the decision to choose a teaching profession is not only based on economic rationality, but is more influenced by value rationality, affection, tradition, and short-term practical considerations. Instrumental rationality is reflected in subjects who make the teaching profession a stepping stone to a formal career. Value rationality is seen in subjects who are motivated by religious values, obedience to parents, and idealism of devotion. Traditional actions appear in alumni teachers who choose to teach at the same school because of historical ties, while affective actions appear in subjects who maintain their profession because of emotional comfort and a conducive working atmosphere. The conclusion of this study confirms that the choice of work as a teacher at MTs Muhammadiyah 1 Taman is the result of a combination of subjective and objective factors that cannot be explained by an economic approach alone. The context of Islamic values, the structure of Muhammadiyah's Charity, and local social relations greatly influence the construction of the meaning of the work of these teachers Keywords: Rasionality. Decision Making. Work. Teacher ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis rasionalitas tindakan individu dalam memilih profesi sebagai guru di MTs Muhammadiyah 1 Taman. Fokus penelitian diarahkan untuk mengungkap motivasi subyektif, faktor pendorong sosial, serta klasifikasi tindakan berdasarkan kerangka teori tindakan sosial Max Weber. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif interpretative understanding serta teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria pengalaman kerja, status sosial, dan latar belakang Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan memilih profesi guru tidak hanya didasarkan pada rasionalitas ekonomi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh rasionalitas nilai, afeksi, tradisi, dan pertimbangan praktis jangka pendek. Rasionalitas instrumental tercermin pada subjek yang menjadikan profesi guru sebagai batu loncatan menuju karier formal. Rasionalitas nilai terlihat pada subjek yang termotivasi oleh nilai religius, ketaatan terhadap orang tua, dan idealisme pengabdian. Tindakan tradisional muncul pada guru alumni yang memilih mengajar di sekolah yang sama karena faktor ikatan historis, sedangkan tindakan afektif tampak pada subjek yang mempertahankan profesi karena kenyamanan emosional dan suasana kerja yang kondusif. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pemilihan kerja sebagai guru di MTs Muhammadiyah 1 Taman merupakan hasil dari kombinasi faktor subjektif dan objektif yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan pendekatan ekonomis semata. Konteks nilai keislaman, struktur Amal Usaha Muhammadiyah, dan relasi sosial lokal sangat mempengaruhi konstruksi makna kerja para guru tersebut. Kata kunci : Rasionalitas. Pilihan. Kerja. Guru Pendahuluan Profesi guru memiliki kedudukan strategis dalam membentuk generasi bangsa yang berkarakter dan berdaya saing. Tidak hanya sebagai pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, guru juga berperan sebagai pembentuk nilai, pembimbing moral, dan penggerak perubahan sosial. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural dan religius, profesi guru memiliki makna yang sangat kompleks, terutama ketika dijalankan dalam institusi pendidikan berbasis nilai keagamaan Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x seperti sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pilihan menjadi guru dalam konteks ini tidak dapat dipahami hanya dalam kerangka kerja ekonomi atau rasionalitas instrumental. Banyak guru yang tetap bertahan dalam situasi ekonomi yang kurang mendukung, seperti gaji rendah, beban kerja tinggi, dan fasilitas pendidikan yang terbatas. Namun demikian, mereka tetap menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya. Fenomena ini menjadi fokus utama dalam penelitian ini, yang bertujuan untuk memahami motif rasionalitas pemilihan kerja sebagai guru dalam kerangka teori tindakan sosial Max Weber. Penelitian ini secara spesifik mengambil lokasi di MTs Muhammadiyah 1 Taman (MTs Muhit. , sebuah lembaga pendidikan Islam tingkat menengah pertama yang dikelola oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur. Latar belakang pemilihan lokasi ini adalah karena MTs Muhita merupakan salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang secara struktural berada dalam sistem pendidikan Muhammadiyah namun memiliki karakteristik lokal yang khas. Meskipun lembaga ini tidak sebesar AUM pendidikan lain yang telah berkembang pesat. MTs Muhita tetap mampu menarik minat individu untuk mengabdi sebagai tenaga pendidik. Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji secara mendalam motif-motif rasionalitas yang mendasari keputusan individu dalam memilih dan bertahan sebagai guru di lembaga ini. Secara keilmuan, penelitian ini memperkuat temuan-temuan sebelumnya seperti studi oleh (Viyatin 2. Viyatin . yang menunjukkan bahwa keputusan buruh dalam menyikapi pemutusan hubungan kerja dipengaruhi oleh berbagai bentuk rasionalitas. Suyatno et al. juga menemukan bahwa makna kerja guru tidak hanya berasal dari aspek material, tetapi juga dari rasa pengabdian dan aktualisasi diri. Penelitian ini juga relevan dengan studi Majeed and Javaid . tentang guru di Pakistan yang menilai makna kerja dari perspektif emosional dan manajerial. Berbagai macam penelitian tersebut menjelaskan bahwa setiap orang memiliki rasionalitas masing-masing dalam memilih pekerjaannya. Penelitian ini berfokus pada bagaimana rasionalitas pemilihan kerja sebagai guru di MTs Muhita?. Kajian Pustaka 1 Rasionalitas Max Weber Memahami alasan di balik pemilihan profesi sebagai guru di MTs Muhammadiyah 1 Taman, teori yang paling relevan adalah Teori Tindakan Sosial yang dikembangkan oleh Max Weber. Tindakan sosial menurut weber adalah tindakan yang penuh arti bagi individu tindakannya tersebut mempunyai arti subyektif yang ditujukan kepada dirinya dan tindakan orang lain (Soyomukti 2. Weber mengklasifikasikan tindakan sosial ke dalam empat tipe berdasarkan orientasi motivasionalnya Ritzer . , yaitu: Tindakan Rasional Instrumental Merujuk pada tindakan yang dijalankan berdasarkan kalkulasi rasional terhadap tujuan dan cara-cara yang dianggap paling efisien. Dalam konteks profesi guru, tindakan ini tercermin ketika seseorang memilih menjadi guru karena alasan pragmatis seperti stabilitas pekerjaan, akses beasiswa, atau pengalaman kerja untuk memperkuat peluang karier di masa depan. Tindakan Rasional Berorientasi Nilai Berakar pada keyakinan terhadap nilai intrinsik dari tindakan itu sendiri, terlepas dari hasil akhir. Dalam konteks ini, seseorang memilih menjadi guru bukan karena imbalan ekonomi, melainkan karena menganggap mengajar sebagai panggilan hidup, ibadah, atau pengabdian sosial. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Tindakan Tradisional Dilakukan karena kebiasaan atau adat yang melekat, tanpa pertimbangan rasional Seorang individu bisa jadi memilih profesi guru karena keluarganya memiliki latar belakang sebagai pendidik, atau karena mengajar telah menjadi norma sosial di Tindakan Afektif Dipengaruhi oleh emosi dan perasaan sesaat, seperti rasa empati, cinta terhadap anak-anak, atau keterikatan emosional dengan lembaga tempatnya mengajar. Keputusan memilih menjadi guru dapat muncul karena dorongan emosional, seperti kecintaan terhadap murid atau pengalaman pendidikan pribadi yang membekas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif interpretative understanding, yang menekankan pemahaman mendalam terhadap makna subjektif tindakan sosial individu Iskandar . Tujuan utama pendekatan ini adalah menggali motif dan alasan di balik keputusan seseorang dalam memilih profesi sebagai guru, khususnya di MTs Muhammadiyah 1 Taman. Penelitian dilaksanakan di lingkungan sekolah tersebut karena dinilai memiliki dinamika sosial yang unik sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang masih berkembang. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas guru di lingkungan sekolah Arikunto . sedangkan wawancara dilakukan dengan guru-guru terpilih menggunakan teknik purposive sampling Abubakar . Kriteria subjek antara lain adalah guru yang telah mengajar lebih dari lima tahun, memiliki status sebagai orang tua, atau guru baru yang memilih MTs Muhita sebagai tempat mengajar pertama. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model Miles and Huberman . , yang mencakup reduksi data, penyajian data secara naratif, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diuji dengan teknik triangulasi. Pendekatan ini dipilih untuk memahami tindakan sosial guru secara utuh, dengan mempertimbangkan dimensi nilai, emosi, kebiasaan, dan tujuan rasional dalam konteks kerja pendidikan Islam. DESKRIPSI LOKASI MTs Muhammadiyah 1 Taman (MTs Muhit. merupakan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan yang berada dalam naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang. PCM Sepanjang merupakan PCM unggulan dalam bidang pengembangan AUM dan PCM Sepanjang telah memiliki 8 AUM bidang pendidikan dari jenjang SD hingga SMA/SMK. AUM bidang pendidikan PCM Sepanjang meliputi SD Muhammadiyah 1&2 Taman. SD Muhammadiyah 4 Zamzam. MTs Muhammadiyah 1 Taman. SMP Muhammadiyah 2 Taman. SMK Muhammadiyah 1 Taman. SMK Muhammadiyah 2 Taman, dan SMA Muhammadiyah 1 Taman. Pengembangan MTs Muhita berjalan lambat berbeda dengan AUM bidang pendidikan yang lainnya yang telah mengalami pengembangan yang pesat. MTs Muhammadiyah 1 Taman (MTs Muhit. merupakan sekolah yang berada di wilayah Taman. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur. MTs Muhita termasuk dalam wilayah administrasi dusun Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x sambiroto, desa sambibulu. Wilayah desa sambibulu merupakan wilayah pemukiman masih didominasi oleh wilayah persawahan. Berdasarkan statistik pekerjaan dalam (Sambibulu. Mayoritas masyarakat desa sambibulu masih termasuk dalam golongan masyarakat menengah-kebawah karena masih terdapat 8% pengangguran dan 9% memilih menjadi pengurus rumah tangga. Selain itu desa sambibulu masih terdapat 4% warga tidak sekolah, 6% belum tamat SD, 7% tamat SD 8% masyarakatyang telah lulus SMP sederajat. MTs Muhita termasuk AUM bidang pendidikan yang masih berkembang dalam naungan PCM Sepanjang. MTs Muhita merupakan bangunan 2 lantai yang terdiri dari 9 ruang kelas. MTs Muhita memiliki jumlah siswa sebanyak 165 siswa dengan total guru sebanyak 20 dari 35 tenaga pendidik HASIL DAN PEMBAHASAN Motivasi Pemilihan Kerja Motivasi menjadi dasar internal seseorang dalam membuat keputusan, termasuk dalam memilih Dalam konteks penelitian ini, motivasi individu menjadi guru di MTs Muhammadiyah 1 Taman sangat beragam dan dipengaruhi oleh nilai-nilai subjektif yang dimiliki masing-masing subjek penelitian. Subjek 1 memutuskan menjadi guru karena dorongan orang tua. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh pabrik dan pengemudi ojek daring. Namun, orang tuanya tidak merestui profesi tersebut dan menganggap menjadi guru lebih mulia. AuBapak ngomong ke sayaAugae opo sekolah sarjana lek cuman dadi gojek, ngelamar dadi guru kunu lohAy. Namanya anak ya mas kudu manut nang wong tuo. Itung-itung ndolek ridhone wong tuwo lah mas. Ay Ketaatan kepada orang tua menjadi motivasi utama, yang menunjukkan kuatnya nilai religius dan kultural Jawa dalam kehidupan individu. bahwa pilihan karier sering dipengaruhi oleh norma keluarga dan kehendak orang tua. Meskipun pilihan itu akan bertentangan dengan minat pribadi. Subjek 2 memilih profesi guru karena rasa nyaman yang ia alami selama mengajar kegiatan Ia merasakan lingkungan kerja yang kondusif, komunikatif, dan memberi ruang untuk mengekspresikan diri melalui seni tari. Auaku ditawari nang krian mas cuman ga wes. Nang krian ga ngerti kondisine. Enak nang kene (MTs Muhit. wes nyaman. Wonge enak an, komunikasi e yo enak. Opo maneh nang kene aku iso nggae kreasi nari. Meskipun mendapat tawaran dari sekolah lain yang lebih besar, ia menolaknya karena lebih merasa dihargai dan nyaman di MTs Muhita. Subjek 3 termotivasi karena ingin menambah pengalaman kerja. Bagi subjek, mengajar di MTs Muhita adalah langkah awal untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi ASN atau pK. Auaku nang kene mek ndolek pengalaman. Asline tahun kemarin aku tes pK dan keterima tapi ditempatkan di maluku. Ga tak ambil pak sakno ibukku. Kan bapakku wes meninggal gaonok seng nemeniAy Selain itu, subjek juga mempertimbangkan kondisi ibunya yang sudah tua sebagai alasan untuk tidak menerima penempatan jauh. Subjek 4 memiliki motivasi berupa pengabdian dan rasa balas jasa karena merupakan alumni MTs Muhita. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap almamaternya. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x AuAku alumni kene (Mts muhit. Lek ngomong kenapa ngajar disini aku inget jasa bapak ibu guruku mbiyen ngajar aku nang kene. Yoo itung-itung pengabdian lah disini. Ay Pilihan tersebut merupakan bentuk refleksi dari nilai loyalitas dan tradisi dalam konteks hubungan antara individu dan lembaga pendidikan. Subjek 5 menjadi guru untuk mengisi waktu luang setelah pindah domisili karena menikah. Subjek memiliki pengalaman mengajar di pondok pesantren dan ingin tetap berbagi ilmu. Aku neng kene semenjak aku belum punya bocil mas. Kan aku dari ponorogo terus dapet suami pindah kesini di sambisari deket sama MTs. Nah kan aku ada pengalaman ngajar di ponpes Nah di sidoarjo juga mau ngajar lagi. Udah daftar di sekolah progresif bumi sholawat, keterima cuman suami nggak mengizinkan karena jauh. Akhirnya tau kalo di deket rumah ada MTs jadi daftar aja dan diterima Ay Jarak tempat tinggal yang dekat dengan sekolah menjadi nilai tambah. Subjek 6 menunjukkan motivasi religius dan ideologis. Sebagai anggota aktif Aisyiyah, ia melihat profesi guru sebagai bagian dari pengabdian dalam bidang pendidikan Islam dan gerakan Muhammadiyah. Bekerja di MTs Muhammadiyah 1 Taman. AuSetelah saya lulus di tahun 2008, dengan niat bismillah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dengan nilai-nilai islam dan keMuhammadiyahan saya memutuskan untuk mendaftar diri sebagai guru di MTs Muhammadiyah 1 Taman. Ay subjek bukan hanya pekerjaan, tetapi juga ibadah dan bentuk kontribusi terhadap dakwah Secara umum, motivasi pemilihan profesi guru pada subjek penelitian mencerminkan campuran antara motivasi spiritual, emosional, sosial, dan pragmatis. Keputusan mereka tidak dapat dilepaskan dari konteks nilai Islam, norma keluarga, serta kebutuhan untuk aktualisasi diri. Faktor-Faktor Pendorong Pemilihan Profesi Keputusan seseorang untuk memilih suatu pekerjaan bukan hanya berdasarkan motivasi internal, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Dalam penelitian ini, terdapat empat faktor utama yang mendorong individu memilih menjadi guru di MTs Muhammadiyah 1 Taman: dukungan keluarga, keterikatan sosial, aksesibilitas, dan kondisi lingkungan kerja. Dukungan Keluarga Keluarga, terutama orang tua, memiliki pengaruh besar dalam pemilihan profesi, khususnya dalam budaya kolektif seperti Indonesia. Subjek 1 memilih profesi guru karena desakan orang tua yang menilai menjadi ojek online tidak layak bagi lulusan sarjana. Keputusan tersebut tidak didasari oleh rasionalitas ekonomi, tetapi oleh nilai kepatuhan dan harapan Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai normatif dalam keluarga masih sangat kuat, terutama dalam komunitas religius dan tradisional. Keterikatan Sosial Keterlibatan dalam kelompok sosial tertentu dapat membentuk loyalitas dan rasa tanggung Subjek 4, misalnya, memilih kembali mengajar di MTs Muhita karena ia merupakan alumni sekolah tersebut. Pengalaman masa lalu menciptakan keterikatan emosional yang kuat terhadap lembaga. Sementara itu, subjek 6 memiliki latar belakang aktif dalam organisasi Muhammadiyah dan menganggap mengajar sebagai bagian dari kontribusi Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x terhadap komunitas. Kedua kasus ini menunjukkan bahwa afiliasi sosial dan identitas kelompok menjadi pendorong kuat dalam pemilihan pekerjaan. Aksesibilitas Geografis Faktor geografis menjadi pertimbangan praktis dalam pemilihan profesi, khususnya bagi individu yang memiliki tanggungan keluarga atau keterbatasan mobilitas. Subjek 3 menolak penempatan sebagai ASN di luar Jawa karena harus menjaga ibunya yang sudah lanjut usia. Subjek 5 juga menolak pekerjaan di sekolah yang jauh karena tidak mendapat restu dari Aksesibilitas ini berkaitan erat dengan efisiensi waktu, tanggung jawab keluarga, serta stabilitas emosional. Kondisi Lingkungan Kerja Lingkungan kerja yang kondusif menjadi salah satu pendorong utama dalam mempertahankan profesi. Subjek 2 menekankan pentingnya suasana kekeluargaan, dukungan rekan kerja, dan ruang untuk kreativitas. Meskipun tawaran pekerjaan dari sekolah lain lebih menjanjikan secara finansial, subjek tetap memilih MTs Muhita karena lingkungan yang nyaman. Hal ini menunjukkan bahwa faktor non-material dapat lebih menentukan dibandingkan imbalan ekonomi. Tabel Penerapan Teori Komponen teori Rasionalitas Instrumental Rasionalitas Nilai Tindakan Tradisional Tindakan Afeksi Kondisi objektif subjek Subjek profesi guru selama 2 Motivasi dan dorongan Subjek penelitian 1, profesi guru selama 2 Subjek penelitian 6, profesi guru selama 16 Tahun Subjek penelitian 4, profesi guru selama 10 MTs Muhita Memenuhi nilai terhadap orangtua Sarana pK untuk seleksi Niat untuk mengabdikan diri dalam bidang pendidikan Mendaftar sebagai guru di MTs Muhita karena adanya Subjek penelitian 5. Mendaftar guru di MTs profesi guru selama 2 Muhita Tahun pengalaman menjadi guru di pekerjaan sebelumnya Subjek penelitian 2. Bekerja di MTs berdasarkan profesi guru selama 6 rasa nyaman, kekeluargaan. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x mengekspresikan diri Keempat faktor di atas saling melengkapi dan memperkuat keputusan individu. Dalam konteks MTs Muhammadiyah 1 Taman, nilai-nilai keagamaan, kedekatan sosial, dan ikatan personal memainkan peran yang signifikan. Tidak hanya pertimbangan material yang menjadi acuan, tetapi juga nilai sosial dan spiritual yang melekat dalam komunitas Muhammadiyah dan masyarakat Rasionalitas Instrumental Tindakan ini didasarkan pada perhitungan rasional untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien. Dalam konteks penelitian ini, satu subjek menyatakan bahwa dirinya bekerja di MTs Muhita untuk mendapatkan pengalaman yang menjadi syarat seleksi ASN/pK. Pilihan ini mempertimbangkan efisiensi jarak, fleksibilitas waktu, serta peluang untuk tetap dekat dengan Tindakan ini jelas mencerminkan orientasi pada tujuan jangka panjang, yaitu status pekerjaan yang lebih stabil dan sejahtera secara ekonomi. Namun demikian, meskipun bersifat rasional, keputusan tersebut tetap dipengaruhi oleh konteks afektif dan nilai, menunjukkan bahwa tindakan manusia tidak sepenuhnya bersifat linier Emynorane . Aspek ini memperlihatkan bahwa walaupun lingkungan MTs Muhita bukanlah institusi dengan insentif ekonomi tinggi, namun tetap berfungsi sebagai means to an end bagi individu yang memiliki strategi jangka panjang dalam karier profesional mereka. Rasionalitas Nilai Tindakan berorientasi nilai ditemukan pada subjek yang memandang profesi guru sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan terhadap nilai moral dan religius. Subjek yang menuruti permintaan orang tua untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pengemudi ojek daring dan menjadi guru adalah contoh nyata tindakan wertrational Fadilla and Abdullah . Meskipun menjadi guru tidak menjanjikan kesejahteraan finansial, subjek tetap menjalaninya karena keyakinan terhadap nilai ketaatan dan kehormatan sosial. Subjek lainnya yang aktif di organisasi Aisyiyah menyebut bahwa mengajar adalah bagian dari jihad pendidikan dan dakwah sosial. Nilai keislaman dan kemuhammadiyahan menjadi dasar tindakan yang bersifat ideologis dan tidak mengutamakan hasil material Abdullah. Razak, and Hamzah . Nilai-nilai seperti rasa terima kasih, pengabdian, dan amal jariyah menjadi pendorong Dalam konteks Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), aspek ini semakin kuat karena terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dan semangat dakwah yang melekat pada institusi tersebut. Tindakan Tradisional Tindakan ini muncul karena kebiasaan dan pengulangan pola sosial yang telah berlangsung lama. Dalam penelitian ini, subjek yang merupakan alumni MTs Muhita memutuskan untuk kembali mengajar di sekolah tersebut sebagai bentuk balas jasa terhadap para guru yang dahulu Keputusan ini tidak didasarkan pada analisis rasional atau perhitungan efisiensi, melainkan atas dasar loyalitas emosional yang telah terbentuk dari masa lalu. Selain itu, guru yang memiliki latar belakang pesantren dan terbiasa mengajar di lingkungan Islam merasa lebih nyaman bekerja di MTs karena kesesuaian dengan pola hidup dan nilai-nilai yang sudah lama diinternalisasi Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Ragland . Keterlibatan alumni yang kembali mengajar di sekolah yang sama juga menunjukkan kekuatan tindakan tradisional ini. Ada semacam pola berulang yang memperkuat legitimasi profesi guru dalam struktur sosial lokal, menjadikannya bagian dari siklus sosial yang Tindakan Afektif Rasionalitas afektif terlihat pada subjek yang bertahan di MTs karena kenyamanan emosional, hubungan sosial yang harmonis, dan ruang untuk mengekspresikan kreativitas. Salah satu guru menyebutkan bahwa ia menolak tawaran kerja dari sekolah lain yang lebih besar karena suasana di MTs Muhita lebih nyaman dan komunikatif. Selain itu, ia merasa memiliki ruang untuk berekspresi melalui kegiatan seni dan ekstrakurikuler. Tindakan ini digerakkan oleh perasaan spontan dan keterikatan emosional, bukan pertimbangan rasional semata. Emosi positif seperti rasa diterima, dihargai, dan memiliki makna dalam lingkungan kerja menjadi pendorong utama tindakan Wulandari. Utari, and Muninghar . Dalam perspektif Max Weber, tindakan sosial yang didorong oleh afeksi mencerminkan keputusan yang berakar pada emosi, perasaan, dan kedekatan pribadi yang spontan. Tindakan ini tidak selalu rasional dalam arti instrumental, namun sangat bermakna secara subjektif bagi Dalam kehidupan sehari-hari, afeksi sering muncul bersamaan dengan nilai-nilai yang dianut individu serta kebiasaan yang tertanam secara sosial dan kultural. Hal ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan tidak selalu bersifat kalkulatif, tetapi dapat pula dipengaruhi oleh hubungan emosional dan keterikatan terhadap lingkungan sosial. Weber menyadari bahwa manusia bertindak bukan hanya karena tujuan rasional, tetapi juga karena adanya dorongan afektif yang bersifat personal dan emosional. Oleh karena itu, tindakan afektif dalam konteks sosial memperlihatkan dimensi psikologis dan sosial yang saling berkaitan dalam membentuk perilaku individu. Keempat rasionalitas tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam praktiknya, tindakan individu sering kali merupakan hasil dari gabungan berbagai rasionalitas. Sebagai contoh, subjek 3 tidak hanya memikirkan efisiensi . asionalitas instrumenta. , tetapi juga mengutamakan kedekatan dengan ibu . Begitu pula subjek 4 yang memilih mengajar di sekolah lamanya karena tradisi . , namun juga sebagai bentuk nilai pengabdian . Temuan ini menunjukkan kompleksitas tindakan manusia yang tidak bisa disederhanakan hanya dengan logika untung rugi. Dalam konteks MTs Muhammadiyah 1 Taman, rasionalitas nilai dan afektif cenderung lebih dominan dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, karena kuatnya pengaruh nilai Islam dan kekeluargaan dalam kehidupan sosial guru. Nilai Islam sebagai bagian dari identitas kelembagaan memberikan kekuatan normatif yang memperkuat tindakan rasional nilai dan tradisional. Guru yang bekerja di MTs Muhita bukan hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi religius dan sosial. Mereka melihat pekerjaan mengajar sebagai bagian dari ibadah dan amal jariyah, bukan semata pekerjaan biasa. Secara umum, analisis dengan teori Max Weber menunjukkan bahwa pemilihan kerja sebagai guru lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial dan spiritual dibandingkan logika ekonomi. Profesi guru, khususnya di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah, tidak hanya dipahami sebagai pekerjaan, tetapi juga sebagai panggilan hidup dan wujud pengabdian kepada masyarakat. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MTs Muhammadiyah 1 Taman, dapat disimpulkan bahwa tindakan pemilihan kerja sebagai guru oleh para subjek memiliki motivasi dan faktor pendorng yang berbeda-beda. Motivasi merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri Adapun motivasi yang dimiliki para subjek dalam memilih pekerjaan guru antara lain ketaatan terhadap orangtua, rasa nyaman, terinspirasi oleh bapak ibu guru, perasaan meneruskan pekerjaan, dan pengabdian. Faktor pendorong yang berasal dari luar subjek antara lain dukungan keluarga, keterikatan terhadap suatu kelompok, perbandingan jarak, dan kondisi lingkungan. Teori rasionalitas mengklasifikasikan para subjek dalam 4 bagian. Rasionalitas instrumentalberupa subjek yang menjadikan profesi sebagai guru di MTs Muhita sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan jangka Panjang yakni seleksi pK. Rasionalitas nilai berupa rasa ketaatan dan rasa pengabdian yang melatar belakangi pilihan subjek. Rasionalitas tradisional Nampak pada guru yang telah menjadikan profesi tersebut sebagai kebiasaan. tindakan afektif terlihat pada guru yang memutuskan bekerja di MTs Muhitakarena rasa nyaman, suasana kerja yang kekeluargaan, dan adanya ruang untuk mengekspresikan diri DAFTAR PUSTAKA