Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Estetika Posmoderen: Idealisasi Seni Karawitan dalam Agama Hindu di Bali I Gede Mawan. Hendra Santosa* Institut Seni Indonesia Denpasar. Denpasar. Indonesia *hendrasnts@gmail. Abstract Balinese musical art is essentially a cultural heritage passed down from generation to generation from the predecessors, and always adheres to existing traditions, relying on traditional patterns that develop in society. There is no traditional or religious ceremony in Bali without the involvement of musical arts. The diversity and complexity of Balinese gamelan playing has been the subject of study among researchers with various scientific approaches. This paper aims to discuss the art of Balinese gamelan music in the realm of postmodern aesthetic studies, one of the disciplines that is growing quite rapidly today. This research uses a descriptive method of analysis with data collection techniques such as observation, interviews, and literature studies as well as the author's experience as a musical performer. The results of this study show that in the last decade or 10 years there has been a fundamental change in the process of creating new works in Balinese karawitan. The process of creating new works, which has been based on a strong tradition, has now changed into contemporary . , postmodern or contemporary art. This phenomenon occurs due to the change in the mindset of artists who always want to keep up with the times. The forms or idioms of postmodern aesthetics found in the process of creating new works in Balinese musical art include Pastiche. Parody. Kitsch. Camp, and Schizophrenia. The emergence of postmodern aesthetic idioms in new Balinese musical works from artists at this time is to fulfill the need for beauty values as humans in general, also based on the desire to achieve intrinsic values contained in the art itself to achieve perfection as a human being. Keywords: Modern Aesthetics. Eddialization Karawitan Art. Balinese Gamelan Abstrak Seni karawitan Bali pada hakekatnya merupakan warisan budaya turun-temurun dari para pendahulu, dan selalu berpegang teguh pada tradisi yang telah ada, bertumpu pada pola-pola tradisi yang berkembang di masyarakat. Tidak ada upacara adat atau keagamaan di Bali tanpa keterlibatan seni karawitan. Keberagaman dan kerumitan bermain gamelan Bali telah menjadi bahan kajian dari kalangan peneliti dengan berbagai pendekatan kelimuan. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan diskusrsus tentang seni karawitan Bali dalam ranah kajian estetika postmodern, salah satu disiplin ilmu yang berkembang cukup pesat dewasa ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data seperti observasi, interview, dan studi kepustakaan serta pengalaman penulis sebagai pelaku seni karawitan. Hasil penelitian ini menunjukkan, pada dasawarsa atau 10 tahun terakhir ini telah terjadi perubahan yang cukup fundamental dalam proses penciptaan karya baru dalam seni karawitan Bali. Proses penggarapan karya baru yang selama ini dilandasi oleh tradisi yang kuat, saat ini telah mengalami perubahan menjadi seni kontemporer . , postmodern atau seni masa kini. Fenomena ini terjadi diakibatkan oleh adanya perubahan pola pikir para seniman yang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman. Bantuk-bentuk atau idiom estetika postmodern yang ditemukan dalam proses penciptaan karya baru dalam seni karawitan Bali antara lain. Pastiche. Parodi. Kitsch. Camp, dan Skizofrenia. Munculnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH idiom estetika postmodern dalam karya-karya baru karawitan Bali dari para seniman pada saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan akan nilai-nilai keindahan sebagaimana manusia umumnya, juga didasari oleh adanya keinginan untuk mencapai nilai-nilai intrinsik yang terdapat di dalam seni itu sendiri untuk mencapai kesempurnaan sebagai Kata Kunci: Estetika Post Modern. Idealisasi Seni Karawitan. Gamelan Bali Pendahuluan Gamelan merupakan bagian dari musik tradisional Indonesia, yang sejak berabadabad lalu terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia, salah satunya di wilayah Bali. Berdasarkan pengklasifikasiannya perkembangan gamelan didasarkan atas periode kemunculannya yakni dimulai dari zaman prasejarah sampai abad XXI. Gamelan tertua yang ditemukan pada masa prasejarah berupa okokan (Bel sap. , kepuakan . nstrument bamboo penghalau burun. , sundari . uluh perind. , taluktak . erkusi bambu dan batu yang bunyinya ditimbulkan kiciran ai. , sangkha . erompet dari kulit keran. , guangan . undari laying-layan. , kulkul . , lesung . atu atau kayu tempat menumbuk pad. , genggong . arpa mulu. , suling somi . eruling jeram. , tektekkan . erkusi bamb. , koprak . ejenis kentongan panjang dibuat dari bambu dan beberapa instrument lainnya yang dipergunakan untuk berkomunikasi, atau keperluan menghalau hama dan untuk upacara animisme dinamisme yang terkait dengan perburuan atau pertanian mereka (Bandem, 2. Gamelan Bali merupakan salah satu instrumen musik Indonesia dengan kearifan lokal yang sangat kental. Gamelan bukan hanya dijadikan sebagai sarana hiburan tetapi juga digunakan sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan sang pencipta (Tuha. Sebagai alat musik tradisional yang lahir dan berkembang di masyarakat secara turun temurun, gamelan memiliki ciri khas dari wilayah tempat perkembangannya. Di Bali, seni gamelan seringkali disebut dengan seni karawitan. Harmonisasi yang dihasilkan oleh gamelan tidak lepas dari penabuh yang memainkan instrumen tersebut dengan mengikuti pakem atau aturan dalam gending/lagu yang dimainkan. Dalam memainkan gamelan, penabuh tidak hanya harus fokus dengan satu gamelan yang dimainkannya tetapi juga harus memperhatikan alat gamelan dari rekan sesama penabuh terutama dari segi tempo agar menghasilkan suara yang harmonis (Sari, 2. Fungsi gamelan Bali dalam kehidupan masyarakat memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. Fungsi utama gamelan Bali mencakup beberapa aspek, antara lain: upacara keagamaan . emujaan Dewat. , pengiring tari tradisional, pendidikan budaya dan seni, sarana hiburan dan pertunjukan, simbol identitas budaya, dan terapi serta Secara keseluruhan, gamelan Bali tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian integral dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Bali. Musik ini tidak hanya mengiringi aktivitas sehari-hari, tetapi juga merupakan medium untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, kesenian, dan agama. Seni tradisi pada umumnya diasosiasikan dengan kesenian kuno, yang merupakan warisan turun-menurun dari kelompok masyarakat lokal, yang cendrung statis, dan memiliki struktur yang relatif baku, dan anti modernisasi. Seni modern pada umumnya dipandang sebagai kesenian yang baru, budaya AuimportAy, lebih maju, cepat berubah, dan merupakan ciptaan masyarakat dan seniman di zaman modern ini yang anti tradisi (Dibia. Menurut Lyotard postmodern . asca moder. adalah kondisi pengetahuan dalam masyarakat yang paling maju. Kata postmodern ini digunakan untuk menjabarkan sebuah kondisi kebudayaan yang telah mengalami berbagai transformasi, yang sejak akhir abad ke-19, serta telah mengubah aturan dalam ilmu, sastra dan seni (Barker, 2. Di zaman https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH postmodern, praktik budaya dan kognitif semakin dibutuhkan untuk mempertanyakan batas-batas konseptual antara unsur-unsur tersebut dan kegiatan terkait (Crowther, 2. Hal ini mengindikasikan bahwa budaya global telah merasuki seluruh tatanan kehidupan termasuk juga dalam bidang kesenian. Kapan munculnya kondisi ini? pertanyaan ini belum terjawab hingga saat ini dan masih menjadi perdebatan dikalangan para ahli. Beberapa para ahli menyatakan bahwa postmodern adalah masa sesudah modern. Sedangkan Habermas menyatakan bahwa modernitas belum lagi berlalu. Di lain pihak Giddens . menyatakan bahwa kebanyakan elemen yang dideskripsikan sebagai pasca modern telah ada di zaman Hal itu mengaburkan kepastian kapan postmodern muncul dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Apakah postmodern adalah merupakan kelanjutan dari era modern, atau bagian dari era modern. Namun demikian, kenyataannya pada saat ini walaupun beberapa diantara ahli masih menganggap sebagai era modern, didalam perjalanannya telah terjadi perubahan sosial dan budaya secara signifikan dalam kehidupan masa kini yang digambarkan dengan bahasa Aupasca modernAy. Perubahan sosial dan perubahan budaya yang berada pada titik paling ujung masyarakat dan mengarah kepada masa depannya sendiri ini . tau merupakan konfigurasi yang telah begitu domina. bisa kita sebut sebagai kehidupan di Auera pasca modernAy (Barker, 2. Di kalangan seniman, para seniman pada masa sekarang ini cenderung berpikir dan mengupayakan untuk menghasilkan karya-karya yang bersifat individualistik karena semakin meningkat dan tingginya kesadaran atas diri sebagai seorang seniman. Karyakarya yang dihasilkan adalah merupakan reflektivitas karakteristik pribadi atau gaya-gaya Dalam wacana postmodern, aspek gaya adalah merupakan tanda-tanda budaya postmodern dilihat sebagai kesadaran diri estetis, reflektivitas diri, penyamaan/montase, paradoks, ambiguitas, ketidakpastian dan kaburnya sekat-sekat genre, gaya dan sejarah (Barker, 2. Berkaitan dengan hal tersebut, di era posmodern ini banyak kecendrungan seniman muda berkarya atas dedikasinya sendiri untuk menghasilkan hal-hal baru yang terlepas sama sekali dari tradisi dan pakem yang sudah ada sebelumnya. Kepercayaan diri para seniman dalam mengungkapkan karya-karyanya tidak terlepas dari pengalaman yang didapatkan dalam masyarakat dalam berkesenian, serta kemampuan individu seniman dalam merefleksikan dirinya dalam kancah kehidupan global ini. Hal ini mengindikasikan semakin tingginya kepercayaan diri seniman dalam mengungkapkan ide-idenya lewat karya seni. Para komposer kini banyak berusaha menghindar dari tradisi yang telah ada sebelumnya karena tidak mau dan malu dikatakan sebagai seniman klasik, kuno, dan Bahkan beberapa diantaranya berpandangan bahwa menghasilkan karya klasik dan tradisional kurang bergengsi. Situasi dan kondisi ini dalam ruang lingkup yang lebih kecil dapat dilihat dalam pagelaran karya seni karawitan baik yang dilaksanakan berkaitan dengan Festival Gong Kebyar (FGK), maupun pada Ujian Sarjana Seni, serta beberapa peristiwa budaya lainnya. Terkait dengan hal tersebut, (Rai S, 2. menyatakan bahwa karya seni yang diciptakan merupakan wujud dari getaran jiwa . dari senimannya. Ungkapan ekspresi seni itu dapat diamati dari ide atau gagasan, proses penggarapan, dan cara penyajian dengan identitasnya yang khas. Karya seni pertunjukan ciptaan baru sering mengadopsi berbagai jenis seni pertunjukan yang telah ada sebelumnya. Penciptaan karya seni pertunjukan ini tidak jarang merupakan hasil kolaborasi ide dari pencipta dengan para pendukungnya untuk menghasilkan karya seni pertunjukan yang monumental. Kegiatan festival atau mebarung adalah suatu bentuk kegiatan yang mempertemukan beberapa grup atau sekaa gong untuk menunjukkan hasil kreativitas dari para seniman serta kepiawaiannya dalam memainkan gamelan Gong Kebyar. Kegiatan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH ini telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama dan dilaksanakan sebagai salah satu ajang untuk menampilkan puncak-puncak karya seni para seniman karawitan dan Even ini menjadi sangat prestisius dan memiliki gengsi yang cukup tinggi dikalangan seniman dan masyarakat Bali karena dalam pelaksanaannya sering terjadi persaingan yang sangat ketat dari para peserta yang mengikuti. Ketatnya persaingan yang terjadi dikalangan seniman yang terlibat sebagai kontestan tentunya berdampak sangat positif bagi para seniman dan selalu dituntut untuk meningkatkan kualitas dari kreativitas karya seninya. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi perubahan yang signifikan yang dapat dilihat dari karya-karya komposisi tersebut. Dari awalnya banyak yang mengarah pada penggarapan komposisi yang berlandaskan tradisi, namun selanjutnya dalam beberapa tahun terakhir penggarapan karya komposisi sudah mengarah kepada karyakarya kontemporer. Terjadinya perubahan ini sebagai akibat dari adanya perubahan pola pikir para seniman yang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman. Landasan tradisi yang telah ada sebelumnya, mulai ditinggalkan dengan mengacu kepada karya-karya Sering terlihat beberapa bagian . dari sebuah gamelan (Gong Kebyar. Smar Pagulingan. Gong Gede dan yang lainny. di ambil selanjutnya dipadukan dengan alat musik lainnya seperti (Keyboard. Gitar dan sebagainy. Dengan terjadinya pergeseran prilaku seniman seperti diuraikan di atas, secara tidak langsung berdampak terhadap konsep estetika atau keindahan dalam karya seni yang Dibia, (Dibia & Wahyudi, 2. menyatakan bahwa seni pertunjukan pada dasarnya adalah presentasi ide, gagasan, atau pesan pada penonton oleh pelakunya melalui peragaan. Sebagai sebuah karya seni, seni pertunjukan memadukan hampir semua unsur seni. seni rupa, seni sastra, seni gerak, seni suara, sehingga mampu memberikan kepuasan estetis yang sangat lengkap. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik benang merah bahwa sebuah seni pertunjukan tentu mengandung Aukonsep-konsep dasar estetikaAy (Rianta et al. , 2019. Sudirga, 2. yang tertanam di dalamnya, dari konsep estetika tradisional, modern dan terakhir estetika postmodern. Syafril . banyak membahas tentang berbagai fenomena dalam estetika postmodern serta yang menyertainya dibalut dalam bingkai karya teater yang berjudul Jalan Lurus. Kelima idiom-idiom estetika tersebut dibahas dalam kacamata senit teater serta penerapannya. Tulisan lainnya yang menarik adalah tulisan Saptono (Saptono, 2. yang berjudul Sajian Komposisi Karawitan Sebuah Kategori Contoh Dalam Wacana Estetika Postmodern. Tulisan ini menarik dibaca sebagai bahan perbandingan dalam mengkaji berbagai permasalahan dalam estetika postmodern. Saptono memfokuskan bahasannya tentang karya seni sebagai kasus dalam beberapa komposisi . ending/lag. karawitan Jawa dan Bali . , ditinjau dari kacamata estetika postmodern, dengan lima . pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia. Dua lagu yang dikaji adalah AuDerapAy karya Saptono. Ide Penataan lagu daerah-daerah di Indonesia dari Aceh sampai Papua adalah kaitan tema Pameran Pembangunan Daerah Bali di Lapangan Padanggalak tahun 2002, yaitu AuPersatuan dan KesatuanAy. Ide Musikal, elemen lagu yang dibangun mengambil dari lagu-lagu daerah yang sudah ada dan dianggap bisa mewakili identitas daerahnya, kemudian dikemas sesuai dengan kebutuhan dengan nuansa baru. Dengan demikian pastiche mengambil bentuk-bentuk teks atau bahasa estetik dari berbagai fragmen sejarah, sekaligus mencabutnya dari Ausemangat jamannyaAy, dan menempatkannya kedalam konteks Ausemangat jamanAy masa kini. Tulisan-tulisan di atas jelas berbeda dengan tulisan pada artikel ini karena artikel ini menyoroti tentang idiom-idiom estetika postmodern khususnya dalam karya seni karawitan Bali yang termasuk dalam estetika pastiche, parodi, kitsch, camp, dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendapatkan data-data yang valid atau dapat dipercaya kebenarannya. Data primer dalam penelitian ini berbentuk pengamatan langsung ke lapangan serta melakukan wawancara langsung dengan narasumber untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau diperoleh dan dicatat oleh pihak lain. Data tersebut dapat diperoleh dari studi pustaka, buku-buku yang ada kaitannya dengan materi penelitian yang pernah dilakukan berupa laporan atau hasil penelitian terdahulu. Studi pustaka dilakukan untuk menelusuri pustaka-pustaka yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Studi pustaka ini dilakukan baik koleksi pribadi, dan juga perpustakaan yang ada di ISI Denpasar. Wawancara juga dilakukan dengan narasumber terpilih yang dapat dipercaya kebenaran informasinya sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dalam menganalisa fenomena yang terjadi pada Karawitan Bali dewasa ini digunakan estetika posmodern sebagai pisau analisisnya. Estetika posmodern dalam hal ini mengusung prinsip bahwa karya seni yang disajikan bentuknya sesuai dengan kesenangan/mode saat ini . orm follows fu. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif interpretatif untuk memperoleh gambaran mengenai bentuk idiom-idiom estetika postmodern dalam karawitan Bali. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif dan dengan interpretatif. Analisis deskriptif bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Sedangkan analisis kualitatif adalah cara pemadatan data dengan sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan keterkaitan secara sistematis. Hasil dan Pembahasan Berbicara masalah estetika posmodern, khususnya di dalam seni karawitan Bali sangat sulit karena ada karya-karya yang sama sekali tidak mencerminkan salah satu konsep esetetika postmodern sehingga sangat sulit untuk menjabarkannya. Namun berdasarkan teori Piliang, maka ruang lingkup konsep bahasan seni posmodern hanya dibatasi pada kelima ediom-ediom estetika postmodern. Menurut Leo Tolstoi, seni adalah ungkapan perasaan seniman yang disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan. Dengan seni, seniman memberikan, menyalurkan, memindahkan perasaannya kepada orang lain sehingga orang itu merasakan apa yang dirasakan seniman (Sumardjo, 2. Dari sinilah seniman mengkemas gagasannya untuk bisa disampaikan lewat berbagai media seni untuk disampaikan kepada khalayak umum. Dalam bukunya The Philosophy of Art. Theodore Gracyk menyebut definisi seni dibagi menjadi empat yaitu sebagai definisi fungsionalis, ekspresionis, institusional, dan klaster. Definisi fungsionalis pada seni mengacu terhadap tujuan, atau tugas spesifik yang dipenuhi seni. Artinya, kita dapat menyebut sesuatu sebagai seni, hanya jika memenuhi atau melakukan fungsi tertentu, atau memiliki kualitas tertentu. Definisi ekspresionis mengacu terhadap upaya seni untuk mengatasi masalah dalam menemukan Auzona goldilockAy antara inklusivitas dan eksklusivitas dengan mengalihkan fokus terhadap mengungkapkan karya, atau bahkan lebih rumit, apa yang ingin diungkapkannya. Definisi seni ekspresionis lebih berguna untuk menentukan kualitas seni, daripada apa yang bisa ditentukan disebut seni. Definisi kelembagaan mengenai faktor tekanan seni di luar karya itu sendiri (Isrow, 2. Santoso et al. menyatakan bahwa estetika dalam konteks karya seni adalah nilai yang memberi kekuatan berupa ruh sehingga karya seni mampu menggugah imajinasi orang yang menikmatinya. Pernyataan ini menjelaskan estetika dari sudut https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pandang karya seni, bahwa karya seni dikatakan memiliki nilai estetik ketika sudah mampu menggugah imajinasi dari penikmatnya. Nilai tentang menggugah imajinasi itu dalam dunia kesenian selama ini adalah juga yang disebut sebagai keindahan. Ada dua nilai keindahan dalam seni yaitu nilai keindahan ekstrinsik dan nilai keindahan intrinsik. Nilai keindahan ekstrinsik adalah nilai yang dikejar manusia demi suatu tujuan yang ada di luar kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Misalnya seorang seniman bekerja dan menghasilkan karya seni atau berkesenian untuk memenuhi keperluan hidupnya seperti sandang, pangan, papan dan keluarganya. Sedangkan nilai intrinsik adalah nilai yang dikejar manusia demi nilai itu sendiri karena keberhargaan, keunggulan, atau kebaikan yang melekat pada nilai itu sendiri. Nilai bentuk seni ini dapat diindera dengan mata, telinga, atau keduanya. Seniman menggumuli suatu seni karena nilai-nilai intrinsiknya yaitu keberhargaan, keunggulan, atau kebaikan yang terdapat pada seni itu sendiri (Gie, 2. Munculnya idiom estetika postmodern dalam karya-karya komposisi karawitan Bali dari para seniman pada saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan akan nilai-nilai keindahan sebagaimana manusia umumnya, juga lebih didasari oleh adanya keinginan untuk mencapai nilai-nilai intrinsik yang terdapat di dalam seni itu sendiri untuk mencapai kesempurnaan sebagai manusia. Karawitan memiliki pengertian musik tradisional yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang terkait dengan budaya dan masyarakat. Seni karawitan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat yang ditandai dengan karya-karya baru. Hal tersebut menandai seni karawitan telah mendapatkan posisi yang tepat, tidak hanya sebagai sebuah musik yang digunakan untuk mengisi waktu dan suasana, namun dipakai sebagai sebuah pertunjukan yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius (Setyawan, 2. Ada dua bentuk seni karawitan yang terdapat di Bali yaitu karawitan vokal yang mempergunakan suara manusia sebagai sumber bunyi dan karawitan instrumental yang mempergunakan berbagai peralatan sebagai sumber bunyi. Peralatan tradisional tersebut disebut dengan gamelan. Gamelan sebagai alat musik tradisional disamping mempunyai fungsi dan peranan yang sangat strategis dalam berbagai aktivitas budaya, sosial dan kemasyarakatan, juga sebagai media kreativitas bagi para seniman yang menggelutinya. Dari data yang diperoleh, saat ini terdapat A 37 jenis gamelan yang ada, sebagian besar dari barungan gamelan tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam masyarakat Bali sebagaimana tradisi yang sudah diwariskan bertahun-tahun, dan sebagian dari barungan yang ada mulai dirambah oleh repertoar-repertoar yang bernuansa modern. Dari uraian di atas, walaupun seni karawitan sangat kental dengan aroma tradisinya, namun seiring dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, globalisasi dan modernisasi turut mempengaruhi konsepsi para seniman dalam berkarya. Adakalanya seniman berkarya dengan berpijak dari tradisi yang sudah ada, ada seniman yang hanya memanfaatkan instrumen tradisi dengan teknik penggarapan yang berbeda dan ada pula yang sudah keluar dari media tradisi. Dalam beberapa dekade tahun terakhir terjadi perubahan paradigma dalam penciptaan seni karawitan Bali. Perubahan paradigma dari penciptaan seni tradisi menjadi kontemporer atau modern misalnya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Transformasi ini tidak hanya melibatkan aspek teknis dalam musik, tetapi juga mencakup perubahan dalam konteks sosial, budaya, dan estetika. Faktor pengaruh dapat dilihat antara lain. pengaruh globalisasi, peran pendidikan seni dan eksplorasi akademik, perubahan sosial dan budaya, eksperimen estetika dan inovasi kreatif, dan perkembangan teknologi musik . usik elektronik dan produksi digita. Seni pertunjukan dewasa ini mulai berbenah baik dari sisi kemasan hingga terobosan penciptaan seni. Hal ini disebabkan maraknya era digital yang menuntut perubahan secara dinamis untuk semua bidang kehidupan. Seni tradisi salah satu wilayah https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang kini gencar melakukan terobosan artistik untuk dapat bersaing searus dengan kondisi Oleh sebab itu, banyak bermunculan gejala seni pertunjukan yang proses dan wujud kreatifnya melampaui batas, artinya keluar dari zona mainstream (Sutisna. Wiresna, & Sukmana, 2. Dengan demikian, munculnya karya-karya baru dalam dunia karawitan Bali sangat memungkinkan munculnya persepsi baru dalam idiom-idiom estetika terutama dalam idiom estetika postmodern. Ardana & Consentta . juga menyatakan bahwa estetika memiliki peran penting dalam menentukan karya tersebut tergolong baru atau tidak. Estetika juga dapat menjustifikasi karya sebagai wujud penciptaan atau tidak. Wajar, jika dalam penilaian komposisi selalu dipengaruhi faktor estetik untuk menentukan tinggi dan rendahnya nilai dari komposisi/karya seni . ebuah pengalaman pribad. Namun demikian, perspektif estetika baru juga perlu menjadi rujukan untuk menunjukkan pembaharuan sebuah karya seni. Ini sebagai wujud kreativitas dalam karya seni. Oleh sebab itu, re-orientasi pada estetika baru sangat penting untuk didayagunakan agar kebaruan, kreativitas, ilmu pengetahuan tampak dalam penciptaan karya seni. Berdasarkan observasi yang dilakukan di lapangan didapatkan beberapa data yang bisa dikatagorikan dalam dalam idiom-idiom estetika yang akan dibahas di bawah ini. Idiom-idiom estetika tersebut diantaranya pastiche, parodi, kitsch, cam, dan skizofrenia. Yang dapat digolongkan ke dalam estetika pastiche adalah berbagai bentuk gending lelambatan kreasi yang pola dasarnya, struktur, dan uger-ugernya masih melekat pada gending tersebut. Yang dapat dikembangkan hanyalah dinamika, ornamentasi, melodi, tempo, dan harmoninya. Parodi merupakan idiom esetika yang menunjukkan ketidakpuasan yang juga menekankan bahwa parodi juga merupakan suatu bentuk imitasi, namun bukan imitasi murni, melainkan imitasi yang ironik, dan karena itu parodi lebih merupakan suatu pengulangan yang dilengkapi dengan ruang kritik, yang mengungkapkan perbedaan ketimbang persamaan (Syafril, 2. Walau terdapat persamaan antara pastiche dengan parodi, yaitu keduanya sangat bergantung pada teks, karya, atau gaya masa lalu sebagai rujukan atau titik berangkatnya, namun juga terdapat perbedaan yaitu: pastiche menjadikan teks, karya, atau gaya masa lalu sebagai titik berangkat dari duplikasi, revivalisme, atau rekonstruksi sebagai ungkapan dari simpati, penghargaan, atau apresiasi, sedangkan parodi sebaliknya, menjadikannya sebagai titik berangkat dari kritik, sindiran, kecaman sebagai ungkapan dari ketidakpuasan atau sekedar ungkapan rasa humor (Piliang, 2. Karya-karya yang dapat digolongkan dalam karya parodi dalam karawitan Bali adalah bebagai bentuk karya musik kontemporer yang sekarang sangat marak perkembangannya. Dalam penelitian ini juga dilakukan observasi terhadap beberapa karya seni karawitan yang dapat digolongkan ke dalam idiom estetika kitsch, cam, dan skizofrenia. Definisi kitsch menurut Baudrillard dan Eco tersebut, menurut Piliang . 2,), menyiratkan miskinnya orisinalitas, keotentikan, kreativitas, dan kriteria estetik kitsch. Disebabkan kelemahan internal itu, eksistensi kitsch sangat bergantung pada keberadaan objek, konsep, atau kriteria eksternal, seperti seni tinggi, objek sehari-hari, mitos, agama, atau tokoh. Terutama, kitsch sangat bergantung pada keberadaan gaya dari seni tinggi. Sekali sebuah karya diberi label seni tinggi, maka struktur artistiknya membentuk elemen-elemen gaya, yang disebut Eco, stylemes, atau unit terkecil dari gaya, di mana kitsch mengidentifikasikan dirinya dengan stylemes ini. Banyak karya seni musik/karawitan yang dapat dikatagorikan ke dalam seni kitsch misalnya beberapa karya yang menggunakan instrumen yang sangat minim/ sederhana sehingga memunculkan stigma bahwa karya seni yang dihasilkan sangat miskin padahal, sebuah karya seni tidak bisa dilihat dari banyak atau sedikitnya instrumen yang digunakan. Camp sebagaimana halnya kitsch merupakan jawaban atas kebosanan, dan memberikan jalan keluar ilusif https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dari kedangkalan, kekosongan, dan kemiskinan makna dalam kehidupan modern, melalui cara mengisinya dengan pengalaman melakukan peran dan sensasi lewat ketidaknormalan dan ketidakorisinilan. Camp adalah teriakan lantang menentang kebosanan itu, dan sekaligus reaksi terhadap keangkuhan kebudayaan tinggi, yang telah memisahkan seni dari makna-makna sosial dan fungsi komunikasi sosial. Sebagaimana kitsch, camp berupaya merenggut seni dari menara gading kebudayaan tinggi dan membawanya ke hadapan massa (Piliang, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan seniman muda karawitan Bali I Putu Tiodore Adi Bawa . awancara, 10 Agustus 2. , mengatakan bahwa pada akhir-akhir ini banyak seniman-seniman pemula yang berkarya bukan berdasarkan ugeruger/struktur yang telah ada sebelumnya, namun lebih banyak berkarya berdasarkan kebutuhan, dan tren yang ada masa kini. Hal ini juga ada benarnya, dari pengamatan penulis banyak karya-karya yang dihasilkan sekarang ini lebih banyak berdasarkan luapan emosi senimannya saja ketimbang murni berdasarkan konsep yang matang. Di lain pihak seniman senior I Nyoman Windha . awancara, 6 Oktober 2. , mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman saya selama berkarya seni karawitan, saya selalu melakukan perenungan, menentukan ide, dan konsep yang jelas, apa yang hendak dibuat apakah karya tradisi, kreasi, ataupun kontemporer. Hal ini penting dilakukan agar karya yang dibuat sesuai dengan konsep dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Berdasarkan hasil wawancara tersebut menyiratkan bahwa karya seni musik/karawitan yang dilahirkan harus melalui proses perenungan yang mendalam agar bisa menghasilkan karya seni yang berkualitas dan diterima oleh masayakat. Berikut contoh karya seni karawitan Bali yang dapat digolongkan ke dalam idiom-idiom estetika postmodern. Pastiche Merujuk dari definisi di dalam Concise Oxford Dictionary of Literary Terms, karya seni yang tergolong dalam karya Pastiche adalah karya seni . yang disusun dari elemen-elemen yang dipinjam dari beberapa komposer atau dari komposer tertentu di masa lalu. Sebagai karya seni yang mengandung unsur-unsur pinjaman, pastiche mempunyai konotasi negatif sebagai miskin kreativitas, orisinalitas, keotentikan, dan Eksistensi karya pastiche dalam hal ini sangat tergantung pada eksistensi kebudayaan masa lalu dan karya-karya serta idiom-idiom estetik yang ada sebelumnya (Piliang, 2. Gambar1. Penampilan Crew Gong Kebyar Dalam Memainkan Tabuh Lelambatan Kreasi Dalam Festival Gong Kebyar Tahun 2004. Sumber: Dokumen ISI Denpasar. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Salah satu contoh yang tergolong karya seni pastiche dalam seni Karawitan Bali adalah tabuh lelambatan pagongan kreasi. Sebagaimana dalam gambar 1, terlihat salah satu peserta sedang memainkan tabuh lelambatan pagongan kreasi. Tabuh lelambatan pagongan adalah salah satu wujud dari karya seni musik tradisional Bali yang biasanya dimainkan dengan mempergunakan barungan gamelan Gong Gede dan Gamelan Gong Kebyar. Dinamakan lelambatan karena dalam penyajiannya secara umum dimainkan dalam tempo yang pelan/lambat. Terdapat dua jenis lelambatan yaitu tabuh lelambatan pagongan klasik dan tabuh lelambatan pagongan kreasi . reasi pagongan/pepanggula. Dari dua jenis lelambatan tersebut, untuk pembahasan karya seni pastiche diambil salah satu wujudnya yaitu tabuh lelambatan kreasi. Dimasukkannya tabuh kreasi lelambatan pagongan kreasi sebagai salah satu karya seni pastiche karena sebagian besar persyaratan sebagai karya seni pastiche Beberapa elemen yang terdapat di dalam penggarapan tersebut adalah merupakan elemen yang dipinjam dari tabuh-tabuh yang sudah ada sebelumnya, tanpa semangat zaman, merupakan rekonstruksi dan transformasi gaya lama. Semua struktur yang terdapat dalam tabuh tersebut diadopsi begitu saja. Pengembangan dilakukan pada tataran ornamentasi, dinamika, tempo, dan tata penyajian. Akan tetapi struktur dan ugerugernya tidak boleh dirubah. Di samping itu dengan adanya standar baku . ger-uge. yang di tetapkan dalam tabuh lelambatan, kebebasan berkarya sangat terbatas dan terbelenggu dalam bingkai yang kaku sehinga terkesan sangat miskin makna dan Sebagaimana diungkapkan (Piliang, 2. bahwa pastiche biasanya tetap berada pada genre yang sama seperti model rujukannya, misalnya bahasa arsitektur Romawi yang dihidupkan kembali dalam arsitektur posmodernisme. Demikian pula halnya dengan tabuh lelambatan kreasi ini, struktur komposisi yang telah baku dan dipatenkan pantang untuk dirubah lagi. Pengembangan hanya dilakukan pada tataran dinamika, tempo, ornamentasi, ritme, dan harmonisasi. Parodi Parodi adalah sebagai bentuk dialog . enurut Bakhti. , yaitu satu teks bertemu dan berdialog dengan teks lainnya, tujuan dari parodi adalah untuk mengekspresikan perasaan tidak puas, tidak senang, tidak nyaman, berkenaan dengan entitas gaya atau karya masa lalu yang dirujuk (Piliang, 2. Secara nyata, melacak sebuah karya seni parodi . indiran terhadap karya sebelumny. dalam karawitan Bali sangat sulit untuk dilakukan karena masih tingginya sikap toleransi dan penghargaan para seniman tradisional baik kepada sesama seniman maupun terhadap karya-karya yang telah dihasilkan. Belum diketemukan adanya karya seni yang secara nyata dibuat sebagai ungkapan perasaan tidak senang, tidak puas, tidak nyaman terhadap karya-karya yang ada sebelumnya. Namun demikian, dengan adanya upaya para seniman untuk menemukan sesuatu yang baru sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap teknik-teknik permainan konvensional, terkadang muncul keinginan untuk keluar dari tradisi yang telah ada sebelumnya. Karya-karya tersebut sering digolongkan sebagai karya-karya seni kontemporer. Karya-karya ini masih mempergunakan instrumen tradisional, namun penggarapannya dan teknik permainan instrumennya dilakukan di luar norma-norma atau aturan-aturan tradisi yang telah di Karya-karya seperti ini sering muncul pada saat dilaksanakannya ujian tugas akhir ataupun kesenian dalam rangka tertentu. Karya-karya baru ini misalnya dengan mengubah alat pemukul instrumen yang biasanya menggunakan alat pemukul tertentu, dimainkan dengan tangan kosong tanpa alat. Teknik permainannya pun kadang-kadang sudah tidak sesuai lagi dengan kaedah-kaedah yang semestinya dilakukan pada karawitan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 2. Sebuah Presentasi Karya dalam Ujian Tugas Akhir 2004 di ISI Denpasar Sumber: Dokumen ISI Denpasar. Gambar 2 di atas memperlihatkan seorang pemain gamelan memainkan gamelan tidak seperti biasanya. Biasanya gamelan dimainkan dengan cara dipukul dengan menggunakan alat pemukul tertentu, tetapi dalam hal ini dimainkan dengan tanganya sendiri tanpa menggunakan alat pemukul semestinya. Penempatan instrumen gamelan juga tidak seperti biasanya. Biasanya gamelan diletakkan dengan posisi horizontal dengan memakai tumpuan dan diikat dengan tali sedemikian rupa untuk menghasilkan suara yang Tetapi pada gambar 2 di atas dipasang dengan jalan digantung sedemikian rupa sesuai dengan konsep yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan uraian tersebut, ada persamaan antara pastiche dengan parodi. Piliang . menyatakan bahwa keduanya sangat tergantung pada teks, karya, atau gaya masa lalu sebagai rujukan atau titik Sedangkan perbedaannya adalah, bahwa kalau pastiche menjadikan teks, karya, atau gaya masa lalu sebagai titik berangkat dari duplikasi, revivalisme, atau konstruksi sebagai ungkapan dari simpati, penghargaan, atau apresiasi. Sedangkan parodi sebaliknya, yaitu menjadikannya sebagai titik berangkat dari kritik, sindiran, kecaman sebagai ungkapan dari ketidakpuasan atau sekedar ungkapan rasa humor. Dengan demikian tidak berlebihan rasanya bahwa karya yang ditampilkan pada gambar 2 di atas dari penampilannya terkesan humor/lucu dan bersifat menghibur. Kitsch Istilah kitsch berakar dari bahasa Jerman verkitschen . enjadi mura. dan kitschen yang secara literal memungut sampah dari jalan. Oleh sebab itu, istilah kitsch sering ditafsirkan sebagai sampah artistik atau selera rendah. Definisi kitsch dari Baudrilard, sebagaimana halnya dengan definisi Eco, menyiratkan miskinnya orisinalitas, keotentikan, kreativitas, dan kriteria estetik dari kitsch. (Piliang, 2. menyatakan disebabkan oleh kelemahan internal ini, eksistensi kitsch sangat tergantung pada keberadaan objek, konsep, atau kriteria yang bersifat eksternal, seperti seni tinggi, objek sehari-hari, mitos, agama, tokoh, dan sebagainya. Seni Pertunjukan AukitschAy memiliki bentuknya yang sederhana. Hampir semua idiom-idiom atau elemen-elemen yang membentuk pertunjukan itu sangat sederhana, dari media yang dipergunakan, teknik penggarapannya, serta tata penyajiannya. Sederhananya media ungkap, teknik dan tata penyajiannya terkadang memunculkan kesan sebagai karya seni murahan. Oleh sebab itu sebagaimana halnya parodi, kitsch adalah sebuah bentuk representasi palsu. Kitsch memperalat stylemes untuk kepentingannya sendiri. Produkasi seni kitsch lebih didasarkan atas semangat reproduksi, adaptasi, dan simulasi. Produksi kitsch lebih didasarkan pada semangat memassakan seni tinggi, membawa seni tinggi dari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menara gading elit ke hadapan massa melalui produksi masal melalui demitoisasi nilainilai seni tinggi. Kitsch mengadaptasi satu medium kemedium lain atau satu tipe seni ke tipe lainnya. Oleh sebab itulah Eco mencap kitsch sebagai bentuk seni penyimpangan dari medium yang sebenarnya. Gambar 3. Komposisi AuSampahAy Karya I G. Suardika pada tahun 2005. Sumber: Dokumen ISI Denpasar. Sebagaimana yang tampak dalam gambar 3. Karya seni komposisi yang berjudul Sampah ini, berangkat dari ide kehidupan para pemulung sampah. Sesuai dengan tema yang di usung, penggarapnya berusaha untuk memvisualisasikan dan mentransformasikan kehidupan para pemulung ke dalam sebuah bentuk karya seni musik. Untuk mendukung karyanya ini penggarap berusaha menampilkan nuansa musikal dari peralatan yang biasa di bawa oleh para pemulung. Demikian juga untuk menunjang pertunjukkan ini penggarapnya sengaja menghambur-hamburkan sampah di stage. Bentuk karya seni seperti ini mangacu pada konsep Art By Metamorphosis. Camp Karya seni AuCampAy merupakan karya seni musik yang masih tetap berpedoman pada unsur-unsur estetika tradisi yang dikolaborasi dengan unsur-unsur modern, baik itu benda seni maupun benda pakai. Seperti yang terlihat dalam gambar 4 di bawah ini. Musikalitasnya muncul dari sebuah instrumen Gong yang dipukul dengan palu yang bukan merupakan alat pemukulnya serta digerinda sehingga muncul efek suara yang sangat membisingkan dan secara visual sangat eksotik dengan munculnya bunga api. Bentuk-bentuk karya seni seperti ini adalah merupakan salah satu jawaban atas kebosanan terhadap nuansa-nuansa tradisi yang selalu ada disekitarnya. Gambar 4. AuGerauschAy Karya Sang Nyoman Arsawijaya Tahun 2004 Sumber: Dokumen ISI Denpasar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Camp sebagaimana halnya kitsch, merupakan suatu jawaban terhadap kebosanan. Cam memberikan jalan keluar yang bersifat ilusif dari kedangkalan, keksongan, dan kemiskinan makna dalam kehidupan modern, dan ia mengisi kekosongan ini dengan pengalaman melakukan peran dan sensasi lewat ketidaknormalan dan ketidak orisinilan. Seperti diungkapkan Piliang . camp adalah sebuah teriakan lantang menentang kebosanan tersebut, dan sekaligus merupakan satu reaksi terhadap kengkuhan kebudayaan tinggi, yang telah memisahkan seni dari makna-makna sosial dan fungsi komunikasi sosial. Demikian pula halnya dengan karya musik AuGerauschAy Karya Sang Nyoman Arsawijaya tahun 2004, merupakan ekpresi kebosanan terhadap kemapanan. Sang Nyoman mencoba mendobrak lewat eksperimennya dengan melepaskan atribut lama seperti penggunaan panggul . lat pemukul gamela. , digantikan dengan gerinda untuk menimbulkan efek dan suara baru dalam komposisinya. Seperti apa yang didefinisikan camp bahwa sebagai bentuk seni, camp menekankan dekorasi, tekstur, permukaan sensual, dan gaya, dengan mengorbankan isi. Camp anti sifat alamiah. Objek-objek alam, manusia, dan binatang kerap digunakan, namun secara ekstrim dideformasikan dibuat sesuai dengan kebutuhan tanpa memikirkan makna yang kemudian ditimbulkan. Skizofrenia Pada awalnya istilah skizofrenia digunakan untuk menggambarkan fenomena psikoanalitik yang digunakan untuk menggambarkan fenomena psikis pada manusia yang berasal dari psikoanalisis Freud. Istilah tersebut sebagai sebutan suatu penyakit yang ditandai dengan terfragmentasinya identitas kepribadian yaitu adanya ketidaksesuaian antara intelektual dan fungsi afektif (Hasanah, 2. Di dalam kebudayaan dan seni, istilah skizofrenia digunakan hanya sebagai satu metafora, untuk menggambarkan persimpangsiuran dalam penggunaan bahasa. Kekacauan pertandaan selain pada kalimat juga terdapat pada gambar, teks, atau obyek. Di dalam seni, karya skizofrenia dapat dilihat dari keterputusan dialog di antara elemen-elemen dalam karya yaitu tidak berkaitannya elemen-elemen tersebut satu sama lain, sehingga makna karya tersebut sulit untuk ditafsirkan (Piliang, 2. Dilihat dari segi bentuk, di dalam seni karya skizoprenia dapat dilihat dari keterputusan dialog diantara elemen-elemen dalam karya, yaitu, tidak berkaitannya elemen-elemen tersebut satu sama lain, seperti contoh dalam gambar 5. Dengan demikian bentuk pertunjukan idiom ini mencerminkan estetika ambiguitas, dan eklektik rumit, sehingga bentuknya tidak jelas. Sebagaimana tampak dalam gambar 5, terdapatnya berbagai ikon dalam karya tersebut seperti stager bangunan, tangga, alat pertukangan, gong, dan lainnya yang belum menunjukkan adanya perpaduan yang harmonis dimana tidak adanya kaitan antara instrumen-instrumen yang dipergunakan serta properti pendukung lainnya. Karya ini berusaha menampilkan suasana kegiatan pertukangan dengan memanfaatkan berbagai alat pertukangan, gamelan, dan alat elektronik yang dikemas sedemikian rupa untuk menghasilkan musik garapan baru. Bunyi menerawang menembus imajinasi, suara gemuruh, bising, dan bunyi perkakas dari proyek bangunan terdengar jelas. Hal tersebut menjadi fantasi dalam mentafsirkan bunyi menjadi suatu karya. Dengan formulasi gamelan elektronik, diharapkan dapat merealisasikan imajinasi tiruan bunyi atau disebut dengan Onomatope. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 5. Sebuah Karya Karawitan Berjudul Onomatope Karya Nyoman Astadi Jaya Pramana Tahun 2023. Tampak dalam gambar 5 di atas tidak adanya keterkaitan antara satu elemen dengan elemen yang lainnya, dan tidak adanya hubungan antar elemen yang akan menghasilkan makna yang tidak tentu dan ambigu. Dalam bahasa skizofrenia postmodern, adalah Bahasa yang dihasilkan dari persimpangansiuran penanda, gaya, dan ungkapan dalam satu karya, yang menghasilkan makna-makna kontradiktif, ambigu, terpecah, dan samar-samar (Piliang, 2. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, perkembangan yang terjadi pada tataran makro sebagai akibat dari kelanjutan dari proses modernisasi telah menimbulkan suatu wacana baru yaitu postmodern. Perkembangan yang terjadi secara mengglobal sangat mempengaruhi tatanan masyarakat baik dilihat dari struktur pola berfikir dan nilai-nilai kearifan tradisional. Perubahan struktur masyarakat dari struktur tradisional menuju struktur masyarakat modern sejalan dan mempengaruhi pola pikir masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Perubahan tersebut turut mempengaruhi tatanan nilai yang telah ada sebelumnya. Sebagian besar masyarakat memandang bahwa nilai-nilai tradisional adalah nilai-nilai yang sudah usang dan harus ditinggalkan untuk memperoleh pengakuan sebagai masyarakat modern. Seniman dapat mencapai kesempurnaan sebagai manusia melalui seni dengan berbagai cara yang bersifat mendalam dan transformatif. Seni bukan hanya tentang penciptaan karya estetik, tetapi juga tentang perjalanan batin dan spiritual yang membawa seniman menuju pemahaman diri, pemaknaan hidup, dan pencerahan. Munculnya gaya-gaya individual dalam sebuah karya seni menghasilkan suatu bentuk estetika karya seni yang sarat dengan idiom-idiom estetika postmodern. Telah diuraikan sebelumnya bahwa ada beberapa bentuk idiom estetika postmodern yang diungkapkan dalam tulisan ini diantaranya: Pastiche. Parodi. Kitsch. Camp dan Skizofrenia. Semua idiom-idiom estetika tersebut memiliki sifat dan karakteristik tersendiri sesuai dengan fungsi dan manfaatnya dalam sebuah karya seni. Daftar Pustaka