JURNAL BHAKTI CIVITAS AKADEMIKA Volume Vi. Nomor 1. Tahun 2025 ISSN 2615-210X (Prin. dan ISSN . (Onlin. Available Online at http://e-journal. id/index. php/jbca TRANSFER IPTEK PEMANFAATAN OVITRAP UNTUK MENURUNKAN ANGKA KEPADATAN NYAMUK DI LINGKUNGAN RUMAH Yulianto. Program Studi Profesi Ners. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto. Email : yulisiip@gmail. Darsini. Program Studi Ilmu Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang. Email : darsiniwidyanto4@gmail. Korespondensi : darsiniwidyanto4@gmail. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema AuTransfer IPTEK Pemanfaatan Ovitrap untuk Menurunkan Angka Kepadatan Nyamuk di Lingkungan Rumah" dilaksanakan sebagai upaya edukatif dan preventif dalam menghadapi permasalahan kesehatan yang ditularkan oleh nyamuk, khususnya Aedes aegypti, sebagai vektor utama penyakit demam berdarah dengue (DBD). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai cara kerja, pembuatan, dan pemanfaatan ovitrap sebagai salah satu teknologi sederhana dan efektif dalam pengendalian nyamuk. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, penyuluhan interaktif, pelatihan pembuatan ovitrap, praktik pemasangan di rumah peserta, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu wilayah padat penduduk dengan kasus DBD yang cukup tinggi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan peserta mengenai konsep dasar ovitrap, cara kerja alat, serta manfaatnya dalam menekan populasi nyamuk. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta belum mengetahui fungsi ovitrap dan belum pernah menggunakannya. Namun setelah kegiatan, peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik dan bersedia mengimplementasikan penggunaan ovitrap secara rutin di lingkungan rumah masing-masing. Peningkatan ini juga didukung oleh praktik langsung dan diskusi kelompok yang mendorong partisipasi aktif. Kegiatan ini membuktikan bahwa transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan secara tepat sasaran dapat meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit berbasis vektor, khususnya melalui pemanfaatan teknologi sederhana seperti ovitrap Kata Kunci : Ovitrap. Angka Kepadatan Nyamuk. Lingkungan Halaman | 31 PENDAHULUAN Permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh nyamuk di Indonesia masih menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan nasional. Penyakit-penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, chikungunya, dan Zika yang ditularkan melalui gigitan nyamuk terus mengancam kesehatan masyarakat. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2023, terdapat lebih dari 100 ribu kasus DBD dengan angka kematian mencapai 700 jiwa. Malaria juga masih menjadi masalah besar di beberapa wilayah Indonesia timur, terutama di daerah dengan prevalensi tinggi seperti Papua (Jabal et al. , 2. Faktor-faktor seperti iklim tropis, curah hujan tinggi, dan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk berkontribusi pada tingginya angka kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Upaya pencegahan dan pengendalian, seperti program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan penggunaan teknologi modern seperti nyamuk ber-Wolbachia, telah diterapkan untuk mengurangi penyebaran penyakit ini. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kurangnya kesadaran masyarakat, dan perubahan perilaku nyamuk memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan nyamuk di Indonesia (Safitri et al. , 2. Hingga akhir tahun 2024. Indonesia menghadapi beban penyakit yang signifikan akibat infeksi yang ditularkan oleh nyamuk, terutama demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan chikungunya. Data dari Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kasus DBD mencapai hampir 250. 000 dengan 1. 418 kematian, tersebar di 488 kabupaten/kota di 36 Malaria juga tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat, dengan sekitar 000 kasus dilaporkan setiap tahun, meskipun 77% kabupaten/kota telah menerima sertifikat eliminasi malaria hingga Juni 2024. Sementara itu, kasus chikungunya menunjukkan peningkatan, dengan lonjakan 103,4% menjadi 6. 049 kasus pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya (Kemenkes RI, 2. Faktor-faktor seperti iklim tropis, curah hujan tinggi, dan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk berkontribusi pada tingginya angka kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Upaya pencegahan dan pengendalian, seperti program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan penggunaan teknologi modern seperti nyamuk ber-Wolbachia, telah diterapkan untuk mengurangi penyebaran penyakit ini. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kurangnya kesadaran masyarakat, dan perubahan perilaku nyamuk memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan nyamuk di Indonesia (Mahardika et , 2. Pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan chikungunya. Salah satu upaya utama adalah program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus, yang melibatkan kegiatan menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta tindakan tambahan seperti penggunaan kelambu dan insektisida. Program ini diperkuat dengan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J), yang mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam memantau dan memberantas jentik nyamuk di lingkungan masingmasing (Kemenko PMK, 2. Selain pendekatan konvensional, pemerintah juga mengadopsi inovasi teknologi, seperti pelepasan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia di lima kota, sebagai bagian dari Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021Ae2025. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue. Pemerintah juga menargetkan eliminasi malaria dan filariasis pada tahun 2030, serta skistosomiasis pada 2025, melalui pengendalian vektor di 1. 000 titik wilayah. Kebijakan-kebijakan ini menunjukkan Halaman | 32 komitmen pemerintah dalam menciptakan sistem kesehatan yang responsif dan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (Rajagukguk & Meilani, 2. Upaya masyarakat dalam mengadopsi kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengatasi permasalahan nyamuk menjadi kunci keberhasilan pengendalian penyakit yang ditularkan oleh vektor ini, seperti demam berdarah dengue, malaria, dan chikungunya. Masyarakat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan menerapkan prinsip 3M Plus seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta melakukan tindakan tambahan seperti menanam tanaman pengusir nyamuk dan menggunakan kelambu. Selain itu. Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) menjadi bentuk nyata partisipasi warga dalam memantau jentik nyamuk di lingkungan rumah secara berkala (Moerdijat, 2. beberapa daerah, masyarakat juga mulai mendukung dan ikut serta dalam pelaksanaan program inovatif pemerintah seperti pelepasan nyamuk ber-Wolbachia sebagai upaya pengendalian biologis yang ramah lingkungan. Kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan air, dan melaporkan kasus demam berdarah secara cepat telah menunjukkan peningkatan, berkat sosialisasi dan edukasi yang terus digencarkan oleh petugas kesehatan. Dengan adanya kolaborasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah, diharapkan upaya pengendalian nyamuk dapat berjalan efektif dan berkelanjutan, sehingga risiko penyebaran penyakit berbasis vektor dapat ditekan secara signifikan (Siddiq et al. , 2. Salah satu upaya berbasis masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengendalikan nyamuk di lingkungan adalah dengan pemanfaatan ovitrap. Pemanfaatan ovitrap merupakan salah satu metode efektif dan ramah lingkungan dalam upaya pengendalian populasi nyamuk, khususnya Aedes aegypti, di lingkungan masyarakat. Ovitrap adalah alat sederhana berupa wadah berisi air yang diberi bahan penarik agar nyamuk betina tertarik untuk bertelur di dalamnya. Setelah nyamuk bertelur, telur dan larva akan terperangkap di dalam ovitrap dan tidak dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa, sehingga membantu memutus siklus hidup nyamuk. Alat ini dapat diletakkan di berbagai sudut rumah atau area rawan genangan air, dan sangat bermanfaat untuk memantau serta menurunkan populasi nyamuk secara signifikan. Penggunaan ovitrap juga mendukung program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat untuk mengenali potensi perkembangbiakan nyamuk di sekitarnya. Dengan pemanfaatan yang tepat dan berkelanjutan, ovitrap menjadi salah satu solusi strategis dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah dengue dan chikungunya (Indrawati & Yulianto. PELAKSANAAN DAN METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang terstruktur dan partisipatif. Tahapan pertama adalah persiapan, yang meliputi koordinasi dengan perangkat desa/kelurahan, survei lokasi, dan identifikasi tingkat kepadatan nyamuk di lingkungan sasaran. Pada tahap ini juga dilakukan pengumpulan bahan dan alat untuk pembuatan ovitrap serta penyusunan modul edukasi yang akan Tahapan kedua adalah pelaksanaan transfer IPTEK, yang dimulai dengan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, siklus hidup nyamuk, dan pentingnya pengendalian vektor. Selanjutnya, dilakukan pelatihan langsung mengenai cara pembuatan dan penggunaan ovitrap, termasuk cara merawat, memantau, dan mencatat hasil pemantauan jentik secara berkala. Kegiatan pelatihan disampaikan secara interaktif menggunakan media audio-visual dan Halaman | 33 praktik lapangan agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Tahapan ketiga adalah implementasi ovitrap di rumah warga dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pemasangan ovitrap di titik-titik strategis. Masyarakat diminta untuk melakukan pencatatan jumlah telur/jentik yang terperangkap selama dua minggu berturut-turut. Tahapan keempat adalah evaluasi dan monitoring, yang bertujuan untuk melihat efektivitas penggunaan ovitrap dalam menurunkan kepadatan nyamuk. Evaluasi dilakukan melalui kunjungan rumah, wawancara, serta pengumpulan data jumlah jentik sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif, agar masyarakat tidak hanya menjadi sasaran, tetapi juga pelaku utama dalam upaya pengendalian nyamuk di lingkungan tempat tinggal HASIL KEGIATAN Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto, didapatkan hasil sebagai berikut : Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan jenis Tabel 1. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat jenis kelamin di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto Keterangan Jumlah Prosentase (%) 1 Laki-laki 2 Perempuan Jumlah Sumber : Data pengabdian kepada masyarakat, 2024 Dari tabel diatas didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah perempuan yaitu sebanyak 18 peserta . ,8%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan usia Tabel 2. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan usia di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto Keterangan Jumlah Prosentase (%) 1 21-30 tahun 2 31-40 tahun 3 >40 tahun Jumlah Sumber : Data pengabdian kepada masyarakat, 2024 Dari tabel diatas didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berusia 21-30 tahun yaitu sebanyak 12 peserta . ,5%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan aktivitas Tabel 3. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan aktivitas pekerjaan di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto Keterangan Jumlah Prosentase (%) 1 Bekerja 2 Tidak bekerja / IRT Halaman | 34 Jumlah Sumber : Data pengabdian kepada masyarakat, 2024 Dari tabel diatas didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak bekerja / IRT yaitu sebanyak 14 peserta . ,65%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan latar belakang pendidikan Tabel 4. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan latar belakang pendidikan di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto Keterangan Jumlah Prosentase (%) 1 Lulus SMA 2 Diploma 3 Sarjana Jumlah Sumber : Data pengabdian kepada masyarakat, 2024 Berdasarkan tabel diatas didapatkan separuh peserta kegiatan memiliki latar belakang pendidikan lulus SMA yaitu sebanyak 11 peserta . ,0%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pengetahuan tentang ovitrap sebelum dilakukan kegiatan pengabmas Tabel 5. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pengetahuan tentang ovitrap sebelum dilakukan kegiatan pengabmas di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto Keterangan Jumlah Prosentase (%) 1 Pengetahuan baik 2 Pengetahuan cukup 3 Pengetahuan kurang Jumlah Sumber : Data pengabdian kepada masyarakat, 2024 Berdasarkan tabel diatas didapatkan hampir separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan kurang tentang ovitrap yaitu sebanyak 10 peserta . ,5%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pengetahuan tentang ovitrap setelah dilakukan kegiatan pengabmas Tabel 5. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pengetahuan tentang ovitrap sebelum dilakukan kegiatan pengabmas di lingkungan Perumahan Bumi Jabon Estate. Kecamatan Mojoanyar. Kabupaten Mojokerto Keterangan Jumlah Prosentase (%) 1 Pengetahuan baik 2 Pengetahuan cukup 3 Pengetahuan kurang Jumlah Sumber : Data pengabdian kepada masyarakat, 2024 Berdasarkan tabel diatas didapatkan separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan cukup tentang ovitrap yaitu sebanyak 11 peserta . ,0%) Halaman | 35 PEMBAHASAN Pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang ovitrap sebelum dilakukan kegiatan pengabmas Berdasarkan pengumpulan data awal didapatkan hampir separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan kurang tentang ovitrap yaitu sebanyak 10 peserta . ,5%) Pengetahuan adalah hasil dari proses memahami, mengingat, dan mengolah informasi yang diperoleh melalui pengalaman, pembelajaran, atau penelitian. Pengetahuan mencakup segala bentuk informasi, fakta, konsep, dan keterampilan yang diserap oleh individu melalui berbagai sumber, baik secara formal maupun informal. Dalam konteks keilmuan, pengetahuan sering kali bersifat sistematis dan dapat diuji kebenarannya melalui metode ilmiah. Pengetahuan juga berperan penting dalam membentuk cara berpikir, sikap, serta pengambilan keputusan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengetahuan menjadi fondasi utama dalam perkembangan intelektual dan sosial individu maupun masyarakat secara luas (Lactona & Cahyono, 2. Pengetahuan yang kurang dimiliki oleh peserta pengabdian kepada masyarakat tentang ovitrap dan pemanfaatannya menjadi salah satu kendala utama dalam upaya pengendalian nyamuk di lingkungan tempat tinggal. Sebagian besar peserta belum memahami apa itu ovitrap, bagaimana cara kerjanya, serta manfaatnya dalam menurunkan populasi nyamuk, khususnya Aedes aegypti penyebab demam berdarah. Ketidaktahuan ini juga mencakup cara pembuatan, penempatan, dan pemantauan ovitrap secara efektif. Akibatnya, masyarakat masih mengandalkan metode konvensional yang kurang efektif dan tidak berkelanjutan, seperti penyemprotan insektisida tanpa tindakan preventif. Kondisi ini menunjukkan perlunya kegiatan edukasi dan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara berkesinambungan agar masyarakat dapat memahami dan mengadopsi teknologi sederhana seperti ovitrap sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan peningkatan pengetahuan, diharapkan masyarakat mampu berpartisipasi aktif dalam pengendalian nyamuk dan pencegahan penyakit yang ditularkan olehnya. Rendahnya pengetahuan peserta pengabdian kepada masyarakat tentang ovitrap dan pemanfaatannya dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah keterbatasan akses informasi yang akurat dan mudah dipahami mengenai teknologi pengendalian nyamuk, seperti ovitrap. Banyak masyarakat belum mendapatkan sosialisasi atau edukasi yang memadai dari pihak terkait, baik dari tenaga kesehatan, pemerintah setempat, maupun media informasi. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan dan literasi kesehatan juga turut memengaruhi kemampuan masyarakat dalam menerima dan memahami informasi baru. Faktor budaya dan kebiasaan lama yang masih mengandalkan cara tradisional dalam mengusir nyamuk, seperti menggunakan obat nyamuk bakar atau semprotan, turut menjadi penghalang dalam penerimaan teknologi baru. Kurangnya keterlibatan aktif masyarakat dalam programprogram kesehatan lingkungan sebelumnya juga menjadikan ovitrap sebagai hal yang asing dan belum dianggap penting. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komunikatif dan partisipatif agar masyarakat dapat menerima dan menerapkan teknologi ovitrap secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang ovitrap setelah dilakukan kegiatan pengabmas Berdasarkan pengumpulan data akhir didapatkan separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan cukup tentang ovitrap yaitu sebanyak 11 peserta . ,0%) Halaman | 36 Hasil ini secara tidak langsung menunjukkan bahwasanya dari dua kali pengumpulan data, didapatkan adanya peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkait ovitrap setelah diberikan informasi mengenai ovitrap melalui edukasi kesehatan. Edukasi kesehatan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan merupakan salah satu strategi efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Melalui penyuluhan, informasi yang berkaitan dengan pencegahan penyakit, pola hidup sehat, serta cara mengenali dan mengelola risiko kesehatan dapat disampaikan secara langsung dan komunikatif. Kegiatan ini memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi secara aktif dengan tenaga kesehatan, bertanya, berdiskusi, dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang isuisu kesehatan yang relevan dengan kondisi lingkungan mereka. Selain itu, penyuluhan juga berperan sebagai media untuk membangun perubahan perilaku positif yang berkelanjutan, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan pola makan sehat, serta melakukan deteksi dini terhadap gejala penyakit. Dengan penyampaian materi yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya setempat, edukasi kesehatan melalui penyuluhan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompok yang sebelumnya kurang terpapar informasi kesehatan. Oleh karena itu, penyuluhan menjadi bagian penting dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan masyarakat (Haidah, 2. Mekanisme peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pemberian edukasi kesehatan dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan dengan pendekatan yang mudah dipahami dan relevan dengan kondisi lokal. Proses ini diawali dengan identifikasi kebutuhan informasi kesehatan di masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan materi edukasi yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan, bahasa, dan budaya setempat. Materi disampaikan melalui berbagai metode, seperti ceramah, diskusi interaktif, simulasi, media visual, dan praktik langsung agar pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan diingat. Selain itu, pemberian pre-test dan posttest sering digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman sebelum dan sesudah Keterlibatan aktif masyarakat dalam proses edukasi juga menjadi kunci penting, karena dapat membangun rasa memiliki dan meningkatkan motivasi untuk mengubah perilaku. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas kegiatan edukasi serta merancang intervensi lanjutan jika diperlukan. Dengan mekanisme yang tepat, edukasi kesehatan dapat secara signifikan meningkatkan pengetahuan masyarakat, mendorong perubahan sikap, dan membentuk perilaku hidup sehat yang berkelanjutan. Edukasi kesehatan kepada masyarakat terkait pemanfaatan ovitrap sangat penting dalam upaya pengendalian kepadatan nyamuk yang menjadi vektor utama penyebaran penyakit seperti demam berdarah dengue, chikungunya, dan zika. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui fungsi dan cara kerja ovitrap sebagai alat sederhana namun efektif untuk memutus siklus hidup nyamuk, khususnya Aedes Melalui edukasi, masyarakat dapat memahami bahwa ovitrap bekerja dengan menarik nyamuk betina untuk bertelur di tempat yang telah disiapkan, sehingga telur dan larva dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi nyamuk dewasa. Penyuluhan dan pelatihan tentang pembuatan serta pemasangan ovitrap juga mendorong kemandirian warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan meminimalkan genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk. Dengan pengetahuan yang memadai, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif sebagai pelaku pengendalian vektor di lingkungannya masingmasing. Edukasi ini menjadi langkah preventif yang efektif, murah, dan berkelanjutan Halaman | 37 untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman dari ancaman penyakit berbasis vektor. KESIMPULAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema "Transfer IPTEK Pemanfaatan Ovitrap untuk Menurunkan Angka Kepadatan Nyamuk di Lingkungan Rumah" telah berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan melalui pre-test dan post-test, terdapat peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta mengenai konsep, manfaat, serta cara pembuatan dan penggunaan ovitrap sebagai alat pengendali populasi nyamuk, khususnya Aedes aegypti. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta belum memahami fungsi ovitrap dan belum pernah menggunakannya secara mandiri di lingkungan rumah. Namun setelah menerima edukasi dan mengikuti pelatihan praktik, peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik dan antusiasme tinggi untuk mengimplementasikan ovitrap dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga berhasil menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran aktif dalam pencegahan penyakit berbasis vektor, melalui pendekatan teknologi sederhana yang mudah diterapkan. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini dapat disimpulkan telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan serta mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju lingkungan yang lebih sehat dan bebas nyamuk SARAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema "Transfer IPTEK Pemanfaatan Ovitrap untuk Menurunkan Angka Kepadatan Nyamuk di Lingkungan Rumah", disarankan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkelanjutan dan mencakup wilayah yang lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat. Perlu adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah setempat, dan tokoh masyarakat untuk memastikan keberlanjutan penggunaan ovitrap sebagai upaya mandiri dalam pengendalian vektor nyamuk. Selain itu, penting untuk mengintegrasikan program edukasi ini ke dalam kegiatan posyandu. PKK, atau forum warga agar penyebaran informasi dan keterampilan dapat dilakukan secara rutin dan sistematis. Monitoring dan evaluasi berkala juga direkomendasikan untuk menilai efektivitas penggunaan ovitrap serta memberikan umpan balik terhadap praktik yang sudah berjalan. Diharapkan dengan peningkatan pengetahuan dan keterlibatan aktif masyarakat, pengendalian nyamuk dapat dilakukan secara preventif dan berkelanjutan demi menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas penyakit berbasis vektor. DAFTAR PUSTAKA