Jurnal Pengabdian West Science Vol. No. Juni, 2025, pp. Peningkatan Nilai Tambah Produk Dupa Melalui Pelatihan Pengemasan Endi Sarwoko1*. Iva Nurdiana Nurfarida2 Universitas Ciputra Surabaya, 2 Universitas PGRI Kanjuruhan Malang *Corresponding author E-mail: endi. sarwoko@ciputra. Article History: Received: Jun, 2025 Revised: Jun, 2025 Accepted: Jun, 2025 Abstract: Masalah yang dihadapi oleh usaha kecil pembuat dupa Dewa Harum Sari di Desa Petungsewu. Kecamatan Wagir. Kabupaten Malang, adalah bahwa kinerja penjualannya tidak mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Masalah ini terjadi karena Dewa Harum Sari hanya memproduksi dupa setengah jadi, dan produksinya sepenuhnya bergantung pada pesanan dari distributor. Tujuan dari kegiatan pelayanan masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pendapatan dengan memberikan pelatihan tentang cara mengemas dupa dan memproduksi produk siap jual. Diharapkan solusi ini dapat meningkatkan pendapatan karena produk jadi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan lebih menguntungkan dibandingkan dupa setengah jadi. Diversifikasi produk melalui penjualan produk dupa beraroma, industri rumahan Dewa Harum Sari dapat menarik basis pelanggan yang lebih luas dan meningkatkan daya tarik mereknya. Metode layanan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis komunitas yang melibatkan pemilik usaha secara aktif dalam proses mulai dari identifikasi masalah hingga penemuan solusi. Pemilik usaha juga terlibat dalam kegiatan yang dilakukan, seperti pelatihan dan bantuan dalam pengemasan produk, yang meliputi desain label, desain kemasan, dan variasi isi Sebagai hasil dari pelatihan dan bantuan ini. Dewa Harum Sari kini dapat menjual dupa dengan merek DHS sambil tetap menjual produk utamanya, dupa setengah jadi. Upaya pemasaran awal untuk produk dupa wangi ini saat ini difokuskan pada wilayah Kabupaten Malang. Strategi diversifikasi produk yang diterapkan dalam kegiatan pelayanan masyarakat berhasil memberikan solusi berupa peningkatan penjualan dan pendapatan. Keywords: Layanan Masyarakat. Pelatihan. Produk. Dupa. Diversifikasi. Pendahuluan Pemerintah Indonesia menunjukkan perhatian yang serius terhadap pengembangan usaha mikro dan kecil (UMK), sebagaimana tercermin dalam berbagai https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpws Vol. No. Juni, 2025, pp. kebijakan yang dikeluarkan guna mendukung pertumbuhannya. Langkah ini sangat beralasan, mengingat UMK telah terbukti berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja dan peningkatan produk domestik bruto (PDB) (Surya et al. , 2. UMK memainkan peran vital dalam menciptakan lapangan kerja yang luas, khususnya di sektor informal dan pedesaan, serta menjadi penyangga ekonomi nasional dalam situasi Oleh karena itu, dukungan pemerintah melalui regulasi, pembiayaan, pelatihan, dan digitalisasi menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing UMK secara berkelanjutan. UMK tidak hanya hadir sebagai penggerak ekonomi rakyat, tetapi juga sebagai penopang ketahanan ekonomi nasional. Karakteristik UMK yang fleksibel, adaptif, dan berbasis komunitas lokal membuatnya mampu bertahan dalam berbagai kondisi. Selain itu. UMK berperan dalam pemerataan pembangunan ekonomi (Surya et al. , karena menjangkau wilayah-wilayah yang belum tersentuh industri besar. Pemerintah telah menerapkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat sektor UMK, antara lain: kemudahan mengurus legalitas usaha, memberikan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat, fasilitasi terhadap digitalisasi usaha, dan tidak kalah penting mendorong perguruan tinggi untuk terlibat dalam memberikan program edukasi dan pelatihan seperti pelatihan manajemen, keuangan, maupun sertifikasi produk melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Desa Petungsewu Kecamatan Wagir berada di wilayah Kabupaten Malang Jawa Timur dimana masyarakatnya banyak yang menekuni home industry dupa. Dewa Harum Sari merupakan salah satu home industry yang sudah beroperasi lebih dari lima belas tahun. Produksi utamanya adalah bahan baku dupa wangi atau dikenal dengan dupa mentah. Produksinya berdasarkan pesanan pengepul dari pulau Bali untuk selanjutnya diproses . emberian pewangi, pengemasa. selanjutnya di jual menjadi dupa wangi, dan ternyata selisih antara harga jual dupa mentah dengan dupa wangi cukup besar mencapai 50%, padahal apabila Dewa Harum Sari bisa mengembangkan produk jadi . upa wang. , akan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dibanding hanya menjual produk dupa setengah jadi. Omset produksi masih tergantung pada pesanan dari pengepul, serta nilai ekonomis produk masih rendah merupakan masalah yang berhasil diidentifikasi yaitu pertumbuhan penjualan yang tidak mengalami pertumbuhan dari tahun ke Oleh karena itu perlu diidentifikasi alternatif solusi terhadap permasalahan yang ada, dan berdasarkan hasil diskusi dengan pemilik Dewa Harum Sari maka dipilih solusi berupa pembuatan produk dupa wangi, dengan cara menghasilkan Vol. No. Juni, 2025, pp. produk dupa wangi siap jual. Pengabdian kemampuan Dewa Harum Sari untuk membuat produk dupa wangi, melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan. Melalui kegiatan ini diharapkan bisa memberikan solusi dan manfaat berupa peningkatan nilai tambah dan pendapatan Metode Metode kegiatan yang dipilih dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah community-based participatory (CBP). Ciri dari metode CBP adalah melibatkan pemilik usaha untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses mulai dari menemukan masalah dan menemukan solusi, serta pelaksanaan program sampai dengan mengevaluasi pelaksanaan program (Collins et al. , 2. Pelatihan diberikan kepada pemilik home industry Dewa Harum Sari, yang berlokasi di Desa Petungsewu Kecamatan Wagir berada di wilayah Kabupaten Malang. Adapun tahapan CBP dalam kegiatan pengabdian ini meliputi: identifikasi masalah dan akar masalah, alternatif solusi dan merumuskan program, pelaksanaan program, evaluasi hasil kegiatan. Fokus pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pelatihan dan pendampingan terkait pembuatan dupa wangi, pembuatan desain merek, dan pelatihan pengemasan. Pendampingan pembuatan dupa wangi. Proses pembuatan dupa wangi sebenarnya tidak terlalu sulit, dari bahan dasar dupa setengah jadi dilanjutkan dengan tahap pemberian aroma/pewangi. Tujuan kegiatan ini pada prinsipnya untuk meningkatkan nilai tambah produk, karena produk jadi memiliki nilai tambah lebih besar (Sarwoko et al. , 2. Pembuatan desain label . Home industry Dewa Harum Sari sudah memiliki ijin usaha, oleh karena itu berdasarkan diskusi dengan pemilik, maka label/merek yang akan dicetak di kemasan adalah singkatan dari nama home industry itu sendiri yaitu merek DHS, singkatan dari Dewa Harum Sari. Proses pembuatan label dilakukan pada percetakan, dengan ukuran sesuai dengan desain kemasan. Label merek merupakan salah satu strategi rebranding bertujuan untuk promosi dan meningkatkan minat beli serta dapat menjangkau pasar lebih luas (Khaerullah et al. , 2. Vol. No. Juni, 2025, pp. Pelatihan dan praktik Pengemasan Produk Tahap akhir dari kegiatan pengabdian ini adalah pelatihan dan praktik pengemasan dupa wangi. Hasil dari aktivitas pertama yaitu pemberian pewangi, dan aktivitas kedua desain label merek, tahap berikutnya adalah proses pengemasan Tujuan pelatihan dan praktik pengemasan produk ini agar home industry melakukan pengembangan produk berupa produk dupa wangi siap jual. Susana et . menyatakan bahwa pelatihan pengemasan akan memberikan pengetahuan baru bagi pelaku usaha kecil, khususnya menjaga kualitas produk. Selain itu pengemasan produk merupakan salah satu bentuk inovasi dan branding terhadap suatu produk (I. Wijayanti et al. , 2. Alat dan bahan pembuatan dupa wangi terdiri dari: Cairan pewangi Dupa mentah Alat semprot dan wadah untuk celup. Kertas Label Bungkus/kemasan plastik Hasil Pendampingan pembuatan dupa wangi Sebagaimana telah diketahui bahwa Dewa Harum Sari selama ini hanya memproduksi dupa setengah jadi atau disebut dupa mentah. Untuk membuat produk jadi berupa dupa wangi, maka langkah pertama adalah aktivitas pembuatan dupa Proses pemberian aroma pada dupa, terdiri dari tiga teknik yaitu teknik celup, semprot, dan kombinasi . elup dan sempro. Teknik celup Pada teknik ini bahan dupa mentah dicelupkan ke cairan pewangi kurang lebih 5 menit, lalu dikeringkan. Kelebihan pemberian aroma pada teknik ini aroma yang dihasilkan pada saat dupa dibakar sangat kuat dan awet, sedangkan kelemahannya biaya produksi lebih mahal karena dibutuhkan cairan pewangi lebih banyak untuk setiap kilogram dupa Teknik ini cocok untuk dupa yang memiliki aroma soft. Teknik semprot Beda dengan teknik celup, pada teknik ini dupa mentah disemprot secara merata ke seluruh bagian dupa. Kelebihan tipe semprot, biaya produksi lebih murah dan proses pengeringannya lebih cepat. Adapun Vol. No. Juni, 2025, pp. kelemahannya aroma yang dihasilkan tidak begitu kuat saat dupa dibakar. Teknik ini cocok untuk dupa yang memiliki aroma kuat. Teknik Kombinasi Teknik ini merupakan penggabungan teknik celup dan teknik semprot. Pencelupan hanya dilakukan pada ujung dupa saja . eperempat dup. , sedangkan bagian lainnya dilakukan penyemprotan. Gambar 1. Teknik Pemberian Aroma Dupa . iri teknik semprot, kanan teknik celu. Berbagai aroma dupa wangi yang beredar di pasaran cukup banyak seperti aroma cendana, melati, mawar, pudak wangi, gaharu. Untuk kegiatan ini dipilih dua jenis aroma yang paling laku di pasaran yaitu aroma cendana dan pudak wangi. Pembuatan Desain Label . Pengabdi mencoba membantu membuatkan desain label merek yaitu DHS. Dari beberapa alternatif desain yang dibuat, pemilik memilih satu desain. Untuk kebutuhan kegiatan pengabdian ini desain dicetak menggunakan teknologi printing. Desain label . disajikan pada gambar 2. Pada dasarnya label kemasan akan menjadi ciri khas produk, dan menjadi daya tarik atau minat konsumen untuk melakukan pembelian (Istianah, 2. Selain itu desain kemasan akan menciptakan citra merek tertentu yang berbeda dari merek lain (Sinaga & Sawitri, 2. Oleh karena itu desain label yang dipilih didasarkan pada nama home industry Dewa Harum Sari yang disingkat menjadi DHS. Pelatihan dan praktik Pengemasan Produk Pelatihan dan praktik pengemasan produk merupakan tahap akhir dari kegiatan pengabdian ini. Dupa yang sudah diberi pewangi kemudian dimasukkan ke dalam kemasan dan diberi label merek. Terdapat 3 jenis kemasan yang dipilih, yaitu Vol. No. Juni, 2025, pp. kemasan eceran per bungkus isi 10 batang dupa wangi, kemasan 250 gr, dan paling besar kemasan ukuran 500 gr. Kemasan dibuat menarik dengan pertimbangan, desain kemasan akan menjadi daya tarik bagi konsumen dan pemicu penjualan produk (Agustina et al. , 2021. Badri et al. , 2. Gambar 2. Pelatihan Pengemasan Gambar 3. Hasil Pengemasan Produk . gr, eceran 10 biji, dan 500 g. Diskusi