Jurnal Farmasi SYIFA Volume 2. Nomor 2. Halaman 42-50. Agustus 2024 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS UJI AKTIVITAS GEL EKSTRAK ETANOL DAUN TEH TEHAN (Acalypha siamensi. TERHADAP LUKA SAYAT PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculu. Activity Test of Ethanol Extract Gel from Tea Leaves (Acalypha siamensi. on Cut Wounds in Male White Mice (Mus musculu. Nitya Nurul Fadilah1*. Siti Khoirul Fadhilah1. Ali Nofriyaldi1 Program Studi Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Perjuangan Tasikmalaya *Corresponding author: nityanurul@gmail. Info Artikel Diterima: 12 Agustus 2024 Direvisi: 20 Agustus 2024 Dipublikasikan: 21 Agustus 2024 ABSTRAK Tanaman Teh tehan (Acalypha siamensi. mengandung senyawa flavonoid yang mampu membantu proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penyembuhan luka sayat ekstrak etanol daun teh tehan dalam pemberian sediaan gel terhadap mencit putih jantan. Sampel terdiri dari 25 ekor mencit . , yang meliputi: kontrol negatif . asis ge. , kelompok kontrol positif . kstrak placetan 10% dan neomisin sulfat 0,5%), kelompok FI . %), kelompok FII . %), dan kelompok Fi . %). Data yang didapatkan berupa nilai penyembuhan panjang luka sayat pada punggung Data hasil rata-rata penyembuhan luka sayat pada kontrol positif 6,8 hari, hasil kontrol negatif 12,8 hari. FI . %) adalah 11 hari. FII . %) 10 hari, dan Fi . %) 7,2 Berdasarkan lama penyembuhan luka, gel ekstrak etanol daun teh tehan pada kelompok Fi lebih baik dalam mempercepat proses penyembuhan luka sayat dibandingkan FI dan FII. Hasil analisis statistik dengan One way ANOVA (Analysis Of Varianc. dikatakan signifikan (A<0,. Kata kunci: Daun teh tehan, luka sayat, mencit, gel, aktivitas ABSTRACT This is an open access article under the CC BY-NC 0 license. Teh Tehan tea plant (Acalypha siamensi. contains flavonoids, alkaloids, tannins, saponins and steroids which can help the wound healing process. This study aims to determine the healing activity of cut wounds from the ethanol extract of Tehan tea leaves when administering gel preparations to male white mice. The extract was obtained by maceration using 96% ethanol solvent. The sample consisted of 25 mice . , which included: Negative control group . el bas. , positive control group . % placenta extract and 0. neomycin sulfat. FI group 5% extract concentration. FII group 10% concentration %, and group Fi concentration 20%. The data obtained were in the form of healing values for the length of cuts on the backs of mice. Data on the average results of wound healing in the positive control were 6,8 days, negative control results were 12,8 days. F1 . %) was 11 days. F2 . %) was 10 days, and F3 . %) was 7,2 days. Based on the length of wound healing, the ethanol extract gel of Tehan tea leaves in the F3 group was better at accelerating the healing process of cut wounds than the F1 and F2 groups. The results of statistical analysis using One way ANOVA (Analysis of Varianc. are said to be significant (A<0. Keywords: Teh tehan leaves, cuts, mice, gel, activity test PENDAHULUAN Luka sering dialami setiap manusia dan ketika jaringan tubuh mengalami kerusakan maka terdapat beberapa efek yang ditimbulkan seperti peradangan dan pembekuan darah, hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, kontaminasi bakteri, respon stress simpatis, serta kematian sel. Oleh karena itu, penyembuhan luka sangat penting untuk mencegah infeksi atau efek lainnya yang dapat membuat luka menjadi sulit untuk diobati (Galomat et al. , 2. Luka sayat adalah luka yang terjadi karena teriris oleh benda yang tajam. Ciri-cirinya adalah luka terbuka, nyeri, panjang luka lebih besar daripada dalamnya luka. Prinsip penanganan luka sayat adalah dengan menghentikan Jurnal Farmasi SYIFA pendarahan mencegah infeksi karena kulit yang mikroorganisme serta memberi kesempatan sisasisa epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka (Nikola et al. , 2. Salah satu penanganan pada penderita luka sayat yaitu bisa dengan mempercepat penyembuhan menggunakan sediaan topikal. Bentuk sediaan topikal yang dapat dengan mudah digunakan untuk pengobatan pada luka salah satunya adalah sediaan gel. Akan tetapi pengobatan luka sediaan gel dengan kandungan zat aktif yang berasal dari zat kimia sintetik yang beredar di pasaran seringkali memberikan efek samping iritasi pada kulit, gatal, bengkak jika digunakan dalam jangka waktu yang lama (Rika Alvita et al. , 2. Untuk meminimalisir efek toksik yang ditimbulkan dari obat sintetik, tanaman herbal bisa digunakan sebagai bahan alternatif untuk Termasuk daun teh tehan (Acalypha siamensi. yang dapat digunakan untuk membantu percepatan proses penyembuhan luka. Kandungan bioaktif pada daun teh tehan (Acalypha siamensi. seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid dan steroid memiliki potensial bioaktivitas sebagai antibakteri (Syari & Aprilla, 2. Pada penelitian yang dilakukan (Syari & Aprilla, 2. , mengenai aktivitas antibakteri ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. Staphylococcus menunjukkan bahwa ekstrak daun teh tehan (Acalypha antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu dengan kategori kuat yang memiliki zona hambat 12,1 mm, dimana dikategorikan kuat pada rentang 10-20 mm dan pada penelitian (Hidayat, 2. mengenai aktivitas antioksidan ekstrak dan fraksi daun teh tehan (Acalypha siamensi. menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun teh tehan (Acalypha siamensi. memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai Inhibitory Concentration 50% (ICCICA) sebesar 41,345 ppm. Antioksidan penting untuk penyembuhan luka dan membantu dengan penciptaan kolagen di kulit METODE Alat Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas . , rotary evaporator (I see. , stemper, mortir, sudip, timbangan analitik (Boec. , pinset, ayakan mesh 40, cawan porselen, blender . , pisau bedah, kapas, gunting, penangas air, water bath (B-on. , pipet tetes, viskometer brookfield, wadah gel, scaptel steril. Bahan Simplisia daun teh tehan (Acalypha siamensi. yang diperoleh dari Desa Kujang. Kecamatan Cikoneng. Kabupaten Ciamis. Untuk bahan kimia yang digunakan yaitu, ekstrak placenta 10%, neomisin sulfat 0,5%, etanol 96 %. Na CMC, propilenglikol, gliserin, metil paraben. HCl Pekat. Fe . klorida 1%, gelatin 10%, serbuk Magnesium (M. , amoniak, kloroform, pereaksi Mayer, pereaksi Dragendorff, pereaksi Wagner, pereaksi Libermann Burchard. Prosedur Penelitian Determinasi Tanaman Penelitian ini menggunakan daun teh tehan (Acalypha siamensi. yang didapatkan dari Desa Kujang. Kecamatan Cikoneng. Kabupaten Ciamis. Determinasi tanaman daun teh tehan (Acalypha siamensi. dilakukan di laboratorium Taksonomi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Padjajaran, dengan cara menyerahkan sampel daun teh tehan (Acalypha siamensi. Kode Etik Kode etik dilakukan untuk memenuhi syarat kesesuaian dengan peraturan serta petunjuk pemeliharaan hewan uji, dilakukan di Universitas Bhakti Tunas Husada Tasikmalaya Pembuatan Simplisia Bahan uji yang digunakan adalah daun teh tehan (Acalypha siamensi. Daun teh tehan (Acalypha siamensi. yang digunakan yaitu daun yang segar, lalu dilakukan dilakukan sortasi basah untuk membersihkan kotoran yang menempel, kemudian pencucian menggunakan air yang Lalu daun teh tehan (Acalypha siamensi. dikeringkan, selanjutnya diblender sampai menjadi serbuk simplisia Uji Susut Pengeringan Uji susut pengeringan dilakukan dengan cara menimbang botol timbang kosong, kemudian botol timbang dipanaskan hingga suhu 105AC Jurnal Farmasi SYIFA selama 30 menit kemudian didinginkan, setelah dingin dikeluarkan lalu ditimbang kembali. Kemudian 1 g simplisia dimasukkan ke dalam botol timbang lalu dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105AC selama 30 menit. Setelah di oven dinginkan di dalam desikator hingga mencapai suhu ruangan lalu di timbang kembali (Cahya & Prabowo, 2. Pembuatan Ekstrak Pembuatan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. menggunakan metode maserasi yaitu simplisia daun teh tehan (Acalypha siamensi. sebanyak 500 g dimasukkan ke dalam maserator lalu ditambahkan etanol 96% sebanyak 5 L, diesktrasi selama 3x24 jam (Syari & Aprilla. Skrining Fitokimia Skrining fitokimia simplisia dan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. dilakukan dengan metode sederhana, yaitu sebagai berikut (Makalalag et al. , 2. Pembuatan Larutan Stok Ditimbang 1 g ekstrak etanol daun tehtehan (Acalypha siamensi. kemudian larutkan dengan 10 ml aquadest. Lalu dipanaskan menggunakan penangas air. Alkaloid Sampel dimasukkan ke tabung reaksi lalu ditambahkan kloroform dan amoniak, larutan HCCSOCE dicampurkan dan dikocok, kemudian lapisan atas dimasukkan ke dalam empat tabung. Pereaksi Dragendorf ditambahkan ke dalam tabung 1, positif alkaloid jika terdapat endapan berwarna kemerahan/jingga. Pereaksi Wagner ditambahkan ke dalam tabung 2, positif alkaloid jika terdapat endapan kecokelatan. Ditambahkan pereaksi Mayer ke dalam tabung 3, positif alkaloid jika terdapat endapan putih, untuk tabung 4 digunakan untuk blanko. Flavonoid Sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 2 tetes HCl 2N, serbuk Mg dan 2 tetes amil alkohol. Bila terbentuk warna Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 kuning, jingga atau merah pada lapisan amil alcohol maka positif flavonoid Saponin Sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan aquadest dan didihkan selama 2-3 menit kemudian dinginkan, lalu dikocok kuat. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang stabil. Tanin Sampel dipindahkan ke dalam 2 tabung Tabung I ditambahkan 2-3 tetes larutan FeClCE 1% dan tabung II ditambahkan 2-3 tetes larutan gelatin 10%. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna hitam kebiruan atau hijau untuk larutan yang ditambahkan FeClCE 1% dan endapan putih untuk larutan yang ditambahkan gelatin 10%. Steroid dan Triterpenoid Sampel dimasukkan ke dalam cawan uap dan dibiarkan menguap kemudian ditambahkan pereaksi Liebermann-Burchard menunjukkan hasil positif triterpenoid dengan adanya warna merah, jingga atau ungu positif sedangkan positif steroid dengan adanya warna hijau atau biru. Rancangan Formula Gel Tabel 1. Formula Gel Formula gel Ekstrak Daun Teh tehan Na-CMC Gliserin Propilenglikol Metil Paraben Aquadest Konsentrasi (%) 0,25 0,25 0,25 0,25 Fungsi Zat aktif Basis gel Humektan Humektan/ Pengawet Zat tambahan Pembuatan Sediaan Gel Disiapkan alat dan bahan. Ditimbang semua bahan sesuai dengan formula yang berada di dalam tabel. Dimasukkan aquadest panas ke dalam mortir, lalu Na-CMC didispersikan ke dalam aquadest, dimasukkan Na-CMC sedikit demi sedikit dengan cara ditaburkan, dibiarkan hingga mengembang. Digerus cepat hingga terbentuk masa gel. Dimasukkan metilparaben gerus homogen. Dimasukkan propilenglikol ke dalam masa gel, dan selanjutnya dimasukkan gliserin gerus sampai homogen. Ditambahkan Jurnal Farmasi SYIFA ekstrak gerus homogen dan dimasukkan aquadest sedikit demi sedikit ke dalam campuran tersebut (Agustina et al. , 2. Evaluasi Gel Uji Organoleptik Pengujian organoleptik dilakukan dengan mengamati langsung secara visual bentuk, warna dan bau dari sediaan (Putri & Anindhita, 2. Uji homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan cara sediaan gel dioleskan pada objek kaca atau bahan transparan lain yang cocok, selanjutnya dilihat homogenitasnya (Mangkey et al. , 2. Uji pH Ditimbang 1 g sediaan gel, dilarutkan dalam 9 ml aquadest, lalu dilakukan pengukuran menggunakan pH meter. Sediaan gel yang digunakan untuk diaplikasikan pada kulit seharusnya memiliki pH antara 4,5 sampai 6,5 (Putri & Anindhita, 2. Uji Daya Sebar Daya sebar gel yang baik antara 5 sampai 7 cm. Uji ini dilakukan dengan cara menimbang gel 0,5 g dan meletakkan diatas 2 buah kaca transparan dan diberi beban dari 50 g, 100 g, 150 g hingga 200 g. diamkan selama 1 menit. Ukur penyebarannya (Tyas & Saryanti, 2. Uji Daya Lekat Pengujian daya lekat dilakukan pada alat uji daya lekat dengan meletakkan sampel sebanyak 0,5 g diantara dua kaca objek yang diberi beban sebanyak 250 g selama 5 menit. Persyaratan daya lekat yang baik pada gel yaitu lebih dari 4 detik (Hikmah et al. , 2. Uji Viskositas Pengujian viskositas sediaan dilakukan menggunakan viskometer brookfield dengan mencelupkan spindle no 4 ke dalam sediaan gel. Syarat untuk viskositas gel yaitu 3000 cp Ae 50000 cp (Firdaus et al. , 2. Uji Aktivitas Luka Dimulai dengan persiapan hewan uji. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mencit putih jantan yang memiliki bobot 20 sampai 30 g. Mencit diadaptasikan terhadap lingkungan selama 1 minggu, diberi makan dan Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 minum sesuai dengan kebutuhan selama 1 minggu Hewan uji yang digunakan sebanyak 25 ekor dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok. Punggung hewan uji dirapikan bulunya sebelum sayatan dibuat, lalu bulu-bulu halus dihilangkan dengan menggunakan alat pencukur. Area punggung mencit kemudian dibersihkan dengan alkohol 70% agar terhindar dari infeksi. Selanjutnya, punggung mencit dibuat luka sayat dengan scaptel steril . isau beda. dengan panjang sayatan 1 cm dan kedalaman 0,2 cm. kemudian diberikan sediaan gel (Hertian et al. HASIL Uji Susut Pengeringan Tabel 2. Hasil Susut Pengeringan Replikasi Hasil Uji Susut Pengeringan (%) 7,13 Standar Deviasi A0,35 Tabel 3. Hasil Ekstrak Kental Daun Teh tehan Sampel Berat Berat Simplisia Ekstrak Rendemen Daun 101,687 g 20,3% Tabel 4. Skrinning Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Daun Teh tehan Perlakuan Uji Uji Alkaloid Pereaksi Mayer Pereaksi Wagner Pereaksi Dragendorf Uji Flavonoid Hasil Hasil Pengamatan ( ) Terbentuk Endapan Putih ( ) Terbentuk Endapan Coklat ( ) Terbentuk Endapan Merah Jingga Terbentuk Warna Jingga pada cincin amil ( ) Uji Tanin Gelatin 10% FeClCE 1% ( ) ( ) Uji Saponin ( ) Uji Steroid Uji Triterpenoid ( ) (O. Terbentuk Endapan Putih Terbentuk Warna Biru Kehitaman Terbentuk Busa Stabil lebih dari 1cm Terbentuk Warna Hijau Tidak Terbentuk Warna Violet Jurnal Farmasi SYIFA Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 Tabel 5. Hasil Evaluasi Sediaan Gel Parameter Organoleptik Homogenitas Daya Sebar Daya Lekat Viskositas Tidak Berwarna Tidak Berbau Semi Solid Homogen 7,23 A 0,08 6,4 A 0,32 4,33A 0,241 Coklat Bau Khas Semi Solid Coklat Tua Bau Khas Semi Solid Coklat Tua Bau Khas Semi Solid Homogen 5,99 A 0,070 6,2 A 0,230 5,13 A 0,961 Homogen 5,57 A 0,151 6,1 A 0,1 Homogen 5,19 A 0,017 5,1 A 0,115 9,02 A 0,847 5,31 A 0,161 Tabel 6. Hasil Aktivitas Luka Sayat Kelompok Rata-rata Standar Deviasi Hasil Rata-rata Penyembuhan Luka (Har. Kontrol Kontrol A0,83 A0,83 A0,70 A0,70 A0,83 PEMBAHASAN Determinasi Tanaman Tujuan dilakukannya determinasi ini adalah untuk memastikan kebenaran dan identitas tanaman yang digunakan pada penelitian dan untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan tercampurnya tanaman yang akan diteliti dengan tanaman lain (Gunawan et al. , 2. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku simplisia adalah Acalypha siamensis. Kode Etik Penelitian ini telah memiliki persetujuan dengan izin untuk dilaksanakan sesuai dengan surat keterangan kode etik N0. 027/E. 02/KEPKBTH/IV/2024. Pembuatan Simplisia Pembuatan simplisia daun teh tehan (Acalypha siamensi. diawali dengan pemanenan tanaman yang masih segar sebanyak 3500 g. kemudian dilakukan proses sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, penghalusan dan penyimpanan. Simplisia kering yang dihasilkan sebanyak 1030 g. Proses penghalusan simplisia menggunakan blender. Simplisia daun teh tehan (Acalypha siamensi. yang dihasilnya setelah pengayakan sebanyak 942 Uji Susut Pengeringan Susut pengeringan merupakan salah satu parameter non spesifik yang bertujuan untuk memberikan batasan maksimal . tentang besarnya senyawa yang hilang pada saat proses Pada suhu 105AC ini air akan menguap dan senyawa-senyawa yang mempunyai titik didih yang lebih rendah dari air akan ikut menguap juga (Andasari et al. , 2. Adapun hasil dari uji susut pengeringan simplisia daun teh tehan (Acalypha siamensi. yaitu diperoleh nilai rata-rata 7,13% Dimana hasil tersebut memenuhi syarat tidak lebih dari 10%. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan air dan senyawa yang berkhasiat pada simplisia daun teh tehan (Acalypha siamensi. tidak banyak yang hilang pada saat proses pengeringan. Pembuatan Ekstrak Pada pembuatan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. dilakukan dengan ekstraksi menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Adapun mekanisme kerja etanol 96% dalam proses maserasi yaitu terjadinya pemecahan dinding sel dan membran sel yang terjadi diakibatkan oleh perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel dan menyebabkan senyawa aktif yang ada di dalam akan larut ke dalam pelarut (Sari et al. , 2. Adapun hasil persen rendemen ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. sebesar 20,3% yang artinya sudah memenuhi persyaratan yaitu lebih dari 10%. Rendemen dari suatu sampel diperlukan untuk mengetahui banyaknya ekstrak yang diperoleh selama proses ekstraksi, selain itu data hasil rendemen tersebut hubungannya dengan senyawa aktif dari suatu sampel sehingga apabila jumlah rendemen semakin banyak maka jumlah senyawa aktif yang terkandung dalam sampel juga semakin banyak. Tingginya senyawa aktif yang terdapat pada suatu sampel ditunjukkan dengan tingginya jumlah rendemen yang dihasilkan (Nahor et al. , 2. Jurnal Farmasi SYIFA Skrinning Fitokimia Pada pengujian alkaloid sampel masingmasing ditambahkan pereaksi yaitu Mayer. Wagner dan Dragendorf. Ditandai positif pada pereaksi Mayer dengan adanya endapan putih yang diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan membentuk ikatan kovalen koordinat denga ion logam KA dari kalium tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks kalium alkaloid yang Sedangkan terbentuknya endapan coklat para pereaksi Wagner diperkirakan terjadi ikatan antara ion logam KA dari kalium iodida dengan nitrogen pada alkaloid sehingga membentuk kompleks yang mengendap dan terbentuknya endapan jingga. Pada pereaksi Dragendorf diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan ion logam KA dari kalium tetraiodobismutat membentuk kompleks kalium alkaloid yang mengendap (Fajriaty et al. , 2. Pada pengujian flavonoid simplisia dan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan adanya perubahan warna jingga pada lapisan amil Penambahan serbuk magnesium dan asam klorida bertujuan agar tereduksinya senyawa flavonoid sehingga mudah ditarik oleh amil alkohol dan memberikan warna kuning, jingga pada lapisan amil alkohol (Apriliana et al. , 2. Pada pengujian saponin simplisia dan ekstrak menunjukkan hasil yang positif. Saponin merupakan senyawa yang mempunyai gugus hidrofilik dan hidrofob. Saponin pada saat digojok terbentuk buih karena adanya gugus hidrofil yang berikatan dengan air sedangkan hidrofob akan berikatan dengan udara. Pada struktur misel, gugus polar menghadap ke luar sedangkan gugus non polar menghadap ke dalam. Keadaan ini yang akan membentuk busa. Penambahan HCl 2N bertujuan untuk menambah kepolaran sehingga gugus hidrofil akan berikatan lebih stabil dan buih yang terbentuk menjadi stabil (Simaremare, 2. Pada pengujian tanin adanya penambahan FeClCE 1% yang diperkirakan larutan ini bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa Hasil reaksi tersebut yang akhirnya menimbulkan warna. Pereaksi FeClCE dipergunakan secara luas untuk mengidentifikasi senyawa fenol termasuk tanin. Pada gelatin terbentuknya Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 endapan menunjukkan hasil positif adalah sebagai akibat dari sifat tanin yang dapat mengendapkan Tanin akan membentuk kepolimer yang memiliki berat jenis lebih besar sehingga tidak larut dalam air yang akhirnya muncul sebagai endapan berwarna putih (Fajriaty et al. , 2. Steroid diidentifikasikan dengan pereaksi LiebermannBurchard. Perubahan warna sampel uji saat direaksikan dengan pereaksi LierbermannBurchard menunjukkan sampel positif steroid karena menghasilkan warna hijau pada simplisia dan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. akan tetapi tidak positif triterpenoid. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa daun teh tehan (Acalypha siamensi. mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan steroid (Dewi et al, 2. Evaluasi Sediaan Gel Hasil evaluasi dari uji organoleptik gel ekstrak etanol daun teh tehan (Acalypha siamensi. dan gel formula 0 menunjukkan bahwa adanya perbedaan warna dan bau, karena gel untuk formula 0 tidak adanya penambahan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. Penambahan konsentrasi ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. berpengaruh terhadap warna sediaan dimana semakin tinggi konsentrasi maka gel yang dihasilkan akan memiliki warna yang lebih gelap. Untuk bau dari sediaan gel ini yaitu berbau khas dan berbentuk semi solid. Pengujian homogenitas bertujuan untuk melihat serta mengetahui tercampurnya setiap bahan sediaan gel. Homogenitas dari suatu sediaan gel merupakan faktor penting untuk distribusi obat dan pelepasan obat. Gel yang tidak homogen berpengaruh terhadap distribusi obat dan dapat mengakibatkan pelepasan obat tidak sempurna sehingga efek terapi yang diinginkan tidak tercapai (Reinard et al. , 2. Hasil pengujian homogenitas gel ekstrak etanol daun teh tehan (Acalypha siamensi. menunjukkan bahwa sediaan gel ekstrak etanol daun teh tehan (Acalypha siamensi. memiliki susunan gel yang homogen dan tidak terdapat partikel kasar atau bahan-bahan yang masih menggumpal. Berdasarkan hasil pengujian pH, sediaan gel dapat dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak Jurnal Farmasi SYIFA yang digunakan. Sediaan yang memiliki pH terlalu asam akan menimbulkan iritasi pada kulit dan sediaan yang memiliki pH terlalu basa maka akan menimbulkan kulit menjadi kering atau bersisik (Firdaus et al. , 2. Daya sebar yang baik berkisar antara 5-7 cm menunjukkan konsistensi semi solid yang nyaman dalam penggunaan. Penurunan dan peningkatan daya sebar gel dapat dipengaruhi oleh viskositas gel, semakin tinggi viskositas maka daya sebar gel akan semakin kecil. Daya sebar yang kecil dapat dipengaruhi juga oleh besarnya konsentrasi ekstrak (Rinaldi et al. , 2. Penghantaran obat dapat dipengaruhi oleh daya lekat yang tinggi. Semakin tinggi daya lekat yang dimiliki sediaan gel maka semakin lama kontak obat dengan kulit dan penghantaran obat akan lebih maksimal sehingga efek terapi yang diinginkan lebih optimal (Reinard et al. , 2. Hasil yang didapatkan dari evaluasi uji daya lekat gel ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. menunjukkan bahwa sediaan gel ini memenuhi syarat daya lekat karena lebih dari 4 detik. Pengujian viskositas dapat mengetahui konsistensi sediaan yang akan berpengaruh terhadap daya sebar serta pengaplikasian sediaan. Semakin tinggi nilai viskositas dari suatu sediaan maka akan semakin besar tahanannya untuk mengalir sehingga sediaan akan susah mengalir atau keluar dari wadah dan sulit untuk diaplikasikan (Sukmawati & Yuliani, 2. Aktivitas Luka Sayat Berdasarkan rata-rata penyembuhan luka sayat, kontrol positif memiliki nilai rata-rata 6,8 hari yang artinya kontrol positif memiliki aktivitas penyembuhan luka sayat paling Kontrol positif yang dipakai yaitu Bioplacenton ini mengandung ekstrak placenta 10% yang bekerja membantu proses penyembuhan luka sayat dan memicu pembentukan jaringan baru dan neomisin sulfat memiliki peran untuk mencegah atau mencegah infeksi bakteri pada area luka (Tajudin et al. Pada kontrol negatif menunjukkan ratarata nilai penyembuhan luka sayat mulai menutup sempurna yaitu 12,8 hari. Penyembuhan luka sayat dapat terjadi pada kelompok ini akan tetapi Volume 2. Nomor 2. Agustus 2024 membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan kelompok lain yang memiliki kandungan ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. Pada formula I konsentrasi ekstrak daun teh tehan (Acalypha siamensi. yang digunakan sebesar 5% dengan rata-rata waktu penyembuhan yaitu 11 hari, formula II sebesar 10% dengan rata-rata penyembuhan sebesar 10 hari dan formula i sebesar 20% dengan rata-rata penyembuhan sebesar 7,2 hari. Hal ini dapat dikatakan semakin tinggi ekstrak maka waktu penyembuhan luka sayat semakin cepat. Pada formula i memiliki aktivitas penyembuhan luka sayat yang paling cepat dikarenakan ekstrak daun teh tehan yang digunakan pada formula i memiliki konsentrasi yang paling tinggi, oleh karena itu senyawa metabolit sekunder yang terkandung juga semakin banyak seperti senyawa flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin yang berperan dalam proses penyembuhan luka sayat. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpullkan bahwa gel ekstrak etanol daun teh tehan (Acalypha siamensi. memiliki aktivitas dalam penyembuhan luka sayat pada mencit putih jantan dan formula yang paling optimal dalam penyembuhan luka sayat adalah formula i dengan konsentrasi ekstrak 20% dengan nilai ratarata penyembuhan 7,2 hari. REFERENSI