Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) Vol. No. Februari 2026, hlm. p-ISSN: 2355-7699 e-ISSN: 2528-6579 PENERAPAN DAN EVALUASI SISTEM APLIKASI MONITORING PEMBIBITAN TANAMAN BERBASIS INTERNET OF THINGS Ridwan*1. Aulia Syarif Aziz2. Nur Faiza Nurrayya3. Muhammad Ichsan4 1,2,3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui Sigli Email: ridwanmt@ar-raniry. id, 2aulia. aziz@ar-raniry. id, 3zurayyaf@gmail. com, 3michsan@unigha. *Penulis Korespondensi (Naskah masuk: 30 Oktober 2025, diterima untuk diterbitkan: 20 Desember 2. Abstrak Penelitian ini bertujuan merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi sistem aplikasi monitoring pembibitan tanaman berbasis Internet of Things (IoT) sebagai bagian dari upaya mendukung inisiatif Smart Village. Metode penelitian mengkombinasikan pendekatan Research and Development (R&D) untuk pengembangan prototipe dengan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan 30 petani di Desa Cot Baroh. Pidie. Aceh, selama proses implementasi, pelatihan, dan pendampingan. Sistem yang dikembangkan mampu memantau berbagai parameter lingkungan penting pada pembibitan secara real-time dan diakses melalui aplikasi Blynk serta LCD offline. Evaluasi pengalaman pengguna dilakukan menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototipe sistem IoT berhasil dibangun dan mendapatkan impresi pengguna yang sangat positif pada keenam aspek UEQ . aya tarik, kejelasan, efisiensi, ketetapan, stimulasi, dan kebarua. , dengan tingkat reliabilitas yang tinggi untuk setiap aspeknya. Disimpulkan bahwa sistem ini efektif, diterima dengan baik oleh pengguna, dan berpotensi signifikan dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan pembibitan tanaman, sekaligus mendukung penguatan literasi digital dan konsep Smart Village di tingkat komunitas. Kata kunci: internet of things (IoT), sistem monitoring, pembibitan tanaman, smart village, pengalaman pengguna APPLICATION AND EVALUATION OF AN INTERNET OF THINGS-BASED PLANT NURSERY MONITORING APPLICATION SYSTEM Abstract This research aims to design, implement, and evaluate an Internet of Things (IoT)-based plant nursery monitoring application system as part of an effort to support Smart Village initiatives. The research method combines a Research and Development (R&D) approach for prototype development with Participatory Action Research (PAR) involving 30 farmers in Cot Baroh Village. Pidie. Aceh, during the implementation, training, and assistance The developed system is capable of monitoring various critical environmental parameters in the nursery in real-time, accessible via the Blynk application and an offline LCD. User experience evaluation was conducted using the User Experience Questionnaire (UEQ). The research results indicate that the IoT system prototype was successfully built and received a very positive user impression across all six UEQ aspects . ttractiveness, perspicuity, efficiency, dependability, stimulation, and novelt. , with a high level of reliability for each aspect. is concluded that this system is effective, well-received by users, and has significant potential to enhance the efficiency of plant nursery management, while also supporting the strengthening of digital literacy and the Smart Village concept at the community level. Keywords: internet of things (IoT), monitoring system, plant nursery, smart village, user experience PENDAHULUAN bergantung pada produktivitas sektor ini. Meski sudah ada banyak upaya intensifikasi dan ekstensifikasi dalam beberapa dekade terakhir, sektor pertanian menghadapi tantangan besar, terutama akibat perubahan iklim global seperti kekeringan dan banjir yang mempengaruhi hasil panen dan kesejahteraan petani (Sensus Pertanian, 2023. Sektor pertanian memiliki peranan penting bagi ekonomi Indonesia, bukan hanya sebagai penyumbang PDB, tetapi juga sebagai sumber pekerjaan bagi banyak orang, khususnya di daerah Ketahanan pangan nasional sangat 182 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Februari 2026, hlm. Mueller et al. , 2. Selain itu, keterbatasan lahan subur dan air irigasi, serta penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak efisien, juga menambah beban masalah (FAO, 2. Transformasi teknologi mutlak diperlukan agar sektor ini semakin produktif, efisien, dan berkelanjutan. Sejalan dengan tren global, konsep Smart Village atau Desa Cerdas mulai dilirik sebagai model pembangunan desa yang lebih menyeluruh. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa dengan memanfaatkan teknologi digital di berbagai aspek seperti pertanian, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan desa. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi kunci, membuka akses informasi, mempermudah layanan publik, dan menciptakan peluang ekonomi Di bidang pertanian. Smart Village bisa terwujud lewat praktik Smart Farming, yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi budidaya dan pengelolaan sumber daya. Keberhasilan implementasinya sangat tergantung pada infrastruktur digital, literasi digital masyarakat, dan dukungan ekosistem inovasi (Kementerian Desa. PDTT, 2. Revolusi Industri 4. 0 mendorong digitalisasi di berbagai sektor, termasuk pertanian, melalui teknologi IoT (Internet of Thing. IoT menghubungkan perangkat fisik untuk saling bertukar data lewat internet, memungkinkan pemantauan dan pengendalian jarak jauh secara realtime. Dalam konteks pertanian. IoT (Precision Agriculture atau Smart Farmin. membantu petani mengambil keputusan lebih baik karena didukung data akurat. Penggunaan sensor, aktuator, drone, dan platform data menjadi komponen penting IoT (Elijah et al. , 2. Teknologi ini berpotensi mengatasi banyak masalah dalam pertanian tradisional. Pembibitan adalah tahap awal yang menentukan keberhasilan produksi pertanian. Selama ini, pembibitan tradisional masih bergantung pada pengalaman petani, yang kerap menghadapi kendala. Faktor seperti suhu, kelembaban tanah dan udara, serta intensitas cahaya yang tidak optimal bisa menyebabkan bibit tumbuh tidak merata atau bahkan Pemantauan manual juga kerap terlambat dalam mendeteksi masalah, yang akhirnya merugikan waktu, tenaga, dan biaya. Masalah penggunaan teknologi pemantauan lingkungan pembibitan, terutama di komunitas petani desa. Petani masih banyak yang menggunakan cara tradisional yang kurang mampu menjawab tantangan lingkungan dan tuntutan pasar. Minimnya data akurat menyulitkan petani mengambil tindakan cepat dan tepat, yang akhirnya mempengaruhi produktivitas Penggunaan sistem monitoring berbasis IoT menjadi solusi atas permasalahan tersebut. Dengan sensor-sensor yang memantau suhu, kelembaban tanah, kelembaban udara, dan intensitas cahaya secara real-time, petani bisa memantau kondisi bibit lewat smartphone atau komputer. Sistem ini juga bisa memberikan peringatan dini jika ada kondisi yang tidak sesuai, memungkinkan petani segera mengambil tindakan. Data historisnya juga bermanfaat untuk evaluasi dan perbaikan proses pembibitan ke depan (Kumar et al. , 2. Selain itu, efisiensi air dan energi bisa meningkat berkat pengendalian yang lebih presisi. Penerapan teknologi ini tidak hanya soal alat, tetapi juga kesiapan dan penerimaan teknologi yang Melalui transfer pengetahuan dan keterampilan, petani bisa merakit, mengoperasikan, dan merawat sistem IoT secara mandiri yang sesuai dengan semangat Smart Village yang berbasis pada partisipasi masyarakat dan penguatan kapasitas lokal. Beberapa mengeksplorasi penerapan Internet of Things (IoT) dalam konteks pertanian dan pengembangan Pertama, penelitian oleh Islamy dan Wisudawati . Hasil penelitian berhasil merancang dan menguji sebuah sistem monitoring kebun pintar untuk tanaman cabai. Sistem tersebut memanfaatkan protokol MQTT. Node-RED, dan notifikasi melalui Telegram Bot untuk menjaga suhu lingkungan tanaman cabai dan mencegah kekeringan Hasil pengujian menunjukkan fungsionalitas yang baik dari sensor suhu (DS18B. , kelembaban tanah, dan sensor ultrasonik untuk level air/nutrisi, serta kemampuan sistem untuk mengaktifkan perintah pemupukan dan pengabutan secara Selanjutnya. Dirayati. Sari, dan Purnomo . Studi ini mengkonsentrasikan diri pada pengembangan dan penerapan sebuah sistem Pertanian Cerdas yang berlandaskan Internet of Things (IoT). Platform yang dirancang dalam riset ini memiliki kapabilitas untuk memonitor dan mengatur berbagai parameter lingkungan esensial, seperti tingkat kelembaban tanah, temperatur, serta intensitas paparan cahaya. Berdasarkan data tersebut, sistem secara otomatis menghasilkan anjuran bagi petani terkait penjadwalan irigasi dan fertilisasi. Implementasi solusi ini terbukti efektif dalam mengoptimalkan efisiensi penggunaan sumber daya air dan pupuk, mereduksi biaya operasional, serta mendongkrak produktivitas agrikultur melalui praktik manajemen yang lebih akurat dan terinformasi oleh data. Penelitian lain yang signifikan dilakukan oleh Yusi Nurmala Sari dan maya sari . Studi ini menginvestigasi penerapan teknologi IoT untuk mendukung praktik pertanian berkelanjutan di Kabupaten Lahat. Penemuan signifikan dari studi ini mengindikasikan bahwa mayoritas petani, yakni sebesar 65%, masih menunjukkan tingkat pemahaman yang terbatas terkait konsep Internet of Things (IoT). Lebih lanjut, 60% dari kelompok petani tersebut juga mengidentifikasikan diri belum memiliki kesiapan yang memadai, baik dari aspek psikologis maupun kapabilitas teknis, untuk mengimplementasikan Ridwan, dkk. Penerapan dan Evaluasi SistemA 183 teknologi tersebut. Bertolak dari temuan ini, penelitian merekomendasikan elaborasi pendekatan strategis yang bersifat kolaboratif, dengan melibatkan sinergi antara pemerintah, institusi akademik, dan para pelaku industri. Upaya bersama ini diharapkan dapat meningkatkan literasi teknologi serta mengakselerasi tingkat adopsi IoT di kalangan petani, dengan memberikan penekanan khusus pada urgensi penyelenggaraan program pelatihan yang mudah diakses dan dipahami, serta ketersediaan mekanisme dukungan yang bersifat kontinu dan berkelanjutan. Secara umum Penelitian ini bertujuan untuk merancang, menerapkan dan mengevaluasi sistem monitoring pembibitan tanaman berbasis IoT sebagai bagian dari smart village. Secara khusus penelitian bertujuan mengembangkan prototipe monitoring pembibitan tanaman yang terjangkau dan mudah digunakan, memberikan pendampingan bagi petani dalam pembuatan dan penggunaan sistem, serta menganalisis tanggapan dan penggunaan awal pada Hasil yang diharapkan adalah meningkatnya pemahaman dan keterampilan petani dalam menggunakan teknologi IoT untuk pembibitan yang lebih efisien dan produktif. Penelitian menggunakan pendekatan multidisiplin kombinasi Research and Development dan Participatory Action Research (PAR). Dengan penerapan sistem monitoring IoT ini, diharapkan proses pembibitan di tingkat petani jadi lebih efisien dan efektif. Hasil penelitian dapat menjadi contoh pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan pertanian dan penguatan Smart Village dan diharapkan dapat mendorong literasi digital dan inovasi masyarakat desa dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era transformasi digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan multidisiplin yang mengkombinasikan Research and Development (R&D) dan Participatory Action Research (PAR). Pendekatan R&D digunakan untuk merancang, mengembangkan, dan menguji prototipe sistem monitoring pembibitan tanaman berbasis IoT. Metode PAR diterapkan dalam aspek implementasi teknologi di masyarakat. Pendekatan PAR menekankan keterlibatan aktif masyarakat petani atau kelompok tani di Desa Cot Baroh Kabupaten Pidie Provinsi Aceh dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan tindakan, implementasi solusi dan evaluasi. Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan sumber primer dan Proses penentuan sampel menggunakan teknik probability sampling, sehingga berhasil menjaring partisipan sebanyak 30 orang petani. Data yang telah terkumpul selanjutnya akan dianalisis secara komprehensif melalui aplikasi metode gabungan, yang mencakup analisis kualitatif, analisis kuantitatif deskriptif, serta analisis komparatif. Keseluruhan tahapan pelaksanaan penelitian ini divisualisasikan pada Gambar 1. Gambar 1. Tahapan penelitian Tahap mengidentifikasi secara mendalam permasalahan yang dihadapi petani dalam proses pembibitan tanaman, menganalisis kebutuhan fungsional dan non-fungsional sistem monitoring yang akan dikembangkan, serta memetakan tingkat kesiapan dan persepsi masyarakat terhadap adopsi teknologi IoT. Tahap 2 bertujuan mengembangkan prototipe sistem monitoring pembibitan tanaman berbasis IoT yang fungsional, terjangkau, dan mudah digunakan. Tahap 3 bertujuan mengimplementasikan prototipe sistem monitoring IoT. Tahap 4 bertujuan mengevaluasi efektivitas, efisiensi, kemudahan . experience questionnaire (UEQ). Participatory Action Research (PAR) Metode Participatory Action Research (PAR) secara fundamental berorientasi pada upaya pemberdayaan komunitas dan inisiasi perubahan. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk memfasilitasi proses pembelajaran kolektif dalam rangka mengatasi permasalahan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis yang dihadapi oleh Rangkaian tahapan dalam implementasi PAR ini diilustrasikan lebih lanjut melalui sebuah siklus, sebagaimana yang tersaji pada Gambar 2. Evaluasi dan Monitoring Mapping Focus Group Discussion Implementasi Perencanaan Program Gambar 2. Tahapan metode PAR Metode PAR menekankan pada partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk berkolaborasi dalam mendiagnosis masalah, merencanakan 184 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Februari 2026, hlm. program, melaksanakan kegiatan, serta mengevaluasi Metodologi ini mencerminkan konsistensi antara ontologi . ealitas sosial yang ingin diuba. , epistemologi . engetahuan yang dibangun melalui interaksi dan pengalama. , dan aksiologi . ilai-nilai yang diterapkan dalam kegiatan tersebu. User Experience Questionaire (UEQ) diterapkan dalam analisis data UEQ terdiri atas beberapa langkah. Tahap awal, sebagaimana dijelaskan oleh Hinderks et al. , adalah kalkulasi nilai rata-rata . untuk setiap responden, yang diklasifikasikan menurut skala UEQ. Perhitungan mean per responden ini merupakan salah satu rumus fundamental dalam pengolahan data UEQ. Aspek Daya Tarik Proses pengolahan data User Experience Questionnaire (UEQ) melibatkan enam tahapan yang diilustrasikan pada Gambar 3. Selanjutnya. Gambar 4 menyajikan detail item-item pertanyaan dalam UEQ, di mana setiap item dinilai menggunakan skala 1 Memasukkan data hasil kuisioner kedalam UEQ tool Transformasi Data Melakukan perhitungan rata-rata perorangan . ean perso. Mendapatkan hasil UEQ Melakukan perhitungan rata-rata untuk setiap aspek UEQ Gambar 3. Proses dalam pengolahanan data UEQ Berdasarkan metodologi yang diuraikan oleh Veron et al. , setiap skor mentah yang diperoleh dari masing-masing item pertanyaan kemudian ditransformasi dengan mengurangkannya sebesar empat poin. Prosedur ini menghasilkan rentang nilai akhir dari -3 sebagai skor negatif terendah hingga 3 sebagai skor positif tertinggi. Daftar UEQ divisualisasikan pada Gambar 4. Kejelasan Efesiensi Ketetapan Stimulasi Kebaruan ycaycycyyceyco ycOyaycE = Nomor Pernyataan 1, 12, 14, 16, 24 2, 4, 13 dan 21 9, 20, 22, dan 23 8, 11, 17 dan 19 5, 6, 7 dan 18 3, 10, 15 dan 26 Keterangan Nilai skor dengan suatu nilai item pertanyaan, selanjutnya hasil tersebut dibagi kembali dengan nilai representatif dari item pertanyaan yang jumlah setiap nilai intrument banyak data Setelah perolehan rerata skor individual responden pada tahap pertama, tahapan analisis data UEQ selanjutnya adalah melakukan kalkulasi rerata skala secara keseluruhan. Perhitungan ini didasarkan pada klasifikasi instrumen UEQ yang terdiri atas 26 item pertanyaan. ycu= ycycycoycoycaEa yccycaycyca ycoyceycyceycoycycycEaycaycu ycaycaycuycycayco yccycaycyca Keterangan : - Jumlah keseluruhan nilai yang diambil dari nilai setiap responden - x = mean Tahap analisis data UEQ selanjutnya, yaitu tahap ketiga, difokuskan pada penentuan nilai Pragmatic Quality (PQ) dan Hedonic Quality (HQ). Kalkulasi kedua aspek kualitas ini dilakukan menggunakan formula spesifik seperti rumus berikut. Gambar 4. Pertanyaan dari User Experience Questionnaire Sementara itu, ketentuan atau aturan yang berlaku dalam penggunaan pertanyaan-pertanyaan UEQ dirincikan pada Tabel 1. Formula yang ycyyc = ycycycoycoycaEa ycuycnycoycaycn ycoyceycyceycoycaycycaycu,yceyceyceycycnycuycycn yccycaycu ycoyceycyceycycaycyycaycu Eayc = ycycycoycoycaEa ycuycnycoycaycn ycoyceycyceycoycaycycaycu,yceyceyceycycnycuycycn yccycaycu ycoyceycyceycycaycyycaycu ycaycaycuycycayco yccycaycyca ycaycaycuycycayco yccycaycyca Selanjutnya, signifikansi nilai yang diperoleh dari setiap skala UEQ, dilakukan perbandingan dengan acuan makna yang tersaji pada Tabel 2. Sebagai langkah final dalam tahapan ini, setelah perhitungan masingmasing skala dirampungkan, nilai rata-rata UEQ dikomparasikan dengan data benchmark yang telah Ridwan, dkk. Penerapan dan Evaluasi SistemA 185 Tabel 2. Skala UEQ untuk benchmark interval Excell Good Above Avera Below Avera Bad Day Ou1. Ou1, <1. Ou1, <1. Ou0, <1, <0. Kejela Efisie Stimu Ou1,9 Ou1,7 Ou1,4 <1,7 Ou0,9 <1,4 Ou0,5 <0,9 <0,5 Ou1,65 Ou1,55 Ou1,4 Ou1,48 <1,65 Ou1,31 <1,55 Ou1,05 <1,4 Ou1,14 <1,48 Ou0,99 <1,31 Ou0,71 <1,05 Ou0,78 <1,14 Ou0,5 <0,99 Ou0,3 <1,71 <0,78 <0,5 <0,3 Ou1,56 <1,9 Ou1,08 <1,56 Ou0,64 <1,08 <0,64 langsung melalui layar LCD yang tersedia sebagai output offline. Pengukuran tingkat pH tanah dilakukan oleh sensor pH tanah yang juga terhubung ke Arduino, dengan hasil pengukurannya ditampilkan pada LCD untuk pemantauan lokal. Dalam hal pengendalian, sistem ini dilengkapi dengan modul relay empat kanal yang terhubung ke Arduino untuk mengatur aktuasi penyiraman air dan pemberian pupuk cair. Status operasional relay . ktif/nonakti. juga dapat diverifikasi secara offline melalui tampilan pada LCD. Lebih lanjut, untuk memantau ketersediaan larutan nutrisi, digunakan sensor ultrasonik HC-SR04 yang terpasang pada Arduino. Ketinggian sisa larutan nutrisi dalam wadah dapat diketahui secara langsung melalui informasi yang ditampilkan pada LCD. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Alat Pembibitan Tanaman Berbasis IoT Prototipe sistem pemantauan dan kontrol untuk pembibitan tanaman dibangun menggunakan komponen microkontroller arduino seperti tampak pada Gambar 5. Arduino terhubung dengan modul ESP8266 untuk konektivitas nirkabel, yang selanjutnya memungkinkan interaksi dengan antarmuka aplikasi Blynk. Melalui platform Blynk, pengguna dapat memantau berbagai parameter penting seperti kadar air dalam tanah, tingkat pH tanah, volume sisa larutan nutrisi, serta mengelola jadwal pemupukan. Gambar 6. Tampilan visualisasi data Pada antarmuka tampilan, sistem ini menggunakan LCD berukuran 20x4 yang terhubung ke Arduino, berfungsi untuk menyajikan seluruh data pembacaan sensor secara offline. Selain itu, pada platform online, antarmuka aplikasi Blynk dirancang dengan halaman utama yang menampilkan visualisasi data grafis secara real-time untuk parameter kelembaban tanah, pH tanah, dan sisa larutan nutrisi, serta menyediakan akses ke fungsi kontrol sistem. Gambar 5. Alat IoT untuk monitoring pembibitan tanaman Untuk pengukuran kondisi tanah, sistem ini memanfaatkan beberapa sensor spesifik. Kadar kelembaban tanah dideteksi menggunakan sensor kelembaban tanah kapasitif yang terintegrasi dengan papan Arduino. Nilai kelembaban dari setiap sensor yang tertanam di media tanam dapat dibaca secara 2 Uji Validitas Menurut panduan umum, tingkat konsistensi internal yang memadai dalam suatu pengukuran ditunjukkan oleh nilai koefisien reliabilitas Alfa Cronbach () sebesar Ou0,7 (Ningsih and Muzakir. Dalam konteks evaluasi usabilitas menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ), keenam dimensi yang diukur meliputi attractiveness, perspicuity, efficiency, dependability, stimulation, dan novelty reliabilitasnya diuji melalui analisis Koefisien Alfa Cronbach (Budiman, 2. Proses interpretasi data yang berasal dari kuesioner ini difasilitasi oleh penggunaan perangkat analisis data berupa lembar kerja (Putra. Putra and Handayani, t. ), yang melibatkan beberapa tahapan 186 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Februari 2026, hlm. Dilakukan pengumpulan data mentah . ata se. yang terdiri dari respons terhadap 26 item pertanyaan dengan menggunakan skala Likert 1 Data mentah tersebut mengalami proses transformasi . ata set transforme. untuk item pertanyaan yang memiliki orientasi makna positif, skor dikonversi ke dalam rentang nilai dari 3 . engindikasikan evaluasi sangat bai. hingga -3 . valuasi sangat buru. , sedangkan untuk item pertanyaan yang berorientasi makna negatif, skor juga direpresentasikan dalam rentang nilai antara -3 dan 3. Dilakukan kalkulasi nilai rerata . untuk setiap skala penilaian, yang selanjutnya dikelompokkan berdasarkan keenam atribut atau dimensi UEQ . Hasil akhir dari setiap tingkatan skala pada keseluruhan atribut UEQ kemudian divisualisasikan dalam format grafik, yang memungkinkan perbandingan terhadap nilai benchmark. Lebih lanjut. Tabel 4 menyajikan secara rinci nilai korelasi antara item untuk setiap skala beserta koefisien reliabilitas yang dihasilkan. Berdasarkan data pada tabel tersebut, dilaporkan bahwa keenam aspek UEQ menunjukkan tingkat reliabilitas yang dapat diterima, yang dibuktikan dengan nilai Cronbach untuk setiap skala yang melampaui ambang batas 0,7. Tabel 4. Aspek UEQ berdasarkan nilai korelasi Aspek Skala CronbachAos Daya Tarik 0,87 Realiabel Kejelasan 0,81 Realiabel Efesiensi 0,79 Ketetapan 0,75 Ou 0,7 Realiabel Realiabel Stimulasi 0,79 Realiabel Kebaruan 0,85 Realiabel 3 Hasil Analisis UEQ Analisis data yang berasal dari 30 responden pengguna kuesioner mengindikasikan variasi hasil pada keenam aspek yang diukur. Secara spesifik, tiga aspek yakni daya tarik, kejelasan, dan kebaruan mencapai skor >= 0. Sebaliknya, tiga aspek lainnya, yaitu efisiensi, ketepatan, dan stimulasi menunjukkan skor <= 0. Meskipun demikian, rerata skor skala secara keseluruhan tercatat sebesar >= 0. Lebih lanjut, evaluasi terhadap alat pembibitan tanaman berbasis IoT mengungkapkan bahwa rerata skor impresi pengguna secara konsisten melampaui > 1 untuk seluruh aspek yang dinilai. Di antara aspek tersebut, daya tarik dan efisiensi menunjukkan skor impresi yang mendekati 2. Keseluruhan temuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa alat pembibitan tanaman berbasis IoT menghasilkan impresi pengguna yang positif. Visualisasi terperinci mengenai hasil penilaian untuk masing-masing aspek disajikan dalam Gambar 7. Gambar 7. Diagram aspek alat IoT pembibitan tanaman 3 Pembahasan Temuan Temuan impresi pengguna yang sangat positif pada keenam dimensi UEQ (Gambar . memberikan bukti empiris yang kuat terhadap keberhasilan adopsi Hasil ini tidak hanya mengonfirmasi fungsionalitas teknis prototipe, tetapi menunjukkan penerimaan dan kemudahan penggunaan di tingkat pengguna akhir . Jika dibandingkan dengan penelitian sejenis, kontribusi naskah ini menjadi lebih Sebagai contoh, studi oleh (Islamy & Wisudawati, 2. dan (Dirayati et al. , 2. primernya berfokus pada validasi fungsional dan arsitektur sistem IoT untuk pertanian, seperti penggunaan protokol MQTT atau pengembangan fitur anjuran irigasi. Meskipun studi tersebut berhasil membuktikan kelayakan teknis, evaluasi mendalam mengenai pengalaman pengguna (UX) dari petani sebagai operator langsung belum menjadi fokus Penelitian kami mengisi kesenjangan ini dengan menerapkan UEQ secara sistematis, yang menunjukkan bahwa aspek Kejelasan . ean > 1. dan Efisiensi . ean > 1. dinilai sangat tinggi, mengindikasikan bahwa desain antarmuka (Blynk dan LCD) berhasil mentransformasi data teknis yang kompleks menjadi informasi yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti oleh petani. Lebih lanjut, temuan ini secara langsung menanggapi tantangan yang diidentifikasi oleh (Sari & Sari, 2. , yang melaporkan rendahnya tingkat pemahaman . %) dan kesiapan . %) petani terhadap IoT. Studi penelitian ini menunjukkan bahwa melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan pelatihan, pendampingan, dan pengembangan prototipe secara kolaboratif hambatan adopsi tersebut dapat diatasi secara efektif. Skor Kebaruan . ean > 1. dan Stimulasi . ean > 1. yang tinggi mengimplikasikan bahwa intervensi PAR tidak hanya meningkatkan literasi digital tetapi juga berhasil merangsang ketertarikan dan motivasi petani terhadap teknologi Dengan demikian, perbedaan kunci penelitian ini tidak terletak pada superioritas teknis sensor, melainkan pada validasi model implementasi (R&D PAR) yang terbukti menghasilkan penerimaan Ridwan, dkk. Penerapan dan Evaluasi SistemA 187 pengguna (UX) yang jauh lebih tinggi di konteks komunitas pedesaan. KESIMPULAN Penelitian ini telah berhasil merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi sistem aplikasi monitoring pembibitan tanaman berbasis Internet of Things (IoT) sebagai salah satu upaya mendukung inisiatif Smart Village. Prototipe sistem yang dikembangkan mampu melakukan pemantauan parameter seperti kelembaban tanah, pH tanah, dan volume larutan nutrisi secara real-time, serta menyediakan antarmuka lokal melalui LCD dan akses jarak jauh melalui aplikasi Blynk. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang dikombinasikan dengan metode Research and Development (R&D) pengembangan dan implementasi sistem melibatkan partisipasi aktif masyarakat petani, khususnya di Desa Cot Baroh. Kabupaten Pidie. Aceh. Hasil evaluasi terhadap 30 responden berdasarkan pengalaman pengguna menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ), menunjukkan bahwa sistem aplikasi monitoring pembibitan tanaman berbasis IoT ini mendapatkan impresi yang positif. Seluruh enam aspek yang diukur, daya tarik, kejelasan, efisiensi, ketetapan, stimulasi, dan kebaruan memperoleh nilai rata-rata impresi di atas 1, yang mengindikasikan penerimaan yang baik dari pengguna. Skor reliabilitas yang tinggi (Cronbach's Alpha Ou0,75 untuk semua aspe. juga menegaskan konsistensi alat ukur yang digunakan. Temuan ini menjawab tujuan penelitian untuk mengembangkan prototipe yang terjangkau dan mudah digunakan, memberikan pendampingan dalam penggunaannya, serta menganalisis tanggapan awal Penerapan sistem monitoring pembibitan tanaman berbasis IoT ini adalah solusi yang efektif dan diterima dengan baik oleh pengguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pembibitan tanaman. Keberhasilan ini tidak hanya keterampilan petani dalam memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pertanian dan penguatan konsep Smart Village di perdesaan. Penelitian ini menghasilkan implikasi teoretis dan praktis yang signifikan. Secara teoretis, studi ini memberikan kontribusi pada literatur Smart Village dan Adopsi Teknologi dengan memvalidasi secara empiris model implementasi R&D dan PAR. Temuan ini memperkaya Technology Acceptance Model (TAM) dan teori UX dalam konteks agrikultur pedesaan, dengan menunjukkan bahwa intervensi partisipatif adalah prediktor kuat untuk penerimaan positif . ebagaimana terukur oleh UEQ) terhadap teknologi IoT. Studi ini menggeser fokus dari sekadar ketersediaan teknologi menjadi pentingnya proses sosio-teknis dalam implementasinya. Dari sisi praktis dan industri, dampak penelitian ini bersifat ganda. Bagi praktisi pembangunan komunitas . emerintah daerah dan LSM), model R&D PAR yang diterapkan di Desa Cot Baroh dapat direplikasi sebagai cetak biru . yang teruji untuk program digitalisasi pertanian, memastikan bahwa investasi teknologi selaras dengan kebutuhan nyata dan kapasitas pengguna. Bagi industri agriteknologi, hasil UEQ yang positif ini mengonfirmasi adanya permintaan pasar untuk solusi IoT yang berbiaya rendah . ow-cos. , andal . , dan mudah digunakan . Keberhasilan antarmuka Blynk dan LCD offline menunjukkan bahwa solusi hibrida . nline-offlin. lebih menarik, memberikan panduan desain yang krusial bagi pengembang untuk merancang produk yang sesuai dengan kondisi infrastruktur digital di wilayah perdesaan. Meskipun penelitian ini berhasil mencapai tujuannya, terdapat beberapa keterbatasan yang membuka ruang untuk penelitian selanjutnya. Evaluasi UEQ dilakukan pada 30 petani di satu lokasi (Desa Cot Baro. , sehingga generalisasi temuan ke konteks geografis atau komoditas lain memerlukan studi replikasi dengan sampel yang lebih besar dan Fokus evaluasi adalah pada pengalaman pengguna (UX) dan penerimaan awal, bukan pada dampak agronomis atau ekonomi secara kuantitatif. Penelitian selanjutnya sangat disarankan untuk melakukan studi longitudinal guna mengukur dampak jangka panjang dari adopsi sistem ini terhadap parameter kuantitatif, seperti peningkatan produktivitas bibit, efisiensi penggunaan air, dan analisis cost-benefit bagi petani. Arah penelitian selanjutnya juga harus berfokus pada evolusi prototipe dari sistem monitoring menjadi sistem kontrol otomatis. Hal ini melibatkan integrasi aktuator yang dipicu oleh ambang batas data sensor, serta mengevaluasi kembali pengalaman pengguna terhadap sistem. Saran berikutnya, data historis yang dikumpulkan oleh sensor membuka peluang untuk penerapan analisis prediktif atau machine learning sederhana guna memberikan rekomendasi preskriptif kepada petani, tidak hanya data deskriptif. DAFTAR PUSTAKA