Vol. No. 2 Juli 2025. Hal. Penerapan Metode Sharing Session untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Mengekspresikan Perasaan dengan Pantun pada Siswa Kelas IV UPT SDN 123 Banti St. Hafida Fitra Universitas Terbuka. Indonesia *Corresponding Author e-mail: st. hafidafitra@gmail. Abstrak Hasil belajar rendah. Hasil belajar pada aspek kemampuan mengekspresikan suka tidak suka masih rendah dan adanya 60% . ari 25 orang siswa kelas IV) yang tidak tuntas menjadi motif diadakannya penelitian ini. Alasan dari aspek guru adalah karena adanya masalahnya guru menggunakan pembelaaran konvensional. Ajang ekpsresi yang minim pada pembelajaran menyebabkan siswa kurang ekpresif dan tidak mampu menjelaskan alasan mengapa siswa tidak suka dan suka terhadap sesuatu hal. Dalam peneltiian ini jumlah siswa yang dilibatkan adalah 25 orang. Dengan menerapkan metode penelitian PTK empat langkah: perencanaan, penerapan, observasi dan refleksi hasil kemampuan siswa dapat ditingkatkan sesuai KKM pembelajaran. Kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penerapan metode sharing session dengan kartu hitam atau putih pada siswa Kelas I UPT SD Negeri 123 Banti. Siklus I siswa tuntas yaitu pada indikator 1 mencapai 80% dan siklus 2 mencapai 60%. Ada 20% pada indikator 1 belum tuntas dan ada 40% siklus II belum tuntas. Tingginya angka ketidaktuntasan terutama pada indikator 2 disebabkan karena masih belum percaya dirinya siswa, kosakata yang masih sedikit, serta bahasa daerah yang masih tinggi pengunannya dalam kelas. Kata Kunci: Sharing Session. Mengekspresikan Perasaan. Pantun. PENDAHULUAN Struktur kurikulum di sekolah dasar memuat mata pelajaran Bahasa Indonesia mengespkresikan diri dalam bentuk karya-karya sastra (Asip, 2. Dalam mata pelajaran tersebut, empat aspek keterampilan berbahasa diajarkan yaitu menyimak, mendengar, berbicara dan menulis (Ginting, 2. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut, aspek kebahasaan yang menandai penguasaan seseorang mengasai suatu bahasa seringkali identik dengan bagaimana kemampuan seseorang dalam berbicara (Mustadi, et. , 2. , (Bima and Permulaan 2. Seseorang tidak P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 akan dikatakan mahir dalam sebuah bahasa kedua ketika mereka tidak mampu melakukan komunikasi aktif secara lisan yaitu kemampuan berbicara menggunakan bahasa tersebut. Oleh karena itu, menurut Mardison . bahwa kemampuan berbahasa terutama berbicara pada kelas rendah sekolah dasar adalah sebagai bentuk ekspresi anak atas responnya terhadap sesuatu yang dihadapinya. Maka dari itu, sebagai salah satu tujuan yang penting dalam berbahasa khususnya berbicara pada sekolah dasar (Maulana, 2. , maka dalam penelitian ini mengupayakan alternatif kemampuan berbicara khusus pada aspek kemampuan berbicara pada kompetensi AuMengekspresikan Perasaan Suka Atau Tidak SukaAy. Azmi . 9 menuturkan bahwa kemampuan mengekspresikan perasaan adalah salah satu aspek kemampuan berbicara pada kelas rendah di sekolah dasar yang menjadi salah satu indikator untuk memastikan bahwa keterampilan mengekspresikan perasaan adalah aspek penting yang menunjang keberhasilan berbahasa dalam hal ini adalah Banyak siswa di UPT SD Negeri 123 Banti bahwa pada pokok bahasan mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka khusus di Kelas I yang peneliti ajarkan masih perlu ditingkatkan lagi. Masalah seringkali timbul. Presentase yang tidak tuntas sebesar 60%. Banyak siswa di kelas tersebut adalah 25 orang. Siswa masih belum mampu terutama dalam hal memberikan alasan kepada alasan mengapa ia tidak menyukai sebuah benda atau sesuatu hal. Hal tersebut diperbaiki atau ditingkatkan dengan menerapkan Metode Sharing Session. Metode tersebut sering digunakan untuk mengistilahkan kegiatan negosiasi dengan berbagai tujuan. Menurut Barry, et. AuThe key aspect of the Negotiation course is that it blends elements of Management and Business into negotiation activitiesAy. Lebih lanjut sebagaimana dijelaskan oleh Sipayung, et. bahwa sharing ide-ide perkumpulan untuk memutuskan sesuatu terkait perwujudan tujuan bersama. Sharing Session dapat dijalankan secara berjala atau secara insidental tergantung dari hal-hal yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Rahayu, et. juga menjelaskan bahwa sharing session sebagai bentuk pemecahan masalah atas masalah yang sedang dihadapi dan menampung semua saran dan kemungkinan alternatif yang dilakukan secara bersama untuk tujuan bersama. Untuk itu. Metode Metode Sharing Session merupakan sebuah metode yang digunakan untuk negosiasi . diantara para anggota sebuah perkumpulan untuk mencari alternatif solusi terbaik atas keputusan bersama untuk mencapai tujuan Bersama (Sartika 2. Adapun kartu hitam dan putih di atas sesuai dengan kebutuhan penelitian digunakan sebagai penanda pilihan . yang lebih tegas dalam proses pengambilan keputusan dalam metode sharing session (Nazilaturrahma et al. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Berdasarkan kebutuhan penyelesaian masalah dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka melalui penerapan Metode Sharing Session Dengan Kartu Hitam Atau Putih pada siswa kelas I UPT SD Negeri 123 Banti. METODE PENELITIAN Subjek Penelitian dan Tempat Penelitian Subjek . yang mengikuti tindakan ketika diterapkan Metode Sharing Session Dengan Kartu Hitam Atau Putih sebanyak 25 siswa. Tidak ada aturan dalam pemilihan jumlah semuanya diambil dalam satu kelas besar sehingga semua siswa yang ada di kelas I menjadi subjek penelitian dalam penelitian ini. Siswa laki-laki 9 orang dan Siswi perempuan 16 orang. Waktu Penelitian Pelaksanaan siklus I pada bulan Mei tahun 2025 . iklus I). Semester II tahun ajaran 2024/2025. Indikator yang dilibatkan untuk masalah kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka, diantaranya: Mengungkapkan dalam satu atau dua kalimat perasaan suka atau tidak suka pada benda atau suatu kegiatan. Memberikan alasan mengapa suatu benda atau kegiatan disukai atau tidak disukai. Pelaksanaan lanjutan siklus yaitu pada minggu berikutnya di bulan Mei tahun 2025 . iklus II). Semester II tahun ajaran 2024/2025. Prosedur Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Mengekspresikan Perasaan Suka Atau Tidak Suka Melalui Penerapan Metode Sharing Session Dengan Kartu Hitam Atau Putih diterapkan melalui model penerapan penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. , yang meliputi 4 aspek. Siklus I siklus II Gambar 3. Bagan Pelaksanaan Penelitian (Classrom Action Researc. Bagan di atas menjelaskan bagaimana prosedur penelitian dalam penelitian perbaikan pembelajaran di diterapkan yaitu terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang pada masing-masing aspek tersebut terlaksana dengan uraian di bawah ini: P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Perencanaan. Identifikasi & analisis masalah penelitian, menentukan masalahmasalah penelitian dan di bawah pendampingan tutor menentukan masalah yang paling urgen untuk segera diselesaikan dan sesuai dengan kemampuan peneliti dari segi waktu dan persiapan pelaksanaan. Penentuan alternatif penyelesaian masalah dan menentukan prioritas pemecahan masalah penelitian. Mencari daftar pustaka penelitian yaitu tentang masalah dan solusinya. Kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka melalui penerapan metode sharing session dengan kartu hitam atau putih. Membuat definisi tentang variabel ukuran. Definisi dibuat dengan Kemampuan mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka. Indikator juga merujuk pada kurikulum KI dan KD yang termasuk dalam masalah. Memulai menyusun lembar Lembar pengamatan untuk mengukur performa siswa sesuai indikator. Membuat lembar pengamatan dengan rubrik ukuran setiap skala pengukuran Pelaksanaan. Pemantapan persiapan fiskal, administrasi dan prosedur. Koordinasi kepala sekolah, teman sejawat dan tutor. Pembagian tugas teknis. Pelaksanaan tindakan yaitu meliputi: Pendahuluan terdiri dari kegiatan Membuka pelajaran . oa, absensi, mood stabilizin. Mengevaluasi pelajaran sebelumnya . ecara umum, gambaran besa. Mengelaborasi pengetahuan awal siswa . anya jawab, qui. Membagi siswa secara merata dalam kelompok- kelompok . intar, sedang, kuran. Menyiapkan gambar benda-benda yang akan menjadi sasaran utaraan perasaan siswa . uka, tidak suk. dan Mendiskusikan peran siswa dalam kelompok . orang peran penunjuk gambar, 3 orang peran peserta pengutara perasaan, dan 1 orang peran Sementara itu pada kegiatan inti yaitu . ertemuan 1 dan 2 untuk indikator Aumengungkapkan dalam satu atau dua kalimat perasaan suka atau tidak suka pada benda atau suatu kegiatanAy dan Aumemberikan alasan mengapa suatu benda atau kegiatan disukai atau tidak disukaiAy dilaksanakan dengan langkah: Setiap kelompok bersiap. Guru mengarahkan sesuai kesepakatan kelompok pada kegiatan pendahuluan pembelajaran. Guru mengarahkan memulai maisng-masing peran 1 orang peran penunjuk gambar, 3 orang peran peserta pengutara perasaan . emegang kartu putih suka/hitam tidak suk. , dan 1 orang peran pengarah. Guru mngontrol, kelling memastikan setiap peran berjalan dengan semestinya. Guru mengganti peran agar seluruh anggota kelompok merasakan peran yang berbeda-beda dan Guru bersama pengamat menilai performa siswa . nstrumen pengamata. Sementara itu pada kegiatan Penutup melakukan menyimpulkan dan menguatkan. Mengevaluasi menyeluruh. Bertanya jawab. Absensi. Berdoa dan Pulang. Pengamatan. Pengamatan bersama dengan peneliti dan teman sejawat. Menggunakan lembar pengamatan. Identifikasi butir dan performa . esuai ukura. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Menganalisis dan menyimpulkan. Menentukan jumlah tuntas dan tidak tuntas. Menyimpulkan ketuntasan siklus . esuai kkm individual/klasika. Selanjutnya Refleksi melihat bagaimana Kelebihan. Kekurangan. Respon siswa. Hal unik dan Perbaikanperbaikan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu menggunakan statistik deskriptif. Langkah analisis data seperti membuat ukuran indikator sehingga dapat diukur melalui pengamatan. Membuat skala pengamatan. Menentukan cara analisis dalam hal ini penelitian menggunakan teknik deskriptif. Memulai menganalisis. Kkm individual yaitu apabila siswa mendapatkan skor total antara 2 Ae 3 . belum tuntas individual. Apabila siswa mendapatkan skor total antara 3 Ae 4 . urang ekspresi. belum tuntas individual. Apabila siswa mendapatkan skor total antara 5 Ae 6 . elum ekspresi. tuntas individual, dan Kkm klasikal. 80% . PEMBAHASAN Siklus I Waktu pelaksanaan Pelaksanaan siklus I pada bulan Mei tahun 2025 . iklus I). Semester II tahun ajaran 2024/2025. Pelaksanaan lanjutan siklus yaitu pada minggu berikutnya di bulan Mei tahun 2025 . iklus II). Semester II tahun ajaran 2024/2025. Indikator meningkatkan kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka yaitu . Mengungkapkan dalam satu atau dua kalimat perasaan suka atau tidak suka pada benda atau suatu kegiatan dan . Memberikan alasan mengapa suatu benda atau kegiatan disukai atau tidak disukai. Pada pelaksanaan tindakan, inti pembelajaran yang diterapkan sesuai pelaksanaan yaitu. setiap kelompok bersiap, guru mengarahkan sesuai kesepakatan kelompok pada kegiatan pendahuluan pembelajaran, guru mengarahkan memulai maisng-masing peran 1 orang peran penunjuk gambar, 3 orang peran peserta pengutara perasaan . emegang kartu putih suka/hitam tidak suk. , dan 1 orang peran pengarah, guru mngontrol, kelling memastikan setiap peran berjalan dengan semestinya, guru mengganti peran agar seluruh anggota kelompok merasakan peran yang berbeda-beda, dan guru bersama pengamat menilai performa siswa . nstrumen Metode sharing session dengan kartu hitam atau putih terlaksana dengan melibatkan siswa sejumlah 25 orang, dalam aktifitasnya 21 orang siswa aktif mengikuti pembelajaran dan 4 siswa belum aktif yaitu perlu dilibatkan lagi agar benarbenar aktif dalam pembelajaran. Kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka yaitu siswa tuntas sebanyak 20 yaitu sekitar 80% untuk indikator 1 dan 15 sekitar 60% untuk Sebagaimana dapat dilihat secara rinci pada tabel di bawah ini: P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Tabel 1. Hasil Penelitian Siklus I Indikator I Siklus Siswa Tuntas Indikator II Siswa Tidak Tuntas Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas Siswa secara umum . %) telah mampu menunjukkan kartu hitam untuk sesuatu yang tidak disukainya, sebaliknya kartu putih untuk sesuatu yang disukainya. Siswa kebanyakan belum tuntas pada indikator kedua yakni menguraikan alasan kenapa ia tidak menyukai sesuatu yang ditunjukkan melalui media gambar . atau video . yang ditunjukkan oleh guru kepadanya ketika pelaksanaan Siswa komunikasi kebahasaan dalam memilih apa yang tidak disukainya atau yang disukainya secara tegas. Ketika guru memperlihatkan gambar beberapa benda, seperti pakaian atau sepatu maka jenis pakaian atau warna sepatu yang disukai secara tegas dinyatakan AuYaAy atau AuTidakAy dengan kartu penyerta misal hitam atau putih. Kata AuYaAy berarti suka dan AuTidakAy berarti tidak suka. Kemampuan mendeskripsikan jawaban masih sebatas hal tersebut, sangat 60% siswa belum mampu mengurai alasan membuat pilihan. Mampu mengiyakan dengan tegas tetapi belum lancar atau belum mampu memberikan alasan kenapa hal tersebut menjadi responnya. Dari hasil analisis terhadap proses belajar mereka . ara sisw. , secara umum kondisi siswa terkait dengan kemampuan komunikasinya yang masih kurang. Melekatnya bahasa ibu menjadi penyebab utama, kosakata Bahasa Indonesia yang masih kurang. Kurangnya kosakata membuat siswa lama dan terbata-bata ketika memberikan alasannya. Hal tersebut terbukti Ketika diarahkan untuk menguraikan dalam bahasa daerah maka mereka . ara sisw. melakukannya dengan sedikit lebih lancar. Selain masalah Aubahasa ibuAy, juga berhubungan langsung dengan masalah tingkat kepercayaan diri. 40% siswa yang mampu mendeskripsikan alasannya yaitu memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik. Jadi, kepercayaan diri perlu diperhatikan bagaimana cara meningkatkannya di siklus II menjadi pekerjaan rumah besar bagi peneliti untuk menjalan tindakan pada siklus selanjutnya. Kemudian, hal yang masih menjadi kendala adalah guru pada kenyataannya perlu seorang tutor sebaya, yaitu siswa yang lebih mampu dari temannya dari aspek Peneliti memperhatikan kerja kelompok dan kerjasama antar indivividu memperlihatkan siswa seperti AulumayanAy lancar dalam berkomunikasi, meskipun ada campur bahasa yaitu bahasa ibu dan Bahasa Indonesia. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Menunjuk dan menentukan siswa yang lancar yang dianggap tuntas dalam pembelajaran menjadi tutor sebaya dan mendampingi setiap kelompok yang berisi siswa yang belum tuntas . %). Mengurangi /mentransisikan bahasa ibu ke Bahasa Indonesia dengan dialog terpartner yaitu berdialog dengan teman yang menjadi tutor sebaya menggunakan bahasa campuran . ahasa ibu dan Bahasa Indonesi. terhadap sebuah topik yang dirasa paling mudah oleh siswa . emilih topik sendir. dari gambar benda atau video yang disiapkan oleh peneliti atau dengan pilihannya sendiri. Mensekenariokan siswa dalam dialog terkonsep seperti drama sederhana dimana siswa menghafalkan dialog Bahasa Indonesia yang akan diucapkan. Mencoba memancing dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dengan mengungkap alasan memilih ya atau tidak dengan bahasa daerah terlebih dahulu baru kemudian Bahasa Indonesia. Menambahkan konten-konten disenanginya untuk dikomentari seperti video kartun dan semacamnya. Siklus II Waktu pelaksanaan Pelaksanaan siklus II pada bulan Mei tahun 2025 . iklus II). Semester II tahun ajaran 2024/2025. Waktu pelaksanaan siklus II merupakan lanjutan dari siklus I. Indikator di siklus II yaitu berhubungan dengan masalah kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka yaitu . Mengungkapkan dalam satu atau dua kalimat perasaan suka atau tidak suka pada benda atau suatu kegiatan dan . Memberikan alasan mengapa suatu benda atau kegiatan disukai atau tidak Indikator tersebut sama dengan indicator sebelumnya pada siklus I. Pada pelaksanaan tindakan siklus II, inti pembelajaran yang diterapkan sesuai perencanaan dan perbaikan siklus I . ekurangan pada siklus I), yaitu. setiap kelompok bersiap, guru pembelajaran, guru mengarahkan memulai masing-masing peran 1 orang peran penunjuk gambar, 3 orang peran peserta pengutara perasaan . emegang kartu putih suka/hitam tidak suk. , dan 1 orang peran pengarah, guru mngontrol, keliling memastikan setiap peran berjalan dengan semestinya. Peran ini diganti dengan tutor sebaya yang lebih mampu dari aspek penguasaan indikator pada siklus I. Guru tetap dengan upaya penggantian peran dengan tujuan agar seluruh anggota kelompok merasakan peran yang berbeda-beda, dan guru bersama pengamat menilai performa siswa . nstrumen pengamata. Dalam kegiatan inti, seperti hasil refleksi sarankan bahwa guru mengurangi /mentransisikan bahasa ibu ke Bahasa Indonesia dengan dialog terpartner yaitu berdialog dengan teman yang menjadi tutor sebaya menggunakan bahasa campuran . ahasa ibu dan Bahasa Indonesi. terhadap sebuah topik yang dirasa paling mudah oleh siswa . emilih topik sendir. dari gambar benda atau video yang disiapkan oleh peneliti atau dengan pilihannya sendiri. Selain itu, guru juga mensekenariokan siswa dalam dialog terkonsep seperti drama sederhana dimana siswa menghafalkan dialog Bahasa Indonesia yang akan diucapkan. Guru juga P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 mencoba memancing dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dengan mengungkap alasan memilih ya atau tidak dengan bahasa daerah terlebih dahulu baru kemudian menggunakan Bahasa Indonesia. Guru juga tidak lupa menambahkan konten-konten video yang disenanginya untuk dikomentari seperti video kartun dan semacamnya. Tabel 2. Hasil Penelitian Siklus II Siklus Indikator I Siswa Tidak Siswa Tuntas Tuntas Indikator II Siswa Tidak Siswa Tuntas Tuntas Metode sharing session dengan kartu hitam atau putih terlaksana dengan melibatkan siswa sejumlah 25 orang, dalam aktifitasnya 21 orang siswa aktif mengikuti pembelajaran dan 4 siswa belum aktif yaitu perlu dilibatkan lagi agar benar-benar aktif dalam pembelajaran. Kemampuan siswa mengekspresikan perasaan suka atau tidak suka yaitu siswa tuntas sebanyak 23 yaitu sekitar 92% untuk indikator 1 serta 20 sekitar 80% untuk indikator 2. Perjalanan siklus II berjalan sesuai harapan. Banyaknya perbaikan yang dilakukan misal menunjuk siswa yang mampu menjadi tutor sebaya, adanya peningkatan percaya diri siswa, adanya dialog terkonsep sebelum menarasikan alasan memilih yang siswa suka sangat memberikan dampak terhadap hasil belajar Untuk kekurangan pada siklus II secara umum semuanya meningkat pada siklus II ini. Sebagai catatan penting peneliti perlu menyarankan agar partisipasi siswa lebih ditingkatkan lagi. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode sharing session secara mengekspresikan perasaan melalui pantun. Namun, proses pencapaiannya tidak sertamerta berlangsung mulus, terutama dalam perbedaan tingkat ketuntasan antara indikator dan antar siklus. Siklus I siswa tuntas yaitu pada indikator 1 mencapai 80% dan siklus 2 mencapai Ada 20% pada indikator 1 belum tuntas dan ada 40% siklus II belum tuntas. Tingginya angka ketidaktuntasan terutama pada indikator 2 disebabkan karena masih belum percaya dirinya siswa, kosakata yang masih sedikit, serta bahasa daerah yang masih tinggi pengunannya dalam kelas. Untuk masalah tersebut maka peneliti menetapkan sejumlah peran baru pada kegiatan pembelajaran yaitu dengan menetapkan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah siswa yang lebih mampu dari aspek penguasaan indikator pada siklus I. Guru pada siklus II tetap dengan upaya penggantian peran dengan tujuan agar seluruh anggota kelompok merasakan peran P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 yang berbeda-beda, dan guru bersama pengamat menilai performa siswa . nstrumen Dalam kegiatan inti, seperti hasil refleksi sarankan bahwa guru mengurangi /mentransisikan bahasa ibu ke Bahasa Indonesia dengan dialog terpartner yaitu berdialog dengan teman yang menjadi tutor sebaya menggunakan bahasa campuran . ahasa ibu dan Bahasa Indonesi. terhadap sebuah topik yang dirasa paling mudah oleh siswa . emilih topik sendir. dari gambar benda atau video yang disiapkan oleh peneliti atau dengan pilihannya sendiri. Kombinasi bahasa memungkinkan siswa bertransisi lebih mulus dan siswa terbiasa secara pelan-pelan beralih bahasa dari bahasa ibu ke Bahasa Indonesia. Selain itu, guru juga mensekenariokan siswa dalam dialog terkonsep seperti drama sederhana dimana siswa menghafalkan dialog Bahasa Indonesia yang akan diucapkan. Menghafal dialog sesuai dengan teori kognitifnya Bloom . bahwa pada tingkatan kognitif manusia mengawali pemahaman dengan hafalan terlebih dahulu. Jadi, untuk memksimalkan kemampuan siswa dalam mengekspresikan kesukaannya . maka dibutuhkan pengetahuan terlebih dahulu baru pemahaman terhadap konteks dan situasi berbicara dan sosial. Guru juga mencoba memancing dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dengan mengungkap alasan memilih ya atau tidak dengan bahasa daerah terlebih dahulu baru kemudian menggunakan Bahasa Indonesia. Hal ini juga masalah transisi dan kebiasaan. Guru tidak hanya dalam penelitian ini, dalam kesehariannya harus mengurangi penggunaan bahasa daerah pada anak pelan-pelan diganti dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pembelajaran dalam kelas sehingga siswa lebih Dalam menyulut emosi dan aspek entertain dalam berkomunikasi, maka guru juga tidak lupa menambahkan konten-konten video yang disenanginya untuk dikomentari seperti video kartun dan semacamnya. Hal tersebut pada siklus II menjadi mengekspresikan kesukaannya dan mampu menarasikan alasannya dalam memilih. Secara keseluruhan, metode sharing session yang dikombinasikan dengan strategi transisi bahasa, tutor sebaya, dialog terkonsep, dan konten yang menarik terbukti mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengekspresikan perasaan melalui Hal ini selaras dengan pandangan Vygotsky . tentang pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan bahasa dan emosional anak, serta teori pembelajaran kognitif Bloom . mengenai tahapan penguasaan keterampilan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode sharing session terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa kelas IV UPT SD Negeri 123 Banti dalam mengekspresikan perasaan melalui pantun. Melalui kegiatan berbagi pengalaman. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 perasaan, dan ide secara terbuka, siswa menjadi lebih percaya diri dan mampu menuangkan emosinya ke dalam bentuk pantun dengan lebih ekspresif dan kreatif. Peningkatan ini bisa terlihat dari perubahan sikap siswa yang lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, meningkatnya kualitas pantun yang dihasilkan, serta adanya perkembangan dalam aspek penggunaan bahasa, imajinasi, dan ketepatan dalam menyampaikan perasaan. Dengan demikian, metode sharing session dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran pantun, khususnya dalam aspek ekspresi perasaan siswa. DAFTAR PUSTAKA