Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship Kontribusi Soft Skill dalam Mengembangkan Kepercayaan Diri Siswa Ahmad Sholihin1, Heri Kurnia2*, Joko Wahono3 1,3Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP, Universitas Cokroaminoto Yogyakarta 2Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP, Universitas Pamulang Korespondensi Email: dosen03087@unpam.ac.id Abstract Self-confidence is an important aspect during senior high school. Because self-confidence is related to better academic performance, positive social involvement, and readiness to enter the workforce or higher education. However, in reality, some students feel insecure both at school and outside of school. Therefore, this research answers whether these two variables are relevant. This research aims to find out how much soft skills contribute to the development of self-confidence in students using quantitative descriptive methods at SMA Negeri 7 Yogyakarta from April to May 2024 involving 158 students as samples taken using simple random sampling techniques using the program SPSS version 23 as a tool for processing data. Based on the results of hypothesis testing, show that the independent variable is proven to contribute significantly to the dependent variable, which means that there is a positive contribution between students' mastery of soft skills and students' self-development, which has implications for the need to master soft skills to support the achievement of students who have strong character. It is hoped that mastery of soft skills will be supported by all parties, including teachers, schools, and parents. Keywords: confident; education; soft skill. Abstrak Kepercayaan diri merupakan aspek penting pada masa pendidikan sekolah menengah atas (SMA), karena kepercayaan diri berhubungan dengan performa akademis yang lebih baik, keterlibatan sosial yang positif, serta kesiapan untuk memasuki dunia kerja atau pendidikan tinggi. Namun kenyataannya terdapat siswa yang merasa tidak percaya diri baik saat di lingkup sekolah maupun di luar lingkup sekola. Oleh karena itu, penelitian ini menjawab ada tidaknya relevansi dari dua variabel tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar kontribusi soft skill terhadap pengembangan kepercayaan diri pada siswa dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan di SMA Negeri 7 Yogyakarta pada bulan April hingga Mei 2024 dengan melibatkan 158 siswa sebagai sampel yang diambil menggunakan teknik simple random sampling dengan menggunakan program SPSS versi 23 sebagai alat dalam mengolah data. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa variabel independen terbukti berkontribusi secara signifikan terhadap variabel dependen yang berarti terdapat kontribusi yang positif antara penguasaan soft skill pada siswa terhadap pengembangan diri siswa yang berimplikasi pada perlunya penguasaan soft skill untuk mendukung tercapainya siswa yang memiliki karakter yang kuat. Diharapkan penguasaan soft skill didukung oleh semua pihak baik dari guru, sekolah, dan orang tua. Kata-kata kunci: kepercayaan diri; pendidikan; soft skill. Pendahuluan 125 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship Kepercayaan diri berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak karena melalui kepercayaan diri, anak dapat menguasai beragam hal dengan keahlian yang dia kuasai. Seiring dengan perkembangan zaman, seoran siswa dituntut untuk menguasasi hard skill dan juga soft skill karena dengan menguasai kedua hal tersebut, diharapkan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri seorang siswa sehingga mereka percaya kepada kemampuan yang mereka miliki, mampu menyelesaikan masalah yang terjadi hingga dapat berperan pada setiap aspek kehidupan yang mereka jalani. Namun realita yang terjadi adalah masih banyak kasus siswa dengan kepercayaan diri yang rendah pada sekolah menengah. Sebagai contoh terdapat studi kasus yang termuat didalam jurnal student Universitas Negeri Yogyakarta pada 2019, yang berisi bahwa ketika salah satu siswa dengan inisial AY diajukan pertanyaan, siswa tersebut menjawab dengan suara yang lirih dan cenderung tidak jelas sehingga guru harus mendekat untuk bisa mendengar jawaban AY. Berdasarkan hal tersebut, ditunjukkan bahwa AY tidak merasa percaya diri sehingga seharusnya AY mendapatkan kegiatan untuk memperbaiki soft skill supaya dapat menyelesaikan beragam permasalahan yang terjadi kelak. Menurut Wardani (2019) dalam penelitiannya, menjelaskan bahwa emosi terkait kepercayaan diri yang rendah mempengaruhi kecenderungan untuk bunuh diri. Remaja diharapkan mendapat manfaat dari peningkatan rasa percaya diri. Namun, ketika ide bunuh diri sering terjadi, hal itu kemungkinan terjadi sebagai respons otomatis terhadap pengalaman sulit yang dialami oleh individu. Oleh karena itu hubungan langsung antara kepercayaan diri dengan bunuh diri lebih mudah diidentifikasi pada masa remaja, ketika individu sering mengembangkan ide bunuh diri untuk pertama kalinya. Berdasarkan data dari Data WHO (World Health Organization) pada tahun 2019 secara global 19,8% sampai 24% remaja mempunyai pengalaman ide bunuh diri dan 3,1 % sampai 8,8% remaja melakukan percobaan bunuh diri, pada remaja dan dewasa muda antara usia 15 dan 29 tahun dan terlebih lagi, di antara remaja usia 15 hingga 19 tahun, bunuh diri telah menjadi penyebab ketiga kematian secara global. Kasus bunuh diri semakin banyak terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia (Polri), sebanyak 640 kasus bunuh diri terjadi sejak Januari hingga Juli 2023. Jumlah ini meningkat 31,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 486 kasus. Melihat trennya, kejadian bunuh diri cenderung meningkat sejak Desember 2018 hingga Juli 2023. Peristiwa tersebut paling banyak terjadi pada Juni 2023, yaitu 111 kasus. Menurut artikel yang dikutip dari laman Kemetrian Kesehatan Republik Indonesia, Sebanyak 55% orang dengan depresi memiliki ide bunuh diri. Depresi ditandai dengan adanya perasaan sedih, murung dan iritabilitas. Pasien mengalami distorsi kognitif seperti mengkritik diri sendiri, timbul rasa menyalahkan diri sendiri, perasaan tidak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis dan putus asa. Dengan melihat situasi tersebut, permasalahan diatas sebenarnya bisa dikurangi secara personal dimana salah satu indikator depresi yakni kurangnya rasa kepercayaan diri bisa di latih pada setiap remaja guna mejadikannya fondasi dalam memiliki mental yang sehat. Percaya diri merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang untuk melakukan dan menyelesaikan 126 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship tugas terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Deni & Ifdil, (2016) menerangkan bahwa percaya diri adalah modal dasar seorang anak manusia dalam memenuhi kebutuhan sendiri. Percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan potensi diri. Dengan percaya diri orang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri. Sehingga anak dapat menghadapi permasalahan yang dihadapi. Anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi mempunyai keberanian dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya seperti berani maju didepan kelas untuk mengerjakan tugas dari guru ataupun berani bercerita. Anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi mempunyai ciri mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, mudah bergaul dengan teman dan mudah akrab, memiliki banyak teman karena keberadaannya disukai oleh temannya, tampil menonjol dibandingkan dengan yang lain, berani tampil dimuka umum, berbicara dengan jelas dan mudah dimengerti, dan memiliki citacita. Percaya diri penting untuk beradaptasi dilingkungan baru terlebih saat anak sudah masuk ke sekolah, anak harus menghadapi banyak tantangan baik di rumah atau di sekolah. Anak akan menghadapi situasi baru seperti bertemu dengan teman baru dan guru baru (Riyadi, 2019). Realita yang terjadi di sekolah menengah yang masih terdapat kasus siswa dengan kepercayaan diri yang rendah. Perilaku yang mencerminkan rendahnya kepercayaan diri ini terlihat dilingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat. Ii (2016) menyatakan bahwa penerapan proses pembelajaran yang tidak mengembangkan potensi anak menjadi pemicu rendahnya kepercayaan diri anak. Sebagai contoh, guru sering menitikberatkan pada akademik sehingga mengabaikan kemampuan anak yang lain, seperti kepercayaan diri. Sehingga kurangnya dukungan untuk mengembangkan rasa percaya diri yang dimiliki anak dapat melunturkan rasa kepercayaan diri yang dimiliki oleh anak. Sayangnya rasa percaya diri yang ada pada saat kecil bisa luntur karena adanya faktor lingkungan. Contohnya seperti adanya larangan dari orangtua, mencela perbuatannya, atau menjelek-jelekkan membuat anak-anak jadi menjaga tindakan mereka. Selain kasus tersebut terdapat permasalahan yang terjadi akibat tidak percaya diri saat mengerjaan ujian, akibatnya banyak siswa yang mendapatkan nilai yang rendah dalam ujian Billfadawi (2023) mengatakan siswa yang mempunyai rasa percaya diri di sekolah akan berani bertanya kepada guru tentang hal-hal yang dirasa belum dipahami. Sebagai contoh terdapat studi kasus yang termuat didalam jurnal student Universitas Negeri Yogyakarta pada 2019, yang berisi bahwa ketika salah satu siwa saat diberikan pertanyaan oleh guru, siswa AY menjawab dengan sangat lirih dan tidak jelas. Guru harus mendekat supaya bisa mendengarnya. Hal tersebut menunjukan bahwa AY kurang percaya diri. Berdasarkan pendapat Susanti (2015) yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai rasa percaya diri adalah berani tampil dimuka umum dan berbicara dengan jelas dan mudah dimengerti. Dengan demikian kepercayaan diri merupakan salah satu faktor kunci yang memengaruhi prestasi akademik, perkembangan pribadi, dan persiapan siswa untuk masa depan. Kepercayaan diri yang tinggi memungkinkan siswa untuk lebih percaya pada kemampuan mereka, mengatasi 127 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship hambatan, dan berpartisipasi aktif dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, banyak siswa mengalami tantangan dalam mengembangkan kepercayaan diri yang kuat (Salsabiela & Wardani, 2019). Melihat kondisi zaman sekarang, pendidikan bukan hanya tentang penguasaan materi akademik semata, tetapi juga melibatkan pengembangan berbagai keterampilan lunak atau soft skill yang esensial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian memiliki kepercayaan diri merupakan salah satu soft skill kunci yang memainkan peran penting dalam memandu individu menuju kesuksesan pribadi dan profesional. Manfaat yang di dapat jika seorang siswa memiliki kepercayaan diri adalah sikap positif dan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Menurut Sundararajan (2019) soft skill didefinisikan sebagai sikap personal maupun interpersonal yang dapat mempengaruhi serta memaksimalkan performa seseorang seperti kepercayaan diri, fleksibilitas, kejujuran juga integritas. Dalam konteks pendidikan, penting untuk memahami bagaimana pengembangan soft skill, seperti komunikasi, kerjasama, dan kritis dalam berpikir, dapat memengaruhi kepercayaan diri siswa. Hal ini ditunjukan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara tidak terstruktur yang dilakukan di SMA Negeri 7 Yogyakarta, bahwa peneliti menemukan fenomena dimana para siswa sangat tidak percaya diri dengan diri mereka sendiri Selain itu, berdasarkan penuturan beberapa siswa terdapat masalah di dalam kegiatan belajar mengajar seperti tidak percaya diri dan cenderung pasif karena tidak ada motivasi yang tumbuh dari dalam siswa itu sendiri. Hal ini dikarenakan minimnya literasi dan pemahaman siswa terkait bagaimana cara menumbuhkan rasa kepercayaan diri dan kurangnya perhatian dari sekolah terkait masalah ini membuat permasalahan ini tidak kunjung selesai. Berdasarkan pernyataan di atas, muncul pertanyaan bahwa berapa besar kontribusi soft skill terhadap perkembangan kepercayaan diri pada siswa SMA? Sejauh ini studi tentang konribusi soft skill terhadap aspek pengembangan diri sudah ada, tapi minim ditemukan hasil penelitian khusus yang membahas tentang pengembangan kepercayaan diri individu. Meski demikian, banyak ditemukan relevansi dari hasil penelitian sebelumnya sebagai contoh penelitian yaitu pada penerapan soft skill guna meningkatkan efektivitas karyawan dalam bekerja di suatu perusahaan (Rokhayati, Kambara, dan Ibrahim 2017). Dengan melihat fenomena tersebut peneliti menyimpulkan bahwa masih rendahnya penguasaan soft skill pada siswa sehingga menimbulkan rasa ketidakpercayaan diri pada siswa. Senada dengan Amri (2018) bahwa siswa yang memiliki kepercayaan diri mampu menyelesaikan masalah, mengambil inisiatif, dan berinteraksi secara positif dengan orang lain. Selain itu, kepercayaan diri berperan penting dalam meningkatknya kemampuan akademik dan berkomunikasi. Penelitian selanjutnya oleh Agustina, Sudarwanto, dan Naiyiroh (2024) mengenai adanya hubungan antara kepercayaan diri dengan soft skill perihal komunikasi. Berdasarkan penelitian tersebut, dinyatakan bahwa terdapat korelasi yang esensial antara kemampuan berkomunikasi dan kepercayaan diri para peserta didik. berdasarkan hasil mempelajari aspek komunikasi. Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa program pendidikan harus menyediakan kesempatan bagi siswa untuk 128 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship meningkatkan soft skill, termasuk kepercayaan diri agar dapat berdampak positif pada prestasi akademik dan kesiapan untuk menghadapi tantangan di dunia nyata. Penelitian ini membatasi ruang lingkup penelitian bahwa lokasi penelitian adalah SMA Negeri 7 Yogyakarta pada semester genap dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XII (dua belas), dengan membahas 5 poin pada ruang lingkup soft skill, yaitu komunikasi, kepemimpinan, penyelesaian masalah, kerjasama, dan kreativitas serta Penelitian ini tidak menggali faktor eksternal seperti dukungan orang tua atau pengaruh teman sebaya yang dapat memengaruhi perkembangan soft skill dan kepercayaan diri dengan hipotesa terdapat kontribusi yang signifikan pada pengembangan kepercayaan diri pada siswa. Penelitian sebelumnya banyak membahas soft skill secara umum dalam konteks akademik atau dunia kerja. Namun, penelitian ini secara khusus mengeksplorasi seberapa besar kontribusi soft skill seperti komunikasi, empati, kerjasama, dan pengendalian emosi terhadap pengembangan kepercayaan diri siswa di lingkungan sekolah. Kebaruan muncul dari penggunaan instrumen skala likert terstandar yang mengukur soft skill dan kepercayaan diri secara paralel, sehingga mampu menunjukkan hubungan dan pengaruhnya dalam bentuk data statistik yang akurat dan terukur (misalnya uji regresi linier atau korelasi Pearson). Novelty juga ditemukan dalam penekanan bahwa soft skill bukan hanya pelengkap pembelajaran, tetapi bagian dari kompetensi abad 21 yang berpengaruh pada pembentukan karakter percaya diri siswa dalam menghadapi tantangan akademik, sosial, dan teknologi. Meskipun soft skill sangat penting dalam menunjang kepercayaan diri bagi siswa, Namun hanya sedikit penelitian yang menginvestigasi hubungan konkret antara pengembangan soft skill dan kepercayaan diri siswa Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa mengenai seberapa besar kontribusi soft skill terhadap pengembangan kepercayaan diri pada siswa. Dengan memahami dan menganalisis korelasi antara pengembangan soft skill dan kepercayaan diri, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai peran pendidikan yang dapat berkontribusi terhadap kesiapan para siswa dalam menghadapi kehidupan dengan percaya diri sehingga membantu para siswa meraih kesuksesan di masa depan. Metode Lokasi penelitian berada di SMA Negeri 7 Yogyakarta yang beralamat di Jl. MT. Haryono No. 47, Suryodiningratan, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta karena memiliki keberagaman dalam segi akademis, budaya dan sosial yang relevan terhadap hubungan antara pengembangan soft skill dan peningkatan kepercayaan diri. Selain itu, Keterbukaan dan antusiasme dari pihak sekolah serta partisipasi siswa dalam penelitian membantu untuk mengumpulkan data secara menyeluruh. Penelitian dilakukan pada rentang antara bulan Januari 2024 sampai dengan bulan Juli 2024 dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar kontribusi soft skill terhadap pengembangan kepercayaan diri siswa SMA Negeri 7 Yogyakarta. Yang berdasarkan teknik pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan dua 129 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship data yang dihasilkan, yaitu data kuantitatif berdasarkan hasil angket atau kuisioner sebagai data utama, dan data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi sebagai data penunjang. Jumlah populasi yang terlibat adalah 287 siswa kelas XII SMA Negeri 7 Yogyakarta. Sampel tersebut diambil menggunakan teknik simple random sampling, (Lemeshow dan Ferketich 2020) dengan menggunakan metode pengambilan sampel menurut tabel Harry King karena besar sampel yang digunakan mampu mempresentasikan populasi tergantung pada taraf kepercayaan (convidence level) dan taraf kesalahan (significance level) yang dikehendaki oleh peneliti. Penelitian ini melibatkan 155 siswa dengan instrumen pengumpulan data melibatkan proses observasi yang terfokuskan pada siswa SMA kelas XII untuk mengetahui letak geografis sekolah, sarana dan prasarana yang ada di sekolah (Hartono 2018). Tahap selanjutnya adalah wawancara menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur kepada subjek penelitian yaitu para siswa kelas XII (dua belas) dan menggunakan kuisioner teknik pengukuran skala likert. Dalam penelitian skala likert, instumen pernyataan penelitian hanya menggunakan satu jenis pilihan jawaban. Pada variabel X (Soft skill) dan Y ( Kepercayaan Diri ) menggunakan lima pilihan alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (ST) dengan skor 5, Setuju (S) dengan skor 4, Netral (N) dengan skor 3, Tidak Setuju (TS) dengan skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) dengan skor 1. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini mencakup teknik deskriptif statistik dan regresi linier sederhana. Analisis deskriptif digunakan untuk menguraikan karakteristik variabel yang terlibat, sementara regresi linier sederhana digunakan untuk menguji hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini, menjadi dasar penarikan kesimpulan menggunakan aplikasi pengolahan data SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 23. Hasil dan Diskusi SMA Negeri 7 Yogyakarta adalah sekolah yang berstatus negeri, dalam hal ini walaupun sekolah memiliki status negeri sekolah tetap melestarikan budaya daerah Jawa dengan baik, terlihat dalam penggunaan ornamen atau fasilitas sekolah yang dilengkapi dengan penandaan ruangan menggunakan tulisan Jawa atau sering juga disebut dengan aksara Jawa, hal tersebut dapat menandakan adanya pelestarian budaya dan pengenalan budaya melalui tulisan Jawa pada siswa. Kemudian selain itu sekolah juga memiliki fasilitas ruangan yaitu bangsal yang terletak di tengah bagian gedung sekolah, pada bagian dalam bangsal tersebut memiliki fasilitas berupa alat musik karawitan. Bentuk bangunan bangsal di sekolah menggambarkan bangunan khas Rumah Adat Joglo. SMA Negeri 7 Yogyakarta termasuk sekolah berbasis budaya yang dapat terlihat dengan penerapan dan pembiasaan siswa dalam bentuk pelestarian budaya dan tanggung jawab sebagai masyarakat Jawa. Bentuk pelestarian ini adalah ikut serta dalam menggunakan pakaian tradisional adat Jawa di setiap hari Kamis dan weton pahing, dalam hal ini, Kamis Pahing merupakan hari saat keraton jogja didirikan, yaitu 130 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship semenjak dipindahkannya dari Pesanggrahan Ambarketawan menuju lokasi keraton saat ini (Saraswati 2022). Terkait dengan hal itu, SMA Negeri 7 Yogyakarta berperan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berfungsi menyelaraskan kondisi budaya setempat dengan perkembangan hidup di zaman globalisasi yang tak terbatas. Hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 pasal 1 bahwa pendidikan adalah usaha untuk menciptakan suasana serta pengembangan pembelajaran supaya para siswa dapat meningkatkan kemampuan sehingga memiliki kapasitas dari beragam aspek seperti spiritual, kontrol diri, kecerdasan, perilaku yang baik, dan keterampilan yang diperlukan oleh diri sendiri, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hasil pengamatan dan interaksi yang dilakukan dengan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang ada di SMA Negeri 7 Yogyakarta tersebut, peneliti telah mengkategorikan beberapa soft skill yang berhubungan dengan kepercayaan diri pada siswa atau dalam istilahnya adalah (Interpersonal Skill) yakni: komunikasi (communication), kepemimpinan (leadership), penyelesaian masalah (problem solving), kerjasama (teamwork), dan kreatifitas (creativity). Dimana soft skill tersebut merupakan skill yang dibutuhkan dalam interaksi dan dalam pergaulan sosial yang mana sangat berperan dalam membangun rasa kepercayaan diri siswa. Kecakapan interpersonal dan soft skill telah menjadi aspek yang semakin krusial dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya dalam pendidikan. Pendidikan tidak hanya sebatas pemberian pengetahuan akademik, tetapi juga harus membantu siswa mengembangkan kemampuan-kemampuan sosial dan emosional yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di dunia nyata. Namun terdapat beberapa siswa di kelas XII SMA Negeri 7 Yogyakarta yang belum menerapkan kecakapan interpersonal dan soft skill yang menunjukan bahwa dibutuhkannya pembentukan serta pengembangan soft skill dari pihak sekolah. Salah satu temuan selama kegiatan observasi ialah ditemukannya bahwa para siswa disana ialah minimnya keterampilan komunikasi, ketika dilakukan pengamatan di kelas selama pelajaran berlangsung, banyak siswa yang terlihat enggan berbicara atau bertanya. Ketika diberikan tugas presentasi, mayoritas siswa tampak gugup, berbicara dengan suara pelan, dan sering menghindari kontak mata dengan audiens. Tidak sampai disitu saja, wawancara tidak tertulis dengan guru dimana guru tersebut mengungkapkan bahwa hanya sedikit peserta didik yang berani mengutarakan pertanyaan dan menyampaikan pendapat di kelas. Hal ini membuat diskusi kelas menjadi kurang dinamis dan interaktif. Tidak sampai disitu saja, fakta di lapangan yang ditemukan peneliti selama observasi ialah terlihat kurangnya kerjasama tim dalam tugas-tugas kelompok, hasil observasi menunjukkan adanya dominasi oleh satu atau dua siswa, sementara anggota kelompok lainnya cenderung pasif dan tidak memberikan kontribusi yang signifikan. Hal ini menyebabkan hasil kerja kelompok tidak optimal dan terjadi ketimpangan dalam pembagian tugas. Dalam wawancara, beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam kerja tim dan lebih memilih bekerja sendiri karena merasa lebih 131 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship nyaman. Siswa merasa kurang percaya diri dalam bekerja sama dengan teman sekelas dan merasa cemas ketika harus berkolaborasi dalam tugas kelompok. Selain permasalahan mengenai komunikasi dan kerjasama antar siswa, terdapat permasalahan lainya sepeti minimnya jiwa kepemimpinan dimana partisipasi siswa dalam organisasi sekolah seperti OSIS, klub, atau kegiatan ekstrakurikuler yang membutuhkan peran kepemimpinan sangat rendah. Dari data yang diperoleh, hanya sekitar 30% siswa yang aktif dalam organisasi tersebut. Guru menilai bahwa minimnya kesempatan dan program untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan di sekolah membuat siswa kurang tertarik untuk mengambil peran pemimpin. Banyak siswa yang merasa tidak siap dan tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Sebagian besar siswa mengakui bahwa mereka tidak memiliki pengalaman dalam posisi kepemimpinan dan merasa tidak percaya diri untuk mengarahkan dan memotivasi teman-teman mereka. Beberapa tersebut menunjukkan bahwa beberapa peserta didik merasa tidak percaya diri dalam situasi sosial dan akademik. Banyak siswa merasa cemas saat berbicara di depan umum atau ketika harus berinteraksi dengan teman sebaya. Hal tersebut didukung dengan kenyataan partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler sangat rendah. Siswa lebih memilih kegiatan yang tidak memerlukan interaksi sosial yang intens, seperti kegiatan seni atau olahraga individu. Dalam kesempatan dialog, beberapa siswa menyatakan bahwa mereka merasa takut gagal dan takut diejek oleh teman-teman mereka, yang membuat mereka menghindari situasi yang membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri. Minimnya soft skill menghambat kesiapan siswa untuk menghadapi dunia kerja atau pendidikan lanjutan. Siswa mungkin kesulitan dalam wawancara kerja, presentasi, atau bekerja dalam tim di masa depan. Hal ini dapat mempengaruhi peluang mereka untuk sukses di luar lingkungan sekolah. Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan beberapa siswa SMA negeri 7 Yogyakarta tentang kontribusi soft skill terhadap pengembangan kepercayaan diri. Saya berkesempatan untuk mewawancarai Andi (nama samaran), seorang siswa SMA Negeri 7 Yogyakarta, untuk mendalami kontribusi soft skill terhadap pengembangan kepercayaan diri. Andi, seorang siswa kelas 12 yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, dengan antusias menceritakan pengalamannya. Dalam pandangan Andi, soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan kerjasama, memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan diri. "Ketika saya terlibat dalam proyek bersama tim, saya belajar untuk menghargai pendapat orang lain dan berkontribusi secara aktif. Ini membantu saya merasa lebih percaya diri dalam menyampaikan ide dan memimpin diskusi," ungkapnya. Selain itu, keberanian untuk mengambil tanggung jawab dalam organisasi sekolah juga telah memperkuat keyakinan dirinya. "Saya sering menjadi ketua kelompok dalam berbagai kegiatan, dan ini memaksa saya untuk belajar mengatasi tantangan dan memimpin dengan baik. Ini semua berkontribusi pada rasa percaya diri saya," tambahnya dengan semangat. Menurut Andi, pengembangan soft skill bukan hanya tentang keterampilan praktis, tetapi juga tentang memahami nilai-nilai seperti kerja tim dan integritas. "Saya belajar menghadapi kegagalan dan menerima umpan balik untuk 132 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship terus meningkatkan diri. Ini semua membuat saya merasa lebih siap menghadapi dunia setelah lulus nanti," tutupnya. Kemudian Andi menambahkan, kurangnya perhatian sekolah terhadap pengembangan soft skill bisa menyebabkan ketimpanga seperti Siswa yang pintar akan semakin pintar, sedangkan yang kurang akan semakin tertinggal, terutama dalam hal kemampuan public speaking. Jika siswa tidak diperhatikan, mereka mungkin akan kurang percaya diri di masa depan, baik saat kuliah maupun bekerja. Program bimbingan konseling (BK) di sekolah juga belum memberikan dukungan khusus untuk pengembangan soft skill. Jika pun ada, biasanya hanya formalitas dan tidak mendalami masalah pengembangan kemampuan ini. Di kelas, pengalaman Angga (nama samaran) menunjukkan variasi dalam penguasaan soft skill di antara siswa-siswa. Sebagian siswa sudah memiliki soft skill yang solid, seperti kemampuan memimpin organisasi atau kemampuan berkomunikasi yang baik. Namun, ada juga yang masih kurang aktif atau malu-malu dalam berinteraksi, yang mungkin perlu lebih banyak dukungan untuk pengembangan soft skill mereka. Menurut Angga, soft skill memiliki korelasi kuat dengan tingkat kepercayaan diri seseorang. Siswa yang kurang memiliki soft skill cenderung lebih malu dan kurang percaya diri dalam berbagai situasi, seperti berbicara di depan umum atau berinteraksi dalam kelompok. Dalam konteks pendidikan, Angga merasa bahwa sekolah belum banyak memberikan perhatian khusus pada pengembangan soft skill. Kebanyakan kegiatan lebih berfokus pada kurikulum akademik daripada pada pengembangan kemampuan sosial dan kepemimpinan siswa. Angga berpendapat bahwa pendidikan seharusnya lebih proaktif dalam menjembatani kesenjangan ini dengan mengadopsi strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan mendukung. Bagi Angga sendiri, dia merasa memiliki beberapa skill seperti kepemimpinan dan kemampuan berkomunikasi, meskipun belum sepenuhnya sempurna. Pengalaman di dalam berorganisasilah yang membuat kemampuan skill tersebut didapat dan terasah yang telah membantu Angga untuk terus memperbaiki kemampuannya dalam hal ini. Secara keseluruhan, Angga meyakini bahwa soft skill tidak hanya penting untuk kehidupan saat ini tetapi juga akan membentuk masa depan seseorang, baik di perguruan tinggi maupun di dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan soft skill sejak dini sangat krusial bagi pendidikan. Secara keseluruhan, wawancara dengan Andi dan Angga mengungkapkan bahwa soft skill bukan hanya sekadar kemampuan tambahan, tetapi kunci utama dalam membentuk kepercayaan diri yang kuat pada siswa. Melalui kesempatan ini, kita dapat melihat bagaimana pendidikan di SMA Negeri 7 Yogyakarta hanya berfokus pada pengembangan akademis saja, seharusnya dikemas secara holistik, termasuk aspek kepercayaan diri yang vital bagi masa depan para siswa. Tabel 1. Besaran nilai korelasi Model R R Squre 1 .647a .419 Adjusted R Std. Error of the Square Estimate .415 aPredictors: (Constant), Soft skill 133 6.65875 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship Tabel 1 menunjukkan bahwa predictors atau variabel bebas adalah variabel X (kontribusi soft skill). Besarnya nilai korelasi/ hubungan (R) pada tabel tersebut berinilai 0,647. Berdasarkan tabel 1 didapatkan koefisiensi determinasi (R Square) senilai 0,419. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel X berkontribusi secara signifikan pada variabel Y senilai 41,9%, sedangkan (58,1%) lainnya dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel kontribusi soft skill dianalisis pada penelitian ini. Berdasarkan analisis regresi linier, ditemukan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara pengembangan soft skill dengan kepercayaan diri siswa sebesar 41 %. Soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, kerjasama tim, pemecahan masalah, dan kreatifitas terbukti berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kepercayaan diri siswa. Penelitian oleh Cahyadiana (2020) yang berjudul “Pengaruh Soft skill Terhadap Self Efficacy Mahasiswa (STIKI) Malang”. Menggunakan metode survei dengan 50 responden siswa. Didapatkan hasil bahwa soft skill berpengaruh dengan signifikan terhadap Self Efficacy mahasiswa. Mahasiswa dengan kecakapan soft skill menunjukkan tingkat keyakinan diri (Self Efficacy) yang lebih tinggi dengan pengaruh sebesar 32%. Kemudian terdapat penelitian oleh Aufi dan Irianto (2023) yang berjudul “Pengaruh Soft skill terhadap Kesiapan Kerja Siswa di SMK Negeri Jurusan Pemasaran Se-Kota Padang”. Menggunakan metode kuantitatif dengan 51 responden siswa. Didapatkan hasil bahwa soft skill berpengaruh secara positif terhadap kesiapan kerja siswa. Siswa yang memiliki soft skill menunjukkan tingkat kesiapan kerja yang lebih tinggi dengan pengaruh sebesar 30,5%. Berdasarkan perbandingan dari hasil beberapa penelitian di atas, hasil penelitian di SMAN 7 Yogyakarta menunjukkan bahwa pengembangan soft skill merupakan aspek penting untuk meningkatkan tingkat kepercayaan diri pada peserta didik. Penelitian Cahyadiana (2020) di STIKI Malang serta Aufi dan Irianto (2023) di SMK Negeri se-kota Padang juga menemukan korelasi poitif yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan soft skill tidak hanya penting dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa, tetapi juga kemampuan siswa secara keseluruhan. Dorongan dari lingkungan dan keluarga juga berperan penting dalam mendukung pengembangan soft skill siswa, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kemampuan dan kepercayaan diri mereka. Dengan adanya program-program ekstrakurikuler yang berfokus pada pengembangan soft skill, siswa dapat lebih mudah mengaplikasikan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan situasi nyata. Upaya kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan institusi pendidikan tinggi akan mewujudkan generasi yang cerdas dan cakap di bidang akademik, tetapi juga memiliki keterampilan interpersonal dan intrapersonal yang kuat. Dengan adanya kolaborasi yang erat antara ketiga elemen ini, generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang seimbang, cerdas, serta bisa mengatasi beragam masalah di masa depan. Mereka tidak hanya memiliki prestasi akademis yang gemilang, tetapi juga mampu berinteraksi dengan baik di berbagai situasi dan memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah secara efektif. Kesimpulan 134 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa soft skill berkontribusi secara positif terhadap pengembangan kepercayaan diri pada siswa yang ditunjukkan dengan hasil analisis persamaan regresi bahwa Y= 32,441 + 0,708 X. Persamaan ini memiliki nilai koefisiensi X sebesar 0,708 dan skor konstanta 32,441. Hubungan antara variabel X dan variabel Y dalam hasil analisis regresi ditunjukan melalui nilai R atau nilai korelasi senilai 0,647. Selain itu, nilai R Square sebagai nilai koefisien determinasi sebesar 0,419 atau 41,9%, sedangkan untuk persentase 58,1% yang lain terpengaruh oleh aspek di luar variabel kontribusi soft skill yang tidak dianalisis pada penelitian ini. Soft skill berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri para siswa karena dengan mengembangkan soft skill, siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan mereka dalam lingkungan akademis namun dalam kehidupan sehari-hari dan di masa depan. Agar penguasaan soft skill pada siswa dapat dikembangkan, berikut saran yang disulkan, diharapkan guru menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman serta ajarkan soft skill kepada siswa sehingga para siswa merasa percaya diri. Bagi siswa sebaiknya menghargai diri sendiri dan mencoba hal baru seperti kegiatan ekstrakurikuler yang diminati untuk menambah soft skill dan kepercayaan diri. Berkaitan dengan pihak sekolah, gunakan kurikulum yang menunjang kemampuan soft skill, berikan fasilitas yang memadai dan berikan pelatihan bagi para guru untuk memperdalam pemahaman mengenai soft skill dan mengajar yang efektif. Bagi peneliti berikutnya disarankan melibatkan objek variabel yang lebih besar serta memperhatikan faktor yang memiliki hubungan terhadap penguasaan soft skill selain pengembangan kepercayaan diri siswa. Referensi Agustina, Umi Lailatul, Tri Sudarwanto, dan Fatihatin Naiyiroh. 2024. “Keterkaitan Percaya Diri Disertai Soft Skill Komunikasi Peserta Didik dalam Hasil Belajar Elemen Komunikasi Dengan Pelanggan.” Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan 6(3):2256– 64. doi: 10.31004/edukatif.v6i3.6673. Amri, S. 2018. “Pengaruh Kepercayaan Diri (Self Confidence) Berbasis Ekstrakurikuler Pramuka Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Sma Negeri 6 Kota Bengkulu.” Jurnal Pendidikan Matematika Raflesia 3(2):156–68. Aufi, Khamsiina, dan Agus Irianto. 2023. “Pengaruh Hasil Belajar dan Soft Skills terhadap Kesiapan Kerja Siswa.” Jurnal Ecogen 6(1):82. doi: 10.24036/jmpe.v6i1.14345. Apriyani, D., Sudana, I. M., & Krisnawati, M. (2020). Keutamaan soft skills bagi siswa sekolah menengah kejuruan. Jurnal Teknologi Busana Dan Boga, 8(2), 166–170. Billfadawi, A. H. (2023). Identikikasii Faktor Penyebab Siswa Kurang Percaya Diri Di Sdn X Batusangkar. Jurnal Didika : Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(1), 1–12. Budiningsih, I., Soehari, T. D., & Marlison, M. (2020). Hard Skill Versus Soft Skill dalam Pencapaian Kinerja Karyawan Proyek Infrastruktur Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Akademika, 9(02), 29–42. Cahyadiana, Windarini. 2020. “Pengaruh Hard Skill Dan Soft Skill Terhadap Self Efficacy Mahasiswa.” Psikovidya 24(1):1–7. doi: 10.37303/psikovidya.v24i1.139. Deni, A. U., & Ifdil. (2016). Konsep Kepercayaan Diri Remaja Putri. jurnal educatio: Jurnal Pendidikan Indonesia, 2(2), 43–52. 135 Volume 4, Issue 2, November 2025 E-ISSN 2829-6028 Journal of Citizenship Erni, E., & Ulya, R. H. (2021). The Softskill and Hardskill forms of Tunjuk Ajar Melayu in Nyanyi Panjang Bujang Si Undang Palalawan Society of Riau Province. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan. Hartono, M. Jogiyanto. 2018. Metoda Pengumpulan dan Teknik Analisis Data. books.google.com. Humaida, Rifqi, Erni Munastiwi, Ariq Nurjannah Irbah, dan Nurul Fauziah. 2022. “Strategi mengembangkan rasa percaya diri pada anak usia dini.” Kindergarten: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia 1(2):1–15. Lemeshow, Stanley, dan Amy Ferketich. 2020. “Simple Random Sampling.” Polling America: An Encyclopedia of Public Opinion, Second Edition: Volumes 1-2 (December):661–64. doi: 10.4324/9780203128640-6. Riyadi, A. (2019). Identifikasi Faktor Penyebab Siswa Kurang Percaya Diri Di SD Negeri 2 Wates. Basic Education, 8(2), 176–188. https://journal.student.uny.ac.id/index.php/pgsd/article/view/14730 Rokhayati, Ana, Roni Kambara, dan Mahdani Ibrahim. 2017. “Pengaruh Soft Skill dan Perencanaan Karir Terhadap Kinerja Karyawan dengan Kualitas Pelatihan Sebagai Variabel Modertor.” Jurnal Riset Bisnis dan Manajement Tirtayasa 1(2):107–25. Salsabiela, K., & Wardani, I. Y. (2019). Hubungan Kepercayaan Diri Remaja dan Kedekatan Orangtua dengan Ide Bunuh Diri. Jurnal Ilmiah Kesehatan Jiwa. Saraswati, Bernadheta Dian. 2022. “Alasan Warga Jogja Harus Berpakaian Adat saat Kamis Pahing.” Harian Jogja. Sundararajan, Vasanthakumari. 2019. “Soft skills and its application in work place.” World Journal of Advanced Research and Reviews 3:66–72. doi: 10.30574/wjarr.2019.3.2.0057. Wardani , N. A., Ritonga , I. M., & Putra , R. (2022). Pengaruh Kompetensi, Budaya Organisasi, Soft Skill dan Pengembangan Karir Terhadap Kinerja Pegawai di PT. Bank Sumut Pusat Medan. Jurnal Ekonomi Bisnis Digital, 1(2), 199–211. https://doi.org/10.47709/jebidi.v1i2.41 136