Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 ALAMTARA. JSI by IAI TABAH is licensed under a Creative CommonsAttribution- NonCommercial 4. 0 International License Naskah masuk Direvisi Diterima Diterbitkan 06-Juni-2023 09-Juni-2023 12-Juni-2023 30-Juni-2023 DOI : https://doi. org/ 10. 58518/alamtara. STRATEGI MENGATASI HATE SPEECH DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM Asyiri Abghiya R Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung Indonesia E-mail: asriridla19@upi. Nurti Budiyanti Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung Indonesia E-mail: nurtibudiyanti@upi. Fatimah Az Zahra Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung Indonesia E-mail: fatimahazzahra1409@upi. Nabila Azzahra Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung Indonesia E-mail: nabilaazahra@upi. Muhammad Ikhsan Ag Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung Indonesia E-mail: muhammadikhsanage@upi. Abstrak: Media sosial menjadi alat untuk menyampaikan pendapat seseorang dengan mudah, dengan demikian kerap terjadi pendapat seseorang yang di sampaikan melalui media sosial yang melewati batas wajar dan didasari dengan kebencian sehingga diperlukan pembatasan terhadap kebebasan berekspresi melalui media sosial, dalam hal ini seperti yang kita ketahui bahwasannya al-QurAoan membahas enam cara untuk berkomunikasi, contohnya yang pertama ada Qaulan Karimah, kedua Qaulan Maysura, ketiga Qaulan Balighan, keempat Qaulan 44 Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 Layyinan, kelima Qaulan Sadidan, dan terakhir ada Qaulan MaAorufan. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data dari sumber studi pustaka, seperti dari referensi jurnal . asional & internasiona. , artikel, buku buku, al-QurAoan dan hadist yang membahas mengenai strategi mengatasi hate speech di media sosial. Pemahaman dari enam cara untuk berkomunikasi itu membantu untuk mengatasi permasalahan di media sosial. Kata kunci: Media sosial, kebebasan berekspresi, ujaran kebencian, cara Abstract: Social media is a tool for easily conveying one's opinion, thus it often happens that someone's opinion is conveyed through social media which crosses reasonable boundaries and is based on hatred so that restrictions on freedom of expression through social media are necessary, in this case as we know that al -The Qur'an discusses six ways to communicate, for example the first is Qaulan Karimah, the second is Qaulan Maysura, the third is Qaulan Balighan, the fourth is Qaulan Layyinan, the fifth is Qaulan Sadidan, and finally is Qaulan Ma'rufan. This writer uses a qualitative descriptive method by collecting data from literature sources, such as from journal references . ational & internationa. , articles, books, the Koran and hadith which discuss strategies for dealing with hate speech on social media. Understanding of the six ways to communicate helps to overcome problems in social media. Keywords: Social media, freedom of expression, hate speech, how to communicate PENDAHULUAN Media sosial merupakan suatu platform atau layanan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, berinteraksi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan orang untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Van Dijk dalam Nasrullah . menyatakan bahwa media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktifitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai medium . online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebuah ikatan sosial. Islam memandang media sosial sebagai sarana komunikasi dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kepentingan umat manusia. Media sosial pada zaman sekarang ini banyak dimanfaatkan sebagai media dakwah, menyebarkan agama Islam melalui beberapa postingan Islami. Dalam dakwah melalui media sosial ini, orang-orang yang melakukan dakwah memanfaatkan berbagai fitur yang disediakan oleh media sosial untuk menyebarluaskan pesan-pesan Islam. Beberapa Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 cara yang biasa dilakukan adalah dengan mengunggah tulisan, gambar, atau video dengan tema-tema Islami, serta dengan berinteraksi dan berdiskusi dengan pengguna media sosial lainnya untuk membagikan pemikiran dan pandangan keagamaan yang Namun, disamping adanya manfaat dari media sosial, penggunaan media sosial juga dapat memiliki dampak negatif, salah satunya yaitu adanya ujaran kebencian atau hate speech. Ujaran kebencian atau hate speech adalah tindakan berbicara atau menulis yang sengaja digunakan untuk merendahkan, menghina, atau menyerang individu atau kelompok tertentu berdasarkan karakteristik seperti ras, warna kulit, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama dan lain-lain. Ujaran kebencian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik individu maupun kelompok, dan dapat ditujukan kepada kelompok tertentu berdasarkan ras, agama, gender, orientasi seksual, atau alasan lainnya yang didasarkan pada prasangka dan stereotip negatif terhadap kelompok tertentu, dan sering kali memiliki tujuan untuk memicu kebencian, intoleransi, dan diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda. Islam melarang keras umatnya untuk melakukan ujaran kebencian di media sosial atau di mana pun. Karena ujaran kebencian ini merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam karena dapat memicu permusuhan dan konflik antara individu dan kelompok, serta dapat merusak perdamaian dan keamanan dalam masyarakat terutama umat Islam. Dalam Islam, setiap muslim dianjurkan untuk berbicara dengan cara yang baik dan sopan, serta menghindari kata-kata yang bisa menimbulkan permusuhan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran surat Al Hujurat ayat 11 yang artinya AuWahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolokolok kaum yang lain . boleh jadi mereka . ang diperolok-olokka. lebih baik dari mereka . ang mengolok-olo. dan jangan pula perempuan- perempuan . perempuan lain . boleh jadi perempuan . ang diperolok-olokka. lebih baik dari perempuan . ang mengolok-olo. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelargelar yang buruk. Seburukburuk panggilan adalah . yang buruk . setelah Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Ay. Ayat ini menegaskan tentang pentingnya menghormati dan menghargai sesama, serta menjauhi perilaku mengolok-olok dan merendahkan. Ujaran kebencian, perilaku mengolok-olok, dan tidak menghargai sesama memiliki keterkaitan yang erat dalam konteks kehidupan sosial. Ujaran kebencian seringkali muncul dari tidak adanya toleransi dan ketidakadilan dalam bersikap terhadap orang lain. Maka dari Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 itu perilaku mengolok-olok dan merendahkan sesama adalah salah satu bentuk ujaran kebencian yang bisa menyebabkan konflik sosial dan sangat dilarang oleh agama Islam. Adanya ujaran kebencian atau hate speech yang terjadi di media sosial ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu anonimitas. Anonimitas di media sosial adalah kondisi di mana pengguna tidak secara jelas atau terangterangan mengungkapkan identitas mereka saat berinteraksi dengan pengguna lain di media Hal ini dapat membuat pengguna merasa lebih leluasa untuk mengeluarkan ujaran kebencian tanpa takut ada konsekuensi. Selain itu penyebab adanya ujaran kebencian yang terjadi di media sosial yaitu echo chamber, dimana echo chamber ini adalah suatu kondisi seseorang atau kelompok tertentu hanya mengakses informasi atau opini yang sejalan dengan keyakinan atau pandangan mereka sendiri. Dengan hanya terpapar pada pandangan atau opini yang sama, orang cenderung menguatkan keyakinan mereka dan tidak terbuka untuk mempertimbangkan sudut pandang lain. Kemudian penyebab adanya ujaran kebencian lainnya yaitu adanya ketidakadilan dan diskriminasi. Adanya ketidakadilan dan diskriminasi di masyarakat dapat memicu terjadinya ujaran kebencian di media sosial, terutama jika pengguna media sosial merasa bahwa kelompok mereka tidak dihargai atau tidak diakui oleh Ketidakadilan dan diskriminasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti diskriminasi ras, gender, agama, orientasi seksual, dan sebagainya. Saat individu atau kelompok merasa tidak adil atau didiskriminasi dalam masyarakat, mereka dapat menggunakan media sosial sebagai alat untuk mengungkapkan ketidakpuasan dan kemarahan mereka. Namun, disamping faktor penyebab dari adanya ujaran kebencian atau hate speech di media sosial diatas, faktor utama adanya ujaran kebencian atau hate speech ini adalah karena kurangnya pemahaman terhadap ayat alquran, dimana dalam beberapa ayat alquran telah Allah jelaskan bahwasannya Allah melarang umatnya untuk melakukan ujaran kebencian, seperti mengolok-olok dan merendahkan sesama Dalam beberapa ayat alquran dijelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk mengatakan perkataan yang baik, saling menghargai, menghormati dan memuliakan sesama manusia tanpa memandang latar belakang apapun. Oleh karena itu, sebagai muslim patutnya menjalankan perintah yang Allah berikan dan menjauhi segala larangan-Nya. Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume Nomor 1. Juni 2023 ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Permasalahan-permasalahan yang sudah dijelaskan tadi, memberikan pemahaman pada diri kita sebagai seorang muslim untuk menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan hukum Islam, seperti menjauhi tindakan ujaran kebencian atau hate speech. Oleh karena itu, mempelajari dan memahami ini kepada orang lain merupakan suatu kebaikan yang luar biasa karena sudah menjalankan salah satu perintah dari Allah swt dan juga menjauhi larangan-Nya. Dalam penelitian ini, akan membahas terkait media sosial dan pandangannya menurut perspektif islam, kemudian pandangan Islam terkait dengan adanya ujaran kebencian atau hate speech, dan strateginya dalam perspektif Islam dalam mengatasi ujaran kebencian atau hate speech di media sosial disertai dengan alquran maupun hadits yang mendukung. Berdasarkan apa yang ditulis penulis bahwa dengan adanya pemahaman seorang muslim tentang bagaimana strategi untuk mengatasi hate speech di media sosial, besar harapannya bisa mengatasi permasalahan hate speech di media sosial. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian yang berjudul AuStrategi Mengatasi Hate Speech di Media Sosial Dalam Perspektif Islam Ay. Dari penelitian ini harapannya memberikan edukasi tentang mengatasi ujaran kebencian yang sesuai syariat Islam agar terhindar dari adanya perselisihan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai strategi mengatasi hate speech di media sosial, dimana dalam penelitian ini mengambil data dari studi pustaka, seperti dari referensi jurnal . asional & internasiona. , artikel, buku-buku, alqurAoan dan hadist, dan wawancara dengan teman yang paham akan strategi mengatasi hate speech di media Dengan Metode ini bisa mengatasi strategi hate speech di media sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Ujaran Kebencian di Media Sosial dalam Perspektif Islam Dengan adanya globalisasi saat ini, dikatakan bahwa Aunew mediaAu menjadi media yang paling banyak digunakan oleh mayoritas masyarakat di berbagai belahan Perkembangan media online dan teknologi menjadi salah satu fenomena sosial Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 yang sedang terjadi di masyarakat. Melihat fenomena ini, media online dapat menjadi dampak yang positif maupun negatif di berbagai sudut pandang, dari kacamata moral, etika, agama. Mudahnya akses internet saat ini, meningkatkan potensi informasi dan juga berita yang mengandung ujaran kebencian atau hate speech sangatlah besar. Hal ini dikarenakan pembuat media atau pembuat platform tersebut memiliki kemudahan dalam mengakses platform berita, serta situs terverifikasi. Dengan adini, masyarakat dengan mudah melihat berita yang mengandung ujaran kebencian atau hate speech. Dalam pandangan Islam ujaran kebencian atau hate speech adalah hal yang mencakup dari beberapa tindakan yang berseberangan dengan nilai agama Islam dalam hal berhubungan baik dengan sesama manusia. Perkembangan teknologi saat ini, membuat jalan yang lebih mudah kepada orang yang ingin melontarkan ujaran kebencian untuk kelompok atau orang yang mereka benci. Hal itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan untuk saling menghargai dan menghormati Salah satu cara untuk menghargai dan menghormati saudaranya adalah dengan cara bertutur kata yang sopan. Bertutur kata yang sopan juga dapat kita lihat di Hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" (Riwayat Bukhari dan Musli. Rasul mendahuluinya dengan mengungkap keimanan sebelum memperingatkan tentang menjaga lisan. Iman adalah hal yang mendasar bagi umat Islam, jadi orang orang yang tidak bisa bertutur kata yang sopan harus dipertanyakan kual itas Apakah ia sudah beriman atau tidak mengamalkan ajaran Islam sebatas belajar saja dan tidak diamalkan dengan baik. Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 Dari diagram di atas dapat kita lihat bahwasanya 72% responden sangat setuju, responden berpendapat bahwa mereka sering melihat ujaran kebencian. Padahal kita mengetahui bagaimana dampak ujaran kebencian terhadap yang membacanya, hal ini akan menimbulkan fenomena Auikut- ikutanAy yang menyebabkan masyarakat yang melihat ujaran kebencian tersebut ikut berkomentar yang berisi ujaran kebencian. Ujaran kebencian ini memiliki motif agar mendapat dukungan, terlihat keren, dan juga dapat dilihat sebagai seseorang yang mengikuti trend, walaupun seseorang yang ikut melontarkan ujaran kebencian ini tidak mengetahui inti permasalahannya. Faktor yang Menyebabkan Ujaran Kebencian di Media Sosial Menurut KBBI, komentar adalah sebuah ulasan atau tanggapan atas berita, pidato, dan sebagainya untuk menerangkan atau menjelaskan. Sehingga, berkomentar dapat disebut sebagai kegiatan mengulas atau menanggapi. Berkomentar merupakan suatu hal yang wajar, sebagai bentuk curahan ekspresivitas suatu individu. Namun, tidak jarang komentar dalam media sosial kerap menggiring suatu tren untuk memberikan hujatan atau ujaran kebencian pada suatu individu atau Tidak tersedianya pembatasan pertimbangan baik dan buruk dalam berkomentar menjadi awal penyalahgunaan media sosial di era gawai (Ningrum et , 2. Walaupun hal ini juga menyebabkan timbulnya masalah antar individu, individu dengan kelompok dan juga kelompok dengan kelompok. Menurut buku Manusia Indonesia menyebut manusia Indonesia tukang Hanya saja, katanya, mereka tidak berani melakukannya secara terbuka, beraninya di dalam rumah atau bersama kawan-kawannya yang sepaham atau seperasaan dengannya. Tetapi dengan adanya media sosial anggapan ini mulai terbantahkan, faktanya dengan adanya media sosial mereka dapat menggerutu secara terbuka, serta menyindir seseorang tanpa menyebutkan nama orang yang Dalam hal ini perlu kita ingat bahwa menggunakan media sosial harus berpegang teguh terhadap prinsip dan juga agama, karena jika tidak berpegang teguh terhadap kedua hal itu akan menyebabkan fenomena ujaran kebencian di media Dan juga setiap mengunggah sesuatu atau berkomentar pastikan bahwa kata50 Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 kata yang kita pilih adalah yang terbaik, tidak menyinggung perasaan orang lain dan Dalam hal ini. Allah swt. berfirman dalam Al-QurAoan Surat Al Baqarah Au. dan berkatalah kalian semua kepada manusia dengan perkataan yang baikA . Ay Arti dalam ayat ini adalah qulul li nafsi husna ini mengandung arti perkataan yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Setia kita membuat unggahan atau berkomentar di media sosial harus berisi manfaat agar unggahan atau komentar tersebut tidak berakhir sia sia atau berisi ujaran kebencian. Dari diagram diatas dapat kita lihat bahwa 94% responden sangat setuju terhadap pendapat tindakan memprovokasi untuk berperilaku negatif tidak dibenarkan dalam Islam. Karena dalam teori kontrol atau control theory merujuk kepada setiap perspektif yang membahas ihwal perkembangan tingkah laku manusia. Sementara itu, pengertian teori kontrol sosial atau control theory merujuk kepada permasalahan kejahatan dan kenakalan yang dikaitkan dengan variabel-variabel yang bersifat sosiologis, antara lain struktur keluarga, pendidikan dan Aupeer groupsAy. Sedangkan melihat ujaran kebencian dapat membuat seseorang ikut melontarkan ujaran kebencian juga. Salah satu penyebab dari hal tersebut adalah maraknya pengguna media sosial yang hanya ikut-ikutan saja baik menyebarkan atau membuat unggahan yang sama tanpa mengetahui maksud/pesan asli/jenis dari sebuah unggahan karena sedang ramai diperbincangkan. Ujaran kebencian memprovokasi seseorang untuk melakukan hal itu juga. Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 Dari diagram diatas terlihat bahwa 82% responden menyatakan sangat setuju dan 18% responden menyatakan setuju dengan pendapat saya merasa tidak nyaman, jika postingan/konten yang mengandung sara atau hal yang mengandung ujaran Maka salah satu faktor terjadinya kebencian adalah SARA. Menurut Council of Europe Hate Speech tahun 2012 memaknai ujaran kebencian sebagai bentuk dalam mengungkapkan rasa benci, menghasut, mempromosikan dan juga menyetujui kebencian rasial, ketidaksukaan dalam SARA, yang didasarkan dengan tidak toleransi, dan khususnya diskriminasi terhadap minoritas. Ujaran kebencian didasari dengan anti free speech, jadi ujaran ini memiliki arti tidak menerima keberagaman, saling toleransi terhadap banyaknya perbedaan di dunia ini. Lalu jika ujaran kebencian ini mempunyai kaitan yang kuat dengan terjadinya diskriminasi, permusuhan dan kekerasan yang mengarah kepada perpecahan untuk saling membenci karena adanya perbedaan dalam suatu kelompok maupun individu. Firman Allah juga menyebutkan dalam QS. al-Mumtahanah: 8-9 yang berbunyi. Ayat ini memiliki arti AuAllah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak . mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orangorang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu . rang lai. untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Ay (QS. al-Mumtahanah: 8-. Dalam tafsir Al-QurAoan al-AoAzhim, 7: 247 Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada orang yang lemah dan juga wanita. Hendaklah berbuat baik, karena Allah menyukai umat yang adil. Dalam tafsir tersebut dikatakan seperti itu, jadi perdebatan agama atau ras bukanlah hal yang harus diperdebatkan satu sama lain. Mana yang lebih baik dan mana yang lebih Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 Karena setiap umat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing di mata Allah SWT. Dampak Ujaran Kebencian bagi yang Membaca dan Korban yang ditujukan Seperti yang sudah dijelaskan bahwa sosial media adalah media yang berbasis online dimana penggunanya dapat dengan mudah berinteraksi kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal oleh pengguna tersebut. Adapun yang berpandangan sebagai situs jejaring sosial merupakan situs yang dapat membantu seseorang untuk membuat sebuah profil dan kemudian dapat menghubungkan dengan pengguna Situs jejaring sosial adalah aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk terhubung menggunakan profil pribadi atau akun pribadinya. Adapun contoh berbagai situs jejaring sosial seperti Friendster. Facebook. Foursquare. Myspace. Twitter, juga termasuk Blackberry Messenger (Juditha, 2. Dari diagram diatas dapat kita simpulkan bahwa 80% responden menyatakan sangat setuju, 18% responden menyatakan setuju dan 2% responden menyatakan tidak setuju terhadap pendapat Ausaya merasa kurang nyaman saat melihat ujaran kebencianAy. Karena dampak dari ujaran kebencian juga dirasakan oleh pembacanya bukan hanya oleh target sasaran kebencian itu sendiri. Jika yang membaca tidak memiliki kontrol sosial yang cukup, maka pembaca dapat mengikuti atau mengeluarkan pendapat yang sama. Jika yang pembaca memiliki kontrol sosial yang kuat dan tidak suka melihat perpecahan, maka pembaca akan melewati unggahan tersebut tanpa berkomentar mengenai ujaran kebencian tersebut. Dari diagram diatas dapat kita simpulkan bahwa 74% responden menyatakan sangat setuju, 24% menyatakan setuju, dan 2% menyatakan tidak setuju terhadap pernyataan AuUjaran kebencian bisa terjadi karena dalam pribadi netizen ada prasangka negatif kepada kelompok tertentuAy Jadi, prasangka bisa menjadi penyebab dan juga bisa menjadi dampak untuk target kebencian adalah Prasangka terhadap target kebencian. Prasangka merupakan sikap yang memiliki konotasi yang negatif yang ditujukan kepada orang lain sebagai individu atau anggota kelompok. Prasangka bisa berwujud dalam ranah kognitif seperti pandangan buruk tanpa dasar kepada orang lain atau kelompok lain, bisa juga Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 dalam bentuk perasaan negatif seperti kebencian dan kedengkian kepada orang lain atau kelompok lain. Akhirnya, prasangka bisa juga mewujud dalam bentuk tindakan diskriminatif dan perlakuan semena-mena yang menimbulkan luka psikis maupun fisik terhadap korban ujaran kebencian. Bahaya ujaran kebencian tidak hanya menjadi dampak bagi seseorang tapi berdampak secara universal, karena akan membuat perpecahan dan juga melahirkan fitnah dalam masyarakat. Dimana fitnah sendiri merupakan hal yang keji. Dikatakan bahwa jika timbul fitnah maka akan terjadi perpecahan dalam kelompok. Dalam firman Allah juga disebutkan dalam QS Al Hujurat ayat 11 dan 12. Yang artinya. AuWahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolokolok kaum yang lain, . boleh jadi mereka . ang diperolok-olokka. lebih baik dari mereka . ang mengolok-olo. , dan jangan pula perempuanperempuan . engolok- olokka. perempuan lain, . boleh jadi perempuan . ang diperolok-olokka. lebih baik dari perempuan . ang mengolok-olo. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburukburuk panggilan adalah . yang buruk . setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat. Maha Penyayang. Ay Seperti yang tertera dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwasanya Allah SWT melarang umatnya untuk menghina orang lain yakni dengan cara meremehkan dan mengejek. Menurut Ibnu Katsir surat ini turun ditujukan untuk kaum pria lalu dilanjutkan dengan kaum wanita. Selanjutnya juga Ibnu Katsir berpendapat bahwa orang yang mencela sama dengan orang yang tercela dan terlaknat. Dan dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini menjelaskan larangan untuk menggunjing. Terdapat peringatan yang keras dalam masalah menggunjingkan seseorang, karena Allah menyamakan pelaku dengan seorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Dan juga memiliki arti jika kita tidak menyukai atau disamai dengan orang yang memakan bangkai saudara sendiri maka janganlah menggunjing suatu kelompok atau individu. Jadi ayat ini memperingati kita untuk menjauhi ujaran kebencian dan mencela seseorang atau suatu kelompok. Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 Dari diagram diatas dapat kita simpulkan bahwa 84% responden menyatakan sangat setuju, 16% menyatakan setuju terhadap pernyataan AuMedia sosial merupakan tempat yang terbuka sehingga ujaran kebencian yang dilontarkan dapat terlihat oleh banyak orang hal tersebut dapat menyebabkan tekanan sosial,stres dan traumaAy. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yohan . menyatakan bahwa dampak dari perilaku hate speech akan berpengaruh kepada komunikasi verbal yang terjadi pada seseorang yaitu berkurangnya daya konsentrasi, frekuensi dan kesantunan dalam komunikasi dalam akademik karena adanya keterikatan dengan dunia maya. Lalu akan terjadi kurangnya percaya diri mereka untuk berkomunikasi ke dunia nyata. Jika tidak ditangani lebih lanjut akan berpengaruh ke hal hal y ang tidak diinginkan. Strategi Untuk Menghadapi Hate Speech Menurut sudut pandang agama Islam, kita menggunakan Al Quran yang merupakan kitab suci yang didalamnya mengandung berbagai aspek kehidupan yang dapat kita ikuti. Salah satu yang dapat kita implementasikan ke dalam kehidupan sehari hari adalah bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan tidak menyebabkan kesalahpahaman bagi sasaran komunikasinya. Dari berbagai sumber studi pustaka, dan melihat menggunakan Al Quran dan juga Hadits, disimpulkan bahwa terdapat ada enam jenis cara berkomunikasi yang harus kita terapkan. Hal ini dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni: . Qaulan Kariman, . Qaulan Maysran, . Qaulan Balighan, . Qaulan Layyinan, . Qaulan Sadidan, dan . Qaulan MaAorfan. Pertama. Qaulan Kariman kata Kariman ini hanya muncul satu kali dalam Al Quran, terdapat di surat Al Isra ayat 23. Yang memiliki arti. Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduaduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 perkataan AuahAy dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Banyak yang berpendapat hal ini hanya digunakan saat berbicara dengan orang tua saja, ini juga berlaku saat berhubungan dengan guru, tetangga teman dan juga saat bermedia sosial, menggunakan perkataan yang baik akan membuat komunikasi lebih lancar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman dan juga memiliki arti Ucapan yang bermakna ucapan yang lembut berisi pengagungan dan penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Kedua, dalam Al Quran terdapat kata Qaulan maysuran merupakan tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan melegakan perasaan. Ibnu Katsir mengartikan Qaulan maysran sebagai ucapan yang pantas serta ucapan janji yang menyenangkan dan selalu memberikan harapan positif bagi pihak yang dijanjikan. Sedangkan Hamka mengartikan qaulan maysran adalah kata-kata yang menyenangkan, agus, halus, dermawan, dan sudi menolong orang. Demikian dapat kita artikan bahwa Islam membuat kita berkomunikasi dengan cara tidak menyinggung perasaan orang lain, memilih kata yang baik sebelum berbicara dan juga ungkapan yang lembut saat berkomunikasi. Ketiga. Qaulan Balighan diartikan sebagai komunikasi yang efektif dan ungkapan atau perkataan yang sampai kepada sasaran berpengaruh ke dalam diri seseorang. Ungkapan ini hanya terdapat di satu ayat Al Quran surat An Nisa ayat 63. Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dalam ayat ini dijelaskan tentang komunikasi memakai bahasa yang disesuaikan pada sasarannya, yang mendengar, dan lain sebagainya. Sehingga membuat pendengar merubah tingkah lakunya dan merubah sikap buruk seseorang dan menjadikan seseorang lebih baik lagi. Keempat. Qaulan Layyinan artinya komunikasi lemah-lembut. Ungkapan Qaulan Layyinan ini hanya muncul satu kali didalam Al Quran surat Thaha ayat 44 yang rtinya: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. Dalam Al-Qurt ubc dijelaskan bahwa yang dimaksud ini adalah dalil atas bolehnya memerintah kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan, dengan kata yang lemah lembut, apalagi jika kita sedang berhadapan dengan orang yang berkuasa atau Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 mempunyai kekuatan. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Qaulan Layyinan adalah ucapan baik lemah lembut, yang dapat menyentuh hati lawan Ucapan lemah lembut ini diawali dengan dorongan dan suasana hati orang yang berbicara, dan berdampak kepada komunikasi yang mempengaruhi dan menggerakkan hati orang yang diajak berkomunikasi. Kelima. Qaulan Sadidan yang secara harfiah memiliki arti benar atau tepat. Dalam Al Quran ungkapan Qaulan Sadidan muncul dua kali, salah satunya dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 70 Yang memiliki arti. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa Menurut tafsir Al-Qurt ubi dijelaskan bahwa perintah kepada orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT untuk berkata perkataan yang benar. Ayat ini turun karena adanya fitnah kepada Zenab dan Zaid dari orang kafir dan munafik untuk memfitnah istri nabi agar tercemar buruk, nyatanya tuduhan itu adalah dusta belaka dan sebagai bentuk larangan agar tidak memfitnah nabi dengan hal yang tidak benar, karena nabi Muhammad Saw adalah orang yang terjaga dari dosa. Dapat kita simpulkan, bahwa arti dari Qaulan Sadidan bahwa seorang muslim harus harus berkata yang benar sesuai dengan fakta yang ada agar tidak menimbulkan fitnah di masyarakat. Yang terakhir. Qaulan MaAorufan yang memiliki arti pengertian perkataan atau ungkapan yang baik dan pantas. Ungkapan Qaulan MaAorufan ini muncul dalam ayat. S Al-Baqarah ayat 235. S An- Nisa ayat 5. An- Nisa ayat 8, dan Q. S Al- Ahzab ayat 32. Semua ayat ini memiliki arti antara lain rayuan halus terhadap seorang wanita yang dipinang untuk istri. Jadi, berkomunikasi harus menimbang perasaan seseorang terutama perasaan wanita. Ternyata konteks qaulan maAorufan dalam al-qurAoan lebih banyak ditujukan kepada wanita atau orang yang kurang beruntung kehidupannya seperti anak yatim dan orang miskin. Jadi, disimpulkan bahwa Qaulan MaAorufan berarti pembicaraan yang bermanfaat, memberi pengetahuan, mencerahkan pemikiran, menunjukan pemecahan kesulitan. Kepada orang lemah, bila kita tidak dapat membantu secara material, kita harus memberikan bantuan psikologis. Urgensi Diskursus Ujaran Kebencian di Universitas Diskusi merupakan sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih. Biasanya komunikasi antara orang-orang tersebut berupa salah satu ilmu atau Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan Dari Abdurahman bin abi Laili berkata AuBerdiskusilah kamu, sesungguhnya berkembangnya sebuah hadist muncul dari diskusi tersebutAy. (HR. Al-Darim. Metode diskusi dalam lingkup universitas sudah lama dikenal. Metode diskusi ini bertujuan untuk dapat menyadari dan menguji bukti-bukti sistem nilai, pendapat dan respon dari suatu gagasan sendiri atau orang lain dalam hal ini ujaran Menguji secara kolektif tentang suatu gagasan yang dikemukakan orang Untuk bertukar pikiran dan ide, belajar mengungkapkan serta menanggapi keterangan yang relevan. Mengaitkan data dan keadaan dari berbagai pandangan orang lain dan latar belakangnya berbeda-beda. Diskusi dalam lingkup universitas terhadap metode diskusi menjadi penting untuk mewujudkan mahasiswa yang melek akan pentingnya pengetahuan ujaran kebencian sebagai hal yang perlu dihapuskan dan dicari Langkah preventifnya. Seiring dengan perkembangan zaman, diskusi tidak terbatas hanya di satu universitas saja karena sifat dari perkembangan zaman ini sendiri kita tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Di media sosial memungkinkan untuk diskusi dengan seluruh elemen mahasiswa dari berbagai universitas sehingga diskusi mengenai ujaran kebencian niscaya akan lebih komprehensif dan menemukan langkah preventif untuk menghindari ujaran kebencian. Dari diagram diatas dapat kita simpulkan bahwa 68% responden menyatakan sangat setuju, 24% menyatakan setuju terhadap pernyataan Aumateri ujaran kebencian menarik untuk dijadikan bahan diskusiAy. Mengapa materi ujaran kebencian ini begitu menarik untuk didiskusikan?. Kita harus tau bahwa Microsoft mengumumkan tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Dalam laporan berjudul AoDigital Civility Index (DCI)Ao. Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei untuk tingkat kesopanan, sekaligus menjadi yang terendah tingkat kesopanannya di Asia Tenggara dalam platform media sosial. Berefleksi dari problematika dan hasil kuesioner, bahwa diskursus ujaran kebencian sangatlah penting karena universitas adalah tempat di mana pemikiran dan ide-ide baru dipelajari dan dikembangkan. Universitas adalah Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 tempat di mana mahasiswa dan akademisi memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide baru yang lebih komprehensif Maka dari itu, diskusi ujaran kebencian di universitas yang tidak terbatas ruang dan waktu harus di amini dengan serius sehingga tindakan diskriminatif, intimidatif, dan tekhusus ujaran kebencian harus di diskusikan dengan serius sehingga universitas mampu menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi seluruh mahasiswa di seluruh universitas. KESIMPULAN Dengan adanya globalisasi saat ini, dikatakan bahwa Aunew mediaAu menjadi media yang paling banyak digunakan oleh mayoritas masyarakat di berbagai belahan Mudahnya akses internet saat ini, meningkatkan potensi informasi dan juga berita yang mengandung ujaran kebencian atau hate speech sangatlah besar. Faktor yang menyebabkan ujaran kebencian pun karena tidak tersedianya pembatasan pertimbangan baik dan buruk dalam berkomentar menjadi awal penyalahgunaan media sosial. perlu kita ingat bahwa menggunakan media sosial harus berpegang teguh terhadap prinsip dan juga agama, karena jika tidak berpegang teguh terhadap kedua hal itu akan menyebabkan fenomena ujaran kebencian di media sosial. Dan juga setiap mengunggah sesuatu atau berkomentar pastikan bahwa kata-kata yang kita pilih adalah yang terbaik, tidak menyinggung perasaan orang lain dan Dalam hal ini. Allah swt. berfirman dalam Al-QurAoan Surat AlBaqarah Sedangkan melihat ujaran kebencian dapat membuat seseorang ikut melontarkan ujaran kebencian juga. Salah satu penyebab dari hal tersebut adalah maraknya pengguna media sosial yang hanya ikut-ikutan saja baik menyebarkan atau membuat unggahan yang sama tanpa mengetahui maksud/pesan asli/jenis dari sebuah unggahan karena sedang ramai diperbincangkan. Ujaran kebencian memprovokasi seseorang untuk melakukan hal itu juga. Jadi, prasangka bisa menjadi penyebab dan juga bisa menjadi dampak untuk target kebencian adalah Prasangka terhadap target kebencian. Prasangka merupakan sikap yang memiliki konotasi yang negatif yang ditujukan kepada orang lain sebagai individu atau anggota kelompok. Prasangka bisa berwujud dalam ranah kognitif seperti pandangan buruk tanpa dasar kepada orang lain atau kelompok lain, bisa juga dalam bentuk perasaan negatif seperti kebencian dan kedengkian kepada orang lain atau kelompok lain. Akhirnya, prasangka bisa juga mewujud dalam bentuk tindakan diskriminatif dan perlakuan semena-mena yang menimbulkan luka psikis maupun fisik terhadap korban ujaran kebencian. Asyiri Abghiya R, et al Strategi Mengatasi Hate. Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume ISSN: 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Nomor 1. Juni 2023 REKOMENDASI