HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG POLA PEMBERIAN MAKANAN DENGAN STATUS GIZI ANAK Dyana Putri Ellyzabeth*1 Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Program Studi Ilmu Keperawatan Email: Dyanaputri1234@gmail. Kurnia Wijayanti*2 Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Program Studi Ilmu Keperawatan Email: Kurnia@unissula. Indra Tri Astuti*3 Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Program Studi Ilmu Keperawatan Email: Indra@unissula. *Corresponding author ABSTRAK Pendahuluan Masalah status gizi anak usia 1-3 tahun menjadi perhatian utama karena tingginya angka kekurangan gizi pada kelompok usia ini. Faktor pengetahuan dan sikap ibu terhadap pola pemberian makanan berperan penting dalam menentukan status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan status gizi anak usia 1-3 tahun di Desa Guwo. Metode Menggunakan metode kuantitatif dengan teknik total sampling, penelitian ini melibatkan 130 ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner tentang pengetahuan dan sikap serta pengukuran status gizi anak menggunakan indeks antropometri BB/U. Analisis data dilakukan dengan uji SomersAo d. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mayoritas ibu berada dalam rentang usia 22-35 tahun . edian 29 tahu. dan memiliki tingkat pendidikan SMA . ,9%). Status gizi anak menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki status gizi normal . ,7%) dan hanya 2,3% masuk kategori gemuk. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki pengetahuan dalam kategori kurang . ,7%), cukup . ,4%), dan baik . ,9%). Sedangkan sikap ibu didominasi oleh kategori sangat tinggi . ,5%) dan tinggi . ,2%). Uji SomersAo D menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi anak . = 0,076, r = 0,. serta sikap ibu dengan status gizi anak . = 0,092, r = 0,. Hubungan yang ditemukan bersifat sangat lemah, sehingga faktor lain seperti kondisi ekonomi keluarga, pola asuh, dan akses terhadap makanan bergizi juga berperan dalam menentukan status gizi anak. Kesimpulan Kesimpulannya. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan status gizi anak usia 1-3 tahun di Desa Guwo. Intervensi peningkatan status gizi anak sebaiknya tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan dan sikap ibu, tetapi juga mempertimbangkan faktor eksternal yang lebih luas, termasuk edukasi gizi berbasis komunitas dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Pola Pemberian Makanan. Status Gizi. Anak Usia 1-3 Tahun ISSN : 2502-1524 Page | 122 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak ABSTRACT Introduction nutritional status of children aged 1-3 years is a major concern due to the high prevalence of malnutrition in this age group. Mothers' knowledge and attitudes toward feeding practices play an essential role in determining children's nutritional status. This study aims to examine the relationship between mothers' knowledge and attitudes and the nutritional status of children aged 1-3 years in Guwo Village. Method Using a quantitative method with a total sampling technique, this study involved 130 mothers with children aged 1-3 years. Data were collected through questionnaires on knowledge and attitudes, as well as measurements of children's nutritional status using the weight-for-age (W/A) anthropometric index. Data analysis was conducted using the SomersAo D test. Result The results showed that the majority of mothers were aged between 22-35 years . edian 29 year. and had a high school education . 9%). The nutritional status of children revealed that most had a normal nutritional status . 7%), with only 2. 3% classified as overweight. The analysis also indicated that most mothers had low knowledge . 7%), moderate knowledge . 4%), and good knowledge . 9%). Meanwhile, mothers' attitudes were predominantly in the very high category . 5%) and high category . 2%). The SomersAo D test showed no significant relationship between mothers' knowledge and children's nutritional status . = 0. 076, r = 0. and no significant relationship between mothers' attitudes and children's nutritional status . = 0. 092, r = 0. The weak correlation found suggests that other factors, such as family economic conditions, parenting styles, and access to nutritious food, also play a role in determining children's nutritional status. The relationship found was very weak, indicating that other factors such as family economic conditions, parenting styles, and access to nutritious food also play a role in determining children's nutritional status. Conclusion In conclusion, there is no significant relationship between mothers' knowledge and attitudes and the nutritional status of children aged 1-3 years in Guwo Village. Efforts to improve children's nutritional status should not only focus on increasing mothers' knowledge and attitudes but also consider broader external factors, including community-based nutrition education and improving family welfare. Keywords: Knowledge. Attitudes. Feeding Patterns. Nutritional Status. Children Aged 1-3 Years. PENDAHULUAN Status gizi adalah suatu kondisi diperlukan oleh tubuh untuk menjalankan fungsinya secara optimal (Anggraeni, 2. Gizi sendiri mengacu pada zat-zat makanan esensial yang berperan dalam mendukung pertumbuhan serta menjaga kesehatan tubuh. Kekurangan zat gizi merupakan salah satu penyebab gangguan pertumbuhandan perkembangan pada anak (Asthiningsih, 2. Kekurangan gizi dapat berdampak serius, termasuk hambatan dalam pertumbuhan fisik. ISSN : 2502-1524 penurunan produktivitas, melemahnya system kekebalan tubuh, serta peningkatan risiko berbagai penyakit dan kematian (Pangaribuan, 2. Permasalahan gizi pada anak usia 13 sering kali disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kesadaran ibu dalam memberikan makanan bergizi. mana ibu yang tidak memahami pentingnya gizi seimbang serta kebutuhan kalori anak dapat secara tidak sadar memberikan pola makan yang tidak memadai, yang berpotensi menyebabkan kekurangan gizi. Sekitar 30% anak balita Page | 123 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :122 - 139 di Indonesia mengalami masalah status gizi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar ( Riskesda. 2018, dari sekitar 22 juta anak balita, sekitar 6,6 juta di Sementara itu, hanya 45% orang tua yang memiliki pemahaman dan sikap yang baik dalam memberikan makanan bergizi. Sehingga diperlukan program edukasi gizi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran orang tua dalam mendukung kesehatan anak (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Menurut World Health Organization (WHO),masalah membuat anak-anak leih rentan terhadap penyakit dan bersiko tinggi mengalami Secara global, pada tahun 2019, sekitar 21,3% anak dibawah usia 5 tahun menurun dari 32,4% pada tahun 2000. tahun yang sama, sekitar 144 juta anak balita di seluruh dunia mengalami stunting, dengan dua pertiga diantaranya di wilayah Asia Tenggara. Selain itu, lebih dari 47 juta anak balita . ,9%) mengalami wasting, sementara 38 juta lainnya mengalami kelebihan berat badan (WHO. Di Indoesia, berdasarkan laporan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, tercatat terdapat 32 kematian bayi dan balita per 000 kelahiran hidup. Sementara itu, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Kementrian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan bahwa 17,7% balita masih menghadapi masalah gizi. Angka tersebut mencakup 3,9% balita yang mengalami gizi iburuk dan 13,8% yang mengalami gizi kurang (Kementerian Kesehatan RI,2018. Badan Pusat Statistik, 2. Menurut data Pemantauan Status Gizi (PSG) Kementerian Kesehatan. ISSN : 2502-1524 angka kejadian gizi buruk di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 21,6% . ementerian kesehatan RI, 2. tingkat provinsi. Jawa Tengah menempati peringkat ke-20 dari seluruh provinsi di Indonesia dengan total 328 kasus gizi buruk pada tahun yang sama (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2. Sementara itu, di Kabupaten Pati, jumlah kasus gizi buruk pada tahun 2022 tercatat sebesar 23,0% menjadikannya peringkat ke-11 di antara seluruh kabupaten di Jawa Tengah (Dinas Keehtan Kabupaten Pati. Sejumlah 6. 631 jiwa . aki-laki sebanyak 344 jiwa dan wanita 3. 287 jiw. , mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan rata-rata terntentu (Magfilah, 2. Penelitian Olsa mengungkapkan bahwa peran orang tua, khususnya ibu, sangat krusial dalam memastikan pemenuhan gizi anak. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan anak akan perhatian dan dukungan orang tua dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya yang cepat. Sebagai upaya mengatasi permasalahan gizi. Dinas Kesehatan Jawa Tengah telah meluncurkan program perbaikan pola pemberian makan sejak tahun 2023 melalui program isi piringku, program dapur sehat, meningkatkan layanan promotif dan preventif yang lebih terarah di seluruh masyarakat Indonesia (Dinkes, 2. Permasalahan status gizi pada anak usia 1-3 tahun di Desa Guwo bermula dari kekurangan gizi yang tercatat dalam survei kesehatan setempat, di mana data menunjukkan bahwa sekitar 30% anak mengalami masalah gizi. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa sekitar 13 anak usia 1-3 tahun mengalami gizi buruk, banyak ibu di desa ini memiliki pengetahuan yang terbatas tentang nutrisi yang tepat untuk anak, serta sikap yang Page | 124 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak kurang mendukung terhadap pemberian memiliki kemampuanmembaca dan menulis makanan bergizi. Hal ini mengakibatkan serta bersedia melibatkan anaknya sebagai pola makan yang tidak seimbang, yang responden, sementara kriteria eksklusi berpengaruh terhadap status gizi anak. mencakup anak dengan kelainan kongenital. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan Penelitian ini dilakukan di Desa Guwo dari untuk mengevaluasi hubungan antara Oktober Desember tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam Pengumpulan data dilakukan melalui pemberian makanan dengan status gizi anak usia 1-3 tahun. , guna merumuskan penelitian Yayuk Suseno dengan 20 soal rekomendasi yang dapat meningkatkan pilihan ganda yang dikategorikan menjadi kesadaran dan pola makan sehat di baik . -100%), cukup . -75%), dan kalangan ibu di Desa Guwo. rendah (O55%) serta kuesioner sikap Penelitian ini mengenai keterkaitan menggunakan skala Likert dengan 17 item antara hubungan antara pengetahuan dan Status gizi dinilai berdasarkan sikap ibu tentang pola pemberian makanan indeks antropometri BB0U menggunakan dengan status gizi anak usia 1-3 tahun di standas Z-Score. Untuk memastikan Desa Guwo sangat penting dilakukan, keakuratan pengukuran, dilakukan uji karena temuan ini dapat memberikan validitas dan reliabilitas pada instrumen pemahaman yang lebih mendalam yang mengukur pengetahuan dan sikap. mengenai faktor-faktor yang berpengaruh dalam pola makan anak, serta membantu HASIL DAN PEMBAHASAN merancang program edukasi yang lebih Hasil Penelitian efektif untuk meningkatkan pengetahuan ibu, yang pada akhirnya berpotensi memperbaiki status gizi anak dan mencegah masalah kesehatan jangka Berdasarkan data diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian AuHubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun di Desa GuwoAy METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional, dimana data variabel independen dan dependen dikumpulakn secara bersmaan. Populasi penelitian adalah 130 ibu dengan anak usia 1-3 tahun di Desa Guwo. Kabupaten Pati, dengan teknik total Sampel penelitian terdiri dari anak balita di Posyandu Bougenvile I . dan Bougenvile II . , dengan kriteria inklusi yaitu orang tua yang ISSN : 2502-1524 Page | 125 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :122 - 139 . Karakteristik responden berdasarkan usia ibu . Karakteristik Responden Jenis Kelamin Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Balita ( n = 130 ) Tabel 1 Hasil Uji Normalitas Data Dengan Kolmogorov-Smirnov P2. Keterangan Analisa Data Usia Ibu 0,001 Tidak 7. Normal SomersAod Median Usia Ibu Tabel 2, menunjukkan nilai tengah usia ibu yang dijadikan responden penelitian adalah 29 tahun. Karakteristik Pendidikan Ibu Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu ( n = . Tota Pendidika n Ibu SMP SMA Perguruan Tinggi Frekuens Persentas e (%) Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Usia Anak P10. Keterangan Analisa Data Usia 0,003 Tidak 15. KolmogorovAna Normal Smirnov Tabel 4. menunjukkan hasil uji normalitas data usia anak nilai p value 0,000 (<0,. hal tersebut menunjukan bahwa data tersebut berdistribusi tidak normal sehingga disajikan dalam bentuk median pada Tabel 5. Tabel 5. Distribusi Anak Berdasarkan Usia Anak . = . Minimum Ae Variabel Median maxiumum Usia Anak Tabel 5, menunjukkan tengah usia anak yang dijadikan responden penelitian adalah 10 tahun. Karakteristik Responden Tinggi Badan Hasil penelitian didominasi ibu yang memiliki pendidikan SMA sebanyak 74 orang dengan presentase 56,9 % ISSN : 2502-1524 . Karakteristik Responden Usia Anak Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Ibu . = Variabel Frekuensi Persentase (%) Hasil penelitian didominasi jenis kelamin perempuan sebesar 66 anak dengan persentase 50,8 %. Tabel 1 menyajikan hasil uji normalitas data usia ibu, dengan nilai p-value sebesar 0,001 (<0,. Hal ini mengindikasikan bahwa data tersebut tidak berdistribusi normal sehingga disajikan dalam bentuk median pada Tabel 2 Minimum Ae Jenis Kelamin Balita Laki-laki Perempuan Total Page | 126 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Tinggi disajikan dalam bentuk median pada Tabel Badan Keteranga Analisa Data Tingg 0,02 Tidak 23. Kolmogorov Normal -Smirnov Tabel 6, menunjukkan hasil uji normalitas data tingi badan dengan nilau p-value 0,02 (<0,05, hasil ini menunjukkan bahwa data tersebut tidak berdistribusi normal, sehingga disajikan dalam bentuk median pada Tabel 7. Tabel 7. Distribusi Anak Berdasarkan Tinggi Badan . = . Minimum Ae Variabel Median maxiumum Tinggi Badan Tabel 7, menunjukkan nilai tengah tinggi badan anak yang dijadikan responden penelitian adalah 75. 25 cm . Karakteristik Responden Berat Badan Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Berat Badan Keterangan Analisa Data Berat 0,04 Tidak 31. Kolmogorovbadan Normal Smirnov Tabel 8, menunjukkan hasil uji normalitas data tingi badan dengan nilai p value (<0,. data tersebut menunjukan bahwa berdistribusi tidak normal sehingga ISSN : 2502-1524 Tabel 9. Distribusi Anak Berdasarkan Berat Badan . = . Minimum Ae Variabel Median maxiumum Berat Badan Tabel 9, menunjukkan nilai berat badan anak yang dijadikan responden penelitian adalah 10kg Tabel 10. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan . = . Pengetahua Baik Cukup Kurang Total Frekuens Persentas e (%) Tabel 10 diatas menggambarkan bahwa. Pengetahuan memperlihatkan hasil kurang Tabel 11. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap . = . Sikap Frekuensi Persentase (%) Sangat Tinggi Rendah Sangat Total Tabel 11 hasil penelitian diatas, sikap ibu didominasi kategori sangat tinggi dengan nilai persentase 51,5% sebesar 67 orang Tabel 12. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Gizi Page | 127 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :122 - 139 Status Gizi Normal Gemuk Total . Frekuensi Persentase (%) Tabel 12 hasil penelitian diatas, status gizi ibu didominasi kategori normal dengan nilai persentase sebesar 97,7% sebanyak 127 orang Analisis Bivariat Tabel 13. Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Status Gizi Anak Penget Status Gizi Total p ahuan Norm BB N % Baik N % 0,0 0,0 3 2 0 0, 3 2 5 6, 0 5 6, Cukup 3 2 0 0, 3 2 3 5, 0 3 5, Kuran 5 4 3 2, 6 4 9 5, 3 2 7, Jumla 8 6 3 2 4 4, 4 6, Tabel 13, uji SomersAoD yang dilakukan pengetahuan ibu terhadap status gizi, p-value 0,076(<0,. bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan status gizi. Sikap Tabel 14. Analisis Bivariat Hubungan Sikap Ibu Dengan Status Gizi Anak ISSN : 2502-1524 Sika Status Gizi Norma BB Total N % N % 0,0 0,0 San Tin Ren San Jum Tabel 14, uji SomersAoD yang dilakukan untuk menilai hubungan antara sikap ibu terhadap status gizi, dengan nilai p-value sebesar 0,092, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Sikap terhadap Status Gizi. Nilai r . sebesar 0,077 mengindikasikan bahwa hubungan antara kedua variable memiliki arah yang positif dengan kekuatan hubungan sangat lemah. Artinya, semakin tinggi implementasi sikap seseorang dalam pola pemberian makanan, maka semakin tinggi juga status gizi. Pembahasan Hasil Uji Univariat Usia Hasil mengungkapkan bahwa sebagian besar ibu berada dalam rentang usia 22 hingga 35 tahun, dengan nilai median 29 tahun. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelum nya (Gao et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa kelompok usia ini merupakan periode reproduktif optimal bagi perempuan. Dengan kesiapan fisik Page | 128 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak dan mental yang lebih optimal dalam . mengungkapkan bahwa anak dari merawat anak dibandingkan dengan orang tua yang memiliki riwayat obesitas kelompok usia yang lebih muda atau lebih berisiko mengalami kelebihan berat lebih tua. (Smith et al. , 2. badan karena faktor genetik yang Penelitian memengaruhi metabolisme, penyimpanan mengungkapkan bahwa ibu dalam lemak, serta regulasi nafsu makan. rentang usia ini cenderung memiliki akses Penelitian ini linear dengan informasi yang lebih luas mengenai temuan penelitian sebelumya (Tristiyanti kesehatan dan gizi, serta lebih aktif dalam et al. Dalam studi tersebut, pengambilan keputusan terkait pola asuh ditemukan bahwa faktor usia ibu, anak (Anderson et al. , 2. Usia ibu khususnya pada rentang usia muda yang lebih matang juga dikaitkan dengan memiliki keterkaitan dengan prevalensi obesitas pada balita usia 1-3 tahun. pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi Selain itu, penelitian oleh Syahidah dan anak, yang berkontribusi terhadap Wijayanti . juga mendukung perkembangan anak secara optimal temuan ini, dengan menyatakan bahwa (Johnson & Brown, 2. persepsi ibu terhadap kegemukan pada Hasil analisis tabulasi silang balita dipengaruhi oleh usia dan tingkat menunjukkan bahwa sebanyak 17 anak pendidikan, yang berdampak pada status dengan status gizi normal berasal dari ibu gizi anak. berusia 24 tahun. Data ini menunjukkan Pendidikan bahwa dalam kelompok usia ibu 24 tahun. Hasil penelitian menunjukan proporsi anak dengan status gizi normal bahwa mayoritas responden memiliki masih cukup signifikan dibandingkan tingkat pendidikan SMA, dengan jumlah dengan kategori status gizi lainnya. 74 orang atau 56,9%. Temuan ini linear Penelitian mengungkapkan bahwa ibu dengan penelitian yang dilakukan oleh dengan pemahaman yang lebih baik Siti Nurhayati . Penelitian tersebut mengenai pola makan sehat cenderung menemukan bahwa tingkat pendidikan lebih mampu menyediakan asupan ibu terbanyak adalah SMA . 13%). Hal makanan yang seimbang bagi anak-anak ini menunjukkan adanya konsistensi mereka (Hossain et al. , 2. temuan antara penelitian ini dengan Pola makan anak dipengaruhi oleh penelitian sebelumnya terkait dominasi kebiasaan keluarga dan lingkungan tingkat pendidikan SMA di kalangan ibu. Anak-anak dari ibu yang Kecenderungan responden ibu dengan memiliki pola makan kurang seimbang pendidikan SMA sebagai mayoritas dapat atau kurang memperhatikan aktivitas fisik menjadi cerminan dari meluasnya anak cenderung memiliki risiko lebih peluang pendidikan menengah di tanah tinggi terhadap obesitas (Gao et al. Selain itu, faktor lingkungan Hasil tabulasi silang antara tingkat seperti paparan media dan kebiasaan pendidikan ibu dengan status gizi anak makan di luar rumah juga berperan dalam menunjukkan adanya variasi distribusi membentuk preferensi makanan anak status gizi di antara kelompok Pendidikan (Smith et al. , 2. ibu yang berbeda. Dari total 130 Selain faktor lingkungan, faktor responden, mayoritas ibu memiki Tingkat biologis memainkan peran penting dalam Pendidikan SMA, yaitu sebanyak 74 status gizi anak menjadi gemuk. Fildes orang atau 56. 9% dari keseluruhan ISSN : 2502-1524 Page | 129 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :122 - 139 responden dengan status gizi normal, ibu dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi yang memiliki anak dengan status gizi normal berjumlah hanya 19 anak dengan persentase 14,6%. Temuan ini menunjukan bahwa pendidikan SMA lebih dominan. Namun, hasil penelitian ini tidak selaras dengan studi yang dilakukan oleh Dwi Nurvianti . , yang menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki anak dengan status gizi kurang, sedangkan ibu dengan pendidikan lebih tinggi umumnya memiliki anak dengan status gizi yang lebih baik. Ini pendidikan menengah atas (SMA) Sementara itu, ibu dengan pendidikan SMA yang lebih banyak berada di rumah memiliki peran langsung dalam mengatur pola makan dan asupan gizi anak, yang bisa berkontribusi terhadap status gizi yang lebih baik. (Rachmah, 2. Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan mendominasi dengan jumlah 66 anak, atau 50,8% dari total responden. Sementara itu, jumlah anak laki-laki adalah 64 orang, atau 49,2%. Ini menunjukkan bahwa distribusi jenis kelamin dalam penelitian ini relatif seimbang, dengan sedikit dominasi pada jenis kelamin perempuan. Hasil analisis tabulasi silang antara jenis kelamin dan status gizi menunjukkan bahwa dari 64 anak lakilaki, sebanyak 62 anak . ,7%) memiliki status gizi normal, sementara 2 anak . ,5%) mengalami kelebihan berat badan. Sedangkan dari 66 anak perempuan, 65 anak dengan presentase 50,0% memiliki status gizi normal, 1 anak dengan presentase 0,8% memiliki berat badan Mayoritas anak dari kedua jenis ISSN : 2502-1524 kelamin memiliki status gizi normal Temuan ini linear penelitian yang dilakukan oleh Victor Fulakeza . , yang menemukan adanya perbedaan signifikan dalam distribusi status gizi antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor biologis dan sosial yang terkait dengan jenis kelamin dapat memengaruhi status gizi anak. Pada tahap ini, anak mengalami pertumbuhan yang cepat, sehingga memiliki metabolisme basal yang lebih tinggi. Artinya, tubuh mereka membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badan (Wells. Tingkat aktivitas fisik menjadi salah satu faktor utama yang berperan dalam menentukan status gizi anak. Aktivitas fisik yang cukup tidak hanya energi, tetapi juga berperan dalam perkembangan otot, tulang, serta sistem kardiovaskular pada anak usia dini (Tremblay et al. , 2. Usia Anak Hasil analisis tabulasi silang antara usia anak dan status gizi menunjukkan bahwa pada usia 12 bulan dan 25 bulan, terdapat 10 anak dengan status gizi normal, yang setara dengan 3,8%. Sementara itu, sebanyak 3 anak dengan kelebihan berat badan ditemukan pada rentang usia 19 bulan, 26 bulan, dan 27 bulan, dengan masing-masing memiliki persentase sebesar 0,8%. Kebutuhan nutrisi yang berbeda merupakan salah satu factor resiko pada anak usia 1-3 tahun, anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan status gizi karena kebutuhan nutrisi yang meningkat pesat. Aktivitas anak pada usia ini memungkinkan mereka terpapar. Beragam faktor dapat memengaruhi status gizi, termasuk infeksi dan pola Page | 130 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak makan yang tidak sesuai (Faiq et al. dapat diamati bahwa mayoritas anak Selain itu, masalah seperti anemia memiliki berat badan dengan median 10 defisiensi besi dan kekurangan vitamin A kg dan rentang 6-25 kg dengan total juga sering terjadi pada anak usia 1-3 Berat badan anak usia 1-3 tahun, dikarenakan kurangnya variasi tahun dipengaruhi oleh berbagai faktor, makanan dan kebiasaan makan yang tidak sehat (Susanti et al. , 2. kesehatan, dan faktor genetik. Pada masa Tinggi Badan Anak ini, anak mengalami pertumbuhan pesat Berdasarkan data distribusi tinggi badan anak yang disajikan dalam tabel, seimbang, terutama protein, karbohidrat, dapat diamati bahwa mayoritas anak lemak, vitamin, dan mineral. memiliki tinggi badan dalam rentang 50Hasil analisis tabulasi silang 120 cm dengan total responden 130. antara berat badan dan status gizi Pertumbuhan tinggi badan pada anak usia menunjukkan bahwa sebagian besar anak 1-3 tahun sangat dipengaruhi oleh asupan memiliki berat badan dalam kategori nutrisi, kesehatan, dan genetik. Pada masa normal, dengan total sebanyak 127 anak ini, anak mengalami pertumbuhan pesat Paling tinggi terdapat pada berat badan anak 8,00 kg dengan anak berjumlah 8 seimbang, terutama protein, kalsium, dan Meskipun di dominasi oleh status vitamin D yang berperan dalam gizi normal, masih di temukan status gizi perkembangan tulang dan otot. dengan berat badan lebih pada kelompok Hasil tabulasi silang tinggi badan berat badan anak 15,50kg total 2 anak dengan status gizi menunjukkan bahwa dengan presentase 1,5% dan 17,50kg total keseluruhan tinggi badan anak . anak dengan presentase 0,8% total. seluruh anak tergolong normal. Hasil penelitian ini menunjukkan Meskipun status gizi dominan anak adanya keterkaitan hubungan antara berat normal masih terdapat beberapa anak badan dan status gizi anak. Penelitian dengan status gizi berat badan lebih pada sebelumnya oleh Mutiara Prihatini kelompok tinggi badan 80 dan 90 cm. Studi ini menunjukkan Terdapat Namun, status gizi normal tetap menjadi hubungan yang signifikan antara berat yang paling dominan. Pada kelompok badan anak dan status gizi berdasarkan anak dengan tinggi badan 70 cm, status indikator Tinggi Badan per Umur (TB/U), gizi normal juga menjadi yang paling yang menunjukkan bahwa asupan lemak berlebih dapat berkontribusi terhadap Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan berat badan anak. Temuan adanya keterkaitan antara tinggi badan ini selaras dengan penelitian yang dan status gizi anak. Temuan ini sejalan dilakukan oleh Bambang Wirjatmoko dengan penelitian yang dilakukan oleh . Hardiansyah . , yang menunjukkan Pengetahuan Ibu bahwa anak-anak dengan tinggi badan di Hasil penelitian menunjukkan bawah standar cenderung memiliki risiko bahwa sebagian besar responden, yakni lebih besar mengalami permasalahan gizi, 62 orang . ,7%), memiliki tingkat seperti stunting dan berat badan kurang. pengetahuan yang tergolong rendah. Berat Badan Anak Sementara itu, sebanyak 33 responden Berdasarkan data distribusi berat ,4%) memiliki tingkat pengetahuan badan anak yang disajikan dalam tabel, yang cukup, dan hanya 35 responden ISSN : 2502-1524 Page | 131 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :122 - 139 ,9%) pengetahuan yang baik. Hasil ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan dalam tingkat pemahaman responden terhadap topik yang diteliti. Tingginya persentase responden dengan pengetahuan kurang mengindikasikan perlunya upaya peningkatan edukasi atau meningkatkan pemahaman mereka. Hasil analisis tabulasi silang antara tingkat pengetahuan dan status gizi menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pengetahuan rendah memiliki status gizi normal, yaitu sebanyak 59 anak . ,2%). Sementara itu, responden dengan tingkat pengetahuan cukup dan baik tidak ditemukan memiliki status gizi dengan kategori berat badan lebih . %) Sikap Ibu Hasil dari penelitian mayoritas responden memiliki sikap yang sangat tinggi terhadap topik yang diteliti, yaitu sebanyak 67 orang . ,5%). Sebanyak 35 responden . ,9%) memiliki sikap tinggi, sedangkan responden dengan sikap rendah berjumlah 17 orang . ,1%). Sementara itu, kategori sikap sangat rendah memiliki jumlah paling sedikit, yaitu 11 responden . ,5%). Hasil sebagian besar responden memiliki sikap positif, yang berpotensi mendukung penerapan perilaku yang lebih baik terkait dengan variabel yang diteliti. Hasil tabulasi sikap dengan status gizi, dapat disimpulkan bahwa hasil di dominasi oleh responden kelompok sikap dengan sangat tinggi normal yaitu sejumlah 67 anak . ,5%). Hasil terendah adalah responden kelompok sikap sangat rendah rendah dan sangat tinggi dengan status gizi berat badan lebih dengan total Temuan ini menunjukkan bahwa ISSN : 2502-1524 sikap positif ibu memiliki peran penting dalam mempertahankan status gizi normal pada anak. Sikap yang baik dalam pola asuh dan pemenuhan gizi dapat mendorong perilaku yang mendukung kesehatan serta pertumbuhan anak secara Penelitian yang dilakukan oleh Ilham . mengungkapkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu mengenai gizi dengan status gizi balita, di mana peningkatan pengetahuan serta sikap positif ibu berkontribusi terhadap status gizi yang lebih baik pada anak. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Sari et al. menunjukkan bahwa ibu dengan sikap positif terhadap gizi cenderung lebih konsisten dalam menerapkan pola makan sehat bagi anak-anak mereka, yang berdampak pada status gizi yang lebih Ibu yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya gizi lebih cenderung menyediakan makanan bergizi seimbang serta membatasi konsumsi makanan yang kurang sehat. Selain itu, penelitian Putri & Wahyuni . menemukan bahwa ibu dengan sikap rendah terhadap gizi sering kali kurang memperhatikan asupan nutrisi anak, sehingga berisiko menyebabkan status gizi kurang atau bahkan obesitas. Sikap ibu yang kurang peduli terhadap pola makan anak sering kali dipengaruhi ketidakmampuan dalam mengakses bahan makanan bergizi. Status Gizi Balita Mayoritas dikategorikan memiliki status gizi normal sebesar 46,2%, diikuti oleh kelompok dengan risiko obesitas sebesar 20,0% dan obesitas sebesar 21,5%. Sementara itu, proporsi responden dengan status gizi kurang dan gizi buruk lebih rendah, masing-masing sebesar 10,0% dan 2,3%. Page | 132 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak Hasil ini mengindikasikan bahwa secara keseluruhan, tingkat pemahaman sebagian besar responden memiliki status ibu dalam populasi penelitian berada pada gizi yang baik, yang kemungkinan kategori baik. dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti Hasil penelitian ini sejalan dengan pola makan yang seimbang, tingkat temuan Rahmawati & Susanti . , pendidikan ibu, serta akses terhadap yang menunjukkan bahwa mayoritas ibu layanan kesehatan. Pengetahuan ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai gizi berperan penting dalam terkait gizi anak usia dini. Penelitian lain menentukan jenis dan kualitas asupan yang dilakukan oleh Wijaya & Lestari makanan yang diberikan kepada anak . juga memperkuat hasil ini, di (Putri et al. , 2. Selain itu, faktor mana mayoritas ibu memiliki pemahaman ekonomi juga berkontribusi dalam yang cukup baik mengenai gizi seimbang pemenuhan gizi anak, di mana keluarga bagi anak. dengan kondisi ekonomi yang lebih baik umumnya memiliki akses yang lebih Sikap Ibu mudah terhadap makanan bergizi serta Hasil penelitian ini menunjukan layanan kesehatan yang lebih optimal sebagian besar responden berada dalam (Sari et al. , 2. kategori status gizi normal. Temuan ini Namun, adanya kasus resiko menunjukkan bahwa mayoritas responden obesitas dan obesitas dalam jumlah yang memiliki kondisi gizi yang sesuai dengan cukup besar menunjukkan bahwa terdapat standar kesehatan sebanyak 127 orang kemungkinan pola makan yang tidak . ,7%) dari total 130 responden. seimbang, seperti asupan tinggi kalori dan Sementara itu, hanya 3 orang . ,3%) yang Studi termasuk dalam kategori gemuk. Hasil ini sebelumnya menyebutkan bahwa pola menunjukkan bahwa secara umum, sikap makan tinggi gula dan lemak dapat ibu terhadap pola pemberian makanan meningkatkan risiko obesitas pada anakanak di Desa Guwo cenderung positif anak (Rahmawati & Widjaja, 2. atau mendukung. Melalui Temuan ini menunjukan bahwa diidentifikasi apakah terdapat hubungan mayoritas responden memiliki status gizi yang signifikan antara berbagai faktor yang optimal yang dapat mencerminkan tersebut dengan status gizi anak. Hasil pola makan yang cukup dan seimbang analisis ini dapat menjadi dasar dalam Namun, masih terdapat sebagian kecil merancang intervensi yang lebih terarah responden yang mengalami kelebihan dan efektif untuk meningkatkan status berat badan . , sehingga, edukasi gizi anak (Yuliana et al. , 2. mengenai pola makan sehat dan aktivitas Pengetahuan Ibu fisik yang memadai tetap diperlukan Berdasarkan untuk memastikan keseimbangan gizi melibatkan 130 responden, ditemukan yang optimal. bahwa sebagian besar ibu memiliki Pola makan yang tidak seimbang tingkat pengetahuan yang baik, yaitu dapat berkontribusi terhadap masalah sebesar 46,2%. Sementara itu, sebanyak gizi, baik kekurangan maupun kelebihan 33,8% ibu memiliki tingkat pengetahuan Penelitian yang dilakukan oleh yang cukup, dan hanya 19,2% yang Fitriani et al. mengungkapkan tergolong memiliki pengetahuan kurang. bahwa anak dengan asupan energi yang Temuan ini mengindikasikan bahwa ISSN : 2502-1524 Page | 133 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :122 - 139 mengalami gizi kurang. Selain itu, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi berperan dalam kejadian gizi kurang pada balita, terutama pada keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah. Hasil Uji Bivariat Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Status Gizi Anak Dalam beberapa kasus, ibu yang memiliki pengetahuan gizi cukup belum tentu mendapatkan akses mudah ke pelayanan kesehatan atau bahan makanan berkualitas, sehingga implementasi dari pengetahuan yang dimiliki menjadi terbatas (Sari & Lestari, 2. Selain itu, pengaruh budaya dan kebiasaan keluarga juga dapat memengaruhi status gizi anak. Misalnya, beberapa daerah memiliki kebiasaan memberikan makanan tertentu yang kurang bernutrisi kepada anak karena faktor tradisi atau kepercayaan turun-temurun (Rahayu et al. , 2. Hubungan Sikap Ibu dengan Status Gizi Anak. Hasil uji SomersAo D menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,092, yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dan status gizi anak di Desa Guwo. Temuan ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayati . di Pancoran Mas. Depok. Jawa Barat, yang menemukan bahwa meskipun 57,1% ibu memiliki sikap yang cukup baik dalam pemenuhan gizi balita, kondisi tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan status gizi balita yang Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Maulina et al. di Kecamatan Kuta Baro. Aceh Besar, juga menunjukkan hasil serupa. Studi tersebut menemukan bahwa hubungan antara sikap ibu dan kejadian stunting pada balita memiliki nilai p=0,309, yang menunjukkan bahwa sikap ibu tidak ISSN : 2502-1524 berpengaruh secara signifikan terhadap status gizi anak. Hal ini mengindikasikan bahwa status gizi anak tidak hanya dipengaruhi oleh sikap ibu, tetapi juga oleh berbagai faktor lain, seperti pola makan keluarga, tingkat pendidikan ibu, akses terhadap sumber daya pangan, serta kondisi sosial ekonomi keluarga. Kondisi sosial ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pemenuhan gizi Meskipun seorang ibu memiliki sikap yang positif terhadap pemberian makanan sehat, keterbatasan finansial menyediakan asupan gizi yang optimal bagi anak. Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al. menunjukkan bahwa status ekonomi memiliki dampak yang lebih besar terhadap status gizi anak dibandingkan dengan sikap ibu. Selain itu, studi oleh Yulianti et al. mengungkapkan bahwa pola makan anak memberikan pengaruh yang lebih dibandingkan dengan sikap ibu. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Mayoritas ibu yang menjadi responden dalam penelitian ini berusia antara 22 hingga 35 tahun, dengan nilai median sebesar 29 tahun. Selain itu, sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA, yaitu sebanyak 74 orang . ,9%). Dalam hal jenis kelamin anak, lebih dari setengah jumlah balita yang diteliti adalah perempuan, yaitu sebanyak 66 anak . ,8%). Sebagian besar balita dalam penelitian ini memiliki status gizi normal, dengan jumlah mencapai 127 anak . ,7%). Sementara itu, sebanyak 3 anak . ,3%) Page | 134 Dyana Putri Ellyzabeth dkk: Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pola Pemberian Makanan Dengan Status Gizi Anak dikategorikan sebagai balita dengan berat badan berlebih. Bagi Institusi Kesehatan Faktor lain seperti kondisi ekonomi Hasil penelitian ini dapat dijadikan keluarga, pola asuh dalam pemberian bahan evaluasi dan referensi bagi makan, kebersihan dan sanitasi institusi kesehatan, seperti puskesmas lingkungan, serta akses terhadap atau posyandu, untuk mengoptimalkan makanan bergizi juga berperan dalam program edukasi gizi dan konsultasi menentukan status gizi anak. pola pemberian makanan bagi ibu Berdasarkan Diperlukan intervensi yang diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu guna tingkat pengetahuan ibu dan status gizi memperbaiki status gizi balita. Upaya anak, dengan nilai p sebesar 0,092. ini diharapkan dapat meningkatkan Selain itu, hasil analisis juga pemahaman ibu terkait pola makan menunjukkan bahwa tidak terdapat sehat dan praktik pemberian gizi yang hubungan yang signifikan antara sikap optimal bagi anak. ibu dan status gizi anak. Nilai korelasi . sebesar 0,077 mengindikasikan DAFTAR PUSTAKA adanya hubungan yang positif, namun Anggraeni. Toby. , & dengan tingkat keterkaitan yang sangat Rasmada. Analisis Asupan Dengan demikian, meskipun ibu Zat Gizi Terhadap Status Gizi Balita. memiliki sikap yang baik terhadap Faletehan Health Journal, 8. , 92Ae pemberian makanan, faktor tersebut hanya memiliki pengaruh yang kecil https://doi. org/10. 33746/fhj. terhadap status gizi anak. Selain faktor pengetahuan dan sikap Armitage. , & T. Feeding ibu, terdapat faktor lain yang turut difficulties in early childhood: Factors berkontribusi dalam menentukan status influencing eating behaviors. Early gizi anak. Faktor-faktor tersebut Child Development and Care, 186. , meliputi kondisi ekonomi keluarga, 437Ae448. pola asuh dalam pemberian makanan, kebersihan dan sanitasi lingkungan. Astuti. Hubungan Riwayat serta akses terhadap makanan bergizi. Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-59 Bulan. memengaruhi asupan nutrisi dan Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11. , kesehatan anak secara umum. 45Ae53. SARAN