Volume 14 Nomor 1 . ISSN (P): 2087-4820 ISSN (E): 2579-8995 DOI: https://doi. org/10. 54180/elbanat. INTEGRASI METODE HERMENEUTIK DALAM TAFSIR TARBAWI: Tantangan dan Implikasi dalam Pendekatan Pedagogis al-QurAoan Bahrul Ulum1. Nur Hasan AsyAoari2, 1,2 STAI YPBWI Surabaya ABSTRAK Tafsir Tarbawi selama ini mengacu pada tafsir al-Quran yang diterapkan dengan pendekatan pendidikan atau Pendekatan pedagogis dalam mata kuliah ini menjadikan Al-Quran sebagai sumber utama pembelajaran, berdasar ayat-ayat tentang pendidikan. Metode penafsirannya umumnya menggunakan tafsir Tulisan ini mengkaji metode hermeneutik dalam memahami ayat-ayat al-QurAoan terkait pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hermeneutik dalam Tafsir Tarbawi bisa dilakukan selama memperhatikan penafsiran yang sudah ada. Caranya, menggabungkan dengan metode-metode tafsir Islam seperti tafsir bil-ma'tsur . afsir berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadi. atau tafsir bil-ra'yi . afsir berdasarkan penilaian rasiona. Namun, jika Hermenetik sama sekali lepas dari tafsir yang sudah ada, akan berisiko pada penafsiran yang keluar dari konteks aslinya. Ini karena penerapan hermenutik dalam tafsir tarbawi dapat menghasilkan beragam interpretasi sehingga bisa mengaburkan tujuan pedagogis yang diinginkan. Karenanya, hermeneutik harus dijalankan dengan hati-hati agar tidak melanggar prinsip-prinsip atau nilai-nilai Islam. Penafsiran yang menghasilkan makna yang bertentangan dengan ajaran Islam akan bertentangan dengan tujuan Tafsir Tarbawi Kata Kunci: Tafsir Tarbawi, hermeneutik, metode, kurikulum. ABSTRACT Tarbawi's interpretation has so far referred to interpretation of the Al-Quran applied with an educational or pedagogical approach. The pedagogical approach in this course makes the Al-Quran the main source of learning, based on verses about education. The interpretation method generally uses thematic interpretation. This article examines the hermeneutic method in understanding the verses of the Koran related to education. The research results show that the use of hermeneutics in Tafsir Tarbawi can be done as long as it pays attention to existing The method is to combine it with Islamic exegetical methods such as tafsir bil-ma'tsur . afsir based on verses of the Koran and hadit. or tafsir bil-ra'yi . afsir based on rational judgmen. However, if Hermenetics is completely separated from existing interpretations, there will be a risk of interpretations that are out of their original context. This is because the application of hermeneutics in tarbawi interpretation can produce a variety of interpretations that can obscure the desired pedagogical goals. Therefore, hermeneutics must be carried out carefully so as not to violate Islamic principles or values. Interpretations that produce meanings that conflict with Islamic teachings will conflict with the objectives of Tafsir Tarbawi. Keywords: Tafsir Tarbawi, hermeneutics, method, curriculum Pendahuluan Metode hermeneutik pada dasarnya merupakan salah satu pendekatan terhadap sebuah teks. Hermenutik melakukan sebuah pendekatan interpretative terhadap teks yang dianggap butuh pemahaman lebih mendalam. Terkait hal ini tersebut, hermeneutik diharapkan dapat membantu dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan tema pendidikan Islam, terutama dari dimensi filsafat bahrulgms@gmail. Perum Rewwin. Jl. Wedoro PP Blok PP No. Wedoro. Kec. Waru. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur 61253 Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi Disamping itu juga dari konteks sejarah dimana ayat-ayat tentang pendidikan Dalam Tafsir Tarbawi, konteks sejarah dan budaya suatu ayat atau cerita dalam Al-Qur'an digunakan untuk memahami pesan moral dan pendidikan yang ingin Metode mengungkapkan makna-makna yang mungkin terkandung dalam konteks tersebut. Dalam Tafsir Tarbawi, pemahaman teks agama tidak hanya ditujukan untuk memahami makna harfiah, tetapi juga untuk menggali makna moral, etika, dan nilainilai yang terkandung dalam teks tersebut. Metode hermeneutik membantu dalam memecahkan makna-makna yang lebih dalam dalam teks tersebut. Kedua pendekatan ini mengakui pentingnya interpretasi dalam memahami teks suci. Hermeneutik menekankan bahwa teks-teks sastra dan agama cenderung memiliki banyak lapisan makna, dan tafsir tarbawi menekankan pentingnya menggali pesan moral dan pembentukan karakter dari teks tersebut. Hermeneutik memberikan alat-alat analitis yang dapat diterapkan dalam tafsir tarbawi untuk menghadirkan pemahaman yang lebih Salah satu tujuan Tafsir Tarbawi adalah untuk membentuk karakter dan nilainilai positif dalam masyarakat berdasarkan ajaran agama. Metode hermeneutik dapat membantu dalam mengidentifikasi pesan moral yang terkandung dalam teks agama dan merumuskan cara-cara di mana pesan-pesan tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk karakter yang baik. Dalam praktiknya. Tafsir Tarbawi dapat mengadopsi prinsip-prinsip hermeneutik untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan kontekstual terhadap teks-teks agama, sehingga dapat memberikan panduan moral dan etika yang lebih konkret dalam kehidupan umat. Artinya antara tafsir tentang pendidikan dari kitab-kitab tafsir digabungkan dengan hermeneutik sebagai metode untuk memperdalam pemahaman Tafsir Tarbawi, bukan merubahanya. Dengan masuknya hermenetika sebagai bagian kurikulum pembelajaran berarti metode tersebut layak dipertimbangkan. Kurikulum sendiri perannya sangat strategis demi mencapai tujuan pendidikan, baik umum maupun agama. Sedangkan tujuan kurikulum berdasar pada perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat yang didasari pemikiran-pemikiran yang terarah sesuai pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Sebagai bagian komponen pendidikan, peran kurikulum dalam mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan sangatlah besar. Untuk 1 Marliana. AuAnatomi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di SekolahAy dalam jurnal (Dinamika Ilmu. Vol. 13 No. Desember 20130, 137 El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan itu kurikulum menadi kekuatan fundamental yang mempengaruhi dan membentuk proses Kesalahan menyusun kurikulum menyebabkan kegagalan sebuah pendidikan dan penzaliman terhadap peserta didik. Dalam konteks ini, kurikulum menjadi media strategis bagi para pendidik untuk mengembangkan pengetahuan dan memasukkan nilai-nilai tertentu kepada peserta Dengan kata lain kurikulum menjadi sebuah manhaj yang digunakan orang atau sekelompok orang untuk menyampaikan ide-denya melalui pendidikan. Al-Khauly sebagaimana dikutip Muhaimin menjelaskan bahwa al-Manhaj sebagai seperangkat rencana dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Metode Penelitian Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian pustaka (Library Researc. , yaitu penelitian ini tidak mendasarkan hasil penelitianya pada temuan lapangan, akan tetapi hasil kajian litertur yang dilakukan selama penelitian. Sedangkan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang mana penyajian data tidak dilakukan dengan mengungkapkannya secara numerik sebagaimana penyajian data secara kuantitatif. 4 Taylor mendefinisikan, metodologi kualitatif sebagai prosedur penilaian yang menghasilkan data desktiptif berupa kata-kata tertulis ataulisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. 5 Oleh karenaitu penelitian kualitatif cenderung evolving, flexibel. General. 6 Jenis penelitian yang dipakai dalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi keustakaan (Library Researc. Penelitian dengan pendekatan studi literatur, berupaya menggali konsep kepustakaan ide, maupun pemikiran filosofis tanpa memerlukan penelitian ke lapangan objek penelitian. 8 Penelitian ini mengkaji tentang integrasi metode Hermeneutik dalam tafsir tarbawi, sebagai tantangan dan Implikasi dalam Pendekatan Pedagogis dalam kajian tafsir al-QurAoan . 2 Ramayulis dan Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2. , 194. 3 Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo,2. , 4 Muhammad Toriqularif. AuPenelitian evaluasi pendidikan,Ay Addabana: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. : 66Ae76. 5 Lexy J Moleong. AuMetode penelitian kualitatif edisi revisi,Ay Bandung: PT Remaja Rosdakarya . 6 Abdul Rahman et al. AuMetode Penelitian Ilmu SosialAy . 7 Menurut Anselm Strauss & Juliet Corbin penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik maupun bentuk hitungan lainnya. Lihat Redja Mudyahardjo. AuFilsafat Ilmu Pendidikan Suatu PengantarAy . 8 Anselm Strauss dan Juliet Corbin. AuBasic of qualitative Research. Grounded Theory Procedures and Techniques, terj,Ay M. Shodiq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . El Banat Vol. 14 No. Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi Posisi Hermeneutik Hermeneutika berasal dari bentuk kata kerja bahasa Yunani hermeneuein, yang memiliki arti "to interpret". Sedang kata bendanya, hermeneia, berarti "interpretation". Kedua kata tersebut kemudian berkembanan sesuai dengan penggunaannya dalam rana teologi dan literatur. Berbagai bentuk kedua kata tersebut sudah dipakai dalam teks-teks klasik seperti yang tulisan Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau On Interpretation. Maksudnya, kata-kata yang diucapkan seseorong adalah simbol dari pengalaman mental orang tersebut, dan kata-kata yang ia tulis adalah simbol dari kata-kata yang ia ucapkan. Hal yang sama juga digunakan oleh Plato. Xenophon. Plutarch. Euripides. Epicurus. Lucretius, dan Longinus juga menggunakan dua kata tersebut. Hermeneutik sebagai sebuah metode penafsiran sudah dipakai banyak kalangan dalam penelitian untuk memahami suatu teks. Adalah Friedrich Schliermacher, teolog Protestan, yang pertama kali menjadikan hermeneutika luas wilayah kajiannya dari sekedar teknik interpretasi kitab suci (Biblicache Hermeneutic. menjadi hermeneutika Mengkaji prasyarat atau kondisi-kondisi apa saja yang memungkinkan terwujudnya suatu pemahaman yang betul dari sebuah teks. Schliermacher bukan hanya meneruskan usaha Semler dan Ernesti yang berupaya membebaskan tafsir dari dogma, tapi juga mengajukan perlunya melakukan desakralisasi teks. Dalam perspektif hermeneutika umum ini, semua teks harus diperlakukan sama, tidak peduli apakah itu kitab suci (Bibl. atau teks hasil karangan manusia biasa. 10 Schliermacher mengakui adanya perubahan dalam kitab Bible sehingga menurutnya perlu dilakukan penafsiran ulang dengan menggunakan metode hermenutik. Bahkan metode tersebut juga harus digunakan kepada semua teks. Dalam teologi, orang yang pertama kali memperkenalkan hermeneutika yaitu seorang teolog Strasbourg bernama Dannhauer. Menurutnya hermeneutik sebagai syarat terpenting bagi setiap ilmu pengetahuan yang mendasarkan keabsahannya pada intrepertasi teks-teks. Dannhauer terinspirasi oleh risalah peri Hermeneias (De interpertatio. saat memperkenalkan kata hermeneutik. Aristoteles, mengklaim, ilmu interpertasi yang baru berlaku tidak lain menjadi pelengkap bagi Organon Aristotelian. Richard E. Palmer. Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher. Dilthey. Heidegger, and Gadamer, {Evanston: Northwestern University Press, 1. , 90-92 10 Syamsuddin Arif. Orientalisme & Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani Pers, 2. , 180. El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan Namun. Wilhem Dilthey, menyatakan bahwa hermeneutika telah digunakan satu abad lebih awal oleh protestanisme. Kemudian pada abad ke-17, penggunaan hermeneutika sebagai metode penafsiran dan filsafat penafsiran, berkembang luas dalam keilmuan dan dapat diadopsi oleh semua kalangan. Ini ditandai munculnya pemikiran Hang-Berry Badamer. Eumilio Betti. Paul Ricoeur. Habermas dan sebagainya. Kajian hermeneutik menurut Hans-Georg Gadamer, merupakan fenomena pemahaman dan penafsiran yang benar terhadap apa yang dipahami, bukan sekedar sesuatu yang cocok bagi metodologi ilmu pengetahuan. Sebelumnya, suda ada pelajaran hermeneutika teologis dan hermeneutika hukum, yang secara teoritis tidak banyak berhubungan tetapi keduanya merupakan bantuan bagi praktisi hakim atau pendeta yang telah menyelesaikan pendidikannya. Sedang penerapannya menjadi sebuah unsur pemahaman itu sendiri. Karena hubungan ini, sejarahwan hukum dan praktisi hukum berada pada level yang sama, sehingga menurut Gadamer, yang pertama secara eksklusif mempunyai tugas AukontemplatifAy dan lainnya mempunyai tugas praktis. 13 Demikian juga hermeneutika diyakini oleh Schleiermacher terkait dengan sesuatu yang konkrit, eksis, dan berperilaku dalam proses pemahaman dialog. Hermeneutika menurutnya sungguh merupakan Auseni pemahamanAy. Menurut Schleiermacher, untuk memahami sebuah teks, metode hermeneutika sangat dibutuhkan. Sedang untuk dapat memahami maksud pengarang seperti yang tertera dalam tulisan-tulisannya, maka tidak ada jalan bagi penafsir kecuali keluar dari tradisinya sendiri untuk kemudian masuk ke dalam tradisi si penulis teks tersebut hidup, atau paling tidak membayangkan seolah dirinya hadir pada zaman itu. Hal ini karena style dan karakter bahasanya berbeda antara penafsir dan penulis. Dengan masuk pada tradisi pengarang, kemudian memahami dan menghayati budaya yang melingkupinya, penafsir akan mendapatkan makna yang objektif sebagaimana yang dimaksudkan si 15 Dengan mengikuti langkah-langkah ini. Schleiermacher berpendapat bahwa 11 Jean Grondin. Sejarah Hermeneutik. dari Plato sampai Gadamer, terj. Inyik Ridwan Muzir (Yogyakarta. Ar-Ruz Media Grup, 2008. Cet. II. , 45-46 12 Fahkruddin Faiz. Hermeneutika QurAoani: Antara Teks. Konteks, dan Kontekstualisasi (Yogyakarta: Qalam, 2. Jean Grondin, 2007. AuGadamerAos Basic Understanding of Understanding (The Cambridge Companion to Gadame. Ay, https://w. org/core/books/cambridgecompanion-to-gadamer/gadamers-basicunderstanding-of-understanding/7D8B507EE6A3275466ACFC0F6A16A03A , diakses tanggal 10 Nopember 2022 David Hill. AuGerman Philosophy: A Very Short IntroductionAy,( Journal of Contemporary European Studies. Vol. No. Juli 2. , 299-300 15 K. Bertens, (Filsafat Barat Abad XX. Jakarta: Gramedia, 1. , 230 El Banat Vol. 14 No. Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi penafsir dapat mencapai pemahaman yang lebih objektif terhadap maksud pengarang, yang merupakan tujuan utama hermeneutika. Pendekatan ini menekankan pentingnya penghormatan terhadap teks dan pengarangnya, serta menghindari penafsiran yang terlalu subjektif. Dengan mengikuti metode hermeneutika ini, penafsir diharapkan dapat mendekati makna teks dengan lebih akurat. Metode Tafsir Tarbawi Tafsir tarbawi adalah pendekatan tafsir Al-Quran yang lebih berfokus pada aspek pendidikan, moral, dan pembinaan karakter. Tujuannya adalah untuk mendidik dan memotivasi pembaca Al-Quran agar mereka dapat mengambil pelajaran moral dan etika dari teks suci tersebut. Tafsir tarbawi seringkali menekankan aspek-aspek seperti nilainilai moral, akhlak, tanggung jawab sosial, dan pembangunan pribadi. Tafsir tarbawi sering digunakan dalam konteks pendidikan Islam, terutama dalam mengajar anak-anak dan remaja untuk memahami dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tafsir tarbawi mendorong individu untuk menggali nilainilai moral dan etika yang terkandung dalam Al-Quran serta menjadikannya dasar untuk tindakan dan perilaku mereka. Istilah tafsir pendidikan . afsir tarbaw. dapat diartikan sebagai tafsir yang menitikberatkan pada masalah tarbiyah dalam rangka membangun peradaban yang sesuai dengan petunjuk dan spirit Alquran. Iamerupakan proper dan abstract noun dari term tafsir, yang termasuk kategori disiplin keilmuan yang baru. Terminologi tafsir tarbawi yang diposisikan sebagai tafsir akan terlihat ketika materi yang disajikan oleh para akademisi tafsir sebagaimana yang ada dalam kurikulum. Antara ayat yang dicangkok, dengan topik yang direncanakan, masih banyak yang tumpang tindih. Kerancuan tersebut menimbulkan kebingungan dan kejanggalan secara metodologis. Oleh karena itu, terminologi tafsir tarbawi ini layak disebut sebagai disiplin ilmu tafsir yang dipersembahkan sebagai salah satu materi kurikulum pada perguruan tinggi. Tafsir tarbawi yang merupakan ijtihad akademisi di bidang tafsir, berupaya mendekati Al-QurAoan melalui sudut pandang pendidikan. Baik dari segi teoretik maupun praktik, sehingga diharapkan paradigma pendidikan dapat dilandaskan kepada kitab suci. Sehinga petunjuk kitab suci mampu diimplementasikan sebagai dasar pendidikan. Perbedaan utama antara tafsir tarbawi dan tafsir para ulama Islam adalah Tafsir tarbawi lebih menekankan pada nilai-nilai moral dan etika, sementara tafsir para ulama Islam lebih menekankan pada pemahaman ilmiah dan hukum dari teks El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan Al-Quran. Namun, keduanya dapat saling melengkapi dalam pemahaman yang lebih komprehensif tentang Al-Quran, karena aspek moral dan etika juga memiliki relevansi yang penting dalam pemahaman dan praktik Islam. Para ulama sepakat bahwa metode penafsiran al-QurAoan memiliki caranya sendiri dan secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Artinya. Islam mempunyai metodologi bagaimana menafsirkan al-QurAoan. Untuk memahami tentang teks-teks atas nash alQurAoan antara lain melalui penasfiran al-QurAoan dengan nash . l-QurAoan dan al-Hadit. , akal, ataupun intuisi. 16 Adapun orang yang boleh manafsrikan al-QurAoan harus memenuhi syarat yaitu: . Kejujuran . Ini artinya seorang yang ingin menafsrikan firman Tuhan harus memiliki sifat jujur dan bisa dipercaya dalam menerjemahkan perintah Tuhan. Ketekunan . Maksudnya ketekunan mengerahkan segenap kemampuan rasionalitasnya untuk menemukan dan memahami kehendak Tuhan. Komprehensifitas dalam menyelidiki kehendak Tuhan. Seorang penafsir mampu perintah-perintah Tuhan mempertimbangkan hal-hal yang relevan. Kemudian tidak melepas tanggungjawabnya untuk menyelidiki atau menemukan alur pembuktian tertentu. Penggunaan rasio dalam menganalisis perintah-perintah Tuhan. Penafsiran teks harus secara rasional, atau setidaknya dengan ukuran yang benar menurut paradigma umum. Artinya, tidak boleh berlebihan dalam menafsirkan teks sehingga melahirkan kesimpulan bahwa makna teks itu persis seperti yang diinginkan pembaca, dan bukan menampilkan maksud yang memang dikehendaki teks. Pengendalian diri atau kerendahan hati dalam menjelaskan kehendak Tuhan. Pengendalian ini berupa kewaspadaan tertentu untuk menghindari penyimpangan, atau kemungkinan penyimpangan atas peran pengarang (Tuha. Ada beberapa model penafsiran yang dilakukan kaum Muslimin untuk memahami al-QurAoan. Pertama, bentuk penafsiran yang paling tua disebut Autafsir bi al-maAotsurAy yaitu berdasar riwayat. Periwayatan dalam tradisi studi Al-QurAoan klasik merupakan sumber penting untuk memahami teks Al-QurAoan. Dalam hal ini perawi utamanya ada Nabi Muhammad. Ummat Islam meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW. penafsir pertama terhadap Al-QurAoan. Karena itu proses penafsirannya menggunakan data riwayat darinya. Setelah itu dari sahabat sebagai variabel penting dalam penafsiran 16 Bard Al-Din Muhammad Abdullah al-Zarkasyi. Al-Burhan fi AoUlum Al-QurAoan, (Dar al-Fikr. Beirut. Jild. II, 1. Abou Khaled. The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourse: A case Study. Kurniawan Abdullah. Melawan Tentara Tuhan:Yang Berwenang dan Sewenang-wenang dalam Wacana Islam. (Jakarta:Serambi, 2. , 99 El Banat Vol. 14 No. Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi teks al-QurAoan. Model metode tafsir ini menjelaskan suatu ayat sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dan atau para sahabat. 18 Ada juga yang memasukkan pendapat tabiAoin seperti Tafsir Al-Thabari. Kedua, selain menggunakan riwayat, para ulama juga menggunakan pemikiran atau ijitihad dalam menafsirkan al-QurAoan. Metode ini dikenal dengan tafsir bi al-raAoy. Tafsir ini didasarkan pada ijtihad dan pemikiran mufasir setelah terlebih dahulu memahami bahasa Arab serta metodenya dengan baik. Juga mengetahui dalil hukum yang ditunjukkan, serta menguasai problema penafsiran seperti asbab al-nuzul, al-nasikh wa al-mansukh, dan sebagainya. 20 Ijtihad yang dimaksud di sini berbeda dengan ungkapan para ulama usul al-fiqih. Ijitihad yang dimaksud adalah upaya seorang mufasir secara serius dan bersungguh-sungguh memahami makna teks al-QurAan untuk menyingkap lafal dan madzlul-nya. Cakupan ijtihadnya yaitu nash-nash dalam batasan bahasa dan syara. Artinya seorang penafsir menguasai ilmu alat yang digunakan untuk menafsirkan alQurAoan, bukan semata menggunakan akal. Penafsiran seperti ini tidak boleh dilakukan dengan dasar firman Allah TaAoala dalam al-QurAoan surat al-IsraAo. : 36. Ini artinya meski metode penafsiran ini berdasar kekuatan akal pikiran, tapi penafsir harus sudah memenuhi dan memiliki syarat dan punya legitimasi dari para ulama sebagai seorang Penafsirannyapun harus tetap sejalan dengan hukum syariah, tidak boleh ada pertentangan sama sekali. Karena berdasar ijtihad hasilnya bisa saja tepat atau kurang Untuk menghindari kesalahan, seorang mufasir bi raAoy menurut Imam Ad-Dzahabi harus menjauhi lima perkara. tidak menafsrikan al-QurAoan sebelum memenuhi terlebih dahulu syarat-syarat sebagai seorang mufasir. tidak masuk atau mencampuri sesuatu yang merupakan monopoli Allah untuk memahaminya, seperti ayat-ayat almutashabihat yang musahil diketahui kecuali hanya oleh Allah. tidak melakukan penafsiran berdasar dorongan hawa nafsu dan kepentingan pribadi. tidak menafsirkan al-QurAoan untuk mendukung madzhab yang rusak, sehingga penafsiran dipaksakan selaras dengan keinginan madzhabnya. tidak menafsirkan dengan mengatakan. Audemikianlah kehendak AllahAy, padahal tanpa ada dalil yang mendukungnya. 18 Muhammad AoAbd Al-Azhim Al-Zarqani. Manahil Al-Irfan, (Dar el-hadith. Beirut, 2. , 12. 19 Al-Dzahabi. Al-Tafsir wa Al-Mufassirun, (Dar Al-Kutub Al-Haditsah. Kairo,1. , 20 Ibid 183 Khalid Abd al-Rahman Al- Akk. Usul al-Tafsir Wa Qawaiduh (Beirut: Dar al-NafaAois, 1. , 177. 22 MannaAo Al-Qattan. Mabahith Fi AoUlum al-QurAoan, (Kairo: Maktabah Wahbah, t. t Cet. ), 342. 23 Al-Dhahabi. Al-Tafsir wa Al-MufassirunA, 190-191 El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan Kalau ada orang melanggar ketentuan tersebut, produk tafsrinya tidak bisa Misalnya ada seseorang menerangkan makna-makna yang ada di balik teks alQurAoan namun hanya berpegang pada pemahaman sendiri serta kesimpulannya . berdasar akal semata. Apalagi landasan pemahamannya jauh dari niai-nilai syariat dan nas-nasnya. 24 Persyaratan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian yang disyaratkan oleh para ulama tafsir agar orang tidak sembarangan menafsirkan al-QurAoan. Artinya, tafsir bi al-raAoy pendekatannya berdasar pemahaman yang dalam tentang makna setiap lafal al-QurAoan setelah memahami al-madzlul dan al-dalalah kalimat yang tersusun dalam lafal tersebut. Berdasar uraian di atas menjadi jelas bahwa secara garis besar, sejak dulu sampai sekarang perkembangan tafsir al-QurAoan melalui dua jalur, yaitu al-maAothur . ewat riwaya. dan al-raAoy . elalui jalur pemikiran atau ijtiha. Adapun metode penafsirannya setidaknya menggunakan empat metode, yaitu ijmaliy, tahliliy, muqaran, dan mawdhuAoiy. Metode Ijmali . yaitu suatu metoda penafsiran yang mengemukakan makna global. 27 Penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-QurAoan. Metode Tahliliy (Analisi. yaitu menafsirkan ayat-ayat alQurAoan dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalamnya serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir. Metode Muqarin (Komparati. Yaitu membandingkan ayatayat al-QurAoan yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi satu kasus yang sama. Juga embandingkan ayat al-QurAoan dengan Hadits Nabi SAW, yang pada lahirnya terlihat Selanjutnya membandingkan berbagai pendapat ulamaAo tafsir dalam menafsirkan al-QurAoan. Metode MawdhuAoiy yaitu membahas ayat-ayat sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun. Kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti asbab al-nuzul, kosa kata dan sebagainya. Semuanya dijelaskan secara rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara baik argumen itu berasal dari Al-QurAoan dan Hadits, maupun pemikiran rasional. 24 Abi al-Fadl Jalal al-Din AoAbd al-Rahman Ibn Abi Bakr Al-Suyuti. Al-Itqan Fi Ulum al QurAoan (Madinah: al- Amanah al- Ammah, 1426 H), 222 25 Khalid Abd al-Rahman Al- Akk. Usul al-TafsirA167. 26 Dr. Abdul Hay Al-Famawiy. Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-MaudhuAoiy, (Al-Hadharah Al-Arabiyah. Kairo. Cetakan II, ), 23 27 Ibid, 43-44 28 Prof. Dr. Quraish Shihab. Sejarah dan Ulum al-QurAoan,( Pustaka Firdaus. Jakarta, 1. , 186Ae192. El Banat Vol. 14 No. Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi Penerapan Hermeneutika pada Al-QurAoan Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutik kemudian juga diadopsi oleh beberapa cendekiawan Muslim. Orang yang pertama melakukan adalah Nasr Hamid Abu Zayd pada tahun 1981. Nasr Hamd menulis tentang hermeneutik dengan judul alhirminiyutiqa wa muAodilat Tafsir al-nas (Hermeneutika dan problem penafsiran tek. Teori hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid merupakan respon kepada model tradisi penafsiran al-QurAoan kuno yang menurutnya mengabaikan keberadaan penafsir. Teori ini bersifat objektif-historis dari teks, yaitu proses penafsirannya selalu ditujukan untuk pengungkapan bermacam fakta yang memiliki objektifias di luar subjek pembacaan. Jika pembaca membatasi sudut pandangnya maka data-data teks tidak berposisi sebagai penerima pasif terhadap subjek yang mengetahui. Sehingga pembacaan benar pada umumnya harus berdasar dialektika kreatif antara subjek dan objek. Hubungan ini menghasilkan interpretasi pada level pengkajian teks maupun terhadap fenomena. Sebagian pakar menilai bahwa pemahaman menafsirkan teks bersifat dekonstruktif. Nasr Nasr Hamid Abu Zaid ketika memisahkan teks al-QurAoan dengan pengarangnya yaitu Allah. Sehingga secara mutlak pemaknaan ada pada pembaca teks . eader centere. , berdasar latar belakang sosial dan historisnya. Salah satu tipikal sosio-kultural al-QurAoan pembentukannya tidak bisa lepas dari kerangka kebudayaan bangsa Arab pada waktu itu. Diantara dipengaruhi teks syair bangsa Arab. Sebab corak dan karakter suatu teks merefleksikan struktur budaya dan alam pikiran di mana ruang teks dan waktu teks . pace and tim. Nasr Hamid ketika membangun teori penafsirannya, memandang penting persoalan al-siyaq . dalam memproduksi makna. Menurutnya, dalam al-QurAoan ada beberapa tingkatan konteks, yaitu: sosio kultural, eksternal, internal, linguistik, dan pembacaan atau penakwilan. Kelima konteks ini sudah cukup untuk bahan penggalian Adapun langkah-langkah penafsirannya, melalui: . Melakukan analisa terhadap al-QurAoan. Selanjutnya mengelilinginya . abab al-Nuzul makro dan mikr. Dengan cara menentukan tingkatan makna teks. Memastikan makna asli teks (The original Meanin. Adnin Armas. Metodologi Bible. A, 73 Abu Zaid. Naqd al-Khitab ad-Dini (Kairo: SinaAo li al-Nasyr, 1. , 115. 31 Sudjiman dan Zoest. Serba-Serbi Semiotika (Jakarta: Gramedia, 1. , 57. El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan Memastikan makna signifikansi . Mengkontekstualisasikan makna kesejarahan dengan dengan pijakan makna yang tidak terucapkan. Nasr Abu Zaid menyatakan bawah al-QurAoan yang diturunkan melalui Malaikat Jibril ditujukan kepada Nabi Muhammad yang berposisi sebagai manusia. Sebagai penerima pertama, sekaligus penyampai teks. Nabi Muhammad adalah bagian dari realitas dan masyarakat. Ia adalah buah dan produk dari masyarakatnya. Ia tumbuh dan berkembang di Makkah sebagai anak yatim, dididik dalam suku Bani SaAoad sebagaimana anak-anak sebayanya di perkampungan Badui. Dengan demikian, menurut Nasr Abu Zaid, membahas Muhammad sebagai penerima teks pertama, berarti tidak membicarakannya sebagai penerima pasif. Membicarakan dia berarti membicarakan seorang manusia yang dalam dirinya terdapat harapan-harapan masyarakat yang terkait dengannya. Intinya, menurut Zaid. Muhammad adalah bagian dari sosial budaya dan sejarah masyarakatnya. Berdasar fakta sejarah tersebut. Nasr Abu Zaid mengusulkan penggunaan metode hermeneutik dalam penafsiran Al-QurAoan. Menurutnya, ini adalah pendekatan yang mengakui kompleksitas interpretasi Al-Qur'an dan pentingnya memahami pesan-pesan AlQur'an dalam konteks historis dan budaya. Karena itu Nasr Abu Zaid mendukung hermeneutik supaya dimasukkan dalam kurikulum penafsiran al-QurAoan, karena metode ini bukan hanya memandang teks, namun juga berupaya menyelami makna kandungan Bahkan lebih dari itu metode hermeneutik juga menggali makna dengan mempertimbangkan horison-horison yang melingkupi teks tersebut, yaitu pengarang dan 34 Lewat ketiga hal itu maka pemahaman dan penafsiran bersifat rekonstruksi dan reproduksi makna teks. Selain itu juga melacak bagimana sebenarnya satu teks dimunculkan oleh pengarangnya. Termasuk juga muatan apa yang masuk dan hendak dimasukkan pengarang ke dalam teks. Dari sini kemudian mampu melahirkan kembali makna itu sesuai situasi dan kondisi saat teks dibaca atau dipahami. Artinya, sebagai metode penafsiran, hermeneutika tidak lepas dari tiga hal sebagai komponen pokok pada upaya penafsiran, yaitu teks, konteks, selanjutnya melakukan upaya kontekstualisasi. Melalui metode baru ini diharapkan para pengkaji hermeneutik bisa menemukan hal baru dari penafsiraan al-QurAoan. 32 Mochamad Nur Ichwan. Meretas Kesarjanaan Kritis. Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd (Jakarta: Teraju, 2. , 33 Nasr Hamid Abu Zaid. Mafhum al-Nash (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, 1997 M), 59. Komaruddin Hidayat. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Paramadina, 1996. Ke-. , 25. 35 Imron AM. Islam Liberal Mengikis Aqidah Islam, (Jakarta. Insada, 2. , 99. El Banat Vol. 14 No. Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi Pandangan ini telah menjadi subjek perdebatan dalam dunia Islam, di mana beberapa orang menerima pendekatan ini sebagai cara untuk mengaitkan pesan Al-Qur'an dengan konteks modern, sementara yang lain merasa pendekatan hermeneutik dapat mengaburkan karakter ilahi Al-Qur'an. Bagi yang tidak setuju dengan Nars Abu Zaid menilai bahwa pendapat Nasr Abu Zaid tentu tidak sesuai dengan realitas. Nabi Muhammad hanyalah sebagai penyampai wahyu saja. Beliau tidak merubah sedikitpun apa yang diterimanya dari Tuhan. Pernyataan ini adalah salah satu prinsip utama dalam keyakinan umat Islam tentang Nabi Muhammad (S. W). Dalam Islam. Nabi Muhammad dianggap sebagai Rasul terakhir yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia. Dia dianggap sebagai "Rahmatan lil 'Alamin," yang berarti rahmat bagi seluruh alam, dan tugas utamanya adalah untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia tanpa merubah atau menambahkan apa pun ke dalam wahyu Nabi Muhammad (S. W) adalah utusan Allah yang hanya bertindak sebagai penyampai wahyu dan memimpin umat Islam sesuai dengan petunjuk yang telah diterimanya dari Allah melalui wahyu. Dia tidak memiliki otoritas untuk merubah wahyu tersebut atau mengubah ajaran agama Islam sesuai keinginannya sendiri. Prinsip ini juga dijelaskan dalam Al-Quran, kitab suci umat Islam, di mana Allah berfirman dalam Surah Al-Qiyamah . :16-. : Au(Wahai Nab. , janganlah kamu tergesa-gesa menggerakkan lidahmu . ntuk mengingat Wahy. Sesungguhnya Kamilah yang menyuruh kamu menghafalkannya dan membacanya. Maka apabila Kami membacanya, ikutilah bacaannya dengan penuh perhatian. maka Kamilah yang menjelaskannya. Ay Ayat menegaskan bahwa Nabi selalu mendapat bimbingan dari Allah TaAoala. Bahkan Nabi pun terjaga dari kesalahan . aAots. Hal ini ditegaskan dalam al-QurAoan, artinya,AuDan Dia (Muhamma. tidak menyampaikan sesuatu, kecuali . wahyu yang di wahyukan kepadanyaAy. (QS. Al Najm:. Berdasar ayat tersebut, para ulama menilai, dasar pemikiran Nasr Abu Zaid tidak Oleh karena itu pemikirannya yang mengusulkan penggunaan hermeneutik dalam penafsiran al-QurAoan dianggap keluar dari konsepsi penafsiran al-QurAoan. Hal ini dapat dimaklumi karena metode ini tidak pernah dipakai oleh para ulama Islam dalam menafsirkan al-QurAoan. Bukan hanya metodenya, istilah hermeneutik juga tidak dikenal dalam tradisi pemikiran Islam. Karenanya tidak ada satupun ulama yang membahas maupun memakainya. Hermeneutik memang pernah dipakai dalam penafsiran kitab suci, tetapi bukan al-QurAoan. Dalam sejarah disebutkan, pengunaan hermeneutik diterapkan dalam El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan memahami Bible. Hal itu mereka lakukan karena Bible diangap periwayatannya bersifat tunggal, yaitu hanya diriwayatkan oleh seorang saja, yaitu: Markus. Johanes. Lukas dan Mathius. Bahkan periwayatannya melalui mata rantai yang terputus, karena mereka tidak pernah bertemu dengan Nabi Isa. Ironisnya, masalah yang ada di Bible kemudian juga akan diterapkan kepada alQurAoan. Abraham Geiger, seorang Rabbi Yahudi . menulis sebuah buku dengan judul AuWas hat Mohammed aus dem Judenthum aufgenommen?Ay. Dalam tulisannya ini, ia mengkaji al-QurAoan dari konteks ajaran Yahudi. Demikian juga Arthur Jeffery, mencoba menerapkan metode kritis historis untuk mengkaji al-QurAoan. Menurut Jeffry, agama yang punya kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks . extual histor. Alasan ini, menurut Jefry disebabkan tidak adanya satupun autografi dari naskah asli yang masih Penilian Arthur Jefry terhadap al-QurAoan menurut para ulama tidak tepat. Sejak awal al-QurAoan dihafalkan dan ditulis ketika Nabi Muhammad masih hidup. Para perawinya bertemu langsung dengan Nabi Muhammad. Rasulullah sendiri setiap bulan Ramadhan, hafalannya dicek oleh malaikat Jibril. Sehingga mustahil terjadi kekeliruan dan kesalahan. Demikian juga para sahabat dalam menjaga hafalannya dengan cara disimak oleh Rasulullah atau antar sesama sahabat. Dengan demikian teks al-QurAoan tetap terjaga dan terpelihara keasliannya sampai sekarang. Seandainya ada orang yang sengaja mengurangi atau merubah sudah dipastikan akan ketahuan. Jutaan ummat Islam sampai sekarang hafal ayat-ayat al-QurAoan dengan sempurna. Al-QurAoan juga bukan teks biasa yang bisa ditafsiri dengan akal semata, tapi harus dipahami sesuai yang diinginkan Allah & Rasul-Nya. Hal ini berdasar pendapat Imam SyafiAoI bahwa ummat Islam harus beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya sesuai keinginan atau maksud Allah. Kemudian beriman dengan Rasulullah dan beriman dengan apa yang beliau bawa sesuai keinginan atau maksud Rasulullah. Ay38 Disamping itu teks al-QurAoan sudah diyakini dan sepakati oleh seluruh kaum Muslimin bersifat skaral sehingga tidak bisa disamakan dengan teks-teks lain. Karenanya jika jika ada orang Islam mengikuti metode hermeneutika dalam penafsiran al-Quran sama saja melakukan desakralisasi terhadap teks kitab suci tersebut. Atau setidaknya bersikap skeptis terhadap kalamullah, sebagaimana konsep dekonstruksi Lihat Majalah Respon. Majlis Tafsir Alquran. Edisi 219/TH XXi MEI 2008 Adnin Armas. Metodologi Bible. dalam Studi al-QurAoan Kajian kritis. (Jakarta: GIP. Cet. Kesatu. , 47-62 38 Ibnu Qudamah. Al-Irsyad Syarh LumAoatul Itiqad al Hadi ila sabili al Rashad, (Dar at-Thabiah li Nasir wa Taujik, 1. , 90 El Banat Vol. 14 No. Integrasi Metode Hermeneutik Dalam Tafsir Tarbawi Derrida yang menyatakan bahwa kita harus bersikap skeptis dalam mendekati suatu teks. Jika hal ini terjadi berarti sangat bertolak belakang dengan worldview Islam, dimana setiap ummat Islam harus meyakini bahwa al-QurAoan sebagai wahyu, kebenarannya absolut tanpa keraguan. Bahkan jika sikap skeptis itu diterapkan pada semua teks, akibatnya akan terperangkap dengan apa yang disebut Aulingkaran hermeneutikAy, di mana makna selalu Hal ini tentu tidak bisa dilakukan terhadap al-QurAoan. Sebab para mufassirin Islam ketika menafsirkan al-QurAoan tidak pernah skpetis terhadap teks yang hendak Mereka yakin bahwa teks tersebut tidak ada masalah. Mereka hanya melakukan penafsiran tanpa meragukan keaslian teksnya. Dalam hal ini kedaulatan mutlak tetap milik Tuhan dan tetap terjaga. Manusia tidak boleh otoritarianisme di luar batas kewenangan hukum yang ia miliki. Sebab jika demikian berarti kehendak Tuhan tunduk pada kehendak dan pemhaman manusia. Ini sesuatu yang tidak mungkin menurut Islam. Penerapan hermeneutika terhadap teks juga bergantung kondisi. Sebab, metode hermeneutik memiliki banyak aliran seperti Dilthey. Heidger, atau Gadamer. Masingmasing aliran tersebut memiliki definisi yang berbeda. Dengan perbedaan tersebut bisa menimbulkan problem besar yang disebut Auhermeneutic circleAy, yaitu sejenis lingkaran setan terhadap pemahaman objek-objek sejarah. Logikanya, jika interpretasi itu sendiri dasarnya juga interpretasi, yang terjadi, lingkaran interpretasi itu tidak dapat dielakan. Sehingga pemahaman seseorang terhadap teks-teks dan berbagai kasus sejarah tidak akan pernah sampai. Sebab apabila seseorang dapat memahami konteks, konteks sejarah itupun adalah interpretasi juga. Kesimpulan Hermeneutik sering kali memungkinkan penafsiran berdasar perubahan konteks historis, budaya, dan sosial. Ini akan membuka pintu bagi pemahaman baru yang berbeda dengan interpretasi klasik yang telah ada. Padahal beberapa prinsip mendasar Islam dianggap tetap berlaku meskipun konteks berubah. Karena itu penerapan hermeneutik dalam Tafsir Tarbawi harus menggunakan pendekatan keseimbangan antara pemahaman nilai-nilai Islam. Penting mempertimbangkan pandangan ulama dan cendekiawan Islam yang memiliki wawasan 39 Hamid Fahmi Zarkasyi. Misykat. Refleksi tentang Westernisasi. Liberalisasi, dan Islam . INSIST - MIUMI. , 210. El Banat Vol. 14 No. Bahrul Ulum. Nur Hasan mendalam dalam ilmu tafsir dan hermeneutik agar tidak terperosok dalam penafsiran yang keliru. Jika hermeneutik diterapkan dalam mata kuliah Tafsir Tarbawi, harus dipastikan bahwa interpretasi yang dihasilkan sesuai dengan pesan moral dan pendidikan yang ingin disampaikan. Penggunaan hermeneutik harus tetap didasarkan pada pemahaman yang akurat terhadap teks suci dan mendekati pendekatan otoritatif yang dihormati dalam tradisi Islam. Sikap kehati-hatian merupakan jalan yang ditempuh oleh para ulama salaf agar tidak terjerumus pada penafsiran yang fasid. Semangatnya adalah menjaga kemurnian dan kesucian al-QurAoan baik teks maupun maknanya. Metode hermeneutika jika terlepas dari tafsir para ulama, penggunaannya menjadi tidak tepat diterapkan pada al-QurAoan. Sebab ia mengandung sejumlah asumsi dan sekaligus mengandung implikasi buruk. Asumsi yang dibangun hermeneutika antara lain menganggap semua teks sama, yaitu karya manusia. Artinya semua teks merupakan Auproduk sejarahAy sehingga bisa salah dan keliru. Asumsi-asumsi ini tidak berlaku untuk al-QurAoan, yang secara ilmiah bisa dibuktikan keotentikannya. Artinya al-QurAoan sama sekali tidak mengalami perubahan sejak diterima Nabi Muhammad sampai sekarang. Demikian pula kebenaran isinya melintasi batas-batas ruang dan waktu dan pesanpesannya ditujukan kepada seluruh umat manusia. Di antara implikasi penerapan hermeneutika yang lepas dan bebas bisa menyebabkan terjadinya perubahan hukum yang sudah mapan. Hal ini bisa mengakibatkan perpecahan diantara umat Islam, sebagaimana yang tejadi pada ummat-ummat sebelumnya yang menerapkan metode hermenuutik secara bebas. Di sinila peran dan tanggung jawab ulama, cendekiawan Muslim untuk menyelamatkan generasi berikutnya dari kekeliruan berfikir yang berakibat kekeliriuan dalam beramal Referensi