Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENGENALAN BUDAYA NUSANTARA LEWAT TARI DI SEKOLAH Dewi Wulandari Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga dewidariwulan@uinsalatiga. ABSTRAK Pengenalan Tari Nusantara di ranah Sekolah Menengah Atas (SMA) sangat kurang, terlebih pada sekolah di daerah Jawa Tengah yang cenderung mengutamakan tari kreasi Jawa. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi dalam bentuk pelatihan untuk mengenalkannya. Artikel ini bertujuan untuk mendiskripsikan kegiatan pelatihan Tari Nusantara dengan materi Tari Piring di SMAN 2 Salatiga. Asset Based Communities Development (ABCD) digunakan sebagai pendekatan dalam program pelatihan ini, sedangkan metode pelatihan menggunakan metode dialogis, drill, dan demonstrasi. Setelah mengikuti pelatihan Tari Piring, peserta pada awalnya bingung dengan pola iringan tari di luar Tari Jawa, namun setelah tiga hari pelatihan, mulai terbiasa. Pada evaluasi latihan peserta mampu menarikan Tari Piring tanpa dibimbing/dipandu oleh pelatih. Kata kunci: Pelatihan. Tari Nusantara. Tari Piring. ABSTRACT The introduction of Nusantara Dance in the realm of Senior High School is very lacking, especially in schools in Central Java which tend to prioritize Javanese dance creations. Therefore, it is necessary to conduct socialization in the form of training to introduce it. This article aims to describe the training activities of Nusantara Dance with Piring Dance material at SMAN 2 Salatiga. Asset Based Communities Development (ABCD) is used as an approach in this training program, while the training method uses dialogical, drill, and demonstration methods. During the Piring Dance training, the participants were initially confused by the pattern of dance accompaniments outside of Javanese dance. But after three days of training, they got used to it. In the evaluation of the exercise, the participants were able to dance the Piring Dance without being guided by the trainers. Keywords: Training. Nusantara Dance. Piring Dance. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan keragaman budaya dan adat istiadat, mulai dari rumah adat, senjata, pakaian adat, upacara adat, dan juga kesenian. Salah satu bentuk seni yang berkembang di Indonesia, yaitu tari daerah. Tari daerah merupakan bagian dari budaya yang mencerminkan suatu bangsa atau daerah tersebut. Tari daerah dapat diartikan sebagai sebuah tari yang dilakukan oleh komunitas secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Nurjaman et al. , 2. Tari daerah menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah menengah. Tari daerah pada proses pembelajarannya berupa praktek dengan materi yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Pada jenjang sekolah menengah atas (SMA), materi tari yang diajarkan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dewi Wulandari: Pengenalan Budaya Nusantara Lewat Tari Di Sekolah yaitu tari Nusantara . ebih dari satu jeni. Kuantitas jenis materi yang diajarkan di SMA sesuai dengan tujuan pendidikan sekolah menengah atas sebagai satu bentuk wadah pembinaan insan yang kreatif, intelektual, emosional, dan mampu berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan alam sesuai Pedoman Kurikulum Seni Budaya 2013 (Safitri Aziza et al. , 2. Pada pelaksanaannya, sebagian sekolah lebih mengajarkan tari daerah setempat dibandingkan dengan tari daerah lain. Hal ini dipengaruhi oleh penguasaan guru terhadap vokabuler tari Nusantara. Selain itu, pembelajaran tari tersebut harus berbagi waktu dengan bidang seni lain dalam muatan lokal. Oleh karena itu, pembelajaran tari di sekolah menengah atas pada prakteknya membebaskan kepada anak didik untuk mencari materi sendiri. Pada prakteknya siswa cenderung memilih tari dari daerahnya baik tradisi maupun kreasi. Citrawati et al. menyatakan bahwa mata pelajaran seni dan budaya SMA merupakan pionir dalam pelestarian budaya Nusantara, salah satunya melalui seni tari. Dalam bahan ajar tari, siswa ditargetkan untuk mengerti makna filosofis yang terdapat di dalamnya dan mampu melakukan teknik latihan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran tari. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan dalam hal ini melalui penerapan metode pelatihan tentang Tari Nusantara. Pelatihan tari Nusantara pada tingkat SMA, secara konkret juga dilakukan di salah satu sekolah di Kota Salatiga, yaitu SMAN 2 Salatiga. SMAN 2 Salatiga lebih mengajarkan tari tradisi Jawa dan kreasi. Adapun tari kreasi yang pernah diajarkan serta dipentaskan, yaitu Tari Sunda yang dikreasi dengan unsur modern dance. Selain yang disebutkan, tari Nusantara lainnya belum pernah diajarkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi minimnya pengenalan Tari Nusantara di SMAN 2 Salatiga adalah kurangnya waktu pembelajaran seni budaya. Selain itu, minimnya vocabulary dari guru tari yang minim terhadap vocabulary Tari Nusantara. Pembelajaran yang terbatas hanya pada Tari Jawa, akan membuat siswa tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan dengan tari yang berasal dari daerah lain. Hal yang paling terlihat adalah jenis iringan yang digunakan dalam tari. Iringan Tari Jawa yang berpatokan pada hitungan Au8Ay dan kelipatannya akan mudah dipelajari oleh siswa. Namun tidak demikian dengan iringan yang berasal dari daerah lain. Pola hitungan pada iringan tari dari daerah lain sangat berbeda dan tidak mudah ditebak, seperti pada Tari Jawa. Terkadang perpindahan gerak tari berada pada hitungan ke Au5, 6, atau 7Ay. Hal ini jika tidak diajarkan dan dibiasakan, akan sangat sulit diterima dan dipelajari para siswa, karena termasuk asing di telinga mereka. Melihat fenomena tersebut, peneliti merasa untuk perlu dilakukan pelatihan Tari Nusantara dengan materi yang berasal dari luar pulau, supaya bisa diapresiasi oleh siswa didik. Program pelatihan ini ditargetkan kepada siswa yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler tari. Sehingga sasarannya adalah siswa kelas X-XII. Diharapkan siswa yang mengikuti kegiatan pelatihan ini dapat mengajarkan kembali kepada teman satu kelasnya maupun masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya. Harapannya adalah ketika ada kegiatan sekolah maupun di luar sekolah. Tari Nusantara bisa dipentaskan sebagai alternatif sajian tari, selain Tari Jawa. Kegiatan ini masuk dalam kategori pelatihan, oleh karena itu kegiatan yang akan peneliti lakukan merupakan latihan/workshop di sekolah, dalam hal ini di SMAN 2 Salatiga. Sebelum kegiatan dimulai, yang dilakukan adalah meminta izin kepada pihak sekolah untuk melakukan kegiatan pelatihan kepada siswanya. Koordinasi dilakukan tidak hanya kepada kepala sekolah, namun juga pada Waka Humas, guru seni budaya, dan juga siswa calon peserta pelatihan. Pada pertemuan ini, terjadi kesepakatan bersama tentang model pelatihan, jadwal, dan peralatan yang diperlukan ketika latihan. Materi yang dipilih untuk pelatihan dalam rangkan pengenalan budaya nusantara yaitu Tari Piring. Tari piring merupakan salah satu Tari Nusantara yang berasal dari daerah Minangkabau. Sumatra Barat. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Tari Piring dipilih karena mewakili dari Tari Sumatra dengan ritme gerak dan musik yang dinamis. Selain itu. Tari Piring yang dipilih juga merupakan salah satu jenis Tari Piring yang menurut peneliti tergolong mudah dalam segi bentuk gerak dan memiliki durasi yang singkat. METODE Metode pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode ABCD. Pendekatan Asset Based Communities Development (ABCD) ialah bentuk pendekatan yang digunakan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya pada kasus ini pemberdayaan dari aset masyarakat berbasis komunitas. ABCD adalah salah satu pendekatan pada pengembangan masyarakat yang berada dalam peran besar mengupayakan terwujudnya sebuah tatanan kehidupan bersosial, dimana masyarakat sebagai penentu dan pelaku dalam pembangunan di lingkungannya (Santoso, 2. Pendekatan ABCD menekankan pada asset yang dimiliki oleh masyarakat yang akan diteliti. (AlKautsari, 2. menegaskan bahwa pada konteks ini, aset diartikan sebagai potensi dari masyarakat itu sendiri, dan pemanfaatan potensi atau kekayaan masyarakat bisa dijadikan ujung tombak untuk melaksanakan rencana pemberdayaan. Potensi tersebut bisa dalam bentuk kekayaan internal . earifan, kepedulian, gotong royong, solidaritas, dl. atau tersedianya sumber daya alam (SDA). Dalam hal ini asset atau modal yang dimiliki oleh SMAN 2 Salatiga adalah memiliki kegiatan ekstrakurikuler seni tari dan juga terdapat guru seni budaya dengan kualifikasi Pendidikan Seni Tari. Hal ini menjadi modal dasar yang dibutuhkan dalam pengabdian Hanya saja perlu pengembangan sebagai upaya tindak lanjut yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi dari apa yang sudah dimiliki. Metode pelatihan yang digunakan dalam pngabdian ini yaitu yang pertama metode dialogis. Metode dialogis dilaksanakan pada awal sebelum pelaksanaan pelatihan dimulai. Proses dialogis dilaksanakan dengan cara yang tidak formal, sehingga informasi yang didapat oleh peneliti lebih jujur, natural, dan apa adanya (Mamik, 2. Karena model non formal akan membawa suasana yang lebih santai dalam berinteraksi. Pelatihan merupakan tindakan untuk melakukan habituasi supaya peserta pelatihan mengenali simbol-simbol baru yang terkonstruksi dalam suatu karya. Pengenalan terhadap simbol-simbol ini merupakan upaya peserta dalam mengenali dan mengidentifikasi acuan perilaku yang akan dilakukan (Putro et al. Kedua metode drill, yaitu salah satu metode mengajar dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan dengan materi yang diajarkan. Dalam penggunaan metode drill memiliki tujuan pencapaian meliputi: . Kecakapan Motorik, artinya: melatih ketrampilan, kecepatan, dengan beberapa latihan vokal. Melatih kepekaan irama lagu dengan menggunakan hitungan, iringan, ataupun dengan pendalaman rasa pada irama. Kecakapan mental, artinya: Menghafal kaitan dengan materi latihan, yaitu menghafal vocabulary gerak, urutan gerak, lagu/iringan dalam tari. Ketiga metode demonstrasi, merupakan metode pengajaran dengan cara guru atau pelatih memberikan contoh terlebih dahulu kepada anak didiknya. Dalam pelatihan tari nusantara ini demonstrasi dilakukan oleh para pelatih. Kemudian meminta peserta latihan untuk menirukan gerak atau materi yang sudah dicontohkan, atau bisa disebut dengan imitasi gerak. Pelaksanaan pelatihan tari nusantara ini dilakukan ketika kegiatan ekstrakurikuler tari, tepatnta pada hari Selasa pukul 15. 30 wib. Kegiatan ini dilakukan setelah selesai jam pelajaran sekolah supaya tidak mengganggu pembelajaran intra. Untuk durasi pelatihan yaitu 90 menit, yaitu dari pukul 15. 30 wib sampai 00 wib. Sedangkan tempat latihan berada di alua sekolah dan aula perpustakaan. Tergantung situasi dan kondisi di sekolah. Jika aula dipakai untuk kegiatan sekolah, maka latihan pindah di aula perpustakaan yang terletak di lantai dua gedung perpustakaan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dewi Wulandari: Pengenalan Budaya Nusantara Lewat Tari Di Sekolah PEMBAHASAN Proses pelatihan tari piring di SMAN 2 Salatiga terbagi dalam beberapa sesi, yaitu: Koordinasi dan Perkenalan dengan Siswa Pertemuan ini digunakan sebagai pengenalan dan penjelasan tentang program pelatihan yang akan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan ekstra tari. Sama halnya seperti kontrak kuliah pada mahasiswa, dalam pertemuan ini juga disampaikan kesepakatan dan aturan yang berlaku selama proses pelatihan. Contohnya memakai seragam olah raga atau kaos dan celana training/legging sebagai baju praktek. Olah Tubuh/Pemanasan Tubuh merupakan media utama menari. Tubuh yang menari adalah tubuh yang sudah siap secara Dalam hal ini adalah kesiapan otot tubuh dalam bergerak. Kesiapan ini dalam teri dapat tercapai dengan melakukan olah tubuh. Olah tubuh sendiri adalah kegiatan penting dalam rangkaian proses menari. Olah tubuh dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan tubuh supaya siap dalam bergerak. Seperti halnya dalam olah raga, sebuah pemanasan sangat penting dilakukan untuk meregangkan otot supaya tidak kaget ketika berkegiatan oleh raga. Olah tubuh dilakukan setiap kali latihan dan dikerjakan sebelum mulai masuk ke materi tari. Olah tubuh dalam tari menurut (Setianingsih, 2. memiliki beberapa tahapan, yaitu: Latihan Pendahuluan(Pemanasa. Latihan Inti Latihan Keseimbangan Latihan Kekuatan dan Kelenturan Latihan Penutup (Pendingina. Pengenalan Gerak Dasar Tari Piring Gerak dasar dari masing-masing tari sangat penting untuk dikuasai terlebih dahulu sebelum mempalajari sebuah tari. Seperti pada Tari Jawa, untuk mempelajari Tari Jawa, seorang penari harus menguasai Rantaya terlebih dahulu. Rantaya merupakan rangkaian gerak yang berisi ragam-ragam gerak Tari Jawa. Contoh lain yaitu ketika kita mempelajari Tari Barat, kita harus menguasai Balet terlebih dahulu. Dalam mempelajari tari piring, penari harus menguasai pola dasar gerak Tari Melayu. Salah satu contohnya pada Tari Piring yaitu gerak membuat angka Au8Ay. Selain sudah dipelajari ketika olah tubuh, gerak ini juga perlu dimatangkan dengan menggunakan ritme pelan dan cepat. Latihan dimulai dengan tangan kosong membuat angka Au8Ay dengan 1 tangan. Jika sudah bisa, dilanjutkan dengan tangan satunya. Ketika kedua tangan sudah bisa membuat angka Au8Ay, selanjutnya adalah membuat angka Ao8" dengan kedua tangan secara pelan dan cepat. Langkah selanjutnya adalah membuat angka Au8Ay dengan menggunakan properti piring. Imitasi Gerak Imitasi berasal dari bahasa inggris, imitation yang artinya tiruan atau bukan asli. Imitasi gerak berarti tiruan gerak atau meniru gerak. Dalam hal ini adalah peserta pelatihan meniru gerak tari berdasarkan materi yang disampaikan oleh para pelatih tari piring. Imitasi gerak yang dilakukan oleh para peserta adalah tari piring dari awal hingga akhir dengan durasi 3:50 menit. Imitasi gerak pada pelatihan ini terbagi dalam tiga hari, sesuai dengan waktu pelatihan. Dalam satu hari menyelesaikan beberapa ragam gerak dan mengulangnya untuk melatih hafalan peserta pelatihan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Widaqdo . menyebutkan bahwa ragam gerak tari piring terdiri atas gerak pasambahan/ persembahan, gerak singanjou lalai, gerak menyemai, gerak menyiang, gerak membuang sampah, gerak mencangkul, gerak memagar, gerak mencabut benih, gerak bertanam, gerak melepas lelah, gerak mengantar juadah, gerak menyabit padi, gerak mengambil padi, gerak menggampo padi, gerak mengangginkan padi, gerak mengirik padi, gerak membawa padi, gerak menumbuk padi, gerak gotong royong, gerak menapih padi, dan gerak menginjak kaca. Gambar 1. Gerak Pasambahan Dok. Dewi 2022 Ragam gerak tersebut diberikan dalam pelatihan tari piring di SMAN 2 Salatiga, namun terdapat gerak yang tidak diajarkan sesuai dengan kenyataan, yaitu gerak menginjak kaca. Pelatih hanya memberikan dasar geraknya, namun tidak menyontohkan dengan properti kaca atau pecahan piring. Gambar 2. Gerak Mengantar Juadah Dok. Dewi 2022 Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dewi Wulandari: Pengenalan Budaya Nusantara Lewat Tari Di Sekolah Gambar 3. Gerak Menginjak Kaca Dok. Dewi 2022 Evaluasi Evaluasi selayaknya dilakukan sebagai bentuk akhir dari sebuah pendidikan atau pelatihan. Evaluasi diselenggarakan untuk menjadi tolok ukur peserta pelatihan dalam menerima materi pelatihan. Seberapa besar kemampuan imitasi gerak peserta pelatihan akan terlihat dari hasil evaluasi yang diselenggarakan. Evaluasi pada pelatihan Tari Piring di SMAN 2 Salatiga dilakukan secara bersama, tidak dengan sistem one by one. Namun demikian, sistem yang diterapkan adalah dengan meroling peserta yang depan ke belakang, sehingga semua peserta mendapat giliran di depan. Penggunaan metode ini cukup bisa melihat peserta yang mendapat giliran di depan apakah menguasai materi atau tidak. Ketika peserta menguasai materi tari, maka dengan percaya diri akan terus menari tanpa melihat kanan dan kiri. Namun hal berbeda akan terlihat ketika peserta tidak menguasai materi, yaitu terlihat ragu dalam bergerak dan terus melihat teman untuk mencari hafalan gerak. KESIMPULAN Setelah melakukan kegiatan pelatihan tari di SMAN 2 Salatiga, dapat dilihat bahwa kemampuan peserta dalam menangkap materi baru di luar materi Tari Jawa termasuk cepat. Walaupun dalam proses pembelajaran, peserta belum pernah menerima secara langsung materi tari daerah nusantara dari guru seni Pada saat evaluasi, peserta menunjukan kemampuan yang memuaskan, yaitu dapat membawakan kembali materi yang sudah disampaikan dengan lancar tanpa dipandu oleh pelatih. Hal ini diharapkan peserta mampu mengenal budaya nusantara, terutama dalam bidang tari, salah satunya melalui budaya Minangkabau. DAFTAR PUSTAKA