Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 INTEGRASI MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN ANTAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PAI Nuratika,A. Decky SaputraA IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Riau,Indonesia Atika. syukri@gmail. A Deckyta09@gmail. Abstract The integration of social media into Islamic Religious Education (PAI) learning represents a form of pedagogical adaptation to the development of 21st-century digital technology. Social media function not only as communication tools but also as platforms for collaborative learning among students that support the deep learning approach and the principles of the Merdeka Curriculum. This study aims to examine how social media such as WhatsApp. Telegram, and Instagram are utilized to build reflective interaction, strengthen metacognition, and foster studentsAo critical thinking skills within the context of PAI learning. This research employs a qualitative approach with a descriptive-analytical method through observations of social mediaAe based learning activities among senior high school students. The findings indicate that well-directed use of social media can enhance spiritual communication, broaden learning engagement, and cultivate collaboration and empathy among students. Therefore, the integration of social media can function as a learning ecosystem that enriches the practice of Islamic education in the digital era. Keywords: Social Media. Peer Learning. Islamic Religious Education (PAI). Deep Learning. Merdeka Curriculum Abstrak Integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi salah satu bentuk adaptasi pedagogis terhadap perkembangan teknologi digital abad ke-21. Media sosial berfungsi bukan hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai wahana pembelajaran kolaboratif antarsiswa yang mendukung pendekatan deep learning dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana media sosial seperti WhatsApp. Telegram, dan Instagram digunakan untuk membangun interaksi reflektif, menguatkan metakognisi, serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam konteks pembelajaran PAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, melalui observasi aktivitas belajar berbasis media sosial pada siswa SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang terarah mampu memperkuat komunikasi spiritual, memperluas keterlibatan belajar, serta menumbuhkan kolaborasi dan empati antarsiswa. Dengan demikian, integrasi media sosial dapat berperan sebagai learning ecosystem yang memperkaya praktik pendidikan Islam di era digital. Kata Kunci: Media Sosial. Pembelajaran Antar Siswa. PAI. Deep Learning. Kurikulum Merdeka Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan. Salah satu perubahan signifikan adalah munculnya media sosial sebagai instrumen pembelajaran yang mampu menjembatani interaksi antara guru dan peserta didik di luar ruang kelas konvensional (Rahman, 2. Pada konteks pendidikan Islam, integrasi media sosial tidak sekadar memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga mengandung dimensi nilai, etika, dan spiritualitas dalam proses belajar-mengajar (Fazli et , 2. Merdeka sebagai paradigma baru pendidikan Indonesia menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. melalui pendekatan reflektif, kolaboratif, dan kontekstual. Sejalan dengan prinsip tersebut, integrasi teknologi digital dalam pembelajaran, termasuk pemanfaatan media sosial, menjadi sarana strategis untuk membangun interaksi antarpeserta didik serta mendorong pembelajaran kolaboratif yang bermakna dalam konteks Pendidikan Agama Islam (Martono, 2022. Saputra, 2. Media sosial dalam pembelajaran PAI harus dipahami sebagai ruang pedagogis yang tidak hanya memfasilitasi komunikasi, tetapi juga membentuk kesadaran nilai, etika digital, dan tanggung jawab sosial peserta didik (Saputra, 2. Oleh karena itu, media sosial tidak lagi berfungsi sekadar sebagai alat penyampaian informasi, melainkan sebagai ruang alternatif yang memungkinkan peserta didik membangun kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis, serta sikap kolaboratif melalui dialog dan refleksi antarsiswa. Pemanfaatan media sosial dalam kerangka Kurikulum Merdeka memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk mengekspresikan pemahaman keagamaannya secara kontekstual dan dialogis. Interaksi antarsiswa yang terjadi melalui media sosial mendorong lahirnya sikap saling menghargai perbedaan pandangan, memperkuat empati sosial, serta menumbuhkan kemandirian belajar. Dengan demikian, integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI tidak hanya relevan secara pedagogis, tetapi juga strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang moderat, reflektif, dan bertanggung jawab secara Lebih jauh, pendekatan deep learningAiyang menekankan proses berpikir mendalam, pemahaman konseptual, dan keterkaitan maknaAimemiliki relevansi kuat dengan pemanfaatan media sosial (Yusuf & Hasan, 2. Melalui forum diskusi daring seperti WhatsApp Group. Telegram Channel, dan Google Classroom, peserta didik dapat melakukan eksplorasi makna keagamaan, mengemukakan pandangan pribadi, dan saling memberikan umpan balik secara konstruktif (Zainuddin, 2. Aktivitas ini mengarah pada terciptanya pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Masih terdapat kesenjangan implementasi potensi media sosial dan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru PAI di lapangan. Banyak guru memanfaatkan media sosial hanya sebagai sarana penyampaian informasi, bukan sebagai wahana dialog edukatif atau refleksi nilai (Zainuddin, 2. Akibatnya, interaksi antarsiswa sering kali bersifat satu arah dan belum membentuk ekosistem belajar yang kolaboratif. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berupaya mengkaji bagaimana media sosial dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembelajaran PAI untuk meningkatkan interaksi Tujuannya adalah untuk menemukan model integratif yang mampu menghubungkan aspek pedagogis, spiritual, dan digital secara harmonis, sehingga pembelajaran PAI tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran beragama yang reflektif. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut bagaimana bentuk integrasi media sosial dalam pembelajaran antar siswa pada mata pelajaran PAI, bagaimana pendekatan deep learning dapat diterapkan melalui media sosial untuk memperkuat proses pembelajaran PAI, apa saja kendala dan strategi guru dalam menginternalisasikan nilai-nilai Islam melalui media sosial dalam konteks Kurikulum Merdeka? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan praktik integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI antarsiswa, mendeskripsikan penerapan pendekatan deep learning pada pembelajaran berbasis media social, mengidentifikasi kendala dan strategi guru dalam mengoptimalkan penggunaan media sosial sebagai sarana pembentukan karakter islami dan literasi digital peserta didik. II. LANDASAN TEORI Konsep Media Sosial dalam Konteks Pendidikan Media sosial pada hakikatnya merupakan platform digital yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan membangun jejaring sosial secara virtual (Rahman, 2. Dalam konteks pendidikan, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai learning space yang memperluas pengalaman belajar peserta didik di luar batas ruang kelas formal (Yusuf & Hasan, 2. Beberapa media sosial yang sering digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) antara lain WhatsApp. Telegram. Instagram. YouTube. TikTok, dan Google Classroom. Masingmasing media tersebut memiliki fungsi dan karakteristik pedagogis yang berbeda. WhatsApp banyak dimanfaatkan untuk diskusi kelompok, tanya jawab cepat, serta penguatan materi secara informal. Telegram memungkinkan pendidik berbagi materi pembelajaran dalam format dan ukuran besar. Instagram berfungsi sebagai sarana kreatif untuk menyampaikan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 konten visual bernuansa nilai-nilai Islam. YouTube dan TikTok berperan dalam penyajian materi audiovisual seperti ceramah singkat, video reflektif, maupun animasi dakwah yang sedangkan Google Classroom digunakan sebagai ruang manajemen pembelajaran yang mencakup distribusi tugas, penilaian, serta refleksi pembelajaran siswa. Pemanfaatan beragam media sosial ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran PAI tidak lagi terbatas pada ruang kelas konvensional, melainkan berkembang ke ruang digital yang lebih terbuka dan dinamis. Media digital dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dipahami sebagai ruang pedagogis yang memungkinkan terjadinya interaksi keagamaan secara dialogis, kontekstual, dan partisipatif, seiring dengan berkembangnya budaya digital di kalangan peserta didik (Rahman, 2. Media sosial juga dinilai mampu menjembatani nilai-nilai normatif Islam dengan realitas kehidupan sehari-hari melalui pendekatan visual, naratif, dan reflektif yang dekat dengan karakter generasi digital (Fazli et al. , 2. Karakteristik tersebut menjadikan media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi sebagai medium pembelajaran yang berpotensi memperdalam pemahaman keagamaan peserta didik secara kontekstual dan bermakna. Pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran PAI memungkinkan proses belajar berlangsung secara sinkronus maupun asinkronus, sehingga memberikan fleksibilitas akses terhadap materi dan aktivitas belajar (Yusuf & Hasan, 2. Pola pembelajaran ini sejalan dengan prinsip pembelajaran mandiri dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan kemandirian, tanggung jawab, dan kesadaran belajar peserta didik (Martono. Fleksibilitas tersebut membuka ruang bagi peserta didik untuk mengelola ritme belajarnya sendiri serta mengembangkan kesadaran reflektif terhadap nilai-nilai keislaman yang dipelajari. Integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI juga dipandang mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa, sekaligus mendorong proses internalisasi nilai keagamaan secara lebih personal (Zainuddin, 2. Melalui interaksi digital yang dialogis, peserta didik tidak lagi diposisikan sebagai penerima pasif materi keagamaan, melainkan sebagai subjek aktif yang mampu menafsirkan, mendiskusikan, dan merefleksikan nilai-nilai Islam sesuai dengan konteks sosial dan pengalaman hidupnya. Dengan demikian, media sosial berpotensi menjadi medium strategis dalam membangun pembelajaran PAI yang adaptif, humanis, dan relevan dengan tantangan pendidikan Islam di era digital. Integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan melalui tiga dimensi utama. Pertama, dimensi komunikatif, yaitu pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat interaksi antara guru dan peserta didik maupun antarpeserta didik. Melalui diskusi kelompok pada platform seperti WhatsApp atau Telegram, peserta didik didorong untuk mengemukakan pendapat secara terbuka, bertanggung jawab, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam proses komunikasi Kedua, dimensi kolaboratif, yaitu kerja sama peserta didik dalam merancang dan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 menghasilkan proyek keagamaan berbasis digital. Bentuk kegiatan ini dapat berupa pembuatan konten edukatif Islam, video dakwah pendek, maupun infografis yang memuat nilai-nilai moral dan keislaman. Dalam pandangan penulis, aktivitas kolaboratif semacam ini tidak hanya melatih keterampilan sosial dan kreativitas, tetapi juga memperkuat internalisasi nilai keagamaan melalui proses belajar bersama. Ketiga, dimensi reflektif, yaitu kegiatan pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk merenungkan pengalaman spiritual dan sosialnya dalam konteks kehidupan nyata. Refleksi tersebut dapat diekspresikan melalui unggahan pribadi, komentar bermakna, maupun pembuatan vlog bertema religius. Dimensi reflektif ini berperan penting dalam membangun kesadaran diri, kepekaan moral, serta sikap keberagamaan yang lebih autentik dan kontekstual. Integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), menurut penulis, sejalan dengan visi pendidikan Islam yang menekankan kesatuan antara pengetahuan (Aoil. , amal (Aoama. , dan akhlak . (Rahman, 2. Dengan pengelolaan yang bijak dan terarah, media sosial dapat menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman keagamaan yang aktif, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik. Dalam kajian pendidikan Islam berbasis digital menegaskan bahwa pemanfaatan media sosial dapat menjadi ruang pedagogis yang efektif untuk mendorong keterlibatan aktif peserta didik, dialog keagamaan yang reflektif, serta penguatan etika dan tanggung jawab ( Saputra,2023 ). Media sosial menyediakan ruang strategis untuk mewujudkan deep learning karena memungkinkan terjadinya dialog terbuka, refleksi berkelanjutan, dan eksplorasi makna keagamaan yang melampaui batas ruang dan waktu. Integrasi deep learning dan media sosial tidak hanya meningkatkan keterlibatan belajar, tetapi juga berkontribusi pada penguatan literasi media dan etika bermedia sebagai bagian dari pendidikan karakter Islami (Yusuf & Hasan, 2. Integrasi ini sekaligus relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pengembangan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi . C) dalam pembelajaran PAI (Daryanto & Karim. Kompetensi abad ke-21 dalam pembelajaran PAI berperan memperkuat nilai spiritual dan moral, dengan guru sebagai fasilitator pembelajaran berbasis pengalaman dan berbagi, sehingga media sosial menjadi sarana efektif penanaman karakter Islami yang kontekstual. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan memahami secara mendalam fenomena integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) (Creswell, 2. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan realitas sosial dan perilaku belajar peserta didik secara kontekstual, apa adanya, serta menekankan pemaknaan terhadap aktivitas dan pengalaman yang diamati dalam proses pembelajaran (Moleong, 2. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Penggunaan metode kualitatif deskriptif memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami secara mendalam dinamika interaksi antar peserta didik yang terjadi melalui media sosial, termasuk pengaruhnya terhadap pengalaman belajar yang mereka alami serta peran guru dalam mengarahkan dan memfasilitasi aktivitas pembelajaran tersebut. Pendekatan ini dipandang relevan karena mampu mengungkap secara komprehensif aspek kognitif, afektif, dan sosial yang terbentuk dalam proses pembelajaran digital yang bersifat kolaboratif dan Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Bengkalis. Provinsi Riau, pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Lokasi ini dipilih karena sekolah tersebut telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan aktif memanfaatkan media sosial, seperti WhatsApp Group. Google Classroom, dan Instagram, sebagai sarana pembelajaran PAI. Subjek penelitian meliputi Guru PAI yang mengelola kegiatan pembelajaran berbasis media sosial. Siswa kelas XII. 2,XII. 2,XII3. XII. 4 yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut, dan Kepala sekolah yang berperan dalam kebijakan inovasi pembelajaran digital. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama. Observasi partisipatif, dilakukan untuk mengamati aktivitas pembelajaran PAI yang menggunakan media sosial, baik dalam forum diskusi daring maupun aktivitas kolaboratif siswa. Wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan guru PAI, siswa, dan wakil kepala sekolah, untuk memahami persepsi mereka terhadap efektivitas media sosial sebagai sarana pembelajaran antar siswa. Dokumentasi, yang meliputi analisis terhadap hasil tugas siswa, unggahan reflektif di media sosial, serta arsip digital seperti tangkapan layar interaksi kelas daring. Ketiga teknik ini saling melengkapi, karena data yang diperoleh melalui observasi dapat diverifikasi melalui wawancara, dan diperkuat dengan dokumen yang relevan. Desain ini dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai pengalaman siswa dalam mengikuti program pembelajaran digital yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial dalam ajaran agama Islam. Penelitian ini mengadopsi metode studi kasus untuk mengeksplorasi fenomena yang terjadi dalam konteks spesifik sekolah tersebut, serta untuk memperoleh pemahaman yang lebih holistik tentang pengaruh program pembelajaran digital terhadap kesadaran sosial siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang terdaftar di SMAN 3 Bengkalis kelas XII. 1,XII. 2,XII. 3,XII. 4 TP 2025/2026 semester ganjil dengan fokus utama pada siswa yang mengikuti program pembelajaran agama Islam berbasis digital. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu memilih siswa yang terlibat langsung dalam program pembelajaran tersebut, guru yang terlibat dalam proses Sampel ini dianggap representatif karena siswa yang dipilih memiliki pengalaman langsung dalam mengikuti pembelajaran agama Islam berbasis digital yang Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 merupakan fokus utama penelitian. Informan penelitian terdiri dari 5 siswa yang telah mengikuti program pembelajaran digital selama satu semester, serta guru yang terlibat dalam pengajaran agama Islam di sekolah tersebut. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi (Milles et al. , 2. Wawancara dilakukan dengan siswa dan guru untuk menggali pengalaman mereka mengenai efektivitas pembelajaran agama Islam berbasis digital, serta bagaimana program tersebut berkontribusi pada peningkatan kesadaran sosial mereka. Observasi dilakukan terhadap proses pembelajaran agama Islam yang dilaksanakan melalui platform digital untuk memahami interaksi antara siswa dan materi yang disampaikan. Dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan materi pembelajaran yang diterapkan dalam program tersebut. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tematik, yang akan mengidentifikasi tema-tema utama dari hasil wawancara dan observasi, serta menghubungkannya dengan teori-teori yang relevan dalam penelitian ini. Proses analisis data dilakukan secara iteratif untuk memastikan kesesuaian antara temuan penelitian dengan tujuan yang ingin dicapai. IV. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI di SMA Negeri 3 Bengkalis telah berjalan secara sistematis dan kontekstual. Pemanfaatan WhatsApp sebagai media komunikasi serta Instagram. YouTube, dan TikTok sebagai sarana publikasi karya keagamaan menjadikan pembelajaran lebih dekat dengan realitas kehidupan siswa (Yusuf & Hasan, 2. Praktik ini tidak hanya memperluas ruang belajar di luar kelas formal, tetapi juga mendorong peserta didik berperan sebagai subjek aktif yang merefleksikan dan mengekspresikan nilai-nilai Islam melalui konten digital. Media sosial berfungsi sebagai sarana blended learning yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan spiritual secara seimbang (Fullan & Langworthy, 2. Integrasi media sosial dengan pendekatan deep learning memperkuat kemampuan berpikir kritis dan reflektif siswa melalui aktivitas diskusi dan refleksi spiritual berbasis pengalaman hidup. Penulis menilai bahwa pendekatan ini berkontribusi signifikan dalam membangun pembelajaran PAI yang bermakna, partisipatif, dan relevan dengan tantangan pendidikan Islam di era digital. Integrasi media sosial dengan pendekatan deep learning terbukti memperkuat kemampuan berpikir kritis dan reflektif siswa melalui diskusi dan refleksi spiritual berbasis pengalaman hidup (Fullan & Langworthy, 2. Dalam pembelajaran PAI, pemanfaatan platform seperti Telegram dan Google Classroom mendorong siswa membangun pengetahuan secara kolaboratif, mengembangkan kesadaran metakognitif, serta mengaitkan nilai-nilai Islam dengan realitas kehidupan digital (Martono, 2022. Yusuf & Hasan, 2023. Bahwa media sosial memiliki potensi pedagogis yang signifikan dalam mendukung deep learning apabila dimanfaatkan secara terarah dan beretika, karena mampu membuka ruang dialog reflektif dan internalisasi nilai keislaman secara lebih bermakna dalam pembelajaran PAI. Saputra . Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Integrasi ini tidak hanya meningkatkan literasi digital dan sikap kritis terhadap informasi keagamaan, tetapi juga membentuk pembelajaran PAI yang lebih bermakna, partisipatif, dan relevan dengan tantangan pendidikan Islam di era digital. Melalui media sosial, siswa belajar menilai kebenaran informasi keagamaan yang beredar di dunia maya secara kritis. Hal ini menumbuhkan sikap selektif dan bertanggung jawab, sekaligus menjadi latihan literasi digital bernuansa spiritual Keterkaitan medsos dengan Pembelajaran Abad ke-21 dan KURMER Pembelajaran PAI yang berorientasi pada kompetensi abad ke-21 menekankan penguatan critical thinking, creativity, collaboration, dan communication . C) melalui pemanfaatan media sosial sebagai ruang belajar yang partisipatif dan reflektif. Peserta didik dilatih berpikir kritis ketika menelaah serta memverifikasi informasi keagamaan dari sumber digital. kreativitas berkembang melalui produksi konten edukatif bernuansa nilai-nilai Islam. kolaborasi terbangun dalam diskusi daring yang menumbuhkan sikap saling menghargai. sementara kemampuan komunikasi diasah melalui penyampaian gagasan secara santun dan beretika digital. Pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran PAI mendukung penguatan keterampilan abad ke-21 . C) sekaligus memperkuat dimensi Profil Pelajar Pancasila, khususnya beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bernalar kritis, dan bergotong royong. Melalui diskusi keagamaan daring, refleksi spiritual, serta kolaborasi berbasis teknologi, peserta didik diarahkan untuk memahami ajaran Islam secara kontekstual dan mempraktikkannya dalam interaksi sosial yang beretika. Proses ini berkontribusi positif terhadap pembentukan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial siswa. Pendekatan deep learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diarahkan untuk menumbuhkan pemahaman keagamaan yang substantif, sehingga peserta didik tidak hanya menguasai konsep secara tekstual, tetapi juga mampu menangkap makna dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik secara terpadu, sehingga nilai-nilai Islam dapat diinternalisasikan melalui proses refleksi dan pengalaman belajar yang bermakna. Melalui pemanfaatan media sosial, peserta didik memiliki ruang untuk mengekspresikan refleksi keagamaannya dalam berbagai bentuk, seperti tulisan naratif, video reflektif, maupun diskusi daring, yang pada gilirannya memperkuat pemahaman spiritual sekaligus kemampuan berpikir reflektif. Integrasi pembelajaran tersebut sejalan dengan prinsip student-centered learning dalam Kurikulum Merdeka yang menempatkan peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran, dengan penekanan pada kemandirian, kreativitas, dan refleksi diri. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengeksplorasi, menafsirkan, serta mengaitkan ajaran Islam dengan realitas sosialdigital yang mereka hadapi. Dalam kerangka ini, media sosial berfungsi sebagai learning ecosystem yang mendorong berkembangnya kompetensi abad ke-21, meliputi kemampuan berpikir kritis . ritical thinkin. , kreativitas . , kolaborasi . , serta komunikasi yang efektif dan beretika . Integrasi Media Sosial dalam Perspektif Deep Learning dan Kurikulum Merdeka Pendekatan deep learning memberikan landasan teoretis yang kuat bagi integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI(Pendekatan ini tidak sekadar menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan spiritual peserta didik, sehingga mereka mampu memahami nilai-nilai Islam secara mendalam dan kontekstual ( Rahman, 2. Guru PAI dapat memanfaatkan media sosial untuk menstimulasi kegiatan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 belajar reflektif seperti diskusi daring tentang isu keagamaan kontemporer, analisis fenomena sosial dalam perspektif Islam, atau proyek dakwah digital berbasis kolaborasi. ( Hasanuddin,2. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, strategi pembelajaran tersebut berkontribusi pada penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pemanfaatan media sosial juga berperan sebagai sarana pengembangan literasi digital keagamaan . eligious digital literac. yang penting untuk membekali peserta didik kemampuan memilah dan memverifikasi informasi keagamaan secara kritis, sehingga dapat meminimalkan penyebaran konten keagamaan yang tidak valid. Dengan demikian, integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya merepresentasikan inovasi pada tataran pedagogis, tetapi juga mencerminkan transformasi epistemologis dalam mempersiapkan generasi Muslim yang kritis, moderat, dan adaptif terhadap dinamika perubahan zaman. Penerapan Materi pada Pembelajaran PAI SMA Kelas XII Berbasis Media Sosial dan Deep Learning Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai spiritual agar mampu menghadapi realitas kehidupan. Dalam Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berkontribusi pada penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pemanfaatan media sosial juga berperan sebagai sarana pengembangan literasi digital keagamaan . eligious digital literac. yang penting untuk membekali peserta didik kemampuan memilah dan memverifikasi informasi keagamaan secara kritis, sehingga dapat meminimalkan penyebaran konten keagamaan yang tidak valid. Dengan demikian, integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya merepresentasikan inovasi pada tataran pedagogis, tetapi juga mencerminkan transformasi epistemologis dalam mempersiapkan generasi Muslim yang kritis, moderat, dan adaptif terhadap dinamika perubahan zaman. Proyek kolaboratif pada materi AuSabar di Era DigitalAy melalui Google Classroom dan Padlet berfungsi sebagai sarana penguatan nilai spiritual sekaligus pengembangan keterampilan abad ke-21 (Daryanto & Karim, 2. Melalui pembuatan konten edukatif seperti video pendek, poster dakwah digital, dan podcast reflektif, siswa tidak hanya memahami konsep sabar secara teoretis, tetapi juga mempraktikkannya melalui komunikasi digital, kerja sama tim, serta kreativitas dan inovasi (Gunawan, 2. Pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran turut berkontribusi pada pembentukan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi religius, bernalar kritis, dan gotong royong (Kemendikbudristek, 2. Kegiatan reflektif dan kolaboratif ini membantu siswa mengembangkan empati, ketekunan, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan kehidupan modern (Lickona, 1. Tahap Perencanaan Digital Learning Pada tahap perencanaan, guru menentukan platform media sosial yang sesuai dengan tujuan Misalnya. Google Classroom digunakan sebagai ruang utama penyimpanan materi. WhatsApp Group sebagai media koordinasi cepat dan interaksi informal. Padlet untuk refleksi terbuka, serta Instagram dan YouTube untuk publikasi karya siswa. Setiap platform memiliki fungsi pedagogis yang berbeda namun saling melengkapi: Google Classroom memfasilitasi pembelajaran terstruktur. Padlet mendukung refleksi individual, dan Instagram menumbuhkan semangat kreatif dan publikasi Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 nilai moral Islam dengan luas. 1Guru kemudian menyiapkan materi inti berupa ayat-ayat Al-QurAoan (QS. Al-Baqarah . : 155Ae157 dan QS. Az-Zumar . : . serta hadis Nabi tentang sabar, dilengkapi contoh kasus nyata seperti kegagalan ujian, kehilangan orang terdekat, atau tekanan media sosial yang kerap dialami remaja. Materi diunggah dalam bentuk e-module dan infografis digital di Google Classroom, disertai acuan kegiatan reflektif dan proyek . Tahap Pelaksanaan melalui Aktivitas Media Sosial Proyek kolaboratif bertema AuSabar di Era DigitalAy melalui Google Classroom dan Padlet memperkuat nilai spiritual serta keterampilan abad ke-21. Melalui pembuatan konten edukatif, siswa tidak hanya memahami konsep sabar secara teoretis, tetapi juga mempraktikkannya melalui komunikasi digital, kerja sama tim, dan kreativitas (Gunawan. Pemanfaatan media sosial turut mendukung pembentukan nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya religiusitas, bernalar kritis, dan gotong royong (Kemendikbudristek. Tahap Refleksi dan Evaluasi Pada tahap refleksi, penggunaan digital reflective journal melalui Padlet mendorong siswa mengaitkan nilai sabar dengan pengalaman akademik dan sosial secara personal dan bermakna, sekaligus memperkuat metakognisi dalam pembelajaran PAI (Gunawan, 2. Diskusi evaluatif melalui Google Meet menegaskan prinsip deep learning yang menempatkan refleksi sebagai sarana transformasi diri dalam pendidikan Islam modern (Daryanto & Karim. Integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI juga berfungsi sebagai sarana spiritual literacy yang mendukung pembentukan karakter dan akhlak peserta didik sesuai tuntutan abad ke-21 dan Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek, 2. Meskipun demikian, implementasi di lapangan menghadapi tantangan berupa kedisiplinan waktu, distraksi digital, dan perbedaan literasi digital siswa. Strategi reflektif berbasis projectbased learning dan peer mentoring terbukti efektif meningkatkan keterlibatan serta pendalaman nilai-nilai PAI secara aplikatif (Lickona, 1. Analisis Temuan dan Diskusi Teoritis Hasil penelitian ini memperkuat pandangan connectivism yang dikemukakan oleh Siemens, bahwa proses belajar pada era digital berlangsung melalui jejaring hubungan dan kolaborasi antarpengguna (Siemens,2. Dalam pembelajaran PAI, jejaring tersebut tidak hanya berorientasi pada pengembangan kognitif, tetapi juga mencakup dimensi spiritual. Interaksi digital memungkinkan peserta didik saling mengingatkan pada nilai kebaikan, berbagi pesan moral, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas keagamaan(Anwar,2. 1 A. Putra. AuImplementasi Media Sosial dalam Pembelajaran PAI Berbasis Kurikulum Merdeka,Ay Jurnal Teknologi Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, 2023, hlm. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Implementasi. Kendala Internalisasi, dan Strategi Penguatan Implementasi integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI dilakukan melalui tiga tahapan utama: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Guru PAI merancang skenario pembelajaran yang memanfaatkan grup WhatsApp sebagai tempat diskusi antar siswa, unggahan provokatif di Instagram Story terkait nilai-nilai Islam, dan video refleksi diri di YouTube,tiktok sebagai tugas ( Astuti,2. Pelaksanaan pembelajaran berlangsung baik dalam kondisi tatap muka maupun daring. Siswa diberikan tugas untuk membuat vlog singkat tentang praktik akhlak di sekolah, kemudian mereka mengunggahnya ke platform kelas, saling memberi komentar, dan mendiskusikannya dalam sesi daringEvaluasi dilakukan melalui rubrik yang mencakup aspek kolaborasi, kreativitas, berpikir kritis, dan komunikasiAiempat kompetensi abad ke-21Aiserta aspek internalisasi nilai seperti kejujuran dan tanggung jawab sosial . emendikbud,2. Hasil awal menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dan berinisiatif, serta menunjukkan peningkatan partisipasi dalam diskusi Beberapa siswa belum menguasai fitur teknologi media sosial yang digunakan, sehingga partisipasi mereka tidak optimal (Decky Saputra, 2. Penggunaan media sosial untuk keperluan nonpembelajaran, seperti hiburan atau chatting pribadi, mengurangi fokus belajar (Gunawan, 2. Interaksi daring dan asinkron menyulitkan guru dalam memantau kualitas diskusi, komentar, dan konten yang diunggah (Abu Anwar, 2. Selain itu, terdapat unggahan siswa yang kurang selaras dengan nilai keislaman atau norma digital, sehingga internalisasi nilai belum maksimal (Lickona. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memiliki potensi besar, tanpa strategi penguatan yang tepat, dampaknya terhadap pembentukan karakter yang mendalam dapat terbatas (Daryanto & Karim, 2. Strategi Penguatan Untuk mengoptimalkan integrasi media sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan memperkuat internalisasi nilai keislaman, diperlukan strategi-strategi pedagogis yang Pelatihan literasi digital bagi siswa menjadi langkah awal penting agar mereka mampu menggunakan platform seperti WhatsApp. Telegram, dan Instagram secara produktif, etis, dan aman dalam konteks pembelajaran digital. Sekolah perlu merumuskan kebijakan digital yang jelas untuk mengatur etika unggahan, diskusi, serta tanggung jawab siswa dalam ruang daring. Pendampingan aktif oleh guru melalui moderasi kelompok, pemberian pertanyaan reflektif, dan fasilitasi umpan balik antar siswa juga merupakan komponen kunci dalam mendukung proses pembelajaran. Selain itu, penugasan berbasis proyek nilai yang memotivasi siswa membuat karya digital relevan dengan tema keislaman dan mempublikasikannya di media sosial kelas atau sekolah dapat memperkuat keterlibatan afektif dan spiritual peserta didik. Evaluasi reflektif terhadap hasil karya tidak hanya menilai kualitas produk digital, tetapi juga perkembangan karakter siswa, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan Implementasi strategi-strategi tersebut secara konsisten diyakini dapat memperkuat peran media sosial sebagai sarana pembelajaran yang efektif dalam ranah afektif dan spiritual (Fazli et al. Saputra et al. , 2. Penelitian ini memperkaya teori pembelajaran Islam modern dengan menegaskan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai learning community berbasis nilai, bukan sekadar alat komunikasi. Pendekatan ini memperluas kerangka konstruktivisme sosial Vygotsky dengan menambahkan dimensi spiritual. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 yaitu terbentuknya scaffolding nilai keislaman melalui interaksi digital antar siswa. Selain itu, penelitian ini menutup celah literatur PAI yang selama ini lebih menekankan metode konvensional berbasis ceramah. Temuan menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang praksis yang mendukung integrasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pembelajaran agama (Saputra. Hasil penelitian dapat menjadi model pembelajaran alternatif bagi guru PAI di sekolah menengah. Model ini memfasilitasi pembelajaran reflektif dan kolaboratif melalui media sosial populer di kalangan remaja, seperti WhatsApp. Instagram. TikTok, dan YouTube. Guru dapat memanfaatkan fitur story dan comment section sebagai wahana refleksi nilai-nilai Islam, sekaligus melakukan evaluasi berbasis proyek digital. Pihak sekolah juga mendapatkan manfaat berupa peningkatan literasi digital religius siswa (Saputra et al. , 2. Implikasi bagi Pengembangan Pendidikan PAI yakni Transformasi Pedagogi Digital PAI: Pembelajaran PAI harus disesuaikan dengan karakter Generasi Z dalam ekosistem digital, menjadikan media sosial jembatan antara nilai keislaman dan realitas sosial modern. Integrasi Kurikulum Berbasis Literasi Digital Islami: Kurikulum PAI perlu memasukkan literasi digital etis dan tanggung jawab bermedia sebagai bagian dari pembentukan karakter. Peningkatan Kompetensi Guru: Guru memerlukan pelatihan berkelanjutan agar mampu merancang dan memoderasi pembelajaran berbasis media sosial secara efektif,. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan arah baru bagi pendidikan Islam yang adaptif, reflektif, dan kontekstual terhadap perubahan sosial dan digital (Saputra, 2024. Nasution et al. , 2. PENUTUP Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki potensi yang sangat besar sebagai sarana pembelajaran yang mampu menumbuhkan keterlibatan aktif antar siswa . tudent engagemen. dan proses internalisasi nilai-nilai Islam. Melalui pendekatan integratif, media sosial tidak hanya sebagai ruang interaksi, tetapi juga sebagai ruang reflektif bagi siswa dalam memahami, mengekspresikan, dan menerapkan nilai -ni. ai keagamaan dalam konteks kehidupan di era dunia Namun demikian, keberhasilan integrasi ini akan sangat tergantung pada kemampuan guru sebagai tenaga pendidik dalam merencanakan, mendesain dan melaksnakan aktivitas pembelajaran yang berorientasi nilai-nilai spirituil,moril, karakter, serta kemampuan siswa dalam menjaga ,menerapkan etika dan tanggung jawab dalam menggunakan media social untuk Bagi Guru PAI: Diperlukan peningkatan kapasitas pedagogis dan digital agar mampu menciptakan pembelajaran bermakna berbasis media sosial yang bernilai spiritual. Bagi Sekolah: Perlu adanya regulasi internal dan pendampingan guru dalam mengelola media sosial sebagai ruang pembelajaran yang aman dan produktif. Bagi Peneliti Selanjutnya: Dapat dilakukan penelitian lanjutan mengenai efektivitas model ini dalam konteks madrasah atau pendidikan tinggi Islam dengan metode kuantitatif untuk mengukur pengaruhnya terhadap capaian belajar dan moral digital siswa Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 DAFTAR PUSTAKA