ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN SKABIES DI PONDOK PESANTREN DARUL FALAH KOTA BATAM Isramilda 1. Andi Asda2. Riansyah Yoga Purnama3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, isramilda @univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiasda@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, riansyahyogapurnama81@gmail. ABSTRACT Background: Environment-based disease is a symptom of a disease that occurs in a community group that has a connection, a close relationship with additional environmental components in the space where the community lives or operates in a certain area at a certain time. Skin diseases can be caused by fungi, viruses, germs, animal parasites and others. One of the skin diseases caused by parasites is Scabies affects millions of people in tropical and developing countries every year. Scabies causes suffering in many people because they cannot sleep peacefully at night due to itching. Methods: This research is an observational analytic study with a cross sectional approach. With a sample of 162 people. The results of research using test Chi-Square. Results: In this study, the results of an analysis of the factors associated with the incidence of scabies used a test Chi-Square get a correlation number Personal Hygiene . =0. Knowledge Level . =0. Environmental Sanitation . =0. In the multivariate test results using multiple logistic regression test (Multiple Regression Logisti. with the results of Environmental Sanitation OR 95% Cl . Conclusion: Based on the results of the study it can be concluded that there is a significant relationship between Personal Hygiene. Knowledge Level and Environmental Sanitation on Scabies Incidence. And the results of the multivariate test found that Environmental Sanitation was the most dominant factor in the occurrence of scabies in students at the Darul Falah Islamic Boarding School. Batam City. Keywords: Personal Hygiene. Knowledge Level. Environmental Sanitation ABSTRAK Latar Belakang: Penyakit berbasis lingkungan adalah suatu gejala penyakit yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat yang mempunyai keterkaitan, hubungan yang erat dengan komponen lingkungan tambahan dalam ruang di mana masyarakat tersebut hidup atau beroperasi pada suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasit hewani dan lainlain. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit adalah Skabies. Penyakit Skabies sangat mempengaruhi jutaan orang di Negara tropis dan Negara berkembang setiap tahun. Skabies menyebabkan penderitaan pada banyak orang karena tidak dapat tidur dengan tenang pada malam hari disebabkan oleh rasa gatal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan sampel sebanyak 162 orang. Hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Pada penelitian ini hasil analisis faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian skabies menggunakan uji Chi-Square memperoleh angka korelasi Personal Hygiene . = 0,. Tingkat Pengetahuan . =0,. Sanitasi Lingkungan . =0,. Pada hasil uji multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda (Multiple Regression Logisti. dengan hasil Sanitasi Lingkungan OR 95% Cl . Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara Personal Hygiene. Tingkat Pengetahuan dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Skabies. Dan hasil uji multivariat ditemukan bahwa Sanitasi Lingkungan merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Falah Kota Batam. Kata kunci: Personal Hygiene. Tingkat Pengetahuan. Sanitasi Lingkungan Universitas Batam Page 312 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 PENDAHULUAN cenderung lebih meningkat dibandingkan Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei Var Kondisi yang dapat menyebabkan Setiap penderita tidak bisa menghindari garukan karena adanya tungau . cabies mite. di Berdasarkan pemerintah. Skabies sangat mempengaruhi jutaan orang di Negara tropis dan Negara Skabies menyebabkan penderitaan pada banyak orang karena tidak dapat tidur dengan tenang pada malam hari disebabkan oleh rasa gatal. (Ridwan, 2. Menurut WHO. Infestasi Skabies dapat diperumit oleh infeksi bakteri, yang mengarah pada perkembangan luka kulit yang dapat menyebabkan perkembangan konsekuensi yang lebih serius seperti Septikemia. Penyakit Jantung, penyakit Ginjal Kronis. Secara Global, diperkirakan Skabies mempengaruhi lebih dari 130 juta hingga 200 juta orang didunia setiap saat. Estimasi prevalensi Skabies pada tahun 2019 menurut International Alliance for the Control ofScabies (IACS) berkisar dari 0,3% hingga 46%. World musim panas. (World Health Organization. Di Brazil Amerika Selatan prevalensi Skabies mencapai 18%, di Benin Afrika Barat 28,33 %, di kota Enugu Nigeria 13,55%, di Pulau Pinang Malaysia 31%. Pada tahun 2017. Skabies dan ektoparasit lainnya dimasukkan sebagai Neglected Tropical Diseases (NTD. , tanggapan atas permintaan dari Negaranegara Anggota dan rekomendasi dari Kelompok Penasihat Strategis dan Teknis WHO NTDs. (World Health Organization. Kemenkes RI 2016 menyebutkanbahwa dari 261,6 juta penduduk pada tahun 2016, prevalensi Skabies di Indonesia sebesar 4,60%-12,95% dan menduduki urutan 3 dari 12 penyakit kulit tersering (Sunarno. Menurut Riset kesehatan dasar tahun perilaku benar dalam menjaga kebersihan pada penduduk di Indonesia sebesar 49,8%. Kepulauan Riau sebesar 58,3%. Kota Batam 58,32% (Kemenkes RI, 2. Terjadinya penyakit Skabies ini Health Organization (WHO) tahun 2020 melaporkan kasus Skabies diseluruh dunia diantaranya personal hygiene, sanitasi sebesar 0,2% hingga 71%. Pada musim lingkungan dan pengetahuan. Personal dingin prevalensi juga hygiene yang buruk dapat menyebabkan tubuh terserang berbagai penyakit seperti Universitas Batam Page 313 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit Kurangnya informasi dan mulut dan dapat menghilangkan fungsi pemahaman mengenai penyakit Skabies bagian tubuh tertentu seperti halnya kulit. Hygiene pencegahan penyakit Skabies. Dengan terjadinya penyakit Skabies serta tradisi kebiasaan buruk misalnya sering berganti- ganti pakaian atau handuk dengan orang mencapai kesembuhan. (Ridwan,2. SUBJEK DAN METODE PENELITIAN Faktor yang mempengaruhi terjadinya Skabies Sanitasi dalam arti luas meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit, sedangkan sanitasi lingkungan merupakan usaha pengendalian diri dari semua faktor lingkungan fisik manusiayang mungkin dapat menimbulkan hal-halyang kesehatan dan daya tahan tubuh manusia. Usaha penyehatan lingkungan merupakan kondisi yang mungkin dapat menimbulkan merupakan faktor yang harus diperhatikan. Kebersihan tempat tinggal atau asrama dapat dilakukan dengan cara penyediaanair bersih, pembuangan kotoran manusia, membersihkan jendela atau perabotan, peralatan makan, membersihkan kamar serta membuang sampah. (Yulianto, 2. Faktor mempengaruhi terjadinya Skabies yaitu Jenis Penelitian ini adalah penelitian Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian yang mempelajari korelasi antara faktor resiko . dengan efek . , dimana pengumpulan data antara faktor risiko dengan efek serentak dalam satu waktu . oint time approac. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Santri di Pondok Pesantren Darul Falah Kota Batam yang berjumlah 162 Santri. Teknik sampel menggunakan Total Sampling. Teknik primer dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder yaitu Santri di Pondok Pesantren Darul Falah Kota Batam. Analisis data menggunakan Chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Frekuensi Skabies Tabel 1. Distribusi Frekuensi Skabies Skabies Frekuens Persentas . (%) Buruk 56,2% 43,8% Baik Total Tabel 1 Pada penelitian ini diperoleh 91 Universitas Batam Page 314 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Distribusi frekuensi Personal Hygiene sedangkan sebanyak 71 santri . ,1%) mengacu pada tingkat kebersihan pribadi tidak menderita skabies. seseorang dalam melakukan perawatan . ,2%) Distribusi frekuensi skabies mengacu pada jumlah kasus skabies yang terjadi pada popukasi tertentu dalam rentang waktu tertentu, sedangkan kejadianskabies mengacu pada jumlah kasus baru skabies yang terjadi pada populasi tertentu dalam rentang waktu tertentu. kebersihan diri seperti mandi, mencuci tangan dan mengganti pakaian. Sedangkan kejadian skabies mengacu pada jumlah kasus skabies yang terjadi pada populasi tertentu dalam rentang waktu tertentu. Personal Hygiene yang baik saja tidak dapat sepenuhnya mencegah terjadiskabies. Skabies juga dapat menyebar melalui Distribusi skabies dapat dipengaruhi kontak dengan orang yang terinfeksi di oleh beberapa faktor usia seperti usia, jenis tempat-tempat yang padat seperti sekolah, kelamin, lingkungan yang padat dan asrama, atau pusat penitipan anak. Oleh karena itu, tindakan pencegahan lain seperti analisis data mengenai distribusi frekuensi menjaga jarak sosial dan mencuci pakaian Pengumpulan secara teratur juga penting untuk mencegah terjadinya skabies. populasi tertentu. Hal ini dapat membantu Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Skabies dalam merencanakan tindakan pencegahan Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan dan pengobatan yang efektif. (Kudadiri, persentase Tingkat Pengetahuan Tingkat Pengetahuan Buruk Baik Total Distribusi Frekuensi Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies Distribusi Frekuensi dan persentase Personal Hygiene Tabel Personal Hygiene Buruk Baik Total Frekuensi Persentase (%) 61,1% 38,9% Tabel 2 Pada penelitian ini diperoleh Frekuensi Persentase (%) 64,8% 35,2% Tabel 3 Pada penelitian ini diperoleh . ,8%) . ,2%) Tingkat pengetahuan yang baik tentang skabies dan cara mencegahnya dapat 99 santri . ,1%) dengan kebersihan perorangan buruk, sedangkan sebanyak 63 ,9%) perorangan baik. Universitas Batam Page 315 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 membantu mengurangi risiko seseorang terkena infeksi skabies. Seseorang yang penularannya mungkin lebih cenderung menghindari kontak dengan orang yang kebersihan asrama, lingkungan asrama. Sedangkan kejadian skabies mengacu pada jumlah kasus skabies yang terjadi pada populasi tertentu dalam rentang waktu Sanitasi lingkungan yang buruk dapat meningkatkan risiko seseorang terkena secara teratur dan menghindari berbagi Tungau skabies dapat hidup di benda dengan orang yang terinfeksi. lingkungan yang lembab dan kotor, seperti Pengumpulan pengetahuan dan kejadian skabies dapat membantu dalam memahami hubungan antara pengetahuan dan risiko terkena tempat tidur, bantal, pakaian dan seprai yang jarang dicuci. Jika lingkungan sekitar kita tidak bersih, maka tungau skabies dapat bertahan hidup dan menyebar ke orang lain dengan mudah. skabies pada populasi tertentu. Hal ini Dengan menjaga sanitasi lingkungan dapat membantu dalam merencanakan an yang baik dan menerapkan tindakan pencegahannya untuk mengurangi beban penyakit skabies pada santri. penyakit ini di lingkungan sekitar kita. Distribusi Frekuensi Sanitasi Hasil penelitian ini sejalan dengan Lingkungan dengan Kejadian Skabies penelitian yang dilakukan Afienna . Tabel 4. Distribusi Frekuensi Persentase Sanitasi Lingkungan menunjukkan santri yang tinggal pada Sanitasi Lingkungan Buruk Baik Total Frekuensi . Persentase (%) 51,2% 48,8% Tabel 4 Pada penelitian ini diperoleh 83 santri . ,2%) dengan sanitasi lingkungan yang buruk, sedangkan sebanyak 79 santri . ,8%) dengan sanitasi lingkungan yang Distribusi frekuensi sanitasilingkungan lingkungan di sekitar, seperti Universitas Batam Sanitasi Lingkungan yang tidak memenuhi syarat sebesar 83,9%, dan terdapat adanya hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dengan kejadian skabies. Analisis Bivariat Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies Berdasarkan dilakukan di Pondok Pesantren Darul Falah Kota Batam mengenai Personal Page 316 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Hygiene Kejadian Skabies. Tabel 5. Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies Skabies Skabies Tidak Skabies Total Persentase Baik Total Personal Hygiene Buruk Tabel perorangan yang buruk sebanyak 66 santri . ,5%) dan dengan kebersihanperorangan yang baik sebanyak 25 santri . ,5%). Kemudian santri yang tidak menderita skabies dengan kebersihanperorangan yang buruk sebanyak 33 santri . ,5%) dan dengan kebersihan perorangan yang baik sebanyak 38 santri . ,5%). Dari hasil uji chi-square, pada variabel Personal Hygiene, didapatkan nilai p . = 0,001, dimana angka tersebut menyatakan angka yang signifikan karena nilai p< = 5% . Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yaitu Personal Hygiene dengan kejadian skabies pada santri pondok pesantren. P Value 0,001 Jika seseorang tidak memperhatikan kebersihan pribadi yang baik, seperti tidak mandi secara teratur, tidak mencuci tangan secara teratur, atau mengganti pakaian yang terkontaminasi, maka tungau skabies dapat bertahan hidup pada kulit atau pakaian tersebut dan menyebar ke orang lain melalui kontak fisik atau penggunaan barang yang Hasil penelitian ini sejalan dengan Efendi menunjukkan santri dengan kebersihan perorangan yang buruk sebesar 53%, dan terdapat adanya hubungan yang bermakna kejadian skabies . value = 0,. Hasil tanya jawab menggunakan kuesioner dan pemeriksaan kulit responden berdasarkan gejala klinis penyakit. Hubungan Tingkat Pengetahuan Hasil dengan Kejadian Skabies pada Santri di kesesuaian dengan teori bahwa santri yang Pondok Pesantren kurang menjaga kebersihan diri berisiko Berdasarkan tinggi terkena skabies. Personal hygiene dilakukan di Pondok Pesanren Darul yang buruk dapat meningkatkan risiko Falah terjadinya skabies. tingkat pengetahuan dengan kejadian Universitas Batam Batam Page 317 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Tabel 6. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan kejadian skabies Tingkat Pengetahuan Skabies Tidak Skabies Skabies Buruk Baik Total Tabel 6 menunjukkan bahwa santri yang pengetahuan yang buruk sebanyak Total Persentase Value 0,000 keparahan infeksi skabies. Parman et al. Dalam kasus populasi yang lebih luas, tingkat pengetahuan yang baik tentang pengetahuan yang baik sebanyak 17 santri scabies juga dapat membantu dalam . ,7%). Kemudian santri yang tidak pencegahan infkesi. ,3%) pengetahuan buruk sebanyak 31 santri . ,7%) dan dengan tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 40 santri . ,3%). Menurut mayoritas responden dengan kategori yang pengetahuan responden tersebut hanya Dari hasil uji chi-square, pada variabel sebatas tahu dan mengetahui apa itu skabies independent yaitu tingkat pengetahuan, tanpa memahami lebih lanjut. Berdasarkan didapatkan nilai p . = 0,000, hasil penelitian diketahui bahwa responden dimana angka tersebut menyatakan angka tidak mengetahui faktor penyebab skabies, yang signifikan karena nilai p< = 5% tanda dan gejala skabies, serta responden . Maka dari itu, dapat disimpulkan juga tidak mengetahui bagaimana cara bahwa HCe ditolak yang artinya ada dengan kejadian skabies dan Ha diterima. Pengetahuan yang baik tentang skabies Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widya Wijayanti . dengan hasil uji chi- mengenali tanda dan gejala awal infeksi. square p=0,001 . <0,. yang berarti Hal ini dapat memungkinkan individuuntuk segera mengambil tindakan pencegahan mengurangi risiko penyebaran dan Universitas Batam Page 318 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Skabies pada Santri Pondok Pesantren Tabel 7. Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Skabies pada Santri Pondok Pesantren Sanitasi Lingkungan Buruk Baik Total Skabies Tidak Skabies Skabies Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah santri yang menderita skabies dengan sanitasi lingkungan buruk sebanyak 67 santri Total Persentase Value 0,000 teriritasi karena lingkungan yang buruk dapat lebih mudah terinfeksi oleh tungau penyebab skabies. ,6%) dan dengan sanitasi lingkungan Lingkungan baik sebanyak 24 santri . ,4%). Kemudian perumahan, kotoran manusia, penyediaan santri yang tidak menderita skabies dengan sanitasi lingkungan buruk sebanyak 16 pembuangan air kotor, rumah hewan ternak . dan sebagainya. usaha kesehatan 55 santri lingkungan adalah suatu usaha untuk . ,5%) lingkungan baik sebanyak . ,5%). Dari hasil uji chi-square, pada variabel independent yaitu Sanitasi Lingkungan, didapatkan nilai p . = 0,000, manusia agar terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di (Saragih. A, 2. dimana angka tersebut menyatakan angka Sanitasi Lingkungan yang baik dapat yang signifikan karena nilai p< = 5% membantu mencegah penyebaran skabies. Maka dari itu, dapat disimpulkan Sebagai contoh memastikan kebersihan bahwa HCe ditolak yang artinya ada yang baik, seperti rajin mencuci tangan dan hubungan antara Sanitasi Lingkungan mengganti pakaian yang kotor. terhadap kejadian Skabies dan Ha diterima. Sanitasi Lingkungan yang buruk juga penelitian yang dilakukan oleh Widya Wijayanti . dengan hasil uji chi- square p=0,002 . <0,. yang berarti terjadinya infeksi, dan gejala skabies. Kulit yang kering atau Universitas Batam Hasil penelitian ini sejalan dengan Page 319 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Universitas Batam Page 320 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 Analisis Multivariat Tabel 8. Analisis Multivariat Aktifitas Fisik dan Pola Makan dengan Kejadian Hipertensi No. Variabel Wald Sig. 95% CI Tingkat Pengetahuan 12,906 Sanitasi Lingkungan 2,074 -1,853 28,646 32,698 7,955 Constant Tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa Personal Hygiene. Tingkat Pengetahuan. Sanitasi syarat kesehatan serta kenyamanan bagi Lingkungan Skabies merupakan penyakit gatal- gatal pada kulit yang disebabkan oleh kutu kejadian skabies pada santri di Pondok . Pesantren Darul Falah. Namun ditemukan sangat dipengaruhi oleh kondisilingkungan salah satu variabel independen yaitu, serta tempat tinggal. Pemukiman yang Personal Hygiene minimal standard nilai signifikansi untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup melakukan uji multivariat yaitu serta kondisi rumah yang tidak memenuhi yang seharusnya <0. Sehinggadilakukan uji statistik tahap berikutnya dengan perkembangan skabies di Pondok Pesantren menghapus variabel PersonalHygiene. Darul Falah Kota Batam. Sanitasi Lingkungan merupakan Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh Asoly Giovano Kesehatan lingkungan adalah suatukondisi Imartha, 2017 yang menunjukkan bahwa atau keadaan lingkungan yang optimum tingkat pengetahuan sebagai penyebab sehingga berpengaruh positif terhadap dominan terjadinya skabies pada santri dengan p Value = 0,016 dan OR= 2,893 optimum pula. Penuluran skabies akan . %Cl:1,216-6,. dengan pengetahuan yang kurang baik penduduk yang banyak terdapat di daerah berpeluang menderita skabies 2 kali kumuh serta rumah yang tidak memenuhi dibandingkan dengan santri yang memiliki Artinya, pengetahuan baik. Universitas Batam Page 321 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 1 JANUARI 2023 KESIMPULAN kejadian Skabies di Pondok Pesantren Santri yang terkena Skabies sebanyak Darul Falah Kota Batam dengan nilai 91 . ,2%) dan Santri yang tidak terkena Skabies Sebanyak 71 Santri p=0,000 Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan terhadap . ,8%). Lebih dari setengah santri dengan kejadian Skabies di Pondok Pesantren Personal Hygiene yang buruk sebesar Darul Falah Kota Batam dengan nilai 61,1% dan Kurang dari setengah santri p=0,000. dengan Personal Hygiene yang baik Sanitasi Lingkungan Variabel yang paling berhubungan dan sebesar 38,9% Lebih dari setengah santri dengan paling dominan terhadap kejadian Pondok 64,8% Kurang Pesantren Darul Falah Kota Batam dengan nilai Koefisien B . Wald pengetahuan yang baik sebesar 35,2% Lebih dari setengah santri dengan . OR . SARAN sanitasi lingkungan yang buruk sebesar Diharapkan dapat melakukan penelitian 51,2% dan Kurang dari setengah santri menggunakan motode lain dan diharapkan dengan sanitasi lingkungan yang baik dapat menjelaskan secara lebih rinci sebesar 48,8% mengenai faktor-faktor yang berhubungan Terdapat hubungan yang signifikan Pesantren Darul Falah Kota Batam selain Personal Hygiene. Tingkat Pengetahuan. Sanitasi Lingkungan. RSUD UCAPAN TERIMA KASIH