JPFT - volume 11, nomor 2, pp. Agustus 2023 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Open Access http://jurnal. id/index. php/jpft HUBUNGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA SISWA PADA MATERI ELASTISITAS DAN HUKUM HOOKE The Relationship Of Critical Thinking Ability To Physics Problem Solving Ability In Elasticity Materials And Hooke's Law Maryam. Marungkil Pasaribu Program Studi Pendidikan Fisika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Palu. Indonesia maryam6978719@gmail. com, pasar67@yahoo. Kata Kunci Berpikir kritis Pemecahan masalah Elastisitas dan Hukum Hooke Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah fisika pada materi elastisitas dan hukum hooke. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel dalam peneltian ini adalah siswa kelas XI MIA 1 SMA Negeri 9 Palu yang dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu yang sesuai dengan kebetuhan penelitian. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan berpikir kritis dan tes kemampuan pemecahan masalah. Hasil analisis hubungan kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah menunjukan bahwa nilai korelasi yang diperoleh sebesar r = 0,532 berada pada kategori sedang dengan kontribusi kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah sebesar 36,8%. Hubungan antara indikator kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah pada indikator ke-1 diperoleh korelasi sebesar 0,496 dengan koefisien determinasi sebesar 24,63%, indikator ke-2 diperoleh korelasi sebesar 0,622 dengan koefisien determinasi sebesar 38,66%, indikator ke-3 diperoleh korelasi sebesar 0,397 dengan koefisien determinasi sebesar 15,76% dan indikator ke-4 diperoleh korelasi sebesar 0,139 dengan koefisien determinasi sebesar 1,94%. Keywords Critical Thinking Problem Solving Elasticity and HookeAos Law Abstract This study aims to determine the relationship between critical thinking skills and physics problem solving skills on elasticity and Hooke's law. This study uses a quantitative descriptive The sample in this study were students of class XI MIA 1 SMA Negeri 9 Palu who were selected based on certain considerations in accordance with the needs of the study. The instruments used in this research are critical thinking ability tests and problem solving skills The results of the analysis of the relationship between critical thinking skills and problem solving abilities show that the correlation value obtained by r = 0. 532 is in the medium category with the contribution of critical thinking skills to problem solving abilities of 36. The relationship between the indicators of critical thinking ability and problem solving ability in the 1st indicator is obtained a correlation of 0. 496 with a coefficient of determination of 63%, the second indicator of correlation is 0. 622 with a coefficient of determination of 66%, the third indicator is obtained correlation of 0. 397 with a coefficient of determination 76% and the fourth indicator obtained a correlation of 0. 139 with a coefficient of determination of 1. A2023 The Author p-ISSN 2338-3240 e-ISSN 2580-5924 Received 12/05/2023. Revised 06/06/2023. Accepted 05/07/2023. Available Online 31/08/2023 *Corresponding Author: fisika@yahoo. PENDAHULUAN kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah . Berpikir kritis adalah suatu proses kemampuan untuk memecahkan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan fakta sehingga memperoleh kesimpulan . Pendidikan di indonesia mengarah pada kemampuan berpikir tingkat tingi yang Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu proses berpikir yang Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Meneurut Purwati, dkk. Berpikir kritis adalah kemampuan dalam menganalisis dan mengevaluasi informasi dari hasil pengamatan, pengalaman, penalaran, maupun komunikasi benar tidaknya suatu kesimpulan yang logis dan benar. Sedangkan kemampuan pemecahan masalah merupakan suatu proses terencana yang dilakukan dalam menghadapi situasi baru agar memperoleh penyelesaian dari sebuah masalah . Salah satu pembelajaran yang tidak luput dari penerapan kurikulum 2013 adalah mata pelajaran fisika. Fisika dalam pemebelajarannya mengkaji tentang fakta, teori, konsep, prinsip dan hukum-hukum fisika . Pembelajaran fisika dalam penerapannya mengajak siswa untuk berpikir aktif dan kreatif dalam memecahkan suatu fenomena alam yang dalam pembelajarannya membutuhkan penyelesaian masalah . Penjelasan tersebut memberikan arti kecenderungan solusi pada metode yang menyentuh pemecahan masalah, sebagai suatu wujud memecahkan fenomena alam, yang menjadi kewajiban dari mata pelajaran fisika. Keterkaitan erat dalam ranah pembelajaran memperhatikan tingkatan berfikir yang baik, salah satunya adalah berfikir kritis terkait materi pelajaran yang kaitannya dengan memecahkan masalah. Namun demikian dalam pembelajaran fisika, untuk menyelesaikan masalah fisika tidak dapat dilakukan dengan cepat dan mudah karenanya siswa juga memerlukan alur pemikiran dengan Sehingga kemampuan berpikir kritis merupakan aspek yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran karena dapat membantu dalam memperkirakan permasalahan yang membutuhkan alternatif . Kemampuan berpikir kritis yang baik dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan kurangnya kemampuan pemecahan masalah karena siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik memiliki kematangan pengetahuan dan keinginan untuk menemukan dan meneliti lebih jauh tentang permasalahan yang akan diselesaikan . Salah satu ciri-ciri siswa yang mempunyai kemampuan berpikir kritis dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam menanya dan menjawab didalam kelas terkait dengan materi yang disampaikan oleh guru selain itu kemampuan berpikir kritis siswa juga dapat diamati dari aktivitas siswa dalam menyelesaikan masalah. Vol. No. 2, pp. Agustus Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA Negeri 9 Palu, dalam proses pembelajaran fisika hanya terdapat dua sampai tiga orang siswa yang aktif bertanya dan menjawab didalam siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru masih kurang terlihat dari cara sisiwa menyelesaikan soal. Disisi lain hasil evaluasi siswa dalam memecahkan masalah fisika juga masih rendah. Kondisis ini mempelihatkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah siswa masih tergolong Adapun penelitian yang dilakukan oleh Sujanem . menunjukan bahwa profil keterampilan berpikir kritis dan kemmpuan pemecahan masalah fisika siswa SMA termasuk dalam kategori kurang. Penelitian yang telah dilakukan oleh Arini dan Juliadi . dan Setianingrum, dkk. juga meunjukkan siswa mempunyai kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah yang masih rendah. Hal ini tidak dapat dibiarkan atau menjadi perhatian khusus, karena dapat mengakibatkan rendahnya pencapaian hasil belajar, mengingat kemampuan ini merupakan pendorong yang memadai dalam meningkatkan kompetesi siswa khususnya materi fisika. Melihat kondisi tersebut mendorong asumsi pemecahan masalah dengan kemampuan berfikir kritis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan beberapa peneliti terdahulu penelitian tetang kemampuan pemecahan masalah telah banyak dilakukan khususnya pada mata pelajaran fisika, tetapi sebagian besarnya meneliti metode maupun media pembelajaran serta sebatas untuk mengetahui profil kemampuan Sehingga peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Kemampuan Berpikir Kritis terhadap Kemampuan Pemecahan MasalahAy yang bertujuan untuk mengeetahui hubungan antara kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah. METODOLOGI PENELITIAN Jenis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data kualitatif sebagai data pendukung dalam Adapun data hasil penelitian dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif yang Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Palu pada semester ganjil tahun ajaran 2021/2022 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online mulai dari tanggal 16 september 2021 samapi tanggal 20 september 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluru siswa kelas XI MIA yang terdiri dari 3 Kelas yaitu XI MIA 1. XI MIA 2 dan XI MIA 3. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 1 yang berjumlah 26 Teknik penelitian ini dilakukan dengan memberikan tes kepada siswa terkait kemampuan berpikir kritis Penelitian ini menggunakan dua Instrument tes terdiri dari tes kemampuan berpikir kritis dan tes kemampuan pemecahan masalah yang telah di uji coba dan dianalisis kevalidan dan reabilitasnya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi dan koefisien determinasi. Analisis korelasi yang digunakan yaitu korelasi pearson product Berikut merupakan rumus korelasi pearson product moment . Oc ycuyc ycycuyc = Oo(Oc ycu 2 )(Oc yc2 ) Vol. No. 2, pp. Agustus Berdasarkan Tabel 1, siswa memiliki tingkat kemampuan berpikir kritis sangat tinggi berjumlah 7,7%, siswa yang memiliki tingkat kemampuan berpikir krtis tinggi berjumlah 19,2%, siswa dengan tingkat kemampuan berpikir krtis sedang berjumlah 57,7%, siswa dengan tingkat kemampuan berpikir krtis rendah benjumlah 7,7% dan siswa dengan tingkat kemampuan berpikir kritis yang renda berjumlah 7,7%. Tabel 2 Deskripsi Tiap Indikator kemampuan Berpikir Kritis Skor Indikator Presentase Kategori Memberikan Penjelasan 31,4% Rendah Sederhana Membangun Keterampilan 21,7% Rendah Dasar Menyimpulkan 23,1% Rendah Menyusun Strattegi dan Taktik 23,7% Rendah Total KBK 53,4% Sedang Berdsarkan Tabel berpikir kritis siswa pada indikator memberikan penjelasan sederhana sebesar 31,4%, pada indikator membangun keterampilan dasar sebesar 21,7%, pada indikator menyimpulkan sebesar 23,1% dan pada indikator menyusun strategi dan takti sebesar 23,7%. Semua hasil perolehan presentase tiap indikator berada pada kategori rendah sedangakan secara umum hasil presntase kemampuan berpikir kritis berada pada kategori sedang. Sedangkan koefisien korelasi dan dikali 100%. Dalam penelitian ini proses analisis data menggunakan bantuan Program aplikasi SPSS. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis dan hasil tes kemampuan pemecahan masasalah deskripsi kategori kemampuan berpikir kritis dan setiap indikatornya serta kemampuan pemecahan masalah fisika siswa dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 3 Deskripsi Kategori Kemampuan Pemecahan Masalah Tabel 1 Deskripsi Kategori Kemampuan Berpikir Kritis Kategori Frekuensi Persentase Sangat Tinggi Kategori Frekuensi Persentase Tinggi 19,2% Sangat Tinggi 7,7% Sedang 53,8% Tinggi 19,2% Rendah 19,2% Sedang 57,7% Sangat Rendah 7,7% Rendah 7,7% Jumlah Sangat Rendah 7,7% Nilai Rata-rata Jumlah Nilai Rata-rata 46,13 Berdasarkan Tabel 2 tidak terdapat siswa yang memiliki tingkat kemampuan pemecahan masalah pada kategori sangat tinggi, siswa 53,44 Vol. No. 2, pp. Agustus Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online memiliki kemampuan pemecahan masalah pada kategori tinggi berjumlah 19,2%, siswa dengan tingkat kemampuan pemecahan masalah pada kategori sedang berjumlah 53,8%, dan siswa dengan katekori rendah berjumlah 19,2% dan siswa dengan kategori sangat renda berjumlah 7,7%. Secara umum hasil analisis korelasi antara kemampuan pemecahan masalah dapat dilihat pada Tabel 3. KBK Indikator KBK Indikator Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat koefisien korelasi kemampuan berpikir kritis terhadap indikator ke-1 sebesar 0,496, indikator ke-2 sebesar 0,622, indikator ke-3 sebesar 0,397, dan inidikator ke-4 sebesar 0,139. Dari nilai koefisien korelasi setiap indikator diperoleh koefisien determinasi pada indikator ke-1 sebesar 24,63%, indikator ke-2 sebesar 38,66%, indikator ke-3 sebesar 15,76% dan indikator ke-4 sebesar 1,94%. Perbandingan berpikir kritis pada kemampuan pemecahan masalah secara umum dalam nilai korelasi tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut. Correlations Kemampu Berpikir Kritis Pearson Correlation Sig. -taile. Tabel 3 Hasil Analisis Korelasi Kemamp Berpikir Kritis Pearson Correlation Sig. -taile. Kemamp Pemecah Masalah Pearson Correlat Sig. Kemampu Pearson Correlat Pemecaha n Masalah Sig. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . Berdasrkan Tabel 3 dapat dilihat nilai koefisien korelasi antara kemmpuan berpikir masalah sebesar 0,532 berada pada kategori Dari nilai koefisien korelasi diperoleh koefisien determinasi sebesar 28,26%. Hasil analisis korelasi antara indikator kemampuan bepikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah dapat dilihat pada Tabel 4 Gambar 1 Garafik Hubungan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Berdasarkan gambar 1 korelasi keempat indikator kemampuan berpikir kritis terhadap mempunyai hubungan dan pengaruh paling masalah adalah indikator ke-2 membangun ketermpilan dasar. Sedangkan yang paling rendah adalah indikator ke-4 menyusun srategi dan taktik. Tabel 4 Hasil Analisis Korelasi antara Indikator Kemampuan Berpikir Kritis terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Kemampuan Pemecahan Masalah Pembahasan KBK Indikator Pearson Correlation Sig. -taile. KBK Indikator Pearson Correlation Sig. -taile. Berdasarkan hasil penelitian kemampuan pemecahan masalah fisika siswa yang paling mendominasi berada pada kategori Hasil analisis korelasi dalam penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online kemampuan pemecahan masalah fisika siswa. Secara umum dalam pnelitian ini korelasi antara kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah fisika siswa berada pada kategori sedang dengan koefisien detminasi sebesar 28,26% yang menunjukan kontribusi terhadap kemampuan pemecahan masalah sebesar 28,26% sedangkan 71,74% sisanya diengaruhi faktor lain. Adapun faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa dapat berasal dari siswa itu sendiri maupun dari luar, seperti minat siswa terhadap pelajaran, pengetahuan dan pengalaman awal siswa, sumber belajar dan guru fisika . Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemampuan pemecahan masalah fisika siswa berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah fisika siswa. Sehingga kemampuan pemecahan masalah fisika siswa akan menurun jika kemampuan berpikir Kritis yang dimiliki Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah memiliki hubungan yang erat dan saling bekaitan yang mana tingkat kemampuan berpikir kritis seseorang mendukung kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulianto, dkk. yang menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis dengan kemampuan pemecahan masalah yang mana menurun jika siswa tidak memiliki kemampuan berpikir kritis. Selain itu dalam penelitian yang dilakukan oleh Susilowati, dkk. mengatakan terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara kemampuan pemecahan masalah terhadap kemampuan berpikir kritis yang mana semakin tinggi kemampuan pemecahan masalah maka kemampuan berpikir kritis yang dimiliki semakin baik begitupun sebaliknya semakin rendah kemampuan pemecahan masalah, maka kemampuan berpikir kritis yang dimiliki kurang Penelitian lain yang dilakukan oleh Kusmanto . juga menyatakan bahwa berpikir kemampuan memecahkan masalah. Hal lain yang dapat dijelaskan berdasarkan temuan peneliti yaitu mengenai perolehan persentase terkait dengan kemampuan berpikir kritis tiap indikator yang telah dipaparkan pada Vol. No. 2, pp. Agustus bagian hasil memperlihatkan indikator 2 yakni Membangun Keterampilan Dasar memiliki skor 302 atau sebesar 21,7% yang merupakan tinggkatan terendah berdasarkan hasil dari indikator lain. Sedangkan hubungan dengan kemampuan pemecahan masalah berdasarkan korelasi pada indikator tersebut menjelaskan hubungan yang kuat. Berdasarkan perolehan ini dapat digambarkan kondisi siswa meski dalam kondisi yang rendah dalam membangun keterampilan dasar pada kemampuan berpikir kritisnya namun dapat memberikan kontribusi yang banyak dalam kemampuan pemecahan Pentingya indikator ini menjadi aspek yang harus diperhatiakan oleh guru dalam menstimulus siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Dalam perolehan hasil determinasi indikator ini 38,68% sebagai faktor eksternal, sedangkan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah. Penjelasan mengenai indikator ke-4 dengan korelasi terendah tersebut juga tidak luput dari perhatian khusus terkait dengan hasil persentase indikator ini secara deskriptif. Berdasarkan perolehannya indikator terkait dengan Menyusun Strattegi dan Taktik ini memperoleh skor 330 atau sebesar 23,7%. Perolehan ini merupakan tingkatan kedua tertinggi dari empat klasifikasi yang diperoleh, meski secara kategori masih rendah. Hubungan yang rendah dengan kemampuan pemecahan masalah memperlihatkan gambaran siswa yang dapat merencanakan strategi dan taktik namun justru rendah dalam memberikan kontribusi pada proses pemecahan masalah. Dalam proses pembelajaran penerapan indikator ini dapat dikatakan sejalan dengan tahapan pemecahan masalah, namun pada faktanya korelasi menjelaskan hubungan yang rendah. Dalam hasil determinasi diperoleh kontribusi sebesar 1,93%. Pembahasan pertama dalam kemampuan berpikir kritis yakni Memberikan Penjelasan Sederhana berdasarkan pada hasil korelasi berada pada kategori sedang ini, memperoleh skor 436,5 dan hasil persentase 31,4% pada kategori . ertinggi Berdasarkan dijelaskan siswa dalam berpikir kritis lebih mampu dalam tahapan memberikan penjelasan sederhana dan mampu memberikan kontribusi dalam tindakan pemecahan masalah pada saat Dalam sebesar 24,6%. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Indikator terkahir yang dapat dijelaskan Indikator ini memiliki hubungan dalam tingkatan yang rendah pada kemampuan Berdasarkan perolehan persentase gambaran kemampuan menyimpulkan memperoleh skor 321 dan 23,1%. Berdasarkan perolehan korelasi dan persentase kemampuan ini dapat dijelaskan siswa yang mampu dalam menyimpulkan tidak memberikan kontribusi yang besar pada Berdasarkan determinasi sebesar 15,76%. Pada dasarnya semua indikator pada kemampuan berpikir kritis saling berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah siswa akan tetapi kemampuan berpikir kritis siswa berbeda-beda dapat kemampuan pemecahan masalahnya. Dalam merencanakan, malaksanakan dan memeriksa memerlukan kemampuan berpikir kritis dimana kemampuan ini membantu siswa dalam menentukan hasil pelenyelesaian berdasarkan pertimbangan dan observasi yang dilakukan dengan menggabungkan beberapa informasi baik yang sudah ada maupun yang baru. Vol. No. 2, pp. Agustus kemampuan pemecahan masalah . =0,. dengan kontribusi sebesar 15,76%. Sedangkan inikator ke-4 mempunyai korelasi yang sangat rendah terhadap kemampuan pemecahan . =0,. sebesar1,94%. Bagi peneliti berikutnya penelitian ini dapat dilanjutkan dengan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuna pemecahan masalah yang lebih kompleks baik mengkaji hubungan setiap indikator maupun faktor yang setiap mempengaruhi kemampuan tersebut. DAFTAR PUSTAKA