Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X Perbandingan Karakteristik Biodegradable Foam dari Pati Ubi Jalar dan Pati Kentang dengan Penambahan Serat Selulosa Comparison of Biodegradable Foam Characteristics of Sweet Potato Starch and Potato Starch with the Addition of Cellulose Fiber Hana Isabella1*,Nanik Hendrawati1* Program Studi Teknik Kimia. Politeknik Negeri Malang. Jl. Soekarno Hatta No. Malang. Indonesia Corresponding Author. Email: hanaisabella84@gmail. hendrawati@polinema. Received: 5th July 2022. Revised: 18th July 2022. Accepted: 19th July 2022 Abstract Biodegradable foam is an alternative to styrofoam which is made from starch raw materials that can be degraded by However, the starch-based biodegradable foam has weaknesses in water absorption and tends to be fragile so special applications are needed to able to increase strength, elasticity, and resistance to water. Therefore, the filler is added in the form of cellulose fibers derived from banana stems which have a large cellulose content and little lignin, to increase cellulose content, the cellulose isolation stage is carried out. This study aims to determine the effect of adding cellulose fibers to biodegradable foam made of two different types of starch on the characteristics of biodegradable foam. The manufacture of biodegradable foam is carried out by the baking process method and uses two different types of starch as the main ingredients, namely sweet potato starch and potato starch. The added cellulose fibers varied from 1%, 3%, 5%, 7%, and 9% w/w by weight of starch. The results of testing biodegradable foam from two different types of starch show that the absorption capacity using potato starch with variable cellulose is 9% lower than foam with sweet potato raw materials. The biofoam that has the greatest biodegradability value is the sweet potato starch biofoam at a variable of 9% cellulose fiber. Biodegradable foam made from sweet potatoes with a cellulose variable of 9% has the highest tensile strength value of 11,221 MPa. Keywords: biodegradable foam, cellulose fibers, potato starch, sweet potato starch Abstrak Biodegradable foam merupakan alternatif pengganti styrofoam yang terbuat dari bahan baku pati yang mampu terdegradasi oleh alam. Namun, biodegradable foam berbasis pati memiliki kelemahan terhadap penyerapan air dan cenderung rapuh sehingga dibutuhkan pengaplikasian khusus agar mampu meningkatkan kekuatan, elastisitas dan ketahanan terhadap air. Oleh karena itu, dilakukan penambahan filler berupa serat selulosa yang berasal dari batang pisang yang memiliki kandungan selulosa yang besar dan lignin yang sedikit, untuk meningkatkan kandungan selulosa dilakukan tahap isolasi selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat selulosa pada biodegradable foam yang terbuat dari kedua jenis pati yang berbeda terhadap karakteristik biodegradable foam. Pembuatan biodegradable foam dilakukan dengan metode baking process dan menggunakan dua jenis pati yang berbeda sebagai bahan utamanya yaitu pati ubi jalar dan pati kentang. Serat selulosa yang ditambahkan divariasikan dari 1%, 3%, 5%, 7% dan 9% w/w berat pati. Hasil pengujian biodegradable foam dari kedua jenis pati yang berbeda menunjukkan bahwa daya serap menggunakan pati kentang dengan variable selulosa 9% lebih rendah daripada foam dengan bahan baku ubi jalar. Biofoam yang memiliki nilai biodegradability terbesar adalah biofoam pati ubi jalar pada variable 9% serat selulosa. Biodegradable foam berbahan baku ubi jalar dengan variable selulosa 9% memiliki nilai kuat tarik yang paling tinggi yaitu sebesar 11,221 MPa Kata kunci: biodegradable foam, pati kentang, pati ubi jalar, serat selulosa Copyright A 2022 by Authors. Published by JITK. This is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. How to cite: Isabella. Comparison of Biodegradable Foam Characteristics of Sweet Potato Starch and Potato Starch with the Addition of Cellulose Fiber. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia, 6. , 104-111. Permalink/DOI: 10. 32493/jitk. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia Juli 2022, 6 . Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X sebesar 78,96% (K. E Maulida, 2. Namun, kemasan berbasis pati memiliki kelemahan antara lain ketahanan terhadap air dan sifat mekanik, sehingga perlu dilakukan penambahan filler antara lain serat selulosa yang memiliki sifat tidak larut dalam air, mudah terdegradasi, dan mampu membentuk serat yang kuat. Penelitian kemudian dikembangkan oleh (Sumardiono et al. , 2. menggunakan tambahan selulosa dari serat jagung pada pati singkong menghasilkan biodegradable foam dengan ketahanan air sebesar 25,45%. Serat selulosa merupakan polimer glukosa berbentuk rantai linier, serat selulosa dapat mempengaruhi sifat mekanik biodegradable foam dalam mengurangi daya serap air dan meningkatkan kinerja proses terdegradasi biodegradable foam (Wang. Selulosa yang digunakan adalah selulosa murni hasil dari proses isolasi selulosa. Isolasi selulosa ialah proses yang digunakan untuk menurunkan kadar lignin dan hemiselulosa sehingga menghasilkan selulosa murni. Melalui 3 tahapan proses yaitu pretreatment kimia, delignifikasi dan bleaching. Pretreatment kimia bertujuan untuk meregangkan dan merusak struktur ikatan lignoselulosa agar lignin pada bagian kristalin dan sebagian hemiselulosa mudah larut pada tahap berikutnya (Sun & Cheng, 2. Delignifikasi merupakan proses penguraian ikatan lignin sehingga menurunkan kandungan lignin. Selanjutnya, bleaching atau disebut proses pemutihan adalah proses menghilangkan lignin yang tersisa dengan memutuskan rantai-rantai pendek lignin dan melarutkan hemiselulosa (Lismeri, 2. Salah satu bahan yang mampu menghasilkan nilai selulosa tinggi dengan lignin yang rendah yaitu batang pisang. Batang pisang mengandung serat selulosa 60-65%, hemiselulosa 6-8% dan lignin 5-10%. Kandungan selulosa yang tinggi pada batang pisang dapat digunakan sebagai bahan penguat dalam pembuatan biofoam. Pada penelitian ini dipelajari mengenai pengaruh penambahan serat selulosa murni dan jenis pati terhadap karakteristik biodegradable Jenis pati yang digunakan yaitu pati ubi jalar dan ubi kentang dengan variasi konsentrasi serat selulosa dari batang pisang. PENDAHULUAN Kemasan yang umum digunakan masyarakat saat ini adalah styrofoam, karena bersifat ringan, tahan panas, tahan air, dan Namun, styrofoam merupakan plastik yang tidak dapat terurai dan di daur ulang sehingga menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Syrofoam diperingkatkan oleh EPA (Environmental Protection Agenc. sebagai penghasil limbah berbahaya terbesar kelima di dunia (Hendrawati, 2. Tentunya seiring dengan perkembangan zaman dan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan kemasan semakin meningkat, sehingga syarat kemasan tidak hanya ekonomis dan praktis, tetapi juga ramah lingkungan (Wang, 2. Salah satu alternatif pengganti styrofoam adalah membuat Biodegradable foam (BioFoa. Biodegradable foam terbuat dari bahan baku alami yang mudah terurai secara alami, yaitu pati. Pati merupakan karbohidrat berbentuk polimer glukosa dan terdiri dari amilosa dan amilopektin, biasanya ditemukan pada biji-bijian, umbi-umbian, sayuran maupun buah. Salah satu inovasi pembuatan Biodegradable dikembangkan oleh (Cruz-Tirado et al. , 2. dengan menggunakan berbagai jenis pati diantaranya pati ubi jalar, oca dan arracacha. Water absorption terbesar ada pada pati arracacha 99,72% dan paling kecil pada pati ubi jalar sebesar 55,41%. Penelitian lainnya oleh (Oetary et al. , 2. , dengan menghasilkan water absorption sebesar 53,77%. Nilai water absorption yang tinggi dikerenakan struktur yang lebih berpori dan nilai kerapatan rendah sehingga air dapat Pada kedua penelitian ini dapat disimpulkan pati yang memiliki kandungan amiloptektin yang tinggi dapat meningkatkan sifat mekanik biodegradable foam. Contoh lain dari jenis pati yang mempunyai nilai amilopektin dan amilosa yang tinggi yaitu pati ubi jalar dan kentang. ubi jalar mengandung amilosa sebesar 19,76% dan amilopektin sebesar 75,12% (Nur Richana, 2. , sedangkan pati kentang mengandung amilosa sebesar 21,04% dan amilopektin Jurnal Ilmiah Teknik Kimia Juli 2022, 6 . Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X Pada penelitian ini menggunakan konsentrasi selulosa yang berbeda untuk mengetahui konsentrasi yang tepat untuk mendapatkan biodegradable foam yang memiliki sifat mekanik yang baik dengan jenis pati yang larutan basa dan dicuci hingga bersih, lalu masukkan ke oven pada suhu 100oC. Tahap Bleaching . menggunakan H2O2 2% dengan rasio berat bahan dan volume larutan 1:15 selama 2 jam pada suhu 60oC. Lalu larutan dipisahkan dan dicuci kembali, selulosa basah selanjutnya dikeringkan pada suhu 100oC. Lalu tahap terakhir adalah pengayakan selulosa hingga 100 BAHAN DAN METODE Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian pada proses pemurnian selulosa yaitu, batang pisang . , larutan NaOH 1M (Merc. , larutan Na2SO3 20% (Merc. , dan larutan H2O2 (Merc. Pada pembuatan biodegradable foam yaitu, pati kentang . , pati ubi jalar . , larutan asam asetat, (Merc. aquades, isolat protein murni . , gliserol (Merc. , magnesium stearate (Merc. ,karagenan . PVOH (Merc. , dan kitosan . Metode yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi sesuai penelitianpenelitian sebelumnya. Penelitian ini digambarkan dua tahap yaitu proses isolasi selulosa dan pembuatan biodegradable foam baking process. Terdapat langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini Pembuatan Biodegradable Foam Pembuatan Biodegradable foam ini mengacu pada penelitian (Hendrawati et al. Pati ubi jalar dan pati kentang di oven untuk menghilangkan kadar airnya dan simpan di dalam desikator. Masukkan Isolat protein murni 29% w/w pati, dengan penambahan aquades 40 ml. Lalu di wadah berbeda, kitosan 30% w/w pati dilarutkan kedalam larutan asam asetat pekat sebanyak 10 ml dan tambahkan 40 ml air kemudian diaduk dengan pemanasan 5 menit menggunakan pengadukan lambat Kemudian ditambahkan ke dalam adonan protein dan air yang telah mengembang, diikuti dengan penambahan zat aditif lainnya seperti magnesium stearat 2,08% w/w pati, gliserol 29% w/w pati, karagenan 16,67% w/w pati, dan polivinil alkohol (PVOH) 40% w/w pati. NaHCO3 12% w/w pati dan serat selulosa . %, 3%, 5%, 7% dan 9% w/ pat. Adonan lalu pengadukan cepat hingga mengembang dan terbentuknya foam. Selanjutnya, masukan pati sebanyak 36 gram ke dalam adonan secara perlahan dan lakukan pengadukan lambat selama 20 menit. Setelah adonan homogen tuangkan ke loyang dan masukkan ke oven dengan suhu 125oC selama 1 jam. Setelah itu, produk biodegradable foam didinginkan pada suhu ruang selama 2-3 hari. Selanjutnya sampel dilakukan uji biodegradability, uji kuat tarik, dan uji water absorption. Pemurnian Selulosa (Pretreatment Kimi. Pada pemurnian selulosa terdapat 3 tahap pengerjaan yang mengacu pada percobaan (Lismeri, 2. serat selulosa dari batang pisang. Batang pisang dipotong menjadi ukuran 2 cm dan keringkan di dalam oven. Setelah keluar oven batang pisang dihaluskan sampai menyerupai Setelah itu masuk ke tahapan pemurnian selulosa, tahap pertama yaitu Pretreatment alkali dengan refluk, 30gr bubuk batang pisang dilarutkan dengan NaOH 1M rasio bahan baku dan pelarut 1:10 dengan disertai pemanasan 80oC selama 4 Sampel kemudian disaring, dicuci dengan aquades sampai mendapatkan pH netral dan dikeringkan dengan oven pada suhu 100oC. Tahap kedua yaitu proses Delignifikasi menggunakan Na2SO3 20% dengan rasio berat bahan dan volume larutan 1:10 selama 2 jam pada suhu 105oC. Lalu selulosa yang didapatkan dipisahkan dari Jurnal Ilmiah Teknik Kimia Uji Penyerapan Air (Water Absorptio. Analisa daya serap air mengikuti acuan Standard ABNT NBR NM ISO 535 . dan SNI 1969:2008 dengan prosedur (Hendrawati et al. , 2. , dengan cara memotong sampel Juli 2022, 6 . Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X biodegradable foam berukuran 2,5 x 5 cm. Sampel dioven selama 5 menit pada suhu 4050oC untuk menghilangkan kandungan air pada sampel. Sampel biodegradable foam kemudian diletakkan pada desikator selama 5 menit lalu ditimbang berat awalnya. Setelah itu Biodegradable foam dicelupkan ke dalam air selama 1 menit dan keringkan dengan tisu agar menghilangkan sisa air yang ada dipermukaan sampel. Sampel kemudian ditimbang kembali berat akhirnya dan dilakukan perhitungan selisih berat sampel awal dan akhir sehingga didapatkan % water Persamaan absorption sebagai berikut: % ycOycaycyceyc yaycaycycuycycyycycnycuycu = . cO1 Oe ycO. ycO0 yang berisi tanah dengan ketinggian 20 cm selama 14 hari. Setelah 14 hari sampel kemudian di ambil dan dibersihkan dari tanah, selanjutnya adalah timbang berat akhir sampel. Untuk mengetahui persen kehilangan berat dapat menggunakan rumus: %yaAycnycuyccyceyciycycayccycaycaycnycoycnycyc = . Keterangan: W0 = Berat Awal W1 = Berat Akhir HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Penyerapan Air Water absorption atau biasa disebut dengan penyerapan air berfungsi sebagai alat penghitung sejauh mana biodegradable foam dapat melakukan penyerapan air pada kurun waktu tertentu, yang mana waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu Perendaman pada sampel biofoam akan menyebabkan terjadinya difusi air. Jika jumlah air yang diserap oleh biofoam terlalu besar, maka akan terjadi kerusakan struktur bahan . Keterangan: W0 = Berat Awal W1 = Berat Akhir Water Absorption (%) Uji Kuat Tarik Analisa uji kuat tarik mengikuti acuan Standard ASTM D-638 . Pada uji kuat tarik untuk produk Biodegradable foam menggunakan alat kuat tarik MCT2150 pada Laboratorium Teknik Kimia. Pertama, sampel biodegradable foam dipotong sesuai Tekan tombol on pada alat dan buka aplikasi MSATL-Lite pada komputer. Pada uji tarik pilih test standard Tensile, lalu menentukan test speed dan mengisi kolom sample info and size sesua sampel uji tarik. Sampel kemudian dijepitkan pada kepala uji penarik bawah dan klik return yang berfungsi sebagai penyesuaian kepala uji penarik atas. Klik start sampai sampel terputus, setelah putus klik stop dan pada komputer data tersebut akan otomatis terbaca dan tersimpan dalam satuan MPa. Pati Kentang Pati Ubi Jalar Selulosa Gambar 1. Pengaruh Water Absorption terhadap Konsentrasi Selulosa pada Biofoam Pati Ubi Jalar dan Pati Kentang biofoam dari dalam dan penurunan kualitas biodegradable foam. Pada Gambar 1 hasil penelitian bahwa nilai water absorption menurun seiring meningkatnya konsentrasi selulosa serat batang Hal ini disebabkan karena serat batang pisang hasil pemurnian memiliki kandungan selulosa yang tinggi, nilai lignin dan hemiselulosa yang rendah. Lignin dan hemiselulosa merupakan senyawa yang suka air Uji Biodegradability Uji Biodegradability yang dilakukan mengikuti penelitian (Hendrawati, dkk 2. , yaitu memotong sampel menjadi ukuran 2,5 x 5 cm, lalu sampel dimasukkan ke dalam desikator dan ditimbang sebagai berat awal. Lalu, sampel dimasukkan ke dalam kotak Jurnal Ilmiah Teknik Kimia . cO0 Oe ycO. ycO0 Juli 2022, 6 . Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X . , berbanding terbalik dengan selulosa yang memiliki sifat tidak suka dengan air . Semakin tinggi konsentrasi selulosa pada biodegradable foam maka akan membuat rongga-rongga pada biodegradable foam semakin mengecil dan air akan sukar masuk (Iriani et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Ritonga, 2. bahwa penambahan selulosa mampu mengurangi nilai water absorption pada biofoam karena serat selulosa tersusun atas gugus karbonil aromatic (C = C) yang mempunyai sifat tahan air . yang membuat struktur biofoam menghasilkan nilai water absorption rendah. Nilai biodegradable foam juga dipengaruhi oleh kandungan pati. Pada biodegradable foam dari pati ubi jalar dan ubi kentang memiliki nilai water absorption yang hampir sama, dikarenakan memiliki nilai amilopektin yang tidak jauh berbeda. Nilai amilopektin pada pati kentang sebesar 78,96% dan pada pati ubi jalar sebesar 75,12%. Menurut Winarno . , kandungan amilosa dan amilopektin pada pati, mempengaruhi penyerapan air pada Amilosa merupakan fraksi terlarut dan amilopektin merupakan senyawa tidak Kelarutan amilopektin dapat dilihat dari kepolaran zat dimana air adalah senyawa polar, sedangkan amilopektin adalah senyawa non-polar, sehingga kedua zat tersebut tidak dapat saling melarutkan lainnya. Sehingga, menghasilkan daya serap yang rendah. Pada penelitian ini hasil yang didapatkan sesuai pada SNI biodegradable foam dengan nilai dibawah 26,12%. Pada biofoam hasil terbaik dari pati kentang dengan selulosa 9% memiliki water absorption terkecil yaitu 2,04% dan biofoam dari pati ubi jalar dengan konsentrasi yang sama sebesar 2,22%. Uji Tarik (MP. Pati Ubi Jalar Selulosa Gambar 2. Pengaruh Kuat Tarik terhadap Konsentrasi Selulosa pada Biofoam Pati Ubi Jalar dan Pati Kentang bahwa biofoam tersebut kurang kuat dan mudah Pada Gambar 2 hasil penelitian ini menunjukkan penambahan konsentrasi selulosa mampu meningkatkan kuat tarik pada biodegradable foam dari kedua pati yang berbeda dengan nilai kuat tarik tertinggi ada pada penambahan konsentrasi selulosa 9%. Hal ini disebabkan karena hasil serat selulosa batang pisang yang sudah dimurnikan menyebabkan nilai lignin dan hamiselulosa yang rendah, namun nilai selulosa yang tinggi. Nilai lignin yang tinggi mampu menyebabkan sampel lebih mudah putus, sama halnya jika suatu serat lebih banyak hemiselulosa maka tidak mampu membentuk dinding sel sehingga tidak memiliki nilai kuat tarik sama sekali (Bachtiar et al. , 2. Sehingga kandungan yang mampu meningkatkan kuat tarik yang optimal, dengan nilai selulosa yang lebih tinggi daripada lignin dan hemiselulosa. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Harefa et al. , 2. , dengan menggunakan serat batang pisang yang sudah dimurnikan menghasilkan selulosa murni dengan lignin dan hemiselulosa yang kecil. Penambahan konsentrasi serat meningkatkan nilai kuat tarik, karakteristik kekuatan tarik yang tinggi, selulosa terbentuk dari struktur kristalin dan amorf serta pembentukan mikro fibril dan fibril yang strukturnya berserat dan ikatan hidrogen yang kuat (Suprayogi et al. , 2. Pada penelitian ini nilai kuat tarik biodegradable foam dengan jenis pati yang berbeda hampir sama dikarenakan nilai amilosa yang tidak jauh berbeda yaitu pada pati kentang sebesar 21,04% dan pati ubi jalar sebesar Uji Kuat Tarik Pada uji kuat tarik bertujuan untuk menentukan kekuatan tarik biofoam yang Kuat tarik merupakan gaya tarik maksimum yang dapat ditahan sampai putus, kuat tarik yang terlalu kecil menandakan Jurnal Ilmiah Teknik Kimia Pati Kentang Juli 2022, 6 . Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X 19,76%. Menurut hasil penelitian (Nisah, 2. menunjukkan bahwa kandungan amilosa berpengaruh terhadap kuat tarik dan pemanjangan pada biodegradable foam, semakin besar kadar amilosa maka nilai kuat tarik semakin tinggi. Nilai kuat tarik pada biofoam dari pati kentang sebesar 11,062 MPa dan biofoam dari pati ubi jalar sebesar 11,211 MPa. Menurut SNI kuat tarik biodegradable foam yaitu 29,16 MPa hasil penelitian belum mencapai nilai SNI. molekul air di lingkungan sekitarnya dan mempercepat proses dekomposisi. Urutan dekomposisi yang paling cepat ialah gula, pati, hemiselulosa, selulosa, lemak dan lignin (Iskandar, 2. Hasil penelitian ini mendapatkan hasil terbaik biodegradable foam dari jenis pati yang berbeda pada 9% konsentrasi selulosa. Nilai amilopektin jenis pati. Menurut hasil penelitian (Hendrawati et al. , 2. , biodegradable foam yang memiliki amilopektin lebih rendah akan mudah terurai. Amilopektin merupakan senyawa yang sukar larut di dalam air sehingga akan kurang menyerap air dan daya urai terhadap mikroorganisme tanah pun rendah. Sedangkan sebaliknya pada pati dengan amilopektin rendah akan mudah terurai karena kemampuan mudah menyerap air dan mempengaruhi daya urai biofoam karena air mampu membantu penguraian dengan mikroorganisme di tanah. Nilai amilopektin pati ubi jalar lebih rendah daripada pati kentang sehingga nilai biodegradability pati ubi jalar sebesar 23,91% dan pada pati kentang sebesar 21,42%. Berdasarkan data standar internasional ASTM 5336 menunjukkan lama waktu yang dibutuhkan styrofoam terdegradasi sempurna yaitu 60 hari. Pada penelitian biodegradable foam dari pati ubi jalar dan pati kentang dengan penambahan selulosa selama 14 hari yang mendekati standar adalah biofoam dari pati ubi jalar dengan penambahan konsentrasi selulosa sebesar 9%. Uji Biodegradability Uji biodegradability atau pengujian menentukan tingkat biodegradasi sejauh mana biodegradable foam dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di dalam Pada penelitian ini, biofoam diendapkan biofoam ke dalam tanah dalam jangka waktu 14 hari. Dan hasilnya, terlihat pada Gambar 3, terjadi peningkatan nilai biodegradability yang signifikan bersamaan dengan meningkatnya konsentrasi pada serat Biodegradability (%) 25,00 Pati Kentang 20,00 Pati Ubi Jalar 15,00 10,00 5,00 0,00 Selulosa Gambar 3. Pengaruh Biodegradability terhadap Konsentrasi Selulosa pada Biofoam Pati Ubi Jalar dan Pati Kentang Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Ritonga, 2. dan (Sipatuhar, 2. , serat selulosa yang ditambahkan sebagai filler atau bahan pengisi dapat memengaruhi besaran persentase biofoam yang rusak di dalam tanah. Hal ini disebabkan karena selulosa itu sendiri memiliki peran sebagai biofiller, alat yang dapat memudahkan biofoam untuk terurai di dalam tanah. Selulosa merupakan senyawa organik dengan ikatan gugus fungsi C = C aromatic dan C=O karbonil hidrofilik yang dapat mengikat Jurnal Ilmiah Teknik Kimia KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian bahwa, biodegradable foam dengan pati ubi jalar memiliki water absorption lebih tinggi dari biodegradable foam pati kentang, namun mudah terdegradasi mikroorganisme Pada biodegradable foam dari pati kentang menghasilkan nilai water absorption biodegradability lebih kecil daripada biofoam pati ubi jalar. Nilai kuat tarik hampir sama. Juli 2022, 6 . Jurnal Ilmiah Teknik Kimia. Vol. 6 No. 2 (Juli 2. E-ISSN 2685 Ae 323X karena jenis pati tidak mempengaruhi secara Penambahan biodegradable foam berupa serat selulosa mampu meningkatkan sifat mekanik, sukar menyerap air, mudah terdegradasi dan kuat tarik yang tinggi. Sampel yang menggunakan 9% w/w selulosa memiliki water absorption sebesar 2,04% pada pati kentang dan 2,22% pada pati ubi jalar, hasil sesuai dengan SNI. Nilai kuat tarik tertinggi yaitu pada 9% w/w selulosa, biofoam dengan pati kentang sebesar 11,062 MPa dan pati ubi jalar sebesar 11,211 MPa masih jauh dari SNI. Nilai biodegradability tertinggi yaitu pada 9% w/w selulosa, biofoam dengan pati kentang sebesar 21,42% dan pati ubi jalar sebesar 23,91% menurut SNI biodegradability pada penelitian ini sudah sesuai literatur. UCAPAN TERIMA KASIH