Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Potret Kondisi Sekolah Daerah Terpencil di Dusun Bandealit Desa Andongrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Maria Ulfa Prodi Pendidikan Geografi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Jember E-mail Penulis: ulfa79898@gmail. Submitted: 12-01-2023 | Reviewed: 17-01-2023 | Accepted: 19-01-2023 ABSTRAK Kondisi dari kualitas sumber daya manusia itu sendiri dicetak dari proses pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena kondisi pendidikan di daerah terpencil di Kabupaten Jember yang jauh dari sudut keramaian kota dan pemerintahan. Metode penelitian yang digunakan termasuk jenis penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus dengan mengumpulkan sumber data secara primer maupun sekunder. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi, wawancara, dokumentasi serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya kondisi pendidikan di daerah terpencil Dusun Bandealit memiliki akses pendidikan berupa aksesibilitas jalan yang sulit dilalui, sarana-prasarana pendidikan yang kurang lengkap dan ada juga mengalami kerusakan, serta bantuan pemerintah terkait beasiswa pendidikan tidak merata di wilayah ini. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan bisa segera menuntaskan problematika pendidikan di daerah terpencil ini untuk mengatasi putus sekolah dan memperbaiki mutu pendidikan hingga akhirnya melahirkan generasi muda yang unggul. Kata Kunci: Akses Pendidikan. Daerah Terpencil. Sekolah ABSTRACT The condition of the quality of human resources itself is printed from the educational process. This study aimed to explain the phenomenon of educational conditions in remote areas in Jember Regency which are far from the crowded corners of the city and government. The research method used is a type of qualitative research through a case study approach by collecting primary and secondary data The data collection techniques used through observation, interviews, documentation and literature studies. The results of the study show that the condition of education in remote areas of Bandealit Hamlet has access to education in the form of accessibility which is difficult to pass, educational infrastructure that is incomplete and some are also damaged and government assistance related to educational scholarships is not evenly distributed in this area. Therefore, it is hoped that the government will be able to immediately solve educational problems in this remote area to overcome dropouts and improve the quality of education so that it will eventually give birth to a superior young generation. Keywords: Access to Education. Remote Areas. Schools PENDAHULUAN Program yang pemerintah prioritaskan sampai sejauh ini adalah pembangunan pendidikan mulai dari wilayah pinggiran dengan memperkuat suatu wilayah dan desa agar tetap dalam kerangka NKRI. Pendidikan dimaknai sebagai suatu sarana di dalam pengembangan diri, keterampilan seseorang serta pengetahuannya yang akhirnya bisa JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 mencapai target kesejahteraan suatu negara dan bangsa. Pendidikan memiliki peranan amat penting dalam kehidupan manusia yang keberadaannya benar-benar diakui kekuatannya sebagai presentasi bidang serta penunjuk produktivitas sumber daya manusia. Hal demikian ini bisa diperoleh baik melalui pendidikan non formal maupun formal. Lembaga formal merupakan lembaga yang utama dalam mengembangkan pengetahuan peserta didik, melatih keterampilan serta kemampuan masing-masing siswa di bawah naungan pemerintahan. Sedangkan lembaga non formal juga berkaitan erat dengan melatih keterampilan dan pengetahuan siswa yang biasanya dikelola swasta. Pada dasarnya, proses pendidikan di Indonesia hingga kini masih mengalami kesenjangan dari segi kualitas pendidikan di suatu daerah (Fitri, 2. Kesenjangan kualitas pendidikan tersebut tampaknya bisa dilihat dari keberadaan sekolah di daerah pedalaman dan perbatasan negara dengan kondisi akses jalan yang sulit dibandingkan potret sekolah di wilayah kota. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Syafii . yang menjelaskan bahwa pendidikan di Jawa lebih unggul dibanding pendidikan di luar Jawa, penyebabnya adalah akibat fokus pembangunan nasional yang dilakukan pemerintah lebih banyak bertumpu di Jawa dan dipusatkan di ibu kota Jakarta. Adanya kesenjangan pendidikan tentu berpengaruh pada keterlambatan pembangunan infrastruktur serta pemerataan guru, dalam artian tenaga pendidik lebih berpusat di perkotaan daripada di desa. Salah satunya dalam kasus infrastruktur yang buruk di SMA Pulau Barat di Aceh terdapat kejadian kepala sekolah dan banyak tenaga pendidik berkantor di gubug yang tidak memiliki dinding yang tentu saja ini bertolak belakang dengan kondisi di wilayah perkotaan (Primanita et al. , 2. Dengan begitu, tentu pemerataan kualitas pendidikan di daerah 3T sangat Bahkan, keadaan akses pendidikan di Indonesia pun juga belum merata ke seluruh penjuru sudut negeri ini. Berdasarkan hasil olah data Susenas 2017 menyatakan bahwa pendidikan Indonesia masih memiliki disparitas atau ketidakseimbangan antara penduduk yang tinggal berumah tangga dengan status perekonomiannya yang beragam (Jakaria et al. Artinya semakin besar tingkat status ekonomi rumah tangga, maka semakin tinggi pula APK (Angka Partisipasi Kasa. yang ada dan terlihat jelas peningkatan jenjang Umumnya, status ekonomi rumah tangga dengan kategori rendah dapat JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 ditemui di wilayah 3T. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari beragamnya permasalahan yang ada di wilayah 3T seperti minimnya jumlah guru yang tidak merata, sarana prasarana pendidikan yang pasif, aksesibilitas yang sulit, kondisi perekonomian masyarakat yang tergolong terbelakang serta mobilitas sosial masyarakat yang belum mendukung. Keadaan pendidikan di Indonesia umumnya tidak luput dari catatan yang buruk. Berdasarkan pemetaan Kemendikbud pada tahun 2012 dari 40. 000 sekolah yang berdiri di Indonesia terdapat 75% tidak memenuhi standar kelayakan minimal pendidikan. Disamping itu, dari 460. 000 guru memiliki nilai rata-rata 44,5% dalam lingkup segi hasil kompetensi guru yang awalnya diharapkan bisa mencapai 70 (Baswedan, 2. Keadaan di tahun ini memerlukan konfirmasi kembali mengingat proses pembangunan serta pengembangan di bidang pendidikan terus digencarkan. Kabupaten Jember sendiri terutama di daerah pedalaman, masih memiliki ketidakmerataan akses pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan kondisi akses jalan yang sulit dilalui membuat masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke luar daerah menjadi lebih Salah satunya di Dusun Bandealit. Desa Andongrejo. Kecamatan Tempurejo. Kabupaten Jember. Daerah Bandealit sendiri berada dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dengan akses jalan yang kurang baik. Terbukti dengan minimnya transportasi yang keluar masuk area kawasan ini. Dengan demikian, menunjukkan bahwasannya kualitas pemerataan pendidikan juga berkaitan dengan akses jalan serta kemudahan bagi masyarakat untuk melaluinya. Penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama berhubungan terkait fenomena di dunia pendidikan wilayah 3T yang jauh dari keramaian kota, namun penelitian ini hanya difokuskan di wilayah terpencil saja yang masuk dalam kategori wilayah 3T. Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Ristin . di Kecamatan Bondowoso menunjukkan bahwa anak putus sekolah yang tinggi di wilayah ini dipengaruhi oleh jarak lokasi rumahnya menuju ke sekolah, profesi orang tuanya, jumlah tanggungan orang tua, tingkat pendapatan serta latar belakang dari kedua orang tuanya. Namun, dalam penelitian ini yang lebih difokuskan adalah penyebab pada kondisi jalan rusak yang dilewati oleh peserta didik menuju ke SMA serta perekonomian masyarakat setempat. Terdapat beberapa perbedaan yang melandasi penelitian ini yang pertama, penelitian ini fokus kepada pendidikan di daerah 3T di Kabupaten Jember JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 dalam hal ini masih lingkup Pulau Jawa. Sedangkan, penelitian sebelumnya lokasi penelitiannya lebih banyak dilakukan di daerah Papua. Nusa Tenggara, daerah perbatasan serta kepulauan terpencil. Kedua, penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, studi literatur dan dokumentasi. Sedangkan pada penelitian terdahulu, lebih banyak menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi literatur dan studi dokumentasi terhadap dokumen sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan dan mendeskripsikan keadaan pendidikan di daerah terpencil Dusun Bandealit. Desa Andongrejo. Kecamatan Tempurejo. Kabupaten Jember dari segi akses pendidikan, sarana prasarana sekolah serta keterlibatan bantuan pemerintah di wilayah tersebut. Berada di daerah terpencil dengan kondisi akses jalan yang rusak dan tidak mudah dilalui, tentu menjadi problematika tersendiri dalam dunia pendidikan yang jauh dari kota. Pendidikan menjadi faktor krusial yang benar dibutuhkan keberadaanya dalam menghasilkan kualitas SDM yang unggul dan lebih maju, sehingga nantinya menjadi point penting dalam perubahan zaman. Dengan demikian, penulis ingin mengetahui sejauh mana kondisi pendidikan di daerah terpencil yang menjadi hal pokok untuk terus diperbaiki di daerah 3T. METODE PENELITIAN Penelitian ini berlokasi di Dusun Bandealit. Desa Andongrejo. Kecamatan Tempurejo. Kabupaten Jember yang lokasinya di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Jenis penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini yakni kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Penelitian dengan pendekatan studi kasus merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif yang didalamnya seorang peneliti mengeksplorasi secara mendalam pada suatu kondisi, aktivitas serta fenomena dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Sumber data secara langsung diperoleh dari sumber aslinya sesuai dengan kondisi dan fakta yang sebenarnya di lapangan. Sumber data primer ini diperoleh melalui observasi untuk mengetahui kondisi detail fenomena pendidikan di wilayah penelitian. Disamping itu, sumber data sekunder juga dibutuhkan untuk mendukung informasi penelitian ini yang dikumpulkan melalui buku, majalah, jurnal dan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Adapun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur. Metode observasi dalam mengumpulkan data melalui pencatatan dan mengamati secara sistematis yang ada hubungannya dengan fenomena di lokasi penelitian. Observasi ini biasanya dilakukan peneliti sebelum menentukan topik penelitian. Selanjutnya, untuk wawancara dilaksanakan secara langsung pada masyarakat sekitar dengan cara pemilihan responden secara acak. Teknik pengumpulan data secara dokumentasi digunakan sebagai bukti terkait kondisi di lapangan dan untuk studi literatur dengan mengumpulkan data dari berbagai informasi yang ada hubungannya dengan permasalahan yang dikaji untuk menunjang keberlangsungan Langkah selanjutnya setelah data berhasil dikumpulkan, peneliti melaksanakan teknik analisis data agar penelitian tetap berlanjut. Pada teknik analisis data ini, peneliti harus melalui beberapa tahapan analisis antara lain reduksi data, penyajian data serta menarik Tahapan reduksi data dilaksanakan dengan menulis hasil wawancara yang telah dilaksanakan bersama warga serta pengamatan yang menjadi satu kesatuan padu, tujuannya agar memberi kemudahan bagi peneliti di dalam mengolah hasil penelitian. Kemudian, peneliti melaksanakan penyajian data yang merupakan tahapan analisis data dengan menampilkan data yang sesuai kondisi sebenarnya melalui tabel ataupun grafik. Tahapan terakhir dengan menarik kesimpulan guna mengambil poin-poin penting dalam penelitian, sehingga mudah dipahami. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Dusun Bandealit terletak di 8C28Ao06AyLS dan 113C44Ao23AyBT secara geografisnya. Sedangkan, secara administratif Dusun Bandealit berada di Desa Andongrejo. Kecamatan Tempurejo. Kabupaten Jember. Dusun Bandealit ini masuk dalam kawasan taman nasional yang di dalamnya terbagi menjadi dua afdeling yakni Afdeling Kalicawang dan Afdeling Kebun Pantai. Adapun untuk luas Desa Andongrejo mencapai 262,79 km2 dengan ketinggiannya mencapai 140 m. Berikut ini batas-batas wilayah Dusun Bandealit di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sanenrejo, sebelah baratnya berbatasan dengan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pantai Nanggelan, sebelah selatannya berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah timurnya berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi. Wilayah Bandealit ini dikelilingi oleh area hutan dan perkebunan milik Taman Nasional Meru Betiri. Apabila ingin menuju ke daerah ini harus menempuh perjalanan kurang lebih 14 km dari pintu masuk kawasan Meru Betiri dengan akses jalan yang tidak mudah dilewati kendaraan sebab berbatu dan terjal, sehingga tak jarang banyak masyarakat pendatang yang lebih memilih putar balik. Dusun Bandealit ini memiliki jenis tanah berupa entisol, spodosol serta inceptisol sebagai bagian dari jenis tanah vulkanik. Jenis tanah tersebut mempunyai ciri khas tanah subur, sehingga bisa dimanfaatkan untuk Topografi yang bergelombang dan berbukit membuat komoditas utama yang dihasilkan di lokasi ini seperti nangka, pisang, singkong dan sebagainya. Dusun ini berada di ketinggian sekitar 1. 223 mdpl. Perjalanan menuju Dusun Bandealit sendiri bisa ditempuh kurang lebih selama 2 Padahal jaraknya hanya sejauh 14 km, biasanya dalam kondisi normal dengan jarak sedemikian bisa ditempuh selama 20 menit saja. Akibat lamanya perjalanan tentu dipengaruhi oleh keadaan jalan yang dilalui seperti halnya jalanannya sempit, berbatu serta tidak beraspal. Lebar jalan menuju lokasi penelitian ini hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan roda empat saja, sehingga jika berpapasan dengan pengendara mobil lainnya harus berhati-hati. Sebab, pada sisi jalan merupakan area tebing dan sisi lainnya berupa Kondisi jalan yang belum beraspal ini tentu membutuhkan perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan, masyarakat Bandealit sendiri sering mengeluh terkait rusaknya jalan tersebut karena benar-benar berdampak pada segi pendidikan, kesehatan serta sosial-ekonomi masyarakat sekitar. Akses Pendidikan di Lokasi Penelitian Pembangunan wilayah yang berhasil tidak bisa terlepaskan oleh kualitas sumber daya manusianya. Dengan adanya pendidikan menjadi salah satu cara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Oleh karenanya, peningkatan terhadap mutu pendidikan harus terus dilakukan dengan membuka kesempatan kepada masyarakat secara luas agar bisa mengenyam pendidikan dan peningkatan pada kualitas serta kuantitas sarana prasarana sekolah. Melalui persentase JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 penduduk menurut partisipasi sekolah bisa menjadi tolak ukur seberapa banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas sekolah. Tingginya angka partisipasi sekolah di kalangan masyarakat akan menjadikan suatu bangsa lebih maju karena sumber daya Namun, hal tersebut cenderung menjadi persoalan di negeri ini yang hingga kini masih menjadi perhatian publik. Akses pendidikan dimaknai sebagai tingkat kemudahan yang bisa diberikan pada masyarakat agar bisa berkesempatan untuk mengenyam program pendidikan. Akses pendidikan juga diartikan sebagai tingkat mudah atau tidaknya seseorang dalam memperoleh pendidikan saat melewati jalan yang dilewatinya menuju lokasi sekolahnya. Di lokasi penelitian ini untuk sekolah SMA tidak ada. Siswa yang ingin melanjutkan ke SMA harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam untuk sampai di pusat Kecamatan Tempurejo, sehingga dengan begitu siswa bisa sewa kost di dekat area sekolahnya agar tidak terlambat. Di Dusun Bandealit sendiri dengan keterbatasan akses pendidikan untuk menuju ke sekolah SMA dan juga Perguruan Tinggi dikarenakan jaraknya cukup jauh dan sulit dilewati apalagi jika hari mulai petang, sehingga menjadi gelap gulita dikarenakan disini tidak ada penyinaran dari PLN. Apalagi di rumah warganya pun tidak dialiri arus listrik yang bersumber dari PLN, melainkan menggunakan sumber listrik alternatif dari panel surya. Berikut ini ditampilkan tabel terkait jumlah sekolah di Dusun Bandealit beserta tingkatan dan nama sekolahnya. Tabel 1. Jumlah Sekolah di Daerah Terpencil Dusun Bandealit Tingkat Satuan Pendidikan Nama Bagian Jumlah Taman Kanak-Kanak TK Tunas Harapan Sekolah Dasar SDN Andongrejo 3 Sekolah Menengah Pertama SMPN 3 Tempurejo Selain berkaitan dengan jarak, aksesibilitas pendidikan juga berhubungan erat dengan sarana serta prasarana jalan yang dilalui masih berbatu bercampur tanah. Terlebih pada saat musim hujan tiba, kondisi jalan yang dilalui licin. Kondisi demikian membuat anak sekolah menjadi malas dan lebih memilih putus sekolah. Adapun untuk transportasi yang ada di Dusun Bandealit ini juga sangat tidak mendukung, sebab tidak ada transportasi umum yang keluar masuk kawasan ini. Hanya saja setiap minggunya terdapat truk yang masuk dengan membawa sembako milik warga. Masyarakat yang tinggal disini JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 dalam melakukan mobilitas menggunakan motor trail dan motor lainnya yang bukan motor matic, sebab jika menggunakan matic tentu menyebabkan mesinnya cepat rusak. Gambar 1. Potret Kondisi Jalan pada Perjalanan 6 Km Kondisi jalan yang susah ditambah lagi dengan transportasi yang tidak mendukung akhirnya membuat anak-anak enggan melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA, sehingga kebanyakan masyarakat disini menyekolahkan anaknya hingga SMP saja. Menurut hasil wawancara bersama Bapak Lin, ia menuturkan hanya kuat untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMP dikarenakan jika anaknya harus sekolah SMA tentu membutuhkan biaya yang banyak yakni untuk biaya kos, biaya sekolah dan biaya kehidupannya sehari-hari sedangkan gaji yang dihasilkan oleh pekebun hanya sedikit yakni setiap bulannya hanya mendapatkan upah sebesar Rp 500. 000, 00. Di daerah terpencil ini hanya terdapat satu orang yang melanjutkan jenjang pendidikan hingga Perguruan Tinggi yakni anak dari Bapak Kholil selaku kepala dusun, sebab gaji yang diterimanya juga lebih tinggi daripada masyarakat lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor perekonomian masyarakat berpengaruh pada angka putus sekolah. Sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan Masing & Astuti . menjelaskan kesempatan belajar anak di Kampung Mamahak Besar yang mayoritas orang tuanya bekerja di bagian buruh sawit memilih untuk putus sekolah guna membantu orangtua dalam membiayai keperluan keluarganya. Tingginya angka putus sekolah di lokasi penelitian akibat aksesibilitas untuk menuju pendidikan tingkat lanjutan yang jaraknya jauh dan jalan yang dilewati rusak. Anak putus sekolah juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarganya. Bukan hanya itu saja, sistem penerimaan siswa baru yang saat ini menggunakan sistem zonasi juga JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 menghambat anak-anak di Dusun Bandealit bersekolah karena sistem tersebut bergantung pada jarak rumah peserta didik dengan sekolah SMA yang dipilihnya, sehingga kebanyakan mereka tidak diterima apalagi di sekolah SMAN. Hal ini membuat anak-anak di daerah ini yang ingin melanjutkan SMA harus bersekolah di swasta maupun pondok Pendidikan menjadi aktivitas dalam mendongkrak peningkatan kesejahteraan Oleh karena itu, pendidikan ini dipandang sebagai usaha masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Pendidikan juga berperan dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa dan pembangunan nasional (Aini et al. , 2. Begitu juga sebaliknya, di bidang ekonomi menganggap bahwa sumber daya manusia adalah salah satu produksi agar ekonomi unggul dan berhasil. Potret Sarana dan Prasarana Pendidikan di Dusun Bandealit Berbagai jenis alat yang dipakai dalam keberlangsungan proses pendidikan disebut sebagai sarana pendidikan. Sedangkan, prasarana pendidikan adalah alat yang secara tidak langsung dipakai dalam proses keberlangsungan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan memiliki perbedaan pada kegunaan masing-masing. Sarana pendidikan bertujuan untuk memudahkan penyampaian materi atau mempelajari materi, sedangkan prasarana memberi kemudahan dalam penyelenggaraan pendidikan. Adapun contoh dari sarana dan prasarana pendidikan misalnya papan tulis, buku, meja, kursi, gedung sekolah dan sebagainya. Di sekolah lokasi penelitian untuk masing-masing ruangan telah disediakan satu buah papan tulis beserta penghapus dan spidol, meja dan kursi murid dan bangku serta meja guru. Adapun untuk jenjang SMP disini telah tersedia ruang perpustakan, namun untuk ruang laboratorium IPA belum tersedia sehingga tidak ada ruangan yang menyimpan alat praktek IPA untuk didemonstrasikan dan eksperimen bagi peserta didik. Disisi lain, untuk ruangan laboratorium komputer pun juga tidak ada dan bahkan tidak Hal ini juga dikarenakan keterbatasan jaringan internet yang kurang stabil. Selanjutnya, di perpustakaan yang telah tersedia di sekolah Satu Atap antara SD dan SMP ini kondisi perpustakaannya belum menyediakan buku-buku yang kurang lengkap. Perpustakaan merupakan ruangan penting untuk menyimpan dan tempat membaca buku. Apabila buku yang disediakan cukup banyak dan lengkap, maka akan meningkatkan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kecerdasan siswa dan kecintaannya pada NKRI dalam diri peserta didik. Namun, manakala jumlah buku yang disediakan sedikit hal tersebut akan berpengaruh terhadap minat baca siswa yang rendah. Dengan demikian, kegiatan gerakan literasi tidak berjalan sukses dan akan menghasilkan siswa yang pasif jika ketersediaan buku di perpustakaan Selanjutnya, hal yang cukup menyedihkan lagi di sekolah daerah terpencil ini mengenai ketersediaan prasarana laboratorium IPA bagi peserta didik untuk belajar sains tidak ada. Dengan demikian, membuktikan bahwasannya minimnya laboratorium IPA mengindikasikan bahwa dalam kegiatan proses belajar sains berlangsung hanya serta merta dilakukan tidak dengan prakteknya karena dengan ketersediaan laboratorium ini menjadi tempat bagi siswa untuk belajar dan juga melaksanakan ujian praktek. Penelitian terkait minimnya sarana prasarana laboratorium juga terjadi di SMPN 1 Maratua yang sehingga membuat pembelajaran pada mapel fisika menjadi terhambat, sehingga solusi yang diberikan bisa memakai laboratorium fisika virtual lewat jalur online (Asisika dan Fitri, 2. Dalam satu ruangan kelas, kurang lebih bangku yang tersedia di kelas SMP sebanyak 12 buah dan kursinya sebanyak 24 buah. Sedangkan untuk tiap ruangan kelas SD, terdapat 10 bangku dengan jumlah kursi sebanyak 20 buah. Di dalam ruangan kelas ini juga terdapat jam dinding, potret foto presiden dan wakil presiden, lambang burung garuda, di depan masing-masing kelas ada tong sampah dan tempat cuci tangan. sekolah ini juga terdapat fasilitas lapangan olahraga bagi siswa, kantin sekolah, parkir, ruang ibadah dan kamar mandi. Hal lain yang terlihat di sekolah terpencil lokasi penelitian ini yakni terdapat kerusakan di ruangan kelas dan bagian depannya. Kerusakan bangunan sendiri diartikan sebagai tidak berfungsinya suatu komponen bangunan dikarenakan faktor usia bangunan, penyusutan, faktor alam maupun faktor dari ulah manusia itu sendiri. Menurut Jakaria et , . kerusakan bangunan terbagi menjadi tiga tingkatan. kerusakan ringan merupakan kerusakan yang terjadi pada komponen non struktural misalnya atap langitlangit serta penutup dasar lantai. kerusakan sedang merupakan kerusakan yang terjadi pada sebagian komponen struktural maupun non struktural seperti pada struktur lantai dan . kerusakan berat merupakan kerusakan yang sebagian besar pada semua komponen JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Kerusakan yang terjadi di sekolah penelitian termasuk dalam kerusakan sedang yang mana struktur atap kelas di bagian atasnya rusak dan bahkan sudah mulai berjauhan hingga akhirnya terlihat berlubang. Ironisnya ditambah lagi dalam ruangan kantor guru dan kepala sekolah, bahkan atap langit-langit sudah mulai banyak yang berjatuhan serta lemari dan kursi di dalamnya telah banyak digerogoti rayap. Pemandangan ini nampak jelas terlihat, apalagi pintu dan jendela di depan ruangan kelas juga banyak yang rusak. Dengan begitu, dapat diketahui bahwasannya di sekolah ini tingkat manajemen sarana dan prasarananya kurang baik sehingga diperlukan suatu perawatan yang baik. Gambar 2. Potret Kerusakan pada Atap dan Jendela Melalui potret diatas, dapat diketahui jika kerusakan gedung akan mempengaruhi proses belajar mengajar yang kemudian berpengaruh juga pada mutu pendidikan. Jika kondisi ruangan kelas yang disediakan rusak, maka kondisi belajar menjadi terganggu dan kurang nyaman. Bahkan, dengan kata lain peserta didik akan enggan mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas karena kondisi ruangan yang tidak nyaman. Sebab, dalam kegiatan proses pembelajaran berlangsung, ruangan juga ikut serta dalam proses keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Oleh karenanya, kerusakan tersebut perlu diperbaiki agar memberikan rasa nyaman bagi peserta didik dalam keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah. Kontribusi Bantuan Pemerintah terhadap Masyarakat Terkait Pendidikan Menurut Rohaeni & Saryono . bahwasannya KIP dan PIP yang dikeluarkan pemerintah dibawah naungan Kemdikbud tujuannya adalah sebagai penyedia bantuan khusus bagi masyarakat miskin, sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikannya serta sebagai upaya pencegahan anak putus sekolah. Sejauh ini, bantuan yang telah diberikan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 pemerintah kepada siswa di lokasi penelitian yakni berupa bantuan PIP dan Kartu Indonesia Pintar. Namun, tidak semua siswa yang bersekolah ini mendapatkan bantuan Padahal kondisi di lapangan menunjukkan bahwasannya masyarakat yang tinggal di daerah terpencil Dusun Bandealit ini termasuk dalam masyarakat golongan miskin atau kurang mampu sebab dalam kesehariannya mereka kesusahan. Melalui adanya bantuan KIP tentu bisa mensejahterakan siswa sehingga kekurangan pada perlengkapan sekolahnya bisa terpenuhi, uang sakunya juga terpenuhi, juga bisa dibuat biaya transportasi dan membuat kehidupan peserta didik menjadi terjamin serta layak untuk tetap terus bersekolah (Prasetyono, 2. Kartu Indonesia Pintar biasanya diberikan pada anak-anak yang berusia 6 sampai 2 tahun sebagai pertanda identitas sasaran penerima dana. Sedangkan untuk PIP, biasanya didaftarkan oleh lembaga pendidikan maupun non formal. Oleh karena itu, keluhan yang dialami oleh orangtua siswa terkait masalah ekonomi hingga tidak menyekolahkan anaknya harus segera diatasi. Pendistribusian KIP dan juga PIP di sekolah harus tepat sasaran. Terlebih lagi, bantuan seperti KIP dirasa cukup penting bagi yang masyarakat disini demi keberlangsungan pendidikan bagi anak-anaknya. Dengan begitu, mereka bisa tetap bersekolah sampai sarjana tanpa takut untuk putus sekolah akibat biaya ekonomi yang kurang. Solusi Mengatasi Permasalahan Pendidikan di Dusun Bandealit Masyarakat Dusun Bandealit yang rata-rata pendidikannya tingkat SMP masih terus berjuang untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal tersebut membuat masyarakat terus berupaya untuk memperoleh pendidikan yang layak dengan memberikan beberapa pengajuan kepada pemerintah daerah untuk memperbaiki akses jalan utama dari Dusun Bandealit menuju ke daerah kecamatan. Akan tetapi, sampai saat ini masyarakat yang tinggal di daerah terpencil ini hanya diberikan janji manis oleh pemerintah agar mereka bersabar dalam perbaikan jalan. Namun, kenyataannya sampai sekarang akses jalan sebagai akses utama pendidikan tersebut tidak kunjung diperbaiki. Dengan begitu, menghambat proses pembelajaran sehingga banyak anak yang putus sekolah dan tidak memilih untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Menurut Warsono . menjelaskan bahwasannya salah satu keberhasilan dalam proses belajar di sekolah ialah tenaga pendidik, siswa serta fasilitas yang diberikan. Anak- JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 anak di Dusun Bandealit yang ingin melanjutkan pendidikannya harus turun melewati area pegunungan dengan curamnya jurang agar bisa memperoleh akses pendidikan yang layak. Oleh karena itu, aksesibilitas jalan yang ada di dusun ini menjadi PR bagi pemerintah daerah setempat agar segera diperbaiki. Sebab, pendidikan berpengaruh terhadap sumber daya manusia yang dihasilkan. Bukan hanya akses jalan saja, namun ruangan kelas yang rusak serta buku-buku yang kurang lengkap hendaknya segera diperbaiki. Solusi selanjutnya yang bisa dilakukan ialah melalui optimalisasi terhadap pemeliharaan serta pembuatan SOP pemakaian prasarana di tiap lembaga pendidikan. Optimalisasi pembelajaran yang di sekolah tidak hanya rusak karena pemakaian namun akibat penyimpanan pula. Perlunya suatu buku acuan dalam memanfaatkan dan menyimpan, sehingga sarana dan prasarana bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lebih lama. Disamping itu, juga diperlukan adanya politik anggaran agar sarana dan prasarana bisa terpenuhi di setiap sekolah. Pemerintah daerah hendaknya harus memberikan pemerataan ke seluruh sekolah agar tidak timbul adanya ketimpangan. Dengan begitu, sekolah tersebut bisa memiliki fasilitas sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Tentunya, pemerintah melalui Bappenas telah melakukan berbagai program agar kesenjangan antar wilayah dan ketertinggalan bisa diatasi agar sejalan dengan tujuan pembangunan nasional itu sendiri (Bappenas, 2. Hal ini tentu memerlukan kerjasama yang konsisten dan berkesinambungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas di daerah 3T. Menurut Rahmadi . menjelaskan bahwasannya jumlah wilayah yang mengalami ketertinggalan di Indonesia semakin berkurang tiap tahunnya dan banyak wilayah yang telah terentaskan dari Tentunya, bidang pendidikan serta kesehatan kedepannya akan menjadi prioritas pembangunan dalam pelayanan dasar bagi masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, solusi dan upaya dalam memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia harus segera JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 KESIMPULAN Pendidikan menjadi hal penting dalam menghadapi era tantangan zaman karena melalui pendidikan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang mapan. Potret kondisi pendidikan yang ada di wilayah terpencil seperti di Dusun Bandealit. Desa Andongrejo. Kecamatan Tempurejo. Kabupaten Jember cenderung kurang perhatian pemerintah sehingga sekolah tersebut mengalami ketertinggalan dengan sekolah lainnya. Akses pendidikan dalam hal ini aksesibilitas jalan yang dilalui cukup sulit dikarenakan berada di area berombak dan Ditambah lagi dengan kondisi sekolah SMA yang jauh dari lokasi daerah terpencil ini hingga akhirnya membuat banyak siswa memilih putus sekolah sampai SMP. Faktor tersebut juga karena dipengaruhi oleh kondisi perekonomian masyarakat yang rendah. Keadaan sekolah di daerah terpencil ini juga kurang lengkap terkait sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembelajaran seperti halnya tidak ada ruang laboratorium IPA untuk SMP, ruang laboratorium komputer dan buku-buku di perpustakaan yang juga kurang lengkap. Diperparah lagi dengan kondisi atap langit-langit kelas yang berlubang serta pintu dan jendela yang perlahan sudah mulai mengalami kerusakan. Hal ini membuat proses pembelajaran menjadi terganggu dan terhambat. Perlunya peran pemerintah untuk segera turun tangan memperbaiki kondisi pendidikan di daerah terpencil ini utamanya dalam memberikan bantuan beasiswa pendidikan agar siswa bisa terus melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani dengan perekonomian keluarganya. Disamping itu juga, tidak semua pembangunan yang dibangun di Pulau Jawa terutama bidang pendidikan itu bagus, sebab masih ada beberapa wilayah di Jawa yang masuk dalam kawasan 3T seperti halnya di Kabupaten Jember. Pembangunan dengan tujuan pemerataan di bidang pendidikan ini tentu menghasilkan kualitas yang berbeda antara sekolah di kota dan di desa apalagi di dunia pendidikan mengenal sistem zonasi. Hal yang juga harus diperhatikan yakni persoalan sistem zonasi sekolah negeri yang ada di Jawa belum merata. Akan tetapi karena adanya sistem zonasi maka siswa yang tinggal di daerah 3 T ini harus memilih putus sekolah dan sebagian hanya bersekolah di swasta. Dengan begitu, diperlukan perbaikan pada pemerataan sekolah yang berkualitas walaupun bukan sekolah negeri agar nantinya siswa di daerah 3T juga bisa mengenyam pendidikan yang layak. Namun sebelum itu, perbaikan pada kondisi jalan utama menuju pusat kecamatan juga perlu diperbaiki serta kesadaran dari seluruh JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 11-26 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 masyarakat di daerah 3T beserta pemerintahannya sebagai modal dalam membangun kondisi pendidikan yang lebih maju. Apalagi di dunia pendidikan Indonesia yang sekarang menerapkan sistem zonasi. UCAPAN TERIMA KASIH