Volume 8 | Nomor 4 | Tahun 2025 | Halaman 1057Ai1066 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1328 Krisis identitas linguistik: Eksistensi bahasa ibu di persimpangan generasi kekinian Desa Karangwuni Linguistic identity crisis: the existence of mother tongues at the grossroads of young generations in Karangwuni Village Ekgoan Susanti Utami1,* & Muhammad Suryadi2 Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto. Tembalang. Kota Semarang. Indonesia Email: susanstyles71@gmail. Orcid: https://orcid. org/0009-0006-4323-0756 Email: mssuryadi07@gmail. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-5275-4037 Article History Received 15 June 2025 Revised 10 September 2025 Accepted 17 September 2025 Published 19 December 2025 Keywords Javanese. Indonesian. language inheritance. Kata Kunci bahasa Jawa. bahasa Indonesia. pergeseran bahasa. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract Weak inheritance of local languages within the family domain leads to language shift. Consequently, the phenomena of code-mixing and code-switching among children and grandchildren exhibit inconsistent and random patterns. This study aims to determine the status of local languages and identify the causes of language shift within the family environment, focusing specifically on the shift from Javanese to Indonesian. The subjects of this study consist of three generations: . generation 1 includes grandparents, . generation 2 includes parents, and . generation 3 includes children or grandchildren. A descriptive qualitative method was employed, utilizing interview, observation, and note-taking The results indicate a significant shift from Javanese to Indonesian. For instance, when generation 2 addresses generation 3 in Javanese, generation 3 responds in Indonesian due to a lack of Javanese vocabulary. Generation 3 only masters simple Javanese terms, such as mpun, dereng, and wonten. This phenomenon is driven by education levels, economic status, social mobility, language attitudes, and the influence of technology and social media. The shift is further evidenced by the emergence of random code-switching and code-mixing in daily family conversations. Abstrak Pewarisan bahasa daerah dalam keluarga yang lemah akan menyebabkan pergeseran bahasa. Fenomena campur kode dan alih kode pada generasi anak dan cucu memiliki pola yang acak dan tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi dan penyebab pergeseran bahasa daerah dalam ranah keluarga. Fokus penelitian ini adalah pergeseran bahasa Jawa (BJ) terhadap bahasa Indonesia (BI). Objek penelitian ini terdiri atas tiga generasi, yakni . generasi 1, terdiri atas kakek dan nenek, . generasi 2, terdiri atas ayah dan ibu, dan . generasi 3, terdiri atas anak-anak atau cucu-cucu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan cara wawancara, simak, dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pergeseran bahasa Jawa ke bahasa Indonesia yang signifikan, misalnya generasi 2 bertanya kepada generasi 3 menggunakan bahasa Jawa, generasi 3 menjawab menggunakan bahasa Indonesia karena tidak menguasai kosakata tersebut dalam bahasa Jawa. Generasi 3 menguasai kosakata yang sederhana dalam bahasa Jawa seperti mpun, dereng, dan wonten. Hal tersebut disebabkan oleh tingkat pendidikan, ekonomi dan mobilitas sosial, sikap bahasa, serta teknologi dan media sosial. Pergeseran dibuktikan dengan munculnya bentuk alih kode dan campur kode yang acak pada percakapan sehari-hari di keluarga. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Utami. , & Suryadi. Krisis identitas linguistik: Eksistensi bahasa ibu di persimpangan generasi kekinian Desa Karangwuni. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 1057Ae1066. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Ekgoan Susanti Utami & Muhammad Suryadi Pendahuluan Bahasa dan keluarga tidak bisa dipisahkan. Keluarga adalah pendidikan pertama bagi seorang Peran orang tua khususnya ibu memiliki pengaruh dalam penggunaan bahasa anak karena pewarisan bahasa didapatkan dari orang tua. Sebuah bahasa daerah akan rapuh atau tergeser karena pewarisan bahasa yang tidak kuat (Sudarma et al. , 2. Alih kode dan campur dapat menjadi indikator pergeseran bahasa (Myers-Scotton, 1. Bahasa daerah beragam di Indonesia. Terdapat 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh nusantara berdasarkan Bahasa dan Peta Bahasa Kemdikbud. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pada tahun 2024 terdapat lima bahasa daerah mengalami kepunahan, delapan bahasa daerah dengan status kritis, 29 bahasa daerah terancam punah, dan tiga bahasa daerah mengalami kemunduran. Menurut UNESCO, bahasa yang ada di dunia berjumlah sekitar 7600 dan mengalami satu kepunahan setiap dua minggu. Penelitian mengenai pergeseran bahasa sudah dilakukan oleh beberapa peneliti seperti Bhakti . dan Nita et al. yang menganalisis pergeseran Bahasa Jawa. Bhakti . menyatakan bahwa pergeseran bahasa Jawa (BJ) ke bahasa Indonesia (BI) terjadi karena faktor pemilihan bahasa, wilayah pemukiman, dan usia. Nita et al. menyatakan bahwa ekonomi, migrasi, dan tingkat pendidikan menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa Jawa terhadap bahasa Sunda. Adapun Putri . menelaah pergeseran bahasa pada ahasa Lampung yang dikarenakan faktor geografis. Djajasudarma . menginvestigasi pergeseran bahasa Indonesia terhadap bahasa asing dikarenakan banyaknya leksikon pinjaman dari bahasa luar atau bahasa asing. Adapun (Ernawati & Usman, 2. meneliti pergeseran bahasa ibu yang digunakan penutur etnis Tionghoa dikarenakan adanya kontak bahasa Indonesia dan bahasa Bima. Penelitian pergeseran bahasa dan multilingualisme atau bilingualisme juga sudah banyak Situasi multilingualisme dan bilingualisme dapat menyebabkan pergeseran bahasa (Abtahian, 2009. Gao & Fussell, 2017. Kandler et al. , 2010. Kartika-Ningsih et al. , 2018. Yu et al. Penutur multilingual dan bilingual bisa memilih bahasa yang mereka gunakan saat Bahasa yang cenderung memiliki status sosial atau ekonomi lebih tinggi berpotensi mendominasi bahasa lokal atau minoritas (Kartika-Ningsih et al. , 2. Pemilihan bahasa atau language choice yang digunakan oleh penutur menyebabkan pergeseran bahasa karena penutur meninggalkan bahasa yang tidak dipilihnya dan mengganti dengan bahasa lain. Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah ada, penelitian mengenai pewarisan bahasa kurang diminati. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengupas pewarisan bahasa daerah khususnya bahasa Jawa dalam ranah keluarga. Tujuan penelitian ini untuk menjawab . posisi bahasa Jawa dalam ranah keluarga, dan . faktor apa saja yang mempengaruhi pergeseran sebuah bahasa dalam keluarga. Menurut Fishman . , pergeseran bahasa (Language Shif. dan pemertahanan bahasa (Language Maintenanc. berkaitan dengan stabilitas . penggunaan bahasa, proses sosial, psikologi, ataupun budaya. Pergeseran bahasa adalah fenomena ketika para penutur beralih dari satu bahasa ke bahasa yang lain karena beberapa faktor yakni ekonomi, sosial, dan politik (Pauwels, 2. Masyarakat cenderung menggunakan bahasa-bahasa yang dianggap sebagai bahasa prestisius sebagai bahasa mayoritassehingga semua bahasa tersebut menjadi bahasa yang dominan dan menggeser bahasa lain. Menurut Holmes . , pemertahanan bahasa atau language maintenance adalah proses prapenutur dalam mempertahankan bahasa. Orang tua memegang peranan penting dalam pewarisan bahasa terhadap generasi yang lebih muda atau generasi yang akan datang. Pemertahanan bahasa dalam ranah keluarga ditentukan oleh inisiasi dan usaha orang tua. Pergeseran bahasa dapat terjadi apabila orang tua tidak kuat dalam mewariskan bahasanya terutama bahasa ibu. Sikap bahasa dalam ranah keluarga ditentukan oleh pewarisan dari orang Sikap bahasa positif apabila penutur bangga dan setia terhadap bahasanya. Sebaliknya, sikap bahasa negatif apabila penutur lebih memilih bahasa lain untuk digunakan (Pauwels, 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1057Ai1066 Krisis identitas linguistik: Eksistensi bahasa ibu di persimpangan generasi kekinian Desa Karangwuni Fenomena alih kode dan campur kode biasa terjadi pada masyarakat bilingual dan Saat melakukan komunikasi penutur akan memilih pilihan bahasanya sesuai kebutuhan (Susylowati et al. , 2. Situasi sosial dan domain merupakan penyebab penutur melakukan alih kode atau code-switching. Pengalihan kode dilakukan untuk menunjukkan bahwa seorang penutur merupakan bagian atau anggota dari sebuah komunitas. Adapun identitas dan hubungan antara penutur dan mitra tutur menjadi alasan seorang penutur melakukan pengalihan kode (Holmes, 2. Menurut Suwito . alih kode terjadi apabila situasi saat penutur berkomunikasi relevan dengan peralihan kodenya sehingga alih kode disebabkan karena berubahnya situasi. Myers-Scotton . menyatakan jika alih kode dan campur kode terdiri atas dua komponen yakni matrix language (ML) atau bahasa utama dan embedded language (EL) atau bahasa sisipan. ML adalah bahasa utama atau bahasa sumber yang digunakan penutur untuk mengatur struktur bahasa. Sedangkan. EL adalah bahsa yang disisipkan pada ML. Sedangkan campur kode atau code-mixing menurut Holmes . , terjadi saat penutur menggunakan dua bahasa atau lebih dalam satu kalimat atau ujaran. Adapun Suandi . campur kode adalah pengkombinasian bahasa yang terjadi dalam suatu klausa. Campur kode terjadi tanpa alasan atau motivasi yang jelas dapat karena kebiasaan penutur semata (Susylowati et al. , 2. Metode Peelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi seperti yang digunakan dalam kajian Ariesta et al. Christmatara & Suryadi . Rahim et al. Objek kajian penelitian adalah sebuah keluarga yang terdiri atas tiga generasi yakni generasi pertama . akek-nene. , generasi kedua . yah-ib. , dan generasi ketiga . nak-anak atau cucu-cuc. Keluarga tersebut penutur asli bahasa Jawa yang tinggal di Dusun Karangwuni. Desa Karangwuni. Kabupaten Temanggung. Generasi pertama dan generasi kedua memiliki bahasa ibu yang sama yakni bahasa daerah, bahasa Jawa. Responden dalam penelitian ini berjumlah enam orang. Latar belakang 6 responden dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Latar belakang responden Generasi Peran Kakek Nenek Ayah Ibu Anak 1 Anak 2 Usia . Latar Belakang Sosial Pekerjaan Pendidikan Buruh Lulus SD IRT Lulus SD Guru SD Lulus Pascasarjana ASN Lulus Sarjana Pelajar Pelajar Ekonomi Bawah Bawah Menengah Menengah Menengah (Mengikuti G. Menengah (Mengikuti G. Pengumpulan dan pengambilan data dilakukan dengan dua cara yakni wawancara mendalam, simak, dan catat. Wawancara mendalam dilakukan dengan menyimak dan mencatat bertujuan untuk mengetahui latar belakang keluarga. Adapun, peneliti melakukan perekaman komunikasi antargenerasi untuk mendapatkan data. Setelah direkam, peneliti melakukan transkripsi data kemudian menyortir data dan menganalisis data. Data diambil dengan rentang waktu seminggu yakni pada tanggal 17 Februari 2025 sampai dengan 22 Februari 2025. Pengambilan data dilakukan pada malam hari saat semua anggota keluarga sedang berkumpul Data yang diambil dibagi menjadi dua jenis yakni alur interaksi antara generasi pertama terhadap generasi ketiga dan generasi kedua terhadap generasi ketiga. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1057Ai1066 Ekgoan Susanti Utami & Muhammad Suryadi Pembahasan Bagian pembahasan peneliti akan menjawab dua rumusan masalah yakni . posisi bahasa Jawa dan . faktor atau penyebab yang mempengaruhi pergeseran bahasa Jawa dalam ranah Posisi bahasa Jawa diobservasi melalui penggunaan alih kode dan campur kode. Penggunaan Alih Kode dan Campur Kode Data 1 adalah percakapan antara ibu dan anak 1 yang ML-nya menggunakan bahasa Indonesia. Data 1 diambil saat malam hari yakni waktu generasi 3 belajar. Sang ibu menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Sedangkan, anak 1 menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Arab. Berdasarkan data 1, ibu bertanya menggunakan ML bahasa Indonesia. Namun, dalam pertanyaan tersebut terdapat campur kode AuMbakAy sehingga anak 1 menjawab dengan bahasa Jawa untuk menyesuaikan ibu. Menurut Fishman . , pemilihan bahasa seorang penutur disebabkan oleh domain. Domain dalam data 1 adalah keluarga Jawa. Keluarga Jawa biasanya menggunakan bahasa Jawa untuk berinteraksi sehari-hari dengan anggota keluarga sehingga anak 1 memilih bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan ibu. Ibu bertanya kembali menggunakan bahasa Indonesia namun anak 1 menjawab dengan bahasa Arab AuSirahAy yang merujuk pada sirah nabawiyah. Menurut Bhakti . alih kode dan campur kode terjadi karena situasi dan kondisi. Alih kode pada anak 1 dari bahasa Jawa ke bahasa Arab terjadi karena kondisi anak 1 bersekolah di madrasah atau sekolah Islam sehingga anak 1 terbiasa dengan istilah-istilah bahasa Arab. Anak 1 melakukan alih kode kembali pada akhir percakapan untuk menjawab pertanyaan ibu yang menggunakan bahasa Jawa. Hal tersebut terjadi karena anak 1 lebih menguasai bahasa Indonesia. bahasa Jawa menjadi EL karena bukan bahasa dominan pada . Ibu : Mbak Fi ada PR nggak? Anak 1 : wonten AoAdaAo Ibu : PR-nya apa? Anak 1 : Sirah AoSirah NabawiyahAo Ibu : Sing pundi coba? Aoyang mana coba?Ao Anak : Bentar tak cari AoSebentar aku carikanAo Berdasarkan data . kakek dan nenek menggunakan ML bahasa jawa. Kedua data diambil saat generasi pertama dan generasi ketiga sedang berkumpul di malam hari. Mereka hanya menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan anak 1 dan anak 2 . ucu-cucuny. Ketika nenek dan kakeknya bertanya kepada anak 1 dan anak 2 menggunakan bahasa Jawa, kedua anak selalu menjawab menggunakan bahasa Indonesia. Alih kode terjadi karena bahasa Indonesia menjadi bahasa dominan pada generasi ketiga. Walaupun kedua anak menjawab dengan bahasa Indonesia, kedua anak tersebut masih memahami apa yang disampaikan oleh nenek dan kakeknya. Generasi pertama menggunakan bahasa Jawa sebagai ML sedangkan generasi 3 menggunakan bahasa Jawa sebagai EL Pemilihan bahasa oleh penutur bisa disebabkan karena dominasi bahasa (Zuhriyah & Basith, 2. Oleh karena itu, generasi 3 cenderung menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa dominan mereka. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1057Ai1066 Krisis identitas linguistik: Eksistensi bahasa ibu di persimpangan generasi kekinian Desa Karangwuni . (Kakek menyuruh cucu-cucunya tidur, sedangkan cucu-cucunya masih belaja. Kakek : Wes lek do bobok, sesok lek do sekolah tangi gasik. AoSudah ayo segera tidur, besok sekolah bangun pagi. Ao Anak 2 : Suruh mbah Uti tuh belajar. Kakek : Methuk mbak sesok hawa melu? AoBesok mau jemput Hawa ikut?Ao : Ngga usah, nggak usah. (Nenek menyuruh cucu-cucunya untuk belaja. Nenek : ora do sinau nggambar? AoTidak belajar menggambar?Ao Anak 1 : Ini baru mau nggambar. Nenek : Sinau opo Hawa? AoBelajar apa Hawa?Ao Anak 2 : Belajar nulis A. Ibu dan nenek pada data . bertanya menggunakan bahasa Jawa dengan anak 1 dan Oleh karena itu, bahasa Jawa menjadi ML menurut data . Kedua anak tersebut berusaha menggunakan bahasa Jawa. Namun, campur kode terjadi karena bahasa Jawa bukan bahasa dominan generasi 3. Generasi 3 cenderung menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan generasi 1 dan generasi 2. (Malam hari saat di ruang tam. Ibu : Mbak Fi pun maem? AoMbak Fi sudah makan?Ao Anak 1 : A . idak menjawab pertanyaan ib. Ibu : Mbak Fi pun maem dereng? AoMbak Fi sudah makan?Ao Anak 1 : Mpun, nggak ding, dereng. AoUdah, eh tidak, belum. Nenek : Sinau apa? AoBelajar apa?Ao Anak 2 : Nggih belajar. AoYa belajar. Ao Data . menunjukkan ayah dan anak 2 melakukan percakapan yang terdapat campur kode. Ayah menggunakan alih kode kepada anak Autempe, tahu, atau napa?Ay karena anak kesulitan menjawab pertanyaan ayah sebelumnya. Peralihan kode dilakukan agar mitra tutur memahami pesan dari penutur (Susylowati et al. , 2. Kemudian, anak 2 menjawab dengan campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Jawa AuNasi kalih nuggetAy karena kesulitan untuk menemukan kosakata nasi dalam bahasa Jawa. Bahasa Jawa menjadi EL pada generasi 3. Ayah : Tadi udah makan belum? Anak 1 : Udah. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1057Ai1066 Ekgoan Susanti Utami & Muhammad Suryadi Ayak : Adek maem napa? AoMakan apa?Ao Anak 2 : Maem kalihA AoMakan samao Ayah : Tempe, tahu, atau napa? AoTempe, tahu, atau apa?Ao Anak 2 : Nasi kalih nugget. AoNasi dengan nugget. Ao Berdasarkan data-data yang sudah peneliti kaji, peneliti menemukan pola penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam keluarga di Desa Karangwuni. Pola penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada generasi 1, 2, dan 3 diilustrasikan oleh Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan posisi bahasa Jawa pada ranah keluarga. Lingkaran pada Gambar 1 merepresentasikan generasi. Panah pada Gambar 1 merepresentasikan alur interaksi. Berdasarkan data . sampai data . , posisi bahasa Jawa dalam ranah keluarga Desa Karangwuni menjadi EL pada generasi 3. Generasi 3 cenderung menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian Generasi Posisi bahasa Jawa pada generasi 1 menjadi ML karena generasi 1 cenderung menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi kepada generasi 2 dan generasi 3. Posisi bahasa Jawa mulai tergeser pada generasi 2 karena generasi 2 melakukan alih kode . ode-switchin. dan campur kode . ode mixin. bahasa Indonesia dan bahasa Jawa terhadap generasi 3. Gambar 1. Bagan Penggunaan Bahasa Keterangan: G1 : Generasi 1 G2 : Generasi 2 G3 : Generasi 3 BI : Bahasa Indonesia BJ : Bahasa Jawa Faktor-faktor Penyebab Pergeseran Bahasa Jawa Kesenjangan akademik Salah satu penyebab bergesernya BJ terhadap BI adalah tingkat pendidikan (Bhakti, 2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 25 menjelaskan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan. Penggunaan bahasa Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1057Ai1066 Krisis identitas linguistik: Eksistensi bahasa ibu di persimpangan generasi kekinian Desa Karangwuni Indonesia atau bahasa nasional sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan formal di Indonesia mempengaruhi penutur dalam pemilihan bahasanya. Semakin tinggi pendidikan yang dikenyam penutur semakin banyak waktu untuk menggunakan bahasa pengantar (Bhakti, 2. Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah stigma bahasa yang prestise karena dianggap lebih intelektual dan modern sehingga muncul stigma bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang Aokampungan. Ao Generasi 1 . akek dan nene. pada keluarga yang diteliti memiliki tingkat pendidikan rendah yakni hanya lulus dekolah dasar. Sedangkan, generasi 2 memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Sang ibu meraih tingkat pendidikan S1 atau sarjana. Adapun sang ayah mengenyam tingkat pendidikan sampai S2 atau magister. Generasi 2 memiliki lebih banyak waktu untuk menggunakan bahasa Indonesia karena tuntutan pendidikan sehingga bahasa Indonesia lebih dominan digunakan daripada bahasa ibunya yakni bahasa Jawa. Bahasa Jawa hanya digunakan di rumah oleh generasi 2. Ketika generasi 2 memiliki anak, mereka menggunakan dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Alih kode dan campur kode terjadi pada generasi 2 saat berkomunikasi dengan generasi 3 sehingga generasi 3 . ucu-cucu dari generasi . memiliki pola alih kode dan campur kode yang tidak konsisten. Alih kode pada generasi 3 terjadi secara acak tanpa adanya perubahan situasi. Sektor Bisnis Generasi 2 yakni ayah dan ibu dalam keluarga yang diteliti adalah pekerja. Keduanya bekerja sebagai guru. Sang ayah memiliki tingkat mobilitas yang tinggi karena bekerja di luar kota. Generasi 1 yakni kakek bekerja sebagai kuli di desanya dan nenek sebagai ibu rumah tangga. Intensitas penggunaan bahasa Jawa lebih tinggi dibandingkan penggunaan bahasa Indonesia oleh Bahasa daerah cenderung lebih digunakan di desa. Sebaliknya, intensitas penggunaan bahasa Indonesia pada generasi 2 lebih tinggi daripada bahasa Jawa karena tuntutan pekerjaan. Penggunaan bahasa Indonesia juga berlaku di dunia perkantoran sehingga generasi 2 lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Penutur cenderung memilih dan menggunakan bahasa yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi (Ernawati & Usman. Adapun tingkat ekonomi generasi 2 lebih tinggi dibanding generasi 1. Generasi 2 menjadi dominan secara ekonomi dalam keluarga yang diteliti. Stratifikasi ekonomi dalam keluarga berpengaruh dalam pemilihan bahasa. Anggota keluarga yang memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi lebih memilih menggunakan bahasa yang dianggap bahasa prestise. Generasi 2 yang dominan dalam menggunakan bahasa Indonesia menyebabkan pewarisan bahasa Jawa melemah terhadap generasi 3. Sikap Bahasa Sikap bahasa berpengaruh terhadap pergeseran bahasa daerah dalam keluarga yang diteliti. Generasi 1 memiliki sikap bahasa positif terhadap bahasa daerahnya. Kakek dan nenek menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan generasi 2 dan generasi 3 sehingga posisi bahasa Jawa tidak tergeser oleh bahasa lain. Generasi 3 memiliki sikap positif karena setia dan bangga akan bahasa Jawa sesuai dengan teori dari Pauwels . Sikap bahasa negatif terjadi pada generasi 2. Bahasa Jawa pada generasi 2 tergeser dengan bahasa Indonesia karena mereka lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Pewarisan bahasa Jawa dari generasi 2 ke generasi 3 tidak kuat sehingga generasi 3 mempunyai bahasa ibu yang berbeda dengan generasi 1 dan Bahasa Jawa tetap digunakan oleh generasi 3 dengan intensitas yang rendah. Teknologi dan Media Sosial Kemajuan teknologi dan media sosial menjadi salah satu penyebab pergeseran bahasa daerah khususnya pada generasi 3. Penggunaan media sosial mengakibatkan pergeseran bahasa karena Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1057Ai1066 Ekgoan Susanti Utami & Muhammad Suryadi para penutur cenderung menggunakan alih kode dan campur kode (Zuhriyah & Basith, 2. Anak 1 dan anak 2 sedari umur 2-3 tahun sudah diperbolehkan oleh generasi 2 untuk memegang Konten-konten yang ada pada media sosial seperti TikTok. Instagram, dan Youtube menggunakan Bahasa Indonesia. Pemerolehan bahasa saat usia balita lebih dominan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Jawa. Sedangkan, generasi 1 sangat minim sekali terpapar teknologi dan media sosial sehingga bahasa Jawa masih menjadi dominan pada generasi 1. Penutup Bahasa daerah berpotensi tinggi untuk tergeser dengan bahasa lain dalam ranah keluarga. Keluarga sebagai tempat belajar pertama dan fondasi untuk anak-anak memiliki pengaruh dalam pewarisan bahasa daerah. Pergeseran bahasa Jawa dalam ranah keluarga dapat terjadi karena beberapa faktor yakni tingkat pendidikan, ekonomi dan mobilitas sosial, sikap bahasa, serta teknologi dan media sosial. Terjadinya pergeseran bahasa dapat dibuktikan dengan terjadinya alih kode dan campur kode yang acak. Generasi 3 menggunakan alih kode dan campur kode dengan tidak konsisten. Mereka menggunakan bahasa Jawa hanya saat menguasai kosakatanya seperti wonten, mpun, dereng. Sedangkan, mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk kosakata yang Penelitian peneliti terbatas dalam ranah keluarga dan bahasa Jawa. Rekomendasi yang bisa dilakukan untuk penelitian yang akan datang adalah memperluas domain, seperti domain budaya, komunitas, dan domain resmi . Adapun rekomendasi lain yakni penelitian yang akan datang bisa meneliti bahasa daerah lain selain BJ. Bahasa-bahasa daerah yang berada di bagian timur Indonesia bisa menjadi ladang penelitian masa mendatang. Daftar Pustaka