e-ISSN : x-x HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PADA KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDIRI I TAHUN 2024 Putu Sinta Dewi1. Desak Made Firsia Sastra Putri2. Desak Gede Yenny Apriani3. Ni Luh Seri Astuti4 1,2,3,4 Program Studi S1 Keperawatan Ners. STIKES Advaita Medika Tabanan Korespondensi penulis: sd671362@gmai. ABSTRAK Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dari genus flavivirus. Provinsi Bali adalah salah satu dari tiga provinsi paling padat penduduk di Indonesia. Selama tahun 2019-2021, ia memiliki angka Incidence Rate (IR) DBD yang tinggi, selalu melebihi angka IR nasional. dimana tahun 2019 mencapai 421 kasus . ,44%), tahun 2020 sebanyak 6. 875 kasus . ,9%), dan tahun 2021 sebanyak 515 kasus . ,68%) Tujuan: Penelitian ini mengetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat dengan perilaku pencegahan pada kejadian Demam berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Kediri I tahun 2024 Metode: Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square untuk mengetahui hubungan yang signifikat antara masingmasing variabel independent dengan variabel dependen. Nilai yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen adalah p value. Jika nilai p value 0,05 maka hubungan yang diteliti bermakna sebaliknya jika 0,05 berarti hubungan tidak bermakna antara variabel yang diteliti. Hasil: Hasil perhitungan statistic menggunakan uji chi square seperti dapat diketahui bahwa hasil koefisien kolerasi sebesar 0,005 artinya tingkat kolerasi antar hubungan tinggi . Nilai signifikan didapatkan hasil P- value . <0,05 Simpulan: sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan perilaku pencegahan pada kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Kediri I. Kata kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD). Nyamuk Aedes Aegpty. PSN 3M. Larvasida PENDAHULUAN Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di masyarakat (Hadriyati. Marisdayana dan Ajizah. Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua spesies nyamuk ini ditemukan hampir di semua tempat di Indonesia kecuali di tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl. Seluruh wilayah Indonesia Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 berisiko terkena demam berdarah dengue karena baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya tersebar luas di pemukiman dan tempat umum di seluruh Indonesia kecuali tempat yang lebih dari 100 meter di atas permukaan (Asep, 2. Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dari genus flavivirus. Provinsi Bali adalah salah satu dari tiga provinsi paling padat penduduk di Indonesia. Selama tahun 2019-2021, ia memiliki angka Incidence e-ISSN : x-x Rate (IR) DBD yang tinggi, selalu melebihi angka IR nasional. tahun 2019 mencapai 3. 421 kasus . ,44%), tahun 2020 sebanyak 6. ,9%), dan tahun 2021 515 kasus . ,68%). DBD masih menjadi masalah Kesehatan bagi masyarakat dan menimbulkan dampak secara fisik, sosial maupun ekonomi. Dampak terkena DBD secara fisik setelah terkena gigitan nyamuk yaitu dapaat mengalami demam tinggi 3 sampai 14 hari, mual, muntah, sakit kepala, nyeri pada otot dan pegal linu di seluruh tubuh, muncul ruam kemerahan pada kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening (Gina,2. Besarnya dampak pada kasus DBD yang bisa menyebabkan kematian dan angka kesakitan yang tinggi maka diperlukan upaya pencegahan untuk terjadinya permasalahan DBD. Upaya efektif untuk memberantasan dan mencegah penyebaran DBD adalah adanya juru pemantau jentik (Jumanti. Jumantik itu merupakan upaya gerakan mensosialisasikan, mengubah perilaku, dan gerakan 3M Plus, mengubur, menguras, menutup melipat baju-baju yang digantung yang menjadi tempat sarang nyamuk. Menurut penelitian Indah. Nurjanah. Dahlian Hermawwati . menunjukkan tidak semua perilaku 3M dilaksanakan dengan baik terutama mengubur kaleng atau benda bekas dan penggunaan obat nyamuk yang beresiko cukup banyak terutama jenis bakar atau Listrik. Perilaku yang di dasari pengetahuan, sifatnya akan lebih langgeng dibanding dengan yang tidak didasari oleh pengetahuan . ayan Bahtiar, 2. Pengetahuan tentang DBD adalah informasi tentang Demam Berdarah Dengue yang diperoleh seseorang Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Informasi tentang DBD yang diperoleh meliputi pengertian demam berdarah dengue, penyebab, tanda dan gejala, penularan, pencegahan, penatalaksanaan dan faktor resiko DBD (Rohmah et al. Penelitian ini mengetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat dengan perilaku pencegahan pada kejadian Demam berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Kediri I tahun METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasi dengan penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square untuk mengetahui hubungan yang signifikat antara masing-masing variabel independent dengan variabel Nilai yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen adalah p value. Jika nilai p value 0,05 maka hubungan yang diteliti bermakna sebaliknya jika 0,05 berarti hubungan tidak bermakna antara variabel yang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil menggunakan uji chi square seperti dapat diketahui bahwa hasil koefisien kolerasi sebesar 0,005 artinya tingkat kolerasi antar hubungan tinggi . Nilai signifikan didapatkan hasil P- value . <0,05. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Masyarakat et al. yang berjudul Pengetahuan. Sikap. Dan Perilaku Masyarakat Dalam Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Di Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen menunjukkan bahwa masyarakat penyakit DBD kurang yang berjumlah e-ISSN : x-x 219 responden dengan presentase . ,5%). Dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh responden mempunyai perilaku pencegahan penyakit DBD Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar masyarakat yang tinggal di desa belum sepenuhnya melakukan praktek kesehatan dengan baik. Dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat yang memiliki genangan air di depan maupun samping rumah, serta rumah yang berdekatan dengan pepohonan yang tinggi serta ada beberapa rumah warga yang memiliki ternak sapi. Hal ini yang menyebabkan penularan penyakit dapat dengan cepat Responden yang memiliki pendidikan tinggi tetapi praktek perilaku pencegahan penyakit DBD masih kurang meski mereka yang berpendidikan tinggi mampu menyerap dan memahami informasi-informasi mengenai kesehatan. Menurut Hairil pengetahuan yang baik tidak selalu menunjukkan perilaku yang baik pula (Los, n. Dalam usaha melakukan pencegahan penyakit DBD ada beberapa peranan yang dapat mempengaruhi usaha tersebut, salah satunya yaitu kondisi Kondisi lingkungan sangat berpengaruh dengan timbulnya suatu Kondisi lingkungan yang penduduknya sangat padat, pengolahan sampah yang tidak dilakukan dengan baik serta terdapatnya genangangenangan air di sekitar rumah dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit DBD. Pencegahan penyakit yang dilakukan di masyarakat biasanya berupa fogging ynag dilakukan dengan pertumbuhan nyamuk di tempat-tempat yang biasa digunakan nyamuk untuk berkembang biak (Bian, 2. Fogging ini dilakukan menggunakan cairan insektisida yang partikelnya dapat Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 membunuh nyamuk dengan seketika (Ridho et al. , 2. SIMPULAN Dalam penelitian ini dikatakan bahwa perilaku pencegahan pada kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Kediri I. REFERENSI