E-ISSN: 2809-8544 KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU INSTRUCTIONAL LEADERSHIP IN IMPROVING TEACHERS' PROFESSIONAL COMPETENCE Ayi Najmul Hidayat1*. Nikmatul Khoiriyah2. Saofanita3. Fitria Sukmawati Kusnadi4 Universitas Islam Nusantara. Indonesia *Email Correspondence: ayinajmul@gmail. Abstract The instructional leadership of the principal plays a crucial role in guiding and directing teachers to improve their professional competence in line with the demands of educational development. However, in practice, there are still teachers who have not fully demonstrated optimal abilities in designing and implementing effective learning. The purpose of this study is to analyze how the principalAos instructional leadership functions as both a role model and a trainer. This study employed a qualitative approach using the case study method. Interviews with the principal revealed that various activities have been implemented as part of instructional leadership practices, such as learning supervision, internal training (In-House Trainin. , lesson study, and the dissemination of best practices through learning communities. The principal also actively involves teachers in planning these programs through discussion forums. This involvement strengthens the relevance of the programs to the actual needs of teachers, as they are based on reflections from the previous yearAos teacher performance assessments. Based on the findings, it can be concluded that the principalAos instructional leadership at SMP Negeri 1 Bojongsoang has had a positive impact on improving teachersAo professional competence. Keywords: Instructional Leadership. Principal. Teacher Professional Competence. Abstrak Kepemimpinan Instruksional kepala sekolah berperan penting dalam membimbing dan mengarahkan guru agar mampu meningkatkan kompetensi profesionalnya sesuai tuntutan perkembangan Namun yang terjadi, masih ada guru-guru yang belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan maksimal dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kepemimpinan instruksional kepala sekolah sebagai role model dan trainer. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan metode yang digunakan adalah studi kasus. Hasil wawancara dengan kepala sekolah menunjukkan bahwa berbagai bentuk kegiatan telah diterapkan sebagai bagian dari praktik kepemimpinan instruksional, seperti supervisi pembelajaran, pelatihan internal (In House Trainin. , lesson study, hingga diseminasi praktik baik oleh komunitas belajar. Kepala sekolah juga secara aktif melibatkan guru dalam perencanaan program-program tersebut melalui forum diskusi. Keterlibatan ini memperkuat relevansi antara program dengan kebutuhan nyata guru, karena didasarkan pada refleksi penilaian kinerja guru tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah di SMP Negeri 1 Bojongsoang memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi profesional guru. Kata kunci: Kepemimpinan Instruksional. Kepala Sekolah. Kompetensi Profesional Guru. PENDAHULUAN Guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Namun demikian, peningkatan kompetensi profesional guru tidak akan optimal tanpa adanya dukungan dari kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Salah satu model kepemimpinan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. yang efektif dalam membantu peningkatan kompetensi guru adalah kepemimpinan Menurut Daresh dalam (Kartika, 2. Aukepala sekolah sebagai instructional leader harus menjalankan dua peran utama: role model dan trainer. Sebagai role model, kepala sekolah harus meneladani etos kerja, komitmen, dan profesionalisme dalam praktik seharihari. Sebagai trainer, kepala aktif memberikan pelatihan, mentoring, dan pendampingan langsung kepada guru, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran dan daya saing profesional guru di sekolahAy. Menurut Philip dalam (Farid, 2. kepemimpinan instruksional telah menjadi fokus utama dalam menghadapi inovasi dan dinamika perubahan di dunia pendidikan. Kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan instruksional dapat meningkatkan komitmen guru dalam proses pembelajaran. Menurut Yan Liu et al dalam (Rismawati, 2. , kepemimpinan instruksional mendorong dukungan timbal balik dan kolaborasi di antara para guru. Berdasarkan pengamatan awal di beberapa sekolah dasar dan menengah, ditemukan bahwa kompetensi profesional guru belum sepenuhnya optimal. Beberapa guru masih menghadapi kesulitan dalam merancang perangkat pembelajaran, memilih metode yang tepat, serta memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang dilakukan di SMP MaAoarif 2 NU Mataram Baru, ditemukan bahwa pelaksanaan tugas guru dalam proses pembelajaran masih belum optimal sepenuhnya. Beberapa guru masih menunjukkan keterbatasan dalam merancang pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa, serta dalam penerapan metode pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dan arahan kepala sekolah dalam membentuk kepemimpinan instruksional masih perlu ditingkatkan, agar guru dapat lebih termotivasi untuk mengembangkan kemampuan profesional mereka sesuai tuntutan kurikulum. Lemahnya kemampuan refleksi dan pengembangan diri juga menjadi hambatan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Hal ini diperkuat oleh studi yang menunjukkan masih banyak guru yang belum mengikuti pelatihan lanjutan maupun kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan kompetensi profesional guru. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Aslam et al. , 2. , peran kepemimpinan instruksional kepala sekolah sangat dominan dalam meningkatkan kinerja mengajar guru, karena pada hakikatnya kepemimpinan instruksional atau kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang berhubungan langsung dengan proses pembelajaran, satu hal yang paling menonjol adalah visi dan misi yang harus diwujudkan melalui kegiatan proses Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Putri Anggraeni ditemukan bahwa, lemahnya kepemimpinan instruksional dan PLC yang belum terbentuk memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja guru yang pada akhirnya berdampak pada pembelajaran yang kurang efektif di MA (Anggraeni, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Werdiningsih et al. , 2. menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah dan kompetensi professional berpengaruh terhadap kinerja guru sebesar 78,4%. Oleh kerena itu, disarankan agar kepala sekolah secara aktif memberikan pembinaan, arahan, serta SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. melakukan refleksi, evaluasi, dan kinerjanya. Selain itu guru juga diharapkan mengikuti pelatihan maupun seminar supaya untuk mengembangkan kompetensi professional dan mendukung peningkatan kinerja mereka di sekolah. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMPN 1 Bojongsoang, diketahui bahwa kepala sekolah telah berupaya menerapkan kepemimpinan instruksional melalui berbagai kegiatan, seperti memberikan arahan rutin kepada guru, melaksanakan supervisi pembelajaran, dan mendorong guru untuk mengikuti pelatihan atau kegiatan pengembangan Namun demikian, sebagian guru masih memerlukan pendampingan lebih intensif dalam aspek penguasaan materi ajar, pemanfaatan media pembelajaran digital, serta pengembangan model pembelajaran aktif di kelas. Berdasarkan uraian di atas, peneliti berencana melakukan penelitian dengan judul: AuKepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru di SMP Negeri 1 Bojongsoang Kabupaten Bandung. Ay Penelitian ini akan mengkaji bagaimana kepala sekolah berperan sebagai role model dan trainer dalam membina guru, serta upaya-upaya strategis yang dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru melalui pendekatan kepemimpinan instruksional. TINJAUAN PUSTAKA Kepemimpinan Instruksional Menurut Kementerian Pendidikan Nasional dikutip (Lahiya, 2. menjelaskan bahwa kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, assesmen . enilaiaian hasil belaja. , penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Sementara menurut Sergiovani dalam (As-Shidqi, 2. mendefinisikan kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang focus langsung pada proses belajara mengajar, peningkatan prestasi siswa, kurikulum dan penilaian, serta pengembangan program pembelajaran. Kolzow et al dalam (Waluyo, 2. melaporkan kepemimpinan instruksional sebagai semua upaya yang bertujuan untuk mendorong dan mendukung pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran dan pengajaran agar mampu mencapai tujuan sekolah, sekaligus membangun sistem sosial yang kokoh di lingkungan sekolah. Adapun Sisman dalam (Arifudin, 2. mendefinisikan kepemimpinan instruksional sebagai kemampuan dan perilaku yang dimanfaatkan oleh pemimpin sekolah, guru, serta pengawas untuk memengaruhi individu dan situasi di lingkungan sekolah. Hal yang paling membedakan kepemimpinan instruksional dari bentuk kepemimpinan pendidikan lainnya adalah fokus utamanya pada proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah. Berdasarkan pengertian dari Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional di atas, dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional merupakan kepemimpinan instruksional itu adalah kepemimpinan yang fokus pada proses dan hasil belajar siswa melalui pemberdayaan guru secara profesional. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Guru Menurut Athiyah Al-Abrasy dalam (Judijanto, 2. , guru adalah Spiritual Father atau bapak rohani bagi seorang murid, ialah yang memberikan santapan ilmu jiwa dengan ilmu pendidikan akhlak yang membenarkannya, maka menghormati guru merupakan penghormatan terhadap anak-anak kita, dengan begitu ia hidup dan berkembang sekiranya setiap guru itu menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Menurut Ngainun Naim dalam (Arifudin, 2. menjelaskan bahwa guru adalah sosok yang telah rela mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengajar dan mendidik siswa. Menurut E. Mulyasa dalam (Arifudin, 2. bahwa guru adalah pendidik,yang menjadi tokoh panutan, dan identifikasi bagi peran peserta didik, dan lingkungannya. Menurut tokoh yang sudah tak asing lagi bagi bangsa Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara dikutip (Supriani, 2. mengatakan bahwasanya seorang guru adalah orang yang mampu mendidik, maksudnya yakni sanggup menuntun segala kekuatan yang ada pada diri anak didik agar mereka menjadi manusia yang handal dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Berdasarkan berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa guru merupakan orang yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada orang lain yang sering disebut dengan peserta didik. Seorang guru dalam kesehariannya memiliki beberapa tugas sekaligus yakni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi. Kompetensi Profesional Alma dalam (Juhji, 2. menjelaskan bahwa Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, serta metode dan tehnik mengajar yang sesuai dan dipahami oleh peserta didik, dan tidak menimbulkan kesulitan dan Kompetensi profesional menuntut setiap guru untuk menguasai materi yang diajarkan termasuk langkah-langkah yang perlu diambil guru dalam memperdalam penguasaan bidang studi yang diampunya. Adapun menurut Erviana et al dalam (Kurniawan, 2. bahwa Kompetensi profesional merupakan kemampuan pendidik yang meliputi penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga memungkinkannya untuk membimbing peserta didik guna memperoleh kompetensi yang telah ditetapkan, penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan, serta penguasaan proses-proses kependidikan. Kompetensi profesional menurut Ambros Leonangung dalam (Apiyani, 2. adalah kemampuan guru menguasai bidang ilmu pengetahuan, tekhnologi, seni dan budaya yang Hal tersebut senada dengan Ahmad Susanto dalam (Djafri, 2. yang mengatakan bahwa kompetensi profesional adalah keahlian dan kewenangan dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional guru merupakan kemampuan, keahlian dan kepercayaan pada seseorang yang memegang dan memberikan mata pelajaran disekolah dalam menumbuhkan dan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. mengembangkan potensi peserta didik sehingga peserta didik terdorong untuk memahami dan menguasai materi pelajaran. METODE Menurut Rahardjo dikutip (Arifudin, 2. bahwa metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencari kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Oleh karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada. Budiharto dikutip (Noviana, 2. bahwa pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan penelitian yang sedang dilakukan agar hasilnya optimal. Penelitian ini terkait dengan Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa metode studi kasus. Studi kasus menurut Nursalam dalam (Arifudin, 2. adalah merupakan penelitian yang mencakup pengkajian bertujuan memberikan gambaran secara mendetail mengenai latar belakang, sifat maupun karakter yang ada dari suatu kasus, dengan kata lain bahwa studi kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Penelitian dalam metode dilakukan secara mendalam terhadap suatu keadaan atau kondisi dengan cara sistematis mulai dari melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis informasi dan pelaporan hasil. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Tanjung, 2. menyatakan pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut (Nuryana, 2. bahwa caranya dengan mentranskripsikan data, kemudian pengkodean pada catatan-catatan yang ada di lapangan dan diinterpretasikan data tersebut untuk memperoleh kesimpulan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. Menurut (Suryana, 2. bahwa pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis mengenai Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Sehingga dengan metode tersebut akan mampu menjelaskan permasalahan dari penelitian (Wahrudin, 2. Bungin dikutip (Zaelani, 2. menjelaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan situasi, kondisi, atau fenomena sosial yang terdapat di masyarakat kemudian dijadikan sebagai objek penelitian, dan berusaha menarik realitas ke permukaan sebagai suatu mode atau gambaran mengenai kondisi atau situasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Penentuan teknik pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi. Wawancara dan Dokumentasi. Teknik dapat dilihat sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan teknis dengan hatihati menggunakan pikiran untuk mencapai tujuan. Walaupun kajian sebenarnya merupakan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. upaya dalam lingkup ilmu pengetahuan, namun dilakukan untuk mengumpulkan data secara realistik secara sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Metodologi penelitian adalah sarana untuk menemukan obat untuk masalah apa pun. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan informasi tentang analisis Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru, artikel, jurnal, skripsi, tesis, ebook, dan lainlain (Iskandar, 2. Karena membutuhkan bahan dari perpustakaan untuk sumber datanya, maka penelitian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan. Peneliti membutuhkan buku, artikel ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan topik dan masalah yang mereka jelajahi, baik cetak maupun online (As-Shidqi, 2. Mencari informasi dari sumber data memerlukan penggunaan teknik pengumpulan Amir Hamzah dalam (Rusmana, 2. mengklaim bahwa pendataan merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diteliti. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengumpulkan data. Secara khusus, penulis memulai dengan perpustakaan untuk mengumpulkan informasi dari buku, kamus, jurnal, ensiklopedi, makalah, terbitan berkala, dan sumber lainnya yang membagikan pandangan Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Lebih lanjut Amir Hamzah mengatakan bahwa pengumpulan data diartikan berbagai usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan topik atau pembahasan yang sedang atau akan digali (Sofyan, 2. Rincian tersebut dapat ditemukan dalam literatur ilmiah, penelitian, dan tulisan-tulisan ilmiah, disertasi, tesis, dan sumber tertulis lainnya. Menurut (Supriani, 2. bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, menggunakan sumber yang berbeda, dan menggunakan teknik yang berbeda. Observasi adalah bagian dari proses penelitian secara langsung terhadap fenomenafenomena yang hendak diteliti (Syofiyanti, 2. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian (Afifah, 2. Halhal yang diamati dalam penelitian ini adalah tentang analisis Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Teknik wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan berbagai pedoman baku yang telah ditetapkan, pertanyaan disusun sesuai dengan kebutuhan informasi dan setiap pertanyaan yang diperlukan dalam mengungkap setiap data-data empiris (Supriani, 2. Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui dokumen atau catatan-catatan tertulis yang ada (Aidah, 2. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notula rapat, dan catatan Menurut Moleong dalam (Zulfa, 2. bahwa metode dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi atau data-data melalui pengujian arsip dan dokumen-dokumen. Lebih lanjut menurut bahwa strategi dokumentasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang diajukan kepada subyek penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan lembaga . byek SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. yaitu analisis Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Moleong dikutip (Delvina, 2. menjelaskan bahwa data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun Syarifah et al dalam (Nasril, 2. menjelaskan reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang relevan, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi yang sistematis, dan kesimpulan ditarik berdasarkan temuan penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yakni membandingkan informasi dari para narasumber. Menurut Moleong dalam (Romdoniyah, 2. , triangulasi sumber membantu meningkatkan validitas hasil penelitian dengan membandingkan berbagai perspektif terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Muhadjir dalam (Nita, 2. menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan melakukan, mencari dan menyusun catatan temuan secara sistematis melalui pengamatan dan wawancara sehingga peneliti fokus terhadap penelitian yang dikajinya. Setelah itu, menjadikan sebuah bahan temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, dan menyajikannya. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi meliputi teknik dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dalam (Kartika, 2. terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru melalui praktik kepemimpinan instruksional di SMP Negeri 1 Bojongsoang. Kabupaten Bandung. Fokus utama penelitian ini mencakup tiga aspek: . bagaimana kepala sekolah berperan sebagai role model bagi guru dan warga sekolah, . bagaimana kepala sekolah menjalankan peran sebagai trainer dalam membina serta mengembangkan profesionalisme guru, dan . berbagai kesulitan yang dihadapi kepala sekolah beserta strategi solusi yang diterapkan untuk mengatasinya. Melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, diperoleh data yang menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah berperan signifikan terhadap peningkatan profesionalisme guru, terutama dalam aspek kedisiplinan, inovasi pembelajaran, serta penguasaan teknologi pendidikan. Kepala Sekolah sebagai Role Model Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah SMP Negeri 1 Bojongsoang telah memerankan dirinya sebagai figur teladan . ole mode. bagi guru dan seluruh warga sekolah. Peran keteladanan ini tercermin dalam empat nilai utama: integritas, kejujuran, konsistensi, dan kredibilitas. Integritas dan Kejujuran Integritas kepala sekolah tampak dalam kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Setiap kebijakan yang diucapkan selalu diikuti dengan implementasi nyata di lapangan, sehingga menciptakan kepercayaan dan rasa hormat dari guru serta staf sekolah. Kepala sekolah juga menjunjung tinggi nilai kejujuran, baik dalam penyampaian informasi SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. terkait program sekolah, penggunaan anggaran, maupun evaluasi kinerja guru. Transparansi ini menumbuhkan suasana kerja yang terbuka dan menekan potensi konflik Konsistensi dan Kredibilitas Konsistensi dalam sikap dan kebijakan menjadi dasar penting dalam membangun kepercayaan guru terhadap pimpinan. Kepala sekolah tidak mudah mengubah arah kebijakan secara mendadak, melainkan mempertahankannya hingga tuntas dengan evaluasi berkelanjutan. Kredibilitas kepala sekolah semakin kokoh melalui sikap adil dan profesional, terutama dalam memberikan kesempatan yang setara bagi semua guru untuk Selain menunjukkan nilai-nilai moral tersebut, kepala sekolah juga menampilkan komitmen dan tanggung jawab tinggi terhadap kemajuan sekolah. Ia proaktif dalam menyelesaikan persoalan, menghadirkan inovasi sederhana seperti pembelajaran berbasis proyek, serta menginisiasi kolaborasi lintas mata pelajaran untuk memperkaya praktik Menurut Mulyasa . alam Abduloh et al. , 2. , kepala sekolah sebagai educator wajib memiliki strategi efektif untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, di antaranya melalui penciptaan iklim sekolah yang kondusif, pemberian motivasi, serta penerapan model pembelajaran yang inovatif. Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan tersebut, bahwa keteladanan kepala sekolah merupakan fondasi utama dalam membentuk budaya kerja profesional dan kolaboratif di lingkungan sekolah. Kepala Sekolah sebagai Trainer Selain menjadi teladan, kepala sekolah juga menjalankan fungsi strategis sebagai trainer atau pembina utama bagi guru. Peran ini diwujudkan dalam bentuk kegiatan pembinaan, pendampingan, dan pelatihan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru. Pelatihan Internal dan Pendampingan Kepala sekolah secara rutin menyelenggarakan in-house training yang menitikberatkan pada inovasi metode pembelajaran dan pemanfaatan teknologi pendidikan. Pelatihan tersebut mencakup topik seperti strategi student-centered learning, penggunaan media digital (Canva. Google Form. Kahoo. , serta pengembangan asesmen autentik. Selain itu, kepala sekolah juga melakukan pendampingan langsung kepada guru di kelas, memberikan umpan balik setelah observasi, dan memotivasi guru untuk memperbaiki kualitas pengajaran. Supervisi Akademik dan Monitoring Peran kepala sekolah sebagai supervisor akademik terlihat dari upaya pemantauan proses pembelajaran secara sistematis. Kepala sekolah tidak hanya mengamati pelaksanaan pembelajaran, tetapi juga mengkaji perangkat ajar, silabus, dan RPP untuk memastikan kesesuaian dengan kurikulum. Monitoring dilakukan secara berkesinambungan, dengan laporan perkembangan setiap semester, sehingga proses evaluasi menjadi lebih terarah. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Temuan lapangan menunjukkan bahwa kepala sekolah juga memanfaatkan forum lesson study sebagai sarana refleksi kolektif guru. Melalui forum ini, guru bersama kepala sekolah mendiskusikan tantangan pembelajaran, saling berbagi praktik baik, dan menyusun perbaikan strategi mengajar. Pendekatan partisipatif ini memperkuat budaya belajar sepanjang hayat di kalangan guru. Pandangan ini senada dengan Purwanto . alam Nuary, 2. , yang mengemukakan bahwa seorang kepala sekolah berperan sebagai pelaksana, perencana, ahli, motivator, sekaligus coach bagi bawahannya. Kepala sekolah yang mampu memadukan peran tersebut akan lebih efektif dalam menumbuhkan profesionalisme guru. Kesulitan yang Dihadapi Kepala Sekolah Meski telah berupaya maksimal, kepala sekolah tetap menghadapi sejumlah kendala dalam mengimplementasikan kepemimpinan instruksional. Hasil wawancara dan observasi mengidentifikasi empat kesulitan utama: Rendahnya motivasi sebagian guru Sebagian guru menunjukkan antusiasme rendah dalam mengikuti pelatihan atau program pengembangan diri. Hal ini disebabkan oleh beban administrasi, kurangnya minat terhadap inovasi, serta persepsi bahwa pelatihan tidak selalu relevan dengan kebutuhan Keterbatasan penguasaan teknologi Transisi pembelajaran ke arah digital masih menjadi tantangan besar. Beberapa guru mengalami kesulitan dalam mengoperasikan aplikasi pembelajaran atau mengintegrasikan teknologi ke dalam metode mengajar. Minimnya variasi metode pembelajaran Sebagian guru masih cenderung menggunakan metode ceramah konvensional. Kurangnya kreativitas dalam mengelola kelas mengakibatkan pembelajaran terasa monoton dan kurang interaktif. Terbatasnya waktu pembinaan kepala sekolah. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab administratif yang padat, sehingga waktu untuk melakukan pembinaan personal kepada setiap guru menjadi terbatas. Kendala-kendala tersebut sejalan dengan temuan Mujtahid . alam Kartika, 2. yang menegaskan bahwa kepala sekolah memiliki tanggung jawab besar terhadap keberhasilan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, efektivitas kepemimpinan instruksional sangat bergantung pada kemampuan kepala sekolah dalam mengelola waktu, memotivasi guru, serta mengatasi resistensi terhadap perubahan. Lebih lanjut. William . alam Mukarom, 2. menyatakan bahwa perilaku kepemimpinan kepala sekolah merupakan determinan utama dalam pencapaian tujuan Dengan kata lain, keberhasilan program pengembangan profesional guru tidak dapat dilepaskan dari kualitas kepemimpinan kepala sekolah. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Solusi yang Diterapkan Kepala Sekolah Untuk menghadapi tantangan tersebut, kepala sekolah di SMP Negeri 1 Bojongsoang menerapkan beberapa solusi strategis yang bersifat adaptif dan kontekstual. Strategi ini meliputi aspek motivasional, teknis, dan manajerial, sebagaimana dijelaskan berikut: Peningkatan Motivasi dan Pemberian Penghargaan Kepala sekolah memberikan penghargaan kepada guru yang aktif mengikuti pelatihan, baik berupa sertifikat, apresiasi terbuka, maupun kesempatan menjadi narasumber Penghargaan ini menumbuhkan kompetisi positif di antara guru dan meningkatkan partisipasi dalam program pengembangan diri. Pelatihan Internal Berbasis Kebutuhan Kepala sekolah mengadakan pelatihan internal terkait pemanfaatan teknologi pembelajaran, pembuatan media interaktif, serta manajemen kelas digital. Pelatihan disusun berdasarkan hasil supervisi dan masukan guru, sehingga relevan dengan kondisi riil di lapangan. Mendorong Partisipasi Eksternal Guru didorong untuk mengikuti pelatihan eksternal seperti workshop dinas pendidikan, webinar nasional, atau kegiatan guru penggerak. Kepala sekolah memfasilitasi izin, biaya transportasi, serta waktu belajar agar guru dapat berpartisipasi aktif. Pendampingan dan Supervisi Rutin Kepala sekolah memperkuat fungsi supervisi akademik dengan menjadwalkan pendampingan rutin, terutama bagi guru yang menghadapi kesulitan di kelas. Pendekatan yang digunakan bersifat coaching dan mentoring, bukan sekadar penilaian administratif. Optimalisasi Sarana Prasarana Sekolah. Kepala sekolah mengupayakan pemanfaatan laboratorium komputer, smart classroom, dan jaringan internet sekolah sebagai fasilitas utama dalam pembelajaran berbasis digital. Solusi-solusi tersebut menggambarkan kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan guru. Pidarta . alam Kusmawan, 2. menegaskan bahwa seorang manajer pendidikan harus memiliki tiga keterampilan utama: keterampilan konseptual, manusiawi, dan teknis. Kepala sekolah di SMP Negeri 1 Bojongsoang menunjukkan ketiga keterampilan tersebut melalui perencanaan program yang visioner . , pendekatan interpersonal yang persuasif . , dan kemampuan teknis dalam mendukung pembelajaran digital . Senada dengan itu. Mulyasa . alam Ramli, 2. menambahkan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah mereka yang mampu memberdayakan tenaga pendidikan dan mendayagunakan sumber daya sekolah secara optimal. Dalam konteks penelitian ini, kepala sekolah mampu mengintegrasikan seluruh potensi yang dimiliki sekolah untuk mencapai tujuan peningkatan profesionalisme guru. Dampak Kepemimpinan Instruksional terhadap Profesionalisme Guru Berdasarkan hasil penelitian, kepemimpinan instruksional kepala sekolah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan profesionalisme guru. Dampak tersebut meliputi: Peningkatan Kompetensi Pedagogik SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Guru lebih memahami strategi pembelajaran aktif dan mampu menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik peserta didik. Peningkatan Kompetensi Profesional Guru lebih menguasai materi ajar dan mampu mengaitkannya dengan konteks kehidupan Pemanfaatan Teknologi Guru menjadi lebih percaya diri menggunakan media digital dalam proses pembelajaran. Penguatan Etos Kerja Guru meneladani disiplin, komitmen, dan semangat belajar kepala sekolah, sehingga muncul budaya profesional yang kuat. Guru-guru menyatakan bahwa praktik seperti lesson study dan pelatihan internal memberi dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Mereka merasakan bahwa kepala sekolah tidak hanya memimpin secara struktural, tetapi juga hadir sebagai mentor dan inspirator. Wakil kepala sekolah menambahkan bahwa budaya kerja positif yang terbentuk di sekolah tidak terlepas dari keteladanan kepala sekolah. Praktik sapa pagi, pembinaan rutin, dan partisipasi kepala sekolah dalam kegiatan guru menciptakan hubungan yang egaliter dan sinergis antara pimpinan dan staf. Sintesis Pembahasan Jika dikaji dari perspektif teori kepemimpinan instruksional, kepala sekolah SMP Negeri 1 Bojongsoang telah memenuhi tiga domain utama sebagaimana dikemukakan oleh Hallinger dan Murphy . , yaitu: Menetapkan arah pembelajaran melalui perencanaan program pengembangan guru berbasis kebutuhan. Mengelola kurikulum dan pengajaran dengan memastikan implementasi pembelajaran yang efektif dan terukur. Menciptakan iklim pembelajaran yang positif melalui keteladanan, komunikasi terbuka, dan budaya kolaboratif. Pencapaian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional yang dijalankan kepala sekolah berperan strategis dalam membangun ekosistem belajar yang produktif. Melalui pendekatan humanistik dan partisipatif, kepala sekolah mampu menumbuhkan semangat kolektif untuk terus belajar dan berinovasi. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah di SMP Negeri 1 Bojongsoang Kabupaten Bandung telah melaksanakan peran kepemimpinan instruksional secara optimal dalam meningkatkan kompetensi profesional guru. Kepala sekolah berperan sebagai role model dan trainer yang mampu memberikan teladan, pembinaan, dan motivasi kepada guru dalam pelaksanaan tugasnya. Meskipun dihadapkan pada beberapa kesulitan seperti rendahnya motivasi guru dan keterbatasan penguasaan teknologi, kepala sekolah SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU Ayi Najmul Hidayat et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. mampu mengatasinya melalui pelatihan, pendampingan, supervisi, serta optimalisasi sarana pembelajaran yang tersedia di sekolah. Saran Sekolah perlu memastikan bahwa seluruh program peningkatanm kompetensi guru, seperti pelatihan internal, lesson study, dan kegiatan komunitas belajar, dijalankan secara terstruktur dan konsisten. Sekolah juga perlu menyediakan sarana dan waktu yang memadai agar guru dapat fokus pada pengembangan diri tanpa terbebani beban administratif yang berlebihan. Lingkungan kolaboratif antarwarga sekolah juga harus terus diperkuat untuk menumbuhkan budaya belajar yang sehat. Kepala sekolah disarankan untuk terus memainkan peran sebagai pemimpin instruksional dengan lebih strategis dan terencana. Selain menjadi teladan dalam hal kedisiplinan dan profesionalisme, kepala sekolah perlu memastikan bahwa setiap kegiatan pembinaan guru dilandasi pada kebutuhan nyata di lapangan. Perlu juga dilakukan dokumentasi dan refleksi rutin atas setiap program agar perbaikannya bersifat Guru didorong untuk bersikap terbuka dan proaktif dalam mengikuti setiap program peningkatan kompetensi yang disediakan. Guru juga perlu membangun kebiasaan reflektif atas praktik mengajar mereka dan berkolaborasi secara aktif dengan rekan sejawat dalam komunitas belajar. Pemanfaatan teknologi pembelajaran hendaknya terus dikembangkan untuk menjawab tantangan pembelajaran abad 21. DAFTAR PUSTAKA