JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1946 - 1953 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Fara Nisa1A. Kuncahyono2 Pedagogi. Universitas Muhammadiyah Malang. Indonesia1,2 E-mail: faranisa1994@gmail. com1, kuncahyono@umm. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan nilai jujur pada kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Watahan (HW) yang ada di sekolah dan menganalisis faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan karakter jujur. Hasil penelitian diharapkan memberikan bukti nyata dalam memandu pembina kepanduan dalam memperkuat nilai kejujuran di lingkungan sekolah berbasis pondok pesantren modern. Metode yang digunakan dalam penelutian ini yaitu deskriptif kualitatif studi kasus. Tempat penelitian di SMP Muhammadiyah kota Madiun. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesantrian, dan pembina HW. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik Miles dan Hubermann dengan tahapan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan terdapat empat kegiatan yang menunjang terbentuknya karakter jujur bagi pandu HW. Kegiatan tersebut dikemas dan diterapkan saat ekstrakurikuler di sekolah seperti penilaian kenaikan tingkat, serta kegiatan yang diadakan kwarda HW kota Madiun yang pelaksanaanya di luar sekolah tetapi masih di area kota Madiun. Faktor pendukung terbentuknya karakter jujur pada setiap kegiatan eksrakurikuler HW di SMP MBS Prof Hamka Madiun antara lain: . Lingkungan islami yang mendukung. Keteladanan pembina HW atau guru mata . Kegiatan kepanduan dan kode kehormatan HW. Kata Kunci: karakter, jujur. Hizbul Wathan Abstract This study aims to describe the application of honesty values in extracurricular Hizbul Wathan (HW) and to analyze the supporting and inhibiting factors in the application of these honest character traits. The results of this research are expected to provide useful evidence to guide scout leaders in strengthening the value of honesty in a modern Islamic boarding school environment. The research method uses the descriptive qualitative case The research was conducted at SMP MBS Prof. Hamka Madiun. The research subjects were the principal, the vice principal in charge of student affairs, and the HW coach. Data was collected through interviews, observation, and documentation. Data analysis used the Miles and Hubermann technique with the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the study show that there are fouractivities that support the formation of honest character, including: . AMSABAH or Amanat Muhasabah activities. Baitul Maal HW. Social Issue Debate Competition. Level Assessment. Supporting factors for the formation of honest character in every HW extracurricular activity at SMP MBS Prof. Hamka Madiun include: . A supportive Islamic environment. Promotion Assessment. The supporting factors for the formation of honest character in each HW extracurricular activity at SMP MBS Prof. Hamka Madiun include: . A supportive Islamic . The exemplary behavior of HW advisors or subject teachers. HW scouting activities and code of honor. Keywords: character, honest. Hizbul Wathan Copyright . 2025 Fara Nisa. Kuncahyono A Corresponding author : Email : faranisa1994@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1947 Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Ae Fara Nisa. Kuncahyono DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan karakter telah menjadi agenda utama dalam sistem pendidikan nasional, terutama sebagai upaya membentuk generasi yang memiliki integritas moral di tengah tantangan disrupsi digital dan informasi (Afif et al. , 2. Regulasi utama yang mendasari agenda ini adalah Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) (Perpres No 87, 2. Dalam peraturan ini, pemerintah mengatur dan menekankan pentingnya integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum serta keterlibatan tri pusan pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pentingnya nilai-nilai karakter dalam setiap aspek pendidikan juga diperkuat melalui kebijakan Nawa Cita, yang berfungsi sebagai nilai inti dalam kebijakan pendidikan yang dicanangkan pemerintah(Rohaya et al. , 2. Penerapan karakter jujur tidak hanya merujuk pada kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, tetapi juga menjadi dasar bagi pembentukan sikap tanggung jawab dan amanah (Nurfaizah & Romlah, 2. Meningkatnya isu ketidakjujuran, seperti plagiarisme dan korupsi yang marak diberitakan, menegaskan urgensi bagi lembaga pendidikan untuk secara serius menanamkan nilai kejujuran secara berkelanjutan (Andryadi et al. , 2. Penanaman karakter yang efektif membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, bukan hanya melalui pembelajaran yang disampaikan di kelas. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi sebagai laboratorium moral dan sosial, memberikan kesempatan siswa untuk mempraktikkan dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter dalam situasi nyata (Ningsih & Rohita, 2. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kegiatan kepanduan terbukti efektif dalam menumbuhkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kejujuran pada peserta didik melalui aktivitas terstruktur dan berbasis pengalaman (Ristiyani, 2. Karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari (Ermalis, 2. Pendidikan karakter adalah suatu proses sistematis yang melibatkan penanaman nilai-nilai moral dan etika yang harus menjadi fondasi dalam pembelajaran (Sidik, 2. Penanaman nilai-nilai karakter harus dimulai sejak dini dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, dan komunitas, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan karakter, terutama nilai jujur (Fuad, 2. Kejujuran sebagai nilai moral yang sangat penting, mencakup aspek ucapan, sikap, tindakan, dan ketulusan dalam berinteraksi dengan orang lain. Pondok pesantren menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang kondusif dan efektif untuk menerapkan karakter jujur (Tamsir, 2. Pesantren atau boarding school, sebagai lembaga pendidikan yang kental dengan nilai-nilai spiritual, memiliki potensi besar untuk menanamkan dan menginternalisasi kejujuran sebagai bagian dari karakter santri (Suci Ramadani & Ainur Rofiq Sofa, 2. Dalam penelitian oleh (Lamadang et al. , 2. , pendidikan karakter di pondok pesantren juga terlihat dalam kegiatan keagamaan yang mengajarkan kejujuran dan integritas, di mana santri diajarkan untuk memahami dan mengamalkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Lamadang et al. , 2. Hal ini sejalan dengan pandangan Prof. Samani bahwa pendidikan karakter memerlukan pembiasaan nilai-nilai ikhlas dan tulus dalam Perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya adalah urgensi lingkungan berbasis pondok pesantren modern dan kaitannya dengan kejujuran siswanya. Gerakan kepanduan HW merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti di sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan merupakan salah satu sarana penting untuk membentuk karakter berdasarkan nilai-nilai Islam serta semangat kebangkitan Aydapat dipercayaAy yang secara langsung mengacu pada kejujuran dan amanah (HW, 2. Implementasi pendidikan karakter melalui HW dilakukan melalui aksi pembiasaan . abitual actio. , keteladanan pendidik, penugasan, dan kegiatan di luar kelas yang menuntut kejujuran dalam berinteraksi dalam menyelesaikan tugas regu (Kuswanto, 2. SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prof Hamka Madiun merupakan satu-satunya sekolah jenjang SMP milik yayasan persyarikatan Muhammadiyah berbasis pondok pesantren modern yang ada di kota Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1948 Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Ae Fara Nisa. Kuncahyono DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Madiun. Sekolah ini menggabungkan kegiatan ekstrakurikuler HW sebagai bagian penting dalam membentuk karakter siswanya. Penelitian ini akan mendeskripsikan penerapan nilai jujur pada kegiatan ekstrakurikuler HW yang ada di sekolah dan menganalisis faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan karakter jujur Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan bukti nyata yang berguna dalam memandu para pembina kepanduan dalam memperkuat nilai kejujuran di lingkungan sekolah berbasis pondok pesantren METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif studi kasus. Penelitian kualitatif studi kasus dipilih karena merupakan suatu kasus kolektif, berfokus pada suatu kasus atau suatu isu . Pendekatan deskriptif digunakan dalam implementasi pendidikan karakter melalui budaya Penelitian dilaksanakan di SMP MBS Prof. Hamka Madiun yang beralamatkan di Jalan Poncowati kota Madiun. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesantrian, dan pembina HW. Teknik pemilihan subjek yaitu convenience sampling untuk menguji instrumen dengan waktu yang terbatas tetapi hasil tetap akurat. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah penerapan karakter jujur pada kegiatan ekstrakurikuler HW. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa panduan wawancara dan observasi. Wawancara semi terstruktur dilakukan dengan pertanyaan yang terstruktur yang sudah disusun peneliti. Pertanyaan terstruktur digabungkan dengan pertanyaan tambahan yang muncul secara spontan selama percakapan (Ilhami et al. , 2. Observasi dilakukan di halaman sekolah saat kegiatan HW berlangsung. Pada kegiatan ini peneliti mengamati langsung fenomena, kegiatan, atau situasi untuk memahami konteksnya secara nyata (Netrasari, 2. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang penerapan karakter jujur pada kegiatan HW. Analisis data menggunakan teknik Miles dan Hubermann dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Ketiga komponen utama yang terdapat dalam analisis data kualitatif itu harus ada dalam analisis data kualitatif. Sebab hubungan keterikatan anatara ketiga tersebut harus terus dikomparasikan untuk menentukan arahan isi kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian (Zulfirman, 2. Teknik analisis data data Miles dan Hubermann akan dijabarkan sebagai berikut: . Pengumpulan Data. Pengumpulan data adalah sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan kepada peneliti untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan (Zulfirman, 2. Data dikumpulkan melalui hasil wawancara dengan subjek penelitian saat pelaksanaan ekstrakurikuler HW. Seluruh data yang telah diperoleh di lapangan baik berupa hasil wawancara, observasi ataupun analisis sehingga dapat memunculkan deskripsi tentang penerapan karakter jujur pada kegiatan HW di SMP MBS Prof. Hamka Madiun. Reduksi Data. Reduksi data adalah proses pemilihan atau seleksi, pemusatan perhatian atau pemfokusan serta penyederhanaan dari semua jenis informasi yang mendukung data penelitian yang diperoleh dan dicatat selama proses penelitian data di lapangan (Ash-Shiddiqi et al. , 2. Pada dasarnya proses reduksi data merupakan Langkah analisis data kualitatif yang bertujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, memperjelas, dan membuat suatu fokus dengan membuang hal-hal yang kurang penting dan menyederhanakan hal-hal yang kurang penting. Saat wawancara terdapat jawaban dari subjek penelitian yang diluar topik, sehingga fokus penelitian menjadi bergeser. Pda tahap ini penulis mereduksi jawaban-jawaban yang tidak diperlukan dalam menjawab rumusan masalah penelitian. Sehingga narasi sajian dapat dipahami dengan baik, dan mengarah pada simpulan yang dapat dipertanggung jawabkan (Muliaan et al. , n. Penyajian Data. Penyajian data merupakan proses penyusunan informasi yang memberi kemungkinan adanya kesimpulan dalam penelitian kualitatif, penyajian data ini dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan sejenisnya. Dengan penyajian data ini akan memudahkan peneliti untuk memahami masalah yang terjadi dan merencanakan tindakan selanjutnya sesuai dengan yang sudah dipahami (Uin & Banjarmasin, 2. Penarikan Kesimpulan. Penarikan kesimpulan merupakan proses terakhir dari langkah-langkah yang dilakukan diatas. Penarikan kesimpulan diambil dari data yang telah dianalisis dan data Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1949 Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Ae Fara Nisa. Kuncahyono DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. yang sudah dicek berdasarkan bukti yang didapatkan di lokasi penelitian (Qomaruddin & SaAodiyah, 2. Pada langkah ini peneliti mengambil kesimpulan terkait penerapan karakter jujur pada kegiatan HW di SMP MBS Prof. Hamka Madiun. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMP MBS Prof. Hamka Madiun, penerapan karakter jujur dilaksanakan dengan berbagai kegiatan saat latihan rutin setiap hari Jumat dan kegiatan kemah besar yang disebut dengan Jambore Daerah HW kota Madiun yang digelar oleh kwartir daerah kota Madiun. Terdapat empat kegiatan yang berperan dalam pembentukan karakter jujur siswa antara lain: . Aktivitas AuAMSABAHAy atau Amanah Muhasabah. Baitul Maal HW. Lomba Debat Isu Sosial. Penilaian Kenaikan Tingkat. Hal tersebut diuraikan dalam pokok bahasan sebagai berikut: Kegiatan AuAMSABAHAy atau Amanah Muhasabah Pada kegiatan Jambore Daerah yang diadakan oleh kwartir daerah HW kota Madiun pada tanggal 18 Oktober 2025, terdapat kegiatan penjelajahan yang dikemas dengan sebutan AMSABAH atau Amanah Muhasabah. Pada kegiatan ini siswa dari SMP MBS Prof. Hamka Madiun yang kemudian disebut dengan pandu HW membuat kelompok secara acak dengan anggota kelompok yang terdiri dari kelas 10, 11, dan 12. Setiap pandu HW diberikan penugasan individu dan kelompok yaitu mencatat data sejarah perkembangan Muhammadiyah di kota Madiun, piket menjaga pos selama perkemahan, dan menyelesaikan tantangan belanja di pasar untuk menu satu kali makan dan olahan kudapan kue. Di akhir kegiatan mereka wajib membuat laporan kejujuran atau muhasabah yang mencakup pengakuan jujur atas setiap pelanggaran kecil seperti terlambat, tidak lengkapnya perlengkapan yang dibawa sesuai yang sudah ditentukan, pelaporan kondisi alat atau perlengkapan yang hilang atau rusak tanpa menyembunyikannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan pembina HW SMP MBS Prof. Hamka Madiun, penerapan kejujuran ini melatih kejujuran personal dan tanggung jawab. Fokus perhatian bukan pada hukuman, tetapi pada pengakuan kesalahan dan perbaikan diri atau muhasabah. Pembina HW menekankan bahwa nilai laporan data yang jujur daripada data hasil yang dimanipulasi. Gambar 1. Regu Pandu HW pada Kegiatan Kemah Besar Gambar di atas adalah salah satu regu pandu HW saat sebelum pelaksanaan penjelajahan AMSABAH atau Amanah Muhasabah di daerah Ngrowo Bening kota Madiun. Aktivitas ini merupakan salah satu inti dari pembentukan karakter, di mana pandu HW diajak untuk muhasabah . terhadap diri sendiri dan sejauh mana mereka telah menjalankan amanah sebagai seorang Muslim dan anggota HW serta membuat pengakuan jujur atas setiap pelanggaran kecil. Pakaian seragam lengkap Pandu HW yang dikenakan menyiratkan kedisiplinan, sementara suasana semarak mencerminkan kesungguhan mereka dalam menggali nilai-nilai luhur, seperti suci dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1950 Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Ae Fara Nisa. Kuncahyono DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Baitul Maal HW Berdasarkan hasil observasi pada kegiatan Jambore Daerah, setiap regu diperkenankan untuk membawa hasil olahan dari tantangan belanja di pasar berupa produk yang sudah diolah dan kemudian dipasarkan di Baitul Maal HW. Pada kegiatan ini, setiap regu pandu HW menghitung jumlah barang yang diambil dan menjumlahkan total harga yang harus dibawa sesuai dengan daftar harga yang tertera dan tidak mengurangi atau memanipulasi angka. Setiap pandu HW membayar dengan uang pas dan tidak membayar dengan uang palsu atau sobek. Pandu HW membayar dengan uang lebih, maka mengambil uang kembalian sesuai dengan selisih yang benar dan tidak melebih-lebihkan. Pandu HW dihadapkan pada situasi tanpa pengawasan eksternal, sehingga kejujuran merupakan pilihan yang didasarkan pada kesadaran bahwa Allah mengawasi setiap perbuatan manusia dan yang melanggar atau melakukan perbuatan curang akan mendapatkan dosa. Kejujuran pandu HW dalam pencatatan sesuai dengan Undang-Undang Pandu HW No. Tim pengelola Baitul Maal HW ditentukan oleh panitia kwartir daerah HW kota Madiun sebanyak satu regu yang bertugas untuk mengisi buku catatan atau slip kecil mengenai barang yang dibeli dan jumlah uang yang dimasukkan. Tim pengelola berlaku jujur ditandai dengan pelaporan hasil penjualan yang sesuai dengan pemasukan, hasil ini ditentukan setelah adanya evaluasi dari panitia kwartir daerah HW Madiun bagian keuangan. Lomba Debat Isu Sosial Berdasarkan observasi kegiatan ekstrakurikuler HW hari Jumat, 19 September 2025, diadakan lomba debat isu sosial yang terdiri dari dua orang pandu HW dalam satu kelompok yang pada minggu sebelumnya sudah diberi tugas untuk membahas isu sosial di lingkungan sekitar kota atau kabupaten Madiun seperti maraknya pencurian di supermarket atau food container di beberapa tempat. Pada kegiatan lomba debat setiap regu menunjukkan fakta, data statistik, atau kutipan berita yang akurat dan valid dan berasal dari sumber yang Setiap pandu HW tidak memalsukan dan mengarang data ditunjukkan dengan penyebutan sumber referensi saat menyajikan bukti yang kuat. Hal ini ditunjukkan dengan seorang pandu HW berinisial MA yang mengatakan AuMenurut studi dari Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai, pencurian di supermarket terjadi karena adanyaAy. Selain itu, pandu HW berinisial KL tidak membuat klaim yang menyesatkan atau menafsirkan bukti yang salah untuk keuntungan pribadi dalam debat. Pandu HW KL mengakui batasan atau potensi kelemahan dari posisi tim sendiri jika hal itu diinterupsi oleh tim lain, alih-alih mencoba menutupinya dengan klaim kebohongan yang tidak valid sumbernya. Hal ini menunjukkan adanya kejujuran argumentasi pada regu. Setiap pandu HW tidak mencoba curang atau menggunakan cara-cara tidak etis untuk memenangkan debat. Penilaian Kenaikan Tingkat Berdasarkan observasi kegiatan ekstrakurikuler HW hari Jumat, 26 September 2025. Pada ekstrakurikuler HW dilaksanakan Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK). Seorang pandu harus melaksanakan dan menguasai syarat kecakapan dengan sungguh-sungguh dan jujur pada diri sendiri mengenai Pada kegiatan ini setiap pandu HW akan melaporkan pencapaian atau penyelesaian tugas-tugas dalam SKU/SKK sesuai dengan fakta di lapangan tanpa melebih-lebihkan atau memalsukan hasil. Hal ini ditunjukkan dengan salah satu syarat yaitu menolong orang lain, maka hati nurani setiap pandu menjadi poin penting bahwa setiap pandu HW benar-benar menolong orang lain dan bukan hanya mengakuinya. Pada ujian kecakapan dan wawancara kenaikan tingkat oleh pembina HW, proses penilaian ujian pada tahap wawancara, pandu HW menjawab pertanyaan dengan jujur sesuai pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Hal ini ditunjukkan berdasarkan wawancara dengan pembina HW SMP MBS Prof Hamka Madiun yang mengatakan AuAda pandu HW bernama AS menjawab pertanyaan bagaimana prinsip kepanduan HW, lalu pandu itu menjawab saya belum mengetahuinya, akan saya pelajari pada kesempatan lainAy. Hal ini menunjukkan sikap pandu HW yang tidak berpura-pura atau memiliki kemampuan tertentu jika kenyataannya belum Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1951 Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Ae Fara Nisa. Kuncahyono DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Gambar 2 : Regu Pandu HW Melaksanakan Penilaian Kenaikan Tingkat Syarat Kecakapan Khusus (SKK) di Sekolah Gambar diatas adalah salah satu regu pandu HW saat Setiap pandu menunjukkan kesungguhan dan persiapan matang untuk membuktikan kelayakan mereka menerima Tanda Kecakapan Umum (TKU) di tingkat yang lebih tinggi. Proses PKT ini bukan sekadar ujian, tetapi juga pembuktian atas amanah yang telah mereka pelajari, melatih mental setia dan teguh hati, serta semangat untuk terus berkemajuan dalam pendidikan Faktor pendukung penerapan karakter jujur kegiatan ekstrakurikuler HW di SMP MBS Prof. Hamka Madiun yaitu: . Lingkungan islami. Sebagai sekolah yang berbasis pesantren modern, penerapan nilai-nilai Islam tentang kejujuran telah menjadi bagian penting dari budaya sekolah, yang membantu memperkuat ajaran HW. Keteladanan pembina HW atau guru mata pelajaran. Pembina menunjukkan contoh karakter jujur dalam interaksi sehari-hari saat kegiatan HW seperti yang disampaikan pembina pada salah satu pandu HW saat kegiatan lomba debat isu sosial saat menyampaikan refleksi dan kesimpulan sebelum mengumumkan pemenang dari lomba debat tersebut, yaitu AuUntuk jumlah atau kurva pencurian di kota/kabupaten Madiun saya juga belum tau persisnyaAy. Kegiatan kepanduan dan kode kehormatan HW. Terdapat prinsip yang berkaitan dengan kebenaran, dapat dipercaya, kesetiaan, yang secara eksplisit mendukung pembentukan karakter jujur yang juga tertuang pada janji dan Undang-Undang HW. Metode kepanduan juga menekankan kegiatan yang yang melaatih kemandirian, tanggung jawab, dan kedisiplinan untuk mendorong pandu HW berlaku jujur dalam setiap tugas dan laporan. Faktor penghambat penerapan karakter jujur kegiatan ekstrakurikuler HW di SMP MBS Prof. Hamka Madiun yaitu: . Kurangnya minat kepanduan beberapa orang pandu HW. Semua peserta didik diwajibkan mengikuti kegiatan pandu HW, namun masih ada sedikit peserta didik yang tidak menyukai kegiatan ekstrakurikuler HW yang ditandai dengan sikap yang tidak serius dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler. Keterbatasan waktu kegiatan. Ekstrakurikuler HW dilaksanakan setiap hari Jumat setiap minggunya dengan alokasi waktu 1,5 jam sehingga mempersulit pembina untuk melakukan pengawasan dan pembinaan karakrer secara mendalam dan berkelanjutan. KESIMPULAN Penerapan karakter jujur dalam ekstrakurikuler HW mengajarkan pada setiap pandu HW di SMP MBS Prof Hamka Madiun untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut di tempat lain. Terdapat empat kegiatan yang menunjang terbentuknya karakter jujur antara lain: . Kegiatan AMSABAH atau Amanat Muhasabah. Baitul Maal HW. Lomba Debat Isu Sosial. Penilaian Kenaikan Tingkat. Faktor pendukung terbentuknya karakter jujur pada setiap kegiatan ekstrakurikuler HW di SMP MBS Prof Hamka Madiun antara lain: . Lingkungan islami yang mendukung. Keteladanan pembina HW atau guru mata pelajaran. Kegiatan kepanduan dan kode kehormatan HW. Sedangkan faktor penghambat terbentuknya karakter jujur pada setiap kegiatan ekstrakurikuler HW di SMP MBS Prof Hamka Madiun yaitu kurangnya minat kepanduan beberapa orang pandu HW dan keterbatasan waktu kegiatan. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1952 Penerapan Karakter Jujur dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah Ae Fara Nisa. Kuncahyono DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. DAFTAR PUSTAKA