Jurnal Indonesia Mengabdi Vol 7. No 1, 1-8. Juni 2025 https://journal. id/index. php/JIMi/ Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia dan Pemanfaatan Jamu Herbal Songgak bagi Penderita Hypeurisemia di Tanjung Karang Mataram Nusa Tenggara Barat Ari Khusuma1. Lale Budi Kusuma Dewi2. Agrijanti3 1,3 Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Mataram. Nusa Tenggara Barat E-mail: 1khusumaari@gmail. com , lalebudi0614@gmail. com, 3agriyanti2@gmail. Info Artikel Abstrak Article history: Available online DOI:https://journal. /index. php/JIMi/ Abstrak Skrining penyakit tidak menular (PTM) seperti hiperurisemia memerlukan partisipasi berbagai pihak. Namun, masyarakat sering enggan melakukan skrining, meski data Puskesmas Tanjung Karang tahun 2021 menunjukkan hiperurisemia sebagai salah satu dari tiga penyakit terbanyak. Masyarakat cenderung mengandalkan obat-obatan untuk terapi gout, meskipun terapi non-farmakologi juga efektif. Penelitian tahun 2021 menunjukkan herbal tradisional Sasak, songgak, dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus, dan penelitian 2022 membuktikan efektivitasnya dalam menurunkan kadar asam urat darah tikus. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengendalikan kadar asam urat penderita hiperurisemia dengan songgak. Dari 30 peserta, 25 mengalami penurunan kadar asam urat dari rata-rata 8,98 mg/dL menjadi 6,52 mg/dL. Lima peserta tidak melanjutkan konsumsi karena alasan Mahasiswa berperan aktif dalam pelaksanaan dan evaluasi kegiatan, sekaligus mempromosikan songgak sebagai jamu herbal tradisional Lombok, mendukung upaya prioritas Kementerian Kesehatan dalam pengendalian PTM. Kata kunci: hiperurisemia, jamu herbal songgak, penyakit tidak menular, skrining, terapi non-farmakologi,. How to cite (APA): Khusuma. Dewi. Agrijanti. Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia dan Pemanfaatan Jamu Herbal Songgak bagi Penderita Hypeurisemia di Tanjung Karang Mataram Nusa Tenggara Barat. Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 1-8. ISSN 2685-3035 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Abstract Screening for non-communicable diseases (NCD. such as hyperuricemia requires the involvement of various stakeholders. However, many people are reluctant to undergo screening, even though data from Tanjung Karang Health Center in 2021 identified hyperuricemia as one of the top three prevalent diseases. People tend to rely on medications for gout treatment, although non-pharmacological therapies are also effective. A 2021 study demonstrated that songgak, a traditional Sasak herbal remedy, reduced blood glucose levels in alloxan-induced rats, while a 2022 study confirmed its effectiveness in lowering uric acid levels in rats. This community service activity aimed to control uric acid levels in hyperuricemia patients through songgak consumption. Among 30 participants, 25 showed a reduction in uric acid levels from an average of 8. 98 mg/dL to 6. 52 mg/dL. Five participants discontinued consumption due to health issues. Students actively participated in implementing and evaluating the program while promoting songgak as a traditional herbal remedy from Lombok, supporting the Ministry of Health's priorities in NCD management. Keywords: hyperuricemia. Songgak herbal remedy, non-communicable diseases, screening, non-pharmacological therapy. PENDAHULUAN Tujuan Penyakit tidak menular (PTM) menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia karena prevalensinya yang tinggi. Salah satu PTM yang banyak ditemukan adalah hiperurisemia, yaitu Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia A Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 2025 peningkatan kadar asam urat dalam darah. Hiperurisemia dapat menyebabkan artritis gout, peradangan pada sendi akibat penumpukan asam urat, yang mengganggu aktivitas dan menurunkan produktivitas kerja. Kondisi ini dapat dicegah dengan perubahan pola hidup, terutama pola makan, serta deteksi dini melalui pemeriksaan kadar asam urat. Namun, sebagian besar masyarakat enggan melakukan skrining hiperurisemia. Faktor-faktor seperti biaya, keterbatasan akses, sarana prasarana, dan waktu menjadi kendala utama. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pengabdian masyarakat untuk memfasilitasi pemeriksaan ini. Posyandu, sebagai bentuk pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, dapat memainkan peran penting. Provinsi NTB, program Posyandu Keluarga telah dikembangkan untuk memberikan pelayanan kesehatan menyeluruh, termasuk untuk lansia dan usia produktif. Meskipun demikian. Posyandu masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sarana dan kader yang belum terlatih. Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang mencakup enam kelurahan, dengan hiperurisemia sebagai salah satu dari tiga besar penyakit terbanyak di wilayah tersebut pada tahun 2021. (Puskesmas Tanjung Karang, 2. Artritis gout disebabkan oleh metabolisme purin yang menghasilkan asam urat sebagai produk akhir. Ketidakseimbangan produksi dan ekskresi asam urat memicu gangguan metabolisme, yang dapat menyebabkan penyakit serius seperti rematik, batu ginjal, dan diabetes melitus (Humas Dinas Kesehatan NTB, 2. Saat ini, masyarakat cenderung mengandalkan obat-obatan untuk terapi gout, meskipun terapi nonfarmakologi juga efektif dalam menurunkan kadar asam urat. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memahami kondisi kadar asam urat mereka melalui pemeriksaan. Asam urat merupakan penyakit kareana adanya kumpulan produk metabolisme purin dalam tubuh (Barsoum & El-Khatib, 2. Penyebab utama gout sendiri yaitu gangguan metabolisme hiperurisemia yang didefinisikan sebagai peninggian kadar asam urat lebih dari 7,0 ml/dl dan 6,0 mg/dl (Widiyanto et al. Artritis gout . sam ura. biasanya memiliki gejala yaitu timbulnya rasa nyeri pada bagian sendi tubuh, peradangan pada sendi yang tertekan, dan kemerahan pada daerah yang telah terjadi asam urat, kekakuan serta pembengkakan pada sendi yang tertekan (Mahendra & Arum, 2. Asam urat merupakan produk akhir dari metabolisme purin (Rosdiana et al. Asam urat dapat disebabkan oleh dua faktor utama yaitu tingginya produksi kadar purin dalam tubuh akibat sintesis purin yang berlebihan dan penurunan ekskresi asam urat dalam tubulus distal ginjal (Yunita. Fitriana & Gunawan, 2. Asam urat adalah senyawa sukar larut dalam air yang merupakan hasil akhir metabolisme purin (Ndede et al, 2. Dampak tingginya gout akan menimbulkan berbagai penyakit antara lain: rematik, gout, trofi otot, gangguan fungsi ginjal dan batu urat dalam ginjal, infark miokard, diabetes melitus serta kematian dini. Dalam penelitian tentang PTM, rempah-rempah telah terbukti efektif untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk diabetes dan kanker. Masyarakat Sasak di Lombok Tengah mengenal songgak, ramuan tradisional berbahan rempah seperti lada, ketumbar, cabai jawa, dan pala. Jenis rempah yang digunakan untuk membuat songgak biasanya adalah sang atau lada (Piper nigrum L. ), ketumbah atau ketumbar (Coriandrum sativum L. ), sebie gawah atau cabai jawa (Piper retrofractum Vah. , pale atau daging buah pala (Myristica fructus courte. , cengkeh . yzygium aromaticu. , anyang dan lilit atau buah kayu ules (Helicteres isor. sehingga akan memberikan efek rasa hangat di badan. Rempahrempah bahan songgak memiliki potensi sebagai anti oksidan, efek hipolipidemia dan hipokolesterol, anti diabetes, anti bakteri, anti kanker, anti obesitas, hepatoprotektif. Hasil penelitian tahun 2021 menunjukkan adanya pengaruh pemberian songgak suku sasak terhadap kadar gula darah hewan coba tikus yang diinduksi dengan aloksan (Khusuma, dkk, 2. Penelitian tahun 2022, songgak diujikan pada hewan coba tikus dan mampu menurukan kadar asam urat darah (Khusuma, dkk, 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan penyuluhan tentang bahaya hiperurisemia dan sosialisasi pemanfaatan songgak sebagai jamu herbal asli Lombok untuk penderita hiperurisemia di Kelurahan Tanjung Karang. Sekarbela. Kota Mataram. Upaya ini diharapkan dapat membantu mengendalikan kadar asam urat masyarakat secara efektif dengan memanfaatkan bahan lokal yang mudah diakses. Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia A Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 2025 METODE PELAKSANAAN Pelaksanaan Program Skrining masyarakat dengan riwayat hiperurisemia. Skrining dilakukan dengan cara mendatangi posyandu dan melakukan pemeriksaan POCT bagi masyarakat dengan riwayat hiperurisemia. Pemberdayaan dan Pendampingan Kader yang telah mendapatkan edukasi dan pelatihan akan melaksanakan POCT melalui posyandu keluarga dengan didampingi pengabdi. Sosialisasi pemanfatan Jamu Herbal Asli Lombok. Songgak. Masyarakat yang telah diberikan penyuluhan dan pengetahuan mengenai bahaya hypereurisemia diberikan pengenalan dan sosialisasi jamu herbal asli Lombok yaitu Songgak dan pemanfaatnya dalam upaya menurunkan kadar asam urat. Pengukuran kadar asam urat Pengukuran kadar asam urat pada penderita hiperurisemia dan pemberiaan ramuan Songgak selama 14 hari kemudian dilakukan pengukuran kadar asam urat setelah pemberian jamu herbal Songgak. Evaluasi hasil kegiatan Evaluasi dilaksanakan untuk menilai keberhasilan penyuluhan, sosialiasi, dan pemberian songgak pada penderita hiperurisemia. Untuk penilaian tersebut dilakukan wawancara, terutama bagi penderita hiperurisemia yang merasakan manfaat jamu herbal asli Lombok. Songgak setelah dua minggu pemberian. Evaluasi juga bertujuan untuk melihat pemahaman peserta penyuluhan terhadap bahaya hiperurisemia. Penilaian cakupan dinilai berdasarkan jumlah peserta yang menderita hiperurisemia didampingi oleh para kader posyandu. Bentuk Partisipasi Mitra Penyuluhan tentang bahaya hypereurisemia dan keberkaitanya dengan penyakit tidak menular. Melakukan pemeriksaan POCT pada pasien hiperurisemia untuk melihat status hiperurisemia Sosialisasi jamu herbal asli Lombok Songgak, untuk menurunkan asam urat darah. Mengukur kadar asam urat sebelum dan sesudah minum Songgak. Kepakaran dan Tugas Tim Penyuluhan tentang bahaya hypereurisemia dan keberkaitanya dengan penyakit tidak menular. Sosialisasi jamu herbal asli Lombok Songgak, untuk menurunkan asam urat darah. Mengukur kadar asam urat sebelum dan sesudah minum Songgak. Lokasi dan Waktu Kegiatan pengabdian kepada masyarakat akan dilaksanakan melalui Posyandu Keluarga di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang dengan durasi pelaksanaan mulai bulan Februari hingga Oktober 2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan pengabdian masyarakat Program Kemitraan Masyarakat dengan judul AuPenyuluhan Bahaya Hiperurisemia dan Sosialisasi Pemanfaatan Jamu Herbal Asli Lombok Songgak bagi Penderita Hipeurisemia di Kelurahan Tanjung Karang. Sekarbela. Kota MataramAy telah selesai dilaksanakan. Skrining masyarakat dengan riwayat hiperuriesemia Persiapan kegiatan pengabdian masyakat ini diawali dengan meeting secara daring bersama tim pengabdi, mahasiswa, dan juga kader. Kegiatan ini merupakan persamaan persepsi terhadap sasaran kegiatan, dengan mengagendakan skrining pengukuran kadar asam urat sebelum pelaksanaan penyuluhan. Sasaran yang diharapkan dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah perwakilan dari 7 . posyandu sebanyak 4 . orang dengan riwayat penyakit hiperusemia dengan jumlah total adalah 28 orang, dan 2 . lainnya dari pihak kelurahan, sehingga jumlah total menjadi Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia A Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 2025 30 sasaran. Kegiatan skrining dilakukan secara terjadwal oleh masing-masing kader pada masing-masing Tim mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk membersamai kegiatan ini didampingi oleh kader. Kader yang dipilih merupakan kader yang telah mendapatkan pelatihan pemeriksaan asam urat dengan menggunakan POCT pada kegiatan pengabdian Masyarakat Masyarakat sangat antusias terhadap kehadiran tim pengabdi, mahasiswa dan kader yang turut serta tergabung dalam kegiatan ini. Hasil pengukuran menggunakan POCT dicatat, dan sasaran terpilih minta untuk mengisi formular kesediaan terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat dosen Poltekkes Kemenkes Mataram. Data yang diperoleh digunakan sebagai dasar untuk penyuluhan hiperurisemia dan sosialisasi kegiatan berikutnya. Gambar 1. Kegiatan skrining sasaran dengan riwayat hiperurisemia pada posyandu Kelurahan Tanjung Karang Permai (Posyandu Batang Hari, lingkungan Bougenville dan Posyandu Seroja I, lingkungan Asahan I (Sumber: dok. Pribad. Penyuluhan bahaya hiperurisemia dan pengenalan jamu tradisional songgak Kegiatan berikutnya penyuluhan bahaya hiperurisemia dan pengenalan jamu tradisional songgak yang dilaksanakan di Aula Kantor Lurah Tanjung Karang Permai. Dalam kegiatan ini, tim pengabdi bersama mahasiswa dibuka oleh Lurah Tanjung Karang Permai melakukan sosialisasi dan penyuluhan bahaya hipeurisemia kepada 30 sasaran yang merupakan masyarakat dengan riwayat penyakit hiperurisemia dengan hasil pemerikaan POCT di atas normal. Kegiatan ini diawal presentasi oleh tim pengabdi dan dilanjutkan pengenalan jamu herbal tradisional Lombok. Songgak yang merupakan jamu tradisional yang dikembangkan dari penelitian dosen Poltekkes Kemenkes Mataram. Sasaran diberikan pengertian mengenai faktor-faktor pencetus hiperurisemia dan bahaya jika penyakit ini tidak terkontrol, terlebih kebanyakan usia sasaran termasuk kategori lansia dan rentan terhadap berbagai macam penyakit. Sasaran terlihat antusias dengan memberikan banyak pertanyaan yang dan menceritakan pengalaman ketika penyakit ini dirasakan kambuh. Pengabdi memberikan pemaparan dibantu dengan media presentasi dan juga leaflet yang dibagikan kepada Dalam kegiatan ini juga pengabdi membagikan satu kantong jamu Songgak untuk dikonsumsi selama 12-14 hari. Tidak ada unsur paksaan dalam konsumsi Songgak, mengingat Songgak terdiri dari kopi dan rempah sehingga toleransi terhadap jamu ini juga berbeda pada masing-masing Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia A Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 2025 Gambar 2. Sosialisasi bahaya hiperurisemia dan pengenalan Songgak kepada sasaran di aula Kantor Lurah Tanjung Karang Permai. Kota Mataram (Sumber: dok. Pribad. Evaluasi hasil kegiatan Evaluasi dilaksanakan untuk menilai keberhasilan penyuluhan, sosialiasi, dan pemberian songgak pada penderita hiperurisemia. Untuk penilaian tersebut dilakukan pengukuran kembali kadar asam urat pada sasaran yang telah dipilih dan diberikan kuisioner, terutama bagi penderita hiperurisemia yang merasakan manfaat jamu herbal asli Lombok. Songgak setelah dua minggu Evaluasi juga bertujuan untuk melihat pemahaman peserta penyuluhan terhadap bahaya hiperurisemia dan testimoni manfaat songgak. Tabel 1. Data keikutsertaan peserta dan pengelompokan berdasarkan jenis kelamin. Keikutsertaan sasaran: Jumlah Total Jumlah sasaran partispasi konsumsi songgak Jumlah sasaran tidak terlibat 30 orang 25 orang 5 orang Berdasarkan jenis kelamin sasaran terlibat Pria Wanita 5 orang 20 orang Jumlah sasaran dalam kegiatan ini dari 7 . posyandu telah mencapai target yaitu sebanyak 30 orang, dan telah mengikuti sosialiasasi yang dilaksaksanakan di Kantor Lurah Tanjung Karang Permai. Kota Mataram. Sasaran diberikan songgak untuk dikonsumsi selama 2 minggu . kemudian diukur kembali kadar asam uratnya menggunakan POCT. Dari 30 orang sasaran, sebanyak 25 peserta berpartisipasi, sedangkan 5 orang lainnya tidak mengikuti karena alasan kesehatan, intoleransi terhadap aroma kopi, dan sedang mengkonsumsi obat-obatan dan suplemen kesehatan. Kegiatan evaluasi ini dilakukan di Kantor Lurah Tanjung Karang Permai, bagi sasaran yang berkesempatan hadir, dan dilakukan home care . unjungan langsung ke sasaran di sekitaran perumahan Tanjung Karang Permai untuk pemeriksaan POCT. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa sasaran mendapatkan manfaat dari konsumsi songgak, badan terasa lebih ringan, dan lebih segar, bagi penikmat kopi, songgak menjadi alternatif konsumsi kopi berkasiat karena mengandung rempah-rempah yang menyehatkan. Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia A Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 2025 Gambar 3. Evaluasi kegiatan langsung dengan membuka stand kesehatan di Kantor Lurah Tanjung Karang Permai, dan layanan home care di wilayah perumahan Tanjung Karang Permai (Sumber: dok. Pribad. Pembahasan Berikut merupakan hasil rerata pengukuran kadar asam urat dari sasaran asam urat SEBELUM KONSUMSI SONGGAK 6,52 8,98 RERATA KADAR ASAM URAT (MD/DL) SETELAH KONSUMSI SONGGAK Dari hasil yang didapatkan sebelum dan sesudah konsumsi songgak pada 25 sasaran di dapatkan bahwa rerata asam urat adalah 8,98 MD/DL setelah dua minggu diukur kembali menjadi 6,52 MD/Dl. Kadar normal asam urat berdasarkan hasil Point of Care Testing (POCT) untuk pria: 3,4 - 7,0 mg/dL dan Wanita: 2,4 - 6,0 mg/dL Sosialisasi mengenai hiperurisemia . enyakit asam ura. dapat memberikan dampak positif terhadap penurunan kadar asam urat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini, yang berpotensi mendorong perubahan perilaku dalam mengelola kondisi asam urat. Dalam kegiatan ini, sasaran antusias dalam mendengarkan penjelasan dari tim pengabdi. Peningkatan pengetahuan ini pada akhirnya dapat membantu individu mengadopsi kebiasaan yang lebih sehat, seperti perubahan pola makan, yang secara langsung mempengaruhi penurunan kadar asam urat dalam tubuh (Yulianti, 2. Namun, sosialisasi saja tidak cukup. Upaya seperti pengenalan diet rendah purin, penggunaan obat-obatan, dan penerapan pengobatan alami seperti jamu tradisonal Songgak, juga dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan kadar asam urat. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa jamu herbal dapat berpengaruh signifikan dalam menurunkan kadar asam urat (Yulianti, 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini telah berhasil mencapai beberapa target yang telah Pertama, terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat tentang bahaya hiperurisemia melalui kegiatan edukasi yang telah dilaksanakan. Edukasi ini memberikan pemahaman tentang dampak hiperurisemia, seperti risiko artritis gout dan penurunan produktivitas kerja, serta pentingnya pencegahan melalui pola hidup sehat. Kedua, kemampuan kader dalam melakukan pemeriksaan Point of Care Testing (POCT) untuk hiperurisemia juga telah meningkat. Kader telah diberikan pelatihan dan evaluasi untuk memastikan mereka dapat melakukan pemeriksaan secara akurat dan efektif. Hal ini mendukung keberlanjutan program pengendalian hiperurisemia di tingkat masyarakat (Iswantini, 2. Ketiga, masyarakat, khususnya penderita hiperurisemia, kini dapat mengetahui status kadar asam urat darah mereka melalui pemeriksaan skrining. Pemeriksaan ini memberikan informasi yang penting bagi masyarakat untuk memahami kondisi kesehatan mereka dan mengambil langkah Terakhir, pengetahuan masyarakat terkait pemanfaatan jamu herbal asli Lombok songgak dalam menurunkan kadar asam urat darah juga mengalami peningkatan. Melalui kegiatan sosialisasi, masyarakat diperkenalkan pada manfaat songgak sebagai alternatif terapi nonfarmakologi yang mudah diakses dan berbasis kearifan lokal. Penyuluhan Bahaya Hiperurisemia A Jurnal Indonesia Mengabdi, 7. , 2025 SIMPULAN Penyuluhan dan sosialiasi ini memberikan dampak positif terhadap penurunan kadar asam urat dimana dari 30 sasaran penederita hiperuriesemia, sebanyak 25 sasaran mengalami penurunanan kadar asam urat dari rerat 8,98 md/dL menjadi 65,2 md/dL dan sebanyak 5 orang peserta tidak melanjutkan untuk mengkonsumsi songgak dikarenakan factor kesehatan peserta . emiliki Riwayat penyakit penyert. sehingga tidak melanjutkan konsumsi songgak, namun peserta tetap antusias mengikuti kegiatan sosialisasi. Pengabdian masyarakat ini sebagai hilirasasi produk sekaligus bentuk promosi penggunan jamu herbal asli Lombok. Songgak yang tidak hanya bermanfaat namun juga dapat mengatasi masalah kesehatan, khususnya pada penyakit tidak menular sebagai prioritas penanganan Kementerian Kesehatan. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram. Lurah, dan Para Kader Posyandu Tanjung Karang Permai. Kota Mataram. DAFTAR PUSTAKA