Pengaruh Ekonomi Dunia pada Ekonomi Indonesia Dasawarsa 1990-an Hadi SOESASTRO PENDAHULUAN Pengaruh perkembangan eksternal atas suatu ekonomi cepat atau lambat akan menampakkan dirinya dalam posisi dan perkembangan neraca pembaA yaran ekonomi yang bersangkutan. Neraca pembayaran merupakan catatan mengenai segala transaksi ekonomi antara penduduk suatu negara dan negaranegara lain di dunia selama satu periode tertentu. Secara ex post neraca pemA bayaran tersebut selalu berimbang, artinya jumlah debet sama besarnya dengan jumlah kredit dalam keseluruhan transaksi. Berbagai jenis transaksi ekonomi tersebut dapat dikelompokkan dalam neraca-neraca tersendiri. Neraca perdagangan barang . erchandise accoun. mencatat transaksi barang-barang, sedangkan neraca transaksi berjalan . urA rent accoun. mencatat transaksi barang-barang dan jasa-jasa. Dalam pos jasa-jasa terdapat AoAotransaksiAy di bidang jasa perkapalan, turisme, jasa inA vestasi dan jasa-jasa lainnya. Neraca transaksi berjalan juga mencatat AoAotransfer,Ay yaitu sumbangan-sumbangan yang diterima penduduk atau pemerintah dari luar atau yang diberikan kepada penduduk atau pemerintah di negara lain. Neraca modal . apital accoun. mencatat arus berbagai jenis modal, seperti bantuan pembangunan kepada pemerintah, pinjaman lainnya oleh pemerintah, penanaman modal asing, dan arus modal swasta lainnya, baik modal jangka panjang maupun modal jangka pendek. Cara pengelompokan transaksi-transaksi tersebut mempengaruhi penetapA an besarnya AoAosurplusAy atau AoAodefisitAy dalam neraca pembayaran suatu Besarnya ketidakseimbangan . dalam neraca pembayaran tergantung pada konsep yang melatarbelakangi pengertian mengenai surplus dan defisit itu sendiri. Makalah yang disampaikan pada Kongres Nasional IFEA. Jakarta, 24-25 Agustus 1987. ANALISA 1987-12 Dewasa ini lazimnya disepakati bahwa posisi neraca pembayaran itu meliA batkan dan mencerminkan keseluruhan transaksi yang bersifat otonom . , yaitu transaksi-transaksi yang dilakukan secara bebas atas dasar rangsangan ekonomi ataupun pertimbangan politis, terlepas dari keaA daan neraca pembayaran secara keseluruhan. Transaksi yang bersifat otonom ini dibedakan dari transaksi yang bersifat akomodatif atau yang terpaksa diA lakukan . ccomodating atau induce. oleh otoritas moneter untuk menutup kesenjangan antara keseluruhan debet dan kredit dalam transaksi yang bersiA fat otonom. Dilihat dari segi terakhir ini, ketidakseimbangan . atau disequilibrium dalam neraca pembayaran ditunjukkan oleh besarnya perubahA an dalam cadangan devisa resmi. Yang diartikan dengan AoAomasalah neraca pembayaranAy menyangkut posisi neraca pembayaran itu: apakah berada dalam ketidakseimbangan untuk satu periode yang singkat . isalnya satu tahu. ataukah secara kronis berada dalam ketidakseimbangan untuk beberapa tahun berturut-turut . undamental Masalah neraca pembayaran yang dihadapi suatu ekonomi tidak harus bersumber dari luar ekonomi itu saja. Sebenarnya, defisit neraca pembayaran mencerminkan kelebihan . keseluruhan pengeluaran suatu ekonomi dibandingkan dengan keseluruhan penerimaannya, dan bukan hanya kelebihA an pengeluaran dibandingkan dengan penerimaan melalui transaksi internaA Ditinjau dari rumusan ini, masing-masing neraca dalam neraca pemA bayaran dapat dilihat sebagai AoAojendela-jendelaAy ke dunia luar. melalui jendeA la-jendela tersebut kelebihan arus permintaan domestik akan arus penawaran domestik, atau sebaliknya, dimanifestir dalam transaksi internasional. Maka dari itu, defisit neraca transaksi berjalan berarti kelebihan arus permintaan domestik akan barang dan jasa. Defisit dalam neraca modal berarti kelebihan permintaan domestik akan surat-surat berharga dan segala bentuk penanaman modal yang memberikan hasil. Jika transaksi-transaksi otonom dirumuskan seperti ini, maka transaksi-transaksi yang bersifat akomodatif -- seperti terlihat dalam perubahan cadangan devisa resmi - terjadi karena kelebihan arus permintaan domestik atau arus penawaran domestik terhadap uang. Pendekatan moneter pada neraca pembayaran melihat surplus atau defisit dalam neraca-neraca transaksi otonom sebagai petunjuk bahwa pendapatan suatu ekonomi melampaui atau lebih rendah dari konsumsinya . , dan karenanya dalam ekonomi tersebut terjadi akumulasi atau dekumulasi kekayaan . Dengan rumusan ini maka transaksi akomodatif - yaitu seperti yang tercermin dalam AoAoneraca uangAy . oney accoun. - secara lang'Lihat Sidney S. Alexander. AoAoEffects of a Devaluation on a Trade Balance,Ay IMF Staff Papers. Vol. II (April 1. : hal. PENGARUH EKONOMI DUNIA sung dapat dipengaruhi oleh kebijaksanaan moneter. Tetapi pengaruh ini keliA hatannya juga mengenal batasnya. Jadi walaupun pendekatan moneter pada neraca pembayaran melihat neraca pembayaran itu sebagai gejala moneter, hal itu tidak berarti bahwa sumber dari masalah neraca pembayaran dan tinA dakan untuk mengatasinya harus semata-mata bersifat moneter. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini menunjukA kan bahwa masalah neraca pembayaran yang dihadapi ternyata tidak cukup diatasi dengan tindakan-tindakan di bidang moneter, sementara sumber dari masalah itu banyak berasal dari perubahan-perubahan drastis dalam ekonomi dunia - termasuk yang bersifat struktural. Ada kesan bahwa usaha mengatasi masalah neraca pembayaran terlampau dibebankan kepada kebijaksanaan Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk meneliti perkembangan neraca pemA bayaran Indonesia di waktu lalu. Namun dari perkembangan neraca transaksi berjalan selama sekitar 20 tahun terakhir ini (Tabel . terlihat bahwa gejolak yang dialami untuk sebagian besar jelas bersumber dari perkembangan interA nasional, seperti perubahan drastis harga minyak . 3-1974, 1979-1980. Tabel 1 PERKEMBANGAN NERACA TRANSAKSI BERJALAN DALAM NERACA PEMBAYARAN INDONESIA, 1969/1970-1987/1988 (Dalam Juta US$) Tahun Neraca Transaksi Berjalan3 Tahun Neraca Transaksi Berjalan3 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 1973/1974 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 - 138 - 854 - 802 - 690 1984/1985 1985/1986 1986/1987 1987/1988'1 Catatan: 'A AoNegatif berarti defisit hAPBN Sumber: Nota Keuangan 1987/1988. ANALISA 1987-12 1983, dan 1. dan resesi ekonomi dunia . 5, 1981-1. Pengelolaan ekonomi dalam negeri juga mempengaruhi perkembangan tersebut, seperti yang diakibatkan oleh krisis Pertamina tahun 1975-1976, ataupun secara lebih fundamental . an struktura. karena ekonomi Indonesia begitu tergantung pada minyak . erutama sejak permulaan Pelita II). PROSPEK EKONOMI DUNIA DASAWARSA 1990-AN Sebelum membahas prospek ekonomi dunia dalam dasawarsa 1990-an dan pengaruhnya atas ekonomi Indonesia, kiranya perlu diteliti secara umum jalur-jalur pengaruh perkembangan eksternal atas ekonomi negara berkemA bang seperti Indonesia. Beberapa perkembangan yang menonjol sejak perA mulaan dasawarsa 1980-an Ai seperti pengaruh resesi ekonomi dunia 1981-1982 atas negara-negara berkembang, efek suku bunga yang tinggi sejak 1980, dan penurunan pinjaman dari perbankan internasional kepada negara-negara berkembang sejak 1982 - menunjukkan kompleksitas dari mekanisme jalurjalur pengaruhnya. Umumnya diketahui bahwa salah satu jalur pengaruh utama adalah pasar barang dan jasa - yang pengaruhnya akan tampak dalam perkembangan neraca transaksi berjalan. Dalam hubungan ini penting untuk dicatat bahwa negara-negara industri maju masih tetap merupakan pasar utama bagi ekspor negara-negara berkembang. Perkembangan dan kebijaksanaan ekonomi makro di negara-negara industri membawa pengaruh yang sangat berarti pada neraca transaksi berjalan dan pertumbuhan output negara-negara berkemA bang melalui efek simultan atas harga-harga relatif dan volume dalam perA dagangan luar negeri mereka. Perubahan dalam penerimaan ekspor ini pada gilirannya mempengaruhi prospek pertumbuhan dalam jangka pendek - meA lalui dampaknya pada tingkat permintaan aggregat dan ketersediaan devisa dan dalam jangka panjang - melalui pengaruhnya pada tingkat investasi dan peranan dari sektor ekspor. Tabel 2 menunjukkan adanya hubungan antara pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkemA Namun tabel itu juga menunjukkan keaneka-ragaman tingkat pertumA buhan di antara negara-negara berkembang sendiri, terutama sejak permulaan dasawarsa 1980-an ini. Dalam periode pemulihan kembali ekonomi 1983-1986, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun kelompok negara pengekspor minyak hanya mencapai 0,4%, sedangkan kelompok negara pengekspor barang pabrikan . berhasil mencapai pertumbuhan sebesar hampir 7% per tahun. Sementara itu kelompok negara dengan beban utang yang tinggi . ejumlah negara Amerika Latin. Nigeria dan Filipin. hanya menA capai pertumbuhan sebesar 1,1% rata-rata per tahun. PENGARUH EKONOMI DUNIA Tabel 2 TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI (PRODUK DOMESTIK BRUTO), 1965-1986 (% Per Tahun. Rata-rat. Industri Maju Berkembang - Pengekspor Minyak - Pengekspor Manufaktur - Beban Utang Tinggi Kelompok Negara Sumber: IBRD. World Development Report 1987. Pertanyaan yang timbul, dan yang relevan bagi perumusan kebijaksanaan di Indonesia, adalah sejauh mana perkembangan di atas akan berlanjut. Dapatkah kelompok negara pengekspor barang pabrikan mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui penggalakkan ekspor secara terus-menerus, terutama untuk barang pabrikan yang mempunyai pasar tujuan yang terA batas? Bagaimana dengan prospek kelompok negara pengekspor minyak dan pengekspor komoditi primer pada umumnya? Bagi kelompok negara yang disebut terakhir, perkembangan harga barangbarang komoditi primer telah membawa pengaruh yang besar . ihat Tabel . Arah perkembangan harga ini masih sangat tidak menentu. Bahkan thesis Peter Drucker menganggap bahwa arah perkembangan itu masih akan berlanA jut terus. Sesedikitnya selama dasawarsa 1990-an ini tampaknya memang tidak ada alasan bagi pembalikan trend itu. Keadaan ini kiranya juga berlaku untuk minyak, walaupun untuk jangka waktu yang lebih panjang sangat mungkin harga riil minyak akan meningkat lagi. Prospek ekspor barang-barang pabrikan dari negara-negara berkembang ke negara-negara industri maju akan sangat tergantung dari berlanjutnya tekanan proteksionis di berbagai negara - khususnya di Amerika Serikat dan sejauh mana tekanan-tekanan . tau sentiment. itu diterjemahkan ke dalam kebijaksanaan perdagangan. Selain itu, hasil ronde baru perundingan perdagangan multilateral dalam rangka GATT, yang dikenal sebagai The Uruguay Round, akan sangat mempengaruhi perkembangan perdagangan dunia dalam dasawarsa mendatang. Hingga kini belum dapat dipastikan apaA 2Lihat Hadi Soesastro. AoAoPengaruh Ekonomi Regional dan Global pada Masalah Energi di InA donesia,Ay Seminar Energi Nasional i. KN1-WEC. Jakarta, 21-24 Juli 1987. ANALISA 1987-12 kah perundingan ini akan dapat menghentikan merajalelanya hambatanhambatan non-tarif ataupun tindakan-tindakan lain yang dikenal sebagai grey-area measures seperti VERs (Voluntary Export Restraint. dan OMAs (Orderly Marketing Arrangement. Bahkan ada kemungkinan bahwa sistem perdagangan internasional akan menjurus kepada suatu sistem perdagangan yang dikendalikan . anaged trade syste. Bila memang demikian, perA dagangan dunia akan berlangsung atas aturan permainan yang lain, yang cenderung mengambil sifat bilateralistik, bersyarat . , dan diskriA Keadaan ini akan mempersulit negara-negara berkembang. Tabel 3 PERKEMBANGAN HARGA-HARGA KOMODITI, 1968-1985 f7o Perubahan Per Tahun. Rata-rat. Komoditi Primer Non-Minyak -12,0 -3,4 - Pangan - Bahan Mentah Pertanian - Logam -13,1 -10,7 -13,5 -4,1 -2,3 Minyak -5,7 Barang Pabrikan - 3,7 -1,3 Sumber: IMF. Staff Studies for the World Economic Outlook. Juli 1986. Jalur pengaruh melalui penerimaan dari perdagangan jasa-jasa belum banyak dipelajari. Padahal peranan bidang ini dalam penerimaan devisa negara-negara berkembang semakin sulit diabaikan. Selama periode 1982-1984, misalnya, sekitar 30% penerimaan devisa negara-negara berkemA bang bukan pengekspor minyak berasal dari jasa-jasa, termasuk pendapatan dari investasi, dan ekspor tenaga kerja . ransfer swast. Dewasa ini jalur pengaruh yang telah menjadi semakin penting artinya adalah melalui pasar keuangan/modal, seperti yang tercermin dalam pengaA ruhnya secara langsung pada neraca modal dan neraca pembayaran secara keA Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan utang luar negeri negara-negara berkembang dan karena bagian yang semakin besar dari arus modal ke negara-negara berkembang berasal dari perbankan internasional dengan suku bunga yang berubah-ubah . ariable interest rate. Pengaruh utama yang dirasakan oleh negara-negara berkembang adalah dalam perubahan suku bunga dan nilai tukar - yang mempengaruhi beban PENGARUH EKONOMI DUNIA pembayaran bunga dan cicilan utang - dan dalam ketersediaan pinjaman inA ternasional Ai khususnya bank-bank internasional. Perubahan dalam struktur arus modal ke negara-negara berkembang selama 15 tahun terakhir ini telah menningkatkan kepekaan mereka terhadap perkembangan di pasar finansial Pada tahun 1970 sekitar 60% modal yang masuk ke negaranegara berkembang adalah dalam bentuk penanaman modal yang tidak mengA akibatkan beban utang. Pada pertengahan dasawarsa 1980-an ini bagian itu telah menurun menjadi sekitar 25%. Sementara itu, dari keseluruhan pinjamA an luar negeri, kini sekitar 75% merupakan pinjaman komersial, dan kira-kira dua pertiganya berupa pinjaman dengan suku bunga uang mengambang . Meningkatnya suku bunga sejak permulaan dasawarsa 1980-an ini meruA pakan salah satu sebab kesulitan pembayaran utang luar negeri oleh sejumlah negara berkembang. Bagi kelompok negara berkembang, suku bunga riil selama 5 tahun terakhir ini berkisar pada 15% per tahun dibandingkan dengan -14% per tahun selama periode 1973-1977, dan -5% per tahun selama periode Berdasarkan ekspor dan posisi utang negara-negara berkembang pada tahun 1985, setiap 1% kenaikan suku bunga secara langsung akan meA ningkatkan rasio pembayaran bunga - yaitu pembayaran bunga utang dibagi ekspor barang dan jasa - sebesar 1%. Perubahan nilai tukar juga sangat mempengaruhi beban utang negaranegara berkembang. Apresiasi dollar AS pada paruh pertama dasawarsa 1980-an ini tidak kecil artinya berhubung pada akhir 1985 sekitar 80% utang luar negeri negara-negara berkembang didenominir dalam dollar AS. Depresiasi dollar sejak itu seharusnya membawa pengaruh yang berlawanan, tetapi apresiasi Yen meningkatkan beban pembayaran utang bagi negaranegara yang mempunyai utang yang cukup besar dalam Yen, seperti misalnya Indonesia. Pembahasan di atas menunjukkan pengaruh perkembangan ekonomi dunia pada negara-negara berkembang sebagai suatu kelompok, dan bahwa pengaruh yang sangat terasa adalah melalui perubahan tingkat pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri maju. Biarpun demikian intensitas pengaA ruh itu berbeda-beda tergantung pada sifat-sifat struktural dalam ekonomi masing-masing negara berkembang maupun efektivitas kebijaksanaan ekonomi di dalam negeri masing-masing, dan keterkaitan dengan pasar-pasar barang, jasa dan keuangan internasional. Salah satu kunci utama dewasa ini bagi pertumbuhan ekonomi dunia adaA lah kebijaksanaan ekonomi makro negara-negara industri maju. Di kalangan negara-negara berkembang boleh dikatakan telah diambil langkah-langkah penyesuaian yang berarti, yang terutama ditujukan untuk memperbaiki atau menjaga posisi neraca pembayaran. Langkah-langkah ini tidak membantu pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang sendiri, dan mungkin ANALISA 1987-12 tidak terdapat pilihan lain karena beban utang kelompok negara-negara ini yang sudah demikian berat. Dengan latar-belakang ini, bagaimana prospek ekonomi dunia dalam dasawarsa 1990-an? Studi Bank Dunia mengenai prospek untuk periode 10 tahun mendatang ini . memberikan perkiraan rendah . ow cas. dan perkiraan tinggi . igh cas. yang berbeda satu dari lainnya dalam asumsi mengenai perubahan kebijaksanaan yang berarti. Dalam perkiraan rendah, diandaikan bahwa Amerika Serikat gagal mengurangi secara berarti defisit dalam anggarannya dan Eropa Barat juga gagal menurunkan tingkat pengangA Ini berarti pertumbuhan ekonomi yang rendah di negara-negara inA dustri maju, meningkatnya proteksionisme, dan harapan yang tipis bagi liberalisasi lebih lanjut dalam perdagangan. Seperti terlihat pada Tabel 4, dalam perkiraan tinggi, pertumbuhan ekonoA mi di negara-negara industri maju dapat mencapai 4,3% per tahun rata-rata selama periode 1986-1995. Tingkat pertumbuhan ini masih berada di bawah yang pernah dicapai dalam periode 1965-1973, yaitu 4,7%, tetapi lebih baik daripada dalam periode 1973-1980 . ,8%) dan periode 1980-1986 . ,3%). UnA tuk kelompok negara berkembang, pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat mencapai 5,9% per tahun rata-rata, juga di bawah yang dialami dalam periode 1965-1973 tetapi lebih baik daripada dalam periode 1973-1980 dan periode Untuk itu, ekspor dari negara-negara berkembang harus meningA kat sebesar 7,3% per tahun rata-rata. Sebagai perbandingan, selama periode 1965-1986, tingkat pertumbuhan ini secara rata-rata berada di bawah 5% saja. Ini berarti usaha yang luar biasa untuk menggalakkan ekspor. Tabel 4 PROSPEK EKONOMI DUNIA, 1986-1995 (% Perubahan Per Tahun. Rata-rat. Ekspor Barang Rendah Tinggi Kelompok Negara PDB Riil Tinggi Rendah Industri Maju Berkembang - Pengekspor Minyak - Pengekspor Manufaktur - Beban Utang Tinggi Sumber: Nota Keuangan 1987/1988. 3Lihat IBRD. World Development Report 1987. PENGARUH EKONOMI DUNIA Dalam kelompok negara berkembang sendiri terdapat perbedaan. PertumA buhan ekonomi (PDB) tertinggi diperkirakan dicapai oleh negara-negara pengekspor barang pabrikan . ,9%) dengan peningkatan ekspor sebesar 8,7% per tahun rata-rata. Sebaliknya, negara-negara pengekspor minyak akan menA capai pertumbuhan ekonomi sebesar 4,4% saja. Walaupun tingkat ini jauh lebih baik daripada yang dicapai dalam periode 1980-1986 . ,8%), tingkat itu masih lebih rendah daripada pertumbuhan di atas 6% selama periode Dalam perkiraan tinggi ini negara-negara dengan beban utang yang tinggi dapat mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada negaranegara pengekspor minyak, tetapi tidak demikian halnya dalam perkiraan renA Dalam perkiraan rendah ini kelompok negara berkembang diperkirakan tumbuh dengan sekitar 4% per tahun rata-rata. Pertumbuhan ekspor juga hanya mencapai setengah dari yang diperkirakan dalam skenario pertumA buhan tinggi. Perkiraan di atas menunjukkan pentingnya jalur perdagangan barang, khususnya barang pabrikan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah di negara-negara industri maju . ,5% dalam perkiraan renda. , ekspor dari negara-negara berkembang hanya meningkat sebesar 3,6% per Hingga tahun 1995, seperti ditunjukkan oleh studi Bank Dunia, beban utang luar negeri akan tetap tinggi, baik dalam perkiraan rendah maupun dalam perkiraan tinggi. Defisit neraca transaksi berjalan untuk kelompok negara berkembang juga diperkirakan tidak berbeda untuk perkiraan rendah dan perkiraan tinggi. Tetapi dalam perkiraan tinggi itu kemampuan impor negara-negara berkembang menjadi jauh lebih besar daripada dalam perkiraA an rendah. Uraian di atas menunjukkan bahwa masalah utang luar negeri negaranegara berkembang tampaknya tetap merupakan masalah pelik. Jika tidak dapat diatasi, masalah utang akan menjadi penghalang besar bagi usaha untuk mencapai dan mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di masa depan. Perkembangan dalam jangka dekat ini kiranya akan sangat menentukan prospek ekonomi dunia dalam dasawarsa 1990-an. Proses pemulihan kembali ekonomi dunia dari resesi selama 1981-1982 ternyata masih berjalan sangat lambat, bahkan cenderung melemah. Salah satu sebabnya adalah kegagalan negara-negara industri maju untuk mempertahankan pemulihan ekonomi itu. Pertumbuhan PDB kelompok negara industri maju menurun dari 4,6% pada tahun 1984 menjadi 2,8% pada tahun 1985 dan 2,5% pada tahun 1986. Perkiraan yang dibuat akhir tahun 1986 melihat adanya peningkatan - walauA pun sedikit, yaitu menjadi 2,75% - untuk tahun 1987 sampai Semester I tahun 4 Kini perkiraan itu juga telah direvisi ke bawah. 4Lihat. OECD Economic Outlook (Desember 1. ANALISA 1987-12 Lemahnya pemulihan kembali ekonomi dunia kali ini sangat terasa bila dibandingkan dengan pengalaman yang lalu. Dalam empat tahun periode pemulihan kembali hingga saat ini . , produksi dunia secara riil meningkat dengan 14% dan volume ekspor dunia meningkat dengan 20%. Dalam periode empat tahun . setelah resesi tahun 1974-1975 yang lalu, produksi dunia meningkat dengan 20% dan volume ekspor dunia meA ningkat dengan 27%. Bahkan dalam periode pemulihan kembali sebelum itu . , produksi dunia meningkat dengan 24% sedangkan volume ekspor dunia meningkat dengan 45%. Salah satu faktor penting bagi pemulihan kembali ekonomi dunia sejak 1975 itu adalah kebijaksanaan ekspansif dan rangsangan ekonomi yang diteA rapkan oleh banyak negara berkembang. Keadaan itu dimungkinkan oleh peA ningkatan pinjaman luar negeri dengan memanfaatkan petrodollar yang memA banjiri pasar uang dan modal internasional karena absorpsi terbatas di pihak negara-negara Arab pengekspor minyak umumnya. Sementara itu negaranegara industri maju pengimpor minyak memang melakukan penyesuaian . erhadap pendapatan yang menurun sebagai akibat AoAotransfer pendapatanAy ke negara-negara pengekspor minya. , tetapi secara terbatas: tingkat konsumA si tidak menurun sejalan dengan menurunnya pendapatan. Di samping faktor cost-push, keadaan itu mengakibatkan inflasi, yang anA tara lain mengakibatkan tingkat suku bunga riil menurun, bahkan menjadi Dengan sendirinya pinjaman luar negeri merupakan pilihan yang semakin menarik bagi negara-negara berkembang. Di banyak bagian dunia terjadi percepatan pembangunan, dan volume permintaan akan minyak terus meningkat sehingga mencapai puncaknya pada tahun 1979. Namun nilai riil minyak terus merosot karena merosotnya nilai mata uang sebagai akibat inA Perkembangan ini mendorong OPEC untuk sekali lagi meningkatkan harga minyak sehingga mencapai US$34 per barrel. Reaksi negara-negara industri maju terhadap melonjaknya harga minyak itu bersifat sangat anti-inflasioner dan membawa dunia kepada resesi yang dalam, atau bahkan suatu depresi. Tingkat inflasi di negara-negara industri maju selama periode 1980-1986 hanya 1,7% rata-rata, dibandingkan dengan 10,1% rata-rata dalam periode 1973-1980. Negara-negara berkembang tidak dapat berbuat banyak dan tidak dapat mengulangi apa yang dilakukan sebelumnya, terutama karena beban utang yang tinggi. Karena terpaksa, negara-negara berkembang bahkan merasa perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan mengambil kebijaksanaan fiskal dan moneter yang cukup ketat. Berbagai negara juga segera menggalakA kan ekspor mereka untuk membayar impor minyak yang melonjak. Perkembangan demikian tidak terjadi di Amerika Serikat. Defisit neraca transaksi berjalan Amerika Serikat tidak menurun melainkan terus membengA PENGARUH EKONOMI DUNIA Salah salu sebabnya adalah defisit anggaran pemerintah yang dapat dikatakan tidak terkontrol'. Timbul soal defisit ganda . win defici. yang hingga kini belum dapat dikatakan teratasi, walaupun U. Gramm-RudmanHollings telah dapat disetujui oleh Kongres Amerika Serikat. Jalan keluar yang diambil Amerika Serikat untuk mengatasi defisit ganda tersebut adalah melalui pinjaman, sehingga dalam waktu singkat kedudukan Amerika Serikat berubah dari pengekspor modal menjadi pengimpor modal terbesar di dunia. Dalam usaha menarik modal dari luar maka tingkat suku bunga dinaikkan. Melalui pembiayaan ini secara artifisial nilai dollar menguat dan membuat ekspor Amerika Serikat semakin tidak kompetitif dan impor ke Amerika Serikat semakin murah. Defisit neraca transaksi berjalan Amerika Serikat bahkan terus meningkat dari US$107 milyar pada tahun 1984 menjadi US$138 milyar pada tahun 1986. Diperkirakan bahwa defisit tersebut belum akan menurun untuk tahun 1987 ini. Pengelolaan defisit ganda di Amerika Serikat menjadi semakin sulit oleh karena asimetri dalam kebijaksanaan di antara negara-negara industri maju Peran lokomotif Amerika Serikat tidak mempunyai arti tanpa diduA kung kebijaksanaan yang sama di negara-negara lain, terutama Jepang dan Jerman Barat. Kedua negara in. tetap berusaha mempertahankan kebijaksaA naan yang konservatif dengan alasan masing-masing. Sebagai akibatnya timA bul ketidakseimbangan eksternal yang semakin besar dan semakin menggangA gu ekonomi dunia. Sementara defisit neraca transaksi berjalan Amerika Serikat mencapai US$138 milyar pada tahun 1986 yang lalu, surplus neraca transaksi berjalan di Jepang meningkat menjadi US$82 milyar dan di Jerman Barat menjadi US$32 milyar. Sebagai perbandingan, negara-negara berkemA bang bukan penghasil minyak berhasil menekan defisit transaksi berjalan dari di atas US$20 milyar pada tahun 1984 menjadi hanya US$7 milyar pada tahun Ketidakseimbangan eksternal di atas menimbulkan ketegangan-ketegangA an di antara berbagai negara dengan akibat yang luas bagi perekonomian Sentimen proteksionis meningkat, khususnya di Amerika Serikat, dan sangat mengganggu sistem perdagangan dunia yang memang telah sangat meA nurun kredibilitasnya. Seperti dinyatakan sebelumnya, perundingan perA dagangan multilateral yang kini sedang berlangsung, diharapkan dapat memA perbaiki keadaan ini. Tetapi hingga kini semua pihak yang terlibat dalam perundingan ini belum dapat bersikap optimis. Sementara itu perdagangan dunia terus-menerus mengalami kontraksi. Pertumbuhan riil ekspor dunia menurun dari 5% per tahun selama periode 1970-1980 menjadi hanya 2,5% per tahun selama periode 1980-1986. Bahkan ekspor barang-barang manuA faktur pada tahun 1986 ini meningkat hanya sebesar 3%, turun dari 5,5% tahun sebelumnya. Apa yang disebut currency realignments antara Dollar AS dan berbagai ANALISA 1987-12 mata uang lain, sampai batas tertentu memang direkayasa, sehingga sejak September 1985 DM dan Yen dalam periode sekitar 6 bulan saja mengalami apresiasi sampai sekitar 30% atau lebih. Namun perkembangan ini, sesedikitA nya dalam jangka pendek ini, tidak membawa pengaruh berarti pada perdaA gangan Amerika Serikat. Pada tahun 1986 itu volume ekspor Amerika Serikat secara riil meningkat dengan 4,1% naik dari 2,1% tahun sebelumnya, tetapi volume impornya bahkan meningkat dari 5,3% tahun 1985 menjadi 13,5% pada tahun 1986. Kesemua itu menunjukkan adanya ketegaran-ketegaran dalam pasar dan dalam kebijaksanaan di berbagai negara, khususnya di Amerika Serikat. Yang merupakan faktor ketidakpastian besar adalah sejauh mana pola pembiayaan defisit ganda seperti yang dilakukan selama ini dapat dipertahankan. Berbagai kalangan berpendapat bahwa perkembangan ini tidak mungkin Tiada suatu negara pun, termasuk Amerika Serikat, dapat memA pertahankan utang yang terus meningkat. Cepat atau lambat defisit perdaA gangan Amerika Serikat harus dikoreksi dan harus berubah menjadi surplus untuk membayar kembali utangnya. Semakin lambat proses penyesuaian itu semakin besar surplus perdagangan yang harus dicapai. Jepang. Jerman Barat dan lainnya harus bersedia membuka pasar mereka atau meningkatkan impor melalui kebijaksanaan yang lebih ekspansif, tetapi untuk mengurangi defisit perdagangannya. Amerika Serikat harus menguA rangi defisit anggarannya. Usaha-usaha pengurangan defisit anggaran ini diperkirakan akan membuahkan hasil yang lambat. Tetapi tanpa usaha ini suku bunga akan tetap tinggi. Sementara itu peningkatan proteksionisme juga tidak akan dapat mengatasi defisit perdagangan Amerika Serikat. Kini harapan bagi perbaikan ketidakseimbangan perdagangan Amerika Serikat terutama diletakkan pada perubahan nilai tukar dollar. Tetapi hubungan antara merosotnya nilai dollar dan perbaikan posisi perdagangan Amerika Serikat itu sangat tidak menentu. 5 Sebenarnya, perubahan nilai tukar itu dipengaruhi oleh dua jenis gaya-gaya: . gaya-gaya pasar modal . apital-market force. , yang mencerminkan perbedaan dalam pola tabungan dan investasi. gaya-gaya paritas daya-beli . urchasing-power-parity force. , yang mencerminkan perbedaan dalam tingkat harga dan produktiviA Perkembangan nilai tukar selama periode 1981-1985 diperkirakan disebabA kan terutama oleh gaya-gaya jenis pertama. Mata uang dollar mengalami apresiasi sebagai akibat peningkatan permintaan luar negeri akan financial assets Amerika Serikat. Penanam modal asing tertarik pada suku bunga Amerika Serikat yang tinggi yang disebabkan oleh kebutuhan untuk memA 5Lihat Lester C. Thurow clan Laura DAoAndrea Tyson. AoAoThe Economic Black Hole,Ay Foreign Policy. No. 67 (Summer 1. PENGARUH EKONOMI DUNIA biayai defisit anggaran yang meningkat. Sebagai akibatnya, nilai tukar menA jauh dari tingkat purchasing power sehingga keseimbangan perdagangan Depresiasi dollar sejak 1985 ternyata tidak membawa pengaruh berarti pada neraca perdagangan Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan tanda tanya sejauh mana mata uang dollar masih akan terus menurun agar tercapai keseA imbangan dalam perdagangan Amerika Serikat. Apabila perdagangan bilaA teral Amerika Serikat dengan Jepang yang dijadikan dasar, maka tahun 1979 dapat dijadikan titik-tolak, yaitu pada saat Amerika Serikat mengalami keseA imbangan neraca transaksi berjalan dan Jepang mengalami keseimbangan neraca barang. Pada tahun 1979 nilai dollar adalah sekitar Au210, dan antara 1979 dan 1985 inflasi di Amerika Serikat 24% lebih tinggi dan tingkat pertumA buhan produktivitas di sektor manufakturnya 27% lebih rendah daripada di Jepang. Ini berarti bahwa nilai dollar harus menurun 51%, menjadi Au115, agar supaya ongkos produksi relatif . ntara kedua negar. kembali pada tingA kat yang berlaku tahun 1979, selain untuk mengkompensasi penurunan surplus perdagangan hasil pertanian yang terjadi pada tahun 1979 dengan peA ningkatan ekspor barang pabrikan. Untuk itu nilai dollar harus didepresiasi untuk meningkatkan permintaan akan ekspor tersebut. Jika demikian, mungA kin nilai equilibriumnya akan berada di bawah Au100 per dollar. Tetapi depresiasi dollar secara demikian sulit dibayangkan karena akan menggalakkan inflasi di Amerika Serikat, dan menurunkan arus modal ke Amerika Serikat dengan pengaruh meningkatnya suku bunga. Ada pula penA dapat bahwa nilai tukar dollar saat ini (Au140-Au. malahan sudah underA valued, dan bahwa atas dasar purchasing-power parity, nilai tukar yang AoAowaA jarAy adalah Au170 per dollar. Uraian di atas menunjukkan betapa sulit meramalkan perubahan nilai tukar, apalagi pengaruhnya pada keseimbangan perdagangan. Selama prosA pek perbaikan berarti dalam neraca perdagangan . an defisit anggara. Amerika Serikat belum tampak, perkembangan ekonomi dunia masih penuh Sementara itu, secara struktural ekonomi dunia Ai menurut thesis Peter Drucker Ai telah berubah dan perubahan itu membawa dampak jangka panA jang yang bisa kurang menggembirakan bagi negara-negara berkembang 8 Tetapi perkembangan nilai tukar belakangan ini -- khususnya anA tara Yen dan Dollar Ai kiranya dapat membantu mempercepat proses ('Ibid. 7Pidato Toru Hashimoto. Managing Director. The Fuji Bank. Ltd. (Toky. , pada suatu lunA cheon party di Jakarta, 7 Juli 1987. ^Thesis Drucker dan berbagai tanggapan mengenainya dapat dibaca dalam AoAoIndonesia dalam Perubahan EKonomi Dunia,Ay Analisa (CSIS). Tahun XVI. No. 3 (Maret 1. ANALISA 1987-12 perubahan pembagian tugas secara internasional. Artinya, nilai tukar memang dapat berfungsi sebagai faktor keunggulan komparatif. Ini berarti bahwa perkembangan nilai tukar ini sangat penting untuk terus-menerus diamati dan Apresiasi Yen telah mendorong pengalihan berbagai proses produksi ke luar dari Jepang untuk dapat mempertahankan daya-saing internasionalnya. Apresiasi dollar pada periode sebelumnya juga telah mendorong terjadi transfer produksi dan subcontracting komponen ke luar negeri oleh perusahaA an-perusahaan Amerika, dan proses ini tampaknya tetap akan berlanjut. IMPLIKASI BAGI INDONESIA Prospek ekonomi dunia dalam dasawarsa 1990-an tampaknya masih penuh ketidakpastian. Pertumbuhan ekonomi dunia sangat tergantung pada kebijaksanaan ekonomi makro dan koordinasi antara negara-negara industri maju, khususnya dalam rangka mengatasi ketidakseimbangan eksternal. Kerjasama antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang juga penA ting, khususnya untuk mencari jalan keluar bagi masalah utang luar negeri negara-negara berkembang yang merupakan salah satu pembatasan utama . bagi usaha menggerakkan ekonomi dunia. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada pendapat bahwa menurunnya suku bunga Ai sebagai akibat kebijaksanaan ekonomi makro yang terkoordinir tadi - akan mengurangi beban pembayaran utang tempi tidak menyelesaikan masalah utang luar negeri negara-negara berkembang. Rescheduling dan proA gram pengencangan ikat pinggang yang menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi selama ini juga tidak berhasil mengatasi masalah itu. Untuk itulah maka diperlukan usaha tambahan seperti debt write-downs atau debt restrucA turing dan terutama suntikan modal baru dalam jumah besar. Perkembangan serupa ini akan sangat membantu Indonesia. Walaupun demikian, hal ini tidak berarti bahwa negara-negara berkemA bang - termasuk Indonesia - dapat secara pasif menanti usaha-usaha di atas. Untuk Indonesia, tantangan dalam dasawarsa 1990-an tetap masih akan berkisar pada peningkatan ekspor, untuk membayar kembali utang luar negeri dan membiayai pembangunan dan perubahan struktur ekonomi serta untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Dalam hubungan ini timbul tanda tanya yang besar tentang pasar-pasar bagi ekspor Indonesia itu. Uraian terdahulu menunjukkan bahwa perbaikan kondisi ekonomi dunia, yang akan dicapai dengan mengimbangkan neraca perdagangan Amerika Serikat, berarti bahwa sesedikitnya pada tahap perA PENGARUH EKONOMI DUNIA mulaan impor Amerika Serikat tidak lagi akan tumbuh pesat seperti belaA kangan ini. Sementara itu belum jelas bagaimana perkembangan pasar Jepang dan Eropa. Ini tidak berarti bahwa pasar Amerika Serikat bukan lagi menjadi sasaran utama bagi ekspor Indonesia - terutama ekspor barang pabrikan. Tetapi ini berarti bahwa saingan di pasar Amerika Serikat akan menjadi semakin berat dan ketat. Indonesia juga perlu mengambil manfaat dari kerjasama ekonomi ASEAN untuk meningkatkan kemampuan saing produk-produk industrinya. PembuA kaan pasar ASEAN dapat dilihat sebagai batu loncatan untuk meningkatkan peranan Indonesia di pasar-pasar internasional. Dalam meningkatkan peranA an Indonesia dalam ekonomi dunia dalam dasawarsa 1990-an ini kiranya perlu dipelajari bagaimana industri-industri Indonesia dapat mengambil bagian dalam AoAointernasionalisasi produksiAy yang kini sedang berlangsung dengan demikian pesat.