ISSN 1979-5572 . | ISSN 2541-6480 . http://ejurnal. id/index. php/kuriositas KURIOSITAS Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Volume 17 No. Juni 2024 Halaman 86-109 Nepotisme dan Dampak Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Isnayanti Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo isnayanti@iaingorontalo. Abdul Gaffar Institut Agama Islam Negeri Kendari abdulgaffar@iainkendari. Muhammad Ismail Institut Agama Islam Negeri Parepare muhammadmaggading@gmail. Abstrak Nepotism is one of the social disease phenomena that has existed since ancient times and still exists today. This article aims to discuss Nepotism and its impact on social life from the perspective of the hadith of the Prophet PBUH. In addition, data was also obtained from other related documents such as books and relevant research. The results of this study show that nepotism is the practice of giving certain positions, beliefs or tasks to others, both family and close friends, without considering their credibility and capabilities where things are not based on their ability to carry out tasks or positions, but because of personal As a result, this can trigger chaos and even destruction within the organization or institution in question. Some of the characteristics of the practice of nepotism are depicted in the hadith of the Prophet, such as the absence or even lack of professionalism and expertise in the tasks given, as well as the absence of integrity, namely the inability to realize his ideas and thoughts for the sake of the public interest. Therefore, this can trigger chaos in the pattern of social comfort and even result in the destruction of the hereafter. Keyword: Nepotism, social impact, hadis Abstrak Nepotisme adalah salah satu fenomena penyakit sosial yang telah ada sejak dahulu dan masih eksis hingga saat ini. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan mengenai nepotisme dan dampaknya pada kehidupan sosial dalam perspektif hadis Nabi saw. Artikel ini didasarkan pada data yang diperoleh melalui penulusuran dokumen yang berupa kitabkitab hadis yang menjelaskan tentang nepotisme. Selain itu data juga diperoleh dari dokumen lain yang terkait seperti buku maupun penelitian yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nepotisme adalah praktik memberikan posisi jabatan, kepercayaan Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis atau tugas tertentu kepada orang lain, baik keluarga maupun teman dekat, tanpa mempertimbangkan kredibilitas dan kapabilitas mereka yang di mana hal bukan berdasarkan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas atau jabatan, melainkan karena hubungan personal. Akibatnya, hal ini dapat memicu kekacauan dan bahkan kehancuran dalam organisasi atau institusi yang bersangkutan. Beberapa karakteristik dari praktik nepotisme tergambar dalam hadis Nabi, seperti tidak adanya atau bahkan kurangnya profesionalitas dan keahlian pada tugas yang diberikan, serta ketiadaan integritas, yaitu ketidakmampuan untuk merealisasikan ide dan pemikirannya demi kepentingan umum. Oleh karena itu hal ini dapat memicu kekacauan dalam pola kenyamanan kehidupan sosial dan bahkan mengakibatkan kehancuran kehidupan akhirat. Kata Kunci: Nepotisme, dampak sosial, hadis PENDAHULUAN Islam diturunkan oleh Allah Swt. untuk dijadikan pedoman dalam menata kehidupan umat manusia, baik dalam hubungan keluarga, hubungan masyarakat, dan hubungan negara. Aturan atau konsep tersebut bersifat mengikat bagi setiap orang yang mengaku muslim (Rasyid, 2. Konsep Islam juga bersifat totalitas dan komprehensif, tidak boleh dipilahpilah seperti yang dilakukan sebagian umat Islam. Mengambil sebagian dan membuang bagian lainnya, adalah sikap yang tercela dalam pandangan Islam. ( Q. al-Baqarah/2: . Salah satu aturan Islam yang bersifat individual adalah mencari kehidupan dari sumber-sumber yang Islam mengajarkan kepada umatnya agar dalam mencari nafkah kehidupan, hendaknya menempuh jalan yang halal dan terpuji dalam pandangan syariat. (Al-Hajjaj, n. Salah satu jalan pintu menuju arah rezeki yang haram adalah melakukan nepotisme. Istilah nepotisme yang dalam bahasa arabnya biasa disebut al-muhaabah atau al-atsarah dipakai untuk menerangkan praktik dalam kekuasaan umum yang mendahulukan kepentingan keluarga untuk mendapatkan suatu kesempatan. Dalam pandangan hadis, suatu jabatan harus dipegang oleh orang yang berkompeten, ahli pada bidang yang ditawarkan, bahkan penyerahan jabatan kepada yang bukan ahlinya merupakan salah satu tanda akhir zaman . al-SaAoa. (Al-Bukhari. Mayarakat masih dilema menyikapi nepotisme, sebagian mereka menganggap bahwa penunjukkan keluarga meskipun kompoten di Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis bidangnya tetap dikatakan nepotisme. Sedangkan sebagian yang lain berfikiran bahwa bukan disebut nepotisme jika mengangkat kerabat dekat yang memenuhi kompetensi. Hal ini tergambar pada ramainya perbincangan terkait nepotisme dalam beberapa kasus pencalonan pemerintah daerah di Indonesia, seperti Wali Kota Medan. Bobby Nasution yang notabene adalah menantu dari Joko Widodo yang hampir dipastikan akan mencalonkan diri sebagai Gubernur pada Pilkada di Sumatera Utara, (Dirgantara, 2. belum lagi keberhasilan Gibran memenangkan kursi sebagai wakil Presiden selanjutnya mendampingi bapak Prabowo Subianto tidak lepas dari perbincangan khalayak terkait nepotisme. Walau begitu MK memutuskan bahwa tidak ada praktik nepotisme dalam pencalonan Gibran sebelumnya (Nugroho, 2. Sehubungan dengan hal ini, pandangan Islam, khususnya hadis Nabi saw. yang menjadi salah satu sumber utama ajaran Islam (Syuhudi, 1. Prinsip apa yang ditanamkan dalam hadis, apakah soal kompetensi seseorang atas sesuatu jabatan ataukah ada tidaknya hubungan Padahal jika prinsip kekerabatan sebagai landasan, secara rasional barangkali sikap ini kurang obyektif. Hanya gara-gara hubungan kerabat, seseorang tidak berhak mendapatkan haknya, padahal ia berkompeten dalam urusan itu. Dengan tentang nepotisme perspektif hadis Nabi saw. sangat layak untuk dikaji dan didalami. Penelitian pendekatan hadis temaiti / hadis maudhuAoiy, di mana hadis-hadis yang berdasarkan klasifikasi pembahasan hadis terkait. Selain itu, hanya akan menggunakan hadis dhaif sebagai rujukan dalam penelitian ini. Artikel ini didasarkan pada data yang diperoleh melalui penulusuran dokumen yang berupa kitab-kitab hadis yang menjelaskan tentang nepotisme. Selain itu data juga diperoleh dari dokumen lain yang terkait seperti buku maupun penelitian yang relevan. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis HASIL DAN PEMBAHASAN Nepotisme berasal dari bahasa latin yaitu nepos atau nepotis yang berarti cucu . rti kiasa. keturunan dan atau keponakan. (Shadily, 1. Baik kerabat langsung maupun hanya hubungan perkawinan dan bahkan bisa meningkat pada relasi atau teman . onco-konc. (Gie, 1. Jadi nepotisme dapat diartikan sebagai sebuah kecenderungan untuk mengutamakan atau menguntungkan sanak saudara sendiri terutama dalam masalah jabatan, pangkat di lingkungan pemerintahan(T. Indonesia, 2. di luar ukuran mereka. Dalam sebuah hadis terdapat terma A Ayang berasal dari akar kata A Ayang berarti A. EIAN OINIAMaAolouf, 1. engutamakan dirinya atas orang lai. Makna ini, walau dalam redaksi yang berbeda, dikemukakan pula dalam salah satu syarah Sunan al-Turmudziy. Dalam syarah alTurmudziy itu disebutkan bahwa makna dari term A Aadalah AOAE IANA (Abd al-Rahman al-Mubarakfury, 1. Dari makna akar katanya tersebut, maka kata A Adapat diartikan dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri . dan bila dikaji lebih jauh maka kata itu pun dapat dimaknai dengan "menganut sistem famili . " Menurut Hassan Sadiliy, praktek dari sikap nepotis merupakan kecenderungan untuk memberikan prioritas kepada sanak famili dalam hal pekerjaan, jabatan, dan pangkat di lingkungan kekuasaan(Shadily, 1. Istilah lain yang digunakan pada makna nepotisme adalah almuhabah yang berasal dari akar kata habba yang menunjukkan beberapa makna antara lain: mantap dan kokoh, biji-bijian dan sifat pendek. (AlQazwn, 1. Makna yang sepadan dengan nepotisme adalah makna yang ketiga yakni sifat pendek karena hanya membatasi sesuatu hanya kepada keluarga atau rekan-rekannya semata. Pada abad pertengahan beberapa paus Katholik dan uskup -yang telah mengambil janji chastity, sehingga biasanya tidak mempunyai anak kandung- memberikan kedudukan khusus kepada keponakannya seolaholah seperti kepada anaknya sendiri. Beberapa Paus diketahui mengangkat keponakan dan saudara lainnya menjadi kardinal. (ARIYANTI, n. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Seringkali, penunjukan tersebut digunakan untuk melanjutkan "dinasti" Contohnya. Paus Kallistus i, dari keluarga Borja, mengangkat dua keponakannya menjadi kardinal. salah satunya. Rodrigo, kemudian menggunakan posisinya kardinalnya sebagai batu loncatan ke posisi paus. Paus Aleksander VI. Kebetulan. Alexander Alessandro Farnese, adik kekasih gelapnya, menjadi kardinal. Farnese kemudian menjadi Paus Paulus i. Paul juga melakukan nepotisme, dengan menunjuk dua keponakannya . mur 14 tahun dan 16 tahu. sebagai Kardinal. Praktek seperti ini akhirnya diakhiri oleh Paus Innosensius XII yang mengeluarkan bulla kepausan Romanum decet pontificem pada tahun 1692. Bulla kepausan ini melarang semua paus di seluruh masa untuk mewariskan tanah milik, kantor, atau pendapatan kepada saudara, dengan pengecualian bahwa seseorang saudara yang paling bermutu dapat dijadikan seorang Kardinal. Menurut Amien Rais, korupsi(Murtiningsih, 2. dimana salah satu bagiannya adalah korupsi dalam tiga Jenis: Pertama, ekstrortif korupsi, yaitu merujuk pada situasi di mana seseoarang terpaksa menyogok agar dapat memperoleh sesuatu atau mendapatkan proteksi/perlindungan atas hak-hak dan kebutuhannya. Kedua, korupsi manipulatif, yaitu merujuk pada usaha kotor yang dilakukan seseorang untuk mempengaruhi kebijakan atau keputusan tingginya(Sanusi, 2. Ketiga, korupsi nepotistik, yaitu merujuk pada perlakuan istimewa yang diberikan pada anak-anak, kemenakan, saudara dari pejabat. Diharapkan perlakuan istimewa tersebut dapat membagi rejeki antar mereka saja. Landasan Normatif Al-QurAoan Salah satu ayat yang menjadi landasan tentang nepotisme adalah ayat yang memerintahkan untuk menyerahkan amanah kepada ahlinya. Salah satu amanah itu adalah jabatan, sehingga sikap nepotisme yang mendahulukan keluarga tanpa mempertimbangkan keahliannya bertentangan dengan alQurAoan Q. al-NisaAo/4: 58: Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis AuacEE aI a acIA a ca AuacEE Oae aI aEe a eI a a acOu e aueE aIaIa a u aaE a eN aENa aOu au a aaEe ea a e aeO uEIac a a eI a ea aaEaOu aEe ae Ea u acIA a ca Au acIA a )58( AuacEE aE aI aaO U a aA UOuA a ca AaOa a a a eaE a aN u acIA Terjemahnya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan . enyuruh kam. apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. Hadis Ada beberapa hadis yang menujukan bahwa nepotisme adalah sebuah sikap yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Salah satu dari nepotisme tersebut adalah hadis tentang Nabi saw. diindikasikan oleh sebagian sahabat telah berlaku nepotisme terhadap sekelompok suku Qurasiy: s a Aa aca aI aaO uEe aO aI aI a aeaaIa a a eO a aca aI acuE eN a acO Ca aE a aea aI aI a a e aI aIA A a acI aIa U aI eI e aueEI aeA aA:AaEA a a AuacEE a acE a aA a ca aACaEaOu aE a aOEA4 aAuacEE aEa eO aN aO a a acE aI eI a eI aOuEA a ca AOE aA acEA a ca AuacEE aEa eO aN aO a a acE a aeO a aA a ca AuacEE aA acEA a ca aAuacEE aE a aOEA AuacEE aA acEA a ca AN aaO au aI aI a a Aa a aA aC Oa e aO a a UE aI eI Ca aO se uEe aI a a aI eI euEaEa AaCaEaOu Oa e aA aA a ca AOEA a AuacEE aEa eO aN aO a a acE Oa e aO Ca aOeU aOOaa a aI aO a aOOAaIa a eC a a aI eI a aI a a eI Ca aE aIa Aa a a a a aA AuacEE aA acEA a ca AuacEE aEa eON aO a a acE a aICaEa a eI a e a aE uaE aueEI aeA a Aa a aI aN eaI aA Ca ac s aI eI a a sI aOEa eI Oae a aI aN eaI a aU u a e aO a eN AaEa acIA a ca a ca AOEA a Au e a aI aOu a a a eN a aA AuacEE aEa eON aO a a acE AaCa aE aI aE aI a aO aEa aaI a eI eaE Ca aE a aE AaCaNa a a eNA a ca AuacEE aA acEA a ca Aa acI a aOO aua aI aO a aO aEA aAuacEE aE a aOEA a ca AuacEE Aa a ecE Oa aCOEaOu aOeU aOa acI aaIa aIIac a aOa a e aIaIa a eI AaCaEaOu Oa e aA aA a ca AOEA a ca a AuacEE aEa eO aN aO a a acE Oa e aO Ca aOeU aOO a aeEa e aueEI aeA a aO a aOOAaIa a eC a a aI eI a aIaa a eI AaCa aE a aA AuacEEA a ca AuacEE aA acEA aAuacEE aEa eO aN aO a a acE u aI a aeO a a UE a aO aNea a eN a aE eA s a aI a ea eO aI a eI Oa eN aa uEIac a a e aeE eI aOuEA a ca a acEA a ca AuacEE aEa eO aN aO a a acE Aa aOA a ca aOa ea aOu uaE a a aE eaE a a aOEA AOI a aNA a ca AuacEE aA acEA a AOI a aN eaO aI acI Oa eICa aE aA a AuacEE aI a eICa aE aA a ca ACaEaOu a acE a aO a aO aEA AuacEEA a ca AuacEE Cae a aO aI AaCa aE EaN eaI uIac eaE a a ae eO aI a e aO a aa U a aOa U Aa eA a aaOu a ac aEeCa eOuA (Al-Bukhari, 1. (M. a a a AaO a aA e a AuacEE aEa eO aN aO a a acE a acE uEe a e aO a Ca aE aIa Aa a ecE I ea a ca AOE aA acEA Ahmad, 2. Artinya: Al-Bukhariy berkata: Telah bercerita kepada kami Abu al-Yaman telah mengabarkan kepada kami SyuAoaib telah bercerita kepada kami al-Zuhriy berkata telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa orang-orang dari kalangan Anshar berbicara dengan Rasulullah saw. ketika Allah mengkaruniakan harta faAoiy suku Hawazin kepada Rasulullah saw. Saat itu Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Beliau sedang memberikan bagian kepada orang-orang Quraisy berupa seratus unta. Mereka berkata. Semoga Allah mengampuni Rasulullah saw. karena beliau memberikan bagian kepada orang Quraisy dan meninggalkan kita padahal pedang-pedang kitalah yang menumpahkan darah-darah Anas berkata. kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw. yang diperbincangkan oleh mereka. Maka dikirimlah utusan kepada kaum Anshar dan mengumpulkan mereka pada suatu kemah terbuat dari kulit yang telah disamak dan tidak mengijinkan seorangpun bergabung selain kalangan Ketika mereka sudah berkumpul maka Rasulullah saw. menemui mereka lalu berkata: Ada apa dengan berita yang telah sampai kepadaku tentang kalian. Orang faqih mereka berkata kepada beliau. Orangorang bijak dari kami tidaklah mengatakan sesuatupun wahai Rasulullah. Namun memang ada anak-anak muda yang berkata. Semoga Allah mengampuni Rasulullah karena beliau memberikan bagian kepada orang Quraisy dan meninggalkan kaum Anshar padahal pedang-pedang kitalah yang menumpahkan darah-darah mereka. Maka Rasulullah saw. Sungguh aku memberi bagian kepada orang-orang yang masa hidup mereka masih dekat dengan kekafiran. Apakah kalian ridla orang-orang itu pulang dengan membawa harta, sebaliknya kalian kembali ke tempat tinggal kalian dengan membawa Rasulullah saw. Demi Allah, sungguh apa yang kalian bawa pulang lebih baik dari apa yang mereka bawa. Kaum Anshar berkata. Kami ridla wahai Rasulullah. Kemudian beliau bersabda lagi: Sungguh sepeninggalku nanti kalian akan melihat banyak perkara yang sangat berat. Untuk itu bershabarlah hingga kalian berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya di telaga al-haudl. Anas berkata. Ternyata di kemudian hari kami tidak Perundang-undangan Sementara undang-undang yang membahas tentang nepotisme adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Kolusi dan Nepotisme. Dalam BAB I tentang Ketentuan Umum dikatakan bahwa nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam BAB IV tentang Hak dan Kewajiban Penyelenggara Negara pasal 5 ayat 4 tentang kewajiban penyelenggara Negara untuk tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme dan ayat 7 bersedia menjadi saksi dalam perkara korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara dalam BAB Vi tentang Sanksi pasal 22 dikatakan bahwa setiap penyelenggara Negara atau anggota komisi Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis pemeriksa yang melakukan nepotisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 4 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 . tahun dan paling lama 12 . ua bela. tahun dan denda paling sedikit Rp200. ua ratus juta rupia. dan paling banyak Rp1. 000,- . atu milyar (P. Indonesia, 1. Karakterisktik Nepotisme Tidak profesional Seseorang yang ingin diberikan jabatan, padahal dia tidak profesional di bidangnya, akan tetapi hanya karena ada hubungan kekeluargaan sehingga ia diberikan jabatan, maka hal semacam ini termasuk nepotisme. Oleh karena itu. Rasulullah saw. umatnya agar menyerahkan setiap urusan kepada orang yang profesional di bidangnya masing-masing: AuEa a Ca aE Ea eO aA ua a a Ca aE u au aO aa e aueE eI a u aaE a e aO aN a aeE AaIea a eA a au a aO a e e aueE aII a a AaIea a eA ca (M. a Ahmad, 2. (Al-Bukhari, 1. AuEa aA ca a Artinya: Maka apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat. Orang itu bertanya: Bagaimana hilangnya amanat itu? Nabi saw. menjawab: Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya Untuk mengungkap kandungan hadis tersebut, maka perlu mengkaji apa yang dimaksud dengan AEIA. A O NENAdan AEA. AoAbd al-Rau>f dalam kitab syarahnya menjelaslan bahwa yang dimaksud dengan AEIA adalah segala sesuatu yang terkait dengan agama seperti pemerintahan, kehakiman, fatwa dan pengajaran serta yang lain-lain. (Muhammad Abd alRauf & Al-Manawy, 1. Sementara yang dimaksud dengan A O NENAadalah orang-orang yang fasik, penyeleweng dan bukan keturunan baik-baik . idak punya pengaruh dalam masyaraka. (Muhammad Abd al-Rauf alManawy, 1. Berangkat dari penjelasan teks tersebut dapat ditarik sebuah pemahaman dalam hadis ini bahwa kehancuran, kekacauan dan ketikadilan akan terjadi jika suatu pekerjaan atau jabatan apapun, terlebih lagi urusan agama jika diberikan kepada orang yang tidak amanah dan Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, bukan hanya pemimpin atau pejabat yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya berupa kekacauan karena tidak menunaikan amanah akan tetapi umat atau masyarakat juga dianggap menyia-nyiakan amanah karena memilih dan mengangkat orang-orang yang tidak amanah pada suatu jabatan, (Al-Ainy, ) dan dalam hadis tersebut tidak ada penjelasan tentang siapa yang berhak diangkat menjadi pejabat, apakah harus orang lain ataukah boleh keluarga, sebab penekanan hadis itu hanya pada profesionalitas semata yang ditunjukkan oleh kata A( O NENAtidak kompote. Sehingga jika yang diserahi tugas itu adalah kerabat dekat dari orang yang memberi tugas, bukanlah menjadi persoalan, yang penting orang tersebut memenuhi Jadi prinsip yang ditanamkan dalam hadis ini adalah soal kompetensi seseorang atas sesuatu jabatan, bukan ada tidaknya hubungan Ungkapan hadis tersebut diperkuat oleh Allah swt. dalam firmanNya Q. al-NisaAo/4: 58 yang memerintahkan kepada setiap manusia agar memberikan amanah kepada ahlinya: AuacEE aI a acIA a ca AuacEE Oae aI aEe a eI a a acOu e aueE aIaIa a u aaE a eN aENa aOu au a aaEe ea a e aeO uEIac a a eI a ea aaEaOu aEe ae Ea u acIA a ca Au acIA a )58( AuacEE aE aI aaO U a aA UOuA a ca AaO a a a eaE aN u acIA Terjemahnya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan . enyuruh kam. apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (Ri, 2. Muhammad Abduh mengungkapkan bahwa amanah merupakan hak bagi setiap mukallaf dan terkait dengan hak orang lain. Dengan demikian, amanah seringkali dititipkan dan diberikan kepada orang lain agar disampaikan kepada orang yang mempunyai hak, baik terkait dengan ilmu pengetahuan maupun harta benda. Artinya, seorang alim wajib menyampaikan ilmunya kepada orang lain, sebagaimana orang yang kaya wajib menyampaikan hartanya kepada orang lain. 0 ,A)A Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Wahbah al-Zuhailiy menyebutkan bahwa amanah dalam ayat tersebut adalah setiap dipercayakan kepada seseorang dan berlaku pada semua jenis kewajiban, baik kepada Allah swt. , kepada manusia maupun kepada diri sendiri. 8 ,A)ONA Ayat menyerahkan urusan kepada ahlinya. Untuk merealisasikan hal itu. Rasulullah menginginkan atau mengejar jabatan atau dalam bahasa gamblangnya adalah orang-orang yang ambisius. Hal tersebut pernah dilakukan Nabi kepada seseorang yang miminta jabatan kepadanya, namun Nabi saw. balik menasihatinya dengan sabdanya: a AOEA a A aO a aO aEA:ACa aE a aE aI aI u aeEI aeA aA a AEE a aE a e a e aIEa aI a aaE eu a e aIEe a Aa aEaIU AaCa aE a aA AEE aA accEA a A a aEeCa eO aI a e aO a aa U Aa eA a aaOu a ac aEeCa eO aI aU u a acE uEe a eOA:AuacEE aEa eO aN aO a a acEA (M. Ahmad, 2. a ca Artinya: Seorang suku Ansar berkata: Wahai Rasulullah saw. tidakah engkau memberikan jabatan kepadaku sebagaimana engkau memberikan jabatan kepada si fulan? Rasulullah saw. menjawab: kalian akan menemui sikap-sikap egoistis dan individualistis sepeninggalku, maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku di telaga di kemudian hari. Kalau melihat syarah hadis tersebut, diketahui bahwa nama orang Ansar yang bertanya kepada Nabi tersebut adalah Usayd bin AoUmayr. (AlAsqalany, n. ) Sedangkan si-fulan yang disebutkan dalam materi hadis adalah AoAmr bin al-AoAsh yang pernah ditunjuk oleh Nabi untuk menjadi gubernur di Yaman. (Al-Asqalany, n. ) Pada masa Rasul jabatan gubernur Pengangkatan Nabi terhadap AoAmar bin al-AoAsh memang terkesan nepotism karena masih banyak yang lebih bisa dari pada AoAmar bin al-AoAsh, akan tetapi, hal tersebut didasarkan atas kapabilitas dan loyalitas yang dimiliki oleh AoAmar. Sabda Nabi saw. agar tidak memberikan jabatan kepada orang yang menginginkan diperkuat oleh sabda Nabi saw. yang lain bahwa seseorang yang meminta jabatan akan diberikan sepenuhnya jabatan tersebut kepadanya tanpa ada pertolongan dari Allah swt. (Al-Bukhari. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi saw. sangat enggan memberikan jabatan kepada seseorang yang menginginkan jabatan karena bisa jadi hal itu menjadi cerminan ketidakamanahannya, terlebih lagi pertolongan Allah swt. juga tidak diberikan kepada orang semacam ini, sehingga profesionalitasnya akan hilang atau paling tidak diragukan. Badr al-Din al-Hanafiy sebagaimana yang dikutip al-Mala AoAli alQariy menjelaskan bahwa ketidakbolehan mengangkat seseorang yang menginginkan jabatan bisa jadi karena orang tersebut mempunyai maksud atau niat tertentu atau bisa jadi karena gajinya yang diincar, bukan untuk mengabdikan diri dan menunaikannya dengan baik. (Al-Qary, 1. Dari pemaparan di atas, penekanan hadis-hadis tersebut adalah bagaimana memberikan tugas kepada orang yang kompoten dan tidak memberikannya kepada orang yang meminta jabatan. (Al-Nasaiy, 1. sekaligus informasi dari Nabi bahwa suatu saat nanti, akan muncul kelompok yang suka melakukan nepotisme, maka pada saat itulah, setiap orang membutuhkan kesabaran agar tetap selamat dunia dan akhirat. Sikap Nabi saw. yang memberikan jabatan kepada ahlinya tercermin ketika Nabi saw. mengutus MuAoadz bin Jabal bersama Abu Musa al-AsyAoariy ke Yaman dengan pesannya (Al-Bukhari, 1. U AOa aac aOEa aa aacA a a A( aOa aac aOEa aIaA aac aOAPermudahlah kalian berdua dan janganlah A aOEa ea a acEa a AOA a AA mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari dan bekerjasamalah kalian berdua dan jangan berselisi. Pengutusan MuAoadz bin Jabal sangat tepat karena MuAoadz adalah orang yang paling mengerti tentang halal dan haram. Tidak mempunyai integritas Salah satu karakteristik nepotisme adalah orang yang diberikan jabatan tidak mampu menjalankan dan merealisasikan jabatan yang diberikan kepadanya. Artinya, terkadang seseorang yang mempunyai kemampuan dalam aspek praktek, akan tetapi tidak mempunyai kemampuan dalam aspek teori. Integritas dibutuhkan dalam rangka melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang yang diberikan jabatan. Oleh karena itu. Nabi saw. tidak mau memberikan Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis jabatan kepada Abu Dzarr, meskipun yang bersangkutan terkenal sebagai sosok yang saleh, terpercaya dengan sabdanya: AaO a a a s u aI a auEa a aOAU aOu aI a a ac a aaE aI a a ac aEIa eA a aE aa acI a acI a acE ueIa e aeO aO aE aaOE ac a aceO aI aE Oa a sIOA a 1. (Al-Hajjaj,a n. )(Al-Nasaiy. Artinya: Wahai Abu Dzarr, sungguh saya melihatmu sangat lemah, dan saya menginginkan untukmu seperti yang saya inginkan untuk kamu. Jangan kamu menjadi pemimpin di antara dua orang dan jangan kamu menguasai harta anak yatim. Alasan Nabi saw. tidak memberikan jabatan kepada Abu Dzarr bukan karena Nabi saw. tidak percaya kepadanya, padahal ia salah seorang sahabat yang paling dipercaya dan paling jujur, akan tetapi Abu Dzarr terkenal mempunyai sikap zuhud sehingga ia pernah memberikan fatwa tentang keharaman mengumpulkan harta benda, meskipun zakatnya telah (Al-Suyuthy, 1. Sikap inilah yang dikhawatirkan Nabi saw. sikapnya pada saat ia diberikan jabatan. Hal tersebut dapat dipahami dari teks tersebut yang melarangnya menjadi pejabat, meskipun rakyat atau anak buahnya hanya dua orang saja (AEaO eIaO aceI aO aE aaOEac aO acI aI aE aOacOIA a A) aE a a acI a acIA. Al-Qurthubiy sebagaimana yang dikutip al-Sanadiy ketika menjelaskan kalimat AacOAUA a aA acuIacO a aEAmengatakan bahwa Abu Dzarr lemah untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai amir/pejabat, seperti menjaga kemaslahatan rakyatnya, baik yang terkait dengan urusan duniawi maupun urusan ukhrawi dikarenakan sikapnya yang zuhud dan menganggap dunia sebagai sesuatu yang hina dibanding akhirat. (AlSanady, 1. Oleh karena itu. Nabi saw. senantiasa mengangkat Khalid bin alWalid selaku panglima perang sejak ia bergabung dalam Islam, karena kemampuannya dalam berperang sehingga Nabi saw. pernah berkata: Sesungguhnya Khalid adalah pedang yang menjadi kunci Allah terhadap orang-orang musyrik,(T. Ahmad, n. ) padahal pada sisi yang lain. Khalid sering kali melakukan kesalahan yang tidak dapat dibenarkan oleh Nabi , bahkan Nabi saw. pernah berdoa: Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis (Al-Bukhari, 1. (M. Ahmad, 2. Artinya: AuEEacNa acI u aI a e aa uEa eO aE aI acI aAIa a aEA Ya Allah, sungguh aku terbebas dari apa yang dilakukan Khalid bin al-Walid. Di antara indikator seseorang tidak mempunyai integritas adalah karena usianya masih sangat belia atau terlalu tua atau karena bodoh. Oleh karena itu. Nabi saw. mengingatkan umatnya untuk tidak mengangkat seseorang yang sudah berusia 70 tahun atau masih anak-anak atau karena (M. Ahmad, 2. Logikanya adalah seseorang yang masih belia tentu ia sangat kesusahan dalam melaksanakan tugasnya atau bisa jadi karena belum mengetahuinya karena pengalaman dan pikiran yang masih sangat terbatas, sementara orang yang terlalu tua dikhawatirkan lupa terhadap apa yang dikatakan atau dikerjakan atau tidak bisa lagi memikirkan masalah-masalah yang rumit atau masalah yang terlalu banyak yang semuanya membutuhkan pemikiran yang dalam dan fisik yang prima, sedangkan orang bodoh tidak mengetahui sesuatu yang bersifat politik, baik terkait agama maupun dunia, sehingga bisa jadi ia diperalat orangorang yang ingin melakukan kazaliman,(Al-Qurthuby, 1. bahkan Allah menyuruh orang adil untuk mencatat transaksi yang dilakukan oleh orang bodoh, orang lemah dan orang tidak mampu. (Q. Al-Baqarah/2: . Pemerintahan yang baik dan amanah dalam pandangan hadis sesuai dengan harapan Al-QurAoan dan hadis Nabi saw. pemerintahan yang mampu memenuhi hak-hak segenap warga dan menegakkan keadilan di antara mereka. (Q. al-NisaAo/4: . Oleh karena itu, pemerintahan yang menjalankan penyelewengan akan berdampak dalam kehidupan, baik dampak duniawi maupun dalam ukhrawi. Salah satu penyelewengan yang dapat dilakukan oleh para pejabat adalah melakukan Di antara dampak yang akan dirasakan oleh orang yang melakukan nepotisme berdasarkan hadis-hadis Nabi sebagai berikut: Salah satu dampak yang ditimbulkan oleh nepotisme adalah tersebarnya kerusakan di tengah-tengah masyarakat, terjadinya kekacauan aturan agama dan dunia hingga akan tampak dengan jelas kerusakan, baik dalam aspek keamanan, politik, akhlak karena amanah telah sirna dari para Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis pemangku jabatan, hingga seakan-akan terjadi kiamat. Hal tersebut tergambar dalam sabda Nabi saw. AuEa a Ca aE Ea eO aA ua a a Ca aE u au aO aa e aueE eI a u aaE a e aO aN a aeE AaIea a eA a au a aO a e e aueE aII a a AaIea a eA ca (M. Ahmad, 2. (Al-Bukhari, 1. AuEa aA ca a Artinya: Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat. Orang itu bertanya: Bagaimana hilangnya amanat itu? Nabi saw. menjawab: Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat. Kata A EAbukan semata-mata diartikan sebagai hari kiamat, akan tetapi itu bisa jadi merupakan perumpamaan tentang sebuah kehancuran, kecarut-marutan. Islam, ketidakmampuan orang-orang yang professional dan kompoten untuk menegakkan kebenaran dan merealisasikanya dalam kehidupan dunia, laksana hari kiamat yang dahsyat. (Muhammad Abd al-Rauf & Al-Manawy. Tidak dapat dibayangkan jika urusan suatu kaum diberikan kepada orang yang bukan ahlinya. Hak-hak akan sirna, kemaslahatan umat menjadi terbengkalai, tersebarnya fitnah di mana-mana, kekalutan akan menghantui masyarakat karena semua aturan tidak lagi berjalan sebagai Nepotisme juga mempunyai dampak buruk bagi kehidupan sendiri maupun kehidupan orang lain. Dampak buruk bagi diri pelaku nepotisme yaitu orang tersebut akan dikucilkan karena semua orang tahu kalau dia tidak profesional dalam melaksanakan tugas yang dia emban, bahkan bisa jadi jabatannya diturunkan dan sulit dipercaya kembali oleh orang lain, sehingga nama baik dirinya akan tercemar. Selain dampak yang bersifat sosial dalam kehidupan di dunia, nepotisme juga memiliki dampak pada kehidupan stelah kematian atau Nepotisme dalam hal ini merupakan salah satu bentuk maksiat yang sangat dahsyat, sehingga seseorang akan disiksa dengan siksaan yang dahsyat berbagai macam siksaan yang diberikan. Di antara dampak nepotisme adalah medapatkan laknat. Salah satu sanksi yang diperoleh oleh pelaku nepotisme adalah laknat Allah swt. karena telah memberikan Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis sesuatu bukan pada orang yang berhak sehingga dianggap sebagai sebuah kejahatan yang menyengsarakan khalayak, merugikan rakyat, merugikan perekonomian dan manajemen negara, merendahkan martabat manusia dan bangsa di mata Allah maupun bangsa-bangsa lain di dunia ini. Karena sangat membahayakan, maka hadis melarangnya dan mengancam pelakunya dengan laknat, tidak diterima segala amal baiknya dan pada akhirnya dimasukkan ke dalam api neraka, sebagaimana tindakan preventif ketika Allah melarang mendekati perbuatan zina. a ca AaI eI aO a aE aI eI a eI a uEe aI e aE aI aeO aOeU a acI a aEaeOe a eI a aUu aI a a U Aa aEa eO aN Ea eIa aA aUA a ca AuacEE aE Oa eC a aEA e AuacEE aIIe aNA a ca AuacEE AaCae uIeaa a aE aA a aaOA a ca AaO aE ae UE a ac Oae a a aE a aacIac a aO aI eI a aeO a aU u a aaOA AuacEE aOeU a e aaO a aC aNA a ca AuacEE a eO Ca aE aca e aIIe aN a acI aA a ca a aEa eO aN Ea eIa aA ca AuacEE a ac aO aA (M. Ahmad, 2. AEA Artinya: Barangsiapa memimpin suatu urusan kaum muslimin, kemudian mengangkat seseorang untuk mereka atas dasar kecintaan, maka baginya laknat dari Allah, dan Allah tidak akan menerima amal perbuatan wajibnya dan juga amal perbuatan nafilah darinya, sampai dia memasukkannya ke dalam neraka jahannam, dan barangsiapa memberikan kepada seseorang batasan Allah, kemudian melanggar sesuatu di dalam batasan Allah tanpa haknya, maka baginya laknat dari Allah, atau dia berkata: terlepaslah darinya jaminan Allah. Laknat bukan sekedar diartikan sebagai siksaan yang diberikan kepada orang yang melakukan kemaksiatan atas dosa-dosanya dan dijauhkan dari surga sejak awal, akan tetapi laknat juga dapat diartikan sebagai bentuk Allah swt. menjauhkan dari hamba-Nya dari rahmat Allah Selain itu, pelaku nepotisme juga diharamkan surga baginya. Hal ini tergambar dalam riwayat hadis AuacEE aEa eO aN uEe aIac aA a AaI aI eI aOuEs Oa aE a a acO U aI eI uEe aI e aE aI aeO Aa aO aIA a ca AO aON aaO a EaN eaI u acE a ac aIA Bukhari, 1. (Al- Artinya: Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, selain Allah mengharamkan surga baginya. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Seseorang yang melakukan penipuan seperti nepotisme akan dimasukkan ke dalam neraka sebagai konsekwensi dari kutukan Allah Swt. Hal itu terjadi, karena mereka tidak mengindahkan perintah-perintah Allah dengan melakukan kezaliman terhadap orang lain. Jika seorang pejabat yang telah diberikan amanah tidak melaksanakan tugasnya dengan baik maka ia telah melakukan khianat dan penipuan sehingga layak masuk ke dalam api neraka. Di antara bentuk-bentuk penipuan seorang pejabat terhadap rakyatnya adalah melakukan kezaliman dengan lebih mengutamakan keluarganya, padahal masih ada orang lain yang lebih membutuhkan, bahkan ancaman bagi pelakunya sama dengan ancaman yang diberikan kepada orang kafir, yakni haram masuk surga. (Q. Al-Maidah/5: . ca A a ac aIAyakni tidak masuk ke Makna yang tercantum dalam kalimat aAEa eO acN eE aIacA a aAcEEA dalam surga bersama orang-orang yang selamat atau bisa jadi maknanya adalah mustahil bagi pelakunya masuk ke dalam surga atau ini merupakan ancaman keras tentang suAo al-khatimah. (Al-Qary, 1. Hal-Hal yang Dapat Mencegah Terjadinya Nepotisme Keimanan Nepotisme adalah sebuah kejahatan karena merampas hak orang lain dan memberikannya kepada kerabat atau sanak famili yang tidak layak Salah satu pendorong seseorang untuk melakukan kejahatan adalah karena tidak memiliki iman pada saat melakukan hal Karena dengan iman, setiap orang meyakini bahwa ia selalu diawasi oleh Yang Mahakuasa, sehingga tidak akan melakukan hal-hal yang negatif apalagi dosa besar. Hal itu sesuai dengan Sabda Rasulullah Aae aC aON aaO aI e aII aO aE Oa e aIA a e Aae aC a aeO OA a e AuacEE aEa eO aN aO a a acE Ca aE aE OA a ca A a acI uEIac a ac aA acEA:a eI a a N aa eO aA Aaeaa a aON aaO aI e aII aO aE Oa a acE a aeO Oa a acE aON aaO aI e aIIA a e Aae a uEe a eI a a aeO OA a e Aa aeO Oa e aI aON aaO aI e aII aO aE OA (M. Ahmad, 2. (Al-Hajjaj, n. ) . A aON aaO aI e aIIA a a aO aE OaIeaa a a a aeO OaIeaA Artinya: Dari Abu Hurairah berkata. Bahwasanya Nabi saw. bersabda: Tidak disebut sebagai mukmin seorang pencuri ketika ia mencuri, tidaklah disebut sebagai mukmin seorang pezina ketika ia berzina, tidaklah disebut sebagai mukmin Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis seorang peminum khamar ketika ia meminum khamar, tidaklah disebut sebagai mukmin seorang pencuri ghanimah ketika melakukannya, dan tidaklah disebut sebagai mukmin seorang perampok ketika ia merampok. Meskipun ulama beragam pendapat dalam menanggapi hadis ini, akan tetapi paling tidak ada sebuah indikasi kuat bahwa para pelaku kejahatan, khususnya kejahatan yang berdampak besar dan luas tidak memiliki iman atau paling tidak keimanannya dipertanyakan pada saat dia melakukan kejahatan tersebut. (Al-Nawawy, n. )(Al-Asqalany, n. Keimanan yang sempurna akan mendorong seseorang untuk melakukan apa yang dicintai Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Maka meninggalkan kewajiban kecuali karena dorongan hawa nafsu untuk melakukannya dan pada saat yang sama keimanan terkalahkan oleh hawa Seandainya seseorang paham dan mengerti akibat dari kemaksiatan niscaya dia tidak akan melakukannya. Begitu juga jika seseorang menyadari kemaksiatan ketika melakukannya maka niscaya dia akan berhenti melakukannya. Potongan teks hadis A aO aE OaaE ac OIa OaaE aON aaO aIe Iac IAdapat dipahami bahwa tidak mungkin bersamaan kemaksiatan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya. Meskipun demikian, ulama berbeda pendapat tentang apakah keimanannya hilang ataukah keimanannya tidak sempurna atau pujian tentang keimanan hilang darinya. (Al-Nawawy, n. ) Yang pasti bahwa seseorang tidak akan melakukan kemaksiatan jika saja keimanannya sempurna, karena pada saat itulah akal terkalahkan dan terkikis. Tidak fanatik Salah satu cara untuk menghindarkan diri terhadap sikap nepotisme adalah menghilangkan fanatisme dalam diri masing-masing, sebab seseorang terkadang mengangkat atau memberikan keutungan kepada keluarga karena dorongan fanatisme yang berlebihan kepada keluarga atau sanak famili. Dengan demikian, setiap orang diharuskan membebaskan diri dari fanatisme golongan, kelompok, suku, daerah dan keluarga. Oleh karena itu. Nabi saw. mengingatkan seseorang untuk menghidarinya: Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis a A Ca aE a a eO aEA:AEE aeIe a aI Ca aEA A aI aI eu a e aI aE a a UEA:AEE aEa eO aN aO a ac acEA a AEE aA accEA a AA a a Aa aI u e aI a ac s aA a e aI eI a a s aO aA A (Al-. AeOA a AE uEe a aA a a aI eI N aaO a e a aEE aIIe aN AaCae aaIA a e aAEE aO aaI a a eO a aE aO aaI uEe aI e aIIA Naisabury, 1. Artinya: Dari Ibn AoAbbas r. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang mengangkat seseorang karena dasar fanatisme, padahal ada orang yang lebih diridai dari padanya maka sungguh ia telah berkhianat kepada Allah, berkhianat kepada Rasulullah dan berkhianat kepada orang-orang mukmin. Sebenarnya fanatik penting dalam kehidupan beragama dan berbangsa, namun yang penting dihilangkan adalah fanatisme yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar, karena hal itu merupakan perbuatan jahiliyah. Oleh karena itu, dalam sebuah hadis dikatakan bahwa setiap individu berkewajiban menolong saudaranya dengan pertolongan yang Artinya, pertolongan terhadap saudara yang melakukan kezaliman adalah mencegahnya melakukan kezaliman, sedangkan saudara yang dizalimi ditolong dengan menghindarkannya dari orang zalim tersebut. Tidak ambisius Salah satu cara menghindari sikap nepotisme adalah dengan menghilangkan sifat ambisi dalam diri masing-masing. Ambisius atau mempertahankannya akan seseorang untuk melakukan segala cara untuk mencapai tujuan. Salah satunya dengan cara nepotisme dengan mengangkat keluarganya untuk menduduki posisi strategis. Oleh karena itu. Nabi saw. sangat enggan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya: AuacEE aEa eO aN aO a ac acE aaIa aO a a aE aI aI eI Ca eO aIOA a Aa eI a a aIA a ca A a aEe a a acE uEIac a a aA accEA:AuacEE a eI aN Ca aEA a ca AA a a AO aA a ca aCa aE a aa acuE aEa e aeO a aI eaIa aO a aO aEA AuacEE aOCa aE eueE aa aI a aeE AaCa aE uaIac aE I aaO aE N aau aI eI aa a aE aO aE aI eIA (Al-Bukhari, 1. (Al-Hajjaj, n. A a aA aE a eO aNA Artinya: Dari Abu Musa ra. aku menemui Nabi saw. bersama dua orang kaumku, lantas satu diantara kedua orang itu mengatakan. Jadikanlah kami pejabat ya Rasulullah? orang kedua juga mengatakan yang sama. Secara spontan Rasulullah saw. Kami tidak akan memberikan jabatan ini Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi Hadis ini menjadi petunjuk bahwa seseorang yang mengambil melaksanakannya pada umumnya dia akan gagal melakukannya. Ungkapan Nabi saw. dengan kata al-hirsh menjadi indikator bahwa seseorang yang menjalankan jabatan ketika khawatir akan punah atau semakin rusak bagaikan orang yang diberikan jabatan tanpa meminta karena saat itu keinginan dan ambisi menjadi hilang. Dalam salah satu hadisnya. Rasulullah saw. mengingatkan setiap orang agar dalam memperoleh jabatan sekali-kali tidak melalui cara-cara lobi, terlebih lagi jika mengeluarkan uang demi mendapatkan jabatan, sebab hal itu sangat dikecam dan ditentang oleh Nabi saw. , bahkan orangorang yang melakukannya tidak akan mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah swt. , sebagaimana pesan Nabi saw. kepada AoAbd alRahman bin Samurah: AuacEE aEa eO aN aO a ac acE aO a ea acuE e aa aI e aI aa a a aE a ea eEA a ca A Ca aE aE uEIac a ac aA accEA:Aa eI a e a acuE e aa aI e aI aa a a Ca aEA AeuE aI a a AaI aacE u eI a aeOaa a a eI aI ea a sE aO eaE a uEaeOe a aOu eI a aeOaa a a eI a e aO aI ea a sE a a eI a aEaeOe a aOu auA a ca Aa aEa eA a a a acE O a aI aeOs Aa aaOe a a e aONa e UaOu aIeIe a AaEa aA e a a eI Oa aaIOIa aE aOe aA (Al-Bukhari. AuacEO N aaO eaOA Artinya: Dari AoAbd al-Rahman bin Samurah mengatakan. Nabi saw. berkata kepadaku: "Wahai AoAbd al-Rahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan dengan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong, dan jika kamu diberinya karena meminta, maka kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu bersumpah, lantas kamu lihat ada suatu yang lebih baik, maka bayarlah kafarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih Hadis memberikan indikasi yang sangat kuat bahwa seseorang yang ahli dalam bidang tertentu tidak perlu mencari jabatan, akan tetapi biarkan jabatan tersebut yang datang menghampirinya. oleh karena itu, setiap lembaga atau organisasi, baik pemerintahan atau swasta seharusnya mencari orang-orang yang mempunyai kompetensi, profesionalitas dan integritas untuk menduduki jabatan-jabatan sesuai dengan keahliannya. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Dengan demikian, seseorang yang mempunyai kemampuan dan bertujuan untuk memberikan manfaat kepada Islam dan orang Islam atau halayak umum maka meminta jabatan tidaklah menjadi larangan, seperti yang dilakukan Nabi Yusuf as. dalam QS. Yusuf/12: 55: )55( Artinya: ACa aE u e aEe aI a acE aaua aI e aueE e a u aI a aAO a aEIOA Yusuf berkata: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesi. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (Ri, 2. Nabi Yusuf as. meminta jabatan tersebut atas dasar demi kemaslahatan, memberi petunjuk kepada manusia dengan kemampuan yang dimilikinya. Ucapan Nabi Yusuf bahwa dia mampu bukan tanpa Di antara buktinya adalah kemampuannya menjaga amanah dengan terbebas dari segala tipu daya dan kejahatan, padahal dia mempunyai kesempatan yang sangat besar. Di samping itu, dia mempunyai sifat yang sudah dikenal masyarakat, bahkan dia rela berkorban dengan masuk penjara demi menghindari fitnah yang lebih besar dan demi menjaga wibawa negara. (Al-Buqaiy, 1. Dengan demikian. Ibnu AoAbd al-Salam memberikan dua syarat bagi seseorang yang ingin menjadi pejabat, yaitu ilmu pengetahuan atau profesionalitas dan kemampuan mendatangkan kemaslahatan dan meninggalkan kerusakan. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, menurutnya haram menduduki sebuah jabatan apapun. (Al-Syairaziy. Sifat malu Kejahatan yang terjadi di seluruh pelosok dunia tidak lepas dari kemorosotan atau ketidakadaan akhlak. Indonesia misalnya terjadi peningkatan kejahatan itu karena akhlak sudah amat langka ditemukan pada penduduk atau warga Negara. Oleh karena itu, keberhasilan dakwah Rasulullah karena menggunakan pendekatan akhlak sehingga Nabi mengatakan AuAku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlakAy. Di samping itu, pejabat yang tidak punya malu akan melakukan apapun sesuka hatinya. Hal itu sesuai dengan pesan Nabi saw. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis AuacEE aEa eO aN aO a ac acE u acI aI acI a aeEa uEIac a aI eI a aEaE aI uEIac a acO a u au Ea eI a e a e aO ae a eE aIA a ca ACa aE uEIac a ac aA accEA a (Al-Bukhari, 1. Aae aA Artinya: Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya diantara yang didapatkan manusia dari perkataan . ang disepakat. para Nabi adalah. Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu. Dalam menjelaskan hadis di atas, ulama menggunakan dua takwil. Pertama. Jika kamu tidak termasuk orang yang malu melakukan kejahatan yang dianggap aib oleh orang baik dan mayoritas manusia maka lakukanlah sesukamu. Artinya, hadis ini, meskipun menggunakan fiAol alamr akan tetapi ia bersifat celaan atau dampratan. Kedua. jika apa yang kamu lakukan tidak termasuk pekerjaan yang dianggap aib atau perbuatan memalukan maka lakukanlah sesukamu. Artinya, hadis di atas sebagai izin bagi seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak dianggap aib. (AlNamariy, n. Dalam kesempatan lain. Rasulullah saw. menegur seorang sahabat Ansar agar membiarkan saudaranya mempunyai sifat malu dengan AaeNa Aa acI uEe a aO a aI aI uEIO a aIA Artinya: Biarkanlah dia karena malu bagian dari iman. Sebagian Seorang terkadang meninggalkan kewajiban amr maAoruf nahy munkar dengan alasan malu. Terkadang seorang tidak menyampaikan kebenaran karena alasan malu. Ibn al-S}ala>. dan ulama lainnya menjelaskan bahwa sikap semacam itu bukanlah sifat malu yang sebenarnya, akan tetapi adalah ketidakmampuan, kelamahan dan Sikap semacam itu sering dikatakan sifat malu oleh masyarakat karena ada kemiripan dengan sifat malu, karena sifat yang sejati adalah sifat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan jelek dan mencegahnya sembrono terhadap hak-hak orang lain. (AlSuyuthiy, 1. Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis Malu terhadap Allah Swt. akan mencegah seseorang untuk melakukan kejelekan yang bersifat agama, sedangkan malu terhadap manusia akan mencegah dirinya melakukan kejelekan yang bersifat etika atau kebiasaan, sehingga jika sifat malu telah hilang dari seseorang maka dirinya tidak peduli lagi terhadap apa saja yang dilakukannya. Di antara akhlak yang tidak terpuji adalah tidak malu meminta jabatan padahal dia tidak layak untuk mendudukinya, sebab orang yang meminta atau menginginkan jabatan tentu memiliki motivasi atau tujuan-tujuan tertentu yang dapat merusak tujuan utama dari sebuah jabatan yaitu kemaslahatan kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, bukan terbatas kepada keluarga SIMPULAN Nepotisme secara etimologi adalah kemanakan, sanak keluarga dan orang terdekat sedangkan menurut hadis, nepotisme adalah memberikan jabatan atau tugas apapun kepada orang lain . aik keluarga atau konco-koncony. bukan atas dasar kredibilitas dan kapabilitas serta kemaslahatan dalam mengemban tugas atau jabatannya sehingga dapat menimbulkan kekacauan dan kehancuran. Karakteristik orang-orang yang melakukan nepotisme berdasarkan hadis-hadis Nabi antara lain adalah tidak adanya profesionalitas atau keahlian pada tugas yang diberikan, tidak adanya intgritas, yakni tidak mampu merealisasikan ide dan fikiranfikirannya demi kepentingan khalayak banyak dan tidak mempunyai tujuan kemaslahatan umum. Oleh karena itu, menurut hadis Nabi, nepotisme bisa terjadi jika ketiga hal . redibilitas, kapabilitas dan kemaslahata. tidak terwujud dalam pengangkatan atau pemberian Adapun dampak yang akan ditimbulkan akibat perilaku nepotisme adalah kekacauan dan ketidakharmonisan dalam kehidupan sosial oleh karena kecemburuan sosial yang terjadi akibat perilaku nepetisme tersebut, selain itu pelaku nepotisme akan mengalami kekacauan di dunia dan siksaan di akhirat. Adapun faktor-faktor yang dapat mencegah seseorang untuk melakukan nepotisme antara lain adalah memiliki keimanan yang bagus sehingga keimanan tersebut dapat mencegahnya melakukan nepotisme, tidak fanatik, sebab fanatisme yang berlebihan akan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 Juni 2024 Isnayanti, dkk. - Nepotisme dan Dampaknya Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis sebenarnya dilarang oleh agama, tidak ambisius untuk mendapatkan jabatan, sebab orang yang ambisius berarti dia mempunyai target yang ingin dicapai dan sifat malu, sehingga dirinya dapat menahan diri dari segala yang tidak elok menurut masyarakat. Sehubungan dengan penelitian ini, diharapkan kedepannya akan ada penelitian terkait nepotisme dengan lebih mengkritisi keadaan sosial politik di Indonsesia. REFERENCES