e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 6. No 2. Oktober 2025 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah Dialog Budaya Dan Teologi Menuju Pendidikan Kristen yang Transformatif Stasia Daeng Badjie1. Afriani Manalu 2 STT Misi William Carey STT Misi William Carey Correspondence: Afrianimanalu2103@gmail. Abstract: The dialogue between culture and theology in Christian education is not merely concerned with the transmission of faith-based knowledge, but also with the formation of character and the transformation of learnersAo lives within complex social realities. This study aims to conceptually examine the dynamic relationship between cultural constructions and theological reflection in shaping a reflective and transformative model of Christian The approach employed is a reflective literature study that analyzes the works of Berger. Durkheim. Barth. Wright. Marsden, and Smith, along with other relevant theological and pedagogical sources. The findings indicate that authentic Christian education emerges from a critical dialogue between sociological diagnoses of cultural realities and theological norms rooted in divine revelation. The integration of these two perspectives gives rise to a dual-track analysis that enables Christian education to read the world realistically while simultaneously directing it toward divine transformation. This study proposes a conceptual model of Christian education grounded in cultural-theological dialogue that fosters reflective faith, ethical character, and social responsibility amid the challenges of pluralism and secularization. The novelty of this study lies in the development of a cross-disciplinary paradigm that synthesizes sociology, theology, and pedagogy in constructing a reflective, liturgical, and transformative Christian education. Keywords: Cultural and Theological Dialogue. Transformative Christian Education Abstrak: Dialog antara budaya dan teologi dalam pendidikan Kristen tidak hanya berkaitan dengan proses pewarisan pengetahuan iman, tetapi juga dengan upaya pembentukan karakter dan transformasi hidup peserta didik di tengah realitas sosial yang kompleks. Studi ini bertujuan mengkaji secara konseptual dinamika hubungan antara konstruksi budaya dan refleksi teologis dalam membentuk model pendidikan Kristen yang bersifat reflektif dan Pendekatan yang digunakan adalah studi literatur reflektif dengan menelaah karya-karya Berger. Durkheim. Barth. Wright. Marsden. Smith, serta sejumlah sumber teologis dan pedagogis yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen yang autentik lahir dari dialog kritis antara diagnosis sosiologis terhadap realitas budaya dan norma teologis yang berakar pada pewahyuan Allah. Integrasi kedua perspektif ini melahirkan pendekatan analisis ganda . ual-track analysi. yang memungkinkan pendidikan Kristen membaca konteks secara realistis sekaligus menuntunnya pada arah transformasi Studi ini menawarkan model konseptual pendidikan Kristen berbasis dialog budaya dan teologi yang menumbuhkan iman reflektif, karakter etis, dan tanggung jawab sosial di tengah tantangan pluralisme dan sekularisasi. Novelty dalam studi ini terletak pada pengembangan paradigma lintas disiplin yang mensintesiskan sosiologi, teologi, dan pedagogi dalam membangun pendidikan Kristen yang reflektif, liturgis, dan transformatif. Kata-kata Kunci: Dialog Budaya dan Teologi. Pendidikan Kristen yang Transformatif CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 76 PENDAHULUAN Pendidikan Kristen dewasa ini menghadapi tantangan strategis di tengah dunia yang semakin plural, sekular, dan ditandai oleh krisis kemanusiaan yang kompleks. Globalisasi, kemajuan teknologi digital, serta arus relativisme moral telah mengubah lanskap nilai dan cara manusia memaknai kehidupan. Dalam konteks ini, pendidikan tidak jarang terjebak dalam orientasi pragmatis dan instrumental, yang menekankan penguasaan keterampilan teknis dan capaian akademik, namun mengabaikan pembentukan karakter, spiritualitas, dan kepekaan sosial. Akibatnya, pendidikan Kristen berisiko kehilangan daya profetiknya apabila tidak mampu mengintegrasikan iman secara kontekstual tanpa mengorbankan kedalaman teologis dan integritas Injil. Dalam masyarakat yang semakin plural dan dinamis, iman Kristen tidak dapat lagi dipraktikkan dalam ruang yang terisolasi dari realitas sosial-budaya. Pendidikan Kristen dipanggil untuk berdialog dengan konteks di mana manusia hidup, bekerja, dan membangun Dialog antara teologi dan budaya menjadi medan krusial untuk menentukan apakah pendidikan Kristen sekadar menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dominan yang sekuler dan relativistik, atau justru hadir sebagai kekuatan alternatif yang mentransformasi realitas melalui nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kasih, keadilan, dan pelayanan. Dialog ini bukanlah upaya untuk meleburkan kebenaran iman ke dalam relativisme budaya, melainkan usaha kritis untuk menghadirkan Injil secara relevan tanpa kehilangan kekudusan dan otoritas teologisnya. Secara sosiologis, budaya berfungsi sebagai ruang pembentukan makna, identitas, dan struktur sosial. Peter L. Berger . memahami budaya sebagai canopy of meaning, yakni kanopi makna yang menopang realitas sosial melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan Dalam kerangka ini, budaya membentuk plausibility structure yang membuat suatu sistem nilai dipandang wajar dan sah oleh masyarakat. yOmile Durkheim . menambahkan bahwa agama dan ritus berperan penting dalam membangun solidaritas sosial serta menjaga kohesi dan identitas kolektif. Perspektif ini menegaskan bahwa pendidikan Kristen tidak dapat dilepaskan dari dinamika budaya, karena ia beroperasi di dalam arena sosial yang terus dinegosiasikan oleh berbagai kepentingan, nilai, dan makna. Namun demikian, pendekatan sosiologis semata tidak cukup untuk membangun pendidikan Kristen yang berakar pada iman. Karl Barth . dengan tegas menolak anggapan bahwa budaya bersifat netral. Menurutnya, seluruh realitas manusia, termasuk budaya, berada di bawah penilaian pewahyuan Allah dan telah terdistorsi oleh dosa, sehingga membutuhkan penebusan. Dalam perspektif ini, pendidikan Kristen berada dalam CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 77 ketegangan kreatif antara struktur makna yang dibangun manusia dan norma ilahi yang dinyatakan Allah. Ketegangan ini bukan untuk dihindari, melainkan menjadi ruang teologis yang subur, tempat pendidikan Kristen berfungsi sebagai laboratorium kritis untuk menguji, menyaring, dan mentransformasi budaya melalui firman Tuhan. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini berakar pada ketegangan tersebut, yakni bagaimana pendidikan Kristen dapat berdialog secara kritis dengan budaya tanpa kehilangan orientasi teologisnya, serta bagaimana dialog ini dapat menghasilkan praksis pendidikan yang bersifat transformatif. Dalam konteks ini, terdapat risiko bahwa pendidikan Kristen hanya mereproduksi nilai-nilai budaya dominan yang sekuler dan pragmatis, alihalih menghadirkan alternatif nilai yang berakar pada Injil. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa integrasi antara analisis konteks sosial dan penilaian teologis belum sepenuhnya terwujud secara sistematis dalam praktik pendidikan Kristen. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, diperlukan suatu kerangka konseptual yang mampu mengintegrasikan pendekatan sosiologis dan teologis secara seimbang. Dengan mengacu pada pemikiran Berger dan Durkheim di satu sisi, serta Barth. Wright. Marsden, dan Smith di sisi lain, studi ini mengembangkan pendekatan dual-track analysis. Pendekatan ini menekankan pembacaan realitas budaya secara sosiologis untuk memahami konteks dan dinamika sosialnya, sekaligus melakukan evaluasi teologis untuk menilai arah transformasi yang selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Dengan demikian, pendidikan Kristen tidak hanya responsif terhadap perubahan zaman, tetapi juga tetap setia pada panggilan iman. Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan secara konseptual bagaimana dialog kritis antara teologi dan budaya dapat menjadi fondasi bagi pendidikan Kristen yang transformatif. Pendidikan Kristen dipahami bukan sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai praksis formasi yang membentuk akal budi, hati, imajinasi, dan tindakan sosial peserta didik. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praksis bagi pengembangan pendidikan Kristen yang relevan secara kontekstual, berakar secara teologis, dan mampu menghadirkan kesaksian iman yang hidup di tengah dunia yang terus berubah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif reflektif dengan metode studi literatur . ibrary researc. yang bersifat konseptual, analitis, dan teologis-reflektif. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian bukan pada pengumpulan data empiris, melainkan pada penafsiran dan integrasi gagasan lintas disiplin untuk membangun pemahaman konseptual CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 78 mengenai dialog antara budaya dan teologi dalam pendidikan Kristen yang bersifat Sebagaimana ditegaskan oleh Creswell dan Poth . , penelitian kualitatif bertujuan memahami makna yang terkandung dalam teks dan konteks. Dalam kerangka tersebut, literatur tidak hanya dibaca secara deskriptif, tetapi dianalisis dan direfleksikan secara hermeneutik-teologis untuk menyingkap relasi antara konstruksi budaya dan norma teologis yang membentuk praksis pendidikan Kristen. Sumber data penelitian terdiri atas karya-karya utama dari Peter L. Berger, yOmile Durkheim. Karl Barth. Wright. George Marsden, dan James K. Smith, yang dipilih secara purposif karena kontribusinya dalam kajian sosiologi agama, teologi, dan pendidikan Kristen. Literatur pendukung dari bidang teologi dan pedagogi digunakan untuk memperkaya analisis dan memperkuat sintesis konseptual. Pemilihan sumber didasarkan pada relevansinya terhadap tiga fokus utama, yaitu diagnosis budaya, refleksi teologis pewahyuan, dan pembentukan paradigma pendidikan Kristen. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dan reflektif melalui kerangka dual-track analysis, yakni pembacaan dua jalur antara realitas sosiologis . hat i. dan norma teologis . hat ought to b. Proses analisis mencakup tiga langkah utama: memahami konteks budaya secara sosiologis, menafsirkannya dalam terang teologi Kristen, serta merumuskan model konseptual pendidikan Kristen yang berorientasi pada transformasi sosial dan Melalui pendekatan reflektif ini, penelitian tidak hanya memaparkan teori, tetapi menafsirkan secara kritis dengan iman dan rasio untuk menawarkan paradigma pendidikan Kristen yang membentuk iman reflektif, karakter etis, dan tanggung jawab sosial di tengah dinamika perubahan budaya global. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dialog Budaya dan Teologi sebagai Fondasi Pendidikan Kristen Dialog antara budaya dan teologi merupakan fondasi penting dalam membangun pendidikan Kristen yang kontekstual sekaligus normatif. Pendidikan Kristen tidak hidup di ruang hampa. ia selalu berinteraksi dengan struktur makna sosial yang dibentuk oleh Menurut Peter L. Berger . dalam The Sacred Canopy, manusia membangun dunia sosial melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, yang akhirnya menghasilkan kanopi makna . anopy of meanin. yaitu sistem makna yang membuat dunia CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 79 sosial terasa wajar dan dapat dipercaya . lausibility structur. Dengan demikian, budaya bukan sekadar wadah, tetapi kekuatan pembentuk kesadaran kolektif yang memberi arah pada pemikiran, nilai, dan praktik sosial manusia, termasuk dalam pendidikan. Emile Durkheim . melalui The Elementary Forms of Religious Life menambahkan bahwa agama dan ritus berfungsi menjaga kohesi sosial melalui pembedaan antara yang sakral dan yang profan. Artinya, setiap praktik budaya dan pendidikan selalu mengandung dimensi religius atau AusakralitasAy tertentu yang menjaga identitas dan solidaritas Oleh karena itu, pendidikan Kristen perlu membaca budaya bukan hanya secara deskriptif, tetapi juga secara kritis dan teologis, apakah nilai dan praktik yang diwariskan budaya mendukung atau justru bertentangan dengan visi Kerajaan Allah? Dalam kerangka inilah Karl Barth . melalui Church Dogmatics menegaskan bahwa semua konstruksi budaya harus disidik oleh terang pewahyuan Allah di dalam Kristus. Budaya tidak netral. ia bersifat creaturally conditioned dapat ditebus, tetapi juga dapat jatuh dalam bentuk penyembahan berhala . eligion as idolatr. bila tidak ditundukkan pada Kristus. Dengan demikian, pendidikan Kristen dipanggil untuk mengembangkan metode Auanalisis dua jalurAy: pertama, mendiagnosis realitas sosial-budaya secara sosiologis . pa adany. , dan kedua, menilainya secara teologis . eharusnya bagaimana menurut iman Kriste. James K. Smith . dalam Desiring the Kingdom memperluas pandangan ini dengan menyoroti bahwa budaya tidak hanya membentuk pikiran, tetapi juga hasrat dan kebiasaan melalui Auliturgi-liturgi sekulerAy. Artinya, pendidikan Kristen perlu menyadari bahwa praktik dan ritual keseharian baik di sekolah, gereja, maupun masyarakat membentuk arah cinta dan kehendak manusia. Maka, pendidikan Kristen harus melatih bukan hanya kognisi, tetapi juga afeksi dan imajinasi, agar seluruh dimensi kemanusiaan diarahkan kepada kasih dan penyembahan kepada Allah. Wright . dalam The Outrageous Idea of Christian Scholarship menegaskan bahwa misi teologi dan pendidikan Kristen bukan hanya memahami dunia, melainkan ikut serta dalam rekonstruksi sosial menuju tanda-tanda Kerajaan Allah menegakkan keadilan, memulihkan relasi, dan membentuk tatanan baru yang lebih manusiawi. Dengan kata lain, pendidikan Kristen berfungsi sebagai Aulaboratorium transformasiAy, tempat iman, budaya, dan ilmu saling mengoreksi dan memperbarui. George Marsden . kemudian menambahkan bahwa beasiswa Kristen (Christian scholarshi. harus bersifat publik dan normatif tidak hanya mengkritik sekularisme, tetapi menawarkan visi positif yang memuliakan Allah sekaligus melayani masyarakat. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 80 Dengan demikian, dialog budaya dan teologi dalam pendidikan Kristen bersifat dialektis: pendidikan Kristen tidak dapat berdiri di luar budaya, karena ia harus berbicara kepada manusia dalam konteksnya tetapi juga tidak boleh larut di dalam budaya, karena ia memiliki norma transenden yang menilai dan menebus kebudayaan. Di titik inilah pendidikan Kristen menemukan perannya sebagai ruang pembentukan iman dan nalar yang memadukan antara kanopi makna (Berge. dan kanopi pewahyuan (Bart. demi transformasi sosial dan Analisis Sosiologis terhadap Realitas Budaya Dialog antara budaya dan teologi merupakan landasan epistemologis yang menentukan arah dan kualitas pendidikan Kristen dalam menghadapi dinamika zaman. Pendidikan Kristen tidak hidup di ruang hampa, melainkan beroperasi di tengah tatanan sosial yang dipenuhi sistem makna, nilai, dan praktik kebudayaan yang terus berubah. Karena itu, pendidikan Kristen harus memahami budaya sebagai medan pembentukan identitas dan makna hidup manusia, sekaligus menempatkan teologi sebagai norma penuntun yang menilai, menafsir, dan mengarahkan perkembangan budaya agar tetap setia pada pewahyuan Allah. Peter L. Berger . melalui karyanya The Sacred Canopy menjelaskan bahwa budaya merupakan hasil proses sosial yang membentuk kanopi makna . melalui tiga tahap: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Manusia mengeksternalisasi nilai-nilai, mengobjektivasikannya dalam lembaga dan simbol sosial, lalu menginternalisasikannya kembali sebagai realitas yang dianggap wajar dan sah. Dalam konteks pendidikan, proses ini menjelaskan bagaimana sistem pendidikan sering kali menjadi sarana reproduksi ideologi Namun bagi pendidikan Kristen, kesadaran terhadap mekanisme budaya ini bersifat Ia harus mampu membedakan antara nilai budaya yang selaras dengan prinsip Kerajaan Allah dan yang bertentangan dengannya. Pendidikan Kristen tidak boleh menjadi alat legitimasi tatanan sosial yang tidak adil, melainkan harus menjadi agen penebusan budaya, yang menuntun peserta didik untuk membaca realitas sosial secara kritis dan Karl Barth . dalam Church Dogmatics menolak gagasan otonomi budaya yang melepaskan diri dari otoritas pewahyuan. Bagi Barth, semua karya dan konstruksi manusia, termasuk budaya, adalah ciptaan yang berada di bawah penghakiman dan penebusan Kristus. Oleh karena itu, teologi berfungsi sebagai norma transendental yang menilai arah perkembangan budaya dan memberikan kerangka bagi rekonstruksi moral dan spiritual masyarakat. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 81 Dalam pendidikan Kristen, prinsip Barth ini berarti bahwa setiap upaya kontekstualisasi harus dilakukan di bawah ketaatan kepada Injil. Sekolah dan lembaga pendidikan bukan hanya mengadaptasi budaya, tetapi memurnikannya melalui lensa pewahyuan. Pendidikan Kristen yang sejati tidak anti-budaya, tetapi transformative engagement menghadirkan terang Kristus di tengah pluralitas nilai yang sering kali saling bertentangan. James K. Smith . dalam Desiring the Kingdom memperluas pemahaman ini dengan menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah liturgy serangkaian praktik dan kebiasaan yang membentuk hasrat . dan orientasi hidup manusia. Budaya modern, dengan ritualnya yang terselubung dalam konsumsi, hiburan, dan teknologi, menciptakan Auliturgi-liturgi sekulerAy yang membentuk identitas manusia tanpa disadari. Pendidikan Kristen harus menyadari dimensi liturgis ini dengan menata ulang praksis pembelajaran agar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk afeksi dan imajinasi iman. Kurikulum, kegiatan ibadah, dan interaksi sosial di lembaga pendidikan menjadi sarana pembentukan karakter yang menuntun peserta didik kepada kasih, penyembahan, dan keadilan sebagai ekspresi iman yang hidup. George Marsden . dalam The Outrageous Idea of Christian Scholarship dan N. Wright . melalui karya teologi kerajaannya menegaskan bahwa iman Kristen tidak hanya bersifat pribadi, tetapi publik dan transformatif. Pendidikan Kristen harus menjadi arena dialog intelektual yang menghubungkan iman dengan dunia akademik, sehingga menghasilkan pemikiran yang rasional, relevan, dan berkontribusi bagi rekonstruksi sosial. Marsden mengingatkan bahwa scholarship Kristen seharusnya tidak bersikap eksklusif atau reaktif terhadap akademia sekuler, melainkan menawarkan paradigma alternatif yang berakar pada kebenaran Allah. Sementara Wright melihat misi pendidikan Kristen sebagai bagian dari proyek Kerajaan Allah sebuah usaha untuk membangun masyarakat yang adil, penuh damai, dan berpengharapan di bawah kedaulatan Kristus. Dialog antara budaya dan teologi menuntun pendidikan Kristen untuk mengembangkan pendekatan interdisipliner, sosiologi sebagai alat diagnosis terhadap realitas sosial, teologi sebagai norma penuntun arah transformasi, dan pedagogi Kristen sebagai laboratorium pembentukan manusia baru. Melalui pendekatan ini, pendidikan Kristen tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara intelektual, tetapi juga berkarakter profetik mampu menilai zaman dan terlibat aktif dalam pembaruan sosial. Dengan demikian, fondasi pendidikan Kristen yang sejati bertumpu pada keseimbangan antara kesadaran kultural dan ketaatan teologis. Budaya menjadi ruang perjumpaan iman dan dunia, sedangkan teologi menjadi cahaya yang menuntun arah transformasi. Dalam CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 82 sinergi keduanya, pendidikan Kristen menghadirkan proses formasi yang memanusiakan sekaligus memuliakan Allah. Perspektif Sosiologis terhadap Realitas Budaya Pemahaman terhadap realitas budaya dalam konteks pendidikan Kristen menuntut pendekatan yang bersifat sosiologis, karena budaya pada dasarnya adalah hasil konstruksi sosial yang membentuk, memelihara, dan mewariskan dunia makna tempat manusia hidup dan bertindak. Budaya tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan adat, tradisi, atau kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi sebagai jaringan simbolik yang menstruktur cara berpikir, merasa, dan berperilaku manusia dalam masyarakat. Dalam kerangka ini, teori-teori Peter L. Berger dan yOmile Durkheim menjadi rujukan penting untuk memahami bagaimana agama dan budaya bekerja sebagai kekuatan pembentuk identitas kolektif serta penjaga keteraturan sosial. Peter L. Berger melalui karya monumentalnya The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion . menggambarkan kebudayaan sebagai Aukanopi sakralAy . acred canop. sebuah sistem makna yang dibangun manusia untuk memberi stabilitas dan legitimasi terhadap kehidupan sosial. Dalam pandangannya, setiap masyarakat secara terus-menerus membangun dan mempertahankan tatanan makna ini melalui tiga tahap dialektis: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Dalam proses eksternalisasi, manusia mengekspresikan diri melalui tindakan sosial yang kemudian menjadi bagian dari dunia eksternal. Hasil eksternalisasi itu lalu mengalami objektivasi, ketika karya dan struktur sosial manusia diakui sebagai realitas objektif yang memiliki kekuatan mengatur. Akhirnya, manusia menginternalisasi kembali realitas yang telah diciptakannya itu sebagai sesuatu yang wajar, sah, dan bermakna. Dari perspektif Berger, agama berperan penting dalam menjaga stabilitas kanopi makna tersebut karena ia menyediakan legitimasi akhir bagi realitas sosial. Agama menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan menyediakan narasi kosmik yang menjelaskan mengapa dunia ini ada serta untuk apa manusia hidup di dalamnya. Namun, dalam masyarakat modern yang ditandai oleh proses sekularisasi dan pluralisasi, kanopi sakral ini mengalami pelemahan. Dunia sosial tidak lagi dilindungi oleh satu sistem makna tunggal, melainkan oleh beragam pandangan hidup yang saling bersaing. Akibatnya, individu menghadapi krisis legitimasi dan kehilangan arah dalam membangun identitas. Konteks ini memberi tantangan besar bagi pendidikan Kristen. Sekolah Kristen tidak boleh sekadar menjadi agen reproduksi nilai-nilai budaya dominan, karena hal itu hanya CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 83 akan memperkuat struktur sosial yang mungkin tidak adil dan jauh dari nilai-nilai Injil. Sebaliknya, pendidikan Kristen dipanggil untuk menjadi agen rekonstruksi makna membentuk individu yang mampu menafsirkan realitas sosial secara kritis dan menimbangnya berdasarkan terang pewahyuan Allah. Dalam kerangka ini, proses belajar tidak hanya menjadi kegiatan intelektual, melainkan juga kegiatan hermeneutik, di mana peserta didik diajar untuk Aumembaca duniaAy dengan mata iman sebelum mengambil bagian dalam Aumengubah duniaAy melalui tindakan kasih dan keadilan. Berbeda dari Berger yang menyoroti dimensi konstruksi makna, yOmile Durkheim melalui karyanya The Elementary Forms of Religious Life . menekankan fungsi sosial agama sebagai kekuatan kohesi dalam masyarakat. Menurut Durkheim, setiap masyarakat membedakan antara yang sakral . he sacre. dan yang profan . he profan. Pembedaan ini bukan semata-mata bersifat teologis, melainkan sosiologis, karena yang disebut AusakralAy adalah segala sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan mengikat komunitas dan melampaui kepentingan individual. Agama, dengan ritus, simbol, dan praktik kolektifnya, berfungsi memperkuat solidaritas sosial dengan memperbarui kesadaran moral dan kebersamaan anggota masyarakat. Bagi Durkheim, ketika masyarakat melakukan ritual penyembahan, sesungguhnya yang sedang mereka rayakan bukan hanya kehadiran ilahi, tetapi kekuatan moral komunitas itu sendiri. Melalui ritual, nilai-nilai bersama diperbarui dan diinternalisasi melalui simbol, identitas kelompok ditegaskan. Karena itu, agama baginya adalah Aulem sosialAy yang mengikat individu ke dalam kehidupan kolektif. Analisis Durkheim membantu pendidikan Kristen memahami dimensi sosial dari praktik keagamaan. Ibadah, doa bersama, persekutuan, dan etos pelayanan dalam lembaga pendidikan bukan hanya ekspresi spiritual, melainkan juga sarana pembentukan solidaritas moral dan kebersamaan iman. Melalui praktik-praktik tersebut, komunitas pendidikan dibentuk menjadi tubuh yang memiliki kesadaran bersama akan panggilan dan tanggung jawabnya di hadapan Allah. Namun, pandangan Durkheim juga memiliki keterbatasan yang perlu dikoreksi secara teologis. Jika agama hanya dipahami sebagai alat fungsi sosial tanpa pengakuan terhadap sumber transendennya, maka agama kehilangan dimensi pewahyuan dan relasi dengan Allah yang hidup. Karena itu, pendekatan sosiologis ini perlu dilengkapi oleh analisis teologis yang menilai arah dan makna dari struktur sosial yang ada sebagaimana akan dijelaskan dalam bagian berikutnya melalui pemikiran Karl Barth. Dari sintesis pemikiran Berger dan Durkheim dapat disimpulkan bahwa budaya bekerja melalui tiga instrumen utama, struktur sosial, simbol, dan ritus. Struktur sosial mengatur peran dan pola hubungan antaranggota masyarakat, menciptakan stabilitas dan kesinambungan hidup bersama. Simbol berfungsi sebagai media komunikasi makna. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 84 menyimpan ide, nilai, dan keyakinan yang dipegang bersama. Sementara ritus memperkuat keterikatan emosional dan moral terhadap sistem nilai yang dianut suatu kelompok. Ketiga unsur ini membentuk identitas kolektif yang menjadi dasar bagi kehidupan sosial. Dalam masyarakat modern yang plural dan dinamis, identitas ini tidak lagi bersifat tunggal, melainkan berlapis-lapis, agama, etnis, profesi, kelas sosial, dan ideologi saling berinteraksi dan membentuk individu secara kompleks. Di tengah kompleksitas ini, pendidikan Kristen perlu tampil sebagai komunitas interpretatif yang menolong peserta didik memahami identitasnya secara holistik. Melalui pembelajaran yang reflektif dan dialogis, peserta didik dibimbing untuk menafsirkan berbagai wacana sosial di sekitarnya, sekaligus menegaskan panggilannya sebagai imago Dei ngambar Allah yang diciptakan untuk berelasi, bekerja, dan melayani dalam kasih. Pendidikan Kristen dengan demikian bukan sekadar institusi pembelajaran, tetapi ruang formasi sosial dan spiritual yang menumbuhkan kesadaran identitas Kristiani di tengah dunia yang terus berubah. Dalam kerangka metodologis tesis ini, perspektif sosiologis seperti yang ditawarkan Berger dan Durkheim berfungsi sebagai jalur pertama dalam dualtrack analysis yakni analisis terhadap realitas sosial sebagaimana adanya . hat i. Pendekatan ini menjadi tahap diagnosis yang penting sebelum masuk pada jalur kedua, yaitu analisis teologis yang menimbang realitas tersebut dalam terang pewahyuan Allah . hat ought to b. Dengan demikian, pendidikan Kristen memiliki landasan yang utuh untuk memahami budaya secara kritis, bukan untuk menolaknya, tetapi untuk menebus dan mentransformasikannya menjadi sarana perwujudan kasih dan keadilan Allah dalam kehidupan sosial. Koreksi Teologis terhadap Konstruksi Budaya Dalam dinamika kehidupan sosial yang kompleks, budaya tidak pernah bersifat netral. Ia senantiasa berada dalam ketegangan antara kebaikan ciptaan dan kerusakan dosa. Nilainilai, simbol, dan struktur yang lahir dari kebudayaan dapat menjadi sarana manusia untuk mengekspresikan imago Dei panggilan untuk berkarya dan mengasihi tetapi juga dapat berubah menjadi alat penindasan, keserakahan, dan penyembahan terhadap diri sendiri. Karena itu, teologi memiliki fungsi yang sangat penting, bukan hanya sebagai refleksi konseptual terhadap fenomena budaya, melainkan sebagai norma kritis dan transformatif yang menilai, menebus, dan mengarahkan kembali makna budaya kepada kehendak Allah (Barth, 2010. Wright, 2. Melalui pemikiran Karl Barth dan N. Wright, kita melihat bagaimana teologi berperan sebagai jalur kedua dalam dual-track analysis, yaitu tahap koreksi terhadap hasil CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 85 diagnosis sosiologis. Jika pendekatan sosiologi menyingkap bagaimana budaya membentuk struktur makna dan tatanan sosial, maka teologi menilai arah dan moralitas dari struktur tersebut menurut ukuran pewahyuan (Barth, 2. Tidak semua yang dihasilkan budaya sejalan dengan kehendak Allah. sebagian nilai perlu ditebus dan disucikan, sebagian dapat dilestarikan, sementara sebagian lain harus ditolak karena bertentangan dengan Injil. Karl Barth menegaskan bahwa pusat dari seluruh realitas teologi adalah pewahyuan Allah dalam Yesus Kristus. Kristus bukan hanya tokoh religius atau teladan moral, melainkan manifestasi konkret dari kebenaran Allah yang menilai dan menebus seluruh ciptaan, termasuk budaya manusia (Barth, 2. Dalam kerangka berpikir Barth, teologi tidak berada sejajar dengan wacana manusia lainnya seperti filsafat atau sosiologi. ia adalah tanggapan iman terhadap tindakan Allah yang menyatakan diri-Nya dalam sejarah. Karena itu, teologi bukan hanya Auberbicara tentang Allah,Ay tetapi Auberbicara dari AllahAy yakni berpikir, menilai, dan bertindak berdasarkan kebenaran yang diwahyukan (Barth, 2. Dari sini lahir prinsip Kristo-sentrisme yang menjadi ukuran segala hal. Segala bentuk budaya harus dipantulkan kepada Kristus sebagai pusat penilaian. Nilai, norma, dan praktik sosial tidak diukur berdasarkan popularitas, keindahan estetis, atau keuntungan ekonomi, melainkan sejauh mana ia mengarahkan manusia kepada kebenaran, kebebasan dari dosa, serta relasi yang memuliakan Allah dan menghormati sesama. Dalam konteks ini, budaya yang menolak ketergantungan pada Allah dan mengklaim otonomi moral seperti konsumerisme, materialisme, atau nasionalisme absolut menjadi bentuk baru penyembahan berhala modern. Barth . menyebut fenomena ini sebagai religion-as-idolatry, yaitu ketika manusia menjadikan ciptaannya sendiri sebagai pusat makna menggantikan Tuhan. Namun. Barth juga menolak pandangan ekstrem yang menempatkan budaya sebagai sesuatu yang sepenuhnya jahat dan harus ditinggalkan. Baginya, budaya adalah bagian dari ciptaan yang bersifat criaturawi rapuh, terbatas, tetapi tetap berada di bawah kedaulatan penebusan Kristus. Karena itu, tugas teologi bukan menghancurkan budaya, melainkan menebus dan menundukkannya di bawah terang Injil (Barth, 2. Pendidikan Kristen, dalam terang pemikiran ini, tidak hanya bertugas membentengi diri dari pengaruh negatif budaya, tetapi secara aktif mengarahkan dan merekonstruksi praktik, nilai, dan simbol budaya agar berfungsi untuk kemuliaan Allah. Kurikulum, metode pengajaran, dan kebijakan institusional perlu diuji terus-menerus, apakah semuanya menumbuhkan ketaatan kepada Kristus, atau justru melatih kepatuhan kepada logika dunia yang berpusat pada kuasa, status, dan keuntungan (Barth, 2. Jika Barth menekankan pewahyuan Kristus sebagai ukuran normatif. Wright memperluas koreksi teologis ini dengan membingkainya dalam narasi kerajaan Allah CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 86 (Kingdom of Go. suatu visi teologis yang menempatkan iman Kristen sebagai proyek rekonstruksi dunia (Wright, 2. Bagi Wright, karya Yesus bukan sekadar penyelamatan spiritual individu, tetapi pembukaan kembali proyek Allah untuk memperbarui seluruh Kerajaan Allah adalah realitas dinamis yang mulai hadir di tengah dunia melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, dan terus berlanjut dalam tindakan gereja dan umat percaya di dalam sejarah (Wright, 2. Dalam konteks ini, pendidikan Kristen dipanggil untuk menjadi agen partisipasi dalam proyek kerajaan tersebut. Ia bukan sekadar lembaga yang mentransfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan warga kerajaan manusia yang berpikir, mengasihi, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi (Wright, 2. Nilainilai kerajaan ini menantang struktur budaya yang menindas dan mengundang terciptanya tatanan sosial baru yang lebih adil. Maka, misi pendidikan Kristen adalah menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah dunia sekarang ini, bukan hanya menunggu pemenuhannya di masa depan (Wright, 2. Wright juga menyoroti dimensi praksis dari teologi kerajaan. Ia menolak dikotomi antara iman dan tindakan sosial. Bagi Wright . , setiap praktik pendidikan Kristen baik dalam pembelajaran, pelayanan, maupun relasi antaranggota komunitas harus menjadi liturgi alternatif terhadap liturgi sekuler yang membentuk hasrat manusia modern, seperti pencarian popularitas, prestise, dan konsumsi. Sekolah Kristen perlu membangun Aukebiasaan kerajaanAy yang mengarahkan hasrat peserta didik kepada kasih, pelayanan, dan tanggung jawab terhadap ciptaan. Dengan demikian, teologi tidak berhenti pada wilayah doktrinal, tetapi menjelma menjadi etika publik dan praksis sosial yang membentuk kebudayaan baru. Integrasi pemikiran Barth dan Wright menghasilkan pendekatan korektif yang menyeluruh terhadap budaya dalam pendidikan Kristen. Pertama, dilakukan diagnosis sosiologis yakni membaca dan memahami budaya sebagaimana adanya . hat i. melalui struktur sosial, simbol, dan ritus yang berlaku di masyarakat. Kedua, dilakukan pembacaan teologis yakni menimbang realitas tersebut dalam terang Kristus dan pewahyuan-Nya . hat ought to b. (Barth, 2010. Wright, 2. Hasil pembacaan ini menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum, liturgi sekolah, dan kebijakan institusi yang bersifat formasional membentuk hasrat, imajinasi, dan perilaku komunitas pendidikan agar selaras dengan nilainilai kerajaan Allah. Pendekatan ini menjadikan teologi bukan hanya sebagai teori normatif, tetapi sebagai pedagogi transformasi. Pendidikan Kristen dipahami sebagai ruang penebusan budaya, di CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 87 mana pola pikir duniawi disembuhkan oleh firman, dan kebiasaan sosial diarahkan ulang menuju kasih dan pelayanan (Wright, 2. Guru, dosen, dan pemimpin pendidikan berperan bukan sekadar pengajar, tetapi gembala intelektual yang menolong peserta didik menafsirkan budaya melalui kacamata Injil. Namun, koreksi teologis terhadap budaya bukan tanpa risiko. Ia bisa jatuh pada dua ekstrem yang berlawanan. Di satu sisi, terdapat bahaya triumfalisme teologis ketika institusi Kristen merasa memiliki otoritas tunggal atas kebenaran dan menolak berdialog dengan konteks lokal. Di sisi lain, ada bahaya retret kultural ketika pendidikan Kristen menutup diri dari dunia dan kehilangan daya Karena itu, keseimbangan menjadi kunci. Koreksi teologis harus dijalankan dengan semangat kasih menghakimi tanpa menghancurkan, menolak tanpa mengasingkan, dan menebus tanpa menguasai. Baik Barth maupun Wright menegaskan bahwa kasih adalah bentuk tertinggi dari kebenaran (Barth, 2010. Wright, 2. Kasih memungkinkan teologi berakar pada realitas manusiawi tanpa kehilangan arah ilahi. Dalam konteks ini, pendidikan Kristen harus memelihara sikap dialogis yang rendah hati namun tegas, mampu menilai budaya dengan terang firman tanpa kehilangan solidaritas terhadap manusia yang hidup di dalamnya. Koreksi teologis terhadap konstruksi budaya menegaskan kembali peran teologi sebagai kompas moral dan vokasional dalam pendidikan Kristen. Ia bukan sekadar disiplin reflektif, tetapi kekuatan pembentuk arah kehidupan Teologi menilai budaya, menebus yang rusak, dan merancang tatanan baru yang memuliakan Allah. Dalam terang pemikiran Karl Barth dan N. Wright, pendidikan Kristen dipanggil untuk hidup dalam ketegangan yang kreatif antara pewahyuan dan konteks, antara kebenaran yang kekal dan dunia yang berubah. Di sinilah pendidikan Kristen menemukan maknanya yang sejati menjadi alat transformasi yang mengarahkan seluruh ciptaan kepada tujuan akhirnya: kemuliaan Allah dan kesejahteraan manusia (Barth, 2010. Wright, 2. Pendidikan Kristen sebagai Ruang Formasi dan Transformasi Pendidikan Kristen pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk cara hidup, karakter, dan hasrat manusia agar selaras dengan kehendak Allah. Pendidikan tidak semata-mata merupakan ruang akademik, tetapi juga arena formasi spiritual dan sosial, tempat iman diwujudkan, nilai-nilai diinternalisasi, dan kebudayaan ditransformasi. Sintesis antara budaya dan teologi, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, menjadi fondasi yang meneguhkan visi pendidikan Kristen: pembentukan manusia tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-budaya, namun konteks itu harus senantiasa diarahkan oleh kebenaran pewahyuan (Smith, 2009. Marsden, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 88 Dalam relasi antara budaya dan teologi, pendidikan Kristen berada di tengah ketegangan yang kreatif antara dunia dan firman. Budaya menyediakan bahasa, simbol, nilai, dan praktik sosial yang membentuk identitas peserta didik, sementara teologi memberi arah dan makna ilahi yang menilai serta mengarahkan perkembangan budaya itu menuju maksud Allah. Karena itu, pendidikan Kristen tidak boleh bersikap isolatif dari realitas sosial, tetapi juga tidak boleh larut dalam relativisme budaya. Pendidikan dipanggil menjadi ruang penebusan, tempat iman bertemu dengan dunia dan mengubahnya dari dalam. sinilah pendidikan Kristen berfungsi sebagai ruang dialog yang hidup antara iman dan budaya: budaya menjadi bahan baku pembelajaran, sedangkan teologi menjadi terang yang menuntun interpretasi. Proses ini tidak berhenti pada pengetahuan kognitif semata, melainkan menghasilkan transformasi eksistensial peserta didik belajar membaca dunia dengan mata iman dan bertindak di dalamnya dengan kasih serta tanggung jawab (Smith. Dalam konteks ini, gagasan James K. Smith memberikan pemahaman yang mendalam mengenai peran pendidikan sebagai pembentukan kehendak dan iman. Melalui karyanya Desiring the Kingdom . Smith menegaskan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, tetapi makhluk yang mengasihi. Hasrat adalah pusat orientasi hidup apa yang dirindukan manusia menentukan arah seluruh keberadaannya. Dengan demikian, pendidikan sejatinya adalah liturgi yang membentuk hasrat sebuah rangkaian praktik yang secara perlahan melatih hati untuk mengasihi sesuatu yang dianggap berharga. Dunia modern, menurut Smith . , sarat dengan Auliturgi-liturgi sekulerAy yang membentuk orientasi hasrat manusia: pusat perbelanjaan, media sosial, sistem kompetitif, atau budaya prestasi adalah ruang-ruang yang menanamkan nilai-nilai tertentu dan menuntun ke arah individualisme serta konsumsi. Tugas pendidikan Kristen, karenanya, adalah menghadirkan liturgi alternatif yang menata ulang hasrat dan kebiasaan manusia menuju kasih kepada Allah dan sesama. Ruang kelas tidak hanya menjadi tempat berpikir, melainkan juga tempat berdoa. pembelajaran bukan sekadar transfer informasi, melainkan latihan spiritual untuk membentuk karakter. Setiap kegiatan dari doa pembuka, ibadah komunitas, hingga cara guru dan siswa berinteraksi merupakan praktik yang membentuk orientasi hati (Smith, 2. Pendidikan Kristen menjadi proses penanaman habitus rohani yang melatih kepekaan terhadap keadilan, belas kasih, dan kebenaran. Dalam pengertian ini, pendidikan bukan sekadar mengajar untuk mengetahui, tetapi mendidik untuk mencintai. bukan hanya membentuk pikiran yang kritis, tetapi juga hati yang terarah pada Kristus. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 89 Namun, pendidikan Kristen tidak berhenti pada pembentukan batiniah. Seperti ditegaskan oleh George Marsden dalam The Outrageous Idea of Christian Scholarship . , pendidikan Kristen juga memiliki dimensi intelektual dan publik. Iman tidak boleh dipisahkan dari dunia akademik dan peradaban, melainkan harus menjadi sumber inspirasi bagi pemikiran yang rasional, ilmiah, dan terbuka terhadap dialog lintas ilmu. Marsden . menolak dikotomi antara iman pribadi dan akal publik. Menurutnya, iman memberikan fondasi epistemologis yang kokoh bagi seluruh aktivitas ilmiah. Dengan demikian, pendidikan Kristen harus melahirkan beasiswa yang bersifat publik dan profetik pemikiran yang berakar pada iman, tetapi berani tampil di ruang publik untuk menegur arah kebudayaan yang menjauh dari kebenaran Allah. Dalam kerangka ini, pendidikan Kristen mempersiapkan warga Kerajaan Allah yang berpikir secara holistik, menjembatani iman dan rasio, spiritualitas dan sains, tradisi dan modernitas (Marsden, 2. Sekolah atau perguruan tinggi Kristen bukan hanya tempat penyampaian teori, melainkan laboratorium teologi terapan, di mana pengetahuan, iman, dan tindakan saling berinteraksi untuk membangun peradaban yang manusiawi dan adil. Pendidikan Kristen membentuk bukan hanya pribadi saleh yang hidup dalam kesalehan pribadi, tetapi juga pemikir, pemimpin, dan profesional yang memiliki keberanian moral untuk membawa nilai-nilai Injil ke dalam ruang public baik di dunia akademik, ekonomi, pemerintahan, maupun budaya. Dari sintesis pemikiran Smith dan Marsden, pendidikan Kristen dapat dipahami sebagai proyek ganda, formasi batin dan transformasi sosial. Formasi batin meliputi pembentukan hasrat, karakter, dan visi hidup yang berakar pada kasih Allah, sedangkan transformasi sosial berkaitan dengan penerapan nilai-nilai kerajaan Allah keadilan, rekonsiliasi, dan tanggung jawab terhadap ciptaan dalam kehidupan bersama (Smith, 2009. Marsden, 2. Dalam pengertian ini, pendidikan Kristen menjadi laboratorium Kerajaan Allah, tempat peserta didik dilatih untuk berpikir benar, mengasihi dengan tulus, dan bertindak adil. Transformasi semacam ini tidak terjadi melalui teori besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang dijalani setiap hari cara berbicara, cara bekerja, cara belajar, dan cara menghargai sesama. Setiap praktik dalam komunitas pendidikan adalah benih budaya baru yang ditanam, dan setiap interaksi yang dijiwai kasih merupakan tanda hadirnya Kerajaan Allah di tengah dunia. Dalam menghadapi realitas kontemporer yang ditandai oleh pluralitas, sekularisasi, dan disrupsi digital, pendidikan Kristen ditantang untuk tetap relevan tanpa kehilangan Tantangan ini tidak cukup dijawab dengan memperbarui kurikulum atau teknologi pembelajaran, melainkan dengan memperdalam spiritualitas pendidikan itu sendiri (Smith. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 90 Marsden, 2. Sekolah dan perguruan tinggi Kristen perlu menjadi komunitas yang menyatukan akal, iman, dan kasih di mana pemikiran kritis berjumpa dengan kepekaan rohani, dan pembelajaran ilmiah berpadu dengan praksis keadilan sosial. Pendidikan Kristen yang sejati bersifat konfesional sekaligus kontributif: berakar pada pengakuan iman kepada Kristus, tetapi berkontribusi nyata bagi kemanusiaan. Ia bukan menara gading religius yang terpisah dari dunia, melainkan rumah pembentukan warga Kerajaan Allah yang kreatif, rendah hati, dan berbelas kasih. Melalui proses formasi liturgis sebagaimana digagas Smith . dan keterlibatan intelektual profetik sebagaimana ditegaskan Marsden . , pendidikan Kristen bahwa kebenaran Allah tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi mengutusnya untuk melayani dunia dalam kasih. Pendidikan Kristen menjadi sarana rekonsiliasi antara iman dan kebudayaan, antara pikiran dan perbuatan, antara penyembahan dan pengabdian. Pada akhirnya, pendidikan Kristen harus dilihat sebagai ziarah iman perjalanan pembentukan manusia menuju kedewasaan rohani, intelektual, dan sosial. adalah ruang di mana anugerah Allah berjumpa dengan tanggung jawab manusia. tempat di mana belajar menjadi tindakan ibadah, dan mengajar menjadi panggilan pelayanan. Dalam ruang ini, pendidikan tidak lagi sekadar sarana memperoleh ilmu, melainkan altar tempat kasih Allah diwujudkan dalam kehidupan yang dibarui. Pendidikan Kristen, dengan demikian, merupakan ruang formasi yang menata hasrat manusia menuju Kristus, dan sekaligus ruang transformasi yang memperbarui dunia melalui kasih, kebenaran, dan keadilan Allah yang hidup (Smith, 2009. Marsden, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 91 F. Model Dual-Track Analysis dalam Pendidikan Kristen Model dual-track analysis dalam pendidikan Kristen merupakan kerangka konseptual yang mengintegrasikan dua jalur analisis: jalur sosiologis yang berfungsi sebagai diagnosis terhadap realitas budaya dan sosial . hat i. , serta jalur teologis yang bertindak sebagai norma penilaian dan arah transformasi . hat ought to b. Kedua jalur ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan berjalan berdampingan secara dialektis dalam proses refleksi dan praksis pendidikan Kristen. Melalui sinergi keduanya, pendidikan Kristen menjadi sebuah proses pembacaan yang utuh terhadap dunia mengenali kenyataan sosial sebagaimana adanya, sekaligus menafsirkannya dalam terang pewahyuan Allah demi transformasi yang berorientasi pada Kerajaan Allah (Barth, 2010. Wright, 2. Pada jalur pertama, pendekatan sosiologis berfungsi untuk membaca struktur sosial, simbol, nilai, dan ritus yang membentuk makna kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, teori Peter L. Berger tentang the sacred canopy dan yOmile Durkheim tentang fungsi sosial agama memberikan perangkat analisis yang kaya untuk memahami bagaimana budaya membangun sistem makna kolektif. Budaya dilihat sebagai konstruksi sosial yang mengarahkan perilaku manusia melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Berger, 2. Melalui kacamata sosiologis, pendidikan Kristen dapat mengenali bagaimana kebiasaan, ideologi, atau praktik sosial tertentu baik dalam masyarakat luas maupun di lingkungan sekolah menjadi sarana pembentukan identitas dan legitimasi nilai. Pendekatan ini penting agar pendidikan Kristen tidak bersikap naif terhadap kekuatan budaya, tetapi mampu membaca dinamika sosial secara jernih, termasuk bentuk-bentuk distorsi makna yang disebabkan oleh dosa, ketidakadilan, atau penyalahgunaan kekuasaan (Durkheim, 1. Namun, pembacaan sosiologis saja tidak cukup, sebab ia hanya mengungkap apa adanya realitas tanpa memberi orientasi moral maupun spiritual terhadap arah perubahan. Karena itu, jalur kedua yakni pendekatan teologis diperlukan untuk menimbang dan menilai realitas budaya tersebut berdasarkan kebenaran pewahyuan Allah dalam Kristus. Jalur ini mengikuti prinsip yang ditekankan Karl Barth bahwa semua realitas manusiawi harus ditakar oleh ukuran Kristus sebagai Firman Allah yang hidup (Barth, 2. Teologi, dalam hal ini, bukan hanya sistem doktrin, melainkan norma yang menilai dan menuntun arah Ia berfungsi untuk membedakan antara nilai-nilai budaya yang dapat ditebus, yang harus dikoreksi, dan yang harus ditolak. Melalui pembacaan teologis, pendidikan Kristen menemukan orientasi normatifnya: mengarahkan seluruh proses pembelajaran, pembentukan karakter, dan struktur kelembagaan menuju keserupaan dengan Kristus dan manifestasi kasih Allah dalam dunia (Wright, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 92 Hubungan antara kedua jalur ini bersifat dialektis dan interaktif. Jalur sosiologis menyediakan data empiris dan pemahaman kontekstual tentang situasi manusia. teologis memberikan penilaian normatif dan arah transendental bagi perubahan. Keduanya saling memperkaya: sosiologi mencegah teologi jatuh dalam idealisme yang terlepas dari realitas, sedangkan teologi mencegah sosiologi menjadi relativistik dan nihilistik (Berger. Barth, 2. Melalui pertemuan keduanya, lahir paradigma pendidikan Kristen yang tidak hanya reflektif secara intelektual, tetapi juga formatif secara spiritual dan transformatif secara sosial. Secara konseptual, model dual-track analysis dapat dibayangkan sebagai dua arus yang berpapasan dan kemudian bersatu dalam satu muara praksis pendidikan. Arus pertama mengalir dari bawah membaca realitas konkret, budaya lokal, dan pengalaman manusia. Arus kedua mengalir dari atas menghadirkan terang pewahyuan dan prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Di titik pertemuan kedua arus ini, lahirlah proses refleksi yang integral: dunia dibaca melalui iman, dan iman diterjemahkan ke dalam tindakan nyata (Wright. Dalam konteks pendidikan, proses ini terwujud dalam kurikulum yang peka terhadap konteks sosial, pedagogi yang berorientasi pada pembentukan karakter, dan komunitas pembelajaran yang meneladani kasih serta keadilan Allah. Model ini juga menegaskan bahwa pendidikan Kristen bersifat reflektif, liturgis, dan Reflektif, karena pendidikan tidak hanya meniru dunia, tetapi menafsirkan dan menilainya secara kritis (Berger, 2. Liturgis, karena seluruh proses pendidikan dipahami sebagai pembentukan hasrat dan kebiasaan menuju penyembahan sejati kepada Allah (Smith, 2. Dan transformatif, karena hasil akhir dari proses ini bukan sekadar pemahaman, melainkan perubahan nyata dalam diri dan masyarakat. Guru, peserta didik, dan seluruh komunitas pendidikan berpartisipasi dalam proyek penebusan ini menjadikan setiap ruang belajar, setiap diskusi ilmiah, dan setiap tindakan sosial sebagai bagian dari pelayanan kepada Allah dan sesama (Barth, 2010. Wright, 2. Dengan demikian, dual-track analysis bukan sekadar metode akademis, tetapi paradigma spiritual dan intelektual yang membentuk pola pikir pendidikan Kristen. mengajarkan bahwa memahami dunia tanpa teologi adalah buta, tetapi berteologi tanpa memahami dunia adalah hampa. Pendidikan Kristen, melalui model ini, menemukan keseimbangannya: berpijak pada realitas sosial sambil menatap pada horizon ilahi. Dalam sinergi kedua jalur ini, pendidikan Kristen dipanggil untuk menghadirkan kesaksian bahwa iman dapat menafsir dunia dengan cerdas dan mengubahnya dengan kasih menjadikan proses belajar sebagai bentuk ibadah dan tindakan pedagogis sebagai bagian dari karya penebusan Allah di tengah sejarah manusia (Barth, 2010. Wright, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 93 G. Refleksi Teologis dan Kebaruan Kajian Sebagai penutup bagian pembahasan, penelitian ini menegaskan bahwa dialog antara budaya dan teologi bukan sekadar pertemuan intelektual atau strategi akademik, melainkan suatu panggilan iman untuk menghidupi kebenaran Injil di tengah realitas sosial yang terus Pendidikan Kristen yang sejati lahir dari kesadaran bahwa iman tidak berdiri di luar kebudayaan, tetapi berinkarnasi di dalamnya menguji, menebus, dan menuntunnya menuju maksud Allah (Barth, 2010. Wright, 2. Karena itu, dialog budaya dan teologi menjadi fondasi penting bagi terwujudnya pendidikan Kristen yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada formasi karakter, iman, dan tanggung jawab sosial (Smith, 2009. Marsden, 2. Kebaruan utama . dalam kajian ini terletak pada pengembangan model konseptual lintas-disiplin yang mensintesiskan tiga bidang yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: sosiologi, teologi, dan pedagogi. Melalui sintesis ini, penelitian ini menawarkan paradigma yang memandang pendidikan Kristen sebagai proses integral yang melibatkan pemahaman sosial . nderstanding the worl. , penilaian teologis . iscerning the divine trut. , dan praksis pedagogis . haping the faithful learne. Ketiganya membentuk kesatuan epistemologis yang menghidupkan pendidikan Kristen sebagai ruang refleksi, formasi, dan transformasi (Berger, 2011. Durkheim, 1995. Barth, 2. Pendekatan sosiologis melalui pemikiran Peter L. Berger dan yOmile Durkheim memberi kemampuan diagnostik bagi pendidikan Kristen untuk membaca realitas budaya sebagaimana adanya . hat i. Budaya dipahami sebagai jaringan makna dan struktur sosial yang membentuk cara manusia hidup, berpikir, dan berelasi (Berger, 2011. Durkheim. Namun, temuan sosiologis ini tidak berhenti pada tataran deskriptif. Ia ditimbang dan ditafsirkan melalui pendekatan teologis, sebagaimana ditekankan oleh Karl Barth dan Wright, yang menempatkan Kristus sebagai norma kebenaran dan Kerajaan Allah sebagai horizon transformatif (Barth, 2010. Wright, 2. Dari dialog kedua jalur ini sosiologis dan teologis lahirlah suatu model reflektif yang disebut dual-track analysis, yakni pendekatan ganda yang membaca realitas budaya dengan realisme iman, lalu menuntunnya ke arah transformasi ilahi . hat ought to b. Di titik inilah kebaruan konseptual penelitian ini semakin tampak. Model dual-track analysis tidak hanya menawarkan cara berpikir, tetapi juga cara berteologi dan Ia menolak pemisahan antara teori dan praksis, antara iman dan kebudayaan, antara belajar dan beribadah (Barth, 2010. Smith, 2. Pendidikan Kristen, menurut kerangka ini, tidak cukup menjadi informative institution tempat pengumpulan CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 94 data dan penguasaan doktrin tetapi harus menjadi formative space, ruang tempat manusia dibentuk secara utuh dalam iman, kasih, dan pengharapan (Smith, 2. James K. Smith memperdalam dimensi ini dengan gagasan liturgi hasrat bahwa manusia tidak dibentuk hanya oleh pikiran, tetapi oleh apa yang ia kasihi. Maka pendidikan Kristen adalah proses liturgis, di mana seluruh praktik belajar, berdoa, berinteraksi, dan bekerja bersama membentuk orientasi hati menuju kasih kepada Allah (Smith, 2. Sementara George Marsden menambahkan bahwa pendidikan Kristen harus hadir sebagai beasiswa publik dan profetik pemikiran yang berakar pada iman, tetapi tetap terlibat aktif dalam wacana ilmiah dan sosial masyarakat luas (Marsden, 2. Kedua gagasan ini melengkapi sintesis budayaAeteologi dengan dimensi pedagogis yang konkret: pendidikan Kristen bukan hanya tempat penyembuhan hati, tetapi juga ruang pembentukan akal budi dan tindakan yang menebus dunia. Refleksi teologis dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan Kristen adalah tindakan partisipatif dalam karya Kerajaan Allah. Dialog antara budaya dan teologi tidak boleh dipahami sebagai kompromi, tetapi sebagai bentuk kesetiaan pada inkarnasi Kristus yang hadir dalam sejarah manusia (Wright, 2. Ketika pendidikan Kristen membaca budaya melalui kacamata teologi, ia tidak sedang menolak dunia, tetapi sedang menebus dan mentransformasikannya. Pendidikan menjadi perpanjangan tangan kasih Allah yang menguduskan dunia melalui pengetahuan, keadilan, dan kasih yang hidup dalam komunitas belajar (Barth, 2010. Wright, 2. Kebaruan kajian ini juga tampak pada aspek metodologis: penggabungan antara critical cultural reading . embacaan kritis terhadap buday. dan theological normativity . enilaian berdasarkan kebenaran pewahyua. Pendekatan ini membuka kemungkinan baru bagi penelitian pendidikan Kristen di masa depan bahwa refleksi teologis dapat berjalan seiring dengan analisis sosial tanpa kehilangan integritas iman (Berger, 2011. Barth, 2. Dengan demikian, paradigma lintas-disiplin yang dikembangkan dalam penelitian ini tidak hanya berfungsi untuk memahami pendidikan Kristen, tetapi juga menawarkan modus berpikir baru yang dapat diterapkan dalam studi-studi kontekstual lainnya, seperti etika publik, kepemimpinan rohani, dan teologi masyarakat. Secara teologis, hasil sintesis ini menegaskan bahwa pendidikan Kristen adalah wujud nyata dari misi Allah . issio De. dalam dunia. Melalui pendidikan, gereja dan umat Allah berpartisipasi dalam proses penciptaan yang terus diperbarui mengubah struktur sosial yang rusak, membangun solidaritas, dan memupuk keadilan (Wright, 2. Dengan demikian, pendidikan Kristen tidak sekadar aktivitas akademik, tetapi juga pelayanan penyembuhan CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 95 dunia. tidak hanya ruang belajar, tetapi juga altar penyembahan di mana kebenaran dan kasih Allah diwujudkan dalam tindakan (Smith, 2009. Marsden, 2. Akhirnya, refleksi teologis ini membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam bahwa dialog antara budaya dan teologi adalah jantung dari panggilan pendidikan Kristen yang transformatif. Dialog ini meneguhkan iman yang berpikir dan pikiran yang beriman iman yang mampu menafsir dunia secara kritis, dan pikiran yang diarahkan untuk mengasihi dunia secara benar (Barth, 2010. Wright, 2. Inilah bentuk pendidikan yang tidak berhenti pada pengajaran, tetapi berbuah dalam kehidupan: pendidikan yang membentuk manusia baru, komunitas baru, dan peradaban baru yang memuliakan Allah. Dengan demikian, kebaruan penelitian ini tidak hanya terletak pada kerangka teoritisnya yang lintas-disiplin, tetapi juga pada visi teologisnya bahwa pendidikan Kristen sejati adalah dialog berkelanjutan antara budaya dan teologi demi menghadirkan Kerajaan Allah di tengah sejarah manusia. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Kristen yang sejati berakar pada dialog kritis dan kreatif antara budaya dan teologi sebagai panggilan iman untuk menghadirkan Kerajaan Allah dalam realitas sosial yang konkret. Dialog ini menjiwai seluruh proses pendidikan, baik pada ranah intelektual, spiritual, maupun sosial, sehingga pendidikan Kristen tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menjadi ruang formasi dan transformasi manusia secara utuh. Dari perspektif sosiologis, pemikiran Peter L. Berger dan yOmile Durkheim membantu memahami budaya sebagai kanopi makna yang membentuk identitas, solidaritas, dan tatanan sosial manusia. Budaya memiliki potensi membangun sekaligus menindas, sehingga pendidikan Kristen dipanggil untuk memiliki kesadaran kritis: memahami realitas sosial sebagaimana adanya, tanpa menolak dunia secara apriori, tetapi membaca mekanisme-mekanisme budaya agar dapat ditafsirkan dan ditebus. Secara teologis, pemikiran Karl Barth dan N. Wright menegaskan bahwa Kristus adalah pusat dan ukuran kebenaran bagi seluruh kehidupan manusia, termasuk Pewahyuan Allah berfungsi sebagai norma penilaian yang menuntun pendidikan Kristen untuk membedakan nilai-nilai budaya yang perlu dipertahankan, ditebus, atau ditolak. Dengan demikian, pendidikan Kristen menjadi ruang di mana makna kebudayaan tidak dihapuskan, tetapi diperbarui dan dikuduskan dalam terang Kristus. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 96 Melalui kontribusi James K. Smith dan George Marsden, pendidikan Kristen dipahami sebagai praksis formasi yang membentuk hasrat, kebiasaan hidup, dan tanggung jawab publik. Pendidikan bukan hanya membangun akal budi, tetapi juga membentuk hati yang mengasihi Allah dan sesama, serta menumbuhkan komitmen profetik untuk terlibat secara etis dan transformatif dalam kehidupan sosial. Sintesis sosiologis dan teologis tersebut melahirkan model konseptual dual-track analysis, yakni pendekatan ganda yang mengintegrasikan diagnosis sosiologis . hat i. dan penilaian teologis . hat ought to b. Pendekatan ini menempatkan pendidikan Kristen sebagai ruang dialog yang hidup antara iman dan konteks, di mana pengetahuan diolah menjadi kebijaksanaan dan diwujudkan dalam tindakan kasih serta keadilan sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan paradigma lintas-disiplin yang memadukan sosiologi, teologi, dan pedagogi dalam satu kerangka konseptual pendidikan Kristen yang reflektif, liturgis, dan transformatif. Paradigma ini menawarkan alternatif terhadap pendekatan pendidikan Kristen yang semata-mata kognitif atau teknokratis, dengan menegaskan bahwa pendidikan Kristen adalah proyek spiritual dan sosial yang membentuk manusia baru dan memperbarui dunia. Dengan demikian, dialog budaya dan teologi menjadi jantung pendidikan Kristen yang memadukan iman dan nalar, refleksi dan tindakan, serta kasih dan keadilan sebagai kesaksian nyata Kerajaan Allah di tengah dunia yang terus berubah. REFERENSI