Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 GAMBARAN PERILAKU PERAWATAN KAKI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS i DENPASAR UTARA I Made Gede Yogi Febrian Sisco1. Gusti Ayu Ary Antari*1. Desak Made Widyanthari1. Putu Oka Yuli Nurhesti1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: aryantari@unud. ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang berlangsung lebih dari enam bulan. Penyakit ini memiliki ciri berupa peningkatan gula darah dalam tubuh yang disebabkan karena resistensi insulin. Salah satu komplikasi dapat terjadi diantaranya neuropati diabetik yang dapat berujung pada luka kaki diabetes dan amputasi jika tidak mendapat penanganan dengan baik. Perawatan kaki sebagai tindakan preventif sangat penting diperhatikan guna dapat mencegah timbulnya komplikasi tersebut. Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku perawatan kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang berlokasi di Puskesmas i Denpasar Utara. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui teknik non probability sampling, yaitu purposive sampling. Jumlah sampel yang terlibat pada penelitian ini adalah 87 responden yang ditentukan sesuai kriteria inklusi maupun eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden pada usia dewasa tengah . -60 tahu. sebanyak 55 . ,2%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan . ,5%), dan berpendidikan perguruan tinggi . ,9%). Responden dengan perilaku perawatan kaki kategori baik sejumlah 55,2% dan perilaku perawatan kaki kategori kurang baik sejumlah 44,8%. Sebagian besar pasien dengan diabetes melitus tipe 2 sudah menunjukkan perilaku perawatan kaki yang baik, namun masih diperlukan intervensi promotif dan preventif seperti edukasi kesehatan agar kesadaran dan kepatuhan dalam merawat kaki dapat ditingkatkan secara menyeluruh. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, perilaku perawatan kaki, resistensi insulin ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus is a disease that lasts for more than six months. This disease is characterized by increased blood sugar levels in the body caused by insulin resistance. One complication that can occur is diabetic neuropathy, which can lead to diabetic foot ulcers and amputation if not properly treated. Foot care as a preventive measure is very important to pay attention to in order to prevent the emergence of these complications. The expected objective of this study was to determine the description of foot care behavior in type 2 diabetes mellitus patients located at Community Health Center i North Denpasar. This study used a quantitative descriptive design with a crosectional approach. Data were collected through a non-probability sampling technique, namely purposive The number of samples involved in this study was 87 respondents determined according to inclusion and exclusion criteria. The results showed that the characteristics of respondents were middle adulthood . -60 years ol. as many as 55 . ,2%), mostly female . ,5%), and college educated . ,9%). Respondents with good foot care behavior were 55,2% and poor foot care behavior were 44,8%. Most patients with type 2 diabetes mellitus have demonstrated good foot care behavior, but promotive and preventive interventions such as health education are still needed so that awareness and compliance in foot care can be improved comprehensively. Keywords: foot care behavior, insulin resistance, type 2 diabetes mellitus Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Diabetes melitus tipe 2 sebagai penyakit yang tidak menular dapat timbul serta ditandai dengan adanya peningkatan gula darah . , terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein dalam tubuh (Lestari & Boy, 2. Kondisi ini terjadi akibat adanya resistensi insulin, artinya tubuh individu kesulitan dalam memberikan respon terhadap insulinya sepenuhnya (Dinata et al. , 2. Merujuk pada data dari International Diabetes Federation (IDF) bahwa penyakit diabetes melitus tipe 2 tahun 2021 berjumlah 10,5% . pada orang dewasa yang berusia 20 hingga 79 tahun di dunia serta diperkirakan terus meningkat meningkat sebanyak 11,3% . di tahun 2030 dan 12,2% . di tahun 2045 (Sun et al. , 2. Dilihat dari data Riset dan Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menjelaskan bahwa di Indonesia jumlah kasus diabetes mellitus paling dominan dialami oleh individu usia 55 - 64 tahun dengan jumlah persentase 6,5% dan usia 45 - 54 tahun dengan presentase 3,9% dari total seluruh populasi masyarakat di Indonesia (Riskesdas 2. Meningkatnya mellitus dapat dijumpai di beberapa provinsi yang ada di Indonesia, yaitu Provinsi Bali khususnya Kota Denpasar. Daerah ini memiliki jumlah kasus diabetes mellitus tertinggi. Tahun 2019 ditemukan kasus diabetes mellitus sebanyak 6. serta meningkat di tahun 2021 menjadi Jumlah kasus penderita diabetes mengalami peningkatan di Kota Denpasar yaitu sebesar 25% pada kelompok usia 4554 tahun (Pramesti et al. , 2. Diabetes melitus tipe 2 dikenal dengan istilah the silent killer. Istilah ini bermakna bahwa penderita cenderung sulit menyadari serta sudah mengetahui apabila sudah adanya komplikasi (Utary et al. Salah satu komplikasi yang sering pasien alami adalah neuropati diabetikum. Neuropati diabetik terjadi ketika penurunan suplai darah ke jaringan. Kondisi ini mengakibatkan gangguan sensorik seperti kesemutan, mati rasa, nyeri dan kemudian Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 dapat mengakibatkan luka kaki diabetes (Muhammad et al. , 2. Luka pada kaki diabetes terjadi akibat infeksi karena jumlah gula darah yang tinggi, sehingga proliferasi bakteri mengalami peningkatan, serta adanya defisiensi sistem imun yang mengakibatkan masa inflamasi luka berlangsung panjang. Tidak hanya itu, kemampuan dalam merawat luka yang salah menjadi pemicu timbulnya luka kaki diabetes (Primadani & Nurrahmantika, 2. Dilihat berdasarkan urutannya, bahwa luka kaki diabetes berada pada urutan kelima dengan jumlah mencapai 8,7%. Penanganan luka kaki diabetes yang tidak efektif cenderung menimbulkan adanya ulkus kaki yang parah. Sekitar 90% kasus luka kaki diabetes disertai dengan amputasi pada kaki. Tentunya dengan amputasi ini dapat memberikan dampak negatif, walaupun tindakan ini sebagai alternatif yang tepat dalam menyelamatkan jiwa. Kehilangan bagian tubuh akan memberikan rasa trauma (Pedras et al. , 2. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan guna mencegah timbulnya luka kaki diabetes, yaitu melalui perawatan kaki yang baik dan benar (Sari et , 2. Perawatan kaki menjadi tindakan sederhana yang bisa dilaksanakan oleh penderita diabetes guna terhindar dari Tindakan perawatan kaki . oot car. ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini pada penderita diabetes untuk mendeteksi adanya kelainan, memastikan kaki dalam keadaan bersih, dan yang terpenting mencegah adanya infeksi akibat luka pada kaki (Kuswanti et al. , 2. Aspek penting yang harus diperhatikan dalam melakukan perawatan kaki meliputi perawatan diri . ersonal self-car. , perawatan kaki . odiatric car. , dan alas kaki . ootwear car. (Sylvia et al. , 2. Perawatan gambaran terkait cara untuk melakukan pemeriksaan kaki diabetik yang benar (Song. Beberapa tindakan perawatan kaki yang bisa diterapkan yaitu mencuci kaki dengan benar, mengeringkan kaki, memakai Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 pelembab, kuku dipotong dengan teknik yang benar, selalu menggunakan alas kaki, dan rutin melakukan pemeriksaan kaki (Kuswanti et al. , 2. Putri . menjelaskan bahwa beberapa faktor yang mampu mempengaruhi perawatan kaki, diantaranya karena hasil pendidikan, keluarga, pengetahuan, serta persepsi mengenai praktik perawatan kaki. Faktor lain juga ikut serta diantaranya faktor internal, diantaranya usia, jenis kelamin, pendapatan, dan lama menderita penyakit, serta faktor eksternal yaitu dukungan lingkungan sekitar (Sari et al. , 2. Penelitian Ningrum mendapatkan hasil bahwa responden dengan perilaku perawatan kaki yang kurang baik, umumnya tidak memakai pelembab pada kaki, tidak memakai sandal dalam sehari-hari, dan berjalan di dalam rumah tanpa memakai alas kaki. Serupa dengan penelitian Mutiudin . bahwa masalah pada perawatan kaki yang tidak efektif memiliki dampak yang buruk bagi fungsi fisik maupun kualitas hidup pasien. Tini . menemukan bahwa adanya hubungan antara perawatan kaki dengan risiko ulkus kaki, penderita diabetes mellitus yang melakukan perawatan kaki masih tidak optimal dan cenderung menyebabkan adanya luka kaki diabetes. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Citra . bahwa dari 35 responden yang mengalami diabetes melitus di Puskesmas Bayongbong, sebagian besar mempunyai kemampuan dalam perawatan kaki yang masih buruk dengan jumlah 28,6%. Melalui beberapa penelitian di atas bahwa tindakan dalam melakukan perawatan kaki pada penderita diabetes melitus masih belum maksimal, sehingga berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dari perilaku perawatan kaki bagi pasien diabetes mellitus tipe 2 yang terletak di Puskesmas 3 Denpasar Utara. METODE PENELITIAN Peneliti merancang penelitian ini dengan desain deskriptif kuantitatif dan metode cross-sectional. Sampel dipilih sebanyak 87 orang melalui teknik purposive Kriteria inklusi yang ditetapkan, meliputi bahwa penderita memiliki usia 20 hingga 65 tahun, didiagnosa diabetes mellitus dalam waktu lebih dari tiga bulan, serta bersedia ikut serta menjadi responden. Adapun kriteria eksklusi yaitu penderita diabetes mellitus tipe 2 yang sedang mengalami luka kaki diabetes melitus. Pengumpulan data dilaksanakan pada Bulan Mei 2025 di Puskesmas i Denpasar Utara. Data instrumen penelitian yang terdiri dari dua kuesioner, yaitu karakteristik responden . sia, jenis kelamin, dan tingkat pendidika. dan Nottingham Assessment of Functional Foot Care (NAFF). Instrumen ini memiliki 29 pernyataan dan terdiri dari enam indikator pertanyaan, meliputi cara perawatan kaki pasien dalam memeriksa kondisi kaki, menjaga kebersihan kaki, memotong kuku kaki, pemeliharaan dan penggunaan alas kaki, pencegahan cedera, pengelolaan cedera pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Uji validitas telah dilakukan pada instrumen ini dan didapatkan pula hasil yaitu seluruh butir pernyataan valid . hitung > r tabe. , meliputi nilai dari r hitung = 0,215 - 0,732 . r tabel = 0,208. Begitu pula CronbachAos Alpha = 0,786. Skor akhir dapat mengkategorikan NAFF menjadi dua bagian, apabila skor total yang diperoleh mencapai 44-87 dikatakan perawatan kaki baik, namun sebaliknya jika skor total yang diperoleh sebesar 0-43 artinya perawatan kaki yang dilakukan masih kurang (Windasari, 2. Seluruh data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Penelitian tentunya sudah diberikan izin secara etik oleh Komisi Etik yang ada di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan nomor 1323/UN14. VII. 14/LT/2025. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi . Karakteristik Frekuensi . Usia Dewasa Awal . -39 tahu. Dewasa Tengah . -60 tahu. Lansia (>60 tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tingkat Pendidikan SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Berdasarkan tabel tersebut, responden berada pada kategori usia dewasa tengah dengan jumlah 55 orang . ,2%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 50 orang . ,5%), dan responden sesuai dengan pendidikan terakhir mayoritas perguruan tinggi, yaitu mencapai 46 orang . ,9%). Tabel 2. Analisis Perilaku Perawatan Kaki Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Skor Mean Median Mode Standar Deviasi Perilaku 45,49 47,00 10,84 Perawatan Kaki Berdasarkan menunjukkan bahwa rata-rata skor perilaku perawatan kaki responden yaitu 45,49 Persentase (%) Minimum-Maksimum dengan standar deviasi 10,84. Skor terendah yaitu 19 dan skor tertinggi yaitu Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kategori Perilaku Perawatan Kaki Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 . Perilaku Perawatan Kaki Frekuensi Persentase (%) Baik Kurang Baik Berdasarkan tabel tersebut, sebagian besar responden memiliki kategori baik dalam perawatn kaki dengan jumlah 48 orang Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 . ,2%) serta kategori yang kurang baik mencapai 39 orang . ,8%). Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 4. Tabulasi Silang Kategori Perilaku Perawatan Kaki Berdasarkan Karakteristik Demografi Responden Kategori Perilaku Perawatan Kaki Karakteristik Baik Kurang Baik Total Demografi . (%) . (%) Usia Dewasa Awal . -39 tahu. Dewasa Tengah . -60 tahu. Lansia (>60 tahu. Total Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Tingkat Pendidikan SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Total Berdasarkan tabel tersebut, paling kemampuan dalam berperilaku mengenai perawatan kaki yang baik dan ada pada kategori usia dewasa tengah berjumlah 29 . ,7%) responden. Berbeda dengan jenis kelamin bahwa mayoritas perempuan mempunyai perilaku perawatan kaki dalam kategori baik mencapai 28 . ,0%) Dilihat berdasarkan tingkat pendidikannya dominan berada pada pendidikan perguruan tinggi yang memiliki perilaku perawatan kaki yang baik mencapai 26 . ,5%) responden. PEMBAHASAN Hasil mengenai jumlah responden berdasarkan jenis kelamin sebagian besar terlibat adalah perempuan yang mencapai 50 orang . ,5%). Hasil ini menjelaskan bahwa pasien perempuan lebih sering mengakses layanan kesehatan primer dibandingkan pasien laki-laki. Temuan mengenai hasil ini sama dengan studi Yasin et al . , yang menunjukkan perempuan lebih sering mempunyai kesadaran mengenai kesehatan yang lebih tinggi serta aktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, salah satunya mengenai penatalaksanaan penyakit kronis seperti Menurut teori gender dalam kesehatan oleh Courtenay . , laki-laki cenderung menunda pemeriksaan dan menunjukkan sikap maskulinitas yang berdampak pada perilaku kesehatan yang kurang proaktif, sehingga perempuan lebih dominan dalam kunjungan pelayanan Tidak berbeda dengan penelitian Anggraini dkk . bahwa perempuan cenderung lebih sering atau beresiko terkena penyakit diabetes melitus tipe 2. Kondisi ini diakibatkan karena secara fisik Perempuan mengalami indeks masa tubuh yang lebih Sindrom siklus bulanan . remenstrual syndrom. , pasca menopause membuat lemak tubuh menjadi lebih mudah terakumulasi sehingga wanita lebih besar berisiko terkena diabetes melitus dibandingkan dengan laki laki (Anggraini dkk, 2. Berdasarkan usia bahwa responden sebagian besar dewasa tengah sebanyak 55 orang . ,2%). Kelompok usia dewasa tengah rentan terhadap penyakit degeneratif, termasuk diabetes mellitus, karena terjadi metabolisme glukosa dan resistensi insulin (Mujiono. Udijono, & Kusuma 2. Menurut teori transisi epidemiologis oleh Omran . , semakin meningkat usia seseorang, maka risiko terhadap penyakit tidak menular seperti DM juga meningkat. Selain itu, individu dalam usia dewasa tengah Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 umumnya sudah mulai mengalami berbagai tekanan hidup, seperti pekerjaan, keluarga, dan finansial, yang dapat memperburuk kontrol glikemik dan mempengaruhi kepatuhan terhadap pengobatan maupun perawatan diri, termasuk perawatan kaki (Rushforth et al. , 2. Tingkat pendidikan responden paling banyak di tingkat perguruan tinggi dengan jumlah 46 orang . ,9%). Tingkat pendidikan yang tinggi merupakan aset perawatan diri. Menurut teori perilaku kesehatan Rosenstock (Health Belief Mode. , persepsi individu terhadap manfaat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan pendidikan (Purnama & Yulistiani, 2. Temuan ini didukung oleh Trianggoro dan Wahjuni . yang menyatakan bahwa memungkinkan individu untuk mengakses informasi kesehatan secara lebih luas dan menerapkannya secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, studi oleh Putri . juga menunjukkan bahwa pasien dengan latar belakang pendidikan lebih tinggi memiliki tingkat kepatuhan dan keterampilan manajemen diri diabetes yang lebih baik, termasuk dalam menjaga kesehatan kaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku perawatan kaki yang baik, yaitu sebanyak 48 orang . ,2%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mutiudin . , menunjukkan bahwa perilaku perawatan kaki pada penderita diabetes tipe 2 sebagian besar termasuk kategori baik sebanyak 58 orang . ,8%) dan sebagian kecil berada pada kategori kurang baik sebanyak 39 orang . ,2%). Penelitian lain sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Drastistiana . , perilaku perawatan kaki pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kartasura dari 58 responden sebanyak 35 orang . ,3%) menunjukkan perilaku perawatan kaki yang Perilaku perawatan kaki yang baik mencerminkan kesadaran pasien dalam melakukan tindakan preventif terhadap Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 komplikasi kaki yang sering terjadi pada penderita diabetes mellitus tipe 2, seperti ulkus kaki diabetik dan amputasi (Putri & Purwanti, 2. Praktik perawatan tersebut mencakup kebiasaan memeriksa kaki setiap hari, mencuci kaki dengan air hangat, menjaga kelembaban kulit, memotong kuku secara hati-hati, serta menggunakan alas kaki yang aman dan nyaman (Tuglo et al. , 2. Tingginya proporsi perilaku baik dalam penelitian ini dapat dikaitkan dengan edukasi yang diperoleh responden, baik secara langsung dari tenaga kesehatan maupun melalui program rutin. Hal ini diperkuat oleh temuan Sylvia et al . , yang menyatakan bahwa frekuensi edukasi dan komunikasi yang intensif dari tenaga kesehatan memiliki korelasi positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawatan kaki pada pasien DM. Sejalan dengan teori health promotion model menurut Nola J. Pender, yang menyatakan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh persepsi manfaat, hambatan, dan dorongan dari lingkungan sekitar (Gustina, 2. Ketika pasien menyadari bahwa perawatan kaki dapat mencegah luka dan amputasi, serta merasa didukung oleh tenaga kesehatan dan keluarga, maka mereka lebih termotivasi untuk melakukannya secara konsisten (Atkin et al. , 2. Proporsi responden dengan perilaku perawatan kaki yang kurang baik . ,8%) juga menjadi perhatian penting. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat kelompok pasien yang mengimplementasikan perilaku perawatan kaki yang benar. Perilaku perawatan yang kurang optimal dapat terjadi ketika individu mengalami kekurangan dalam kemampuan merawat dirinya sendiri akibat kurangnya informasi, keterampilan, atau motivasi (Martynez et al. , 2. Perilaku perawatan kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2 dalam penelitian ini dianalisis berdasarkan beberapa karakteristik demografi responden, yakni jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan memiliki perilaku perawatan kaki pada Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 kategori baik . ,0%) dibandingkan dengan responden berjenis kelamin laki-laki. Perempuan umumnya menunjukkan tingkat kesadaran kesehatan yang lebih tinggi terhadap potensi komplikasi diabetes melitus dan berperilaku lebih proaktif dalam melaksanakan langkah-langkah pencegahan terkait diabetes, termasuk perawatan kaki. Hal ini selaras dengan studi oleh Wati dan Ridlo . , yang mengungkapkan bahwa perempuan lebih peduli terhadap kebersihan diri dan lebih konsisten dalam menjalankan perawatan kesehatan secara umum. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Sari . , yang mengungkapkan pada responden dengan jenis kelamin perempuan memiliki perilaku perawatan kaki baik sebanyak 14 orang . ,0%). Secara psikososial, perempuan juga memiliki mengikuti anjuran medis (Jannah et al. Usia juga berperan dalam membentuk perilaku perawatan kaki. Responden dalam kelompok usia dewasa tengah . Ae55 tahu. memiliki proporsi tertinggi dalam perilaku perawatan yang baik . ,7%). Pada fase ini, individu biasanya sudah mulai merasakan dampak dari penyakit kronis yang diderita, sehingga kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan meningkat. Menurut teori perkembangan Erikson, tahap usia generativity versus stagnation, dimana individu mulai menunjukkan kepedulian terhadap kualitas hidup jangka panjang, termasuk pencegahan komplikasi melalui perawatan rutin (Malone et al. , 2. Hal ini mendorong terbentuknya kebiasaan preventif seperti perawatan kaki. Pendidikan menjadi dasar yang penting dalam perilaku perawatan kaki. Sebagian menunjukkan perilaku baik berasal dari kelompok dengan pendidikan terakhir . ,5%). Tingkat pendidikan yang tinggi memiliki kaitan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan literasi kesehatan yang lebih efektif, dan memungkinkan pasien untuk Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 memahami materi edukasi, mengakses informasi kesehatan melalui berbagai media, serta mengambil keputusan secara bijak dalam pengelolaan penyakitnya (Iqbal et al. Hal ini juga diperkuat oleh teori health kemampuan individu dalam memahami dan menggunakan informasi kesehatan sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan formalnya (Batubara et al. , 2. Berdasarkan data yang diperoleh, tingkat perilaku perawatan kaki yang baik sebesar 55,2% tidak secara signifikan berbeda dengan perilaku perawatan kaki yang kurang baik, yaitu sebesar 44,8%. Perilaku perawatan kaki yang kurang baik dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti dukungan keluarga dan faktor lingkungan. Kurangnya dukungan keluarga atau lingkungan sekitar dapat melakukan perawatan kaki secara rutin. sisi lain, faktor lingkungan yang tidak higienis atau berisiko tinggi terhadap cedera dapat meningkatkan potensi luka dan infeksi, namun jika pasien tidak menyadari hal ini, mereka cenderung mengabaikan tindakan pencegahan yang diperlukan. SIMPULAN Secara keseluruhan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien dengan diabetes melitus tipe 2 mempunyai perilaku dalam perawatan kaki yang baik dan mencapai . ,2%). Perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa karakteristik demografi, terutama jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Perempuan, kelompok usia dewasa tengah, dan individu dengan pendidikan tinggi cenderung menunjukkan perilaku baik dalam melakukan perawatan Namun, masih terdapat pasien yang memiliki perilaku yang kurang baik . ,8%), ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti aspek dukungan keluarga dan faktor Diperlukan intervensi edukatif dan promotif yang berkelanjutan dari tenaga kesehatan, guna meningkatkan kesadaran, motivasi, serta kepatuhan pasien dalam menyeluruh untuk mencegah komplikasi seperti ulkus kaki dan amputasi. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 DAFTAR PUSTAKA