Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Volume 1, Number 1 (Juni 2024) p-ISSN : xxxx-xxxx, e-ISSN : xxxx-xxxx Hlm : 18 - 42 DOI : PENGEMBANGAN KINERJA GURU SMA ISLAM DI SURABAYA; LANGKAH STRATEGIS MENCAPAI RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL Catur Lestari Wijayanti STAI Alif Lam Mim, Surabaya, Indonesia Catur.lestari@stai-aliflammiim.ac.id Abstract The implementation of using teaching metode, including: (1) implementing multy-purpose teaching metode, social science teachers (IPS) of class 10 have been agle to increase student motivation of class 10 to attend social science class, (2) the teachers of social science have been able to concider students characteristic in choosing teaching method the implementation of using teaching tools including: (1) implementation of multi media in teaching, teacher has been able to implement multi medi in teaching to motivate students in social science (IPS), (2) the implementation of basic consideration in choosing teaching tools, teacher has used the characteristic of students as a basic in choosing teaching tools. The implementation of management class, including: (1) management of the seat and teaching toolas, teacher has been agle to eradicate mis understanding among students of class 10, (2) classifying the students, teacher has been able to manage the class by classifying students but it is not optimalized. The implementation of the evaluation of students and result in studying, including : (1) implementing techniques snd metode in evaluating students, teacher has been able to function the evaluation as feed back for teahers to improve teaching method, (2) special for mathematics and natural science subjects teacher has been able to prepare students in taking international standard test, but not optimalized. The implementation of the use of Inglish in teaching for mathematics and natural science subjects (MIPA),9 out of teachers have been able to use English in the class but not optimalized as the other nine teachers that have been doing it. Keywords: teachers’ performance, pioneering international standard high school. 18 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya Abstrak Penerapan metode pengajaran, meliputi: (1) penerapan metode pengajaran serba guna, guru IPS kelas 10 mampu meningkatkan motivasi siswa kelas 10 untuk mengikuti kelas IPS, (2) guru IPS IPS sudah mampu mempertimbangkan karakteristik siswa dalam memilih metode pengajaran, pelaksanaan penggunaan alat peraga yang meliputi: (1) penerapan multi media dalam pembelajaran, guru sudah mampu menerapkan multi medi dalam pembelajaran untuk memotivasi siswa pada mata pelajaran IPS (IPS) , (2) pelaksanaan pertimbangan dasar dalam memilih alat pengajaran, guru telah menggunakan karakteristik siswa sebagai dasar dalam memilih alat pengajaran. Penerapan pengelolaan kelas, meliputi: (1) pengelolaan tempat duduk dan alat pengajaran, guru sudah pandai memberantas kesalahpahaman siswa kelas 10, (2) mengklasifikasikan siswa, guru sudah mampu mengelola kelas dengan mengelompokkan siswa namun belum optimal. Pelaksanaan evaluasi siswa dan hasil belajar, meliputi : (1) penerapan teknik dan metode dalam mengevaluasi siswa, guru telah mampu memfungsikan evaluasi sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki metode pengajaran, (2) khusus untuk matematika dan Guru mata pelajaran IPA sudah mampu mempersiapkan siswanya dalam mengikuti tes berstandar internasional, namun belum maksimal. Implementasi penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran mata pelajaran matematika dan ilmu alam (MIPA),9 dari guru sudah mampu menggunakan bahasa Inggris di kelas namun belum maksimal seperti sembilan guru lainnya yang sudah melakukannya. Kata Kunci: kinerja guru, perintis sekolah menengah bertaraf internasional. Pendahuluan Merespon tantangan era global maka pemerintah telah mencanangkan program pendidikan yang berstandar internasional yang disebut RSBI (Rintisan SMA Berstandar Internasional). Disebutkan dalam panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Berstandar Internasional (RSBI) tentang latar belakang dari pengembangan program ini bahwa arus globalisasi telah ditandai dengan persaingan sangat ketat dalam bidang teknologi, manajemen, dan suumber daya manusia (SDM). Untuk memenuhi hal tersebut diperlukan penguasaan teknologi agar dapat meningktakan nilai tambah, memperluas keragaman, produk (barang/jasa), dan mutu produk. Terkait dengan tiga hal tersebut diatas pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab mengembangkan system pengelolaan serta menggunakan kewenangannya menyiapkan SDM (sumber daya manusia) unggul lewat pembenahan system pendidikan nasional. Dalam 19 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Undang-undang pendidikan nasional no 20 th 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 50 ayat 3 menyatakan bahwa Pemerintah dan atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Dalam sejarah perkembangannya di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya tercatat bahwa pada th 2002 telah ditunjuk menjadi salah satu di antara 40 sekolah terkemuka di seluruh Indonesia, baik sekolah swasta maupun negeri, sebagai pelopor pelaksana Kurikulum dan Sistem Pengujian Berbasis Kompetensi, kemudian th 2006 ditetapkan menjadi sekolah yang mengembangkan program RSBI (Rintisan Sekolah Berbasis Internasional). Berkaitan dengan kepercayaan yang telah diberikan oleh pemerintah kepada sekolah ini untuk menyelenggarakan program rintisan sekolah berbasis Internasional tentu merupakan tanggung jawab cukup berat untuk dapat mewujudkannya sehingga tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Supaya program-program dapat terlaksana dengan baik maka dalam proses pendidikan atau pembelajaran membutuhkan para pendidik atau guru-guru yang berkualitas, yakni yang profesional dan memiliki kinerja baik. Dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 th 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:21), pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rochani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.1 Danim mengatakan, persyaratan guru ideal perlu dirangsang, pada era globalisasi yang makin masif dan ekstensif ini, tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang berualitas, baik dalam bidang politik, pendidikan, kemajuan teknologi maupun ekonomi, suatu negara akan tertinggal jauh. Dpat dikatakan bahwa profesionalisme untuk 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 20 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya menghasilkan kinerja guru yang bermutu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional Indonesia menuju persaingan global. Sejak tahun ajaran 2007/2008 SMA Muhammadiyah 2 Surabaya telah melaksanakan program rintisan sekolah berbasis internasional, yang meskipun pada awalnya hanya membuka dua kelas khusus pada program ini. Namun demikian mulai th ajaran 2009/2010 program ini telah diberlakukan bagi seluruh kelas X. Pada kurikulum RSBI (Rintisan SMA Berbasis Internasional) di antaranya diberlakukan pemakaian bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dalam proses pembelajaran. Pemakaian bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar berlaku untuk lima mata pelajaran, yakni bahasa inggris, matematika, fisika, kimia, biologi.2 Dalam pelaksanaan pembelajaran program RSBI SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, terus melakukan upaya untuk memacu guru menjadi yang professional dalam pekerjaannya. Tuntutan kinerja guru pada sekolah yang berstandar intrenasional, disamping secara akademik harus memliki wacana yang luas pada bidang studinya masing-masing juga harus memiliki kemampuan untuk berbahasa inggris, sebagai alat komunikasi dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian melalui studi dokumentasi dan wawancara ditemukan sebanyak 14 guru, yang terdiri guru MIPA, IPS, agama, komputer, telah berhasil mendapatkan sertifikat mengajar dari University of Cambridge setelah mengikuti tes pada 3 Oktober 2009. Sebelum mengikuti tes guru telah mengikuti kursus selama 5 minggu, yang dlakukan dalam 2 tahap, di Real English Sub Center University of Cambridge Jogjakarta pada awal Juli 2009. Dengan telah diperolehnya sertikat tersebut, berdasarkan penelitian melalui wawancara dan observasi, telah ditemukan sebanyak 9 orang guru MIPA telah menerapkan pembelajaran dengan bahasa Inggris secara penuh. 2 Departemen Pendidikan Nasional. (2009). Panduan Penyelenggaraan Progra Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 21 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Untuk meningkatkan mutu SDM (Sumber Daya Manusia) dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti pelatihan dalam bentuk pemagangan, studi banding, workshop, dan seminar. Berkaitan dengan hal tersebut maka guru telah mengikuti banyak pelatihan ataupun pemagangan dan studi banding, baik tingkat lokal, nasional dan internasional, seperti guru biologi magang mengajar di sekolah menengah di Australia. Hasil magang guru telah berhasil melahirkan MOU antara sekolah Loarn Aires P12 Victoria Australia dengan SMA Muhammadiyah 2. Studi banding dengan sekolah Handerson Secondary School dan AL Irsyad Secondary School di Singapura, SMK Aminudin Baki dan Adni International School High School di Malaysia. Bahkan jauh sebelum sekolah menjadi RSBI beberapa guru mendapatkan undangan mengikuti kursus bahasa Mandarin di Hoang Yao Cina, dan guru telah lolos melalui proses seleksi mewakili Indonesia diberangkatkan ke Amerika Serikat pada Islamic Youth Leadership Program selama 1 bulan (Juni-Juli 2004). Dilihat sisi etos kerja berdasarkan hasil penelitian melalui observasi guru, terutama guru tetap, sudah terbiasa atau secara rutinitas bekerja atau pulang ke rumah pada sore menjelang maghrib, ketika para siswa sudah pulang pada pukul 15.30 WIB. Disamping itu pula, sebagai sekolah yang dirintis menjadi bertaraf internasional, maka berdasarkan penelitian melalui wawancara dan observasi, telah ditemukan bahwa semua guru telah mampu mengoperasionalkan IT (Informational Technology) dalam pembelajaran. Sebagian dari beberapa keunggulan dan prestasi sebagaimana telah diuraikan diatas merupakan gambaran kualitas kinerja guru, akan tetapi masih ditemukan beberapa permasalahan. Permasalahan yang dimaksud adalah, bahwa belum semua guru faham tentang program RSBI, guru IPS kelas X belum mampu mengatasi rendahnya motivasi siswa yang berminat masuk program IPA pada jenjang kelas berikutnya untuk mengikuti pembelajaran bidang studi IPS melalui penerapan multi metode dan media pembelajaran, guru belum secara baik memfungsikan evaluasi hasil belajar siswa sebagai umpan balik bagi Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 22 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya guru untuk memperbaiki pembelajaran, sebanyak 9 orang dari 18 orang guru MIPA belum menerapkan pembelajaran dengan bahasa Inggris. Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut maka peneliti dalam penelitian ini melakukan pengembangan yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja guru dalam upaya mencapai target kualitas menuju sekolah bertaraf internasional (SBI). Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berfokus pada fenomena ata gejala sosial yang ada. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus yang bertujuan memperoleh deskripsi yang utuh dan mendalam terkait pengembangan kinerja guru SMA Islam Surabaya sebagai rintisan sekolah berstandar internasional. Sedangkan, seara teknis, pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, dokumentasi serta wawancara. Pembahasan Dalam penerapan pembelajaran yang meliputi aspek penyusunan Silabus dan penyusunan program. Permasalahan-permasalahan yang dimaksud yang pertama adalah, sikap yang ditunjukkan oleh guru mata pelajaran non MIPA yang kurang memahami tentang program RSBI sebagai program sekolah. Kekurang fahaman guru non MIPA tersebut adalah merupakan efek dari sikap positif sekolah untuk bertindak secara konsisten terhadap ketentuan yang ada. Ketentuan yang dimaksud adalah, mengharuskan guru MIPA dapat melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada kurikulum nasional dan diperkaya dengan kurikulum salah satu negara maju. Untuk mendukung terlaksananya pembelajaran tersebut secara baik, maka sekolah harus melakukan beberapa hal, diantaranya melakukan studi banding ke beberapa sekolah negara maju, sekolah, menjalin mitra dengan pihak-pihak yang bisa dipakai sebagai referensi untuk meningkat mutu, penggunaan bahasa 23 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Inggris dalam pembelajaran. Semua ketentuan tersebut telah diupayakan secara baik, misalnya menyelanggarakan kurus bahasa Inggris selama satu setengah bulan di Yogya dengan mendatangkan guru dari Inggris, mengadakan studi banding ke sekolah-sekolah maju di Malaysia, Singapura, menjalin MOU dengan sekolah maju di Australia. Upaya-upaya sekolah tersebut telah melahirkan pemahaman, bahwa program RSBI hanya milik bidang dan sekaligus milik guru MIPA. Dengan pemahaman seperti tersebut, maka akhirnya menjadikan guru bidang studi non MIPA tidak perlu mengerti tentang program tersebut, dan pada akhirnya guru tidak faham. Menurut peneliti permasalahannya terletak pada kurangnya komunikasi dari kepala sekolah untuk menyampaikan tentang program sekolah ini pada seluruh guru. Komunikasi dapat dijalin melalui tahapan-tahapan interaksi sosial, yang dalam proses interaksi sosial, yang didalamnya terdapat tahapan-tahapan kontak dan komunikasi. Tahapan kontak sudah dilalui lewat pertemuan sehari-hari di sekolah antara pimpinan sekolah dengan guru beserta para tenaga kependidikan, yakni karyawan. Adapun tahapan komunikasi, sebagai proses menyampaikan pesan atau informasi tentang program RSBI, secara bersama-sama oleh kepala sekolah sudah dilakukan akan tetapi kurang difahami oleh guru. Menurut peneliti permasalahannya terletak pada proses tahapan komunikasi yang belum berjalan secara baik. Oleh karena peneliti perlu mengembangkan kekurang fahaman guru tentang program ini dengan menggunakan konsep interaksi dan komunikasi. Teori yang digunakan merupakan penerapan kosep interaksi dan komunikasi. Dalam konsep interaksi atau disebut pula interaksi sosial, adalah sebuah proses terjadinya hubungan timbal balik antara kedua belah fihak, seperti antara kepala sekolah dengan guru, antara guru dengan guru, yang keduanya saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam interaksi yang dijalin harus melalui 2 tahapan, yakni: (1) tahap kontak, bisa secara langsung atau tidak langsung, (2) tahap komunikasi. Untuk supaya bisa sampai tahap komunikasi maka tahap kontak harus dilalui dengan baik, yakni aksi pihak Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 24 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya pengontak harus mendapat reaksi positif dari fihak yang dikontak. Pada tahap komunikasi, yang didalamnya terdapat fihak komunikator (penyampai informasi/pesan), dan fihak komunikan (penerima informasi/pesan). Dalam proses menyampaikan pesan/informasi tersebut ditujukan agar komunikator dapat merubah perilaku atau pikiran komunikan untuk bisa memahami pesan atau informasi yang telah disampaikan. Adapun penerapan konsep sebagai cara pengembangannya pada aspek yang perlu dikembangkan, yakni untuk menghilangkan kesalah pahaman hingga kemudian terjadinya pemahaman yang baik oleh guru bidang studi non MIPA terhadap program RSBI sebagai program sekolah, adalah melalui langkah-langkah sebagai berikut. (1) Kepala sekolah menjalin kontak dengan seluruh guru, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung bisa dilakukan melalui tatap muka, seperti menyapa, berjabat tangan. Sedangkan kontak tidak langsung dapat dilakukan dengan melalui telepon ataupun lewat orang lain. Kedua macam kontak tersebut ditujukan sekedar memberi perhatian, misalnya sekedar menanyakan kabar, sehingga akan terjalin kontak positif hingga kemudian dapat dilanjutkan ke tahap interaksi yang berikutnya yakni tahap komunikasi, (2) Setelah tahap kontak sudah dijalin dengan baik, maka kepala sekolah perlu melanjutkan ke tahap komunikasi, terutama dengan guru mata pelajaran non MIPA, yang merupakan fokus dari masalah ini, (3) Komunikasi yang merupakan tahapan menyampaikan pesan dari kepala sekolah, sebagai fihak komunikator kepada guru sebagai fihak komunikan, adalah dimaksudkan untuk menyampaikan pesan atau informasi tentang makna dari program RSBI, sebagai program sekolah dan bukan program klas MIPA, dengan tujuan agar seluruh guru memiliki pemahaman yang sama secara baik tentang program ini, (4) Pelaksanaan komunikasi akan menjadi lebih baik dilaksanakan apabila diikuti oleh semua guru guru, baik guru mata pelajaran MIPA dan non MIPA, agar dapat terjalin sikap kebersamaan diantara guru setelah adanya persamaan sikap atau pemahaman tentang program RSBI, sehingga dapat lebih meningkatkan 25 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti kinerja guru, (5) Bentuk penerapan tahapan komunikasi adalah berupa penjelasan dalam forum rapat bersama antara kepala sekolah dengan semua guru di ruang aula sekolah. Penjelasan dapat menggunakan metode ceramah dan bentuk permainan yang menggambarkan pentingnya persatuan dan kesatuan pemahaman demi tercapainya tujuan organisasi, (6) Dalam forum komunikasi melalui ceramah kepala sekolah memberi kesempatan pada guru untuk menanyakan tentang hal-hal yang kurang difahami. Pemberian kesempatan kepada guru untuk bertanya adalah sebagai upaya kepala sekolah untuk memahami secara baik tentang tanggapan/respon guru terhadap penjelasan yang telah disampaikannya. Dari pertanyaan yang diajukan oleh guru tersebut, maka kepala sekolah memberikan jawaban atau penjelasan, demikian seterusnya hingga seluruh guru faham, (7) Setelah kepala sekolah mendapat tanggapan positif dari guru, yang dapat dilihat dari adanya dialog tanya jawab tersebut, maka diharapkan penjelasan tentang program RSBI kepada seluruh guru dapat membawa efek pada berubahnya pikiran. Berubahnya pikiran yang dimaksud adalah, bahwa guru yang semula salah memahami program RSBI sebagai program MIPA bukan program sekolah. Berubahnya pikiran guru dari tidak memahami menjadi memahami program RSBI. Dalam penyusunan program permasalahannya adalah, bahwa dalam penyusunan program, yang terdiri dari rencana program pekan efektif (RPE), program semester, program tahunan, tidak didapatkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelaksanaan remidi. Adapun penerapan konsep penyusunan program adalah melalui tahapan seperti berikut ini, (1) kepala sekolah menyampaikan tentang pentingnya mengalokasikan waktu pelaksanaan remidi dalam penyusunan program pembelajaran, (2) penyusunan program untuk penempatan alokasi waktu pelaksanaan remidi diserahkan pada masing-masing guru, karena masing-masing guru memliki jadwal penyelesaian unit-unit materi yang berbeda-beda, (3) penyusunan alokasi waktu bisa sama antar guru, karena Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 26 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya pelaksanaan beberapa teknik evaluasi dilaksanakan secara bersama-sama oleh sekolah, (4) penerapan penempatan alokasi waktu pelaksanaan remidi, bisa dikembangkan sendiri oleh guru masing-masing berdasarkan kondisi kelas dan pembelajarannya. Penerapan Penggunaan Metode Pembelajaran. Pada aspek ini meliputi, penerapan multi metode pembelajaran dan dasar pertimbangan pemilihan metode pembelajaran. Permasalahannya adalah didapatnya beberapa siswa di kelas X (sepuluh) yang kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga dapat dikatakan siswa tidak memiliki motivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Sikap pasifnya siswa merupakan wujud keengganan siswa, dan keengganan ini sebagai identifikasi dari rendahnya motivasi untuk mengikuti pelajaran. Kurang termotivasinya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, adalah disebabkan karena adanya pemahaman bahwa mata pelajaran IPS tidak menjadi penting untuk jurusan IPA yang dipilihnya ketika naik kekelas berikutnya. Jadi permasalahannya adalah pada rendahnya motivasi belajar siswa untuk mengikuti proses pembelajaran, yang disebabkan karena kesalahan dalam pemikiran atau kesalahan fahaman siswa kelas X, bahwa pelajaran IPS tidak penting untuk program jurusan IPA pada kelas jenjang berikut yang diminatinya.Sebagai sekolah yang dirintis menjadi bertaraf internasional, adalah menjadikan para lulusan memiliki sikap positif, berwawasan luas, kreatif dan inovatif sehingga menjadi manusia yang siap bersaing secara global. Pentingnya pengembangan kinerja guru pada sub aspek ini adalah untuk meningkatkan kinerja guru sehingga diharapkan dapat mengatasi dan menghilangkan pemahaman siswa yang seharusnya tidak terjadi dan pada akhirnya dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Konsep-konsep yang berkaitan dengan sikap siswa yang kurang aktif disebabkan adanya pemahaman dari siswa, adalah peranan motivasi 27 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti eksstrinsik yang bersumber dari luar anak didik sangat diperlukan. Motivasi atau dorongan dari luar diri siswa, yang dekat sekali dengan aktivitas pembelajarannya adalah guru. Oleh karena itu guru berkewajiban untuk menumbuhkan motivasi siswa dengan memberikan penjelasan agar tidak ada lagi kesalah fahaman dalam pemikirannya. Penjelasan yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat dilakukan dengan menerapkan konsep interaksi dan komunikasi, sebagaimana juga dipakai dalam mengembangkan kinerja guru pada sub aspek kinerja penyusunan silabus. Dalam konsep interaksi atau disebut pula interaksi sosial, adalah sebuah proses terjadinya hubungan timbal balik antara kedua belah fihak, seperti antara guru dengan siswa, yang keduanya saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam interaksi yang dijalin harus melalui 2 tahapan, yakni: (1) tahap kontak, bisa secara langsung atau tidak langsung, (2) tahap komunikasi. Untuk supaya bisa sampai tahap komunikasi maka tahap kontak harus dilalui dengan baik, yakni aksi pihak pengontak harus mendapat reaksi positif dari fihak yang dikontak. Sedangkan pada tahap komunikasi, yang didalamnya terdapat fihak komunikator (penyampai informasi/pesan), dan fihak komunikan (penerima informasi/pesan). Komunikasi adalah merupakan proses menyampaikan pesan atau informasi dari fihak komunikator, misalnya guru, kepada fihak komunikan, misalnya siswa. Pengembangan untuk penerapan konsep interaksi dapat melalui langkahlangkah atau tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) Kepala sekolah melakukan sosialisasi kepada guru tentang tahapan-tahapan penerapan konsep interaksi dan komunikasi, kepada guru, seperti berikut ini, (2) Semua guru IPS mulai menjalin kontak dengan siswa yang diklasifikasikan kedalam kelompok siswa yang kurang aktif atau yang memiliki pemikiran yang dianggap salah. Adapun kontak bisa dijalin secara langsung di ruang kelas di sela-sela proses pembelajaran atau di luar kelas ketika istirahat atau sehabis shalat berjamaah. Kontak bisa melalui tatap muka, seperti menyapa, berjabat tangan, atau Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 28 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya berbincang-bincang tentang hal-hal ringan, misalnya mengenai kegiatan sehariharinya dirumah. Kontak tersebut ditujukan sebagai pendekatan atau tahapan awal untuk bisa melakukan tahap komunikasi. Kontak harus bisa menghasilkan jalinan kontak yang positif hingga kemudian dapat dilanjutkan ke tahap interaksi yang berikutnya yakni tahap komunikasi. Kontak ini dilakukan dalam batas waktu yang direncanakan hingga target terjadinya menghasilkan kontak-kontak positif dengan siswa, (1) setelah tahap kontak positif dijalin dengan baik, maka perlu melanjutkan ke tahap komunikasi, terutama dengan siswa yang dirasa bermasalah karena kurang aktif, yang merupakan fokus dari masalah ini, (2) komunikasi yang merupakan tahapan menyampaikan pesan/informasi dari guru, sebagai fihak komunikator kepada siswa sebagai fihak komunikan, adalah dimaksudkan untuk menyampaikan pesan atau informasi tentang makna tentang makna pentingnya semua ilmu pengetahuan bagi siswa siapapun agar menjadi sumber daya manusia yang berwawasan luas, menjadi sumber daya manusia yang kreatif, berfikir positif dalam menghadap kekuatan dan tantangan global. Dengan penjelasan tersebut diharapkan dapat mengubah pemikiran yang sempit dan salah, (3) pelaksanaan komunikasi akan dilaksanakan dalam beberapa kali tatap muka dikelas, ketika disela-sela proses pembelajaran berlangsung, atau sebelum memulai pembelajaran topik materi, (4) bentuk penerapan tahapan komunikasi adalah berupa penjelasan atau ceramah dan tanya jawab atau metode lain sesuai kretifitas guru. Penyampaian pesan, informasi atau pemikiran yang disampaikan oleh guru adalah pemikiran yang menggambarkan pentingnya siswa untuk peduli atau tidak memandang sebelah mata sebagian ilmu pengetahuan, sebagai bekal untuk menjadi sumber daya manusia yang berwacana luas, kreatif, dan inovatif sehingga siap atau mampu bersaing di percaturan globalisasi, (5) dalam forum komunikasi yang dilaksanakan di ruang kelas melalui ceramah atau penjelasan dan disertai dengan metode modeling, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menanyakan tentang hal-hal yang kurang difahami. 29 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Pemberian kesempatan kepada siswa untuk bertanya adalah sebagai upaya guru untuk memahami secara baik tentang tanggapan/respon siswa terhadap penjelasan yang telah disampaikannya. Dari pertanyaan yang diajukan oleh siswa tersebut, maka guru memberikan jawaban atau penjelasan, demikian seterusnya hingga seluruh siswa faham, (6) setelah guru mendapat tanggapan positif dari siswa, yang dapat dilihat dari adanya tanya jawab tersebut, maka diharapkan penjelasan atau pemikiran yang telah dikomunikasikan kepada siswa dapat membawa efek pada berubahnya pemikiran siswa, (7) setelah kepala sekolah melakukan sosialisasi kepada guru, tentang langkah-langkah atau tahapan penerapan konsep interaksi dan komunikasi tersebut, maka guru diminta untuk mempelajarinya hingga faham, (8) setelah guru mempelajari dan faham tentang penerapan konsep tersebut, maka guru segera menerapkan tahapan-tahapan konsep interaksi dan komunikasi. Tentang masalah dasar pertimbangan pemilihan metode pembelajaran, bahwa guru kurang melakukan upaya untuk mengatasi rendahnya motivasi siswa yang sebetulnya sudah diketahuinya. Meskipun sebetulnya metode pembelajaran yang diterapkan guru IPS, dapat dikatakan sudah multi media, inovatif, dan kreatif serta berbasis IT (Information Technology), akan tetapi pada kenyataannya belum dapat menumbuhkan motivasi siswa kelas X yang berminat masuk program jurusan IPA pada jenjang kelas berikutnya. Konsep tentang prinsip dasar pemilihan penggunaan metode pembelajaran harus mempertimbangkan faktor-faktor: (1) kondisi siswa, (2) tujuan pembelajaran, (3) materi pelajaran, (4) waktu dan peralatan yang tersedia. Dalam faktor siswa, terdapat dalam dirinya unsur motivasi, minat dan kebutuhannya, serta perbedaan-perbedaan intelektual yang dimiliki. Yang demikian dapat diartikan, bahwa guru tidak akan mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran siswa yang menjadi obyek pembinaan. Dengan konsep diatas, maka yang harus diperhatikan dalam memilih penggunaan metode, adalah disamping faktor materi yang akan diajarkan, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran, Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 30 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya kondisi atau waktu dan ketersediaan fasilitas, maka guru juga harus mempertimbangkan faktor siswa secara betul-betul baik. Adapun langkahlangkah yang telah disepakati bersama adalah seperti berikut ini, (1) kepala sekolah menyampaikan pada guru-guru konsep tentang prinsip dasar pemilihan penggunaan metode pembelajaran, terutama yang belum diperhatikan oleh guru, yakni menyakut faktor siswam, (2) sosialisasi konsep dapat dilakukan bersamaan waktunya dengan sosialisasi konsep pada permasalahan- permasalahan yang lain, dan sosialisasi bisa dilakukan di sekolah, di ruang aula, yang diikuti oleh seluruh guru atau guru IPS saja, (3) kepala sekolah memberi kesempatan pada guru untuk bertanya tentang hal-hal yang kurang dimengerti, kemudian kepala sekolah memberikan jawaban hingga semua guru dapat memamahami hingga guru menyanggupi untuk menerapkannya, (4) setelah selesai forum tanya jawab antara kepala sekolah dan guru dan dipastikan guru memahami konsep tersebut, maka kepala sekolah menginstruksikan pada guru untuk diterapkan. Penerapan konsep pemilihan metode pembelajaran ada pada pemikiran atau pola berfikir guru, bahwa faktor motivasi siswa menjadi prinsip dasar dalam menmilih penggunaan metode pembelajaran. Adapun penerapan riilnya sangat berkaitan erat dengan penggunaan metode pembelajaran. Hal ini dapat diartikan, bahwa indikasi guru telah menerapkan konsep ini dapat terlihat pada penerapan upaya guru mengaktifkan atau menumbuhkan motivasi siswa melalui jalinan interaksi antara guru dan siswa yang berbentuk kontak dan komunikasi. Penggunaan Media Pembelajaran Aspek ini meliputi penerapan multi media pembelajaran dan dasar pertimbangan pemilihan media pembelajaran. Permasalahannya adalah, bahwa guru IPS belum mampu mengaktifkan siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, meskipun telah menerapkan multi media pembelajaran yang 31 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti berbasis teknologi dan juga media yang bervariatif serta cukup inovatif. Jadi artinya meskipun guru telah menggunakan multi metode dan multi media yang berbasis IT (Information Technology) serta metode dan media yang variatif dan inovatif, guru belum mampu mengaktifkan siswa hingga siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Dengan media yang digunakan mengikuti metode yang digunakan diharapkan dapat menghilangkan kesalah fahaman pemikiran siswa dan akhirnya dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam pembelajaran. Adapun langkah-langkah penerapan media dengan metode pembelajaran ceramah dan modeling, adalah seperti berikut ini., (1) ketika metode ceramah dilakukan, dengan memberi penjelasan tentang pentingnya ilmu pengetahuan bidang studi IPS bagi siswa program apaun, papan tulis serta alat tulisnya sudah tersedia. Papan tulis white board digunakan sebagai pelengkap guru memberi penjelasan atau ceramah, (2) berikutnya guru dalam penjelasannya atau ceramahnya menyampaikan akan memakai beberapa orang siswa yang dijadikan model untuk memerankan tokoh-tokoh yang dicontohkan dalam cerita yang diuraikan melalui ceramah tadi, (3) beberapa orang siswa maju kedepan kelas atau berdasarkan petunjuk guru untuk memerankan tokoh yang diceritakan guru, (4) setelah beberapa siswa selesai memerankan tokoh sesuai contoh cerita yang diinginkan guru, maka guru meminta siswa membuat tanggapan. Tanggapan siswa diharapkan dapat mendukung kesimpulan guru, bahwa ilmu sosial juga penting diketahui oleh semua siswa, (4) guru mengambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan sosial penting untuk semua siswa. Tentang dasar pertimbangan pemilihan media pembelajaran yang dipakai oleh guru untuk memilih atau menetapkan penggunaan media pembelajaran adalah faktor-faktor: (1) obyektifitas, bukan pada subyektifitas atau kesengan guru saja, (2) kesesuaian materi dengan program yang ada dalam kurikulum, (3) tujuan pembelajaran, (4) ketersediaan fasilitas. Berdasarkan temuan data, yang dieproleh melalui wawancara, dan muculnya permasalahan bahwa, guru tidak Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 32 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya memtimbangkan aspek karakteristik siswa dalam menentukan metode pembelajaran sehingga berakibat pada tindakan guru dalam menentukan media pembelajaran. Pengelolaan Kelas Pada aspek ini meliputi pengaturan tempat duduk dan media pembelajaran serta pengelompokan siswa. Permasalahannya adalah, bahwa guru tidak dapat mengatasi kesalah fahaman diantara siswa di kelas X, sebagai akibat dari pengaturan media pembelajaran yang dibagi menjadi dua kelompok. Berdasarkan temuan data hasil penelitian, siswa kelas RSBI reguler telah berpendapat, bahwa siswa RSBI khusus terkesan ekslusif atau tidak mau bergaul dengan siswa di kelas yang lain. Sedangkan siswa kelas X RSBI khusus merasa tidak demikian, hanya saja anak-anak merasa nyaman berada di dalam kelas dengan fasilitas yang lebih lengkap dibandindingkan kelas lain, sehingga mereka enggan untuk keluar kelas. Informasi terjadinya kesalah fahaman antara siswa di kelas X tersebut sudah sampai pada guru, akan tetapi tidak ada tindak lanjut untuk mengatasi masalah tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah konsep interaksi edukatif tentang peranan guru sebagai korektor, informator dan mediator serta konsep komunikasi. Kesalah fahaman tidak sejalan dengan nilai-nilai persatuan untuk itu harus diluruskan, karena hal itu bisa berdampak buruk. Peran guru sebagai korektor harus dapat mengoreksi semua sikap, tingkah laku dan perbuatan anak didik, termasuk adanya kesalah fahaman yang terjadi di antara para siswa. Kesalah fahaman lahir dari bentuk penafsiran oleh siswa kelas X RSBI reguler terhadap tingkah laku siswa kelas X RSBI khusus, yang cenderung jarang keluar kelas karena merasa nyaman dengan segala fasilitas. Akan tetapi bagi kelas X RSBI khusus tidak menafsirkan dirinya sebagaimana ditafsirkan oleh siswa kelas X RSBI reguler. Peran guru untuk mengoreksi sikap siswa tersebut dapat menggunakan pendekatan konsep komunikasi. 33 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Penerapan konsep komunikasi hakekatnya tidak hanya menyampaikan informasi saja tetapi juga dapat mengubah perilaku orang. Dalam komunikasi untuk permasalahan ini, guru berperan sebagai komunikator dan siswa kelas X RSBI khusus akan berperan sebagai komunikan. Guru sebagai komunikator akan menyampaikan pesan, yang berupa informasi dan pikiran atau perasaan orang lain. Informasi yang akan dikirim oleh guru, adalah bahwa siswa kelas RSBI khusus telah diniliai oleh siswa kelas RSBI reguler sebagai siswa yang tidak mau bergaul dengan siswa kelas lain. Penilaian tersebut menurut pikiran guru adalah tidak salah atau sangat wajar, sebab pada kenyataannya siswa kelas RSBI khusus jarang keluar dari kelas karena sudah merasa nyaman dengan media yang tersedia. Akan tetapi hal tersebut tidak boleh dibiarkan karena bisa merusak nilai-nilai persatuan. Dari sudut sosialpun perilaku tersebut juga dinilai tidak benar, karena manusia sebagai makhluk sosial harus bisa bergaul, hidup dengan orang lain. Informasi yang tentang perasaan siswa kelas RSBI regular dan pikiran guru tentang bagaimana seharusnya siswa bergaul, dan hidup bersama dengan orang atau siswa yang lain. Diharapkan dengan penerapan komunikasi, maka informasi berupa perasaan dan pikiran dari guru dapat diterima, ditanggapi atau direspon secara baik oleh siswa kelas RSBI khusus, kemudian siswa menyatakan sanggup untuk bisa merubah sikapnya, sehingga terjalinlah pergaulan antar siswa secara baik dan tidak ada lagi kesalah fahaman. Selanjutnya dibuatlah kesepakatan bersama tentang langkah-langkah penerapannya, seprti berikut ini, (1) forum komunikasi dapat berlangsung di kelas-kelas RSBI khusus, sebagaimana biasa ketika pembelajaran berlangsung, (2) dalam forum komunikasi guru berperan sebagai komunikator, dan siswa sebagai komunikan, (3) sebagai komunikator, menyampaikan informasi atau perasaan yang ada pada siswa kelas X RSBI regular, yang menganggap kelas mereka sebagaiekslusif atau tidak mau bergaul dengan siswa kelas, karena mereka cenderung jarang keluar kelas karena merasa nyaman di kelasnya, (4) komunikator atau guru menyampaikan pikirannya atau penilaian, bahwa Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 34 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya penilaian seperti tersebut bisa dianggap benar, karena sikap mereka yang senang tinggal di kelas sehingga mereka melupakan untuk bergaul dengan yang lain. meskipun hal seperti itu tidak disadari oleh mereka sebagai sikap yang salah, (5) sepanjang berlangsungnya penyampaian informasi, perasaan, dan pikiran, guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya atau menanggapi, (6) setelah terjadi adanya tanggapan atau respon yang baik, maka yang ditunggu guru adalah perubahan dari sikap para siswa kelas RSBI khusus, menjadi siswa yang dapat bergaul dengan siswa siapa saja Adapun dalam pengelompokan siswa adalah bahwa sebetulnya guru telah melakukan pengelompokan siswa dalam pembelajaran dengan dinamis, guru mengelompokkan siswa tidak monoton tetapi berubah-ubah sesaui kondisi pembejarannya. Akan tetapi masih terdapat siswa yang pasif atau tidak memiliki motivasi untuk mengikuti pembelajaran. Menurut analisis peneliti, tidak termotivasinya siswa mengikuti pembelajaran dalam pengelolaan kelas dengan pengelompokan adalah sangat berkaitan erat dengan kesalahan pemikiran siswa. Adapun kesalahan pemikiran siswa yang dimaksudkan adalah, siswa menganggap mata pelajaran IPS tidak penting bagi siswa jurusan IPA yang menjadi minatnya pada jenjang kelas berikutnya. Dapat dikatakan, bahwa permasalahannya adalah guru IPS tidak dapat mengatasi sikap pasif atau rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bidang studi IPS, meskipun telah dilakukan pengelompokan siswa secara dinamis. Dengan demikian penerapan konsep ini adalah, sebagai berikut, (1) guru membuat klasifikasi siswa, (2) klasifikasi siswa didasarkan pada minatnya, minat pada program jurusan pada jenjang kelas berikutnya, yakni jurusan yang tersedia di sekolahadalah IPA atau IPS, (3) sebelum melakukan klasifikasi siswa, guru mengumpulkan data tentang minat siswa, yang bisa diperoleh dari data hasil penelitian ini, (4) setelah mengetahui data minat siswa, maka guru membuat klasifikasi atau pengelompokan, (5) pengelompokan dapat dilakukan dengan cara-cara, Pengelompokan diatur oleh guru, diserahkan pada siswa, diatur 35 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti bersama antara siswa. Hal ini dilakukan karena bagaimanapun tujuan pembelajaran adalah untuk kepentingan siswa, sehingga aspirasi siswa harus dihargai. Akan tetapi meskipun demikian guru tetap memiliki kewajiban untuk mengontrol cara kerja kelompok siswa. Selanjutnya permasalahan tentang penerapan evaluasi hasil belajar siswa adalah guru IPS belum mampu memfungsikan hasil evaluasi belajar siswa sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki pembelajaran. Permasalahan ini berkaitan erat dengan penerapan penggunaan metode dan media pembelajaran, yakni terdapatnya siswa yang kurang aktif dalam mengikuti mata pelajaran IPS. Kurang aktifnya siswa dalam mengikuti pembelajaran bidang studi IPS akhirnya berdampak pula pada prestasi belajar. Dikatakan oleh beberapa orang guru IPS, bahwa nilai siswa berada pada rata-rata dibawah ketuntasan atau termasuk kategori sedang. Dengan kondisi seperti tersebut, seharusnya guru mampu menjadikan nilai prestasi siswa terebut sebagai umpan balik untuk merefleksi diri, yakni memperbaiki pembelajarannya. Permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan konsep evaluasi interaksi edukatif. Dalam konsep evaluasi diuraikan tentang fungsi evaluasi, diantaranya bagi siswa dan juga bagi guru. Fungsi evaluasi bagi siswa diantaranya adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi anak didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan fungsi evaluasi bagi guru, adalah untuk memberikan umpan balik pada guru yang bisa dipakai sebagai dasar untuk memperbaiki cara belajar mengajar, mengadakan perbaikan bagi siswa, menenmpatkan situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan kondisi siswa. Umpan balik bagi guru untuk memperbaiki cara belajar mengajar adalah berkaitan dengan beberapa hal, seperti metode pembelajaran, media pembelajaran, sistem evaluasi hasil belajar, penguasaan materi oleh guru, motivasi belajar siswa. Adapun langkah-langkah penerapan konsep ini dapat dilakukan dengan, (1) guru mencermati hasil evaluasi belajar siswa yang berada dibawah ketuntasan, (2) guru melakukan tindakan pencermatan hasil evaluasi Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 36 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya belajar siswa adalah untuk mencari ada tidaknya kesamaan antara hasil evaluasi pada siswa nilainya dibawah ketuntasan atau kategori sedang dengan siswa yang bermotivasi rendah dalam mengikuti pembelajaran bidang studi IPS karena menganggap mata pelajaran IPS tidak penting lagi ketika majuk di jurusan IPA, (3) Melakukan kesimpulan terhadap hasil pencermatan, (4) melakukan pemecahan secara berkaitan anatara penerapan metode dan media pembelajaran, (5) memperbaiki metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik siswa, (6) berpedoman pada pemikiran, bahwa jika melalui perbaikan penerapan metode dan media pembelajaran motivasi siswa telah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, maka berarti guru telah sekaligus memfungsikan hasil evaluasi belajar siswa sebagai perbaikan pembelajaran, (7) menyelenggarakan evaluasi setelah topiktopik pelajaran tertentu, sebagaimana telah dijadwalkan, (8) mencermati kembali hasil evaluasi belajar siswa untuk melihat perkembangan yang terjadi pada hasil evaluasi belajar siswa. Permasalahan pada penerapan evaluasi khusus pada bidang studi MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), adalah, bahwa belum semua guru bidang studi MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan), kelompok bidang studi matematika, fisika, kimia, dan biologi, melaksanakan kegiatan bimbingan dan persiapan bagi siswa untuk mengikuti ujian standar internasional. Penetapan siswa untuk mengikuti ujian standar internasional, yakni ujian Cambridge, adalah merupakan konsekuensi sebagai sekolah rintisan bertaraf internasional. Permasalahan sebagian guru bidang studi MIPA pada sub aspek ini adalah berkaitan dengan rendahnya motivasi guru, dan bisa dikembangkan dengan menggunakan konsep dasar motivasi penetapan tujuan (goal Setting). Konsep motivasi penetapan tujuan dirancang untuk memotivasi guru dengan menetapkan tujuan yang harus dicapai untuk memberinya harapan, bahwa kesulitan yang dihadapi bisa diatasi atau akan memperbesar kemungkinan pencapaian kinerja secara baik. Oleh karena itu diperlukan sikap manajer dalam 37 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti penetapan tujuan ini adalah: (1) tujuan harus bersifat spesifik dan apabila memungkinkan tujuan-tujuan harus dikuantifikasi, (2) meningkatkan penerimaan tujuan oleh para pegawai dengan mengikut sertakan partisipasi para karyawan dalam pengembangan tujuan, (3) penetapan tujuan dalam rentang tengah kesulitan, sebab jika cukup sulit yang memungkinkan pekerja berusaha keras tetapi dapat pula cenderung menyerah. Akan tetapi jika terlampau mudah pencapaiannya maka akan timbul apatis. Jika terlalu sulit akan memunculkan persepsi bahwa sistem tidak fair, sehingga motivasi akan menyusut. Adapun langkah-langkah penerapannya adalah, (1) kepala sekolah menyampaikan pada guru tentang perlunya guru meningkatkan upayanya untuk belajar berbahasa Inggris, (2) kepala sekolah membuat tahapantahapan yang harus dicapai oleh guru dalam jangka waktu yang telah ditetapkan bersama-sama dengan guru, (3) kepala sekolah bersama-sama guru membuat kesepakatan bersama tentang tahapan-tahapan secara spesifik yang harus dicapai oleh guru, jangka waktu yang diperlukan oleh guru untuk menyelesaikan tahapan-tahapan yang telah disepakati bersama, tahapantahapan yang harus dilalui dimulai dari hal-hal yang paling mudah hingga yang lebih sulit, bentuk atau pola dari solusi yang diterapkan dalam tahapan-tahapan tersebut, kepala sekolah merealisasikan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati bersama-sama guru untuk menyediakan wadah bagi dilaksanakannya tahapan-tahapan yang akan diterapkan oleh guru, guru menerapkan langkah-langkah dari kesepakan-kesepakatan yang telah dibuat bersama kepala sekolah. Penerapan Pemakaian Bahasa Inggris dalam Pembelajaran Bidang Studi MIPA (Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam). Terdapat 9 orang orang MIPA telah menerapkan pembelajaran dengan bahasa Inggris, dan sebanyak 9 orang guru MIPA belum menerapkan pembelajaran dengan bahasa Inggris. Atau dapat dikatakan, berdasarkan data Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 38 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, bahwa belum semua guru MIPA menerapkan pembelajaran dengan bahasa Inggris. disebabkan adanya kendala siswa dan faktor keberanian untuk berbahasa Inggris yang kurang. Sikap yang ditunjukkan guru tersebut sebagai indikasi motivasi yang rendah untuk belajar dan menggunakan atau menerapkan dalam pembelajaran. Konsep yang diharapkan dapat menumbuhkan motivasi guru agar dapat meningkatkan kinerja guru pada sub aspek ini. Dalam konsep dasar motivasi energi, bahwa didalam diri seseorang tersimpan sumber energy yang dapat menggerakkan perilaku manusia, namun demikian masih memerlukan energy tambahan untuk mengarahkan energy dengan berbgai cara. Dalam diri seseorang memiliki keinginan karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga menimbulkan motivasi untuk memenuhi kebutuhan yang ingin dicapainya. Adapun sumber motivasi bisa berasal dari dalam dirinya sendiri dan bisa pula dari luar dirinya yang dapat mempengaruhi kuat lemahnya motivasi seseorang. Dalam dunia kinerja sangat dibutuhkan motivasi, disamping kemampuan yang dimiliki. Selanjutnya bagaimana cara meningkatkan atau menumbuhkan motivasi guru yang rendah adalah tergantung bagaimana kepala sekolah, sebagai pimpinan memotivasinya. Untuk memotivasi guru yang motivasinya rendah dapat digunakan dengan konsep motivasi penetapan tujuan (goal setting). Teori penetapan tujuan adalah merupakan cara untuk memotivasi guru agar memiliki keberanian untuk menerapkan pembelajaran dengan bahasa Inggris. Dalam penetapan tujuan guru di berikan uraian tujuan yng harus dicapai, tetapi jangan terlalu mudah, dan jangan pula terlalu sulit. Penetapan tujuan yang terlalu mudah akan mengakibatkan guru akan cenderung mengabaikan, sedangkan jika terlalu sulit maka akan menimbulkan sikap pasrah atau menyerah untuk tidak berbuat apa-apa. 39 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Kesimpulan Secara keseluruhan pengembangan kinerja guru telah dapat dilakukan, meskipun masih terdapat beberapa aspek kinerja yang belum sepenuhnya berhasil sebagaimana menggunakan pendekatan beberapa konsep, yakni konsep motivasi, edukasi, interaksi dan komunikasi. Beberapa aspek kinerja guru yang telah tampak menunjukkan keberhasilan adalah penerapan metode dan media pembelajaran serta dasar-dasar pertimbangan dalam pemilihan penerapannya, serta penerapan fungsi evaluasi sebagai umpan balik pembelajaran bagi guru. Sedangkan pemahaman terhadap program RSBI telah hamper semua guru dapat memahami dengan baik. Untuk penerapan pemakaian bahasa Inggris bagi sebagian guru MIPA dari sebagian guru MIPA yang telah menggunakan bahasa Inggris dalam pembelajaran, maka telah mulai sedikit mengalami peningkatan. Dalam penyusunan perangkat pembelajaran sebelum dikembangkan telah ditemukan data, bahwa belum semua guru memahami program RSBI dan belum mengalokasikan waktu pelaksanaan remidi dalam susunan waktu pelaksanaan program pembelajaran Bagi kepala sekolah adalah telah ditemukannya beberapa permasalahan pada beberapa aspek kinerja guru yang sebelumnya belum pernah diketahuinya dan sekaligus pemecahannya dengan menggunakan konsep-konsep. Penting bagi kepala sekolah untuk mengetahui tentang persoalan atau permasalahan yang ada pada guru sebagai bawahan. Kepala sekolah yang berkedudukan sebagai pimpinan, yang memiliki wewenang dan kewajiban untuk menumbuhkan motivasi guru agar dapat berkinerja lebih baik sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Masukan pada guru, adalah berupa telah meningkatnya kinerja guru yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yakni bagaimana menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa, mengatasi permasalahan-permasalahan siswa melalui penerapan metdode dan media pembelajaran, pengelolaan kelas. Guru dapat secara lebih baik memfungsikan evaluasi hasil belajar siswa sebagai umpan balik untuk memperbaiki Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 40 Pengembangan Kinerja Guru SMA Islam di Surabaya pembelajaran. Guru dapat secara bertahap menerapkan penetapan tujuan bagi tercapainya tujuan yang semula dirasakan sulit. Referensi Aqib, Zaeinal dan Rohmanto, Elham. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: Yrama Widya, 2007 Asnawi, Sahlan. Teori Motivasi. Jakarta: Studia Press, 2007 Bush, Tony dan Coleman, Marianne. Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan. Yogyakarta: Ircisod, 2006 Cham, Sam dan Sam, Tuti. Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi daerah. Jakarta: Raja Graindo Persada, 2005 Departemen Pendidikan Nasional. Panduan Penyelenggaraan Progra Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2009 Djamarah, Bahri, Syaiful. Guru dan Anak Didik dalam Interkasi Edukatif. Jakarta: Asdi Mahasatya, 2005 Djohar. Pendidikan Strategik: Alternatif Untuk Pendidikan Masa Depan.Yogyakarta: Lesfi, 2002 Gomes, Cardoso, Faustino. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Andi Offset, 2003 Hidayat, Komarudin dan Azra, Azyumardi. Demokrasi: Hak zasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: Icce Uin Syarif Hidayatullah: Jakarta, 2006 Indrafachrudi, Soekarto. Bagaimana Memimpin Sekolah yang Efektif. Bogor: Ghalia Indonesia, 2006 Isjoni. Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006 Mulyasa. Standar Kometensi dan Serifikasi Guru.Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 41 Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Agama Islam Catur Lestari Wijayanti Pidarta, Made. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2007 Pidarta, Made. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Surabaya: Unesa University Press, 2008 Pidarta, Made, Analisa Data Penelitian-Penelitian Kualitatif dan Artikel: Konsep dan Contoh. Surabaya: Unesa University Press. 2008 Pidarta, Made. Wawasan Pendidikan. Surabaya: Sic, 2009 Riyanto, Yatim. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya. Unesa University Press, 2007 Sagala, Syaiful. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2007 Sau’d, Saefudin, Udin. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2008 Suderadjat, Hari. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPBS): Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Implementasi KBK. Bandung: Cipta Cekas Grafika, 2005 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2009 Sukidin dan Basrowi dan Suranto. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Bandung Insan Cendekia, 2002 Sunarto. Metodologi Penelitian Ilmu-lmu Sosial dan Pendidikan (PendekatanKuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Unesa Unibersity Press, 2001 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Usman, Husaini. Manajemen: Teori Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2008 Volume 1, Number 1 (Juni 2024) 42