Al Marhalah Volume. No. 2 November 2025 P-ISSN 0126-043X E-ISSN 27162-400 EFEKTIVITAS GURU DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL Adrian Maulana1. Khusnul Wardan2 Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris. Samarinda Email: adrianmaulana31112@gmail. Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris. Samarinda Email: wardankhusnul@yahoo. ABSTRACT This study examines teacher effectiveness in implementing multicultural Islamic education in a pluralistic society. The research aims to understand how teachers design, execute, evaluate, and exemplify inclusive learning that fosters tolerance, justice, and respect for diversity. Using a qualitative library research approach, relevant literature was analyzed to explore strategies that promote student engagement, collaboration, and social-emotional growth. The findings reveal that effective teachers integrate multicultural values into lesson planning, apply dialogical and participatory teaching methods, and design assessments that measure not only cognitive achievement but also attitudes and social behaviors. Exemplary behavior plays a central role, as students model their conduct on teachersAo daily actions, reinforcing ethical and moral standards. Despite challenges such as limited training, insufficient teaching materials, and social resistance, opportunities exist through supportive educational policies, digital learning tools, and professional development initiatives. Effective teachers transform these challenges into opportunities for innovation, ensuring that multicultural Islamic education cultivates empathy, inclusivity, and moderation among learners. The study concludes that teacher effectiveness encompasses strategic planning, active implementation, comprehensive evaluation, and moral exemplarity, contributing to the formation of students capable of thriving in diverse and harmonious communities. Keyword: Teacher Effectiveness. Multicultural Islamic Education. Learning Strategies. Evaluation. Teacher Exemplarity ABSTRAK Penelitian ini membahas efektivitas guru dalam pelaksanaan pendidikan Islam multikultural di tengah masyarakat yang majemuk. Penelitian bertujuan memahami bagaimana guru merancang, melaksanakan, mengevaluasi, dan meneladani pembelajaran inklusif yang menumbuhkan sikap toleransi, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan pendekatan kualitatif berupa library research, literatur yang relevan dianalisis untuk mengidentifikasi strategi yang mendorong partisipasi siswa, kolaborasi, dan perkembangan sosialemosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru efektif mengintegrasikan nilai multikultural dalam perencanaan pembelajaran, menerapkan metode dialogis dan partisipatif, serta merancang evaluasi yang mengukur tidak hanya pencapaian 171 | Al Marhalah | Adrian Maulana. Khusnul Wardan kognitif tetapi juga sikap dan perilaku sosial siswa. Keteladanan guru menjadi faktor utama, karena perilaku guru sehari-hari menjadi acuan bagi siswa dalam menginternalisasi nilai etika dan moral. Meskipun terdapat hambatan seperti keterbatasan pelatihan, bahan ajar yang kurang representatif, dan resistensi sosial, peluang muncul melalui dukungan kebijakan pendidikan, pemanfaatan teknologi digital, dan pengembangan profesional guru. Penelitian menyimpulkan bahwa efektivitas guru mencakup perencanaan strategis, pelaksanaan aktif, evaluasi menyeluruh, dan keteladanan moral, sehingga pendidikan Islam multikultural mampu membentuk peserta didik yang inklusif, moderat, dan siap hidup berdampingan dalam masyarakat yang harmonis. Kata Kunci: Efektivitas Guru. Pendidikan Islam Multikultural. Strategi Pembelajaran. Evaluasi. Keteladanan Guru PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan tingkat kemajemukan yang tinggi, baik dari sisi etnis, budaya, agama, maupun sosial. Realitas pluralitas tersebut menuntut adanya pendidikan yang mampu menanamkan nilai toleransi, keadilan, serta penghargaan terhadap perbedaan. Pendidikan Islam multikultural hadir sebagai jawaban karena berorientasi tidak hanya pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik agar siap hidup berdampingan dalam keragaman. Guru memiliki peran strategis dalam keberhasilan pendidikan Islam multikultural. Tugas guru tidak hanya terbatas pada penyampaian materi, tetapi juga mencakup keteladanan sikap dan perilaku yang menumbuhkan nilai moderasi. (Irsyaad et al. , 2. menemukan bahwa guru efektif ketika mampu membangun pembelajaran berbasis dialog, materi yang inklusif, serta strategi partisipatif yang menumbuhkan sikap saling menghormati di antara siswa. Pendidikan Islam multikultural juga berfungsi memperkuat kohesi sosial. (Supriyanto et al. , 2. menegaskan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan basis pembelajaran multikultural dengan menanamkan nilai demokrasi, toleransi, pluralisme, dan persamaan dalam kegiatan belajar mengajar. (Fatoni et al. , 2. menunjukkan bahwa pendekatan inklusif-multikultural mampu menjadi sarana deradikalisasi yang efektif sekaligus memperkuat pemahaman Islam rahmatan lilAoalamin di kalangan peserta didik. Hambatan dalam implementasi pendidikan Islam multikultural masih cukup signifikan. Beberapa di antaranya meliputi keterbatasan pelatihan bagi guru, minimnya media pembelajaran yang merepresentasikan keberagaman, serta resistensi dari lingkungan sosial yang memandang multikulturalisme sebagai ancaman terhadap identitas keislaman. Kondisi ini menunjukkan perlunya dukungan kebijakan pendidikan yang konsisten serta penguatan kompetensi profesional guru agar efektivitas pembelajaran multikultural dapat tercapai secara optimal (Fatimah Warosari et al. Kajian terhadap efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural menjadi penting untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai strategi pembelajaran, tantangan yang dihadapi, serta peluang pengembangan yang dapat memperkuat praktik pendidikan di Indonesia. 172 | Al Marhalah Efektivitas Guru Dalam Pelaksanaan A METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library Fokus kajian diarahkan pada penelusuran dan analisis literatur yang relevan dengan tema efektivitas guru dalam pelaksanaan pendidikan Islam Library research dipahami sebagai penelitian yang memanfaatkan data pustaka berupa buku, artikel ilmiah, hasil penelitian, dan dokumen resmi sebagai sumber utama(Madum et al. , 2. Sumber data terdiri atas literatur primer dan sekunder. Literatur primer meliputi artikel jurnal, prosiding, laporan penelitian, dan hasil karya akademik yang telah terpublikasi. Literatur sekunder mencakup buku, karya ilmiah populer, serta sumber daring yang kredibel. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan kriteria keterkinian, relevansi dengan tema penelitian, dan otoritas penulis. (Sugiyono, 2. menegaskan bahwa pemilihan sumber yang tepat akan memengaruhi keabsahan hasil penelitian kualitatif. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif-analitis. Data yang diperoleh dibaca secara mendalam, dikategorikan sesuai dengan tema, lalu dianalisis untuk menemukan pola dan konsep yang berhubungan dengan efektivitas guru. Hasil analisis disajikan dalam bentuk narasi ilmiah yang menekankan peran guru, indikator efektivitas, strategi pembelajaran, serta tantangan dan peluang dalam konteks pendidikan Islam multikultural. Metode analisis ini sejalan dengan pandangan (Moleong, 2. yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan menggali makna dan memahami fenomena berdasarkan sumber data yang ada. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi sumber, yakni dengan membandingkan dan mengkonfirmasi temuan dari berbagai literatur. (Patton, 2. menyebutkan bahwa triangulasi merupakan cara efektif untuk meningkatkan kredibilitas hasil penelitian kualitatif. Dengan demikian, temuan kajian ini diharapkan bersifat komprehensif dan tidak parsial dalam menggambarkan efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural. HASIL PEMBAHASAN Perencanaan Pembelajaran Multikultural Efektivitas guru dalam pelaksanaan pendidikan Islam multikultural pertama-tama tercermin pada tahap perencanaan. Perencanaan menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran karena di sinilah visi pendidikan diwujudkan menjadi langkah-langkah operasional yang terukur dan bermakna. Dalam konteks multikultural, rancangan pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga harus mengintegrasikan nilai-nilai keadilan, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Rencana Pembelajaran (RPP) yang disusun dengan pendekatan inklusif menjadikan kelas sebagai miniatur masyarakat plural, tempat peserta didik belajar memahami realitas kemajemukan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ilham et al. , 2. yang menegaskan bahwa perencanaan pembelajaran berbasis multikultural berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter inklusif siswa dan mencegah munculnya prasangka antar kelompok Guru yang menyusun RPP dengan memasukkan unsur budaya lokal dan pengalaman sosial masyarakat multikultural terbukti lebih efektif dalam menumbuhkan perilaku toleran peserta didik (Masdul, 2. bahwa strategi perencanaan yang berorientasi pada nilai keberagaman mendorong siswa untuk tidak hanya memahami ajaran Islam secara tekstual, tetapi juga 173 | Almarhalah | Adrian Maulana. Khusnul Wardan menginternalisasikan makna sosialnya dalam kehidupan sehari-hari. Efektivitas guru pada tahap ini bukan hanya dinilai dari kepatuhan administratif terhadap kurikulum, tetapi dari sejauh mana perencanaan tersebut menumbuhkan kesadaran empatik, sikap saling menghargai, dan rasa keadilan di dalam kelas. Guru yang mampu menafsirkan kurikulum dalam konteks sosial-budaya yang plural menunjukkan kapasitas profesional dan moral yang tinggi, karena ia memahami bahwa pendidikan Islam tidak berhenti pada transfer ilmu, melainkan transformasi Efektivitas perencanaan pembelajaran multikultural juga relevan diterapkan di tingkat pendidikan tinggi (Idris et al. , 2. menemukan bahwa Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang disusun dengan pendekatan multikultural mampu memperkuat identitas keagamaan mahasiswa yang moderat dan terbuka terhadap perbedaan. Mahasiswa yang belajar dalam suasana akademik inklusif lebih cenderung menampilkan perilaku religius yang humanis serta menolak bentuk-bentuk ekstremisme keagamaan. Dengan demikian, perencanaan pembelajaran yang multikultural tidak hanya memperkuat kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga membangun karakter sosial yang selaras dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil-Aoalamin. Perencanaan yang demikian menjadikan kampus bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga arena pembentukan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Secara filosofis, perencanaan pembelajaran multikultural berakar pada paradigma humanisme teosentris, yang menempatkan manusia sebagai makhluk bermartabat dengan potensi spiritual, moral, dan sosial yang harus dikembangkan secara seimbang. Guru yang merancang pembelajaran dengan orientasi ini tidak hanya mengejar keberhasilan kognitif, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan emosional dan spiritual peserta didik. Hal ini mencerminkan nilai-nilai Islam yang universal: keadilan (Aoad. , keseimbangan . , dan kasih sayang . Dengan demikian, perencanaan multikultural dalam pendidikan Islam merupakan wujud nyata dari visi rahmatan lil-Aoalamin, yang menjadikan pendidikan bukan sekadar proses pengajaran, melainkan ruang pembentukan manusia beradab yang menghargai keberagaman, menjunjung nilai kemanusiaan, dan siap hidup damai di tengah masyarakat plural. Strategi Pembelajaran Multikultural Efektivitas guru dalam pelaksanaan pendidikan Islam multikultural sangat ditentukan oleh strategi yang dipilih ketika mengelola kelas. Strategi yang hanya berorientasi pada penyampaian materi kognitif akan sulit menghasilkan perubahan sikap, sedangkan strategi yang memberi ruang dialog, partisipasi, dan kolaborasi terbukti lebih mampu menanamkan nilai toleransi. Guru efektif menciptakan suasana kelas yang demokratis, di mana setiap siswa merasa dihargai pandangannya dan diberi kesempatan untuk menyuarakan pendapat. Strategi pembelajaran berbasis simulasi, studi kasus, dan kerja kelompok heterogen terbukti memperluas perspektif siswa terhadap realitas keragaman. Penelitian Cholik dan Jannah menemukan bahwa inovasi pembelajaran multikultural di sekolah menengah meningkatkan empati sekaligus memperkuat keterampilan sosial siswa. Guru yang menempatkan siswa dalam situasi belajar kolaboratif menjadikan nilai demokrasi, pluralisme, dan moderasi beragama lebih mudah diinternalisasi(Cholik & Jannah, 2. Strategi semacam ini membuat guru efektif bukan karena sekadar menguasai metode, tetapi karena mampu menghidupkan nilai Islam multikultural dalam interaksi kelas. 174 | Al Marhalah Efektivitas Guru Dalam Pelaksanaan A Integrasi teknologi digital juga memperkuat efektivitas strategi guru. Wahfiuddin dan Rofiq melalui kajian literatur menyebutkan bahwa penggunaan media interaktif, platform diskusi daring, dan sumber belajar digital memberi peluang lebih besar untuk menanamkan kesadaran multikultural. Kelas digital yang dikelola dengan baik memungkinkan siswa berinteraksi dengan beragam perspektif secara lebih luas, sekaligus membangun keterampilan literasi digital yang relevan dengan kebutuhan zaman (Wahfiuddin Al Musyarrofi & Mohammad Rofiq, 2. Strategi ini memperlihatkan bahwa efektivitas guru dalam pendidikan multikultural tidak hanya diukur dari aktivitas tatap muka, tetapi juga dari kemampuan mengelola ruang belajar virtual sebagai sarana dialog dan Dalam perspektif Islam, strategi pembelajaran yang partisipatif mencerminkan prinsip syura yang menekankan musyawarah sebagai sarana pengambilan keputusan bersama. Guru yang menggunakan strategi dialogis dan kolaboratif menempatkan peserta didik bukan sekadar sebagai objek pendidikan, tetapi subjek aktif yang dilibatkan dalam pencarian makna. Efektivitas guru terlihat ketika strategi yang dipilih tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga menumbuhkan sikap saling menghargai, rasa empati, dan kesadaran kolektif sebagai umat manusia yang berbeda namun setara. Evaluasi Pembelajaran Multikultural Efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural tidak dapat dilepaskan dari pendekatan dan instrumen evaluasi yang digunakan. Evaluasi yang hanya menekankan pada ranah kognitif tidak mampu menggambarkan keberhasilan pembelajaran secara utuh, sebab esensi utama pendidikan multikultural terletak pada perubahan sikap, perilaku, dan pola pikir peserta didik dalam menghadapi keberagaman. Oleh karena itu, guru yang efektif adalah mereka yang mampu merancang sistem penilaian yang tidak hanya menilai penguasaan konsep, tetapi juga mengukur internalisasi nilai-nilai kemanusiaan universal seperti toleransi, keadilan, empati, dan penghormatan terhadap Dalam konteks ini, evaluasi harus melibatkan ranah afektif dan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Bloom dalam taksonomi tujuannya, di mana ranah sikap menjadi dimensi penting dalam pendidikan karakter. Evaluasi berbasis multikultural menuntut guru untuk menjadi pengamat nilai, bukan sekadar pemeriksa jawaban(Jaya et al. , 2. Instrumen non-tes seperti jurnal reflektif, portofolio, observasi sikap, dan penilaian proyek memberikan gambaran lebih holistik tentang perkembangan kepribadian dan kesadaran sosial peserta Pendekatan ini memungkinkan guru melihat sejauh mana peserta didik mampu menerjemahkan pemahaman keagamaan ke dalam tindakan nyata yang mencerminkan Islam rahmatan lil-Aoalamin. Model evaluasi berbasis inklusif-multikultural berfungsi tidak hanya sebagai alat ukur akademik, tetapi juga sebagai sarana deradikalisasi pendidikan, yakni upaya membentuk cara pandang keagamaan yang moderat, terbuka, dan Melalui evaluasi yang berbasis nilai-nilai inklusif, guru dapat memastikan bahwa proses pembelajaran agama tidak berhenti pada hafalan ayat atau teori akidah, tetapi mendorong internalisasi nilai-nilai etis yang menumbuhkan kesadaran sosial dan empati antarindividu. Guru yang efektif dalam konteks ini adalah mereka yang mampu menilai dimensi spiritualitas sosial 175 | Almarhalah | Adrian Maulana. Khusnul Wardan peserta didik yakni bagaimana mereka mempraktikkan nilai keislaman dalam kehidupan majemuk dan interaksi lintas perbedaan. Tantangan yang muncul dalam praktik evaluasi multikultural salah satunya adalah keterbatasan bahan ajar yang masih bersifat homogen dan normatif (Qomaruzzaman, 2. menegaskan bahwa buku teks Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah masih dominan menampilkan perspektif tunggal, sehingga kurang mendukung pengukuran nilai-nilai inklusif. Dalam situasi demikian, guru dituntut untuk menjadi inovator evaluasi. Guru dapat menyusun instrumen alternatif yang lebih kontekstual dengan realitas keragaman peserta didik, misalnya melalui proyek kolaboratif, service learning, atau community engagement yang menuntut kerja sama antar siswa dari latar belakang budaya dan pemikiran yang berbeda. Melalui kegiatan semacam ini, evaluasi tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses sosial yang melibatkan interaksi, dialog, dan empati. Peran guru sebagai perancang sekaligus pelaksana evaluasi menjadi faktor sentral dalam keberhasilan pendidikan multikultural. Efektivitas evaluasi tidak semata-mata bergantung pada keakuratan instrumen, melainkan pada kesadaran reflektif guru untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam setiap bentuk penilaian. Guru perlu memiliki kompetensi interkultural dan spiritual, sehingga mampu menafsirkan hasil evaluasi bukan hanya secara kuantitatif, tetapi juga kualitatif dalam bentuk perubahan perilaku dan kesadaran moral peserta didik. Dalam perspektif pendidikan Islam, evaluasi yang menyentuh aspek sikap merupakan pengejawantahan dari konsep tazkiyatun nafs, yakni proses penyucian jiwa yang menilai perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi semacam ini menjadikan guru tidak sekadar (Umam, 2. menegaskan bahwa guru efektif bukan hanya memeriksa hasil ujian tertulis, tetapi juga menjadi pengamat yang teliti terhadap ekspresi moral peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Evaluasi yang demikian memperkuat fungsi pendidikan Islam sebagai proses pembentukan manusia yang berilmu, berakhlak, dan berkeadaban sosial. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran multikultural menjadi instrumen integral dalam mewujudkan pendidikan Islam yang moderat dan inklusif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga bagaimana mereka memahami, menghayati, dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam konteks kemanusiaan universal. Guru efektif adalah mereka yang mampu menautkan antara penguasaan ilmu dan pembentukan akhlak sosial, sehingga pendidikan agama Islam benar-benar berfungsi sebagai sarana pembangunan manusia paripurna yang siap hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang plural. Keteladan Guru Keteladanan merupakan aspek mendasar dalam efektivitas guru pada pelaksanaan pendidikan Islam multikultural. Dalam konteks ini, guru bukan hanya berperan sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai figur moral yang kehadirannya membentuk nilai dan perilaku siswa. Kepribadian guru menjadi rujukan langsung bagi peserta didik dalam membentuk sikap, karakter, dan pola interaksi sosial. Guru yang menunjukkan keterbukaan, keadilan, serta sikap moderat dalam menghadapi perbedaan menghadirkan pembelajaran yang hidup dan bermakna. (Anwar, 2. guru yang mampu menjadi teladan dalam sikap dan ucapan menjadikan pendidikan multikultural tidak berhenti pada tataran teori, 176 | Al Marhalah Efektivitas Guru Dalam Pelaksanaan A melainkan menjelma menjadi praksis sosial yang menumbuhkan rasa hormat terhadap keberagaman. Keteladanan menjadikan guru bukan sekadar instruktur, melainkan model moral yang menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Keteladanan tidak dapat dipisahkan dari konsistensi perilaku dan integritas moral guru. Keterampilan pedagogis yang canggih akan kehilangan makna jika tidak diiringi dengan sikap yang autentik dan konsisten. (Hakim & Muhid, 2. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa siswa lebih mudah meneladani nilai toleransi ketika melihat langsung praktik moderasi yang dilakukan guru dalam Guru yang menghindari sikap diskriminatif, memberikan perlakuan adil kepada seluruh siswa, dan menampilkan kesederhanaan sikap lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran multikultural dibandingkan dengan guru yang hanya menekankan nilai-nilai tersebut secara verbal. Efektivitas guru dalam hal ini tidak diukur dari metode pengajaran, melainkan dari seberapa dalam integritas moralnya menjadi teladan hidup bagi peserta didik. Konsep keteladanan ini memiliki relevansi yang kuat dengan teori social learning yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Menurut teori tersebut, individu belajar melalui proses observasi, imitasi, dan model perilaku. Dalam konteks sekolah, perilaku guru memiliki efek langsung terhadap pembentukan kepribadian Setiap ucapan, sikap, dan keputusan guru menjadi objek pengamatan yang diamati dan ditiru peserta didik dalam proses pembentukan nilai sosial. Guru efektif adalah mereka yang menyadari bahwa dirinya merupakan living curriculum atau kurikulum hidup yang menjadi sumber pembelajaran bagi siswa di luar teks dan materi ajar. Lingkungan sekolah yang beragam menjadi laboratorium sosial tempat siswa berlatih mengekspresikan nilai toleransi, empati, dan tanggung jawab sosial berdasarkan teladan yang mereka lihat setiap hari dari Perspektif Islam menempatkan keteladanan sebagai inti pendidikan. AlQurAoan mengabadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah . eladan yang bai. bagi umat manusia, yang menjadi paradigma bagi guru dalam mendidik generasi muda. Prinsip ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan Islam bukan diukur dari capaian akademik semata, tetapi dari keberhasilan guru menanamkan nilai-nilai akhlak melalui teladan hidupnya(Duryat, 2. Guru yang konsisten antara ucapan dan tindakan akan melahirkan suasana sekolah yang damai, adil, dan menghargai perbedaan. Keteladanan yang autentik bukan hanya membentuk individu berakhlak, tetapi juga membangun budaya sekolah yang multikultural dan inklusif. Dengan demikian, pendidikan Islam multikultural tidak dapat dipisahkan dari kehadiran guru yang hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkannya, guru yang bukan hanya berbicara tentang toleransi, tetapi menjadi wujud nyata dari Islam yang rahmatan lil-Aoalam Strategi Peningkatan Efektivitas Guru dalam Pendidikan Islam Multikultural Peningkatan efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural menuntut strategi yang komprehensif, terencana, dan kontekstual. Guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan implementasi nilai-nilai multikultural di sekolah. Namun, efektivitas tersebut tidak muncul secara spontan, melainkan melalui proses pembinaan berkelanjutan yang mencakup aspek kompetensi profesional, moral, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, strategi pengembangan guru perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pedagogis sekaligus penguatan karakter keislaman yang toleran, adil, dan berkeadaban. Guru harus menjadi figur 177 | Almarhalah | Adrian Maulana. Khusnul Wardan teladan yang menampilkan nilai rahmatan lil-Aoalamin dalam setiap interaksi pembelajaran, agar pendidikan Islam mampu melahirkan generasi yang terbuka terhadap perbedaan tanpa kehilangan identitas keimanan (Mashuri & Syahid. Strategi pertama adalah penguatan kompetensi guru melalui program pelatihan dan pengembangan profesional yang berorientasi pada pendidikan Pemerintah, lembaga pendidikan tinggi, dan madrasah perlu berkolaborasi menyusun pelatihan tematik tentang moderasi beragama, resolusi konflik, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam konteks masyarakat majemuk. Model pelatihan yang efektif tidak hanya menekankan pada peningkatan keterampilan mengajar, tetapi juga pada pembentukan sensitivitas budaya dan kesadaran sosial guru. Pelatihan berbasis pengalaman dan refleksi . xperiential learnin. dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan empati terhadap keragaman sosial dan mendorong guru mengembangkan pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap realitas siswa(Adri, 2. Strategi kedua ialah penguatan budaya sekolah yang inklusif dan Lingkungan sekolah yang multikultural membutuhkan tata nilai yang menumbuhkan rasa saling menghargai, kerja sama, dan komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan masyarakat. Kepala sekolah dan guru perlu menciptakan iklim pembelajaran yang menolak diskriminasi dan mengedepankan dialog lintas Selain itu, sekolah dapat mengintegrasikan kegiatan ko-kurikuler seperti diskusi lintas iman, proyek sosial kemanusiaan, dan kegiatan kebudayaan sebagai media pembentukan kesadaran multikultural. Strategi ini memperkuat peran guru sebagai fasilitator yang menghubungkan dimensi keilmuan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Strategi ketiga adalah pemanfaatan teknologi dan jejaring profesional untuk meningkatkan kapasitas guru. Di era digital, guru dapat memanfaatkan platform daring untuk berbagi praktik baik . est practice. dan memperluas akses terhadap literatur pendidikan global. Kolaborasi antar guru melalui komunitas profesional, seminar, atau forum diskusi akademik dapat memperkaya wawasan tentang metode pengajaran multikultural dan membantu menghadapi tantangan sosial-keagamaan di lapangan. Melalui sinergi antara penguatan kompetensi, pembudayaan nilai-nilai toleransi, dan kolaborasi digital, efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural dapat meningkat secara berkelanjutan. Strategistrategi ini menegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi juga arsitek peradaban yang membangun jembatan harmoni di tengah keberagaman. Kompetensi Profesional Guru dalam Pendidikan Multikultural Efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural tidak hanya diukur dari kemampuan teknis dalam mengajar, melainkan juga dari kompetensi profesional yang holistik. Kompetensi ini mencakup penguasaan materi pelajaran, pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, dan kemampuan menyesuaikan pendekatan pedagogis dengan kondisi sosial-budaya tempat pembelajaran Profesionalisme dalam pendidikan Islam berarti menghadirkan nilainilai ilahiah dalam praktik pendidikan, di mana guru menjadi teladan akhlak dan penuntun spiritual bagi muridnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Susanto . , guru profesional tidak hanya berorientasi pada hasil belajar, tetapi juga pada pembentukan kepribadian siswa yang beradab dan berkeadilan sosial. Empat dimensi utama kompetensi guru pedagogik, sosial, kepribadian, dan professional merupakan dasar efektivitas dalam pendidikan multikultural. 178 | Al Marhalah Efektivitas Guru Dalam Pelaksanaan A Kompetensi pedagogik menuntut guru mampu mengelola keberagaman siswa melalui pembelajaran dialogis dan partisipatif. Kompetensi sosial menjadi kunci dalam membangun interaksi harmonis di ruang kelas yang plural. Kompetensi kepribadian menuntun guru menjadi pribadi berintegritas dan stabil secara moral, sedangkan kompetensi profesional keilmuan memastikan guru terus memperbarui ilmu agar relevan dengan perubahan zaman. Keempatnya harus menyatu agar guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga pembentuk karakter dan agen transformasi sosial. Guru yang efektif dalam konteks multikultural harus memiliki sensitivitas terhadap isu-isu sosial seperti intoleransi, stereotip, dan krisis identitas (Arifin, 2. menegaskan bahwa guru profesional adalah mereka yang mampu menerjemahkan nilai Aoadl . , tawazun . , tasamuh . , dan rahmah . asih sayan. dalam strategi pembelajaran Profesionalisme guru bukan hanya persoalan keilmuan, tetapi juga kemampuan menumbuhkan kesadaran sosial dan spiritual peserta didik. Guru perlu menghadirkan pendidikan Islam yang relevan dengan realitas kontemporer, bukan sekadar pengulangan dogma. Seiring perkembangan zaman, literasi digital menjadi bagian penting dari profesionalisme guru. Penguasaan teknologi membantu guru memperluas wawasan peserta didik tentang keberagaman global dan mendorong terciptanya ruang belajar yang inklusif. Di samping itu, guru profesional harus menjadi pembelajar sepanjang hayat . ifelong learne. yang terus memperkaya diri secara intelektual dan spiritual. Dengan demikian, profesionalisme guru dalam pendidikan Islam multikultural merupakan perpaduan antara ilmu, moralitas, dan kesadaran kemanusiaan yang menjadi fondasi bagi pendidikan yang damai dan Implikasi Efektivitas Guru terhadap Moderasi Beragama dan Deradikalisasi Efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural memiliki implikasi langsung terhadap penguatan moderasi beragama dan pencegahan radikalisme di lingkungan sekolah. Guru yang efektif berperan sebagai penjaga nilai moderat, yang mengajarkan keseimbangan antara pemahaman agama dan penghormatan terhadap keragaman. Melalui pendekatan pembelajaran yang dialogis, guru menanamkan sikap terbuka terhadap perbedaan dan membangun kesadaran bahwa keberagaman adalah fitrah manusia. (Ramadhan, 2. menegaskan bahwa guru yang efektif adalah aktor strategis dalam memperkuat nilai wasathiyah Islam yang mengedepankan kasih sayang, toleransi, dan keadilan sosial. Dalam konteks deradikalisasi pendidikan, guru profesional berfungsi sebagai filter terhadap ideologi ekstrem yang dapat menyusup melalui materi ajar atau media digital. Pembelajaran yang reflektif dan berbasis diskusi terbuka membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap narasi keagamaan yang menyesatkan. Guru yang memiliki pemahaman Islam moderat akan mengajarkan bahwa jihad sejati adalah perjuangan moral melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan, bukan permusuhan terhadap Dengan demikian, efektivitas guru menjadi benteng moral sekaligus instrumen pencegahan terhadap sikap intoleran di sekolah. Guru yang efektif juga mendorong terciptanya harmoni antara nilai keislaman dan kebangsaan. Pendidikan Islam multikultural yang dijalankan secara profesional akan menumbuhkan kesadaran bahwa ajaran Islam sejalan dengan 179 | Almarhalah | Adrian Maulana. Khusnul Wardan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Melalui pengintegrasian nilai tasamuh dan ukhuwwah insaniyyah . ersaudaraan kemanusiaa. , guru membentuk peserta didik yang religius sekaligus nasionalis. Dalam praktiknya, moderasi beragama bukan hanya materi tambahan, melainkan menjadi ruh dalam seluruh proses Implikasi terakhir dari efektivitas guru adalah terbentuknya generasi pelajar yang berpikir kritis, empatik, dan terbuka terhadap perbedaan. Guru yang profesional bukan hanya mentransfer ilmu agama, tetapi juga menanamkan kebijaksanaan untuk memahami konteks sosial umat. Dengan kompetensi profesional yang kuat, guru mampu mengubah ruang kelas menjadi laboratorium kebinekaan, tempat lahirnya generasi Islam yang moderat, rasional, dan Perspektif Filosofis dan Teologis Pendidikan Islam Multikultural Pendidikan Islam multikultural berpijak pada landasan filosofis bahwa keberagaman manusia adalah bagian dari kehendak Tuhan. Dalam Al-QurAoan surah Al-Hujurat ayat 13, ditegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling meniadakan. Prinsip ini menegaskan bahwa keberagaman merupakan anugerah yang harus dikelola melalui pendidikan. Secara teologis, pendidikan multikultural dalam Islam adalah perwujudan dari ajaran rahmatan lil-Aoalamin yang menjadikan kasih sayang sebagai dasar interaksi sosial. Filsafat pendidikan Islam menempatkan manusia sebagai makhluk rasional dan spiritual yang memiliki tanggung jawab moral. Konsep ini dikenal sebagai humanisme teosentris pandangan bahwa pendidikan harus mengembangkan potensi manusia dalam bingkai pengabdian kepada Tuhan. Al-Attas . menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk insan adabi, manusia beradab yang mampu menyeimbangkan ilmu, iman, dan amal. Dalam konteks multikultural, tujuan ini diwujudkan melalui pembelajaran yang menanamkan adab terhadap perbedaan budaya, agama, dan pandangan hidup. Pendidikan Islam multikultural juga berperan sebagai sarana aktualisasi nilai-nilai universal seperti keadilan (Aoad. , kebijaksanaan . , dan keseimbangan . Guru berperan sebagai mediator antara teks dan konteks, yang mampu mengaitkan ajaran agama dengan tantangan globalisasi, modernitas, dan sekularisasi. Dengan pemahaman filosofis ini, guru tidak hanya mengajarkan ajaran Islam, tetapi juga menanamkan kesadaran moral untuk hidup berdampingan secara damai di tengah pluralitas. Dari sisi teologis, pendidikan multikultural mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah ancaman bagi keimanan, melainkan cermin dari kebesaran Tuhan. Guru efektif membantu peserta didik memahami makna keberagaman sebagai bagian dari ujian moral untuk saling menghargai. Dengan demikian, perspektif filosofis dan teologis dalam pendidikan Islam multikultural berfungsi meneguhkan identitas spiritual sekaligus memperkuat solidaritas kemanusiaan Hambatan dan Peluang Efektivitas guru dalam pelaksanaan pendidikan Islam multikultural tidak lepas dari berbagai hambatan yang muncul di lapangan. Hambatan ini bersifat struktural, kultural, maupun personal. Secara struktural, masih banyak guru yang belum memperoleh pelatihan dan pendampingan profesional terkait strategi pembelajaran berbasis multikultural. Kurikulum yang berlaku sering kali belum 180 | Al Marhalah Efektivitas Guru Dalam Pelaksanaan A sepenuhnya mengakomodasi nilai-nilai keberagaman, sehingga guru kesulitan mengintegrasikan konsep multikultural dalam praktik pembelajaran. Keterbatasan sarana dan sumber belajar yang representatif juga menjadi kendala, karena sebagian besar buku teks Pendidikan Agama Islam masih berorientasi pada homogenitas budaya dan pemahaman tunggal terhadap teks keagamaan. Hal ini berpotensi mempersempit perspektif siswa terhadap realitas sosial yang plural. Hambatan berikutnya berasal dari faktor kultural dan sosial. Di beberapa daerah, pendidikan multikultural masih dianggap bertentangan dengan upaya pelestarian identitas keagamaan atau tradisi lokal tertentu. Akibatnya, sebagian guru menghadapi resistensi dari lingkungan masyarakat ketika mencoba menerapkan pendekatan inklusif. Selain itu, masih terdapat sikap eksklusif dan stereotip terhadap kelompok lain yang kadang terbawa ke ruang kelas, baik secara sadar maupun tidak. (Supriyanto et al. , 2. Hambatan ini menuntut keberanian moral guru untuk tetap konsisten menjalankan nilai-nilai Islam yang moderat dan humanis, meskipun berada di tengah tekanan sosial. Guru yang memiliki integritas spiritual akan memandang keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana memperluas cakrawala iman dan pengetahuan. Meski demikian, di tengah tantangan tersebut, peluang untuk memperkuat efektivitas guru dalam pendidikan Islam multikultural semakin terbuka luas. Kebijakan pemerintah melalui program Moderasi Beragama Kementerian Agama serta penguatan karakter dalam Profil Pelajar Pancasila menjadi momentum penting untuk mengembangkan pembelajaran yang inklusif dan toleran. Dukungan teknologi digital juga membuka akses yang lebih luas bagi guru untuk memperoleh sumber pengetahuan lintas budaya dan lintas agama. Melalui platform daring, guru dapat mengakses jurnal, media pembelajaran, dan forum akademik global yang membantu mereka memperkaya wawasan serta memperluas cakrawala pendidikan Islam yang adaptif terhadap perubahan zaman. Selain itu, terbentuknya jejaring profesional dan komunitas guru menjadi peluang strategis dalam memperkuat kompetensi pedagogik dan sosial. Kolaborasi antar guru, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat membuka ruang dialog lintas budaya yang produktif. Forum ilmiah, pelatihan, dan pertukaran gagasan dapat menjadi wahana berbagi praktik baik . est practice. pendidikan multikultural. (Wahfiuddin Al Musyarrofi & Mohammad Rofiq, 2. Dalam konteks ini, hambatan bukan lagi dilihat sebagai penghalang, melainkan sebagai ruang belajar dan inovasi. Melalui sinergi kebijakan, pemanfaatan teknologi, dan komitmen moral guru, pendidikan Islam multikultural dapat berkembang menjadi sistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan Guru berperan sebagai garda terdepan dalam membangun masyarakat yang harmonis di tengah perbedaan, mewujudkan esensi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. KESIMPULAN Moderasi Islam merupakan paradigma fundamental dalam membentuk idealitas pemahaman keagamaan yang inklusif, proporsional, dan berkeadaban di kalangan umat Islam. Dalam konteks pendidikan, moderasi Islam berperan sebagai instrumen strategis dalam menanamkan nilai keseimbangan antara dimensi teologis dan realitas sosial peserta didik. Melalui pendekatan pendidikan yang berlandaskan nilai wasathiyah, lembaga pendidikan berfungsi tidak hanya 181 | Almarhalah | Adrian Maulana. Khusnul Wardan sebagai pusat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang internalisasi nilainilai keislaman yang moderat dan kontekstual. Penerapan moderasi Islam menuntut integrasi antara aspek kurikulum, budaya sekolah, serta keteladanan pendidik dalam membentuk karakter peserta didik yang toleran, adil, dan menghargai perbedaan. Nilai-nilai utama seperti tasamuh . , tawazun . , iAotidal . , dan syura . menjadi kerangka etis yang menuntun penyelenggaraan pendidikan ke arah yang humanis dan konstruktif. Dengan demikian, moderasi Islam dalam dunia pendidikan bukan sekadar konsep normatif, melainkan kerangka praksis yang mampu memperkuat kesadaran beragama secara proporsional serta mendorong terciptanya harmoni sosial di tengah keragaman umat Islam. Pendekatan ini menjadi landasan penting bagi pengembangan sistem pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan karakter, kemanusiaan, dan peradaban yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA