ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 Peran Gondek Tanggap Bencana (Gotan. Dalam Penanggulangan Bencana Di Desa Gondek Kabupaten Jombang Hisbulloh HudaA. Muhammad Nur HidayatA. Mukari A 1,2,3Prodi Ilmu Sosiatri. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politih. Universitas Darul Ulum Jombang hudahisbullah@gmail. Abstract This study aims to analyze the role of Gotana (Gondek Tanggap Bencan. in disaster management in Gondek Village. Jombang through Talcott Parsons' Structural Functionalism theory approach. The main focus of the study is to understand how coordination between Gotana, the village government, and other institutions affects the effectiveness of disaster management, and to identify factors that cause low community awareness and participation in disaster management programs. This study also explores how traditional practices and local beliefs affect community participation in disaster management activities. The research methods used include interviews, observations, and document analysis. The results of the study indicate that coordination between Gotana, the village government, and other institutions is not optimal, due to communication barriers and differences in procedures. Community awareness and participation are low due to lack of information and socialization that does not match the residents' schedules. Traditional practices and local beliefs still greatly influence the way communities respond to disasters, so integration between traditional practices and modern approaches is needed to improve the effectiveness of disaster management and community participation. Keywords: Disaster Management. Community Participation. Traditional Practices Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Gotana (Gondek Tanggap Bencan. dalam penanggulangan bencana di Desa Gondek Jombang melalui pendekatan teori Struktural Fungsionalisme Talcott Parsons. Fokus utama penelitian adalah untuk memahami bagaimana koordinasi antara Gotana, pemerintah desa, dan lembaga lainnya mempengaruhi efektivitas penanggulangan bencana, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam program penanggulangan bencana. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana praktik tradisional dan kepercayaan lokal mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan penanggulangan bencana. Metode penelitian yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi antara Gotana,pemerintah desa, dan lembaga lainnya belum optimal, disebabkan oleh hambatan komunikasi dan perbedaan prosedur. Kesadaran dan partisipasi masyarakat rendah akibat kurangnya informasi dan sosialisasi yang tidak sesuai dengan jadwal warga. Praktik tradisional dan kepercayaan lokal masih sangat mempengaruhi cara masyarakat merespons bencana, sehingga integrasi antara praktik tradisional dan pendekatan modern diperlukan untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan bencana dan partisipasi Kata Kunci: Penanggulangan Bencana. Partisipasi Masyarakat. Praktik Tradisional. JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 PENDAHULUAN Penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana, senagai mana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Alinea IV, mengamanatkan bahwa Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan sosial. Badan Nasional Pembangunan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang dibentuk berdasarkan Undang- Undang Penanggulangan Bencana No. 24 Tahun 2007 menunjukkan kesadaran dan komitmen Indonesia terhadap bencana nasional. Pemerintah, melalui BNPB dan BPBD , sering kali memiliki keterbatasan sumber daya dan kapasitas untuk menangani semua aspek penanggulangan bencana. Keterlibatan komunitas dapat membantu mengisi kesenjangan ini dan meningkatkan efektivitas respon dan pemulihan bencana (BNPB, 2. Keterlibatan masyarakat dalam tahap pemulihan pasca bencana dapat mempercepat proses rekonstruksi dan rehabilitasi. Komunitas yang terlibat aktif biasanya memiliki solidaritas yang kuat, yang penting untuk membangun kembali kehidupan sosial dan ekonomi setelah bencana. Partisipasi dalam penanggulangan bencana dapat memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan. Pemberdayaan ini juga dapat meningkatkan kohesi sosial dan kemampuan komunitas untuk bekerja sama dalam situasi darurat. Saat ini belum banyak penelitian yang mengeksplorasi bagaimana budaya lokal dan praktik tradisional mempengaruhi strategi dan program penanggulangan Studi tentang pengaruh budaya lokal dan praktik tradisional terhadap program penanggulangan bencana di daerah tertentu belum banyak dilakukan. Budaya lokal dan praktik tradisional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana. Pemahaman tentang bagaimana budaya dan praktik ini memengaruhi perilaku dan sikap masyarakat dapat membantu dalam merancang strategi penanggulangan bencana yang lebih efektif dan sesuai dengan konteks lokal. Pada penelitian Ni Kadek Winda Yanti . tentang kelompok Subak berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan budaya yang menjadi elemen fundamental yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan ekowisata di Subak Sembung. Kelompok Subak berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan nilai sosial budaya yang melekat di dalamnya. Penghormatan JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 terhadap tradisi bisa diterapkan dalam upaya konservasi lingkungan dan mitigasi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Upacara yang dilakukan di berbagai daerah seperti Jawa dan Bali untuk membersihkan desa dari roh jahat dan bencana. Seperti penelitian Hasanah dan Sukarman . menjelaskan bahwa melalui ritual adat, masyarakat secara kolektif membersihkan lingkungan mereka, yang dapat membantu dalam mengurangi risiko bencana seperti banjir dan penyakit. Kemudian menurut penelitian Permatasari dan Pratiwi . terkait kepercayaan masyarakat sekitar Gunung Merapi. Dalam kepercayaan masyarakat Gunung Merapi, terdapat ritual yang harus mereka lakukan untuk menghormati alam Masyarakat yang mempercayai mitos ini cenderung mengikuti arahan tokoh adat dan ritual, yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana erupsi. Kepercayaan bahwa tanda-tanda alam seperti perilaku hewan atau perubahan cuaca tertentu dapat menjadi pertanda bencan. Menggunakan pengetahuan lokal ini sebagai bagian dari sistem peringatan dini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana. Bentuk organisasi lokal yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana di tingkat desa di Indonesia beragam dan sering kali disesuaikan dengan kearifan lokal dan struktur sosial yang ada. Desa Tangguh Bencana (Destan. yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meningkatkan kapasitas desa dalam menghadapi bencana. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan mitigasi, kesiapsiagaan, dan tanggap Pelatihan dan simulasi bencana sering kali diadakan untuk memperkuat kesiapsiagaan komunitas (Mulajaya & Christiani, 2. Kelompok Siaga Bencana (KSB), organisasi yang dibentuk oleh masyarakat desa untuk mempersiapkan dan merespons bencana. KSB sering melakukan kegiatan pelatihan, edukasi, dan simulasi bencana. Mereka juga berperan dalam penanggulangan bencana langsung seperti evakuasi dan distribusi bantuan (Yesiana et al. , 2. Salah satu Kabupaten yang masih sering dilanda banjir dan tanang longsor yaitu Kabupaten Jombang. Jombang sebagai daerah yang masih sering dilanda banjir dan tanah longsor juga memeliki relawan yang siap membantu. Relawan yang tergabung dalam kegiatan penanggulangan bencana di Jombang telah bayak berpartisipasi ketika terjadi bencana baik dari kelembagaan maupun relawan yang didirikan lokal desa (Pemerintah Kabupaten Jombang, 2. Fenomen relawan yang turut berpartisipasi dalam penanggulangan bencana di Jombang menarik untuk dikaji. Meskipun demikian organisasi lokal bebasis desa yang aktif berpartisipasi belum banyak berdiri. Salah satunya yang telah berdiri dan aktif berpartisipasi adalah GOTANA (Gondek Tanggap Bencan. Permasalahan banjir khususnya di wilayah Desa Gondek Kecamatan Mojowarno, seharusnya menjadi peringatan dalam hal keseriusan bersama terkait dengan penanggulangannya, khususnya pemerintah Desa Gondek. Tata Ruang yang kurang dan tidak memperhatikan aspek lingkungan, menjadi salah satu faktor utama JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 penyebab terjadinya banjir. Upaya penanggulangan bencana didaerah perlu dimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi banjir sesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkandaerah dalam menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasi penanggulangan banjir harus dipastikan berjalan efektif, efisien, dan berkelanjutan. Keberadaan Gotana menjadikan pembeda dengan desa-desa lain. Identifikasi masalah dalam partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana di tingkat desa, khususnya melalui Gotana sebagai organisasi lokal, dapat meliputi berbagai aspek baik kesadaran dan partisipasi masyarakat yang rendah maupun kendala budaya dan kepercayaan lokal. Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah terkait dengan koodinasi antara badan penanggulangan bencana lokal dan lembaga, pemerintah desa, dan lembaga lainnya mempengaruhi efektivitas penanggulangan bencana di tingkat Kesadaran dan partisipasi masyarakat desa dalam program penanggulangan Praktik tradisional dan kepercayaan lokal mempengaruhi partisipasi masyarakat desa dalam kegiatan penanggulangan bencana. Peran partisipatif Gondek Tanggap Bencana (Gotan. penanggulangan bencana di Desa Gondek. Jombang, dianalisis menggunakan teori struktural fungsionalisme Talcot Parson. Teori ini menekankan pentingnya struktur sosial dan bagaimana elemen-elemen dalam struktur tersebut berfungsi untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan dalam masyarakat. Dalam konteks penanggulangan bencana, teori ini bisa digunakan untuk menganalisis bagaimana berbagai komponen seperti lembaga lokal,pemerintah desa, dan komunitas bekerja bersama untuk mencapai tujuanpenanggulangan bencana (Parsons, 1. Konsep Dasar Pemikiran Talcott Parsons mengembangkan beberapa konsep utama dalam teori Struktural Fungsionalisme, yaitu : sistem sosial, model AGIL dan tindakan sosial. Dalam sistem sosial masyarakat dilihat sebagai sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yang saling berinteraksi dan berfungsi untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas. Sementara Model AGIL. Parsons mengusulkan bahwa setiap sistem sosial harus memenuhi empat fungsi utama untuk bertahan dan berfungsi secara efektif yaitu Adaptation. Goal Attainment. Integration. Latency. Adaptation menjelskan bahwa sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengalokasikan sumber daya secara efektif. Sedangkan Goal Attainment menjelasakan bahwa sistem harus menetapkan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Integration adalah istem harus menjaga kohesi dan solidaritas antar komponennya. Sedangkan Latency adalah istem harus menjaga dan memelihara pola-pola nilai dan motivasi di antara anggota-anggotanya. Mengenai tindakan sosial. Parsons melihat tindakan sosial sebagai proses yang melibatkan aktor, tujuan, situasi, dan norma-norma yang mengatur interaksi sosial (Parsons. JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi deskriptif. Data yang nantinya akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data dan informasi untuk mengungkap dan mendeskripsikan terkait mengenai peran partisipatif gondek tanggap bencana (Gotan. dalam penanggulangan bencana di Desa Gondek Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Teknik penentuan informan pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terlibat dalam Gotana. Meliputi. Pemerintah Desa. Relawan Gotana, dan Masyarakat Desa Gondek. Kemudian untuk pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan data skunder. HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipasi Masyarakat Desa Gondek dalam Menganggulangi Bencana Banjir Desa Gondek termasuk desa yang rawan terjadi banjir dengan intensitas hujan yang tinggi . ujan leba. Hal ini disebabkan oleh kondisi alam dan aktivitas manusia. Sehingga, penanganan bencana menjadi sangat penting serta harus menjadi perhatian dan tugas bersama. Banjir dan permasalahannya begitu terasa luar biasa ketika kemampuan manusia untuk mengendalikan cara pencegahan, penguranganintensitas banjir, pengamanan terhadap daya rusak air baik secara structural atau non-struktural kurang memadai. Penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya banjir merupakan serangkaian upaya yang dilakukan oleh perseorangan maupun kelompok orang dalam membantu atau meminimalisir resiko dari dampak Pengurangan resiko bencana dan dampak akibat bencana yang terjadi dapar diminimalisir dengan manajemen yang baik. Penanganan khusus dalam antisipasi dan penanggulangan dapat dicanangkan dengan menerbitkan program khusus yang di keluarkan pemerintah. Seperti halnya pemerintah desa Gondek Kecamatan Mojowarno yang memiliki GOTANA (Gondek Tanggap Bencan. guna menanggulangi bencana, utamanya banjir yang sering melanda pemukiman mereka. Gotana sendiri merupakan kelompok yang berdiri dibawah naungan Pemerintah Desa Gondek Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. dari 50 Personil dari unsur Perlindungan Masyarakat (LINMAS), 6 Personil dari unsur Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), 30 Personil dari kader dan 48 Personel dari Unsur RT/RW. GOTANA awalnya didirikan untuk menanggulangi bencana, utamanya banjir yang sering melanda pemukiman Struktur Kepenguran Gotana terdiri dari : Ketua: Hisbulloh Huda Wakil : Ngalim JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 Sekretaris : Imam Hidayat Anggota:1. Marjoko M nur hadi Khoirul anam Babrak kamal bd Teguh hariono Arifa Sistuningsih Saat ini, secara umum koordinasi antar anggota Gotana sudah berjalan. Namun, masih ada beberapa kendala. Misalnya, komunikasi sering kali terhambat oleh kurangnya alat komunikasi yang memadai. Selain itu, masingmasing lembaga terkadang memiliki prosedur yang berbeda, sehingga koordinasi menjadi kurang efektif. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program penanggulangan bencana lebih lanjut, pengurus Gotana melakukan sosialisasi dan pelatihan rutin. Pengurus Gotana juga berusaha melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk meningkatkan kesadaran. Namun, partisipasi masih kurang optimal karena jadwal kegiatan sering tidak sesuai dengan waktu luang warga. Selain itu, kegiatan penangulangan bencana banjir di Desa Gondek tidak terlepas dari praktik tradisional. Beberapa praktik tradisional seperti ritual tolak bala masih dianggap penting oleh warga sebagai cara untuk mencegah bencana. Kepercayaan bahwa bencana adalah takdir yang tidak dapat diubah juga mempengaruhi partisipasi dalam program Gotana. Menurut Sekertaris Gotana, program Gotana cukup efektif dalam memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat. Namun,dalam situasi darurat, koordinasi dengan lembaga lain sering mengalami kendala. Masih ada kekurangan dalam hal peralatan dan sumber daya manusia yang terlatih. Ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan alat komunikasi dan menyelaraskan prosedur antar lembaga. Sosialisasi dan pelatihan perlu disesuaikan dengan jadwal masyarakat, dan tokoh masyarakat serta pemuka agama harus lebih Integrasi antara praktik tradisional dan pendekatan modern masih perlu ditingkatkan, dengan melibatkan lebih banyak tokoh adat dan sesepuh Ketidaksesuaian peran dan tanggung jawab antar lembaga selama rapat koordinasi, dengan beberapa lembaga menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap prosedur tanggap darurat. Selama simulasi bencana, terdapat kekurangan dalam hal komunikasi dan koordinasi, di mana beberapa tim tidak menerima informasi tepat waktu, mengakibatkan keterlambatan dalam respon. Kegiatan sosialisasi sering kali dihadiri oleh jumlah peserta yang sedikit. Waktu dan tempat yang dipilih untuk sosialisasi tidak selalu sesuai dengan jadwal JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 kegiatan masyarakat sehari-hari. Pelatihan tanggap darurat diikuti oleh lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan, menunjukkan adanya ketidaksetaraan dalam partisipasi. Pelaksanaan ritual tradisional menunjukkan partisipasi yang tinggi dari masyarakat, namun tidak diiringi dengan tindakan preventif yang lebih modern dan Gotana seringkali mencoba mengintegrasikan praktik tradisional dengan pendekatan modern, namun masih ada resistensi dari beberapa kelompok masyarakat yang lebih tua. Sementara itu. Koordinasi antara badan penanggulangan bencana lokal, pemerintah desa, dan lembaga lainnya masih memerlukan perbaikan untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan bencana di tingkat desa. Rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat disebabkan oleh kurangnya informasi, kesenjangan antar generasi, dan waktu pelaksanaan program yang tidak sesuai. Upaya sosialisasi danpelatihan perlu ditingkatkan dan disesuaikan dengan jadwal Praktik tradisional dan kepercayaan lokal memiliki pengaruh signifikan terhadap partisipasi masyarakat. Integrasi antara praktik tradisional dan pendekatan modern harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan penerimaan dan efektivitas. Analisis Teori Struktural Fungsionalisme dalam Mengkaji Peranan Gotana (Gondek Tanggap Bencan. di Desa Gondek. Kabupaten Jombang Struktural Fungsionalisme, yang diperkenalkan oleh Talcott Parsons, adalah teori yang menekankan pentingnya struktur dalam masyarakat dan bagaimana elemen-elemen dalam struktur ini berfungsi untuk menjaga stabilitas dan kelangsungan hidup masyarakat. Parsons berpendapat bahwa setiap komponen masyarakat memiliki fungsi tertentu yang berkontribusi pada keseimbangan dan keteraturan sosial (Turama, 2. Dalam konteks penanggulangan bencana di Desa Gondek Jombang, teori Struktural Fungsionalisme dapat digunakan untuk menganalisis peran Gotana (Gondek Tanggap Bencan. dan bagaimana koordinasi antara badan penanggulangan bencana lokal, pemerintah desa, sertalembaga lainnya, berfungsi dalam menjaga stabilitas dan keselamatan masyarakat. Parsons mengidentifikasi empat fungsi utama yang harus dipenuhi oleh setiap sistem sosial untuk dapat bertahan, yang dikenal sebagai skema AGIL (Adaptation. Goal Attainment. Integration. Latenc. Adaptation adalah kemampuan sistem untuk menyesuaikan diri denganlingkungan dan mengelola sumber daya. Goal Attainment adalah Kemampuan sistem untuk menentukan tujuan dan Integration yaitu kemampuan untuk menjaga kesatuan dan kohesi di antara bagian-bagian sistem. Latency merupakan kemampuan untuk memelihara dan memperbarui nilai-nilai dasarserta motivasi anggota masyarakat (Umanailo. Koordinasi antar lembaga dalam penanggulangan bencana menunjukkan JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 adanya kesenjangan dalam adaptasi terhadap kondisi darurat. Hambatan komunikasi dan kurangnya alat komunikasi yang memadai menghambat adaptasi yang efektif. Dalam konteks adaptasi. Gotana dan lembaga lainnya perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan situasi Ini bisa dilakukan dengan meningkatkan pelatihan dan menyediakan alat komunikasi yang lebih baik. Tujuan utama Gotana adalah meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana. Namun, kurangnya koordinasi dan pelatihan bersama menghambat pencapaian tujuan ini. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Gotana dan pemerintah desa harus memperjelas prosedur tanggap darurat dan mengadakan pelatihan bersama secara rutin untuk memastikan semua pihak memahami peran dan tanggung jawab mereka. Integrasi antar lembaga sering terganggu oleh prosedur yang berbeda-beda dan kurangnya pemahaman bersama. Partisipasi masyarakat juga terhambat oleh kesenjanganinformasi dan perbedaan Menurut Parsons, integrasi adalah kunciuntuk menjaga kohesi sosial. Dalam konteks ini. Gotana perlu bekerja lebih erat dengan pemerintah desa dan lembaga lainnya untuk memastikan semua prosedur dan tujuan selaras. Penggunaan media komunikasi yang efektif dapat meningkatkan integrasi ini. Nilainilai tradisional dan kepercayaan lokal masih kuat di Desa Gondek, yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam Gotana. Namun, program Gotana belum sepenuhnya berhasil mengintegrasikan nilai-nilai ini dengan pendekatan Fungsi latency menekankan pentingnya memelihara nilai-nilai dasar. Gotana dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dengan menghargai dan mengintegrasikan praktik tradisional ke dalam program penanggulangan bencana. Ini akan membantu menjaga motivasi dan partisipasi masyarakat. Kurangnya informasi dan ketidaksesuaian jadwal sosialisasi dengan waktu masyarakat menyebabkan rendahnya kesadaran dan partisipasi. Gotana harus menyesuaikan metode sosialisasi mereka untuk lebih sesuai dengan rutinitas masyarakat sehari-hari, menggunakan saluran komunikasi yang lebih efektif. Tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi belum tercapai karena metode sosialisasi yang tidak efektif. Gotana perlu menetapkan tujuan yang lebih spesifik dan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencapainya, termasuk melibatkan tokoh masyarakat dalam sosialisasi. Perbedaan pandangan antara generasi tua dan muda menyebabkan kesenjangan partisipasi. Gotan a harus memfasilitasi dialog antar generasi untuk menjembatani kesenjangan ini, mungkin melalui kegiatan yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan modern. Kepercayaan bahwa bencana adalah takdir yang tidak dapat diubah mengurangi motivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam program penanggulangan Gotana perlu bekerja sama dengan pemuka agama dan tokoh adat untuk mengubah persepsi ini, mempromosikan pandangan bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi bencana adalah bagian dari tanggung jawab kolektif. Praktik tradisional masih sangat dihormati dan mempengaruhi cara JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 masyarakat merespons bencana. Gotana harus mengadaptasi programnya untuk menghargai praktik tradisional ini, mungkin dengan cara menggabungkan ritual tradisional dengan langkah-langkah mitigasi modern. Integrasi antara ritual tradisional dan pendekatan modern belum optimal. Untuk mencapai tujuan Gotana, perlu ada upaya yang lebih besar untuk mengharmonisasikan praktik tradisional dengan strategi penanggulangan bencana modern. Ada resistensi dari kelompok masyarakat yang lebih tua terhadap metode penanggulangan bencana modern. Gotana perlu memperkuat integrasi dengan mengadakan dialog antar kelompok usia dan mempromosikan kerja sama yang menghargai nilai-nilai tradisional. Praktik tradisional berfungsi untuk memelihara kohesi sosial dan nilai- nilai Gotana dapat memanfaatkan praktik tradisional ini sebagai saranauntuk memelihara motivasi dan partisipasi masyarakat dalam program penanggulangan Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan teori Struktural Fungsionalisme Talcott Parsons dalam konteks penanggulanganbencana di Desa Gondek Jombang menunjukkan bahwa: Perlu adanya peningkatan alat komunikasi dan pelatihan bersama untuk meningkatkan adaptasi dan integrasi antar lembaga. Partisipasi masyarakat dapat ditingkatkan dengan penyesuaian metode sosialisasi dan pelibatan tokoh masyarakat serta pemuka agama. Praktik tradisional harus diintegrasikan dengan pendekatan modern untuk meningkatkan penerimaan dan partisipasi masyarakat. Talcott Parsons mendefinisikan sistem sosial sebagai jaringan hubungan sosial yang diorganisasi berdasarkan pola-pola interaksi yang stabil dan berlangsung dalam waktu lama. Sistem sosial terdiri dari subsistem yang saling berhubungan dan masing-masing memiliki fungsi yang mendukung keberlangsungan sistem secara keseluruhan. Subsistem ini meliputi: Sistem Ekonomi: Mengatur distribusi dan alokasi sumber daya. Sistem Politik: Mengatur kekuasaan dan pengambilan keputusan. Sistem Keluarga: Mengatur sosialisasi dan pemeliharaan nilai-nilai. Sistem Pendidikan: Mengatur transmisi pengetahuan dan Parsons berpendapat bahwa tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang memiliki tujuan dan diarahkan pada orang lain atau sistem sosial (Lasut, 2. Tindakan sosial didasarkan pada empat elemen utama: Tujuan (Goa. : Apa yang ingin dicapai oleh tindakan tersebut. Cara (Mean. Sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan. Kondisi (Condition. Lingkungan atau konteks di mana tindakan terjadi. Norma (Norm. : Aturan atau pedoman yang mengatur tindakan. Dalam konteks penanggulangan bencana di Desa Gondek, sistem sosial dapat dianalisis dalam hal distribusi bantuan bencana, alokasi sumber daya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Kurangnya sumber daya dan bantuan yang tidak merata menjadi masalah utama. Diperlukan sistem distribusi yang lebih efisiendan JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 transparan untuk memastikan semua warga mendapatkan bantuan yang Pengambilan keputusan terkait kebijakan penanggulangan bencana, koordinasi antar lembaga. Kurangnya koordinasi dan komunikasi antar lembaga penanggulangan bencana dan pemerintah desa. Perlu adanya peningkatan dalam mekanisme koordinasi dan pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak Sosialisasi nilai-nilai kesiapsiagaan bencana, dukungan psikologis. Nilai- nilai tradisional masih kuat, namun belum sepenuhnya mendukung kesiapsiagaan bencana modern. Program Gotana harus mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan praktik kesiapsiagaan modern untuk meningkatkan partisipasi dan Edukasi dan pelatihan mengenai penanggulangan bencana. Edukasi bencana masih kurang optimal dan tidak merata di kalangan masyarakat. Diperlukan program pendidikan dan pelatihan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk semua kelompok usia. Tindakan sosial dalam penanggulangan bencana dapat dilihat melalui tindakanindividu dan kelompok yang terlibat naik dalam tujuan cara kondisi dan Meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana. Memberikan edukasi, pelatihan, dan bantuan saat terjadi bencana. Menggunakan sumber daya lokal, bantuan dari pemerintah dan lembaga non-pemerintah. Menggunakan relawan, peralatan bencana, dan program pelatihan. Sering mengalami bencana alam seperti banjir dan gempa bumi Bekerja dalam lingkungan yang mungkin terbatas pada sumber daya dan fasilitas. Mengikuti nilai-nilai tradisional dan adat setempat dalam menghadapi bencana. Mengikuti prosedur penanggulangan bencana dan nilai-nilai gotong royong. Dengan menggunakan konsep sistem sosial dan tindakan sosial, penelitian ini dapat lebih mendalam menganalisis dinamika antara Gotana, pemerintah desa, dan masyarakat dalam penanggulangan bencana. Masing-masing sub-sistem . konomi, politik, keluarga, pendidika. berkontribusi dalam penanggulangan Evaluasi interaksi dan koordinasi antar sub-sistem untuk mengidentifikasi titik lemah dan area perbaikan. Evaluasi tindakan sosial Gotana dan pemerintah desa dalam mencapai tujuan penanggulangan bencana. Identifikasi cara, kondisi, dan norma yang mempengaruhi efektivitas tindakan sosial. Usulkan strategi untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga dan partisipasi masyarakat berdasarkan analisis tindakan sosial. Integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dalam program penanggulangan bencana untuk meningkatkan penerimaan dan Temuan dari Penelitian Koordinasi antara Gotana, pemerintah desa, dan lembaga lain perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan penanggulangan bencana. Hambatan komunikasi dan perbedaan prosedur harus diatasi dengan pelatihan JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 bersama dan penggunaan alat komunikasi yang lebih baik. Rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat disebabkan oleh kurangnya informasi dan sosialisasi yang tidak sesuai dengan jadwal warga. Melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam sosialisasi dapat meningkatkan partisipasi. Praktik tradisional dan kepercayaan lokal masih mempengaruhi cara masyarakat merespons bencana. Integrasi antara praktik tradisional dan pendekatan modern dapat meningkatkan efektivitas penanggulangan bencana dan partisipasi masyarakat. KESIMPULAN Dalam penanggulangan bencana di Desa Gondek Jombang melalui pendekatan teori Struktural Fungsionalisme Talcott Parsons. Beberapa kesimpulan utama yang dapat diambil adalah koordinasi antara Gotana, pemerintah desa, dan lembaga lainnya saat ini belum optimal, seringkali terganggu oleh hambatan komunikasi dan perbedaan prosedur. Pelatihan bersama dan penggunaan alat komunikasi yang lebih baik sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas koordinasi. Masih rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat, faktor utama yang menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam program penanggulangan bencana adalah kurangnya informasi dan sosialisasi yang tidak sesuai dengan jadwal warga. Partisipasi dapat ditingkatkan dengan melibatkan tokoh masyarakatdan pemuka agama dalam kegiatan sosialisasi. Praktik tradisional dan kepercayaan lokal masih sangat mempengaruhi cara masyarakat merespons bencana. Integrasi antara praktik tradisional dan pendekatan modern dapat meningkatkan efektivitas penanggulangan bencana sertapartisipasi masyarakat. Analisis tindakan sosial menunjukkan bahwa tujuan, cara, kondisi, dan norma yang diikuti oleh Gotana dan masyarakat berperan penting dalam penanggulangan bencana. Setiap subsistem sosial . konomi, politik, keluarga, pendidika. memiliki peran penting dalam mendukung penanggulangan bencana yang efektif. SARAN Berdasarkan temuan dan analisis di atas, beberapa saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan penanggulangan bencana di Desa Gondek Jombang adalah dengan meningkatkan koordinasi dan komunikasi melalui pelatihan bersama secara rutin untuk memperkuat koordinasi antara Gotana, pemerintah desa, dan lembaga lainnya. Sediakan alat komunikasi yang memadai dan kembangkan mekanisme komunikasi yang jelas dan efektif. Untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dengan cara sesuaikan metode dan jadwal sosialisasi dengan rutinitas masyarakat seharihari. Libatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam kegiatan sosialisasi JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 untuk meningkatkan kepercayaan dan partisipasi. Penting mengintegrasikan praktik tradisional dan modern dengan cara hargai dan integrasikan praktik tradisional ke dalam program penanggulangan bencana untuk meningkatkan penerimaan dan partisipasi masyarakat. Kombinasikan ritual tradisional dengan langkah-langkah mitigasi modern untuk menciptakan pendekatan yang lebih komprehensif. Penguatan Sistem Sosial melalui Identifikasi dan perkuat peran masingmasing subsistem sosial dalam penanggulangan bencana. Tingkatkan koordinasi antara subsistem ekonomi, politik, keluarga, dan pendidikan untuk memastikan distribusi sumber daya yang efisien, pengambilan keputusan yang tepat, sosialisasi nilai-nilai kesiapsiagaan, dan edukasi yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA