Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 11 No. 4 Desember 2022 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 502 Ae 511 PERAN TATA KELOLA DAN SUMBER DAYA TERHADAP BEBAN R&D PERUSAHAAN NONKEUANGAN TERBUKA DI INDONESIA Joshua Nathanael. Magister Manajemen. Fakultas Bisnis dan Ekonomika. Universitas Surabaya Jalan Raya Kalirungkut. Surabaya 60293. Indonesia Werner Ria Murhadi* Magister Manajemen. Fakultas Bisnis dan Ekonomika. Universitas Surabaya Jalan Raya Kalirungkut. Surabaya 60293. Indonesia Article Info Article History : Received 16 Des - 2022 Accepted 25 Des - 2022 Available Online 30 Des Ae 2022 Abstract To accomplish long-term goals, one of the strategic steps taken by the company is investing in innovation through Research and Development (R&D) spending. Numerous studies show that R&D activities can improve company performance. However, fewer studies discuss the factors involved in R&D investment, especially in Indonesia. In addition, the versatile results of previous studies make this research still relevant. This study aims to determine which factors are involved in R&D expense decisions from a company's resource and corporate governance This research uses multiple linear regression with the Ordinary Least Square (OLS) estimation method. Based on the stability test, the Covid-19 pandemic affects the relationship between several factors in R&D expense. In all samples, only the proportion of independent commissioners positively affects R&D expenses. There is shifting in the variables of company ownership, profitability, and tangible assets toward R&D expense. But, debt has no significant effect on R&D expenses before and during the pandemic. Thus, ownership concentration, independent commissioner, and company resources, such as tangible assets and other financing sources, have a role in the R&D investment This research shows the crucial role of corporate governance in managing a company's resources to sustain a competitive advantage through R&D activities. Keyword : CompanyAos Resources. Corporate Governance. R&D Expense 2. , dan beberapa risiko lainnya. Oleh karena itu, ada banyak pertimbangan perusahaan dalam menentukan besarnya biaya R&D. Dalam teori Resource Based View (RBV), pengelolaan sumber daya oleh pemegang kepentingan perusahaan (Galati et al. , 2. Sumber daya perusahaan dan pengelolanya merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan. Sumber daya perusahaan dapat mempengaruhi besar beban R&D, seperti profitabiltias . ebagai pendanaan interna. , utang, dan aset berwujud (Iqbal et al. , 2022. Khachoo & Sharma, 2017. Neves & Branco, 2020. Suman & Singh, 2021. Zulfiqar et al. , 2. Adanya keterbatasan sumber daya dan perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen menyebabkan perlu adanya mekanisme tata kelola perusahaan yang baik. PENDAHULUAN Riset Pengembangan (R&D) merupakan aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk mengembangkan nilai dari perusahaan melalui kegiatan inovasi. Inovasi bagi perusahaan mampu memberikan keunggulan bersaing yang dapat berdampak positif bagi kinerja perusahaan jangka panjang. Dalam beberapa penelitian. R&D terbukti memberi dampak yang positif bagi kinerja perusahaan (Kaymaz et al. , 2019. Manogna & Mishra, 2021. Shasha, 2. Di balik manfaatnya. R&D memiliki risiko yang lebih besar dan hasil yang tidak pasti dibandingkan proyek investasi Risiko ini bisa berdampak pada penurunan harga saham jika adanya kegagalan R&D (AduAmeyaw et al. , 2. , risiko penilaian kreditur pada pembiayaan R&D dengan utang (Parnes. Corresponding author: werner@staff. Mekanisme tata kelola perusahaan, seperti komisaris independen dan konsentrasi kepemilikan perusahaan (Iqbal et al. , 2022. Suman & Singh. Zulfiqar et al. , 2. biasanya digunakan untuk mencegah konflik kepentingan di perusahaan termasuk dalam penentuan besarnya beban R&D. Ada beragam penelitian yang meneliti peran R&D terhadap kinerja perusahaan namun, penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi beban R&D perusahaan di Indonesia masih minim Di samping perbedaan hasil dari beberapa penelitian terdahulu, penelitian yang relevan dengan kondisi pandemi di Indonesia belum banyak diteliti dalam mempengaruhi beban R&D. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui peran sumber daya dan tata kelola perusahaan terhadap beban R&D perusahaan di Indonesia. KAJIAN PUSTAKA Pengaruh profitabilitas terhadap beban R&D Profitabilitas merupakan salah satu bentuk sumber pendanaan internal yang didapat dari aktivitas bisnis perusahaan. Dalam Pecking Order Theory, pendanaan internal biasanya digunakan sebagai sumber pendanaan awal bagi proyek investasi karena dinilai berisiko lebih rendah (Myers & Majluf, 1. Pengunaan profitabilitas sebagai sumber pendanaan juga memiliki opportunity cost sehingga pemegang kepentingan harus memilih dalam menentukan proyek investasi mana yang mau menggunakan sumber dana Secara umum, perusahaan memiliki pilihan investasi pada aset berwujud ataupun tak berwujud . eperti kegiatan R&D) (Shasha, 2. Ada beragam pendapat mengenai hubungan profitabilitas terhadap beban R&D. Dalam berpengaruh negatif terhadap beban R&D (Neves & Branco, 2020. Zulfiqar et al. , 2. Hubungan yang negatif ini dapat terjadi ketika perusahaan dihadapkan pada pilihan investasi dan lebih dititikberatkan pada aset berwujud (Neves & Branco, 2. Sebaliknya. Khachoo & Sharma . menunjukkan ada hubungan yang positif antara profitabilitas terhadap beban R&D. Hal ini disebabkan oleh R&D yang berisiko lebih baik didanai dengan profitabilitas yang cenderung tidak berisiko dibandingkan pendanaan eksternal. Berdasarkan perbedaan hasil dari penelitian terdahulu, hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini, yaitu: H1: profitabilitas diduga memiliki pengaruh yang positif terhadap beban R&D Pengaruh utang terhadap beban R&D Menurut Myers & Majluf . dalam Pecking Order Theory, utang lebih disukai perusahaan dibandingkan pengeluaran saham baru. Pengeluaran saham baru biasanya berpengaruh dalam penurunan nilai dari investasi karena adanya risiko asimetri informasi dan perubahan portfolio oleh pemegang saham lama. Namun, pemanfaatan utang sebagai sumber pendanaan memiliki risiko yang lebih besar bagi perusahaan hingga di titik perusahaan tidak mampu membayar beban utang dan mengalami kebangkrutan (Seppa, 2. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan sumber pendanaan proyek menggunakan utang. Iqbal et al. , . dan Zulfiqar et al. sependapat bahwa utang memiliki nilai signifikansi yang negatif terhadap beban R&D Perusahaan yang memiliki utang besar cenderung mengurangi investasi R&D perusahaan. Namun penelitian Suman & Singh . dan Khachoo & Sharma . justru menunjukkan bahwa utang memiliki dampak yang positif pada investasi R&D. Suman & Singh . menduga perusahaan dengan kesempatan bertumbuh yang besar dan disertai arus kas dan utang yang besar akan cenderung meningkatkan investasi R&D-nya. Pembiayaan R&D menggunakan utang cukup berisiko karena R&D juga memiliki hasil yang tak pasti sehingga hipotesis yang dikembangkan: H2: Utang berpengaruh negatif terhadap beban R&D perusahaan Pengaruh aset berwujud terhadap beban R&D Aset berwujud merupakan salah satu sumber daya fisik yang dapat digunakan perusahaan dalam menunjang keunggulan bersaing perusahaan (Galati et al. , 2. Berbeda dengan aset tak nyata yang sulit untuk diukur, aset berwujud yang memiliki bentuk fisik sehingga mudah untuk diukur. Aset dikenali sebagai aset berwujud jika menghasilkan manfaat di masa depan dan dikuasai perusahaan minimal 1 tahun yang dinilai berdasarkan biaya akuisisi atau beban produksi (Ion, 2. Aset berwujud merupakan bentuk lain dari pengeluaran modal yang bisa menaikkan nilai perusahaan. Investasi pada aset berwujud dipercaya dapat meningkatkan kekayaan pemegang saham (Markus & Rideg, 2. Adanya kebutuhan investasi dan sumber pendanaan terbatas sering kali membuat perusahaan memilih antara berinvestasi pada aset berwujud atau inovasi melalui kegiatan R&D. Namun, perusahaan juga bisa melakukan sinergi antara aset berwujud dengan R&D seperti pada teori RBV. Neves & Branco . menunjukkan aset berwujud berpengaruh negatif terhadap beban R&D karena perusahaan teknologi tinggi menginvestasikan aset nyatanya terlebih dahulu untuk membangun valuasi perusahaan yang lebih besar dan berdampak bagi kredibilitas perusahaan yang baik. Penelitian Suman & Singh . justru menunjukkan hasil bahwa aset berwujud tidak berpengaruh signifikan terhadap beban R&D Adanya konflik keagenan sering kali terjadi membuat manajemen lebih memilih untuk meningkatkan aset berwujud dibandingkan investasi R&D karena meningkatkan nilai perusahaan dengan risiko lebih rendah. Khachoo & Sharma . menunjukkan bahwa aset berwujud berpengaruh positif terhadap beban R&D karena aset berwujud dapat menunjang aktivitas R&D Jika menghubungan teori RBV dan peran penting aset berwujud pada inovasi, maka hipotesis yang dikembangkan adalah: H3: Aset berwujud berpengaruh positif terhadap beban R&D Pengaruh konsentrasi pemilik perusahaan terhadan beban R&D Bila mengacu pada agency theory. Konflik keagenan dapat terjadi ketika pemilik perusahaan . dan manajer . memiliki kepentingan yang berbeda (Ramadhan et al. Adanya mekanisme tata kelola perusahaan membuat selarasnya kepentingan prinsipal dengan praktik yang dilakukan oleh agen dan meminimalkan asimetri informasi (Haryanto. Salah satu mekanisme tata kelola perusahaan, yaitu besar kepemilikan perusahaan. Kepemilikan perusahaan menentukan kendali pemilik terhadap perusahaan. Kendali pemilik akan meminimalkan konflik keagenan dari Kendali pemilik yang juga merangkap menjadi eksekutif akan menjamin tercapainya tujuan perusahaan (Schuster et al. , 2. Namun, arah perusahaan juga ditentukan dalam sudut pandang pemegang saham apakah lebih beorientasi pada tujuan jangka panjang atau jangka pendek. Suman & Singh . dan Zulfiqar et al. menunjukkan konsentrasi kepemilkan saham yang signifikan positif mempengaruhi besar investasi R&D. Iqbal et al. , . sebaliknya menunjukkan konsentrasi kepemilikan saham yang signifikan negatif mempengaruhi besar investasi R&D. Hasil yang negatif dari penelitian ini terjadi karena adanya pengaruh beberapa perusahaan State-owned Enterprise (SOE) yang dipimpin oleh pemerintah yang cenderung konservatif dalam Penentuan dari ketiga penelitian terdahulu menunjukkan peran pemegang saham pengendali terhadap beban R&D. Pemegang saham pengendali menurut aturan OJK nomor 9/POJK/2018 adalah pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari 50%. Dengan demikian, hipotesis yang dikembangkan adalah: H4: Konsentrasi kepemilikan saham akan berpengaruh positif terhadap beban R&D Pengaruh proporsi komisaris independen terhadap beban R&D Komisaris independen menjadi komponen penting dalam mengendalikan konflik keagenan yang dapat muncul pada bagian eksekutif Komisaris independen merupakan bagian dari dewan komisaris namun berasal dari luar perusahaan . iasanya ditandai dengan tidak adanya kepemilikan saham perusahaan dan tidak berafiliasi dengan perusahaan, dewan komisaris, direksi dan pemegang saham utam. Komisaris independen akan menjadi pihak yang netral untuk memberikan masukan terhadap keputusan eksekutif dan perannya penting dalam menjamin terlindungnya hak pemilik saham minoritas (Pradita & Utama, 2. Namun, peran komisaris independen juga dipengaruhi oleh kompetensi dan kemampuan komisaris independen (Murhadi. Suman & Singh, 2. Proporsi menunjukkan nilai yang signifikan positif dalam mempengaruhi beban R&D perusahaan (Suman & Singh, 2021. Zulfiqar et al. , 2. Peran komisaris independen dinilai mampu mendorong pihak manajemen untuk meningkatkan input inovasi karena ada kemungkinan semakin besar perusahaan maka akan semakin kecil usaha manajemen perusahaan untuk meningkatkan inovasi (Suman & Singh, 2. Namun. Iqbal et . menunjukan proporsi komisaris independen dalam dewan direksi justru tidak signifikan mempengaruhi besar beban R&D Hal ini bisa disebabkan oleh penelitian tersebut menggunakan obyek perusahaan di Tiongkok yang lebih dititikberatkan pada pemilik perusahaan khususnya SOE yang memiliki signifikansi negatif terhadap besar nilai beban R&D. Komisaris independen seharusnya dapat mendorong inovasi yang merupakan kepentingan perusahaan jangka panjang sehingga hipotesis yang digunakan adalah: H5: Proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap beban R&D METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan nonkeuangan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2021. Data yang dapat digunakan harus memenuhi beberapa syarat, yaitu perusahaan terdaftar di BEI pada periode 2017-2021 tanpa mengalami delisting ataupun relisting, menerbitkan laporan keuangan di setiap tahun pada rentang waktu penelitian, memiliki seluruh data variabel secara pada laporan keuangan perusahaan, dan tidak memiliki ekuitas bernilai negatif pada rentang tahun 2017-2021. Sumber data sekunder berupa laporan tahunan didapatkan secara langsung melalui situs resmi variabel dependen dalam penelitian ini beserta BEI. Hasil observasi dalam penelitian ini pengukurannya (Tabel . Persamaan regresi yang berjumlah 170 data. digunakan adalah: Pengujian sampel menggunakan model ycIyayaycnyc = yu0 yu1 . ycIycCyaycnyc yu2 . yayaycOycnyc panel data dengan metode uji regresi linier yu3 . ycNyaycAycnyc yu4 . ycCycycuyaycnyc yu5 . yaycAyaycnyc berganda dan metode estimasi Ordinary Least yu6 . ycIyaycsyaycnyc yu7 . yayayaycnyc Square. Model yang digunakan perlu memenuhi yuAycnyc a asumsi klasik dan melalui uji pemilihan model AA. Chow test dan Hausman test. Pada periode 2020Keterangan 2021, ada peristiwa pandemi global yang dapat RDIit = Intensitas R&D mempengaruhi estimasi dari penelitian ini perusahaan i pada periode t sehingga dilakukan uji ChowAos Poolability test = Konstanta untuk menguji kestabilan data (Baltagi, 2. 1,2,A,7 = Koefisien regresi dari variabel Variabel dependen yang digunakan dalam ROAit = ROA perusahaan i pada periode penelitian ini adalah intensitas beban R&D (RDI). Variabel independen yang digunakan, yaitu LEVit = Rasio utang perusahaan i pada profitabilitas (ROA), utang (LEV), aset berwujud (TAN), konsentrasi kepemilikan perusahaan TANit = Aset berwujud perusahaan i (OwnC), dan proporsi komisaris independen pada periode t (IND). Dalam penelitian ini, variabel kontrol yang OwnCit = Konsentrasi digunakan adalah ukuran perusahaan (SIZE) dan perusahaan i pada periode t umur perusahaan (AGE). Ukuran perusahaan INDit = Proporsi komisaris independen merupakan faktor yang mempengaruhi perusahaan perusahaan i pada periode t dalam hal economic of scale yang dapat SIZEit = Ukuran perusahaan perusahaan i mempengaruhi kinerja perusahaan (Vinasithamby, pada periode t Selain itu, umur juga mempengaruhi AGEit = Umur perusahaan perusahaan i pada periode t kemungkinan mempengaruhi perusahaan. Secara Ait = Error atau stochastic error keseluruhan ada 7 variabel yang digunakan dan 1 Tabel 1. Variabel yang Digunakan beserta Proksi Pengukurannya Variabel Proksi Sumber Variabel dependen (Adu-Ameyaw et al. , 2022. Beban R&Dycnyc Curtis et al. , 2020. Iqbal et RDI , 2022. Suman & Singh. Total Aset ycnyc Variabel independen yayaAyaycN . aycaycycuycnycuyci yaAyceyceycuycyce yaycuycyceycyceycyc ycaycuycc ycNycayc. ycnyc ROA (Neves & Branco, 2. ycNycuycycayco yaycycyceycycycnyc yaycuycuyci Oe ycyceycyco ycoycnycaycaycnycoycnycycnyceycycnyc LEV (Iqbal et al. , 2. Total Aset ycnyc ycNycaycuyciycnycaycoyce yceycnycuyceycc ycaycycyceycycycnyc (Neves & Branco, 2020. TAN Suman & Singh, 2. ycNycuycycayco ycaycycyceycycycnyc Dummy variable dengan nilai 1 jika OwnC perusahaan memiliki pemegang saham lebih (Zulfiqar et al. , 2. dari 50% dan jika tidak bernilai 0 (Iqbal et al. , 2022. Suman & ycycycoycoycaEa ycoycuycoycnycycaycycnyc ycnycuyccyceycyyceycuyccyceycuycnyc IND Singh, 2021. Zulfiqar et al. ycycycoycoycaEa yccyceycycaycu ycoycuycoycnycycaycycnycycnyc Variabel kontrol . cycaEaycycu ycayceycycycaycoycaycu Oe ycycaEaycycu ycayceycyccycnycyc. ycnyc AGE (Iqbal et al. , 2. (Iqbal et al. , 2022. Suman & SIZE yaycu( ycycuycycayco ycaycycyceycy. ycnyc Singh, 2. 2,78y10-3. Sebaran data dari penelitian ini HASIL DAN PEMBAHASAN menunjukkan pola persebaran yang condong Hasil positif . ositively skewe. pada seluruh variabel. Hasil deskriptif statistik (Tabel . Data yang condong positif ditandai oleh nilai rerata menunjukkan data RDI yang cukup kecil dengan yang lebih besar dari nilai tengah. nilai maksimum sebesar 2,85% dan rerata sebesar Tabel 2. Analisis Statistik Deskriptif Mean Median Min. Maks. 2,78E-03 4,93E-03 8,03E-04 2,85E-02 RDI 7,95E-02 8,10E-02 0,06 -0,04 0,48 ROA 0,12 0,10 0,08 0,01 0,51 LEV 0,37 0,18 0,34 0,07 0,76 TAN 0,42 0,14 0,40 0,00 1,00 IND 0,66 0,47 1,00 0,00 1,00 OWNC 44,89 23,98 42,50 15,00 115,00 AGE 29,28 1,40 29,18 26,15 31,87 SIZE Hasil pengujian model dengan uji Chow Hasil uji Poolability test menunjukkan dan Hausman menunjukkan bahwa model panel bahwa adanya pengaruh pandemi pada rentang data yang baik adalah Random effect model (Tabel waktu penelitian (Tabel . Bila penelitian tetap Analisis dengan uji Breusch-Godfrey menggunakan OLS tanpa memperdulikan adanya menunjukkan adanya autokorelasi yang dapat pengaruh pandemi, maka penelitian akan mempengaruhi estimator dari OLS. Oleh karena memberikan kesimpulan yang salah. Oleh karena itu, metode Panel-Corrected Standard Error itu, penelitian ini membandingkan sampel digunakan agar persamaan regresi memenuhi keseluruhan, pada rentang waktu sebelum standar BLUE (Ikpesu et al. , 2. pandemi, dan saat pandemi. Tabel 3. Hasil Uji Chow. Hausman, dan Poolability Effects Test Statistic Prob. Uji Chow Cross-section F 71,918 ( 33. 0,000 Cross-section Chi-square 504,076 0,000 Uji Hausman Cross-section random 5,148 0,642 Poolability test F-stat 2,823 0,001 Pada sampel keseluruhan, hanya IND dan OwnC. Variabel LEV dan AGE tidak mengalami SIZE yang berpengaruh signifikan terhadap RDI perubahan yang signifikan pada sampel (Tabel . Ada perubahan pola pada beberapa keseluruhan ataupun pada periode sebelum dan variabel dari sebelum dan saat pandemi dengan saat pandemi. signifikansi 5%, yaitu variabel ROA. TAN, dan Tabel 4. Hasil Analisis Regresi Berganda pada Sampel Keseluruhan. Sebelum Pandemi, dan Saat Pandemi Total Sebelum pandemi Saat pandemi Variabel Coef. Prob Coef. Prob Coef. Prob 0,0366 0,0035 0,0027 0,0000 0,0029 0,0000 ROA -0,0034 0,189 0,0022 0,2265 -0,0048 0,0054* LEV -0,0007 0,6363 0,0021 0,3086 -0,0005 0,7241 TAN -0,0002 0,9597 -0,0030 0,0021* 0,0027 0,0000* OwnC -0,0008 0,2943 -0,0015 0,0002* 0,0010 0,0151* IND 0,0043 0,0007* 0,0026 0,1602 0,0009 0,7258 AGE 2,47E-05 0,2312 -1,93E-06 0,7301 2,05E-06 0,7224 SIZE -0,0012 0,0029* 3,32E-05 0,3037 -6,38E-05 0,0672 Year Tidak R-sq 0,0972 Adj. R-sq 0,0582 Prob (Fsta. 0,0186 Keterangan: *signifikan dengan =5% Pembahasan Dalam penelitian ini profitabilitas menunjukkan hubungan yang tidak signifikan terhadap RDI sehingga menolak H1. Hubungan yang tidak signifikan ini dapat disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, ada perbedaan antara pecking order theory . eori yang melandasi hipotesis . dengan theory of financing innovation (Nylund et al. , 2. Dalam teori pembiayaan inovasi. R&D memiliki sifat alami yang berbeda dibandingkan pembiayaan investasi lainnya. R&D cenderung bersifat sangat berisiko, memiliki output atau hasil yang tak pasti, dan bersifat intangible (Kerr & Nanda, 2015. Organisation for Economic Co-operation and Development, 2. Martinsson . menyebutkan pembiayaan R&D dengan pendanaan internal biasanya dilakukan oleh perusahaan ukuran kecil menengah (SMME), sedangkan perusahaan besar biasanya menggunakan pendanaan eksternal seperti utang ataupun pengeluaran ekuitas untuk pembiayaan R&D. Kedua. Indonesia merupakan negara yang masih menganut civil law (Arifin, 2020. Wicaksono, 2. Negara yang menganut civil law biasanya membiayai R&D-nya menggunakan pendanaan internal atau utang (Neves & Branco. Ketiga, besar RDI di Indonesia yang relatif kecil jika dilihat dari nilai rerata RDI . ,78y10-. dengan pola sebaran data yang condong positif. Nilai R&D yang kecil menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan enggan berinvestasi pada R&D walaupun memiliki keuntungan yang Perusahaan yang didominasi oleh shorttermism berinvestasi pada aset lain yang berisiko lebih rendah (Mazzucato, 2. Keempat. R&D merupakan proyek jangka panjang dan profitabilitas lebih cocok digunakan untuk pendanaan jangka pendek (Lee, 2. Dengan keempat alasan tersebut, profitabilitas pada sampel keseluruhan dan sebelum pandemi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap RDI. Pada sampel periode pandemi, ada hubungan yang signifikan negatif antara profitabilitas terhadap RDI. Kondisi pandemi merupakan kondisi yang menyerupai adanya krisis. Ketika krisis terjadi, perusahaan cenderung memitigasi risiko dengan menurunkan investasinya (Lee, 2018. Spielkamp & Rammer, 2. Salah satu usaha yang bisa dilakukan perusahaan dengan mengurangi 0,1175 0,0794 0,1044 0,0657 0,0045 0,0114 sebagaian pembiayaan R&D yang berisiko tinggi. Dalam penelitian ini utang tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI sehingga menolak H2. Hasil ini konsisten dengan beberapa penelitian lain (Chen & Hu, 2016. Khachoo & Sharma, 2017. Martinsson, 2. Hubungan yang tidak signifikan ini dapat dijelaskan oleh beberapa Pertama. Penggunaan utang jangka panjang hanya efektif ketika R&D dan utang jangka panjang berada pada tingkat yang tinggi karena bisa berpotensi memberikan return yang besar pula bagi bank walaupun memiliki risiko yang besar (Serrasqueiro et al. , 2. Kedua, aktivitas R&D memiliki high marginal cost of debt sehingga baik dari segi perusahaan juga berhati-hati dalam menggunakan utang (Chiao, 2. Beberapa bank memilih untuk memberikan utang jangka pendek agar memudahkan pemantauan pembiayaan R&D yang dinilai terlalu berisiko jika menggunakan utang jangka panjang (Khachoo & Sharma, 2017. Serrasqueiro et al. , 2. Ketiga, perusahaan besar masih menghadapi masalah asimetri informasi karena memiliki pendanaan yang lebih dibandingkan perusahaan menengah (Ho et al. , 2. Dengan ketiga alasan tersebut, utang jangka panjang tidak cocok digunakan sebagai pembiayaan R&D. Pada sampel keseluruhan. TAN tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI sehingga menolak H3. Sebelum pandemi, dalam penelitian ini TAN berpengaruh negatif signifikan terhadap RDI. Pengaruh ini juga terjadi pada penelitian lain (Lyyf & Heshmati, 2004. Neves & Branco, 2. Kondisi ini terjadi ketika tidak adanya sinergi antara aset berwujud dan R&D sehingga perusahaan memilih berinvestasi pada aset berwujud atau R&D. Sebaliknya, hubungan yang positif signifikan dari TAN terhadap RDI terjadi ketika ada sinergi yang baik seperti antara aset berwujud dan RDI seperti pada teori RBV (Chiao. Galati et al. , 2. Hubungan yang positif saat pandemi dapat dijelaskan bahwa ketika pandemi ataupun krisis, tangibility slack akan Menurut Kim et al. , . , adanya tangibility slack membuat perusahaan akan lebih banyak melakukan investasi pada R&D eksternal. Bila dalam krisis terjadi penurunan tangibility slack, maka perusahaan akan cenderung atau menyinergikan berwujud yang dimilikinya dengan aktivitas inovasi yang dikembangkan sehingga akan meningkatkan investasi pada R&D internal. Kondisi pandemi saat ini juga memaksa perusahaan berinovasi di samping melakukan efisiensi sehingga terjadi hubungan yang positif antara TAN terhadap RDI. Pengaruh TAN terhadap RDI pada sampel keseluruhan yang tidak signifikan dapat terjadi karena adanya perubahan efek negatif ke positif yang membuat tidak adanya perbedaan titik yang signifikan di periode awal dan akhir penelitian. Dalam penelitian ini. OwnC secara keseluruhan tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI dan ada perbedaan pengaruh sebelum pandemi dan saat pandemic sehingga H4 dalam penelitian ini ditolak. Pola pengaruh OwnC terhadap RDI sama dengan pengaruh TAN terhadap RDI. Mazzucato . berpendapat bahwa jenis kepemilikan juga mempengaruhi bagaimana pemilihan investasi. Sebelum pandemi, pemilik perusahaan berorientasi pada keuntungan jangka pendek biasanya akan menginginkan keuntungan yang cepat dan rendahnya inovasi. Hal ini ditandai dengan hubungan yang signifikan negatif OwnC terhadap RDI. Ketika pandemi, adanya perubahan orientasi dari pemilik perusahaan pada inovasi. Pandemi membuat beberapa perusahaan perlu melakukan penyesuaian termasuk dengan berinovasi. Pada sampel keseluruhan tidak terjadi pengaruh yang signifikan terhadap RDI dapat terjadi karena perubahan pengaruh OwnC yang awalnya negatif ke positif sehingga tidak ada perubahan yang signifikan antara titik awal dan titik RDI pada penelitian ini. Dari beberapa fakta tersebut, pemilik perusahaan dapat diasumsikan memegang peran penting dalam menentukan sinergi antara aset berwujud terhadap RDI dengan melihat pola pengaruh yang sama. Ada menunjukkan hubungan komisaris independen terhadap beban R&D, seperti berpengaruh signifikan positif (Suman & Singh, 2021. Zulfiqar et al. , 2. dan tidak signifikan (Iqbal et al. Pengaruh komisaris independen terhadap RDI dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang positif signifikan sehingga menerima Komisaris independen dipercaya dapat memberikan masukan atau saran dalam peningkatan inovasi di perusahaan. Hasil yang positif signifikan terjadi secara keseluruhan sedangkan tidak ada hubungan yang signifikan saat periode sebelum dan saat pandemi. Kondisi ini dapat dijelaskan oleh kecilnya pengaruh komisaris independen terhadap RDI dilihat dari nilai koefisien variabel ini. Dengan demikian, perubahan yang signifikan baru dapat terlihat jika melihat rentang waktu penelitian secara Umur perusahaan (AGE) yang merupakan variabel kontrol dalam penelitian ini memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap RDI pada seluruh periode. Hasil ini juga searah dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa umur tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI (Nirjar et al. , 2018. Shefer & Frenkel, 2. Coad et al. menjelaskan bahwa hanya perusahaan yang berusia muda . urang dari 10 tahu. cenderung agresif dalam investasi R&D, sedangkan perusahaan berusia dewasa cenderung enggan melakukan inovasi. Nirjar et al. , . menjelaskan perusahaan yang berusia lebih tua di India lebih mengandalkan jaringan bisnisnya untuk melakukan inovasi secara eksternal dibandingkan internal sehingga usia tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI. Asumsi perusahaan yang dianggap muda beragam di beberapa penelitian, seperti kurang dari 10 tahun (Coad et al. , 2. hingga baru berdiri 2-5 tahun (Falk, 2. Jika mengacu pada pengelompokkan tersebut, maka seluruh sampel penelitian ini berada pada umur yang dewasa karena memiliki minimal umur perusahaan 15 tahun. Hal ini yang menjelaskan mengapa umur perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI. Variabel SIZE memiliki pengaruh yang signifikan negatif hanya pada sampel keseluruhan dan bukan pada sampel sebelum ataupun saat Badillo et al. , . menunjukkan bahwa perusahaan besar lebih mengandalkan R&D secara eksternal dibandingkan internal. Keenganan dari perusahaan untuk berinovasi secara internal juga bisa membuat beban R&D internal perusahaan menurun. Hal ini membuat semakin besar perusahaan justru berpengaruh negatif terhadap inovasi. Hubungan yang negatif dapat dijelaskan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar kekuatan pasar yang dimiliki dan adanya keuntungan dalam hal economic of scale (Vinasithamby, 2. Dengan memanfaatkan kemampuan economies of scale, perusahaan bisa menikmati keuntungan dan pertumbuhan yang lebih tinggi (Ambrose et al. Azhar & Ahmad, 2. tanpa perlu melakukan inovasi secara terus menerus. Oleh karena itu, semakin besar ukuran perusahaan maka akan ada kecenderungan dalam mengurangi investasi R&D yang ditandai hubungan yang negatif signifikan. Hasil yang tidak signifikan pada sampel sebelum dan saat pandemi terjadi karena peran dari ukuran perusahaan terhadap variabel RDI yang cukup kecil dilihat dari nilai koefiesiennya sehingga SIZE tidak terlalu signifikan dalam jangka waktu yang lebih pendek. SIMPULAN Dalam penelitian ini, hanya variabel mempengaruhi RDI pada sampel keseluruhan. Ada perubahan pola pengaruh saat sebelum pandemi dan saat pandemi pada variabel profitabilitas, aset berwujud, dan konsentrasi pemegang saham terhadap RDI. Variabel utang tidak berpengaruh signifikan terhadap RDI pada sampel keseluruhan dan tidak terpengaruh oleh kondisi pandemi Covid19. Penelitian ini juga menunjukkan masih rendahnya investasi perusahaan pada R&D yang diikuti dengan respon pemilik perusahaan terhadap beban R&D. Dengan demikian, perusahaan perlu memiliki tata kelola dan pengolaan sumber daya yang baik untuk meningkatkan investasi R&D. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan yang dapat digunakan untuk sebagai ruang penelitian selanjutnya. Model penelitian ini masih memiliki koefisien determinasi yang kecil sehingga perlu dikembangkan model yang lebih menjelaskan faktor apa saja mempengaruhi beban R&D. Penelitian ini belum bisa menjawab sumber pendanaan apa yang selama ini digunakan untuk pendanaan R&D. Penelitian selanjutnya bisa dilakukan dengan mengeksplorasi sumber pendanaan internal lain atau eksternal lain. Adanya kemiripan pola pada variabel aset berwujud dan kosentrasi kepemilikan terhadap beban R&D bisa diteliti lebih lanjut interaksi kedua variabel tersebut dalam mempengaruhi beban R&D. DAFTAR PUSTAKA