Copyright A 2022 pada penulis Abdimas Singkerru. Vol. No. 1, 2022 Penyuluhan Kesehatan Tentang Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada Remaja Hairuddin K *1. Rosita Passe 2. Jumrah Sudirman 3 1 Program Studi Keperawatan. Universitas Megarezky Makassar 2, 3 Program Studi Kebidanan. Universitas Megarezky Makassar hairuddinbine2@gmail. 2 rositapasse88@gmail. 3 jumrah. rezky@gmail. Abstrak Remaja dan dewasa muda usia . -24 tahu. hanya merupakan 25% dari keseluruhan populasi yang aktif berhubungan seksual namun mewakili hampir 50% kasus baru IMS. Usia muda dan remaja merupakan individu yang paling beresiko untuk tertular PMS karena usia muda, remaja lebih mudah terpengaruh secara tidak proporsional. Indonesia merupakan Negara urutan ke-lima paling beresiko IMS di Asia. Total kasus IMS yang ditangani pada tahun 2018 adalah 803 kasus dari 430 layanan IMS. Jumlah kasus IMS terbanyak adalah di tubuh vagina . 962 dan servicitis/procitis . 205 kasus. Dari perkiraan CDC yaitu 20 juta kasus infeksi baru per tahun, separuh di antaranya ialah orang muda berusia 15-24 tahun. Data dari UNFPA dan WHO menyebutkan 1 dari 20 remaja tertular IMS setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan masih tingginya kejadian IMS di kalangan remaja. Sehingga perlu di lakukan Tindakan atau intervensi Kesehatan masyarakat melalui pemberian penyuluhan Kesehatan. Bentuk kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan pemberian penyuluhan Kesehatan tentang penyakit infeksi menular seksual (IMS) sebagai sarana pemberian informasi kepada remaja. Kegiatan dilakukan pada remaja di SMK Megarezky Makassar. Hasil pengabdian masyarakat di peroleh bahwa mayoritas pengetahuan remaja adalah kurang sebanyak 28 orang . %) sebelum dilakukan penyuluhan dan mayoritas pengetahuan remaja adalah baik sebanyak 31 orang . %) setelah di berikan penyuluhan. Kesimpulan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan remaja setelah di berikan penyuluhan dibandingkan sebelum dilakukan penyuluhan. Kata Kunci: penyuluhan, infeksi menular seksual Pendahuluan Remaja berperan penting dalam pembangunan dan dapat meningkatkan daya saing penduduk di era globalisasi. Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia (Passe et al. , 1. Masa remaja merupakan suatu fase tumbuh kembang yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa kanakAekanak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, psikologis, emosional, dan sosial . itri Sugiarti Syam & Lestari, n. Remaja mempunyai sifat yang unik, salah satunya adalah sifat ingin meniru sesuatu hal yang dilihat, kepada keadaan serta lingkungan di sekitarnya. Di samping itu, remaja mempunyai kebutuhan akan kesehatan seksual, di mana pemenuhan kebutuhan kesehatan seksual tersebut sangat bervariasi (Rosita keterpaparan medi. Sebagian kelompok remaja mengalami kebingungan untuk memahami https://jurnal. id/index. php/singkerru/article/view/122 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. tentang apa yag boleh dilakukan olehnya atara lai boleh atau tidaknya pacaram, melakukan onani, nonton bersama atau berciuman (Mularsih, n. Kalangan remaja digolongkan sebagai kelompok risiko tinggi dan rawan terhadap bahaya penularan penyakit khususnya penyakit meular seksual (PMS) dan cenderung semakin permisifnya hubungan pergaulan antara remaja laki-laki dan Perempuan (Fitri Sugiarti Syam et al. , n. Remaja dan dewasa muda usia . -24 tahu. hanya merupakan 25% dari keseluruhan populasi yang aktif berhubungan seksual namun mewakili hampir 50% kasus baru IMS. Usia muda dan remaja merupakan individu yang paling beresiko untuk tertular PMS karena usia muda, remaja lebih mudah terpengaruh secara tidak proporsional (Loho et al. , n. Kenyataan menunjukkan bahwa diseluruh dunia remaja merupakan kelompok umur yang jumlahnya terbanyak menderita IMS dibandingkan kelompok umur lain. Tingginya angka pengidap IMS ini pada remaja dan generasi muda sungguh memerlukan perhatian kita semua karena bahaya dan dampaknya luas (Rahayu et , n. Infeksi menular seksual merupakan masalah utama kesehatan wanita. Lebih dari 50% wanita yang terkena IMS tidak memperlihatkan tanda-tanda. Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual baik secara vaginal, anal dan oral (Puspita, 2. Lebih dari satu juta orang terinfeksi penyakit menular seksual setiap hari dan diperkirakan 499 juta kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) terjadi setiap tahun. Kelompok remaja dan dewasa muda . sia 15-24 tahu. merupakan kelompok umur yang beresiko paling tinggi untuk tertular IMS. Salah satu upaya pencegahan IMS pada remaja adalah dengan memberikan penyuluhan mengenai IMS (Feratama & Nugraheny, 2. Penyebab infeksi tersebut diantaranya adalah bakteri . isalnya gonore, sifili. , jamur, virus . isalnya herpes. HIV), atau parasit . isalnya kut. , penyakit ini dapat menyerang pria maupun Wanita . prevalensi Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2011 dimana infeksi gonore dan klamidia sebesar 179 % dan sifilis sebesar 44 %. Pada kasus HIV/AIDS selama delapan tahun terakhir mulai dari tahun 2005 Ae 2012 menunjukkan adanya peningkatan (Rompas et al. , n. Pada tahun 2018, pusat data dan informasi kementerian kesehatan RI menyebutkan bahwa Indonesia merupakan Negara urutan ke-lima paling beresiko IMS di Asia. Total kasus IMS yang ditangani pada tahun 2018 adalah 140. 803 kasus dari 430 layanan IMS. Jumlah kasus IMS terbanyak adalah di tubuh vagina . 962 dan servicitis/procitis . 205 kasus (Peningkatan Pengetahuan et al. Dari perkiraan CDC yaitu 20 juta kasus infeksi baru per tahun, separuh di antaranya ialah orang muda berusia 15-24 tahun. 5 Data dari UNFPA dan WHO menyebutkan 1 dari 20 remaja tertular IMS setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan masih tingginya kejadian IMS di kalangan remaja (Pandjaitan et al. , n. Metode Pelaksanaan Bentuk kegiatan pengabdian masyarakat yang di lakukan yaitu memberikan penyuluhan kesehatan tentang penyakit infeksi menular seksual (IMS) sebagai sumber informasi pada remaja yang di lakukan di SMK Megarezky Makassar. Metode yang di gunakan adalah media leaflet, power point dan alat peraga berupa Vol. No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Onlin. Kegiatan ini di mulai dengan tahap persiapan kemudian tahap pelaksanaan dan evaluasi. Tahap persiapan di mulai dengan pembuatan proposal pengabdian masyarakat di tujukan ke PPM Universitas Megarezky kemudian melakukan pertemuan denga kepala sekolah SMK Megarezky untuk meminta izin melaksanakan Setelah memperoleh persetujuan maka kemudian menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat. Kemudian melakukan persiapan pembuatan materi berupa powerpoint, leaflet, kuesioner dan peralatan/perlengkapan yang di butuhkan pada saat kegiatan. Kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan kegiatan berupa pemberian penyuluhan kepada remaja yang menjadi sasaran kegiatan. Sebelum kegiatan di mulai remaja diberikan kuesioner berupa pretest tentang infeksi menular seksual setelah itu maka kegiatan dilakjutkan dengan pemberian materi penyuluhan dilanjutkan dengan evaluasi proses kegiatan. Diakhir kegiatan semua remaja akan diberikan posttest sesuai materi yang telah Dalam pelaksanaan kegiatan peserta tampak antusias dalam mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pengabdian masyarakat ini di lakukan selama 1 hari yaitu pada hari Rabu 6 Oktober 2021 Pukul 10. 00 WITA sampai dengan selesai. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 35 orang dengan usia peserta berada pada rentang umur 15-18 Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan berupa pemberian informasi terkait infeksi menular seksual. Pada kegiatan ini pemateri memberikan penyuluhan tentang infeksi menular seksual yang meliputi : pengertian, tujuan, jenisjeninya, penyebab dan dampak dari infeksi menular seksual. Kegiatan ini mendapat apresiasi yang baik dari pihak sekolah. Tabel 1. Data Peserta Penyuluhan Identitas Peserta Umur (Tahu. Jumlah 10 Ae 15 Tahun 16 Ae 20 Tahun SMP SMA Sarjana Pendidikan Berdasarkan tabel 1 diperoleh bahwa mayoritas peserta pengabdian masyarakat berusia 16- 18 tahun sebanyak 30 orang . %) dan Pendidikan semuanya SMU sebanyak 35 orang . %) Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. Tabel 2. Distribusi frekuensi sebelum dan sesudah penyuluhan Kategori Sebelum Baik Cukup Kurang Tabel 2 menjelaskan bahwa sebelum diberikan penyuluhan mayoritas pengetahuan remaja adalah kurang sebanyak 28 orang . %) dikuti pengetahuan cukup sebanyak 7 orang . %), sedangkan setelah di berikan penyuluhan mayoritas pengetahuan peserta adalah baik sebanyak 31 orang . %) di ikuti pengetahuan cukup sebanyak 4 orang . %) Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa penyuluhan tentang penyakit infeksi menular seksual (IMS) dapat meningkatkan pengetahuan Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh elfina, et al . Penyebab dari banyaknya kasus IMS ini adalah karena masih kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai IMS di masyarakat (Yulidar & Rochman, n. Selain pengetahuan Infeksi menular seksual disebabkan oleh perilaku seks bebas dan seks pranikah dikalangan remaja, pada saat ini sudah menjadi hal yang wajar. Hal ini disebabkan antara kurangnya perhatian dari orangtua. Orangtua yang terlalu sibuk bekerja menyebabkan perhatian ke anak kurang baik, sehingga remaja mencari perhatian dengan oranglain terutama lawan jenisnya. Sikap remaja yang masih ingin mendapatkan perhatian dan perasaan ingin tahu tentang seksual mengakibatkan mereka mencoba melakukan hubungan seksual sehingga dapat mengarah ke dampak infeksi menular seksual. Pengetahuan remaja yang kurang mengerti mengenai infeksi menular seksual menyebabkan sikap mereka yang ingin mencoba dan rasa ingin tahu tanpa mengerti dampak dari infeksi menular seksual. Pemecahan masalah itersebut sebaiknya peran orangtua dalam memperhatikan anaknya antara lain dengan memberikan pengetahuan dan bimbingan agar anakya tidak mencoba hal yang bisa megarah ke hubungan seksual. Para tenaga kesehatan juga harus aktif untuk memberikan penyuluhan ke remaja agar remaja mengerti tetang infeksi menular seksual dan bahaya infeksi tersebut. Seperti dalam penelitian EB Santoso, 2017 dikatakan pengendalian perilaku berisiko akan dilakukan melalui kegiatan positif dan meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan IMS, dan secara teratur melakukan Pendidikan kesehatan dan mengikuti acara-acara terkait kesehatan yaitu menjadi duta HIV AIDS. Sehingga sikap remaja dalam pencegahan IMS dapat terpantau dengan baik dengan berperan aktif dalam konseling di sekolah (Rahayu et al. , n. Kegiatan penyuluhan yang di lakukan pada kegiatan ini efektif dilakukan kepada individu ataupun kelompok remaja karena berguna menambah pemahaman ataupun pengetahuan dan memberikan informasi sehingga dapat membentuk sikap yang baik bagi remaja. Dengan demikian kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan meningkatkan derajat Kesehatan remaja. Vol. No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Onlin. Berikut dibawah ini merupakan dokumetasi kegiatan pengabdian masyarakat di SMK megarezky Makassar Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Pengabdian Masyarakat Kesimpulan Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat ini dapat disimpulkan bahwa penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan remaja. Peningkatan pengetahuan akan sangat membantu Sehingga sikap remaja dalam pencegahan IMS dapat terpantau dengan baik. disarankan kepada orangtua dalam memperhatikan anaknya antara lain dengan memberikan pengetahuan dan bimbingan agar anakya tidak mencoba hal yang bisa megarah ke hubungan seksual. Para tenaga kesehatan juga Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Onlin. harus aktif untuk memberikan penyuluhan ke remaja agar remaja mengerti tetang infeksi menular seksual dan bahaya infeksi tersebut. Ucapan Terimakasih Terima kasih kami ucapkan kepada Ketua Yasasan Megarezky. Rektor Universitas Megarezky. LPPM Universitas Megarezky. Kepala Sekolah SMK Megarezky Makassar, serta semua yang turut membantu melancarkan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Referensi