Vol 6 No 1 . P-ISSN 2807-9205 | E-ISSN 2808-0041 DOI: 10. 54180/joeces. Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Islam Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan Di TK Al Anshor Anita1. Nur Fitriyanti2 . Sutiyah Nova Irawati3 anitakarulina75@gmail. com1, nf2805984@gmail. com2 ,novairawati81@gmail. Institut Agama Islam YPBWI. Surabaya. Indonesia ABSTRAK Pembentukan karakter Islam pada masa golden age menghadapi tantangan sosiokultural yang kompleks akibat degradasi moral dan paparan media digital yang tidak terfilter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran strategis guru serta efektivitas implementasi metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius anak di TK Al Anshor. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali fenomena secara mendalam melalui observasi partisipatif terhadap aktivitas harian, wawancara mendalam dengan guru dan pengelola sekolah, serta studi dokumentasi terhadap perangkat pembelajaran. Analisis data dilakukan secara sirkular melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkap bahwa guru menjalankan peran multifaset yang krusial sebagai demonstrator nilai, motivator yang peka terhadap perkembangan afektif anak, serta evaluator perkembangan moral yang konsisten. Arsitektur pembentukan karakter di TK Al Anshor diimplementasikan melalui sistem pembiasaan yang berlapis, meliputi pembiasaan rutin yang terjadwal seperti shalat dhuha berjamaah, pembiasaan spontan dalam merespon dinamika sosial di kelas, hingga pembiasaan keteladanan melalui profil guru yang santun. Temuan esensial menunjukkan bahwa integrasi metode storytelling islami yang kreatif dan optimalisasi buku kontrol harian berperan sebagai instrumen mitigasi efektif dalam menetralkan pengaruh negatif gadget dari lingkungan rumah. Sinergi yang kuat antara keteladanan pendidik di sekolah dan kolaborasi aktif orang tua menjadi kunci keberhasilan transformasi nilai menjadi habituasi perilaku. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis mengenai pentingnya rekayasa lingkungan belajar yang religius dan adaptif sebagai benteng moralitas anak di tengah era disrupsi digital. Kata Kunci: Karakter Islam. Anak Usia Dini. Peran Guru. Metode Pembiasaan. Disrupsi Digital. ABSTRACT The formation of Islamic character during the golden age faces complex sociocultural challenges due to moral degradation and uncontrolled exposure to digital media. This study aims to describe the strategic role of teachers and the effectiveness of implementing habituation methods in shaping the religious character of children at TK Al Anshor. Using a descriptive qualitative approach, data were gathered through in-depth participant observation of daily activities, interviews with teachers and school administrators, and documentation of the curriculum and learning Data analysis was conducted through a circular process involving data reduction, data display, and conclusion The findings reveal that teachers perform crucial multifaceted roles as value demonstrators, motivators sensitive to children's affective development, and consistent evaluators of moral progress. The architecture of character building at TK Al Anshor is implemented through a layered habituation system, encompassing routine habituation such as congregational Dhuha prayers, spontaneous habituation in response to social dynamics in the classroom, and exemplary habituation through the teachers' virtuous profile. Essential findings indicate that the integration of creative Islamic storytelling methods and the optimization of daily control books serve as effective mitigation instruments in neutralizing the negative influence of gadgets from the home environment. Strong synergy between the educators' examples at school and active collaboration with parents is the key to successfully transforming values into behavioral habits. This study provides theoretical and practical contributions regarding the importance of engineering a religious and adaptive learning environment as a moral fortress for children in the era of digital disruption. Keywords: Islamic Character. Early Childhood. Teacher's Role. Habituation Method. Digital Disruption. PENDAHULUAN Pendidikan karakter Islam pada fase usia dini, atau yang sering disebut sebagai masa keemasan . olden ag. , merupakan fase krusial yang akan menjadi batu pijakan utama bagi perkembangan individu di masa depan. Secara biologis dan psikologis, pada rentang usia ini, sistem saraf dan kemampuan kognitif anak berada pada tingkat plastisitas yang luar biasa. Hal ini menyebabkan anak memiliki daya serap otak yang sangat tinggi terhadap stimulus lingkungan, terutama terkait nilai-nilai moral dan religiusitas yang ditanamkan melalui keseharian mereka (Arsyad, 2. Mengingat urgensi periode ini, upaya penanaman nilai-nilai Islami tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum. Sebaliknya, hal ini merupakan keharusan ontologis untuk membangun karakter yang tangguh dan berintegritas, terutama di tengah terpaan arus sekularisme serta pergeseran nilai sosial yang semakin masif (Aziz et al. Namun, realita yang ditemukan di lapangan saat ini sering kali menunjukkan fenomena yang cukup memprihatinkan. Di TK Al Anshor, para pendidik dihadapkan pada kenyataan bahwa meskipun kurikulum karakter telah dirancang dengan sistematis, tantangan degradasi moral yang dipicu oleh disrupsi digital tetap menjadi ancaman nyata yang sulit dibendung. Anak-anak usia dini di era sekarang cenderung lebih intens berinteraksi dengan layar gawai dibandingkan menjalin relasi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi ini secara perlahan melemahkan proses internalisasi nilai-nilai spiritual yang coba dipupuk oleh lembaga pendidikan (Taufik, 2020. Tsoraya et al. , 2. Paparan konten digital yang sering kali mengandung unsur kekerasan, penggunaan bahasa yang kasar, hingga gaya hidup konsumeris yang diagungkan di media sosial, telah meninggalkan residu perilaku negatif. Perilaku tersebut tidak mungkin dapat dihapus hanya dengan mengandalkan instruksi verbal atau pengajaran formal di dalam kelas semata. Permasalahan fundamental yang muncul dalam konteks ini adalah adanya jurang pemisah atau kesenjangan . yang lebar antara pemahaman teoretis anak mengenai karakter dan manifestasi perilaku nyata mereka dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti sering menemukan kasus di mana anak secara kognitif sangat cerdas dalam menghafal doa-doa harian atau memperagakan tata cara ibadah dengan sempurna saat sesi ujian praktis, namun nilai-nilai tersebut belum menjadi habituasi yang mendarah daging saat mereka lepas dari pengawasan guru (Hambal, 2. Fenomena "tahu tapi tidak melakukan" ini mengindikasikan bahwa metode ceramah konvensional atau pola pengajaran satu arah telah kehilangan efektivitasnya dalam menyentuh relung jiwa anak. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah pendekatan yang lebih membumi, menyentuh sisi afektif, dan bersifat berkelanjutan melalui metode pembiasaan . abitual metho. yang terintegrasi (Iksal et al. Nudin, 2. Metode pembiasaan dianggap sebagai strategi yang paling ampuh karena selaras dengan cara kerja psikologi anak usia dini yang sangat bergantung pada mekanisme pengulangan. Dalam filosofi ini, karakter tidak dipandang sebagai sesuatu yang cukup "diajarkan" layaknya mata pelajaran akademik, melainkan sesuatu yang harus "ditumbuhkan" melalui rangkaian aktivitas rutin yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi bagian organik dari sistem saraf dan pola pikir anak (Varchati et al. , 2. Dalam ekosistem pendidikan di TK Al Anshor, guru memegang peranan vital sebagai katalisator dalam proses transisi perilaku tersebut. Guru bukan sekadar berfungsi sebagai transmiter pengetahuan, melainkan wajib menjadi teladan hidup atau uswatun hasanah. Keteladanan menempati posisi kasta tertinggi dalam metode pendidikan Islam karena secara alami anak adalah peniru ulung yang akan menduplikasi figur dewasa yang ada di hadapan mereka (Munafiah et al. , 2023. Tambak et al. , 2. Meskipun penelitian terdahulu telah banyak mengulas pendidikan karakter secara umum (Adnan, 2022. Alhamuddin et al. , 2. , maupun adaptasi media digital dalam dakwah (Aziz et al. , 2. , namun potret mikroskopis mengenai bagaimana interaksi harian guru dan murid dalam pembiasaan di sekolah berbasis masyarakat masih sangat terbatas. Penelitian ini bermaksud mengisi ruang kosong tersebut dengan menganalisis secara integratif peran manajerial dan spiritual guru dalam merespon tantangan zaman di TK Al Anshor, guna menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga agung dalam budi pekerti. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif sebagai kerangka metodologis utama. Pemilihan metode ini didasarkan pada keinginan peneliti untuk memotret dan memahami secara mendalam fenomena peran guru dalam membentuk karakter Islami anak usia dini di lingkungan sekolah yang alami. Dengan pendekatan deskriptif, peneliti berupaya menyajikan gambaran komprehensif mengenai interaksi harian dan proses pembiasaan tanpa memberikan intervensi atau manipulasi terhadap subjek penelitian (Irpan & Sain, 2. Melalui paradigma kualitatif ini, setiap narasi, perilaku, dan makna yang tersirat di balik dinamika antara pendidik dan peserta didik dapat ditangkap secara utuh, memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami realitas sosial yang kompleks di sekolah (Varchati et al. , 2. Lokasi yang menjadi pusat perhatian dalam riset ini adalah TK Al Anshor. Pemilihan lokasi ini bersifat sengaja mengingat karakteristik sekolah yang memiliki fokus kuat pada penanaman nilai-nilai keagamaan. Adapun subjek penelitian melibatkan kepala sekolah dan guru kelas sebagai informan kunci, serta siswa-siswi dari Kelompok A dan Kelompok B sebagai subjek amatan. Penentuan subjek ini didorong oleh peran strategis guru sebagai arsitek program harian yang bersentuhan langsung dengan perkembangan afektif siswa, serta kebutuhan untuk melihat bagaimana respon anak terhadap stimulus pembiasaan yang diberikan secara konsisten di dalam kelas (Munafiah et al. , 2. Untuk mendapatkan data yang kredibel, peneliti menerapkan teknik pengumpulan data melalui tiga instrumen utama yang saling melengkapi. Pertama, observasi partisipatif dilakukan dengan cara peneliti hadir langsung di tengah aktivitas sekolah selama tiga bulan. Fokus observasi ini adalah melihat praktik nyata pembiasaan harian, mulai dari pelaksanaan shalat dhuha berjamaah, pembacaan doa-doa sebelum memulai kegiatan, hingga internalisasi etika sopan santun dalam interaksi antar siswa (Dasopang et al. , 2. Kedua, dilakukan wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan para guru. Sesi ini dirancang untuk menggali lebih jauh mengenai visi, perspektif personal, strategi instruksional, hingga hambatan-hambatan psikologis maupun teknis yang dihadapi dalam proses penanaman karakter (Arifudin & Ali, 2. Ketiga, pengumpulan dokumen dilakukan untuk meninjau perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH), serta lembar penilaian karakter yang menjadi bukti administratif dari proses pendidikan di TK Al Anshor (Masturin, 2. Analisis data dilakukan secara sirkular dan berkelanjutan merujuk pada model analisis data Miles dan Huberman. Proses ini diawali dengan reduksi data, di mana peneliti memilah, menyederhanakan, dan memfokuskan catatan lapangan yang relevan dengan peran guru dan pola habituasi karakter. Data yang telah tersaring kemudian disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang logis, memungkinkan pembaca untuk memahami alur pembentukan karakter secara Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan yang berfungsi untuk memverifikasi temuan lapangan guna menjawab pertanyaan penelitian mengenai efektivitas pembiasaan karakter Islam di lokasi tersebut (Iksal et al. , 2. Selama masa penelitian, peneliti tidak hanya bertindak sebagai pengamat pasif, namun berupaya membangun kedekatan emosional dengan subjek untuk menjamin keaslian data. Teknik triangulasi sumber dan teknik diterapkan secara ketat guna memastikan sinkronisasi antara data lisan hasil wawancara, fakta lapangan hasil observasi, dan bukti fisik dalam dokumen RPPH. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pola pendidikan karakter yang humanis dan religius. HASIL DAN PEMBAHASAN Manifestasi Peran Guru: Menjadi Kompas Moral di TK Al Anshor Berdasarkan hasil observasi mendalam yang dilakukan peneliti di lapangan, ditemukan fakta bahwa eksistensi guru di TK Al Anshor melampaui batas tradisional sebagai sekadar pengajar materi kognitif. Guru di lembaga ini bertransformasi menjadi figur sentral yang berfungsi sebagai "kompas moral" bagi anak-anak yang sedang berada pada masa keemasan . olden ag. Peran ini dijalankan secara sadar dan terstruktur, di mana guru memposisikan diri sebagai Demonstrator utama dalam keseharian siswa. Peneliti mengamati dengan saksama bagaimana para guru secara konsisten mempraktikkan tata cara wudhu dan gerakan shalat dhuha dengan penuh ketelitian dan Fenomena ini membuktikan bahwa pada tahap perkembangan anak usia dini, proses internalisasi nilai-nilai Islam sangat bergantung pada apa yang mereka lihat secara konkret di lingkungan mereka, melampaui efektivitas instruksi verbal semata (Arsyad, 2. Guru dalam konteks ini bertindak sebagai cermin hidup . iving mode. yang memiliki kemampuan untuk mentransformasikan konsep-konsep ibadah yang abstrak menjadi gerakan motorik yang nyata dan mudah diduplikasi oleh imajinasi anak (Arifudin & Ali, 2. Detail-detail kecil dalam peragaan ibadah ini menjadi poin krusial dalam keberhasilan pendidikan karakter. Saat praktik wudhu dan shalat dhuha berlangsung, guru tidak sekadar berdiri di samping barisan untuk memberikan perintah atau mengoreksi kesalahan. Sebaliknya, guru berada di barisan paling depan, melakukan setiap tahapan gerakan dengan perlahan dan sempurna. Peneliti mencatat bagaimana mata kecil anak-anak memperhatikan dengan saksama cara guru membasuh muka, cara melipat tangan saat takbiratul ihram, hingga cara guru merapikan kembali sajadah setelah selesai digunakan. Sebuah prinsip psikologis bagi anak usia dini bahwa "melihat adalah melakukan" (Arsyad, 2. Ketika guru mendemonstrasikan kesungguhan dan kelembutan dalam ibadah, anak secara otomatis menginternalisasi bahwa aktivitas religius tersebut adalah sesuatu yang penting, sakral, dan menyenangkan untuk dilakukan. Lebih jauh lagi, peran guru berkembang menjadi seorang Motivator yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perkembangan psikologis anak. Di TK Al Anshor, peneliti menemukan sebuah pola komunikasi yang sangat positif, di mana setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan oleh anak selalu mendapatkan apresiasi. Baik itu keberanian anak untuk mengantre dengan sabar maupun kerelaan mereka untuk berbagi mainan dengan teman sebaya, semuanya disambut oleh guru dengan pujian yang tulus dan sisipan kalimat thoyyibah. Strategi ini terbukti mampu menciptakan ekosistem belajar yang sangat positif, di mana anak merasa dirinya dihargai dan dicintai saat mereka berperilaku jujur serta santun (Komalasari & Yakubu, 2. Menariknya, guru di sekolah ini secara sadar meminimalisir penggunaan kalimat larangan yang bersifat negatif. Mereka lebih mengedepankan strategi positive reinforcement dengan memberikan label-label Sebagai contoh, saat seorang anak membantu temannya, guru akan memberikan penguatan berupa afirmasi: "Masya Allah. Ananda hebat sekali hari ini sudah membantu teman, itu adalah akhlak mulia yang dicontohkan Nabi kita. " Strategi ini selaras dengan temuan Komalasari & Yakubu . yang menyatakan bahwa penguatan afektif melalui pujian religius jauh lebih efektif dalam membentuk identitas moral anak dibandingkan dengan pendekatan Terakhir, peran guru disempurnakan melalui fungsi Evaluator yang diimplementasikan secara humanis. Penilaian karakter di TK Al Anshor tidak dilakukan melalui ujian di atas kertas yang kaku, melainkan melalui observasi perilaku yang berkelanjutan. Setiap progres atau perubahan perilaku siswa dicatat secara teliti dalam buku jurnal harian dan buku penghubung. Hal ini memungkinkan adanya pengawasan yang bersifat preventif. jika ditemukan anak yang menunjukkan perilaku agresif atau menggunakan kata-kata yang kurang sopan yang mungkin terpapar dari pengaruh lingkungan luar atau media digital guru dapat segera melakukan pendekatan personal. Di sini, peran guru bergeser menjadi seorang konselor yang mencoba menelusuri akar masalah secara mendalam bersama orang tua. Sinergi ini memastikan bahwa proses pembentukan karakter anak berlangsung secara utuh dan berkelanjutan, baik di sekolah maupun di rumah (Masturin, 2024. Syarnubi et al. , 2. Arsitektur Pembiasaan: Membangun Habituasi Karakter yang Terstruktur Pembentukan karakter di TK Al Anshor tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui sebuah arsitektur pembiasaan yang dirancang dengan sangat teliti untuk menyentuh seluruh aspek keseharian anak. Berdasarkan data hasil penelitian yang disarikan melalui observasi partisipatif, peneliti menemukan bahwa proses habituasi di sekolah ini dilakukan secara berlapis. Hal ini dimulai dari pengaturan aktivitas rutin yang terjadwal ketat, hingga respon-respon spontan guru terhadap dinamika yang terjadi di dalam kelas. Strategi ini menciptakan sebuah ekosistem yang konsisten, di mana anak tidak merasa sedang dipaksa belajar moral, melainkan sedang menjalani gaya hidup yang alami. Tabel 1. Tipologi dan Implementasi Pembiasaan Karakter di TK Al Anshor Kategori Pembiasaan Manifestasi Aktivitas Harian Target Internalisasi Nilai Pembiasaan Rutin Budaya 5S (Salam. Salim. Senyum. Sapa. Sopa. Doa Masuk Kelas, dan Shalat Dhuha Berjamaah. Religiusitas. Kedisiplinan Spiritual, dan Ketertiban Pembiasaan Spontan Budaya Maaf . aat sala. Tolong . aat butu. Terimakasih, dan Membuang Sampah Tempatnya Empati Sosial. Tanggung Jawab, dan Kesalehan Lingkungan Pembiasaan Keteladanan Penggunaan Bahasa Santun oleh Guru. Berpakaian Syar'i, dan Sabar dalam Menghadapi Tantrum Akhlakul Karimah. Kontrol Diri, dan Identitas Muslim Pola pembiasaan rutin yang tergambar pada Tabel 1 menegaskan sebuah prinsip bahwa pengulangan adalah kunci utama dalam mendidik jiwa anak (Nudin, 2. Peneliti mengamati bahwa setiap pagi di TK Al Anshor selalu dimulai dengan budaya 5S. Ini bukan sekadar formalitas penyambutan, melainkan cara guru menanamkan prinsip "Adab sebelum Ilmu". Ketika kaki-kaki kecil para siswa melangkah masuk, mereka disambut dengan senyuman dan jabat tangan hangat yang secara psikologis membangun rasa aman. Aktivitas rutin seperti Shalat Dhuha berjamaah dilakukan setiap hari bukan agar anak sekadar hafal bacaan shalat secara kognitif, melainkan agar mereka merasakan ketenangan dalam ritme ibadah harian. Rutinitas harian adalah mekanisme otak dalam membentuk jalur saraf baru, jika setiap hari anak dibiasakan berdoa sebelum makan atau mencuci tangan setelah bermain, maka saat mereka dewasa, akan muncul sebuah perasaan "ada yang hilang" jika tindakan tersebut tidak dilakukan (Nudin, 2. Nilai-nilai ini akhirnya meresap jauh ke dalam alam bawah sadar anak sebagai sebuah identitas. Selain rutinitas yang terencana. TK Al Anshor memberikan ruang besar bagi pembiasaan Peneliti menyebut momen-momen ini sebagai "teachable moments" atau saat-saat di mana pembelajaran karakter paling efektif terjadi karena bersifat kontekstual. Misalnya, peneliti mengamati situasi ketika terjadi konflik antar siswa yang memperebutkan mainan. Dalam situasi ini, guru tidak langsung memberikan hukuman atau memarahi salah satu pihak. Sebaliknya, guru hadir sebagai mediator yang mengajak anak untuk berdialog secara sederhana, mengenalkan konsep saling memaafkan . , dan indahnya berbagi. Karakter terbentuk paling kuat saat anak berada dalam situasi emosional yang nyata (Varchati et al. , 2. Di sekolah ini, tindakan spontan seperti memungut sampah tanpa diperintah juga dikaitkan langsung dengan nilai "Annadhofatu minal iman" . ebersihan sebagian dari ima. , sehingga anak memahami bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Keseluruhan bangunan arsitektur ini ditopang oleh tiang pembiasaan keteladanan yang dimainkan oleh para guru. Guru di TK Al Anshor menyadari sepenuhnya bahwa busana syar'i yang mereka kenakan, kelembutan tutur kata saat berbicara dengan sesama rekan sejawat, hingga ketenangan luar biasa yang mereka tunjukkan saat menghadapi anak yang sedang tantrum adalah kurikulum yang paling banyak dipelajari siswa secara visual. Fenomena ini sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi (Puspitasari et al. , 2. Karakter Islam tidak akan pernah bisa tumbuh di lingkungan yang keras atau penuh bentakan. ia memerlukan atmosfer kasih sayang yang konsisten. Secara kolektif, suasana keteladanan ini membangun ekosistem sekolah yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga kaya secara moral (Iksal et al. , 2. Melalui sinergi antara rutinitas yang disiplin dan keteladanan yang lembut. TK Al Anshor berhasil menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah pengalaman hidup yang humanis bagi setiap siswanya. Dialektika Tantangan Digital dan Respon Proaktif Guru Tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pendidik di TK Al Anshor saat ini bukanlah terbatas pada keterbatasan sarana fisik, melainkan adanya kontradiksi tajam antara nilai-nilai luhur yang dibangun di sekolah dengan realitas lingkungan rumah yang telah terpapar gadget secara Peneliti menemukan fenomena di lapangan yang menunjukkan bahwa gawai telah menjelma menjadi "pendidik saingan" yang sering kali menawarkan pola perilaku yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kesantunan islami yang diperjuangkan guru (Taufik, 2. Anak-anak yang terpapar konten digital tanpa filter cenderung menunjukkan gejala penurunan fokus, berkurangnya empati sosial, hingga hilangnya kesabaran saat mengikuti proses pembiasaan rutin di sekolah. Analisis mendalam terhadap data menunjukkan bahwa disrupsi ini menciptakan "guru kedua" yang sangat berpengaruh melalui konten YouTube atau permainan daring yang memperkenalkan nilai-nilai asing, kekerasan verbal, hingga perilaku tidak sopan yang sangat cepat diadopsi oleh anak. Menghadapi dialektika yang kompleks ini, guru di TK Al Anshor tidak memilih jalan konfrontatif atau sekadar melarang, melainkan meresponnya dengan strategi mitigasi yang proaktif dan humanis. Langkah pertama yang ditempuh adalah melalui penguatan literasi digital kepada orang tua. Sekolah menyadari bahwa pendidikan karakter akan menemui jalan buntu jika terjadi dualisme nilaiAidi mana sekolah membangun adab, sementara di rumah anak dibebaskan tanpa batas dengan layar. Oleh karena itu, sekolah menyelenggarakan pertemuan bulanan yang mengedukasi orang tua tentang bahaya laten paparan layar . creen tim. terhadap perkembangan otak dan mental anak usia dini (Adnan, 2022. Hasanah et al. , 2. Guru berperan sebagai mitra bagi orang tua, mengajak mereka menyelaraskan durasi serta kualitas konten yang dikonsumsi anak di rumah agar tetap sejalan dengan napas pembiasaan yang ada di sekolah. Langkah kedua yang menjadi keunggulan unik di TK Al Anshor adalah menghidupkan kembali tradisi storytelling islami yang interaktif sebagai tandingan terhadap narasi digital yang sering kali dangkal dan kering nilai. Guru berupaya meningkatkan kualitas metode bercerita dengan menggunakan bantuan boneka tangan, intonasi suara yang dramatis, serta melibatkan anak secara aktif dalam alur cerita. Dengan menceritakan keteladanan para-Nabi dan Sahabat yang penuh heroisme dan kelembutan, imajinasi anak perlahan direkonstruksi. Narasi yang kuat dan disampaikan dengan penuh cinta mampu menggantikan peran pahlawan fiktif dari media digital dengan figur identitas muslim yang nyata dalam batin anak (Aziz et al. , 2. Melalui cerita ini, anak diajak memiliki figur identitas yang kokoh sebagai muslim sejak dini, sehingga daya tarik konten digital yang negatif dapat tersaring secara alami oleh imajinasi religius mereka. Terakhir, optimalisasi buku penghubung atau buku kontrol harian menjadi instrumen monitoring yang sangat vital. Buku ini bukan sekadar laporan administratif, melainkan mata rantai yang memastikan bahwa proses pembiasaan seperti ketertiban shalat dhuha, doa sebelum tidur, hingga membantu orang tua tidak terputus meskipun anak telah kembali ke rumah atau sedang dalam masa libur sekolah (Masturin, 2024. Rahima et al. , 2. Instrumen ini memaksa adanya komunikasi dua arah yang intens antara guru dan wali murid. Sinergi ini membuktikan bahwa peran guru sebagai pendidik karakter di era digital bukan hanya tentang mengajarkan materi di kelas, melainkan tentang membangun benteng moralitas melalui kasih sayang yang konsisten dan pengawasan yang terukur. Pada akhirnya, keberhasilan di TK Al Anshor menunjukkan bahwa karakter Islam dapat bertahan di tengah arus digital jika ada keterpaduan antara keteladanan di sekolah dan pendampingan yang sadar di lingkungan keluarga (Zaitun et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran guru di TK Al Anshor merupakan determinan utama dalam keberhasilan pembentukan karakter Islam pada anak usia dini melalui fungsi multifaset sebagai demonstrator, motivator, dan evaluator yang konsisten. Temuan esensial riset ini menegaskan bahwa karakter Islam tidak tumbuh melalui pengajaran verbal semata, melainkan melalui arsitektur pembiasaan komprehensif yang mengintegrasikan rutinitas spiritual, respons sosial spontan, dan atmosfir keteladanan yang autentik. Pokok pikiran baru yang dihasilkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode storytelling islami dan optimalisasi buku kontrol harian berfungsi sebagai instrumen penyelamat . yang efektif untuk menetralisir dampak negatif degradasi moral akibat paparan teknologi di lingkungan domestik. Sinergi antara keteladanan pendidik di sekolah dan keterlibatan aktif orang tua terbukti mampu mentransformasi nilai religiusitas yang awalnya bersifat kognitif menjadi identitas diri yang mendarah daging . Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan karakter di era disrupsi sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menciptakan ekosistem belajar yang protektif sekaligus inspiratif bagi perkembangan akhlakul karimah anak sejak dini. SARAN Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bagi pihak pengelola TK Al Anshor untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik religius guru, khususnya dalam penguasaan media literasi digital yang dapat diintegrasikan ke dalam metode pembiasaan. Bagi orang tua, diharapkan dapat memperkuat konsistensi pola asuh di rumah agar tidak terjadi dualisme nilai yang membingungkan Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan penelitian dengan mengkaji efektivitas penggunaan media berbasis teknologi yang bermuatan nilai-nilai Islam sebagai upaya adaptif dalam membentuk karakter anak di era disrupsi digital. DAFTAR PUSTAKA