MAHSEER: Vol 7 No 2 Juli 2025 37-42 e-ISSN: 2809-8234. p-ISSN : 2809-8374 Received 15 Mei 2025 / Revised 16 Juli 2025 / Accepted 22 Juli 2025 Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan https://jurnal. id/index. php/mahseer Struktur Komunitas Plankton Di Muara Sungai Sigempol. Randusanga. Kabupaten Brebes. Jawa Tengah [Plankton Community Structure in The Estuary of The Sigempol River. Randusanga. Brebes Regency. Central Jav. Mahardhika Nur Permatasari1 Hery Irawan1*. Philipus Uli Basa Hutabarat2 Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Jenderal Soedirman. Jl. Dr Soeparno. Komplek GOR Soesilo Soedarman. Purwokerto. Jawa Tengah, 53122 Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Jenderal Soedirman. Jl. Soeparno. Komplek GOR Soesilo Soedarman. Purwokerto. Jawa Tengah, 53122 e-mail: hery. irawan@unsoed. Abstrak Muara Sungai Sigempol di Randusanga. Kabupaten Brebes, merupakan kawasan estuarin yang mendukung keanekaragaman hayati akuatik, termasuk komunitas plankton sebagai komponen dasar rantai makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominasi plankton serta kaitannya dengan kualitas perairan. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi sepanjang muara dan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi. Hasil menunjukkan bahwa struktur komunitas plankton bervariasi secara spasial, dengan lokasi 3 memiliki keanekaragaman dan keseragaman tertinggi, serta dominansi terendah. Lokasi ini menunjukkan kondisi perairan yang lebih stabil dengan keberadaan plankton khas estuari seperti Ceratium sp dan Rhizosolenia sp. Sebaliknya, lokasi 1 didominasi Apanothece, genus yang sering dikaitkan dengan perairan eutrofik. Parameter kualitas air seperti kecerahan, amonia, dan DO berperan penting dalam memengaruhi struktur komunitas plankton. Penelitian ini menegaskan bahwa plankton merupakan bioindikator efektif dalam menilai kondisi ekosistem estuarin dan menyediakan data penting untuk pengelolaan lingkungan perairan. Kata Kunci: Plankton. Komunitas. Muara. Kualitas air Abstract The Sigempol River Estuary in Randusanga. Brebes Regency, is an estuarine area that supports aquatic biodiversity, including plankton communities as fundamental components of the aquatic food chain. This study aimed to examine the abundance, diversity, evenness, and dominance of plankton and their relationship with water quality. Sampling was conducted at three locations along the estuary and analyzed using diversity, evenness, and dominance indices. The results indicated spatial variation in plankton community structure, with Site 3 exhibiting the highest diversity and evenness, along with the lowest dominance. This site reflects more stable water conditions, marked by the presence of typical estuarine plankton such as Ceratium and Rhizosolenia. Site 1 was dominated by Apanothece, a genus often associated with eutrophic waters. Water quality parameters such as turbidity, ammonia concentration, and dissolved oxygen played significant roles in shaping the plankton community structure. This study confirms that plankton are effective bioindicators for assessing estuarine ecosystem conditions and provide essential baseline data for aquatic environmental management. Keywords: Plankton. Diversity. Communitym. Estuary PENDAHULUAN Muara Sungai Sigempol di Randusanga. Kabupaten Brebes, merupakan ekosistem estuari yang berfungsi sebagai zona transisi antara perairan sungai dan laut. Ekosistem ini memiliki peran penting dalam mendukung keanekaragaman hayati, termasuk komunitas plankton yang menjadi dasar rantai makanan akuatik (Rocha et al. Plankton adalah organisme mikroskopis yang melayanglayang di lingkungan air, termasuk fitoplankton . rodusen prime. dan zooplankton . onsumen pertam. (Prana Nala Shekina et al. Perubahan kualitas air seperti peningkatan kandungan nutrien . , sedimentasi, serta pencemaran organik dan anorganik dapat memengaruhi struktur komunitas plankton sebagai salah satu komponen biotik utama dalam ekosistem perairan (Hoang Studi mengenai struktur komunitas plankton di muara sungai ini penting untuk memahami dinamika ekosistem serta pengaruh faktor keanekaragaman plankton. Penelitian sebelumnya di berbagai muara sungai di Indonesia menunjukkan bahwa struktur komunitas plankton dipengaruhi oleh berbagai Permatasari, et al. Struktur Komunitas Plankton Di Muara Sungai Sigempol. Randusanga. Kabupaten Brebes. Jawa Tengah faktor fisika-kimia perairan, seperti salinitas, suhu, kecerahan, dan nutrien. Perubahan salinitas, suhu, dan kecerahan air memengaruhi kelimpahan dan komposisi plankton secara signifikan. Peningkatan salinitas di daerah muara dapat menguntungkan fitoplankton laut seperti Skeletonema namun menurunkan kelimpahan spesies air tawar (Huisman et al. Penelitian di Muara Sungai Bengawan Solo mengidentifikasi 33 spesies fitoplankton yang terdiri dari 5 kelas, dengan Bacillariophyceae sebagai kelas yang dominan. Kelimpahan fitoplankton dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti nutrien dan kecerahan perairan (Syafarina et Sementara itu, penelitian lain di Muara Sungai Ancar menemukan 21 spesies zooplankton dengan indeks keanekaragaman tertinggi sebesar 1,886, yang dikategorikan rendah. Nilai indeks kemerataan tertinggi sebesar 0,5662 dengan kategori sedang dan labil, serta nilai indeks dominansi tertinggi sebesar 0,6505 yang dikategorikan dominasi sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia di muara Sungai Ancar mempengaruhi struktur komunitas zooplankton (Efendi and Imran 2. Aktivitas antropogenik di sekitar muara sungai, seperti pembuangan limbah domestik dan industri, dapat memengaruhi struktur komunitas Masuknya limbah organik dan anorganik dari berbagai kegiatan manusia dapat memengaruhi kehidupan biota perairan di dalamnya (Munru et al. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominasi plankton di Muara Sungai Sigempol yang berkaitan dengan kualitas Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dasar yang bermanfaat untuk pengelolaan dan pelestarian ekosistem perairan di wilayah tersebut. METODE Alat dan Bahan Penelitian ini menggunakan berbagai alat dan bahan untuk keperluan pengambilan sampel di lapangan dan identifikasi plankton di laboratorium. Untuk sampling plankton, digunakan plankton net bernomor 25, botol sampel, pipet tetes, kertas label, serta alat ukur kualitas air seperti Water Quality Checker (WQC) dan pH meter. Identifikasi plankton dilakukan di laboratorium menggunakan mikroskop dan Sedgwick-Rafter. Adapun bahan yang digunakan meliputi sampel air dan plankton dari perairan muara Sungai Sigempol Randusanga serta larutan lugolAos iodine sebagai pengawet sampel. Metode Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November- Desember 2024. Metode Peneltiain ini bersifat Deskriptif Kualitatif dan metode pengambilan sampel menggunakan metode survey. Penentuan Lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan melihat keterjangkauan dan karakteristik dari Lokasi. Lokasi sampling terdiri dari 3 titik staisun di Muara Sungai Sigempol Randusanga jarak dari titik 1 ke titik 2 sekitar 1,8 km, jarak dari titik 2 ke titik staisun 3 adalah 1,5 km kearah laut. Lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada gambar 1 Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel MAHSEER: Vol 7 No 2 Juli 2025 25-30 Plankton yang didapat selama penelitian di keanekaragaman (H'), indeks keseragaman dan indeks dominansi . Analisis kelimpahan plankton menggunakan rumus sebagai berikut (Permatasari et al, 2. 100 (PxV) 25 A x W Keterangan: : Jumlah individu per liter : Jumlah plankton tercacah : Volume sampel plankton yang tersaring . : Volume sampel plankton yang disaring Analisis indeks keseragaman (HA. dihitung menggunakan rumus Shannon Weaner dengan persamaan sebagai berikut (Lee et al. , 1. HAo = -Eu Pi ln Pi Keterangan: HAo : Indeks diversitas Shannon-Wiener Pj . : Jumlah individu jenis ke-i : Jumlah total individu Setelah dihitung dimasukan kedalam kriteria sebagai HAo<1 = Komunitas biota tidak stabil atau kualitas air tercemar berat, 13 = Stabiltas komunitas biota dalam kondisi prima . atau kualitas air bersih Indeks keseragaman menunjukkan pola sebaran biota yaitu merata atau tidak. Jika nilai indeks keseragaman relative tinggi maka keberadaan setiap jenis biota di perairan dalam kondisi merata. Analisis indeks keseragaman menggunakan sebagai berikut (Odum, 1. yaA yce= Hmaks Keterangan : : Indeks Keanekaragaman Hmaks : Ln S (S adalah jumlah gener. HAo : Indeks Keanekaragaman Indeks Dominasi mengetahui adanya dominasi tertentu di suatu perairan . Persamaan indeks dominasi menurut Oduem 1998 . adalah sebaga berikut: ycuycn ya = ( )2 Keterangan : : Indeks Dominasi : Jumlah Individu tiap spesies : Total Individu HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kelimpahan dari tiga lokasi mendapatkan plankton yang bervariasi dalam beberapa genus. Hasil kelimpahan dapat dilihat pada Tabel 1. Kelimpahan plankton . pada Muara Sungai Sigempol Randusanga Brebes Genus Apanothece sp Navicula sp Nitzschia sp Spirogyra sp Oscilatoria sp Lecane sp Coscinodiscus sp Ceratium sp Rhizosolenia sp Daphnia sp Nauplis sp Lokasi 1 Lokasi Lokasi 2 Lokasi 3 Data kelimpahan plankton pada Tabel 1 menunjukkan variasi spasial yang mencerminkan perbedaan kondisi lingkungan di tiga lokasi pengamatan, dengan dominansi genus tertentu yang berfungsi sebagai indikator ekologis. Lokasi 1 didominasi oleh Apanothece . , keberadaan genus Apanothece yang masuk kedalam cyanobacteria sering dikaitkan dengan perairan eutrofik akibat tingginya beban nutrien seperti nitrogen dan fosfat, sebagaimana dilaporkan oleh (Souza Beghelli et al. Kehadiran Navicula. Nitzschia, dan Spirogyra dengan kelimpahan seragam . di lokasi ini juga menunjukkan ekosistem yang produktif dengan substrat yang mendukung pertumbuhan diatom dan alga hijau (Zhao et al. Lokasi 2 memiliki komunitas plankton yang lebih heterogen, dengan Coscinodiscus Lecane kelimpahan signifikan, yang menandakan kondisi yang masih subur namun mungkin mengalami Permatasari, et al. Struktur Komunitas Plankton Di Muara Sungai Sigempol. Randusanga. Kabupaten Brebes. Jawa Tengah fluktuasi cahaya atau bahan organik (Li et al. Sementara Lokasi keanekaragaman yang lebih tinggi dengan dominansi Oscillatoria. Lecane, dan Nauplis, serta kehadiran Ceratium dan Rhizosolenia yang merupakan plankton khas estuarin atau laut, mengindikasikan adanya pengaruh intrusi salinitas (Dias et al. Sy et al. Pola kelimpahan ini menunjukkan adanya gradasi ekologi dari kondisi segar ke payau, dengan komunitas plankton yang merespon perubahan lingkungan secara spesifik, menjadikan mereka bioindikator potensial dalam pemantauan kualitas perairan (Lee. Lee, and Kim Xie et al. Hasil indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominasi pada penelitian ini memiliki nilai yang berbeda pada setiap Hasil dari analisis indeks tersebut dapar dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil indeks keanakaragaman, keseragaman dan dominasi Lokasi Indeks Indeks Keanekaragaman Keseragaman Lokasi 1 1,557 0,967 Lokasi 2 1,601 0,995 Lokasi 3 1,937 0,995 Indeks keanekaragaman (H') ShannonWiener pada ketiga lokasi menunjukkan tingkat keanekaragaman plankton yang sedang hingga Lokasi 3 memiliki nilai tertinggi (H' = 1,. , diikuti oleh Lokasi 2 . dan Lokasi 1 . Keanekaragaman yang lebih tinggi di Lokasi 3 mencerminkan ekosistem yang lebih stabil dan tidak didominasi oleh satu atau dua spesies saja, menunjukkan kondisi perairan yang relatif baik dengan tekanan lingkungan yang minimal (Jeong et , 2022. Han et al. , 2. Nilai H' > 1 pada ketiga lokasi menunjukkan bahwa komunitas plankton cukup kompleks dan memiliki struktur komunitas yang beragam (Kang et al. Indeks keseragaman (E) menggambarkan distribusi individu antar spesies, di mana nilai yang mendekati 1 menunjukkan distribusi yang merata. Nilai E di Lokasi 2 dan Lokasi 3 sangat tinggi . , mengindikasikan bahwa spesies-spesies plankton tersebar relatif merata dan tidak ada spesies yang sangat mendominasi. Lokasi 1 memiliki nilai E yang sedikit lebih rendah . , menandakan adanya sedikit ketimpangan distribusi individu, yang sejalan dengan dominansi Apanothece di lokasi tersebut seperti yang terlihat pada data kelimpahan Keseragaman yang tinggi umumnya Indeks Dominasi 0,22 0,203 0,145 dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang stabil dan tidak terganggu (Chandel et al. Indeks dominasi Simpson menunjukkan sejauh mana satu atau beberapa spesies mendominasi komunitas. Nilai dominasi tertinggi terjadi di Lokasi 1 . , diikuti oleh Lokasi 2 . , dan terendah di Lokasi 3 . Nilai yang lebih rendah menunjukkan bahwa tidak ada satu spesies yang secara signifikan mendominasi Hal keanekaragaman dan keseragaman sebelumnya, bahwa Lokasi 3 memiliki struktur komunitas paling seimbang dan stabil. Sebaliknya, nilai dominasi yang lebih tinggi di Lokasi 1 menunjukkan adanya spesies dominan, yang konsisten dengan tingginya kelimpahan Apanothece . , yang kerap mendominasi pada kondisi eutrofik (Diego et al. Wang et al. Secara keseluruhan, kombinasi indeks ini memperlihatkan bahwa kualitas ekosistem perairan terbaik terdapat di Lokasi 3, sedangkan Lokasi 1 menunjukkan tandatanda tekanan ekologis yang lebih tinggi. Pengamatan kualitas air selama penelitian menunjukkan kondisi yang beragam di ketiga lokasi. Hasil pengamatan kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 4. Hasil parameter kualitas air Parameter Kecerahan . Suhu . C) DO . g/L) Amonia . g/L) Lokasi 1 7,26 0,092 Berdasarkan data parameter kualitas air di Muara Sungai Sigempol. Randusanga. Kabupaten Brebes, terdapat variasi kondisi fisikokimia yang berpotensi memengaruhi struktur komunitas Lokasi Lokasi 2 5,33 7,24 Lokasi 3 5,01 7,29 0,199 Kecerahan menunjukkan tren menurun dari Lokasi 1 . ke Lokasi 3 . , yang mencerminkan tingginya kekeruhan di hilir. Kecerahan rendah dapat membatasi penetrasi MAHSEER: Vol 7 No 2 Juli 2025 25-30 cahaya, sehingga memengaruhi fotosintesis fitoplankton (Effendi, 2. Suhu air pada ketiga lokasi berkisar antara 31,1AC hingga 31,8AC, tergolong cukup tinggi namun masih dalam kisaran toleransi plankton tropis (Permatasari et al. Kadar oksigen terlarut (DO) di semua lokasi berada dalam kisaran 4,2Ae5,33 mg/L. Nilai ini masih mendukung kehidupan plankton, meskipun DO di Lokasi 1 . ,2 mg/L) relatif rendah dan mendekati ambang batas stres bagi organisme akuatik (Hutabarat 2. Nilai pH yang berkisar antara 7,24Ae7,29 menunjukkan kondisi netral, sesuai dengan kisaran optimal bagi perkembangan plankton (Widyartini et al. , 2. Konsentrasi amonia menunjukkan tren meningkat dari hulu ke hilir . ,092 mg/L di Lokasi 1 hingga 0,199 mg/L di Lokasi . Nilai ini masih tergolong moderat, namun peningkatan amonia dapat menjadi indikasi adanya beban limbah organik atau aktivitas antropogenik, yang berpotensi memicu stres fisiologis pada plankton dan memengaruhi komposisi komunitasnya (Irawan. Permatasari, and Attaqi 2. Secara keseluruhan, kondisi kualitas air di Muara Sigempol masih memungkinkan kecerahan dan peningkatan amonia di hilir berpotensi menekan produktivitas primer. Hal ini sesuai dengan nilai keanekaragaman yang menurun di Lokasi 1 dan meningkat di Lokasi 3, yang kemungkinan disebabkan oleh dinamika interaksi antara parameter kualitas air dan adaptasi komunitas KESIMPULAN Penelitian komunitas plankton di Muara Sungai Sigempol. Randusanga. Kabupaten Brebes, melalui analisis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominasi pada tiga lokasi pengamatan yang mewakili dari hulu ke hilir. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi kelimpahan genus plankton pada setiap lokasi yang mencerminkan kondisi lingkungan muara. Bagian hulu muara sungai didominasi oleh Apanothece, mengindikasikan kondisi eutrofik, sedangkan bagian hilir muara sungai menunjukkan komunitas yang lebih beragam dan merata, dengan kehadiran plankton khas Ceratium Rhizosolenia. Nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman tertinggi ditemukan di hilir, sedangkan nilai dominansi tertinggi terdapat di Parameter kualitas air seperti kecerahan, konsentrasi amonia, dan kadar oksigen terlarut berperan dalam membentuk struktur komunitas plankton di setiap lokasi. Dengan demikian, plankton terbukti dapat berfungsi sebagai bioindikator yang efektif dalam mengevaluasi kondisi ekosistem estuari, serta memberikan informasi dasar yang penting bagi pengelolaan dan pelestarian sumber daya perairan di wilayah muara SARAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai struktur komunitas plankton dan keterkaitannya dengan kualitas perairan di Muara Sungai Sigempol, disarankan agar dilakukan pemantauan berkala terhadap parameter kualitas air dan komunitas plankton sebagai bagian dari upaya deteksi dini terhadap perubahan lingkungan akibat aktivitas antropogenik. Pemantauan jangka panjang akan membantu mengidentifikasi tren eutrofikasi, intrusi salinitas, maupun gangguan ekologis Selain itu, perlu adanya penguatan pengelolaan lingkungan berbasis ekosistem melalui pengendalian sumber pencemar, terutama dari limbah domestik dan aktivitas pertanian atau industri di sekitar muara. DAFTAR PUSTAKA